Kategori: Operator

  • China Mobile Targetkan 500 Juta Pelanggan 4G di 2016

    China Mobile Targetkan 500 Juta Pelanggan 4G di 2016

    Telko.id – Penghujung tahun belum juga usai, namun China Telecom sudah lebih dulu memasang ancang-ancang untuk menyongsong 2016. Salah satunya adalah terkait jumlah pelanggan 4G, dimana perusahaan telekomunikasi terbesar di China ini telah menetapkan target untuk mencapai 500 juta pelanggan 4G pada akhir 2016 mendatang,

    Target ini, seperti disampaikan pimpinan perusahaan belum lama ini, akan dicapai lewat beberapa cara, diantaranya dengan menyebarkan lebih dari 400.000 situs sel 4G dan meningkatkan jangkauan menjadi 1,4 juta.

    Dilansir dari Total telecom, Jumat (18/12), basis pelanggan 4G China Mobile menyalip basis pelanggan 3G pada bulan Agustus, dan pada akhir Oktober operator memiliki 267.3 juta pengguna 4G dan 187.1 juta pengguna 3G. Ini adalah jumlah yang mengesankan, meskipun tak sampai mencapai sepertiga dari keseluruhan basis pelanggan telekomunikasi di negara tersebut. Yang artinya, masih banyak ruang untuk pertumbuhan.

    Bing, mantan wakil menteri di Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), ditunjuk sebagai pimpinan baru China Mobile pada bulan Agustus lalu. Dalam sebuah pernyataannya, ia bertekad untuk memperluas jangkauan China Mobile.

    “Meskipun kami telah membangun jaringan 4G terbesar di dunia, kami perlu memperluas ke lebih banyak konsumen dan menempatkan lebih banyak teknologi mutakhir ke dalam aplikasi komersial,” katanya.

    Itu sebabnya, China Mobile berencana untuk menyebarkan VoLTE tahun depan, dan bertujuan untuk menggelar layanan di 260 kota pada pertengahan 2016. Tak hanya itu, pesaing China Unicom ini juga tampaknya bersemangat untuk mengincar layanan over-the-top (OTT).

    “Kami akan melakukan lebih banyak akuisisi dan investasi untuk memperluas kehadiran kami di rantai industri Internet dan untuk meningkatkan inovasi,” pungkas Bing.

  • Menyusul China Telecom, Giliran 3 Luncurkan 4G LTE di Macau

    Menyusul China Telecom, Giliran 3 Luncurkan 4G LTE di Macau

    Telko.id – Setelah hina telecom, yang beberapa waktu lalu resmi membawa masuk layanan 4G LTE ke Macau, Kini giliran operator Tri yang melakukan langkah serupa. Perusahaan telekomunikasi yang berkantor pusat di Hong Kong ini mengumumkan peluncuran komersial layanan LTE-nya di Macau, setelah sembilan bulan lalu memenangkan lisensi.

    Dilansir dari Total telecom, Kamis (17/12), Hutchison’s 3 telah meluncurkan jaringan 4G yang meliputi 90% dari daerah luar di Macau dan dapat memberikan kecepatan data hingga 112 Mbps.

    “Setelah usaha yang tak kenal lelah selama berbulan-bulan untuk menggelar jaringan 4G LTE, kami sangat senang bisa mengumumkan peluncuran komersial layanan 4G LTE kami,” kata Ho Wai-ming, CEO 3 Macau, dalam sebuah pernyataan.

    3 adalah salah satu dari empat operator seluler yang memenangkan lisensi 4G di Macau pada bulan Maret lalu. Setelah memungkinkan kemungkinan pendatang baru ke pasar, regulator setempat (dikenal dengan sebutan DSRT), mengalokasikan lisensi untuk operator yang ada di Macau, berdasarkan kriteria tertentu, termasuk potensi manfaat ekonomi ke wilayah tersebut dan untuk pasar telekomunikasi tersebut.

    Dengan demikian, 3, SmarTone, China Telecom dan operator incumbent Companhia de Telecomunicacoes de Macau (CTM) memegang lisensi, meninggalkan calon pendatang baru China Mobile dan U Hong Comunicacoes.

    Para pemegang lisensi baru diharuskan untuk meluncurkan layanan sebelum akhir 2015. Dan itu dilakukan China Telecom, yang bulan lalu meluncurkan layanan 4G di Macau.

    3 rencananya akan memasang tarif 98 pataca aatau sekitar Rp 117 ribu per bulan untuk data 1 GB dan meningkatkan secara bertahap berdasarkan paket data dan airtime. Tak hanya itu, perusahaan telekomunikasi ini juga menawarkan bundel data yang tak terbatas – meskipun kecepatan melambat ketika penggunaan melebihi 10 GB – seharga MOP598 (€ 68,1) per bulan.

  • Infrastructure Sharing Jadi Trend Dunia, Bagaimana di Indonesia?

    Infrastructure Sharing Jadi Trend Dunia, Bagaimana di Indonesia?

    Telko.id – Bukan hanya di Indonesia, operator mengeluhkan tentang investasi jaringan yang sangat padat modal. Di dunia pun terjadi hal yang sama. Itu sebabnya, berbagai model pembiayaan bermunculan. Yang saat ini dianggap cukup jitu dalam efisiensi pembiayaan adalah melakukan infrastructure sharing atau berbagi infrastruktur. Bisa jadi, dengan pola seperti ini maka akan lebih efisien ketimbang harus melakukan merger ataupun akuisisi. Dimana yang dominan adalah yang memiliki uang.

    Sebenarnya berbagi infrastruktur sudah dilakukan juga oleh operator Indonesia. Tetapi baru sampai tahap berbagi tower saja karena dipicu oleh biaya sewa lahan yang kian waktu terus meningkat. Nah, yang dimaksud dengan berbagi infratuktur di sini lebih dari itu. Misalnya, jika saja satu BTS itu memakan biaya Rp.1 miliar, maka komponen yang ada di dalam BTS itu dapat dibagi dengan operator yang ikut. Jadi, otomatis biaya pembangunan BTS menjadi lebih ringan untuk para operator.

    Memang, kondisi tersebut tidak akan membuat nyaman bagi para operator yang ‘berkantong tebal’. Tapi bagi yang memiliki dana yang pas-pasan, tentu hal ini menjadi penting untuk kesinambungan usahanya.

    Telecommunications Mobile Network Wireless Market Research mempelajari infrastructure sharing yang terjadi di Amerika Latin. Hasilnya? Ada beberapa faktor kunci dalam langkah besar di Amerika Latin ini, yakni:

    1. Dalam pembiayaan, memang tidak dapat sama rata, tergantung dari faktor landscape, penyebaran dalam pembangunan jaringan, namun secara garis besar, dengan adanya mobile infrastructure sharing akan menyebabkan pengurangan biaya operasional hingga 20-30%. Kemudian juga akan ada efisiensi belanja modal atau CAPEX. Setidaknya akan ada penghematan sebanyak 40%.
    2. Sebagai contoh di Amerika Latin, di mana sebagian besar operator sudah melakukan infrastructure sharing secara sukarela, dan mereka sebagian besar telah dipimpin oleh pemain runner-up. Operator yang “berkuasa” lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di pinggiran.
    3. Di Kolombia, Movistar sebagai pemain kedua dan urutan ketiga Tigo terlibat dalam sharing RAN untuk penyebaran jaringan LTE mereka sehingga lebih lengkap ketimbang Carlo sebagai si pemimpin pasar.
    4. Pada beberapa kasus, pihak berwenang meneliti penawaran infrastucture sharing yang ada. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi ancaman anti persaingan. Di Amerika Latin, infrastructure sharing yang dilakukan adalah berbagi site. Ada juga yang berbagi tower untuk mengatasi masalah lingkungan dan keamanan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, kerjasama untuk memenuhi kebutuhan akan telekomunikasi dasar maupun data menjadi lebih ringan.
    5. Dalam infrastructure sharing ini, kompleksitas persoalan yang timbul rendah dan ditambah lagi dengan exposure pembiayaan yang berkurang membuat langkah ini menjadi disukai oleh operator seluler regional. Tingkat investasi yang tinggi untuk melakukan penyebaran LTE dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tambahan frekuensi juga menjadi pertimbangan.
    6. Lelang spektrum di Amerika Latin pun menjadi perangsang operator untuk melakukan infrastucture sharing. Di Brazil dan Kolombia, operator seluler berusaha untuk melakukan kesepakatan dalam infrastructure sharing agar dapat mengurangi biaya rolling jaringan LTE. Dengan demikian mereka dapat memenuhi persyaratan yang ada.
    7. Operator seluler di Amerika Latin kini sudah semakin menerima model outsourcing menara. Kenapa? Karena antara sang pemimpin di jaringan dengan operator lain menjadi semakin kecil perbedaan luas jaringannya. Kemudian juga investasi yang dibutuhkan untuk penyebaran jaringan LTE juga semakin ringan. Itu sebabnya, operator di Amerika Latin kini mempertimbangkan untuk melakukan tower offloading atau outsourcing untuk mencapai manfaat operasional langsung, dan bebas modal. Kemudian, sumber daya yang ada dapat dialokasikan untuk memperbaiki posisi utang atau investasi strategis lainnya.

    Lalu, bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, tidak semua operator memiliki ‘kantong tebal’ untuk memperluas jangkauan nya. Sedangkan yang membutuhkan koneksi data di Indonesia terus meningkat. Mungkin dengan infrasturcture sharing ini persoalan tersebut dapat dilakukan. Dengan demikian, secara nasional, investasi infrastruktur juga dapat efisien tetapi kebutuhan masyarakat terpenuhi. Yang pasti, untuk melakukan langkah tersebut perlu adanya aturan dari pemerintah agar nanti nya tidak blunder atau timbul persoalan lain. (Icha)

  • Telat Hadirkan 4G, Tri Janjikan Tidak Akan Perang Tarif

    Telat Hadirkan 4G, Tri Janjikan Tidak Akan Perang Tarif

    Telko.id – Satu-satunya operator seluler penggelar jaringan 4G yang belum meluncurkan secara resmi layanannya, Hutchison 3, menjanjikan tidak akan melakukan perang tarif antar sesama operator.

    Hal itu ditujukan guna memberikan kenyamanan bagi para pelanggan. Pasalnya, seperti diakui Tri, perang tarif dengan paket-paket internet malam dan semacamnya, ujung-ujungnya hanya akan merugikan dan menyulitkan pengguna dalam menikmati layanan 4G tersebut.

    Tri juga nantinya akan menghadirkan beberapa pilihan paket, namun Danny Buldansyah, Vice President Director Hutchison 3 Indonesia menyebut tidak akan mengarah kepada perang tarif internet.

    “Kita juga gak mau perang tarif dan perang harga, Karena nanti ujungnya konsumen juga yang dirugikan,” katanya.

    Danny menyebut nantinya paket data 4G akan berbeda dengan yang ada saat ini. Dimana mereka cenderung menyediakan jaringan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.

    “Jadi kita lihat orang sesuai kebutuhannya dengan apa. Kalau kita lihat streaming ya segitu-gitu aja asal tidak buffering dan pengguna tidak perlu tahu mengenai kecepatan internet saat itu,” tambahnya.

    Terkait kecepatan layanan, Danny menjelaskan, Tri yang memiliki  5 mhz, hanya akan mencapai 20 Mbps dengan pengguna yang masih kosong.

    Disinggung mengenai keterlambatan Tri dalam meluncurkan 4G – khususnya bila dibandingkan dengan empat operator penyelenggara 4G lainnya – Danny menyebut bahwa ini sejatinya sesuai dengan apa yang sudah dijadwalkan Tri sebelumnya, yang memang berencana mengkomersialisasikan 4G pada kuartal pertama tahun depan.

    “Sebetulnya dari awal rencana kita di Q1, terus setelah meeting gimana kalau kita majuin ke akhir tahun, namun ternyata setelah diskusi internal yang kami lakukan kami tetap luncurkan pada Q1,” ucap Danny lagi.

    Ketersediaan perangkat 4G dan masih sedikitnya pelanggan layanannya ini diakui Danny lagi sebagai alasan mengapa Tri tidak bisa dikatakan terlambat. Terlebih, saat ini Tri juga masih terus berkoordinasi untuk memelihara dan memperkuat jaringan 3G mereka. Seperti diketahui, jaringan 3G merupakan penyokong terbesar pendapatan perusahaan. [ak/if]

  • Netcom Cetak Rekor Baru untuk Kecepatan LTE, Berapa?

    Netcom Cetak Rekor Baru untuk Kecepatan LTE, Berapa?

    Telko.id – Kabar baik datang dari operator asal Norwegia, Netcom. Perusahaan yang tak lain merupakan anak perusahaan dari TeliaSonera itu mengatakan belum lama ini bahwa mereka telah berhasil membuat rekor baru pada jaringan mobile di Oslo. Perusahaan yang menggunakan teknologi LTE Advanced Pro yang dikembangkan bersama Huawei ini mengklaim telah mencapai kecepatan hingga 1 Gbps.

    Demonstrasi terbaru ini didasarkan pada BTS outdoor dan kondisi kehidupan nyata. Netcom menggabungkan empat band frekuensi – terdiri dari 800, 1800, 2100, 2600 MHz – untuk memberikan kecepatan tertinggi baru. Huawei mengatakan ujicoba ini merupakan persiapan menuju pengenalan komersial teknologi 4.5G tahun depan.

    “Ini merupakan langkah penting menuju 5G, yang akan hadir dalam beberapa tahun ke depan,” kata Jon Christian Hillestad, CTO TeliaSonera Norwegia seperti dilansir Telecoms, Rabu (16/12).

    “Kami tidak tahu persis kecepatan seperti apa yang akan dibutuhkan di masa mendatang, tetapi kami tahu bahwa era digitalisasi, dimana Internet of Things akan terus tumbuh, akan menuntut kecepatan yang jauh lebih tinggi. Masa depan akan membutuhkan bandwidth, kecepatan tinggi dan tidak adanya keterlambatan dalam transfer. Kami sedang mempersiapkan untuk menyambut kenyataan itu dengan LTE Advanced Pro,” katanya.

    CMO Huawei Wireless Product Line, Yang Chaobin mengatakan bahwa apa yang disaksikan saat ini hanyalah awal dari era komunikasi nirkabel 4.5G, di mana 1Gbps akan menjadi tingkat acuan jaringan broadband mobile baru.

    Sebagai informasi, saat ini jaringan 4G Netcom sudah mencakup 95 persen dari populasi di Norwegia dengan kecepatan hingga 80 Mbps. LTE + tersedia untuk sekitar seperlima dari populasi, memberikan kecepatan hingga 300 Mbps. Demikian dilaporkan Telecompaper.

  • 3 Baru Akan Komersialkan 4G di Q1 2016

    3 Baru Akan Komersialkan 4G di Q1 2016

    Telko.id – Peresmian 4G secara nasional baru saja dilakukan. Lima operator sudah siap dengan jaringan 4G nya masing-masing. Tinggal operator Tri saja yang masih belum melakukan penjualan komersial dari layanan 4G.

    “Kami baru akan komersial pada kuartal 1 2016 mendatang,” ujar M.Danny Buldansyah, Wakil Presiden Direktur Hutchison Tri Indonesia menjelaskan.

    kenapa kok terlambat? Menurut Danny, pelanggan data tidak terlalu ‘penting’ 3G atau 4G. Yang penting ketika melakukan akses data, stabil dan kebutuhan mereka terpenuhi. Di jaringan Tri sendiri pelanggan 3G masih mendominasi. Sekitar 65-70% adalah pelanggan data 3G. Untuk penetrasi device 4G di jaringan Tri masih sekitar 4% saja.

    Tri sendiri tidak akan langsung secara nasional untuk memberikan layanan 4G nantinya. Akan dipilih 5 kota yang mewakili setiap pulau untuk diberikan layanan 4G ini. Yakni di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Akan dilihat juga kota-kota mana yang trafik datanya tinggi. Kenapa? Karena yang akan cepat berganti ke 4G adalah pelanggan yang menggunakan akses data tinggi. Sehingga itulah yang akan menjadi taget Tri.

    Selain itu, Tri lebih fokus menjadi mobile broadband operator sehingga penambahan pelanggan bukan didasari oleh teknologi. Lebih pada berjualan akses data yang mumpuni.

    Saat ini, trafik data di jaringan Tri tercatat 1300 tera byte setiap hari nya. Atau sekitar sepertiga dari trafik data secara nasional. “Artinya, Tri sangat memaksimalkan fasilitas yang ada untuk memberikan pelayanan pada pelanggannya,” ujar Dannya menambahkan. (Icha)

  • Vodafone Gelar FTTH 1 Gbps di Irlandia dan Portugal

    Vodafone Gelar FTTH 1 Gbps di Irlandia dan Portugal

    Telko.id – Vodafone Group telah mulai menggelar program fiber to the Home (FTTH) di Irlandia dan Portugal sebagai bagian dari program perluasan jaringan perusahaan yang menyentuh angka €600 juta.

    Irlandia akan menjadi negara pertama di Eropa yang akan menghadirkan solusi end to end fiber melalui infrastruktur listrik secara nasional. Sebagai bagian dari SIRO, yakni usaha patungan di Irlandia dengan ESB, Vodafone Irlandia telah mulai memperluas layanan 1 Gbps serat broadband ke 51 kota-kota kecil di Irlandia pada akhir 2018.

    Untuk memenuhi syarat dari skema ini, sebuah kota harus memiliki lebih dari 4000 rumah dan kota pertama yang akan diuntungkan adalah Carrigaline di Country Cork, dimana rumah dan bisnis-bisnis akan mendapatkan kecepatan broadband setara dengan negara industri maju di Asia.

    Menurut regulator Irlandia, Comreg, kurang dari 50% dari semua langganan fixed broadband di Irlandia memberikan kecepatan lebih dari 30 Mbps. Sementara SIRO menghasilkan 1 gigabit (1000 megabit) per second. Hal ini sejatinya akan merevolusi pengalaman online dari 500.000 rumah dan bisnis di kota-kota kecil di Irlandia, menurut klaim dari Vodafone.

    Dilansir dari Telecoms, Jumat (4/12), di Portugal Vodafone telah mengumumkan ekspansi sebesar €125 juta untuk jaringan FTTH-nya yang akan membawa kecepatan hingga 1 Gbps ke 2,75 juta rumah dan bisnis di seluruh negeri pada akhir 2016.

    Sampai saat ini, Vodafone telah terhubung dengan 2,2 juta rumah dan bisnis di Portugal. Vodafone juga membangun jaringan gigabit FTTH baru di Spanyol yang melayani lebih dari dua juta rumah pada perjanjian dengan Orange. Kemudian mereka juga tengah melakukan diskusi dengan perusahaan listrik Italia Enel untuk menciptakan sebuah perusahaan infrastruktur baru guna membangun jaringan FTTH nasional terbuka untuk semua operator di seluruh Italia.

    Markus Reinisch, Direktur Vodafone Group Public Policy menyebutkan, “Ekonomi sukses dimasa depan akan mencakup masyarakat gigabit dengan koneksi serat optik ultra cepat yang tersedia di mana-mana dan Vodafone akan memainkan perannya dalam mewujudkan tujuan itu,” ucapnya.

    Sementara itu, di Swiss Vodafone dan Swisscom telah sepakat untuk memperpanjang perjanjian strategis mereka selama empat tahun. Perjanjian tersebut menjadikan pelanggan Swisscom dapat manfaat dan koneksi kecepatan tinggi dimana ada jaringan 4G roaming Vodafone. Konsumen dan pelanggan Enterprise Vodafone akan dapat menjelajah ke jaringan Swisscom ketika mengunjungi Swiss. [ak/if]

  • Nasib 4G LTE Bergantung Pada Konten Video

    Nasib 4G LTE Bergantung Pada Konten Video

    Telko.id – Ericsson Mobility Report memberikan laporan mengenai berbagai temuan mereka di berbagai aspek seperti pelanggan smartphone, trafik mobile data, paket mobile broadband, penggunaan LTE dan lain lain.

    Dalam laporan tersebut terlihat juga peluang dari operator di Indonesia untuk meningkatkan pendapatan mereka setidaknya mulai periode tahun 2016 mendatang.

    Indonesia sendiri merupakan kontributor utama bagi pertumbuhan pelanggan seluler global. Tercatat Indonesia berada pada 10 besar negara dengan pertumbuhan internet terbesar pada kuartal ketiga di tahun ini.

    Masuknya jaringan 4G LTE di beberapa kota besar di Indonesia serta semakin baiknya kualitas internet di semua wilayah negeri ini, tentunya akan semakin menambah banyak volume data yang dihasilkan.

    Sementara dari segi device, Thomas Jul selaku Head of CU Ericsson Indonesia and Timor Leste mengungkapkan, “Pada tahun 2018 penetrasi pelanggan smartphone di Indonesia diperkirakan akan lebih tinggi daripada populasi penduduk perkotaan, dan untuk memastikan kelanjutan dari pertumbuhan tersebut perlu adanya sebuah aksesibilitas, keterjangkauan serta kesadaran akan layanan ini,” ucapnya.

    Jul menambahkan, salah satu pendorong untuk meningkatkan penggunaan mobile data adalah pertumbuhan konten video yang banyak dan inovatif pada perangkat seluler. Kedepannya, seiring dengan semakin baiknya kualitas internet, maka konsumsi video juga diharapkan meningkat dan video streaming yang menjadi aktor utamanya dengan kontribusi sebesar 70% dari semua trafik mobile data.

    Laporan Ericsson ini juga menyebutkan bahwa paket internet 1 hingga 2 GB menjadi primadona bagi pengguna seluler di Indonesia. Paket yang bersifat ‘service based’, ‘duration base’ serta pay per use’ juga cukup diminati di Indonesia.

    Operator seluler juga harus bisa merekomendasikan paket apa yang sesuai kebutuhan dan daya beli pelanggan, agar persepsi rendah terhadap operator tersebut bisa sirna. Pilihan paket yang sesuai dengan budget pelanggan juga akan membantu meningkatkan kepuasan mereka dan persepsinya tentang harga.

    Sebagai informasi, Operator Indonesia telah meluncurkan layanan 4G LTE secara komersial. Seharusnya pada tahun 2021 mendatang cakupan LTE telah mencapai 75% dari total populasi penduduk di Asia Tenggara dengan harapan sekiranya 40% pelanggan akan menjadi pengguna aktif dari layanan 4G LTE hingga akhir 2021.

  • AT&T Akan Naikan Tarif Data Unlimited

    AT&T Akan Naikan Tarif Data Unlimited

    Telko.id – Salah satu operator raksasa Dunia yakni AT&T dikabarkan akan menaikan tarif untuk paket internet 4G LTE unlimited bulanan mereka.

    Jumlah kenaikan tersebut sekitar $5 dari semula hanya $35 dan akan menjadi $40 untuk paket bulanan internet unlimited mereka.

    Dilansir dari bgr.com, kenaikan tarif tersebut akan mulai diberlakukan pada bulan Februari tahun depan dan pelanggan mereka diharapkan untuk bersiap menghadapi kenaikan tersebut.

    Namun, banyak diantara pelanggan AT&T tidak menginginkan adanya kenaikan tarif tersebut, pasalnya salah satu alasan mereka memilih AT&T adalah karena tarif internet 4G LTE unlimited mereka yang masih terjangkau.

    Sejatinya, beberapa pesaing AT&T juga melakukan hal yang sama. Sebagai contoh, T-Mobile yang juga ingin menaikan tarif internet unlimited mereka menjadi $45 perbulan, kemudian Verizon yang juga menaikkan tarif paket internet bulanan mereka menjadi $50 per bulan.

    Pihak AT&T telah mengkonfirmasi kebenaran dari berita tersebut, mereka mengatakan akan mulai memberlakukan tarif baru ini pada bulan Februari tahun 2016 mendatang.

    Sebagai informasi, hal ini menjadi yang pertama kalinya AT&T menaikkan tarif internet mereka dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Hal tersebut disinyalir karena mereka harus membayar data mobile yang tinggi serta biaya pelayanan serta perawatan infrastruktur 4G yang tidak kalah besar. (ak/Icha)

  • IM2 Siap Jualan Lagi di Jawa Barat di Januari 2016

    IM2 Siap Jualan Lagi di Jawa Barat di Januari 2016

     

    Telko.id – Indosat Ooredoo sudah ambil ancang-ancang untuk menghidupkan kembali IM2. Frekuensi di 2.3 Ghz yang dimilikinya akan dimanfaatkan untuk ikut ambil bagian dalam memberikan pelayanan 4G pada pelanggan Indosat secara terbatas.

    “IM2 siap akan mulai berjualan lagi di Januari 2016. Hanya beroperasi di Jawa Barat seperti ijin yang dimiliki IM2,” ujar Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat Ooredoo menjelaskan.

    Lisensi spectrum 2.3 GHz yang dimiliki oleh IM2 sebanyak 15 MHz. Dan layanan yang akan diberikan adalah layanan data. Seperti yang saat ini dilakukan oleh Bolt. Namun, paket-paket layanannya masih belum diungkapkan. Jadi tidak akan ada layanan SMS atau Telepon. Layanan dari IM2 ini dapat digunakan dengan modem.

    Jika pun Indosat mengadakan paket jualan untuk SMS dan voice, pasti akan dibundling dengan layanan Indosat lainnya. Misalnya, smartphone dengan SIM 1 untuk layanan data yang didukung oleh IM2 dan SIM 2 yang dapat digunakan untuk SMS dan voice akan disupport oleh IM3, Matrix atau Mentari.

    IM2 adalah sebuah perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Indosat Ooredoo, penyelenggara jasa telekomunikasi terkemuka di Indonesia, beroperasi secara penuh sejak tahun 2000 untuk membangun dan menerapkan jasa dan produk berbasis IP, internet dan multimedia di Indonesia.

    IM2 melayani empat segmen pelanggan: korporasi (besar, menengah, dan kecil), pemerintah, institusi, residensial dan perorangan. Layanan korporasi dan institusi meliputi jaringan Virtual Private Network (VPN), sambungan langsung ke backbone internet internasional, serta penyedia layanan multimedia. (Icha)