Kategori: Telkom

  • Kinerja Positif, Telkom Bagikan Dividen Rp9,29 Triliun

    Kinerja Positif, Telkom Bagikan Dividen Rp9,29 Triliun

    Telko.id – Kinerja positif terus ditorehkan oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom). Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2015 yang berlangsung di Jakarta, Jumat lalu, perseroan memutuskan untuk membagikan 60% dari total laba bersih perseroan, yang berjumlah Rp 15,49 triliun, sebagai dividen.

    Adapun rincian dividen tunai sebesar Rp 7,74 triliun (50% dari laba bersih) atau sebesar Rp 78,86 per lembar saham dan dividen spesial Rp 1,55 triliun (10% dari laba bersih) atau sebesar Rp 15,77 per lembar saham. 40% sisa laba bersih atau sebesar Rp 6,2 triliun digunakan sebagai laba ditahan.

    Kinerja yang semakin baik ini juga diikuti dengan meningkatnya kontribusi Telkom terhadap negara. Pertumbuhan kontribusi pada negara YoY 2015 untuk Total Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak/PNBP (BHP Frekuensi, BHP Jastel, Konstribusi USO dan Dividen) sebesar 13,3%. Kontribusi Telkom kepada negara ini selama 10 tahun terakhir secara total mengalami peningkatan dari Rp 13,8 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 32,0 triliun pada 2015 dengan CAGR sebesar 9,8%.

    Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Telkom, Alex J. Sinaga mengatakan bahwa kinerja Telkom yang baik di tahun 2015 ditandai tak hanya dengan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 102,47 triliun atau tumbuh 14,2%, tetapi juga kian melonjaknya kontribusi anak perusahaan di luar Telkomsel.

    “Berkat kinerja yang sangat baik, pada tahun buku 2015 ini Telkom dapat membagikan dividen senilai Rp 9,29 triliun,” ungkapnya.

    Dividen per lembar saham tersebut berdasarkan jumlah saham yang dikeluarkan, yaitu sebabnyak 98,18 miliar lembar sahan dan dibayarkan secara sekaligus pada tanggal 26 Mei 2016 kepada para pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan per tanggal 4 Mei 2016 sampai dengan pukul 16.00 WIB.

    Pencapaian kinerja Perseroan yang baik ini ditopang dari pertumbuhan Segmen Data, Internet & IT Services (tidak termasuk SMS) sebesar 37,5% yang menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan Telkom. Segmen ini memberikan kontribusi sekitar 32% terhadap total pendapatan Telkom, naik signifikan dari kontribusi tahun sebelumnya sebesar 26%.

    “Ini merupakan bukti bahwa Perseroan telah berada di jalur yang benar untuk menjadi digital company,” tambah Alex.

    Perseroan juga mampu mencatat pertumbuhan EBITDA yang cukup tinggi sebesar 12,6% menjadi Rp 51,42 triliun dengan marjin EBITDA yang masih superior sebesar 50,2%, meskipun terdapat tekanan biaya operasi seiring dengan pembangunan infrastruktur dan ekspansi bisnis baik di segmen seluler maupun jaringan tetap.

    Biaya operasi naik 15,8% menjadi Rp 70,01 triliun sepanjang tahun 2015, dengan Laba Bersih Perseroan yang meningkat 7,0% menjadi Rp 15,49 triliun.

    Dalam mendukung penguatan infrastruktur, Telkom secara konsisten mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) yang cukup tinggi. Hal ini untuk mengantisipasi kebutuhan layanan data, baik segmen mobile maupun fixed, yang bertumbuh dengan pesat. Sepanjang tahun 2015, Perseroan membelanjakan Rp 26,4 triliun atau sekitar 26% dari pendapatan untuk membangun infrastruktur dengan fokus mendukung layanan data.

    Meskipun Telkomsel merupakan entitas anak yang masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan, EBITDA dan laba bersih Perseroan, namun entitas anak perusahaan lainnya juga memperlihatkan kenaikan kontribusi yang semakin siginifikan. Tahun 2015 kontribusi pendapatan Telkomsel terhadap total pendapatan Perseroan masih dominan yakni sebesar 57%, sedangkan pendapatan anak perusahaan lainnya tahun ini memberikan kontribusi hingga 20% atau tumbuh 3%.

  • Telkom Akan Luncurkan Telkom-4 Satellite di 2018

    Telkom Akan Luncurkan Telkom-4 Satellite di 2018

    Telko.id – Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi milik negara ini mengumumkan akan meluncurkan sateliy Telkom-4 pada tahun 2018 melalui anak perusahaanya TelkomMetra. Satelit Telkom-4 ini rencananya akan menggantikan Telkom-1 yang dilengkapi dengan 49 transponder dan akan mampu memberikan layanan mobile boradband hingga 100 Gbps di seluruh Indonesia, India dan Asia Tenggara. Investasi sebesar USD $ 200 juta ini diharapkan memiliki rentang hidup 15 tahun.

    Telkom juga saat ini sedang mempersiapkan untuk meluncurkan Telkom-3S yang akan menggantikan Telkom-3 yang sempat gagal mencapai orbit pada Agustus 2012 lalu.

    Seperti yang dilansir dari detik.com, President Director TelkomMetra Teguh Wahyono menyatakan bahwa persiapan untuk peluncuran satelit ini tengah digodok agar nantinya bisa lepas landas dalam waktu dua tahun lagi dari sekarang. “Satelit Telkom-4 meluncur 2018. Tapi persiapannya dari sekarang karena untuk order satelit itu butuh waktu dua tahun,” ujar Teguh menjelaskan.

    Dijelaskan olehnya, strategi Telkom terus berinvestasi di teknologi satelit dikarenakan ada ribuan pulau di Indonesia yang terpisah oleh lautan dan belum bisa seluruhnya dijangkau oleh infrastruktur kabel maupun seluler. Apalagi dari catatan Telkom, ada sekitar 30 juta rumah tangga yang belum tersentuh internet di Indonesia dan hanya bisa dilayani melalui satelit karena posisi mereka ada di wilayah terpencil, remote area.

    Untuk saat ini, satelit Telkom yang ada baru mampu menyediakan akses internet maksimal 2 Mbps untuk download dan maksimal 0,5 Mbps untuk upload. Dengan perkembangan internet yang semakin kaya konten multimedia, tentu saja akses itu bisa dibilang lambat. Telkom pun menyadari sepenuhnya akan hal itu.

    “Kalau sekarang kan masih pakai transponder. Tapi nanti di Satelit Telkom-4 kan kita pakai teknologi broadband satellite. Jadi langsung sekian giga bandwidth-nya. Bisa sampai 100 Gbps,” jelas Teguh.

    Lembaga keuangan Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun sedang menunggu peluncuran BRISat yang rencananya akan dilakukan pada bulan Juni 2016 mendatang. Keputusan ini diambil pada tahun 2014 lalu yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan, menghemat pengeluaran telekomunikasi sebesar 50 persen dan memperluas kegiatan dan layanan di seluruh negeri. Investasi yang ditanamkan untuk BriSat ini sebesar USD $ 230 juta. Saat ini BRI menggunakan 20 22 transponder dari 7 atau 8 penyedia termasuk Telkom, Indosat, dan Citra Sari Makmur.

    Indonesia sendiri memang membutuhkan akses internet broadband yang mampu melayani seluruh pelosok. Berdasarkan data Asosiasi Satelit Indonesia, negara kita ini membutuhkan transponder satelit sekitar 250 unit. Namun, saat ini hanya ada 110 transponder untuk memenuhi permintaan di Indonesia, menyiratkan kekurangan. Untuk memenuhi remainding permintaan satelit regional digunakan. (Icha)

  • Telkom Catat Laba Bersih Rp.15,48 Triliun

    Telkom Catat Laba Bersih Rp.15,48 Triliun

    Telko.id – Kinerja operator telekomunikasi di Indonesia di 2015 baru saja diumumkan pada laporan tahunan. Yang paling gemilang adalah Telkom. Salah satu penyebabnya adalah diversifikasi produk yang dimiliki Telkom jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan emiten yang lainnya.

    Sepanjang tahun 2015, Telekomunikasi Indonesia atau Telkom berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp15,48 triliun, meningkat 6,97 persen dibandingkan dengan laba bersih perseroan di tahun 2014 sebesar Rp14,47 triliun.

    Seperti dikutip dari idx.co.id, peningkatan tersebut didorong oleh perolehan pendapatan perseroan pada tahun 2015 sebesar Rp102,47 triliun dari Rp89,69 triliun di tahun 2014. Itu Artinya, pada tahun 2015 pendapatan perseroan meningkat 14,24 persen.

    Pada tahun 2015, total beban yang harus ditanggung perseroan mencapai Rp70,05 triliun, meningkat dibandingkan beban di tahun 2014 yang sebesar Rp60,49 triliun. Sehingga, laba usaha Telkom pada tahun 2015 sebesar Rp32,41 triliun, naik 10,99 persen dibandingkan dengan laba usaha tahun sebelumnya Rp29,20 triliun.

    Sedangkan, total aset perseroan hingga akhir Desember 2015 berada di angka Rp166,17 triliun, naik 17,17 persen dibandingkan jumlah aset di tahun 2014 Rp141,82 triliun. Dengan liabilitas sebesar Rp72,74 triliun dan ekuitas sebesar Rp93,42 triliun. (Icha)

  • IndiHome Terapkan Fair Usage Policy Menuai Protes

    IndiHome Terapkan Fair Usage Policy Menuai Protes

    Telko.id – Beberapa waktu lalu, Telekomunikasi Indonesia atau Telkom menerapkan Fair Usage Policy. Penerapan kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi normal user dari pemanfaatan pemakaian berlebih oleh heavy user. Begitu pernyataan dari Arif Prabowo, VP Corporate Communication Telkom dalam pernyataan resminya.

    Ternyata, kebijakan baru tersebut menuai protes. Setidaknya ada 15.424 petisi yang tidak setuju dengan kebijakan baru tersebut yang tercantum dalam change.org dengan tajuk “Telkom yang semena-mena terhadap pelanggan, merubah kebijakan Promo dengan sebelah pihak”.

    Dalam keberatan yang ajukan, menyebutkan bahwa “Saya merasa kecewa dengan salah satu  perusahaan BUMN yaitu TELKOM yang mengelola Internet dan Telepon rumah sekaligus TV Kabel yang dalam paket Indihome nya.

    Dalam PROMO mereka mengakatan Unlimited tanpa FUP dalam paket tersebut. Dengan harga yang sudah di tentukan, Namun setelah berjalan dalam pemakaian, tiba-tiba pihak TELKOM merubah kebijakan yang semula UNLIMITED tanpa FUP menjadi UNLIMITED dengan ada FUP. Sebenar nya dengan FUP ini sangat membantu sekali dalam menjaga kualitas jaringan. Namun seharusnya tidak dengan melakukan nya sebelah pihak saja, karena bila ada nya perubahan kebijakan yang seharusnya tidak ada dalam promo yang seolah-olah menipu dengan kertas promo ini”.

    Kebijakan FUP ini berdasarkan pernyataan resmi dari Telkom hanya diberlakukan untuk layanan internet pada IndiHome dan tidak berpengaruh pada layanan Video (UseeTV) dan Telepon. “Kami berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi konsumen. Penerapan FUP juga dilakukan di negara lain seperti Amerika, Jepang dan Malaysia serta operator lain di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memperlakukan konsumen secara adil sesuai kebutuhannya”, demikian imbuh Arif.

    Menurut Arif, perlunya diterapkan FUP, karena berdasarkan pengamatan selama ini terdapat heavy user pada pelanggan IndiHome yang memanfaatkan internetnya untuk mengunduh film / games secara terus menerus atau bahkan meretailkannya sehingga pemakaian mereka menjadi tidak wajar.

    “Hal ini dapat mengganggu kualitas layanan dan kenyamanan bagi pengguna lain yang membayar dengan tarif yang sama. Untuk itulah perlunya ada FUP agar terdapat keadilan bagi konsumen yang memanfaatkan internet secara wajar,” jelasnya.

    FUP yang disediakan Telkom melalui IndiHome memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan operator lain. Untuk layanan dengan kecepatan 10 Mbps maka fair usage yang diberikan hingga 300 GB atau setara dengan menikmati video dengan kualitas standar selama 1800 jam atau sekitar 1200 video. Inipun bila melewati batas 300 GB pelanggan akan tetap dapat menggunakan layanan internet hanya saja dengan kecepatan 75% (7,5 Mbps), dan bila diatas 400 GB kecepatan akan dikurangi lagi menjadi 40%-nya saja. Volume ini sangat leluasa bagi pelanggan normal atau pemakaian rumah tangga.

    “Hampir 99% pelanggan IndiHome tidak akan terpengaruh dari penerapan FUP ini karena berdasarkan data, rata-rata konsumsi bandwidth pelanggan tersebut di bawah 300 GB. Telkom senantiasa memberikan yang terbaik bagi pelanggan dengan selalu berupaya menjaga kualitas layanannya”, demikian pungkas Arif. (Icha)

  • Masuk Indonesia, Netflix Harus Buat Bentuk Usaha Tetap

    Masuk Indonesia, Netflix Harus Buat Bentuk Usaha Tetap

     

    Telko.id – Telkom melakukan pemblokiran situs video streaming Netflix. Menurut Telkom, Netflix tidak memenuhi regulasi yang ada di Indonesia karena tidak memiliki iin atau tidak sesuai aturan di Indonesia. Selain itu, banyak memuat konten yang tidak diperbolehkan di Indonesia. Terutama yang bersifat kekerasan dan pornografi.

    “Pemblokiran ini untuk melindungi pelanggan dari content-content yang tidak pantas,” ujar Arif Prabowo Vice President Corporate Communication Telkom.

    Aturan yang dimaksud antara lain Undang-Undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman khususnya Pasal 57,, disebutkan bahwa “Setiap film dan iklan film yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan wajib memperoleh surat tanda lulus sensor”.

    Di samping itu langkah yang dilakukan Telkom ini mengacu kepada Undang-UndangNo. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi Pasal 21, yang menyatakan bahwa Penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan atau ketertiban umum.

    Langkah ini juga merupakan dukungan Telkom selaku BUMN kepada Pemerintah selaku regulator agar Netflix segera melakukan pembicaraan dengan Regulator ataupun operator untuk memberikan kepastian layanannya kepada masyarakat Indonesia

    “Langkah yang kami ambil dilatarbelakangi untuk melakukan perlindungan dan kepastian layanan kepada masyarakat Indonesia, sekaligus menegakan kedaulatan Indonesia dari pemain asing,” tegas Arif Prabowo.

    Dengan ramainya perbincangan tentang Netflix ini, Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika berkicau di Twitter. Dalam kicauannya, Chief RA, begitu sering dipanggil, kasus Netflix ini membuka diskusi tentang bisnis Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) asing yang buka layanan di Indonesia dan perusahaan ini memenuhi katagori sebagai PSE yang artinya harus mengikuti kebijakan yang ada di Indonesia.

    Salah satu kebijakan yang paling pokok diikuti oleh PSE adalah keharusan membuat Bentuk Usaha Tetap atau BUT. Dengan BUT maka perusahaan tersebut akan memenuhi unsur legalitas, hak atau kewajiban secara hukum, regulasi fiscal, kepastian perlindungan konsumen dan lainnya.

    Selain pendekatan bisnis dan legal, kehadiran PSE juga harus dilihat dari aspek kontennya. Di mana, dinamika perkembangan teknologi yang sangat kencang menjadi tantangan utama terhadap kebijakan manajemen konten. Check and Balance pun harus diterapkan bergantung pada karakteristik.

    Rudiantara pun menyebutkan dalam twit nya bahwa untuk konten yang bersifat siaran atau hiburan, misalnya, ada pedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari KPI. Untuk yang berkaitan dengan pornografi sudah ada UU Pornografi dan UU Perlindungan Anak. Untuk radikalisme, bisa digunakan UU Terorisme. Sedangakn untuk film, ada LSF. Hanya saja, seperti dalam kasus Netflix, mekanisme sensor ini belum bisa mewadahi kecepatan perkembangan teknologi.

    Menkominfo pun sudah berkoordinasi dengan Mendikbud, Anies Baswedan dan sepakat untuk memberdayakan lembaga yang ada di Kemdikbud dalam membuat koridor sensor yang mekanismennya sesuai perkembangan teknologi. Jika pun nanti muncul Netflix-Netflix lain yang akan memasuki pasar Indonesia, harus disikapi secara seragam dengan regulasi yang memberi Level Playing Field. (Icha)

  • Telkom Dukung Komunitas Startup Lokal Gelar Kopi Darat

    Telkom Dukung Komunitas Startup Lokal Gelar Kopi Darat

    Jakarta – Startup Lokal, sebuah komunitas dari para startup di seluruh Indonesia yang juga sekaligus menjadi komunitas startup terbesar kembali mengadakan kegiatan rutin bulanan mereka, yakni “kopi darat”.

    Kegiatan ini sejatinya diinisiasikan sejak tahun 2010 silam dengan tujuan untuk saling bersilaturahmi dan juga membuka kesempatan untuk bertemu dengan para investor. Pasalnya, dalam kegiatan ini para stakeholder seperti investor juga akan hadir. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang startup kepada masyarakat luas.

    Ollie, selaku pendiri dari komunitas Starup Lokal mengatakan, “Startup Lokal adalah organisasi non profit yang terdiri dari kumpulan startup lokal dan mulai berdiri sejak tahun 2010. Kami mengadakan pertemuan setiap sebulan sekali,” tuturnya.

    Sampai saat ini, jumlah Startup yang tergabung ke dalam Startup Lokal sudah sebanyak 1500 startup di seluruh Indonesia. Sementara itu, untuk pertemuan di bulan ini mengangkat tema “Startup Heroes” sesuai dengan peringatan Hari Pahlawan yang jatuh di hari yang sama dengan diadakannya kegiatan yang berisi seminar dan networking ini.

    Pihak penyelenggara menargetkan sebanyak 200 orang hadir pada acara tersebut, yang berasal dari kalangan startup, mahasiswa, korporat serta investor. Ollie juga mengaku diadakan kegiatan tersebut tepat sebelum penyelenggaraan TechinAsia berlangsung agar para startup dari luar bisa sekaligus bergabung dengan mereka.

    Sejauh ini para startup yang tergabung dalam Startup Lokal berasal dari berbagai golongan seperti ecommerce, Games, Education dan Healthy.

    Disinggung mengenai apa itu startup, Ollie menyebutkan, startup adalah sebuah perusahaan dengan teknologi sebagai platform mereka yang kurang dari 1 tahun memulai bisnis dan memiliki staf kurang dari 20 orang.

    Mengenai kerjasama mereka dengan pihak Telkom Group, Ollie menyebutkan mereka memulai kerjasama dengan pihak Telkom baru pada tahun 2015 ini.

    Dukungan dari Telkom Group sendiri berupa tempat kumpul komunitas, dan juga makanan bagi para peserta. Telkom Group sendiri merasa perlu menggandeng para startup karena sejalan dengan tujuan mereka untuk menjadi raja digital di Indonesia pada tahun 2020 mendatang.

    Telkom punya komitmen terhadap dunia startup, maka dari itu kami  bekerjasama dengan para startup dan harus mengajak banyak komunitas serta memfasilitasi tempat untuk berkumpul komunitas, akselerasi, dan f&b,” ungkap Afianto Mukti Haribowo, General Manager Marketing Customer and Engagement Telkom, (10/11).

    Melalui kegiatan ini, Telkom ingin mengembangkan iklim startup di Indonesia, yang tujuannya adalah mengembangkan industri startup tanah air. Selain tentu saja membantu masyarakat untuk mendapatkan banyak kemudahan.

    “Kita menginginkan ke depannya, para startup akan menjadi  seperti Google dan Facebook,” tambahnya,

    Bagi para startup yang ingin bergabung dengan milis Startup Lokal, bisa langsung mengakses email mereka di email: startup@yahoogroup.com [AK/IF]

     

  • Dukung Penuh Hackathon Merdeka 2.0, Telkom Korbankan Indigo?

    Dukung Penuh Hackathon Merdeka 2.0, Telkom Korbankan Indigo?

    Jakarta – Telkom Indonesia mendukung penuh program Hackathon Merdeka 2.0 yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Dalam ajang ini, pihak penyelenggara mengumpulkan startup dari 27 kota di Indonesia dan satu kota dari Sydney, Australia.

    Total ada 620 kelompok yang mengikuti program ini, dan kesemua peserta yang mendaftar pada ajang ini masuk ke dalam golongan startup. PT. Telkom Indonesia sendiri, yang mendukung penuh kegiatan ini sejatinya telah memiliki wadah bagi para startup, yakni Indigo Incubator yang berpusat di Bandung Digital Valley (BDV).

    Hal ini tampak seperti “tumpang tindih” mengingat Telkom juga memiliki wadah pencarian startup. Namun, Indra Utoyo selaku Direktur Innovation and srategic Portofolio Telkom langsung membntah hal tersebut. Ditemui saat pre event Hackhathon Merdeka 2.0 yang berlangsung di Jakarta kemarin (19/10), Indra mengungkapkan, “kegiatan ini tidak saling tumpang tindih dan justru bisa saling bersinergi antara satu dengan lainnya.”

    Ia juga menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap startup yang menjuarai kegiatan Hackaton ini bisa langsung mendaftar di ajang indigo incubator.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Cynthia Dewiranti, selaku PR dari Indigo yang menyebutkan ajang Hackathon tidak akan saling tumpang tindih dengan Indigo karena kegiatan ini hanya memecahkan permasalahan kependudukan dan bersifat kejuaraan sehingga terdapat perbedaan antara Hackathon dengan Indigo.

    “Pemenang Hackathon 1.0 adalah pasar laut yang juga startup Indigo, jadi tidak akan saling tumpang tindih,” tutur Cynthia.

    Dukungan penuh Telkom Indonesia pada ajang Hackathon kali ini meliputi dukungan lokasi pelaksanaan yang akan dilakukan di Telkom Digital Valley (DiVa), Digital Lounge (DiLo) serta kantor Telkom di seluruh Indonesia, Selain itu, dukungan lain berupa koneksi internet yang super cepat dan stabil juga memenuhi kebutuhan hosting serta streaming bagi para startup untuk menciptakan aplikasi kependudukan mereka.

    Telkom juga akan memberikan dukungan berupa logistik selama acara ini berlangsung. Sebagai informasi, kegiatan ini berlangsung selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu, 24-25 Oktober 2015 mendatang.

    Hackathon sendiri merupakan kompetisi pembuat konten aplikasi yang memanfaatkan teknologi informasi guna memecahkan permasalahan nasional. Untuk tema kali ini, pihak penyelenggara menghadirkan tema Citizen Centric atau masalah data keendudukan. Selama dua hari, startup-startup ini diwajibkan untuk membuat konten guna mengatasi permasalahan kependudukan.

    Ajang ini sendiri dibuat terbuka untuk umum, sehingga memungkinkan siapapun untuk melakukan registrasi, baik individu ataupun tim dengan jumlah anggota  2 – 3 orang untuk menjadi peserta. [AK/IF]

  • Serempak, 28 Kota Gelar Hackaton Merdeka Jilid 2

    Serempak, 28 Kota Gelar Hackaton Merdeka Jilid 2

    Jakarta – Sukses dengan kegiatan Hackathon Merdeka tahun lalu, forum IT Code4nation didukung PT Telkom Indonesia kembali melangsungkan Hackaton jilid 2.

    Kegiatan bertajuk Hackaton Merdeka 2.0 ini akan digelar serentak di 28 kota di Indonesia selama dua hari, yakni pada tanggal 24-25 Otober 2015. Acara pembukaannya sendiri akan dilangsungkan di Bandung Digital Valley (BDV). Sebelumnya, Hackathon 1.0 digelar pada buan Agustus silam dan mendapatkan apresiasi yang besar dari Presiden Joko Widodo.

    Hackathon Merdeka sendiri merupakan inisiasi dari Code4Nation yang juga sebagai ajang kompetisi pembuatan konten aplikasi yang memanfaatkan teknologi informasi guna memecahkan permasalahan nasional yang dihadapi, seperti penyebab kenaikan harga bahan pokok dan mencari sumber permasalahan serta solusinya.

    Direktur Innovation and Strategic portofolio Telkom, Indra Utoyo mengungkapkan, “Telkom memandang Hackathon Merdeka sebagai gerakan horizontal yang menumbuhkn digitalpreneur di Indonesia dan memiliki dampak yang maksimal dalam menggalang komunitas IT di Indonesia.”

    Utoyo juga menambahkan, peran aktif Telkom Indonesia dalam Hackathon Merdeka kali ini menunjukan komitmen Telkom sebagai katalis tumbuhnya industri kreatif digital di Indonesia.

    Hackathon Merdeka 2.0 rencananya akan berlangsung serentak di 28 kota di Indonesia seperti, Banda Aceh, Toba, Medan, Pekanbaru, Palembang, belitung, Tangerang, Depok, Bogor, Bandung, Cirebon, Garut, Banyumas, Wonosobo, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Pontianak, Balikpapan, Makassar, Mamuju, Manado, denpasar, Sumbawa, Ambon, Jayapura serta Sidney. Dipilinya Sidney sebagai salah satu kota penyelenggara dikarenakan sebagai diaspora sekaligus sebagai eksplorasi untuk Hackathon 3.0.

    Kali ini, Hackathon Merdeka 2.0 akan mengusung Tema Masalah Data Kependudukan atau Civil Empowerment. Mengenai tema ini, pihak Hackathon menyebutkan kependudukan adalah pondasi data yang haus dimiliki oleh pemerintah untuk menjadi basis peetapan kebijakan dan layanan kepada masyarakat. [AK/IF]