spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1157

China jadi Dalang Serangan “Operation Soft Cell” di Seluruh Dunia?

Telko.id, Jakarta – Firma riset keamanan Cybereason melaporkan bahwa selama tujuh tahun terakhir, hacker berhasil membobol lebih dari 10 jaringan seluler di seluruh dunia. China dikabarkan menjadi dalang peretasan jaringan seluler yang disebut sebagai “Operation Soft Cell“.

Para hacker ini disinyalir telah mengumpulkan informasi tentang panggilan yang dilakukan oleh setidaknya 20 orang yang dijadikan target utama. Dilansir dari phoneArena, informasi yang diretas termasuk tanggal, waktu, serta lokasi panggilan.

Seperti dikutip Telko.id, Kamis (27/06/2019), serangan Operation Soft Cell telah dilakukan sejak 2012. Namun, baru ditemukan oleh Cybereason pada awal tahun ini.

{Baca juga: Duh! Peneliti Temukan 36 Celah Keamanan di Jaringan LTE}

Mereka melakukan peretasan untuk mendapatkan catatan rincian panggilan (CDR). Tak cukup, mereka juga mencoba mencari informasi lain, termasuk nama pengguna dan kata sandi.

“Penyerang bekerja secara bergelombang, meninggalkan satu utas serangan saat terdeteksi, lalu dihentikan. Mereka beraksi lagi beberapa bulan kemudian dengan teknik baru,” kata Cybereason

Cybereason yakin operasi tersebut disponsori dan berafiliasi dengan China. Metode dan alat yang digunakan mengarahkan peneliti keamanan untuk menyebut APT10 sebagai aktor ancaman.

Mereka dilaporkan bekerja dengan Kementerian Keamanan China atau MMS. Motifnya, untuk mencuri kekayaan intelektual atau mendapatkan informasi tentang beberapa pelanggan operator.

{Baca juga: Selebriti dan Atlet NBA Jadi Korban Hacker Asal Georgia}

Data yang dicuri memungkinkan peretas untuk mendapatkan catatan yang menyediakan tujuan dan durasi panggilan, informasi perangkat yang digunakan, nomor versi telepon dan vendornya.

Dengan peretasan, MSS bisa mengetahui dengan siapa orang yang ditarget telah berbicara, perangkat apa yang digunakan untuk melakukan panggilan, dan ke mana para target bepergian. (SN/FHP)

Sumber: phoneArena

Facebook Bisa Deteksi Penyakit Mental dan Diabetes

Telko.id, Jakarta – Penyakit mental kini telah menjadi epidemi modern karena banyak anak muda yang menyerah pada berbagai tantangan psikologis yang mereka hadapi setiap hari.

Beberapa penyakit mental, seperti depresi, sulit dideteksi pada orang yang menderita. Sebab, wajah bahagia dapat dengan mudah menyembunyikan apa yang mereka alami secara mental dan emosional.

Sekarang, mendiagnosis penyakit mental mungkin sedikit lebih mudah karena penelitian terbaru yang dilakukan di Amerika. Penelitian ini mampu mendeteksi kondisi orang yang bwrpotensi seperti depresi dan diabetes menggunakan Facebook!

Dilansir dari Star2, para peneliti di University of Pennsylvania dan Stony Brook University melakukan penelitian baru yang menganalisis riwayat postingan Facebook dari 999 pasien, yang berjumlah hingga sekitar 20 juta kata!

{Baca juga: Menarik, Facebook Luncurkan “Fitur Donor Darah”}

Pasien-pasien ini setuju untuk menghubungkan profil Facebook mereka dengan data rekam medis elektronik mereka.

Studi ini melihat bagaimana posting Facebook dapat memprediksi kondisi medis di 21 kategori besar menggunakan tiga model berbeda yang dibuat para peneliti.

Model 1: Menganalisis bahasa yang digunakan dalam posting Facebook pasien

Model 2: Menganalisis demografi pasien seperti usia dan jenis kelamin

Model 3: Data yang dianalisis dari Model 1 dan Model 2 digabungkan

Dalam hasil yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE, semua 21 kondisi medis yang dianalisis dalam penelitian ini dapat diprediksi hanya dengan posting Facebook saja.

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa data yang dikumpulkan dari Facebook juga mampu memprediksi 10 kondisi medis daripada data demografis. Ini termasuk penyakit seperti stres, depresi, psikosis dan bahkan diabetes.

Para peneliti melanjutkan penelitian ini dengan menggunakan kata kunci tertentu di Facebook yang cukup intuitif dalam memprediksi penyakit tertentu. Misalnya, kata-kata seperti “minum” dan “botol” diturunkan untuk memprediksi penyalahgunaan alkohol pada pasien.

Namun, hubungan lain antara kata-kata dan penyakit menunjukkan sedikit prediksi.

Misalnya, pasien yang memposting di Facebook menggunakan kata-kata religius seperti “Tuhan” atau “Berdoa” 15 kali lebih mungkin menderita diabetes daripada mereka yang paling sedikit menggunakan kata-kata itu.

Sementara kata-kata seperti “bodoh” dan kata-kata umpatan tertentu dikaitkan dengan obat, pelecehan dan psikosis.

“Bahasa digital kami menangkap aspek-aspek kuat dari kehidupan kami yang mungkin sangat berbeda dari apa yang ditangkap melalui data medis tradisional,” kata penulis dalam studi ini, Dr Andrew Schwartz.

“Saat ini, banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara pola bahasa dan penyakit tertentu. Seperti prediksi bahasa depresi atau bahasa yang memberikan wawasan tentang apakah seseorang hidup dengan kanker,” ujarnya.

Namun, dengan melihat banyak kondisi medis, para peneliti mendapatkan pandangan tentang bagaimana kondisi berhubungan satu sama lain, yang dapat memungkinkan aplikasi baru AI (kecerdasan buatan) untuk obat-obatan.

{Baca juga: Fitur Watch Party Kini Tersedia di Semua Halaman Facebook}

Penulis utama studi, Dr. Raina Merchant, menjelaskan bahwa meskipun penelitian ini masih dalam tahap awal, ia berharap bahwa ilmu yang diperoleh dari penelitian ini dapat digunakan untuk memberi informasi yang lebih baik kepada pasien dan penyedia layanan tentang kesehatan mereka.

“Karena posting media sosial sering tentang pilihan dan pengalaman gaya hidup seseorang, atau bagaimana perasaan mereka. Informasi ini dapat memberikan informasi tambahan tentang manajemen dan eksaserbasi penyakit,” katanya. [BA/HBS]

Sumber: World of Buzz

 

Begini Cara Pakai Fitur Check and Collect di Blibli.com

Telko.id, Jakarta – Blibli.com merilis fitur bernama Click and Collect. Melalui fitur tersebut pelanggan dapat melakukan transaksi secara online di platform Blibli.com namun bisa mengambil barang pesanannya di ribuan toko ritel yang menjadi mitra Blibli.com.

Transaksinya cukup mudah. SVP Trade Partnership Consumer Electronic Group Blibli.com Wisnu Iskandar menjelaskan jika pelanggan bisa membuka platform Blibli.com lalu mengetuk laman Click and Carry di platform tersebut. Kemudian Anda akan mendapatkan dapat memilih beragam toko retail yang tersedia.

Misalnya saja ingin berbelanja produk sehari-hari di Alfamart. Yang Anda lakukan pertama adalah memilih cabang Alfamart yang bisa Anda jangkau. “Kemudian pelanggan bisa click katalog toko untuk melihat produk yang tersedia di toko tersebut,” ucap Wisnu di Jakarta, Rabu (26/06/2019)

Jika telah selesai memilih, Anda diberikan beragam metode pembayaran. Mulai dari transfer melalui akun virtual, kartu kredit, kartu debit, internet banking, uang elektronik hingga pembayaran langsung di toko tersebut. Pembayaran telah selesai. Nantinya Anda akan menerima email berisi barcode dan kode unik yang harus ditunjukan kepada kasir toko.

{Baca juga: Fitur Ini Mudahkan Pelanggan Blibli Belanja “Online-to-Offline”}

“Pihak toko akan menyiapkan barangnya. Biasanya sekitar 2 jam atau lebih cepat setelah pemesan barang sudah siap diterima,” tambah Wisnu.

Tim Telko.id berkesempatan merasakan fitur tersebut. Kami membeli produk di platform Blibli.com dan mengambilnya di Alfamart AIPDA KS Tubun, Jakarta. Usai menyelesaikan pembayaran secara online, kami pun menunjukan Barcode dan Kode Unik kepada kasir.

Kami pun diharuskan menandatangani struk tanda terima dan mendapat barang pesanan. Wisnu mengatakan bahwa pengambilan barang bisa diwakilkan asalkan barcode dan kode uniknya ditunjukan kepada kasir.

{Baca juga: Blibli Gelar “The Big Start Season 4”, Hadiahnya Rp 1,3 Miliar}

“Jadi  pelanggan bisa menyuruh pembantu atau pihak lain untuk mengambil pesanan Anda,” tutup Wisnu.

Sebelumnya  Blibli resmi menghadirkan fitur Click and Collect. Dengan menggandeng 3.000 toko ritel, fitur ini memudahkan pengguna untuk membeli barang secara online, dan mengambilnya di toko ritel. [NM/HBS]

Berkat Fitur Ini, Apple Watch Kembali Selamatkan Nyawa Pengguna

Telko.id, JakartaNyawa pengguna Apple Watch kembali terselamatkan berkat fitur EKG dalam smartwatch Apple tersebut. Pengguna Apple Watch yang diketahui bernama Phil Harrison berhasil selamat dari serangan jantung yang parah.

Semua berawal ketika seorang pengguna di forum Reddit mengunggah kisah Phil Harrison. Kala sedang berlatih untuk Brighton Marathon, ia mendadak mengalami jantung berdebar.

Parahnya, detak jantung meninggi itu tidak juga menghilang. Penasaran, ia pun memutuskan untuk menggunakan fitur EKG di Apple Watch.

{Baca juga: Kisah Apple Watch Selamatkan Wanita Saat Berselancar}

Setelah dicek dan ditindak lanjuti pihak rumah sakit setempat, ia ternyata harus menjalani operasi perbaikan katup melalui operasi jantung terbuka dengan segera.

“Saya sebenarnya tidak boleh maraton. Saya harus operasi perbaikan katup melalui operasi jantung terbuka dalam 2,5 bulan mendatang. Sekarang, saya harus cepat-cepat dioperasi,” ujarnya dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Rabu (26/06/2019).

{Baca juga: Terjepit Mobil 7 Jam, Remaja Ini Selamat Berkat Aplikasi Apple}

Fitur EKG di Apple Watch bisa dibilang setara dengan alat medis. Itu berarti, fitur tersebut harus dilisensikan sesuai aturan negara tempat smartwatch tersebut dijual dan digunakan konsumen.

Nyawa pengguna yang berhasil diselamatkan jam tangan pintar Apple bukan terjadi sekali saja. Sebelumnya, kisah penyelamatan Apple Watch dialami oleh seorang perempuan asal Massachusetts, Amerika Serikat.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Apple Terbaru}

Ketika itu, ia sedang melakukan paddle boarding atau berselancar di pinggir laut menggunakan dayung. Kejadian berlangsung di Pantai Nahant. Kala ia tengah asyik berselancar, tiba-tiba angin berembus sangat kencang. Ia terombang-ambing.

Merasa khawatir, ia memutuskan untuk mengontak layanan darurat 911 via Apple Watch. Dasar nasib memang beruntung, panggilan darurat tersebut pun langsung tersambung ke Lynn, Departemen Pemadam Kebakaran Massachusetts. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

NASA Terbangkan Jam Atom ke Luar Angkasa, Buat Apa?

Telko.id, Jakarta – Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mengirim jam atom ke luar angkasa pada Senin (24/6/2019). Jam luar angkasa bernama Deep Space Atomic Clock tersebut diklaim 50 kali lebih akurat ketimbang jam atom di satelit GPS.

Bahkan, menurut laporan, ketepatan jam seukuran pemanggang roti itu hanya akan berubah 2 nanodetik perhari atau satu detik tiap sembilan juta tahun. Dinilai, tahun depan menjadi waktu yang tepat untuk pengembangan Deep Space Atomic Clock.

Seperti dikutip Telko.id dari BBC, Rabu (26/06/2019), NASA akan memantau kinerja Deep Space Atomic Clock saat mengorbit Bumi di ketinggian 720 kilometer atau 447 mil. Benda tersebut diluncurkan menggunakan roket Falcon milik SpaceX.

{Baca juga: India Bersiap Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri}

NASA menyatakan bahwa jam atom adalah kunci navigasi satelit. Selama ini, satelit GPS terus-menerus mengirimkan sinyal radio berkecepatan cahaya yang memberikan transmisi lokasi dan waktu ke penerima di Bumi via perangkat.

Dilaporkan, nantinya jam tersebut akan meringankan beban NASA di Deep Space Network dalam mengatur banyak kapal penjelajah luar angkasa secara bersamaan saat mereka menjelajah Tata Surya, tanpa perlu ekspansi. Itu dinilai bisa mengubah cara manusia mengarungi luar angkasa.

{Baca juga: Plin-plan, Donald Trump Minta NASA Fokus Eksplorasi Mars}

Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta kepada NASA untuk fokus mengeksplorasi Mars daripada Bulan. Ia mengeluarkan pernyataan itu via cuitan di Twitter dalam perjalanan menggunakan pesawat kepresidenan.

“Untuk semua uang dikeluarkan, NASA tidak lagi boleh berbicara tentang Bulan. Hal tersebut sudah lewat 50 tahun lalu. NASA sekarang harus fokus kepada hal-hal yang jauh lebih besar, termasuk ke Mars,” demikian cuitan Donald Trump. (SN/FHP)

Sumber: BBC

Fitur Ini Mudahkan Pelanggan Blibli Belanja “Online-to-Offline”

Telko.id, Jakarta – Menggandeng 3.000 toko ritel, Blibli resmi menghadirkan fitur Click and Collect. Fitur ini memudahkan pengguna untuk membeli barang secara online, dan mengambilnya di toko ritel.

Dijelaskan SVP Trade Partnership Consumer Electronic Group Blibli.com, Wisnu Iskandar, fitur ini memungkinkan pelanggan untuk merasakan kemudahan belanja online di situs atau apllikasi Blibli tanpa harus menunggu barang tiba.

Setelah membayar, pelanggan bisa mengambil sendiri pesanannya dengan mengunjungi toko ritel.

{Baca juga: E-commerce Tak Menghambat Perkembangan Produk Lokal}

“Blibli.com menjawab kebutuhan pelanggan untuk pengalaman berbelanja bersifat online-to-offline melalui fitur Click and Collect,” kata Wisnu di Jakarta, Rabu (26/06/2019).

Wisnu mengklaim, pihaknya menjadi ecommerce pertama yang memperkenalkan fitur ini dengan konsep bisnis O2O atau online-to-offline. Menurutnya, ada 28 merchant partner yang bekerja sama, seperti Alfamart, Fujishop, Apollo, Sumber Bahagia, Bursa Kamera, dan masih banyak lagi.

Ribuan toko tersebut tersebar di 5 wilayah, seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar.

“Sejak Januari hingga Juni sudah ada 250 ribu order yang masuk ke fitur ini. Kita juga akan terus melakukan ekspansi dan menggandeng banyak ritel seperti di bidang farmasi dan lain sebagainya,” ujar Wisnu.

Fitur Click and Collect pun disambut baik oleh para pelaku usaha ritel, seperti Alfamart. Dikatakan Head of Digital Business Alfamart, Viendra Primadia, fitur ini dapat memperluas sales point Alfamart di platform online untuk memenuhi keinginan konsumen dalam kemudahan berbelanja produk sehari-hari.
“Sehingga kami sebagai toko offline tidak tertinggal dan tetap bisa memberi pelayanan secara online,” kata Viendra.

{Baca juga: Blibli Gelar “The Big Start Season 4”, Hadiahnya Rp 1,3 Miliar}

Hal serupa juga dikatakan oleh founder dari Fujishop, Samuel Ong. Kehadiran fitur ini selain menambah kanal penjualan, tetapi turut membantu mereka untuk menampung kritik dan saran dari pelanggan.

“Kami dapat memanfaatkan secure payment gateway dan fasilitas costumer care center yang sudah disediakan Blibli.com,” ucap Samuel. (NM/FHP)

Waduh, Perusahaan AS Cueki Titah Trump untuk Embargo Huawei

Telko.id, Jakarta – Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) kabarnya tidak mengindahkan instruksi embargo Huawei yang dikeluarkan Presiden Donald Trump. Sebab, perusahaan modem AS disebut-sebut masih bermitra bisnis dengan nilai transaksi jutaan dolar AS dengan Huawei.

Jika kabar ini benar, maka perintah Trump yang secara tegas melarang perusahaan teknologi AS menjual atau membeli produk elektronik ke Huawei tidak ditaati dengan baik.

Menurut laporan CNET, komponen dari perusahaan AS mulai dikirim ke Huawei sejak tiga minggu lalu. Rumornya, Intel dan Micron termasuk perusahaan asal AS yang tak patuh terhadap perintah Trump.

{Baca juga: AS Gerah Belum Bisa Cekal Jaringan 5G China}

Beberapa waktu lalu, Trump dilaporkan akan meringankan embargo Huawei. Pemerintah AS bakal memberi lisensi sementara kepada produsen asal China itu guna mencegah gangguan layanan jaringan.

Sebab, masih banyak layanan Huawei yang digunakan oleh penyedia internet. Asal tahu saja, penyedia internet dan operator nirkabel di pedesaan dan berpenduduk rendah di AS masih menggunakan perangkat Huawei.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Huawei Terbaru}

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah larangan bagi perusahaan-perusahaan AS menggunakan peralatan telekomunikasi buatan perusahaan China, yang menimbulkan risiko keamanan.

Perintah diteken Trump untuk mendorong undang-undang ekonomi internasional guna memberi wewenang kepada presiden mengatur perdagangan. Ketika resmi ditandatangani, perintah otomatis berlaku. (SN/FHP)

Sumber: CNET

 

Aplikasi Kompetitor “Haram” Dipakai Seluruh Karyawan Microsoft

Telko.id, Jakarta – Para karyawan Microsoft dilarang menggunakan produk buatan perusahaan kompetitor di lingkungan kantor. Raksasa teknologi ini bahkan memuat daftar produk atau aplikasi dan teknologi yang haram digunakan oleh karyawan.

Dilansir Mashable, Slack dan Google Docs merupakan aplikasi buatan kompetitor yang dilarang digunakan di lingkungan kantor Microsoft.

Meski demikian, Microsoft tidak mengakui bahwa aturan itu diterapkan karena faktor persaingan. Mereka justru menekankan bahwa larangan diberlakukan lantaran alasan keamanan.

{Baca juga: Diprotes Karyawan, Microsoft Tetap Garap Proyek Militer AS}

“Slack Free, Slack Standard, dan Slack Plus tidak menyediakan kontrol yang bisa secara benar melindungi Microsoft Intellectual Property,” kata Microsoft seperti dikutip Telko.id, Rabu (26/06/2019).

Microsoft meminta kepada para karyawan yang selama ini menggunakan Slack Free, Slack Standard, dan Slack Plus untuk bermigrasi ke Microsoft Teams. Microsoft menyebut, aplikasi itu menawarkan fungsi sama.

Kebijakan tersebut sedikit mengundang tanda tanya. Sebab, Microsoft belum lama ini memperingatkan para pengguna untuk mewaspadai serangan malware RTF yang mendompleng di email tak dikenal.

{Baca juga: Mau Tahu Merek Paling Bernilai Sedunia 2019? Ini Daftarnya}

Malware itu menyaru dalam bentuk dokumen dan memanfaatkan aplikasi-aplikasi milik Microsoft. Malware yang menyelinap di email tak dikenal menyerang dalam bentuk dokumen Rich Text Format alias RTF.

Dokumen tersebut menggunakan aplikasi di Microsoft Office maupun Wordpad yang dilaporkan memiliki celah keamanan bernama CVE-2017-11992, lalu membuka segel keamanan perangkat. (SN/FHP)

Sumber: Mashable

Pengguna Instagram Disadap Demi Iklan? Ini Faktanya

Telko.id, Jakarta – CEO Instagram, Adam Mosseri, mengeluarkan pernyataan koreksi terkait tudingan bahwa pengguna Instagram disadap. Ia menegaskan, Instagram tidak pernah menguping percakapan pengguna.

Ia menyatakan, hal itu sebagai pembelaan atas tudingan bahwa Instagram menyadap percakapan pengguna untuk memunculkan iklan di platform. Iklan tersebut sesuai dengan obrolan pengguna di dunia nyata.

“Pengguna memang kerap melihat iklan terkait produk yang tengah dibicarakan di dunia nyata. Padahal, iklan itu tidak pernah pengguna cari di internet. Semua hanya kebetulan,” ujarnya, seperti dilansir CNBC.

{Baca juga: Facebook akan Bayar Pengguna yang “Rela Disadap”, Mau?}

Dikutip Telko.id, Rabu (26/06/2019), Mosseri mengaku sering mendapat pertanyaan soal hal tersebut. Ia lantas mengemukakan dua alasan kenapa hal itu bisa terjadi. “Pertama adalah kebetulan,” ucapnya.

Kedua, ia menerangkan, mungkin pengguna sedang membahas suatu produk lantaran memang belum lama melihatnya. Secara tidak sengaja, produk tersebut kemudian dilihat oleh pengguna di Instagram.

Meski tidak menyadap percakapan melalui mikrofon smartphone, ia melanjutkan, Instagram tetap menampilkan iklan kepada target konsumen. Karenanya, pengguna akan melihat iklan berdasarkan ketertarikan.

{Baca juga: Mau Tahu Merek Paling Bernilai Sedunia 2019? Ini Daftarnya}

Biasanya, iklan tersebut didasarkan kepada akun yang pengguna ikuti, serta foto atau video yang disukai dan dikomentari. Instagram juga menggunakan data demografis dari perusahaan induknya, Facebook.

Data itu dipakai untuk menentukan apa yang akan menarik minat pengguna. Dengan begitu, Instagram bisa membagi para pengguna ke dalam 52.000 kategori. (SN/FHP)

Sumber: CNBC

Awas! Lebih dari 2.000 Aplikasi Berbahaya Ancam Smartphone Android

Telko.id, Jakarta – Para peneliti keamanan dari University of Sydney dan CSIRO Data61 telah melakukan penelitian selama 2 tahun untuk menemukan aplikasi berbahaya di Android. Hasilnya, mereka menemukan 2.040 aplikasi malware berbahaya di Google Play Store.

Dilaporkan Computer World, dilansir Telko.id pada Rabu (26/06/2019), para peneliti sebelumnya menginvestigasi lebih dari 1 juta aplikasi di Play Store.

Sampai akhirnya, mereka menemukan bahwa sejumlah aplikasi berbahaya yang ada di toko aplikasi online milik Google tersebut merupakan game populer yang ditiru dan mengandung malware, seperti Hill Climb Racing dan Temple Run.

{Baca juga: Cara Cegah Aplikasi Install Aplikasi Berbahaya di Android}

Ada juga aplikasi yang tidak mengandung malware, tapi aplikasi tersebut masih meminta izin untuk mengakses data pengguna yang sebenarnya tidak berkaitan dengan fungsi aplikasi.

“Meskipun keberhasilan Google Play ditandai oleh fleksibilitas dan fitur yang dapat disesuaikan yang memungkinkan hampir semua orang membuat aplikasi, tapi ada sejumlah aplikasi bermasalah yang lolos dari celah dan telah melewati proses pemeriksaan otomatis,” jelas salah satu peneliti, Dr Suranga Seneviratne dari University of Sydney.

“Masyarakat semakin bergantung pada smartphone, sehingga penting bagi kita membangun solusi untuk mendeteksi aplikasi jahat dengan cepat sebelum mempengaruhi pengguna smartphone yang lebih luas,” tambahnya.

Dalam proses mengidentifikasi dan menemukan 1 juta aplikasi berbahaya di Play Store, para peneliti menggunakan algoritma neural network dan machine learning. Algoritma ini bertugas untuk mencari deskripsi teks dan ikon yang sama dengan 10.000 aplikasi terpopuler di Play Store.

{Baca juga: Laptop Paling Berbahaya Ini Dijual Rp 14,3 Miliar, Tertarik?}

Algoritma kemudian mendapatkan 49.608 ancaman potensial. Lalu menggunakan VirusTotal, sekitar 7.246 aplikasi ditandai sebagai aplikasi berbahaya, dan 2.040 di antaranya adalah aplikasi palsu dengan risiko keamanan yang tinggi.

Selain itu, setidaknya 1.565 aplikasi meminta lima izin sensitif di smartphone, dan 1.407 menanamkan protokol iklan pihak ketiga di smartphone pengguna. Hingga berita ini diturunkan, Google telah menghapus aplikasi berbahaya tersebut di Play Store. (FHP)

Sumber: Computer World