Telko.id – PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menegaskan transformasinya sebagai grup ritel teknologi dan gaya hidup. Sepanjang 2025, perseroan membukukan penjualan bersih Rp76,6 triliun dengan laba kotor Rp8,35 triliun dan margin laba kotor 10,9 persen.
Angka itu menempatkan Erajaya jauh dari citra lamanya sebagai distributor ponsel dan voucher. Pada kuartal I 2026, penjualan perseroan mencapai Rp22,4 triliun, tumbuh 41,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kini Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.400 gerai ritel di Indonesia.
Ekspansi ini berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan yang konsisten dan diversifikasi bisnis ke sejumlah vertikal non-telekomunikasi. Perusahaan yang didirikan pada 1996 dan mulai beroperasi komersial pada 2000 itu kini menandai 30 tahun perjalanan bisnisnya.
Pencapaian lain datang dari daftar Fortune Southeast Asia 500 2026. Erajaya berada di peringkat 84, naik dari posisi 89 pada tahun sebelumnya, dan tercatat masuk tiga tahun berturut-turut.
Dari Ponsel dan Voucher ke Bisnis Raksasa
Perjalanan Erajaya dimulai ketika ponsel belum menjadi perangkat yang digunakan hampir semua orang. Bisnis awalnya dibangun di sekitar distribusi dan perdagangan perangkat telekomunikasi, termasuk telepon seluler, kartu SIM, voucher isi ulang, aksesori, hingga perangkat elektronik lain.
Dari fondasi itu, nama Erafone dan jaringan distribusi Erajaya tumbuh dikenal masyarakat. Namun perusahaan tidak berhenti di bisnis smartphone. Dalam beberapa tahun terakhir, Erajaya agresif melakukan diversifikasi hingga bisnisnya terbagi ke dalam beberapa vertikal utama.

Langkah ekspansi ini juga tercermin dari sejumlah inisiatif korporasi, mulai dari kemitraan distribusi merek global hingga pembangunan infrastruktur pendukung. Salah satunya terlihat dari langkah distribution center yang memperkuat jaringan logistik perseroan.
Lima Vertikal yang Membentuk Ekosistem Erajaya
1. Erajaya Digital, Mesin Utama Bisnis
Bisnis digital dan perangkat elektronik masih menjadi fondasi terbesar. Melalui Erajaya Digital, perusahaan bermain di distribusi dan ritel smartphone, tablet, laptop, komputer, perangkat IoT, aksesori, voucher, hingga produk operator.
Jaringan ritelnya memakai berbagai konsep. Erafone hadir sebagai jaringan multibrand, sementara untuk merek tertentu terdapat konsep monobrand seperti iBox, Samsung, dan Mi Store.
Erajaya juga masuk lebih dalam ke consumer electronics lewat Erablue, hasil kolaborasi Erajaya Digital dengan Mobile World Group dari Vietnam. Produknya mencakup televisi, kulkas, mesin cuci, laptop, gadget, hingga perangkat rumah tangga. Pada akhir Oktober 2024, Erablue telah memiliki 80 toko.
Kolaborasi dengan merek global memang menjadi salah satu strategi Erajaya. Salah satu contohnya adalah kemitraan yang dibahas dalam artikel Honor Gandeng Erajaya untuk memperluas jangkauan pasar di Indonesia.
Baca Juga:
2. Erajaya Active Lifestyle, Serius Garap Gaya Hidup
Ini salah satu bagian yang membuat transformasi Erajaya semakin menarik. Melalui Erajaya Active Lifestyle, perusahaan tidak lagi hanya menjual perangkat teknologi. Bisnisnya merambah produk olahraga, fashion olahraga, outdoor activity, aksesori, dan perangkat IoT.
Portofolionya mencakup sejumlah merek global seperti ASICS, DJI, Garmin, Wilson, ANTA, hingga JD Sports. Konsep multibrand seperti Urban Republic juga menjadi bagian dari ekosistem ini. Dengan begitu, Erajaya masuk ke kebutuhan gaya hidup konsumen, dari smartphone dan smartwatch hingga kamera, perangkat olahraga, dan apparel.
3. Erajaya Food & Nourishment, Masuk Bisnis Kuliner
Kalau bisnis smartphone masih mudah ditebak, ekspansi ke makanan dan minuman mungkin terasa lebih mengejutkan. Melalui Erajaya Food & Nourishment, perusahaan masuk ke bisnis food and beverage, restoran, kafe, bakery, hingga grocery.
Portofolionya saat ini mencakup Paris Baguette, Bacha Coffee, Curry Up, CHAGEE, Wetzel’s Pretzels, hingga GrandLucky Superstore. CHAGEE menjadi salah satu tambahan terbaru dalam portofolio Food & Nourishment Erajaya pada 2025. Konsumen yang mengenal Erajaya karena membeli iPhone atau Samsung kini juga bisa menemukan nama grup yang sama di bisnis makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari.
4. Bisnis Kesehatan dan Lini Pendukung
Diversifikasi Erajaya juga merambah sektor kesehatan dan wellness. Pada 2024, perusahaan menyebut ekspansi ke sektor non-elektronik, termasuk food and beverage serta health, melalui Wellings Pharmacy dan bisnis active lifestyle.
Di sisi lain, Erajaya memiliki bisnis distribusi produk medis melalui Surya Andra Medicalindo yang bergerak di distribusi peralatan medis. Ekosistemnya pun tidak lagi hanya berputar di smartphone.
5. Bahkan Masuk Mobil Listrik
Yang tidak kalah menarik, Erajaya mulai masuk ke industri kendaraan listrik. Pada 2025, perusahaan memperluas portofolionya dengan XPENG, merek kendaraan listrik yang tersedia untuk pre-order dan test drive melalui ekosistem Erajaya.
Langkah ini menunjukkan bagaimana perusahaan yang awalnya identik dengan perangkat telekomunikasi mulai melihat peluang di kategori teknologi yang lebih besar. Smartphone, IoT, perangkat elektronik, lifestyle, hingga kendaraan listrik akhirnya berada dalam satu ekosistem bisnis yang sama.
Skala Bisnis dan Komposisi Pendapatan
Angkanya memberi gambaran cukup jelas. Pada 2025, Erajaya mencatat penjualan bersih Rp76,6 triliun, laba kotor Rp8,35 triliun, dan margin laba kotor 10,9 persen. Pada kuartal I 2026, penjualan bersih mencapai Rp22,4 triliun dengan pertumbuhan tahunan 41,1 persen, lebih dari 2.400 gerai, dan lebih dari 17,5 juta anggota MyEraspace.
Bisnis digital masih menjadi penyumbang terbesar. Pada 2025, vertikal digital menyumbang sekitar 74 persen dari total pendapatan Erajaya. Bisnis internasional berkontribusi 14,8 persen, active lifestyle 7,5 persen, sementara food & nourishment menyumbang 3,8 persen.
Dengan kata lain, smartphone dan perangkat digital masih menjadi mesin utama, tetapi bisnis non-digital mulai mendapatkan ruang yang semakin besar. Diversifikasi menjadi cara perusahaan memperluas sumber pertumbuhan di tengah siklus bisnis smartphone yang sangat dipengaruhi kondisi pasar, daya beli, siklus upgrade konsumen, dan persaingan merek.
Transformasi Erajaya sebenarnya cukup mudah dibaca. Dulu, konsumen datang untuk membeli ponsel atau voucher. Sekarang, ekosistemnya jauh lebih luas. Mau membeli iPhone, ada iBox. Mau membeli smartphone berbagai merek, ada Erafone. Mau membeli laptop, TV, atau perangkat rumah tangga, ada jaringan consumer electronics. Mau mencari smartwatch, kamera, perangkat IoT, atau perlengkapan olahraga, ada Erajaya Active Lifestyle. Mau ngopi, makan, membeli bakery, atau kebutuhan grocery, ada Erajaya Food & Nourishment. Bahkan kendaraan listrik pun mulai masuk.
Dari perusahaan yang membangun bisnis di sekitar perangkat telekomunikasi, Erajaya kini berubah menjadi grup dengan tiga vertikal utama: Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, serta Erajaya Food & Nourishment. Memasuki dekade keempat, perusahaan masih menempatkan diversifikasi bisnis, pengembangan ekosistem omnichannel, dan kolaborasi dengan berbagai brand global sebagai bagian dari strategi pertumbuhannya.


