Telko.id – Google dikabarkan menjalin kerja sama besar dengan SpaceX untuk menyewa kapasitas pusat data yang digunakan untuk mendukung kebutuhan komputasi dan kecerdasan buatan (AI).
Nilai kontrak tersebut dikabarkan mencapai USD$920 juta atau sekitar RP 16 triliun per bulan selama 32 bulan, mencerminkan betapa besarnya kebutuhan infrastruktur digital di era AI saat ini.
Sejak SpaceX mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan xAI pada Februari 2026, yang keduanya dimiliki oleh Elon Musk, perusahaan tersebut kini mengoperasikan beberapa pusat data besar di AS, yang disebut sebagai ‘Colossus’, dengan total kapasitas komputasi lebih dari 2 GW, dan ‘SpaceX/AI’ kini memiliki perkiraan nilai gabungan sebesar US$1,25 triliun.
Menurut dokumen perjanjian, Google akan menggunakan sekitar 110,000 Nvidia unit pemrosesan grafis, serta prosesor pusat, memori, dan komponen lainnya yang ditempatkan di pusat data SpaceX. Perjanjian tersebut berlaku mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029.
Kehadiran perusahaan antariksa milik Elon Musk ini menunjukkan bahwa pusat data kini menjadi aset strategis yang nilainya semakin penting di tengah ledakan kebutuhan AI global.
Juru bicara Google Cloud mengatakan kepada CNBC melalui email bahwa kesepakatan itu dibuat “untuk memastikan kami memiliki kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan pelanggan terhadap platform agen kami, Gemini Enterprise, yang bahkan lebih tinggi dari perkiraan kami.”
Baca Juga:
- Eropa Kurangi Ketergantungan pada Google, Beralih ke Qwant
- Google Rilis Fitur AI Fake Call Detection untuk Hindari Penipuan
Kesepakatan ini menunjukkan bahwa persaingan AI tidak lagi hanya terjadi di level model dan aplikasi, tetapi juga pada ketersediaan infrastruktur komputasi.
Seiring berkembangnya AI generatif dan AI agent, kebutuhan akan pusat data, daya komputasi, serta pasokan energi meningkat secara drastis. Perusahaan teknologi besar kini berlomba mengamankan kapasitas komputasi agar dapat terus melatih dan menjalankan model AI dalam skala besar.
Bagi Google sendiri, akses terhadap kapasitas pusat data tambahan menjadi faktor penting untuk mendukung berbagai layanan AI mereka, termasuk Gemini, Google Cloud, dan produk berbasis AI lainnya.
Infrastruktur yang besar memungkinkan model AI diproses lebih cepat, melayani lebih banyak pengguna, serta mendukung pengembangan teknologi generasi berikutnya.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana industri teknologi sedang memasuki era baru yang sering disebut sebagai AI infrastructure race.
Jika sebelumnya perusahaan berlomba untuk menciptakan model AI terbaik, kini mereka juga hatus memastikan ketersediaan chip, pusat data, jaringan, dan pasokan energi yang cukup untuk menjalankan teknologi tersebut dalam skala global.


