spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

ARTIKEL TERKAIT

Telkom Mulai Konsolidasi, Merger Dua Anak Usaha Mitratel

Telko.id – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memulai konsolidasi besar di dalam entitas bisnisnya. Langkah terbaru adalah merger dua anak perusahaan di bawah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT).

Pengumuman ini disampaikan oleh emiten infrastruktur menara telekomunikasi terbesar di Indonesia itu dalam ringkasan rancangan penggabungan usaha yang diterbitkan di surat kabar pada Jumat (8/5).

Kedua perusahaan tersebut merupakan lini bisnis yang bergerak di sektor penyediaan infrastruktur telekomunikasi di bawah naungan Mitratel.

Mitratel akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 30 Juni 2026 untuk membahas rencana merger ini. Ringkasan rancangan penggabungan usaha telah disusun bersama oleh direksi perusahaan-perusahaan yang terlibat, dan telah memperoleh persetujuan dari dewan komisaris MTEL, PST, dan UMT pada 6 Mei 2026.

“Penggabungan usaha dilakukan dengan memperhatikan masing-masing perusahaan yang melakukan penggabungan, masyarakat, dan persaingan sehat dalam melakukan usaha, serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak pemegang saham dan karyawan,” tulis manajemen dalam ringkasan merger tersebut.

Meski demikian, rencana penggabungan usaha ini masih menunggu persetujuan RUPS masing-masing perusahaan dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bila semua persyaratan terpenuhi, merger akan efektif berlaku pada 1 Juli 2026.

Danantara Rampingkan Struktur Telkom

Langkah konsolidasi ini sejalan dengan rencana besar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang ingin merampingkan bisnis emiten pelat merah tersebut. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya mengungkapkan bahwa Telkom saat ini memiliki sekitar 66 entitas usaha.

Ke depannya, jumlah itu akan dipangkas drastis menjadi hanya belasan perusahaan. Telkom akan bertransformasi menjadi strategic holding yang lebih fokus pada bisnis inti.

“Sehingga nanti dari 66 perusahaan Telkom itu hanya akan tinggal kurang lebih belasan perusahaan saja, nah nantinya akan semua yang dari bawah akan tergabung ke atas,” kata Dony di Jakarta, Selasa (11/2).

Rencana ini merupakan bagian dari strategi Efisiensi Bisnis yang diusung Telkom. Dengan struktur yang lebih ramping, perusahaan diharapkan dapat bergerak lebih gesit dan fokus pada pengembangan bisnis utama.

Empat Unit Bisnis Utama Telkom

Dony Oskaria menegaskan bahwa setelah restrukturisasi, Telkom hanya akan memiliki empat unit bisnis utama. Pertama, Telkomsel yang berperan sebagai perusahaan telekomunikasi inti.

Kedua, Infraco yang fokus pada bisnis serat optik. Ketiga, Mitratel yang menangani bisnis menara telekomunikasi. Sementara yang keempat adalah unit bisnis pusat data (data center).

Selain itu, Dony menyebut akan dikembangkan satu lini bisnis infrastruktur tambahan yang berfungsi sebagai penopang operasional bagi keempat unit utama tersebut. Langkah ini menunjukkan komitmen Telkom untuk memperkuat fondasi bisnisnya di era digital.

Konsolidasi di tingkat Mitratel melalui merger PST dan UMT menjadi salah satu langkah awal dari transformasi besar ini. Dengan menggabungkan dua entitas yang memiliki lini bisnis serupa, Mitratel berharap dapat menciptakan sinergi operasional yang lebih efisien.

Sebelumnya, Telkom juga telah melakukan Spin-off InfraNexia untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadapi persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat.

Selain restrukturisasi bisnis, TelkomGroup juga terus berinovasi dalam pemanfaatan teknologi. Salah satunya dibuktikan dalam ITD Summit 2026 di mana perusahaan menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar tren, melainkan solusi nyata untuk meningkatkan layanan.

Di sisi lain, transformasi digital di Indonesia juga masih dihadapkan pada tantangan keamanan siber. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Telkom dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan infrastruktur digital yang aman dan andal.

Langkah Danantara Rampingkan Telkom ini diharapkan dapat menciptakan struktur perusahaan yang lebih efisien dan kompetitif. Dengan fokus pada empat unit bisnis utama, Telkom dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih optimal.

Merger PST dan UMT di bawah Mitratel menjadi bukti nyata dimulainya proses konsolidasi ini. Para pemegang saham akan memberikan persetujuan akhir dalam RUPS yang dijadwalkan pada akhir Juni 2026.

Jika semua berjalan sesuai rencana, efektivitas merger akan berlaku pada awal Juli 2026. Ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi Telkom menuju struktur yang lebih ramping dan efisien.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Telkom optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai pemimpin di industri telekomunikasi Indonesia. Konsolidasi entitas anak menjadi kunci untuk menciptakan sinergi dan efisiensi yang lebih besar.

Ke depannya, publik dan investor akan terus memantau perkembangan restrukturisasi ini. Dampaknya terhadap kinerja keuangan dan operasional perusahaan akan menjadi indikator keberhasilan transformasi yang sedang berjalan. (Icha)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU