spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

ARTIKEL TERKAIT

Telkom Bukukan Kinerja FY25 Resilien, TSR Capai 35,7%

Telko.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham.

Perseroan mencatat net income sebesar Rp17,8 triliun dengan net income margin 12,1%, sementara normalized net income mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4%.

Pendapatan konsolidasi tercatat Rp146,7 triliun, dengan EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dan margin EBITDA 49,2%. Normalized EBITDA tercatat Rp73,2 triliun dengan margin 49,9%.

Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, Telkom mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7% sepanjang 2025. Angka ini terdiri dari capital gain 28,4% dan dividend yield 7,3%.

Respons positif pasar ini didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio 89% untuk pembayaran tahun buku 2024 serta program share buyback senilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025.

“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Empat Pilar Transformasi TLKM 30

Melalui strategi transformasi jangka menengah TLKM 30, Telkom fokus pada eksekusi empat pilar besar. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence, yang memperkuat prinsip tata kelola perusahaan baik.

Hal ini mendorong peningkatan disiplin organisasi berkelanjutan, termasuk budaya kerja unggul, proses efisien, serta peningkatan kualitas layanan.

Pada pilar kedua, perseroan melakukan Streamlining sebagai strategi penataan portofolio non-core business. Implementasi strategi ini tercermin melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika yang telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.

Beberapa entitas dengan bisnis serupa atau tidak sesuai dengan core business di ekosistem TelkomGroup juga sedang dirampingkan.

Pilar ketiga berfokus pada upaya peningkatan nilai tambah (Unlock Value), salah satunya melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital yaitu konektivitas fiber.

Pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025.

Langkah ini juga menjadi bagian dari arah transformasi menuju strategic holding. Sebelumnya, spin-off InfraNexia telah menjadi salah satu inisiatif kunci perseroan.

Sebagai pilar keempat, Telkom menjalankan Modus-operandi shift, perubahan dari operating holding menjadi strategic holding, dengan melakukan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen Operating Company (OpCo), yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Transformasi ini diharapkan semakin memperkuat fundamental perusahaan dan mengharmonisasi lini bisnis.

Dampak Perubahan Kebijakan Akuntansi

Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi. Hal ini menyebabkan performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5% YoY, sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi.

Perseroan juga melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Inisiatif ini memperkuat praktik tata kelola transparan dan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan aset.

Segmen B2C masih menjadi kontributor utama pendapatan. Telkomsel berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp109,2 triliun secara konsolidasian.

Trafik data meningkat signifikan 15% YoY, sementara Average Revenue Per User (ARPU) bergerak ke arah pemulihan positif mulai paruh kedua 2025. Di tahun 2026, Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga tepat sasaran dan keunggulan kualitas jaringan.

Content image for article: Telkom Bukukan Kinerja FY25 Resilien, TSR Capai 35,7%

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan tercatat Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2% YoY yang ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber. Pendapatan bisnis data center diperoleh dari dua fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga fasilitas enterprise data center, dan dua fasilitas co-location data center di Singapura yang dikelola NeutraDC. TelkomGroup juga mengoperasikan 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX.

Bisnis menara telekomunikasi melalui Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan net income margin 22,2% dan EBITDA margin 82,2%. Kinerja tersebut didukung rasio penyewa 1,57x atas 40.230 menara telekomunikasi, menjadikan Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara. Sejalan dengan itu, konsolidasi Mitratel terus berjalan untuk optimalisasi aset.

Pada bisnis Wholesale & International Service, perseroan mencatat pendapatan Rp10,7 triliun. TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.

Sementara segmen B2B ICT membukukan pendapatan Rp15,3 triliun yang terdiri dari bisnis Konektivitas, Manage Solution dan Digital.

Pertumbuhan bisnis infrastruktur didorong oleh disiplin investasi, dengan realisasi belanja modal di tahun 2025 sebesar Rp27,5 triliun atau 18,8% dari total pendapatan.

Mayoritas belanja modal sebesar 93% dialokasikan untuk perluasan infrastruktur segmen B2C, B2B Infrastructure, dan Internasional.

“Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutup Dian. (Icha)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU