spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1375

Makin Lengkap, Apple Watch 2020 punya Pelacak Waktu Tidur

0

Telko.id, JakartaSmartwatch Apple Watch kali pertama hadir pada 2015. Kehadirannya membantu pengguna dalam memantau kesehatan, termasuk ketika sedang berolahraga. Namun, dari sekian fungsi yang tersedia, smartwatch itu tidak memiliki fitur pelacak waktu tidur alias sleep tracking.

Tampaknya, Apple berencana untuk menyediakan fitur ini di Apple Watch generasi berikutnya. Menurut The Verge, dikutip Telko.id, Rabu (27/02/2019), Apple sekarang sedang menguji fitur pelacak waktu tidur di Apple Watch.

Jika pengujian sukses, fitur tersebut akan hadir di seri smartwatch terbarunya yang dirilis pada 2020 mendatang. Fitur pelacak waktu tidur juga akan melengkapi fitur yang hadir sekarang, yakni fitur Elektrokardiogram dan deteksi olahraga otomatis.

{Baca juga: Produk Identik dengan Harga Mahal, Begini Penjelasan COO Apple}

Saat ini, pengguna memang bisa melacak waktu tidur via Apple Watch, tetapi harus menggunakan aplikasi pihak ketiga. Apple sengaja tidak menanamkan fitur itu karena keterbatasan daya baterai.

Apple menyatakan, pengguna bisa menggunakan Apple Watch selama satu hari penuh sebelum mengisi baterai pada malam hari. Namun, baterai smartwatch tersebut tidak bisa bertahan lama kalau ada fitur pelacak tidur.

Beberapa produk serupa buatan perusahaan lain, semisal Fitbit Versa dan Withings Steel Hybrid Smartwatch, bisa digunakan untuk melacak waktu tidur pengguna. Sebab, daya baterai keduanya tahan sangat lama.

Jika Apple benar-benar menambahkan fitur pelacak waktu tidur, fungsi smartwatch-nya akan menjadi semakin lengkap, dan dipastikan akan memiliki kapasitas baterai yang jauh lebih besar.

{Baca juga: Terjatuh dan Pingsan, Pria Paruh Baya Diselamatkan Apple Watch}

Sekadar informasi, baterai smartwatch Apple terbaru, Apple Watch Series 4 ternyata mempunyai kapasitas lebih rendah daripada model sebelumnya. Terungkap, Apple Watch Series 4 dengan model 44mm ternyata dibekali baterai 1,12 Wh, sementara untuk model 40mm, digunakan baterai 0,86 Wh.

Sebagai perbandingan, Apple Watch Series 3 model 42mm dan 38mm membawa daya baterai 1,34 Wh dan 1,07 Wh. Sehingga jika dikalkulasi, kapasitas baterai Apple Watch Series 4 model 44mm mengalami penurunan sampai 16,5 persen, sedangkan untuk 40mm sebesar 19,7 persen. (SN/FHP)

Advan Sedang ‘Kejar’ Kembali Posisi 3 Besar Di Indonesia

Telko.id –  Advan, sebagai produsen lokal smartphone, saat ini sedang mengejar ketinggalannya di tahun 2018. Dimana, diawal tahun 2017 pernah menduduki posisi tiga besar produsen smartphone, namun, diakhir tahun ‘melorot’ kebawah menempati posisi ke lima. Menurut laporan IDC, market share nya tinggal 4,1% atau turun 25% secara YoY (year on year) dari tahun sebelumnya.

Strategi yang akan dijalankan pada awal 2019 ini adalah dengan meluncurkan produk dengan harga di bawah Rp 1 juta demi memenuhi pasar menengah kebawah. Walaupun saat ini penjualan smartphone akan terus meningkat, tetapi pertumbuhannya tidak besar.

Jadi Advan pun perlu mencari celah untuk bisa mengejar ketinggalannya tersebut. Apalagi, untuk mengejar atau bersaing dengan brand internasional tidak cukup dengan investasi di marketing saja yang besar. Tidak bisa juga hanya dengan harga murah saja. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan produk, yang memberikan ‘value for money’.

“Market Smartphone harga di bawah Rp 1 Juta memang tidak besar, namun  masih ada pasarnya, terutama di area pedesaan bahkan di Jakarta sendiri sekarang masih ada. Advan S6 Plus ini harga nya terjangkau tetapi fiturnya seperti smartphone dengan harga diatas Rp.1 jutaan,” ujar Ellen Angerani selaku General Manager Salesman Advan di Paradigma Cikini Kafe & Restoran Jakara, Selasa (26/2).

“Untuk melakukan penjualan pun, kini tidak seperti dulu. Jika dulu, banyak duit ya iklan, penjualan pun bisa langsung ok. Sekarang tidak bisa seperti itu lagi. Perlu produk yang baik. Quality nomor satu,” ujar Andi Gusena, Brand Director Advan menjelaskan.

Itu sebabnya, Advan mulai menambah investasi di R&D, yang kemudian pada tahun 2017 dipindahkan ke Indonesia agar bisa lebih memahami lagi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Selain itu, dalam proses penjualan juga membutuhkan partner yang sesuai. Seperti yang dilakukan oleh Advan yang menggandeng Telkomsel dan tokopedia. Di mana, untuk Telkomsel, sangat membutuhkan smartphone yang terjangkau karena masih banyak pelanggannya yang saat ini masih belum  migrasi dari 2G ke 3G dan 4G, dan mendukung internet masuk ke daerah pelosok Indonesia. Jadi, perlu dukungan kerjasama bundling dengan vendor smartphone.

Kolaborasi ini menghasilkan promo yang menarik, di mana Advan S6 Plus akan dijual secara flash sale ekslusif di Tokopedia pada 27 Maret 2019.  Dengan harga jual Rp 799 ribu dengan bundling paket TAU Lite 6. Di dalam paket TAU Lite6 pelanggan akan mendapatkan paket data dengan total sebesar 6 GB, yang terdiri dari 1GB kuota internet di seluruh jaringan Telkomsel, 1GB kuota internet di jaringan 4G, 2 GB kuota internet untuk akses media sosial Facebook dan Instagram, serta 2 GB kuota internet untuk aplikasi VideoMax dan GamesMax.

Paket TAU Lite6 juga sudah termasuk 100 menit nelpon, serta 500 SMS ke sesama pelanggan Telkomsel. Paket TAU Lite6 ini bisa didapatkan pelanggan Telkomsel hanya dengan Rp 10 saja setelah melakukan pengisian pulsa Rp 50.000.”

Advan berharap dengan peluncuran Advan 6S Plus ini dapat memenuhin pasar menengah kebawah dan meningkatkan penjualan handset di tahun 2019 ini.

Spesifikasi Advan S6 Plus

OS IDOS 8.31 @Android GO
CPU SC9850k 1.3 Ghz Quad Core
Display 5,5 Inch IPS 480*960
Camera Front : 5 MP, Rear 8MP AF
Memory 1 GB RAM + 8 GB ROM
External SD Up to 128 GB Micro SD
4G/3G/2G LTE-FDD/WCDMA/GSM
WIFI 802.11.B/G/N
GPS Support
BT BT4.2
SIM Dual Sim Car
Sensor Proximity
Battery 3.8V/2450 mAh
I/O 3.5mm audio jack, micro USB (USB 2.0)

 

(RIZ/Icha)

Soal Smartphone Lipat, Steve Wozniak: Apple Ketinggalan

0

Telko.id, Jakarta – Salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak ikut bersuara tentang fenomena smartphone lipat. Secara khusus, ia menyoroti langkah Apple yang kabarnya juga akan meluncurkan iPhone lipat, meski agak telat.

Menurut Wozniak, dalam wawancara terbaru bersama Bloomberg, Apple kemungkinan akan tertinggal dalam hal produksi smartphone berteknologi canggih itu. Padahal, ia sudah tak sabar melihat Apple memproduksi iPhone lipat.

“Saya sangat ingin memiliki smartphone layar lipat. Tapi, saya hanya akan membeli buatan Apple. Meski kemungkinan tertinggal, Apple tetap berpeluang besar meluncurkan smartphone layar lipat ke pasaran,” terangnya.

{Baca juga: iPhone Lipat Dirilis Tahun 2020?}

Seperti dikutip Telko.id dari Android Authority, Rabu (27/02/2019), Wozniak menyebut bahwa Apple kalah cepat dari Samsung dan Huawei dalam produksi smartphone layar lipat.

Sekadar informasi, Samsung sudah merilis Samsung Galaxy Fold. Di lain sisi, Huawei sudah pula menggarap Mate X. Karenanya, ia berharap Apple segera memberi kejutan menarik bagi publik terkait smartphone dengan teknologi layar fleksibel tersebut.

“Anda tahu, Apple biasa memberi kejutan,” tegasnya.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

Sebelumnya dilaporkan, Apple akan menjadi pabrikan smartphone berikutnya setelah Samsung, Huawei, dan Microsoft yang segera memperkenalkan smartphone lipat. Laporan itu diperkuat setelah adanya sebuah paten baru soal iPhone lipat yang diajukan oleh Apple bocor.

Berdasarkan gambar paten, perangkat tersebut akan menampilkan beberapa bagian dengan engsel. Arsitekturnya sedemikian rupa sehingga memungkinkan dilipat ke dua arah. Namun, Apple belum mengonfirmasi sampai saat ini.

Canalys: Tahun 2019 Akan Ada Pengiriman 2 Juta Smartphone Lipat

Telko.id – Smartphonel lipat, tahun 2019 ini akan menjadi trend baru. Yang mengawali kehadiran smartphone lipat dipasar adalah Samsung dengan Galaxy Fold dan Huawei Mate X.

Jejak kedua brand tersebut nanti nya akan diikuti oleh banyak vendor lain. Hanya saja, tidak banyak yang akan melakukannya pada tahun 2019 ini. Tak heran, Canalys pun hanya memprediksikan 2 juta unit saja yang dikapalkan ke seluruh dunia.

“Smartphone yang dapat dilipat sekarang ini sedang dalam produksi massal, namun vendor tetap menaruh harapan pada angka yang realitis dala kinerja penjualannya. Tidak berlebihan,” kata Nicole Peng, Direktur Senior Canalys.

Nicole menambahkan “Samsung dan Huawei memang akan menjadi bagian terbesar dari smartphone pintar yang dikirm pada tahun 2019 ini. Tetapi angka pengiriman yang tinggi bukanlah prioritas kedua brand tersebut.

Tujuannya lebih pada menangkap kesadaran konsumen, dan setiap vendor ingin membuktikan bahwa mereka dapat mencapai kemajuan teknologi terbesar dengan desain industrinya yang baru. Maklum saja, teknologi layar lipat ini masih tergolong baru sehingga biaya produksi pun masih tinggi.

“Biaya adalah faktor kunci yang akan menghambat adopsi smartphone lipat ini,” kata Ben Stanton, Analis Senior Canalys menambahkan.

Misalnya, desain ‘lipat-keluar’, seperti yang digunakan pada Huawei Mate X ini akan lebih cocok digunakan pada smartphone lipat yang lebih murah karena produsen tidak perlu memasukan banyak kamera. Lalu, untuk layar ‘luar’ kedua, seperti yang dimiliki oleh Samsung, dan pada lipatan layar yang flexible tidak perlu terlalu ketat atau kencang. Kedua contoh itulah yang membuat smartphone lipat masih tergolong mahal.

Itu sebabnya, pada tahun 2019 ini, vendor yang menawarkan smartphone lipat masih belum terlalu mempengaruhi secara signifikan jumlah pengiriman secara global. Apalagi, para vendor harus memastikan kualitas dan data tahan dari produk ini pun cukup baik. Pasalnya, jika ada masalah atau kerusakan ‘gigi’ akan merusak faktor bentuk smartphone lipat, bahkan mungkin tidak lagi bisa digunakan.

Walau demikian, ada beberapa brand yang sudah siap-siap meluncurkan smartphone lipat. Seperti Xiaomi Mix Flex, Royale FlexPai dan Oppo Foldable Phone. (Icha)

 

HTC Exodus 1 Kini Bisa Dibeli Pakai Uang Asli, Harganya?

0

Telko.id, Jakarta – HTC mengumumkan bahwa smartphone blockchain mereka, HTC Exodus 1 sekarang bisa dibeli menggunakan mata uang asli. Sebelumnya, HTC Exodus 1 hanya bisa dibeli menggunakan cryptocurrency alias mata uang kripto, seperti Bitcoin dan Ether.

Selama ini, Exodus 1 memang menargetkan para pemilik uang digital. Perlu diketahui, mata uang kripto merupakan uang digital yang setiap koin memiliki nomor spesial. Transaksi menggunakan mata uang kripto juga dilakukan secara anonim menggunakan kunci khusus.

Exodus 1 memiliki fitur dompet uang virtual bernama Zion Private Vault. Fitur ini diklaim dapat menyimpan nomor seri uang kripto secara aman, dan tidak tersentuh oleh sistem operasi Android.

{Baca juga: Exodus, Smartphone Blockchain HTC Pesaing Finney}

Pada 2018, Exodus 1 dijual seharga 0,15 Bitcoin atau 4,78 Ether atau sekira Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Namun, setelah dijual dengan mata uang resmi, Exodus 1 bisa dibeli oleh konsumen seharga USD 699 atau sekitar Rp 10 juta.

Saat pertama meluncur, HTC ingin smartphone-nya ini menjadi smartphone pertama di dunia yang didedikasikan untuk memperluas ekosistem blockchain. HTC ingin Exodus 1 punya peran penting dalam mengubah stagnansi industri smartphone saat ini.

Menurut TechCrunch, seperti dikutip Telko.id, Rabu (27/02/2019), Kepala Desentralisasi HTC, Phil Chen, sempat menyatakan bahwa HTC berkomitmen mengembangkan Exodus 1 seperti halnya mengembangkan perangkat VR, HTC Vive.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10 Punya Fitur Dompet Cryptocurrency}

Saat ini, HTC mengaku telah memiliki 25 orang teknisi yang mengerjakan proyek itu. Dalam pengembangannya, Exodus 1 juga dibuat menggunakan komponen buatan sendiri, dan dipadu oleh bantuan para ahli keamanan mata uang kripto untuk memastikan keamanan perangkat. (SN/FHP)

Ooredoo ‘Mengantarkan’ Qatar Jadi Negara Top 5 For 5G Dunia

0

Telko.id –  Arthur D. Little baru mengumumkan laporan terbarunya. Di dalam laporan tersebut menunjukan bahwa proyek percontohan 5G Ooredoo mampu mengantarkan Qatar masuk jajaran Top Five 5G Dunia.

ADL dalam laporannya terakhir itu menentukan kemajuan 5G dari lebih 40 negara. Penilaiannya berdasarkan dua katagori. Pertama dari data input yang mencakup ketersediaan infrastruktur teknis dan kecenderungan komersialisasi 5G.

Di Qatar, Ooredoo telah secara aktif menggerakkan agenda 5G-nya, dan menemukan kesuksesan dengan meluncurkan pertama 5G pada jaringan yang tersedia secara komersial di bulan Mei 2018.

“Ooredoo selalu memiliki dorongan teknologi yang kuat dan mengikuti perkembangan teknologi secara global, termasuk adopsi teknologi jaringan seluler generasi berikutnya.  Kami sudah menyediakan spektrum untuk 5G, bahkan sudah mengumumkan peluncuran 5G dan telah berhasil menguji coba berbagai kasus penggunaan, untuk memasukkan taksi drone pertama di dunia,” ungkap Waleed Al Sayed, Kepala Eksekutif, Ooredoo Qatar.

Waleed menyampaikan juga bahwa sudah ada 100 site yang sudah ditingkatkan dan siap mengoperasi jaringan 5G. Setidaknya, pada kondisi tersebut, Ooredoo sudah mencakup lebih dari sepertiga populasi, dan hampir menjangkau semua perusahaan besar dengan 5G.  Jumlah tersebut akan terus ditambah, hingga sampai pada akhir 2019 akan mencakup 50% dari populasi.

Di luar angka-angka tersebut, Ooredoo juga sudah pernah melakukan pengujuan langsung dengan berbagai kasus penggunaa. Dalam uji coba 5G tersebut diperoleh kecepatan unduh > 2,5 Gbps termasuk juga ketika dicoba pada kendaraan yang bergerak. Drone juga dapat mengirim video langsung 4K, aplikasi VR berjalan dengan lancar di zona penggemar piala dunia, dan konektivitas Gbit dapat disediakan di gurun.

Karim Taga, Managing Partner dan Global Practice Leader, ADL TIME, mengatakan: “5G adalah generasi jaringan seluler pertama yang menjanjikan throughput data, latensi, dan fleksibilitas untuk memungkinkan tingkat digitalisasi selanjutnya di seluruh tipe konsumen.”

“Di Qatar, terutama sistem eko-vertikal dan korporasi akan mendapat manfaat paling besar dari 5G. Berdasarkan kasus 5G seperti AR / VR dan video, sangat cocok diimplementasikan pada smart venues dan smart city sehingga akan menambah pengalaman bagi para pengguna ke tinggkat berikutnya,”tambah Taga.

Saat di Mobile World Congress, Ooredoo memperluas kepemimpinan 5G dengan kemitraan baru dengan Ericsson untuk mengubah dan memodernisasi jaringan seluler untuk memperkenalkan 5G di Qatar. (Icha)

Google akan Hilangkan Password di Smartphone Android

0

Telko.id, Jakarta – Google dan Fast Identity Online Alliance (FIDO) meluncurkan sertifikasi FIDO2 untuk smartphone Android pada Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, ​​Spanyol. Sertifikasi itu nantinya akan menggantikan password dengan sidik jari sebagai kunci keamanan Android.

Dilansir CNET, kunci keamanan tersebut bisa dijalankan di Android versi 7 atau lebih tinggi. Seperti dikutip Telko.id, Rabu (27/02/2019), fasilitas sidik jari sebagai protokol utama untuk mengamankan perangkat sebenarnya sudah tersedia di beberapa aplikasi untuk Android.

Umumnya, teknologi itu tersedia di aplikasi Android untuk perbankan dan layanan keuangan. Nah, perubahan ini sendiri nantinya akan membuat fitur keamanan di Android agar memudahkan pengguna untuk login tanpa menggunakan password, melainkan hanya menggunakan sidik jari saja.

{Baca juga: Awas! Jangan Asal Download Gambar PNG di Android}

Password sebelumnya diciptakan dalam dunia digital untuk memungkinkan akses yang aman ke akun yang mengelola keuangan, kehidupan sosial, dan lainnya. Namun demikian, password dinilai sangat rentan diretas dan digunakan untuk hal-hal tidak bertanggungjawab.

Password bahkan lebih tidak efektif jika digunakan untuk banyak akun. Sebuah komputer canggih kini sudah dapat secara mudah melacak password yang rumit sekalipun hanya dalam hitungan jam. Caranya dengan memasukkan setiap kombinasi yang memungkinkan.

Itulah sebabnya, industri keamanan kini ramai-ramai ingin meninggalkan password karena sidik jari dianggap jauh lebih sulit untuk diretas secara online. Dengan sertifikasi standar FIDO2, kunci keamanan sidik jari bakal lebih terlindungi dari serangan phishing.

{Baca juga: Tidak Aman, Sistem Keamanan Ini Hilang dari Android}

“Lewat kolaborasi Google dan Fast Identity Online Alliance, jumlah pengguna dengan kemampuan otentikasi FIDO telah tumbuh secara dramatis. Sekarang, saatnya para pengembang situs untuk bebas dari risiko,” kata Brett McDowell, direktur eksekutif Aliansi FIDO. (SN/FHP)

Konsumen Bosan, Alasan Utama Samsung Bikin Galaxy Fold

0

Telko.id, Jakarta – Bosan, merupakan alasan utama Samsung mengembangkan smartphone lipat, Samsung Galaxy Fold. Director of Product Services and Commercial Strategy Samsung UK, Kate Beaumont menilai, konsumen sudah merasa bosan dengan desain dan form factor dari smartphone sekarang ini yang kurang berinovasi.

“Saya pikir semua orang telah menjadi sedikit bosan pada kurangnya inovasi di sekitar bentuk smartphone, tetapi Anda tidak ingin membuat  form factor demi hal itu,” katanya, seperti dikutip dari The Verge, Rabu (27/02/2019).

Memang, ketika Samsung meluncurkan Samsung Galaxy Fold di ajang Galaxy Unpacked 2019 beberapa waktu lalu, Justin Denison selaku Senior Vice President of Product Marketing mengatakan bahwa smartphone tersebut adalah sebuah breakthrough atau terobosan baru.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

Sebab, smartphone ini punya dua layar dan memadukan konsep desain tablet dan smartphone menjadi satu kesatuan.

“Galaxy Fold tidak seperti device yang ada sebelumnya. Kita membuat sebuah breakthrough,” ucap Justin saat itu.

Kate juga mengungkapkan, bukan sebuah kebetulan ketika mereka merilis Galaxy Fold di saat mulai diadopsinya teknologi 5G. Lewat perpaduan keduanya, semua jenis pengalaman yang membutuhkan teknologi jaringan cepat, seperti Augmented Reality (AR) dapat dirasakan langsung oleh pengguna di dalam perangkatnya.

“Ketika kita beralih ke 5G, saya tidak berpikir itu kebetulan ketika kita punya timming yang pas untuk membuka semua jenis pengalaman AR, apakah itu hologram pada smartphone lipat Anda atau siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ucap Kate.

“Saya pikir saat ini semua orang mengatakan, ‘ok, saya bisa melihat bagaimana Anda akan dapat menggunakannya’,” jelasnya.

{Baca juga: Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat}

Sekadar informasi, Samsung Galaxy Fold memang tersedia dalam dua versi, yakni versi 4G LTE dan 5G. Smartphone tersebut akan dijual resmi pada 26 April mendatang, dengan harga mulai dari Rp 27,7 jutaan.

Smartphone ini punya layar utama berjenis AMOLED fleksibel dengan ukuran 7,3 inci dan beresolusi 1536 x 2152 piksel. Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.

Untuk dapur pacunya, Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh. Di sektor kamera, Galaxy Fold punya enam kamera.

Tiga kamera utama yang bisa diakses pada mode smartphone atau tablet dengan resolusi 12 MP lensa wide-angle, 12 MP lensa telephoto, dan 16 MP lensa ultra-wide. Lalu, ada dua kamera di bagian dalam atau pada mode tablet dengan resolusi 10 MP dan 8 MP lensa RGB depth, dan satu kamera depan 10 MP pada mode smartphone. (FHP)

Qualcomm Perkenalkan Artificial Intelligence Engine Generasi 4

0

Telko.id – Tuntutan terhadap Artificial Intelligence (AI) setiap waktu nya semakin tinggi. Itu sebabnya, Qualcomm terus menerus meningkatkan kemampuan Artificial Intelligence Engine nya agar dapat lebih mencerdaskan smartphone kelas premium.

Produk tersebut, baru saja diperkenalkan pada Mobile World Congress di Barcelona minggu ini. Menurut Qualcomm, produk baru nya mampu mendukung peningkatan pengalaman pengguna ketika sedang memaksimalkan smartphone kelas premiumnya yang menggunakan Qualcomm Snapdragon 855 Mobile Platform. Baik AI untuk suara, kamera maupun AR.

AI Engine generasi 4 ini pun diyakini bakan menodrong inovasi pada OEM (original equipment manufacturer), independent software vendor (ISV) dan perusahaan cloud computing sehingga mampu menghasilkan pengembangan dan penyebaran fitur-fitur unggul yang mendukung perangkat AI yang mulus dan menarik di perangkat Android. Tujuannya ya untuk menyenangkan para konsumen smartphone pada tahun 2019 ini.

Manufaktur smartphone, termasuk LG, OPPO, Samsung, Sony, dan Xiaomi, baru-baru ini sudah meluncurkan ponsel flagship mereka yang berbasis Snapdragon 855, yang semuanya mengambil keuntungan dari Qualcomm AI Engine untuk mengembangkan fitur AI di masing- masing perangkat.

Seperti yang dilakukan oleh LG pada kamera di LG G8 dan V50 yang mengintegrasikan Google Lens, kemudian menggunakan Google NN API dan Qualcomm Hexagon Vector Processor di Qualcomm AI Engine untuk mengenali dan mendapatkan konteks dari teks di pratinjau kamera hampir empat kali lebih cepat dari pada CPU.

Fitur AI tambahan yang disediakan adalah fitur kamera tunggal dan dual kamera bokeh, otentikasi wajah 3D, deteksi pemandangan, resolusi super, dan peningkatan fotografi komputasional yang banyak sekali yang akan mendukung hasil pemotretan foto dan video menjadi lebih berkualitas tinggi, pemrosesan efek secara real-time yang lebih mudah dan lebih alami bagi konsumen.

“Jumlah OEM seluler dan kolaborator ekosistem yang memanfaatkan generasi ke-4 dari Qualcomm AI Engine milik Qualcomm Technologies di Snapdragon 855 membuktikan validnya strategi produk AI kami yang beragam,” kata Gary Brotman, Senior Director of Product Management, Qualcomm Technologies, Inc.

Gary menambahkan, dengan menyediakan on-device AI yang telah dioptimalkan dan menawarkan rangkaian perangkat lunak yang luas dan neural network frameworks, Snapdragon 855 akan menjadi platform seluler pilihan bagi pengembang yang ingin mendorong batas kinerja AI pada perangkat dan memberikan fitur AI baru yang inovatif dan aplikasi untuk ponsel flagship mereka tahun ini. (Icha)

 

 

Samsung “Beri Kode” Kalau Galaxy Fold Unggul dari Huawei Mate X

0

Telko.id, Jakarta – Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X merupakan dua smartphone lipat dengan konsep desain yang berbeda. Meski sama-sama mengadopsi teknologi layar fleksibel yang bisa dilipat, kedua smartphone ini memiliki “cara lipatan” yang berbeda.

Perlu diketahui, Samsung Galaxy Fold mengandalkan layar berukuran 7,3 inci berjenis AMOLED dengan resolusi 1536 x 2152 piksel. Sedangkan Huawei Mate X, punya layar AMOLED berukuran 8 inci dengan resolusi 2480 x 2200 piksel.

Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.

{Baca juga: Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat}

Sementara Mate X, didesain agar layarnya dapat dilipat ke luar. Ketika dilipat, layar bagian depan berukuran 6,6 inci dan aspek rasio 19,5 : 9 akan aktif, sementara layar yang berada di bagian belakang dengan ukuran 6,38 inci dan aspek rasio 25 : 9 akan mati.

Diungkapkan Director of Product Services and Commercial Strategy Samsung UK, Kate Beaumont, desain Galaxy Fold jauh lebih baik daripada smartphone dengan lipatan layar keluar, seperti Huawei Mate X. Sebab, desain lipatan ke dalam merupakan cara terbaik untuk melindungi layar fleksibel itu sendiri.

“Kami mempertimbangkan banyak pilihan. Kami merasa memiliki layar di bagian dalam adalah cara terbaik untuk melindungi layar itu,” katanya, seperti dikutip Telko.id dari The Verge, Rabu (27/02/2019).

Ia mengatakan, pihaknya memiliki teknologi untuk mengembangkan perangkat lipat dengan lipatan yang sangat kecil. Selain itu, Kate juga menyatakan bahwa perangkat dengan desain layar lipatan ke luar tidak membutuhkan penelitian dan pengembangan yang cukup banyak.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

“Karena tentu saja jika Anda memiiki lipatan di luar, tidak perlu penelitian dan pengembangan yang cukup banyak untuk membuat perangkat lipat,” ucap Kate.

Meski demikian, belum diketahui pasti manakah yang lebih “tahan banting” antara Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X. Sebab, baik Samsung atau Huawei masih membatasi akses terhadap perangkat premiumnya tersebut sampai benar-benar dirilis secara resmi nanti.

Sekadar informasi, Samsung memastikan akan menjual Galaxy Fold pada 26 April mendatang dengan harga USD 1.980 atau Rp 27,7 jutaan. Sementara Huawei bakal merilis Mate X pada pertengahan tahun 2019 ini di harga USD 2600 atau Rp 36,4 jutaan. (FHP)