Telko.id – Meta resmi meluncurkan Muse Spark 1.1, versi terbaru dari model kecerdasan buatan (AI) yang difokuskan untuk AI coding dan tugas berbasis AI agent.
Model ini merupakan peningkatan dari Muse Spark yang diperkenalkan pada April 2026 dan menjadi langkah terbaru Meta untuk bersaing dengan OpenAI, Anthropic, serta Google di pasar AI untuk pengembang.
Model ini dirancang untuk membantu pengembang perangkat lunak (developer software) dalam membuat kode, memperbaiki bug, hingga menangani migrasi kode dalam skala besar.
Selain itu, model ini juga mampu memahami teks, gambar, video, serta menjalankan tugas yang melibatkan penggunaan berbagai aplikasi dan alat secara otomatis.
Baca Juga:
- Demi Efisiensi, Meta Daur Ulang RAM DDR4 untuk Server AI
- Meta Klaim AI Watermelon Hampir Setara Model OpenAI
Berbeda dengan strategi Meta sebelumnya yang banyak mengandalkan model AI terbuka (open source), Muse Spark 1.1 menjadi salah satu model AI pertama perusahaan yang dikenakan biaya untuk penggunaan komersial.
Meta memberikan kredit senilai 20 dollar AS kepada pengembang yang ingin mencoba model tersebut. Setelah kredit habis, perusahaan menerapkan tarif sekitar 1,25 dollar AS per satu juta token input dan 4,25 dollar AS per satu juta token output.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengatakan harga tersebut sengaja dibuat agresif agar lebih kompetitif dibanding layanan AI serupa dari OpenAI maupun Anthropic.
Salah satu peningkatan terbesar pada Muse Spark 1.1 adalah kemampuannya menjalankan tugas berbasis AI agent.
Model ini dapat menyusun rencana kerja, membagi tugas ke beberapa subagen AI, memanfaatkan alat eksternal, hingga menyelesaikan pekerjaan yang kompleks dengan intervensi manusia yang lebih sedikit.
Meta juga membekalinya dengan context window hingga 1 juta token, sehingga AI mampu mempertahankan konteks percakapan dan proyek dalam sesi yang panjang.
Selain tersedia melalui API, Muse Spark 1.1 juga mulai digunakan pada fitur Thinking Mode di aplikasi dan situs Meta AI. Ke depannya, Meta berencana menghadirkan kemampuan model ini ke berbagai layanan lain seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga perangkat kacamata pintar miliknya.
Dikutip dari TechCrunch, Sabtu (11/7/2026), langkah tersebut menunjukkan ambisi Meta untuk memperluas portofolio AI, mulai dari pembuatan gambar hingga pemrograman.
Bagi pengembang, kehadiran model ini menambah pilihan platform AI untuk membangun aplikasi, sementara bagi industri teknologi, langkah Meta menandai semakin ketatnya kompetisi antara perusahaan AI besar dalam menghadirkan model yang lebih canggih, efisien, dan terjangkau.


