Telko.id – Laporan terbaru OpenSignal mengungkap peta persaingan layanan broadband tetap di Indonesia.
Meski Telkomsel melalui IndiHome masih mendominasi, sejumlah operator mulai menunjukkan taringnya dengan menawarkan layanan berbasis serat optik dan teknologi baru.
Laporan yang menganalisis data pengguna selama 90 hari sejak 1 Januari 2026 ini membandingkan delapan penyedia layanan internet (ISP) fixed-line utama.
Mereka adalah Biznet Home, CBN, Icon Plus, IndiHome, Indosat HiFi, MyRepublic, Oxygen.id, dan XL Home. Analisis mencakup lima indikator utama: Konsistensi Kualitas, kecepatan Unduh, kecepatan Unggah, Pengalaman Video, dan Pengalaman Keandalan.
“Pasar broadband tetap di Indonesia masih sangat terkonsentrasi, dengan Telkomsel sebagai operator incumbent yang menguasai sebagian besar koneksi broadband tetap,” tulis OpenSignal dalam laporannya.

Melalui merek IndiHome dan Orbit, Telkomsel mempertahankan jangkauan wilayah dan cakupan populasi terluas.
Namun, penyedia layanan yang lebih kecil terus berkembang. Penetrasi broadband di Indonesia perlahan meningkat, mencapai hampir 25% per Desember 2025.
Artinya, masih ada ruang signifikan untuk ekspansi. Pasar juga bergeser cepat ke arah serat optik, yang kini mencakup lebih dari 90% koneksi broadband tetap. Sementara itu, xDSL dan kabel terus kehilangan pangsa pasar.
Keterjangkauan dan aksesibilitas masih menjadi hambatan utama. Hal ini mendorong inisiatif dari sektor publik dan swasta untuk memperluas jangkauan.
Salah satu contohnya adalah Internet untuk Rakyat, yang menyediakan layanan 100 Mbps dengan biaya terjangkau.
Surge dan MyRepublic, yang berhasil memperoleh lisensi regional di frekuensi 1,4 GHz, kini bersiap meluncurkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA).
Surge telah meluncurkan layanannya dengan kecepatan hingga 100 Mbps seharga Rp100.000 per bulan, termasuk kuota data tak terbatas dan modem gratis.
MyRepublic juga meluncurkan layanan 5G FWA-nya dengan merek MyRepublic Air, dimulai dari Jakarta dan menargetkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.
Seiring rencana peluncuran 5G FWA dan merger dengan Moratelindo yang memiliki merek Oxygen.id, MyRepublic berupaya mempercepat ekspansi nasional.
Sementara itu, Telkomsel berencana mengkonsolidasikan aset serat optik milik BUMN, termasuk Icon Plus, untuk memperkuat InfraNexia sebagai pusat bisnis infrastruktur serat optik.
Baca Juga:
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan masih menjadi kendala penyebaran jaringan broadband kabel tetap, terutama di pedesaan.
Hal ini membuka peluang bagi teknologi alternatif. Penyedia layanan satelit seperti Starlink semakin populer, menarik pengguna di daerah pedesaan dan perkotaan.
Lintasarta, anak perusahaan Indosat Ooredoo Hutchison, melaporkan pertumbuhan lebih dari lima kali lipat dalam implementasi Starlink pada 2025.
OpenSignal mengukur pengalaman nyata pengguna broadband kabel, terlepas dari paket yang dibeli. Karakteristik paket seperti tingkatan kecepatan atau batas data sangat bervariasi antar penyedia. Pengukuran ini menangkap pengalaman dunia nyata, termasuk pengaruh router yang digunakan.
Laporan ini memberikan gambaran jelas tentang peta persaingan broadband di Indonesia. Dengan penetrasi yang masih rendah dan pergeseran ke serat optik, persaingan diprediksi akan semakin ketat. Kehadiran Starlink Diserbu pengguna menambah dinamika baru di pasar.
Sementara itu, inisiatif pemerintah seperti Peta Jalan IPv6 diharapkan dapat mendukung perkembangan infrastruktur digital nasional. Di sisi lain, pertumbuhan pasar IoT yang mencapai Rp673 triliun juga menjadi pendorong investasi di sektor konektivitas.
Para pengamat menilai, keberhasilan operator kecil seperti Surge dan MyRepublic dalam mengadopsi teknologi 5G FWA bisa menjadi game changer. Mereka menawarkan alternatif yang lebih murah dan mudah diakses dibandingkan jaringan kabel tradisional. Hal ini penting untuk menjangkau wilayah yang selama ini sulit dilayani oleh operator besar.
Dengan segala dinamika ini, konsumen Indonesia diuntungkan dengan semakin banyaknya pilihan layanan broadband berkualitas. Persaingan harga dan inovasi layanan diprediksi akan terus berlanjut, seiring dengan upaya semua pihak untuk meningkatkan penetrasi internet di tanah air. (Icha)


