spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1163

Tesla Bikin Mobil Listrik Mirip Punya James Bond

Telko.id, Jakarta – Tesla berencana membuat mobil listrik amfibi, yang bisa dipakai oleh si empunya untuk melakukan perjalanan di bawah air maupun darat. Mobil listrik Tesla ini terinspirasi dari mobil James Bond di film The Spy Who Love Me.

Dilansir Business Insider, CEO Tesla, Elon Musk, mengaku telah punya inisiatif tersebut sejak lama. Ia ingin membuat kendaraan yang canggih. Namun, kabarnya, Musk merasa kesulitan untuk merancang mobil model itu.

Dikutip Telko.id, Senin (17/6/2019), Musk ingin mobil tersebut berwujud seperti kapal selam Lotus Esprit yang ada di film James Bond, The Spy Who Love Me, pada 2013. Ia bahkan memilikinya seharga 616 ribu Euro atau Rp10 miliar.

{Baca juga: Wah, Game Cuphead Bakal Hadir di Mobil Listrik Tesla}

Selama ini, Tesla memang terkenal melakukan inovasi untuk mobil-mobil listrik buatannya. Sampai-sampai, Apple sejak lama tertarik untuk mengakuisi Tesla demi merealisasikan rencana bisnis perusahaan membuat mobil sendiri.

Tesla dinilai akan menjadi akuisisi terbaik untuk Apple. Analis pun mengklaim, Apple sudah mengajukan penawaran untuk Tesla pada 2013 silam. Apple mengajukan penawaran sUSD 240 atau Rp 3,4 jutaan per lembar saham.

Sayang, seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Rabu (22/5/2019), tidak diketahui seberapa jauh negosiasi antara Apple dan Tesla berlangsung saat itu. Namun, sang analis menjamin 100 persen kesahihan laporan tersebut.

{Baca juga: Taksi Robot Tesla Beroperasi Mulai 2020}

Namun, di tengah ketertarikan Apple, Tesla menghadapi problem serius terkait mobil buatannya. Mobil listrik Tesla Model S terbakar beberapa kali, termasuk di Antwerp, Belgia. Mobil tersebut terbakar saat diisi daya baterainya. [SN/HBS]

Sumber: Business Insider

Edan! Pria Ini Modifikasi Bentley jadi Ultratank

Telko.id, Jakarta – Penggemar mobil asal Rusia memodifikasi sedan Bentley Continental GT buatan Inggris menjadi Ultratank dengan model yang sangat ekstrem. Roda-rodanya diganti dengan tapak tank, meski alasnya karet, bukan logam.

Adalah Konstantin Zarutskiy yang mengoprek sedan sangar dan berkelas itu. Ia butuh waktu sekitar tujuh bulan untuk mengatasi berbagai tantangan teknis. Modifikasi pun berhasil dan Bentley Continental GT tersebut kini bernama Ultratank.

“Saya telah melakukan beberapa pengujian off-road. Hasilnya, Ultratank mampu melaju secara normal seperti mobil pada umumnya di jalan raya,” jelasnya, seperti dikutip Telko.id dari UPI, Senin (17/06/2019).

{Baca juga: Startup di China Produksi Massal Mobil Otonom Pengirim Barang}

Zarutsky mengaku sekarang sedang melakukan negosiasi dengan pihak berwenang di Saint Petersburg agar Ultratank memiliki legalitas jalan. Dengan demikian, Ultratank bisa dikendarainya di jalanan umum.

Sedan modifikasi milik Zarutskiy sepintas mirip kendaraan militer Amerika Serikat (AS) yang diuji beberapa waktu lalu. Jenisnya Humvee tanpa pengemudi bernama Wingman, dan punya model seperti truk perang penyapu ranjau.

{Baca juga: Banyak Duit? Satu dari 7 Smartphone Paling Cetar Ini Bisa Jadi Pilihan}

Wingman hadir untuk membantu tentara AS yang terjebak di medan perang. Wingman diuji pada Februari 2018 lalu untuk melihat sejauh mana akurasi identifikasi serta kemampuan menembaknya ke arah sasaran.

Di atas Wingman terpasang senapan mesin dan sistem pengaturan remote otonom. Remote itu terhubung dengan kendaraan komando milik milter angkatan darat AS. Wingman akan beroperasi di depan pasukan AS. (SN/FHP)

Sumber: UPI

Saat Lebaran 2019, Streaming dan Sosmed Dominasi Jaringan Smartfren

0

Telko.id – Beberapa waktu lalu, Smartfren untuk menghadapi arus mudik dan balik lebaran 2019 sudah melakukan peningkatan kapasitas rata rata 30% sukses dukung kelancaran komunikasi pelanggan. Ternyata, jaringan yang ada didominasi layanan streaming dan juga social media.

“Seperti yang sudah kami prediksi, dibulan Ramadhan dan juga hari raya lebaran tahun 2019 akan terjadi kenaikan lalu lintas data, dan memang benar terjadi kenaikan khususnya di layanan streaming video, kemudian yang kedua adalah para pengguna sosial media. Namun kami bersyukur bahwa sepanjang Ramadhan hingga selesainya hari raya Lebaran 2019, Smartfren sukses melayani dan memberikan kelancaran komunikasi bagi setiap pelanggannya.” Ujar Sharizan Zaki Pondren, Head of Customer Experience and Analytic Smartfren.

Selain itu berdasarkan data yang dimiliki, mobilitas pelanggan Smartfren selama mudik dan hari raya Lebaran paling banyak terjadi di Semarang, Medan, Makassar, dan Palembang. Adapun terdapat fenomena baru di tahun 2019 ini, yaitu terjadi juga peningkatan arus komunikasi dan data di sepanjang jalan tol Trans Jawa, namun hal ini telah diantisipasi oleh Smartfren dengan menurunkan 180 mobile bts dan 76 kontainer di sepanjang jalur tersebut.

Selain itu, Smartfren juga melakukan monitoring 24 jam X 7 hari dari NOC di seluruh jalur mudik, lokasi publik dan kota tujuan.

Sepanjang Ramadhan Smartfren juga menghadirkan menghadirkan beragam pilihan paket kuota internet mulai dari unlimited hingga kuota super besar. Mulai dari paket Worry free “Super 4G Unlimited” hingga pilihan kuota super besar dari paket “Super 4G Kuota” Smartfren, juga menghadirkan beragam layanan digital mulai dari layanan super 4G video bagi para movie lovers, Super 4G Music bagi para penikmat lagu, hingga Super 4G Games, bagi para gamers. (Icha)

Wow! Pengguna 5G Tahun 2024 bakal Mencapai 1,9 Miliar

Telko.id – Berdasarkan laporan dari Ericsson Mobility Report yang terbaru, pengguna layanan 5G pada tahun 2024, akan mencapai 1,9 miliar. Naik dari perkiraan sebelumnya pada November 2018 dari 1,5 miliar pengguna. Angka itu meningkat hampir 27%.

Perkiraan lain juga meningkat terutama sebagai akibat dari penyerapan cepat 5G. Cakupan 5G diperkirakan akan mencapai 45 persen dari populasi dunia pada akhir 2024. Ini bisa melonjak hingga 65 persen, karena teknologi berbagi spektrum memungkinkan penyebaran 5G pada pita frekuensi LTE.

Penyedia layanan komunikasi di beberapa pasar telah mengaktifkan 5G setelah peluncuran smartphone yang kompatibel dengan 5G. Penyedia layanan di beberapa pasar juga menetapkan target yang lebih ambisius untuk cakupan populasi hingga 90 persen dalam tahun pertama.

Komitmen kuat dari vendor chipset dan perangkat juga merupakan kunci untuk percepatan adopsi 5G. Ponsel pintar untuk semua pita spektrum utama dijadwalkan untuk memasuki pasar selama tahun ini. Ketika perangkat 5G semakin tersedia dan semakin banyak jaringan 5G yang ditayangkan, lebih dari 10 juta langganan 5G diproyeksikan ke seluruh dunia pada akhir 2019.

Penyerapan langganan 5G yang terecepat, diproyeksikan akan terjadi di Amerika Utara, dengan 63 persen langganan seluler yang diantisipasi di wilayah tersebut untuk 5G pada tahun 2024. Asia Timur Utara mengikuti di tempat kedua (47 persen), dan Eropa di tempat ketiga (40 persen).

Fredrik Jejdling, Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Jaringan, Ericsson, mengatakan: “5G cepat lepas landas. Hal ini mencerminkan antusiasme penyedia layanan dan konsumen terhadap teknologi. 5G akan memiliki dampak positif pada kehidupan orang dan bisnis, mewujudkan keuntungan di luar IoT dan Revolusi Industri Keempat. Namun, manfaat penuh dari 5G hanya dapat dipetik dengan pembentukan ekosistem yang solid di mana teknologi, peraturan, keamanan, dan mitra industri semuanya berperan.”

Ericsson pun memprediksikan bahwa total lalu lintas data seluler terus melonjak secara global di Q1 2019, naik 82 persen tahun-ke-tahun. Diperkirakan akan mencapai 131 exabytes (EB) per bulan pada akhir 2024, di mana saat itu 35 persen diproyeksikan lebih dari jaringan 5G.

Lalu, untuk IoT seluler secara global akan menyentuh 1 miliar koneksi, sebuah angka yang diperkirakan akan meningkat menjadi 4,1 miliar pada akhir 2024, di mana 45 persen diwakili oleh Massive IoT. Industri yang menggunakan Massive IoT mencakup utilitas dengan pengukuran cerdas, perawatan kesehatan dalam bentuk perangkat medis, dan transportasi dengan sensor pelacak. (Icha)

India Bersiap Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Telko.id, Jakarta India bersiap untuk bergabung dengan jajaran negara-negara yang telah lebih dulu eksplorasi luar angkasa. Sebab, rencananya negara ini ingin meluncurkan stasiun luar angkasa India pada tahun 2030 mendatang.

Menurut laporan Engadget, Senin (17/06/2019), rencana ini diungkapkan oleh Kepala Organisasi Penelitian Luar Angkasa India, Kailasavadivoo Sivan kepada awak media beberapa hari yang lalu.

Kaila mengatakan, India akan segera bergabung dengan beberapa negara yang telah memiliki stasiun luar angkasa sendiri, seperti Amerika Serikat, China dan Rusia.

Akan tetapi, ia menjelaskan bahwa stasiun India relatif kecil dimana para astronot hanya tinggal selama 15 hingga 20 hari disana.

“Tetapi itu seharusnya cukup untuk memungkinkan eksperimen gaya berat mikro. India tidak akan bergantung pada negara lain terkait bantuan,” kata Sivan.

{Baca juga: NASA Kecam India Soal Penembakan Satelit Pakai Misil}

Sayangnya, Kaila belum menjelaskan rincian stasiun luar angkasa tersebut. Dia baru akan menjelaskan setelah misi manusia pertama India ke bulan selesai pada 2022 mendatang.

Saat ini, India sedang fokus pada misi pendaratan manusia ke bulan yang akan diluncurkan pada 15 Juli 2019 mendatang. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ini akan menjadikan India bagian dari klub yang sangat eksklusif, karena tak banyak negara yang memiliki stasiun luar angkasa.

Ini juga menunjukan bahwa India bermaksud mengejar banyak aspek terkait penerbangan luar angkasa seperti eksplorasi dan pengetahuan baru. Dan, ini membuat negara Bollywood tersebut diprediksi menjadi kekuatan baru di jagat luar angkasa.

{Baca juga: Tembak Jatuh Satelit, India Jadi Kekuatan Luar Angkasa Baru}

Hal ini dikatakan oleh Perdana Menteri India, Narenda Modi usai berhasil menembak satelit di orbit rendah Bumi dengan menggunakan misil anti-satelit pada Rabu (28/03/2019).

Peneliti India berhasil menembak jatuh satelit milik sendiri yang sudah tidak berfungsi. Senjata anti-satelit itu melakukan tembakan sejauh 300 kilometer ke langit yang terletak di orbit rendah Bumi, Rabu lalu pada pukul 11.00 waktu setempat. (NM/FHP)

Sumber: Engadget

Telkomsel Percayakan Pembangunan Jaringan 5G Pada Ericsson?

0

Telko.id – Telkomsel sebagai salah satu operator di Indonesia menunjuk Ericsson untuk menyediakan jaringan inti (core network) teknologi seluler generasi kelima, atau 5G. Teknologi yang digunakan adalah Virtualized Evolved Packet Core dan Ericsson Cloud Packet Core.

Teknologi tersebut memungkinkan Telkomsel untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi dan kelincahan untuk bisnisnya saat ini dan untuk peluang di masa depan.

Dengan meningkatnya kecepatan Radio Access Network (RAN) dan meningkatnya kebutuhan akan latensi rendah, penyedia layanan juga menghadapi kebutuhan untuk mengembangkan jaringan inti menjadi arsitektur maju dan fleksibel yang mencakup distribusi ke tepi jaringan.

Penyebaran solusi NFVI (Infrastruktur Fungsi Virtualisasi Infrastruktur) Ericsson, bersama-sama dengan Ericsson Cloud Packet Core, merupakan langkah signifikan menuju menjadikan jaringan Telkomsel 5G-ready.

“Solusi cloud akan membantu memenuhi permintaan yang meningkat akan layanan jaringan baru untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi,” ungkap Ivan C Permana, Wakil Presiden, Manajemen Jaringan Cloud, Telkomse.

Ivan pun menambahkan,” Solusi NFVI Ericsson siap untuk teknologi 5G dan IoT, yang akan berguna bagi semua operator dan pelanggan perusahaan. Manfaat 5G akan berkisar dari berkurangnya waktu transfer data, pemotongan jaringan khusus hingga distribusi optimal kemampuan inti jaringan. ”

“Sebagai platform utama untuk 5G Core, solusi NFVI dan Cloud Packet Core kami akan membantu memenuhi kebutuhan pelanggan Telkomsel yang terus berkembang dan memungkinkan penyebaran cepat kasus penggunaan baru dan solusi inovatif di masa depan,” ujar Jerry Soper, Head of Ericsson Indonesia.

Soper menyakini bahwa kekuatan teknologi terdepan dari kemampuan jaringan inti Ericsson akan terus menarik perhatian penyedia layanan secara global saat mereka mengubah jaringan mereka menjadi 5G dan IoT. (Icha)

Mahal Banget! Ongkos Perjalanan ke Bulan Capai Rp 430 Triliun

Telko.id, Jakarta – Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana untuk melakukan perjalanan ke bulan lagi pada tahun 2024 mendatang. Akan tetapi, rencana NASA bisa dibilang akan sulit terwujud, akibat biaya perjalanan ke bulan yang tidak murah.

Administrator NASA, Jim Bridenstine memperkirakan, jika biaya pendaratan astronot ke bulan bisa mencapai USD 20 miliar hingga USD 30 miliar atau setara Rp 430 triliun.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Senin (17/06/2019), menurut Jim, pihaknya membutuhkan biaya tersebut selama 5 tahun kedepan untuk mewujudkan ambisi mendaratkan astronot ke bulan.

NASA diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar USD 20 miliar per tahun atau Rp 286,8 triliun selama 5 tahun pengembangan. Artinya, terjadi peningkatan anggaran sebesar USD 6 miliar atau Rp 86 triliun dibandingkan rata-rata anggaran NASA selama ini.

{Baca juga: Plin-plan, Donald Trump Minta NASA Fokus Eksplorasi Mars}

Meski demikian, ia mengatakan bahwa ini mungkin bukan rencana harga final. Sebab, pendaratan manusia ke bulan tidak hanya berbahaya tetapi juga tidak dapat diprediksi sehingga diperlukan dana tambahan.

Sebelumnya, NASA berencana menempatkan orang sekali lagi ke bulan. Mereka sedang menyiapkan perjalanan terbaru ke satelit bumi. Nama misi tersebut adalah  Artemis. Misi ini juga menjadi bentuk penghormatan 50 tahun Misi Apollo, yang berhasil membawa Niel Armstrong menginjakan kaki ke bulan.

NASA memiliki alasan tersendiri mengapa memilih nama Artemis untuk misi terbaru. Untuk diketahui, Artemis merupakan bagian dari dewi dalam sejarah mitologi Yunani yang merupakan saudara kembar dari Apollo dan Selene.

{Baca juga: NASA Punya Misi Baru ke Bulan, Namanya Artemis}

Artemis sendiri adalah  dewi perburuan bersama Orion setia menemaninya. Selain itu Misi Artemis ini bertujuan untuk menandai kembalinya Amerika di permukaan Bulan pada tahun 2024 mendatang.

Rencana membawa astronot ke bulan sendiri telah ada sejak tahun lalu. NASA mengungkapkan bahwa kemarin ada sembilan perusahaan swasta yang akan mengajukan proposal untuk tender NASA senilai maksimal USD 2,6 miliar atau sekitar Rp 42 triliun. (NM/FHP)

Trik Rekam Video 4K Menggunakan iPhone

Telko.id, Jakarta – Setuju atau tidak, tidak boleh diabaikan fakta bahwa banyak smartphone terbaru saat ini mampu mengambil video dengan kualitas yang menakjubkan. Bahkan, mayoritas smartphone sekarang mampu rekam video  4K.

Jika memiliki iPhone 6 atau yang lebih baru, Anda beruntung. Sebab, smartphone tersebut bisa dipakai untuk merekam video beresolusi 4K. Sayang, Apple sengaja mengatur agar semua video yang direkam via iPhone beresolusi 1080p HD di 30fps.

Lantas, bagaimana caranya supaya bisa meningkatkan resolusi dan framerate melalui iPhone 6 atau yang lebih baru?

{Baca juga: Kualitas Video Huawei P30 Pro Lebih Jelek dari Seri Sebelumnya}

Tim Telko.id akan memberikan cara untuk rekam video 4K di iPhone. Simak langkah-langkahnya di bawah ini.

  • Buka Setting di aplikasi dan gulir ke bawah hingga Anda menemukan menu Camera.
  • Ketuk, lalu pilih Record Video.
  • Di sana terdapat berbagai pilihan resolusi dan framerate.
  • Seperti HD 720p di 30fps dengan ukuran video 40MB per menit, 1080p HD di 30fps (resolusi default) berukuran 60MB per menit, 1080p HD di 60fps (video lebih halus) berukuran 90MB per menit,  4K di 24fps berukuran 135MB per menit, 4K di 30fps berukuran 170MB per menit, dan  4K di 60fps berukuran 400MB per menit.
  • Klik 4K dan pilih framerate yang diinginkan.
  • Semakin tinggi framerate, semakin halus video Anda.
  • Ulangi langkah tersebut jika Anda ingin mengubah lagi resolusi.
  • Untuk mengonfirmasi bahwa video Anda sedang direkam dengan resolusi 4K, buka aplikasi Camera dan di sudut kanan atas akan terdapat 4K diikuti oleh framerate yang telah dipilih.

Seperti yang telah dicatat Apple di halaman Settings, semakin tinggi resolusi dan framerate yang Anda pilih, semakin banyak memori yang digunakan. Karenanya, langkah selanjutkan adalah aktifkan penyimpanan iCloud di iPhone Anda.

Jika kehabisan ruang penyimpanan terlalu cepat, Anda dapat memilih untuk merekam di resolusi 720p. Berdasarkan perhitungan Apple, perekaman dengan resolusi tersebut butuh 1/10 penyimpanan dibanding perekaman video 4K dia 60fps. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

 

Bertemu Cook, Donald Trump Minta Apple Tinggalkan China

Telko.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan CEO Apple, Tim Cook, kabarnya melakukan pertemuan, baru-baru ini. Mereka membahas rencana Apple ke depan, yakni memproduksi perangkat di dalam negeri, dan segera meninggalkan China.

Menurut laporan Phone Arena, seperti dikutip Telko.id, Minggu (16/6/2019), Trump meminta kepada Cook supaya Apple tak lagi bergantung kepada China. Trump mendorong agar Apple mulai memproduksi iPhone dan sebagainya di AS.

Setali tiga uang, Cook juga berharap Apple tak lagi terdampak perang dagang antara AS dan China. Maklum, selama ini, Apple memproduksi iPhone dan perangkat lain di perusahaan rekanan, yang mayoritas berada di negara rival AS, yakni China.

{Baca juga: Donald Trump Minta Apple Pindahkan Pabrik ke AS}

Sebelumnya, pertemuan serupa juga berlangsung, membahas ancaman Trump untuk membebankan tarif 25 persen kepada kelompok produk buatan China. Kelompok perangkat impor yang akan dibebankan pajak tambahan termasuk iPhone.

Laporan Wall Street Journal, dikutip Telko.id, Kamis (13/06/2019) lalu, menyebut bahwa petinggi Foxconn, Young Liu, menyatakan perusahaan sudah menyiapkan fasilitas produksi di luar China. Pabrik itu bisa untuk memproduksi iPhone.

Ia kemudian meminta kepada Apple untuk tidak lagi khawatir jika harus menggunakan jasa Foxconn guna merakit iPhone terbaru. Ia menegaskan bahwa produksi iPhone di pabrik Foxconn luar China bakal terhindar dari pajak tambahan.

{Baca juga: Giliran Bos Apple yang Protes Kebijakan Trump}

Seperti diketahui, Apple memang banyak menggunakan jasa perusahaan asal China untuk merakit perangkat buatannya. Bahkan, Apple memakai jasa Foxconn, manufaktur asal Negeri Tirai Bambu, untuk memproduksi mayoritas iPhone. [SN/HBS]

Sumber: PhoneArena

Bayi Bernama Caroline Ini Hanya Merespon kalau Dipanggil “Alexa”

Telko.id, Jakarta – Ketika speaker pintar dengan asisten digital, seperti Alexa, Siri, Cortana, dll, hadir di dunia, muncul beberapa kekhawatiran. Sebagai misal, berapa banyak perkataan para pengguna direkam? Masalah ini ternyata sudah dialami seorang ibu di Amerika Serikat.

Seiring waktu berjalan, ternyata ada masalah lain yang dibawa asisten digital yang tidak diantisipasi oleh para pengguna. Sebuah video yang dibagikan oleh Good Morning America membuktikannya. Video tersebut merupakan kiriman seorang pemirsa Good Morning America.

Dalam video diperlihatkan seorang bayi berusia tujuh bulan bernama Caroline selalu merespons cepat ketika orangtuanya menyebut nama Alexa. Hal itu terjadi gara-gara orangtuanya terlalu sering menggunakan speaker asisten pintar Amazon Alexa.

{Baca juga: Duh! Siswa SD Ketahuan Kerjakan PR dengan Bantuan Alexa}

Dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Minggu (16/6/2019), Caroline mengira punya panggilan Alexa. Dalam video, sang ibu memanggil Caroline beberapa kali, tetapi diabaikan. Namun, ketika nama Alexa disebut, bayi perempuan itu berbalik.

Wah, coba bayangkan kalau hal yang sama menimpa para orangtua yang mempunya asisten pintar semacam Siri, Cortana, atau Bing. Bisa-bisa, bayi mereka juga hanya mau menoleh apabila disapa dengan panggilan Siri, Cortana, atau Bing.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang biasa memakai asisten pintar buatan Google? Sama halnya, ada kemungkinan besar bayi-bayi di beberapa negara hanya mau menoleh ketika dipanggil dengan nama Ok Google. Lantas, bagaimana solusinya?

{Baca juga: Fitur Ini Bisa Hubungkan Echo dengan Jam Weker}

Entahlah. Yang jelas, keberadaan asisten pintar mengundang dilema. Di satu sisi, asisten digital memudahkan pengguna untuk melakukan berbagai hal, Di sisi lain, asisten digital berdampak tak terduga, seperti halnya yang menimpa Caroline.

Masalah ini memang cukup unik. Karena sebenarnya sejak Amazon menggunakan Alexa sebagai julukan produk speaker pintar Echo pada 2015 lalu, banyak orang tua di Negeri Paman Sam itu yang enggan menggunakan nama itu untuk puteri mereka.

Recode melaporkan bahwa 6.050 bayi perempuan diberi nama Alexa pada 2015. Angka itu menurun menjadi hanya 3.883 pada 2017, sejak Amazon memakai nama itu untuk julukan speakerEcho.

Data statistik dari Administrasi Jaminan Sosial yang dianalisis oleh Profesor Sosiologi dari Universitas Maryland Philip Cohen juga menyatakan ada 311 bayi perempuan yang dinamai Alexa dari setiap 100.000 bayi perempuan pada 2015.

{Baca juga: Identik dengan Amazon, Orang Amerika Ogah Pakai Nama Alexa}

Jumlah itu turun 33 persen pada 2017, dimana ada 207 bayi perempuan yang dinamai Alexa dari setiap 100.000 bayi perempuan.

Well, apakah masalah ini akan juga dialami keluarga di Indonesia saat perangkat speaker pintar buatan Amazon itu mulai banyak digunakan di Tanah Air. Sebaiknya Anda sudah lebih waspada saat menggunakannya. [SN/HBS]

 

 

Sumber: Ubergizmo