Telko.id – Pasar komputer dunia tengah menghadapi tekanan berat. Pengiriman PC global tercatat turun 22,4 persen pada kuartal III 2026, menurut laporan awal Gartner yang dirilis 12 Oktober 2026.
Sepanjang Juli hingga September 2026, total pengiriman hanya mencapai sekitar 55,4 juta unit, jauh di bawah periode yang sama tahun lalu yang masih berada di kisaran 71,3 juta unit.
Penurunan ini menandai babak baru bagi industri PC. Jika sebelumnya pasar bergulat dengan masalah kelebihan stok, kali ini tekanan datang dari sisi biaya. Kenaikan harga komponen, terutama memori dan penyimpanan, memaksa produsen menyesuaikan harga jual perangkat mereka.
Gartner mencatat volume pengiriman PC saat ini kembali menyentuh level yang terakhir terlihat pada awal 2023. Hanya saja, pemicunya berbeda.
Penurunan kali ini lebih banyak dipengaruhi lonjakan harga dan terbatasnya pasokan komponen tertentu, bukan sekadar persoalan permintaan yang melemah.
Biaya DRAM Meledak, Laptop Murah Makin Sulit Ditemukan
Akar persoalan terletak pada komponen inti PC. Menurut Gartner, biaya memori DRAM dan penyimpanan meningkat tajam sehingga produsen harus menaikkan harga jual perangkat. Bahkan, biaya DRAM disebut melonjak hingga lima kali lipat secara tahunan pada kuartal II 2026.
Kondisi ini membuat produsen PC semakin sulit menawarkan laptop dengan harga terjangkau. Padahal, segmen entry-level selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan di banyak pasar, termasuk Indonesia.
Tekanan biaya yang berkepanjangan bahkan dikhawatirkan mengancam keberadaan segmen tersebut, seperti dibahas dalam artikel Segmen PC Gaming.
Dampaknya langsung terasa di sisi konsumen. Pengguna yang sebelumnya berencana mengganti laptop memilih menunda pembelian. Perusahaan pun semakin selektif dalam mengalokasikan anggaran untuk perangkat komputer baru, menunggu situasi harga lebih stabil.
Baca Juga:
Tekanan pada sisi komponen penyimpanan sendiri bukan hal baru. Pasar SSD global telah menunjukkan konsolidasi yang ketat, dengan pemain besar menguasai pangsa signifikan. Dinamika ini turut memengaruhi ketersediaan dan harga komponen di tingkat produsen PC.
Lenovo Masih di Puncak, HP Terjun Paling Dalam
Di tengah pasar yang mengecil, peta persaingan produsen PC tetap menarik dicermati. Lenovo masih mempertahankan posisinya sebagai produsen PC terbesar dunia pada kuartal III 2026, dengan pengiriman sekitar 15 juta unit dan pangsa pasar 27,1 persen.
Posisi kedua ditempati HP dengan pengiriman sekitar 10,4 juta unit, disusul Dell sebanyak 7,6 juta unit. Apple mencatat pengiriman sekitar 5,8 juta unit dan menjadi salah satu produsen yang relatif lebih mampu menahan laju penurunan.
Ironisnya, HP justru mencatat penurunan paling tajam di antara enam produsen PC terbesar, yakni 30,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, pengiriman PC Apple hanya turun 7,1 persen, yang merupakan angka terkecil di antara enam pemain teratas.
Tekanan pasar semacam ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, gelombang pelemahan permintaan juga memaksa sejumlah vendor melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk langkah pemutusan hubungan kerja yang sempat diumumkan salah satu produsen besar dalam artikel Dell PHK.
Meski demikian, pasar PC pernah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada awal 2025, pengiriman PC global sempat melonjak 4,9 persen di kuartal pertama, kendati kemudian dibayangi ancaman tarif yang berpotensi mengganggu pasokan, seperti diulas dalam laporan PC Global Melonjak. Fluktuasi ini menegaskan bahwa pasar PC sangat sensitif terhadap faktor biaya dan kebijakan perdagangan.
Akankah Harga Laptop di Indonesia Ikut Naik?
Penurunan pengiriman PC global menjadi sinyal yang perlu diperhatikan konsumen Indonesia. Banyak laptop yang dipasarkan di Tanah Air menggunakan komponen dari rantai pasok internasional, sehingga gejolak harga di tingkat global berpotensi merambat ke pasar lokal.
Jika harga RAM dan penyimpanan terus meningkat, biaya produksi laptop juga berpotensi naik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga jual perangkat di Indonesia. Namun, kenaikan harga laptop di pasar lokal tidak selalu identik dengan tren global.
Ada sejumlah faktor lain yang ikut menentukan, mulai dari nilai tukar rupiah, stok distributor, biaya impor, hingga strategi harga masing-masing merek. Karena itu, data Gartner belum dapat dijadikan bukti bahwa penjualan laptop Indonesia juga turun sebesar 22,4 persen.
Konsumen yang membutuhkan laptop untuk bekerja, sekolah, atau kuliah sebaiknya lebih teliti sebelum membeli. Tidak semua pengguna membutuhkan perangkat dengan spesifikasi tinggi. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti mengetik, belajar online, browsing, dan rapat video, laptop kelas menengah dengan spesifikasi yang sesuai masih bisa menjadi pilihan rasional.
Membandingkan harga di beberapa toko, memperhatikan garansi resmi, serta mempertimbangkan kapasitas RAM dan penyimpanan untuk penggunaan jangka panjang menjadi langkah bijak. Bagi sebagian pengguna, memahami ekosistem perangkat juga penting, misalnya dengan mencermati pembaruan sistem operasi seperti yang dibahas pada ulasan ColorOS 13 untuk perangkat mobile.
Penurunan pengiriman PC global sebesar 22,4 persen menjadi pengingat bahwa perkembangan industri komputer tidak hanya ditentukan oleh teknologi baru, tetapi juga kemampuan konsumen untuk membeli perangkat tersebut. Selama biaya komponen bertahan tinggi, produsen dan pembeli sama-sama akan berada dalam posisi menunggu.


