spot_img
Latest Phone

Garmin dan PBESI Siapkan Timnas Menuju Asian Games 2026

Telko.id - Garmin melalui divisi ekosistem B2B, Garmin Health,...

POCO F9 Series Siap Meluncur 1 September, Ini Keunggulannya!

Telko.id - POCO siap memperkenalkan lini terbarunya, POCO F9...

POCO X8 Pro Series Siap Libas Semua Genre Game Berat

Telko.id - POCO X8 Pro Series resmi diposisikan sebagai...

Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Latihan Sesuai Kondisi Tubuh

Telko.id - Samsung resmi menghadirkan Galaxy Watch Ultra2 dan...

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

ARTIKEL TERKAIT

Adopsi AI Meningkat, Keamanan Data Indonesia Disorot

Telko.id – Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia bisnis membawa tantangan baru bagi perusahaan di Indonesia.

Selain membutuhkan kapasitas penyimpanan data yang lebih besar, perusahaan juga harus memastikan keamanan informasi, efisiensi infrastruktur, dan kemampuan memulihkan operasional ketika terjadi serangan siber.

Synology menyoroti tantangan tersebut dalam Synology Press Event 2026 yang digelar di Four Seasons Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Perusahaan teknologi asal Taiwan itu menilai kesiapan infrastruktur data dan keamanan siber menjadi faktor penting agar bisnis dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan kendali atas informasi sensitif.

Berdasarkan survei Synology, hampir 88% responden di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat meningkatnya volume data AI dan duplikasi data.

Baca juga :

Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penggunaan AI tidak hanya menuntut penambahan kapasitas penyimpanan, tetapi juga pengelolaan data yang lebih efisien.

“AI semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis, mulai dari pengelolaan data hingga kolaborasi tim,” ujar Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology.

Menurut Clara, penerapan AI membutuhkan infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan data, sistem perlindungan yang andal, serta teknologi yang membantu meningkatkan produktivitas perusahaan.

Penyimpanan Data AI Jadi Tantangan Perusahaan

Penggunaan AI dalam bisnis menghasilkan kebutuhan pengelolaan data yang semakin kompleks. Perusahaan perlu menangani pertumbuhan data, menghindari penyimpanan salinan yang tidak diperlukan, sekaligus menjaga performa sistem agar tetap optimal.

Bagi perusahaan di Indonesia, persoalan ini dapat berdampak pada biaya operasional, produktivitas karyawan, hingga kemampuan mengembangkan layanan digital. Infrastruktur yang tidak dikelola secara efisien berpotensi menambah beban penyimpanan dan menyulitkan pengelolaan data dalam jangka panjang.

Synology memperluas portofolio penyimpanannya untuk memenuhi kebutuhan berbagai skala bisnis, mulai dari usaha kecil dan menengah (UKM) hingga perusahaan besar dengan beban kerja yang lebih kompleks.

Untuk kebutuhan enterprise, Synology memperkenalkan PAS7700 yang menggunakan teknologi penyimpanan NVMe. Solusi ini ditujukan untuk kebutuhan penyimpanan berperforma tinggi dan beban kerja kritis.

Synology juga mengembangkan solusi penyimpanan generasi terbaru pada lini FS dan RS. Pengembangannya tidak hanya berfokus pada performa, tetapi juga ketersediaan sistem, kemudahan pengelolaan, dan skalabilitas infrastruktur.

Selain meningkatkan kapasitas, perusahaan membutuhkan mekanisme untuk mengoptimalkan penggunaan ruang penyimpanan. Synology mengembangkan teknologi Synology Tiering dan reduksi data pada sistem operasi DiskStation Manager (DSM) 7.4 untuk membantu mengatur penempatan data berdasarkan pola akses serta mengurangi duplikasi yang tidak diperlukan.

Ke depan, Synology juga tengah mengembangkan teknologi scale-out storage yang memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas dan performa penyimpanan secara lebih fleksibel.

Hanya 2 dari 10 Perusahaan Yakin Pulih dari Ransomware

Selain persoalan kapasitas, ancaman ransomware menjadi tantangan serius bagi perusahaan yang semakin bergantung pada data digital.

Serangan ransomware dapat mengunci atau mengenkripsi data sehingga sistem dan layanan bisnis terganggu. Risiko semakin besar ketika infrastruktur pencadangan atau backup masih terhubung dengan lingkungan utama yang diserang.

Survei Synology mengungkapkan bahwa hanya sekitar 2 dari 10 perusahaan di Indonesia yang sangat yakin dapat memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware, sekaligus memastikan data cadangan tetap terlindungi dari perubahan, enkripsi, maupun penghapusan.

Temuan tersebut menyoroti persoalan mendasar dalam strategi keamanan siber perusahaan. Memiliki salinan data belum tentu cukup jika salinan tersebut ikut terdampak ketika sistem utama mengalami serangan.

Perusahaan perlu memastikan bahwa data cadangan terlindungi dan dapat dipulihkan ketika insiden terjadi.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah strategi backup 3-2-1-0, yakni memiliki beberapa salinan data pada media berbeda, menyimpan satu salinan di lokasi terpisah, dan memastikan proses pemulihan telah diuji tanpa kesalahan.

Perlindungan juga dapat diperkuat melalui immutable backup, yaitu pencadangan yang tidak dapat diubah atau dihapus selama periode perlindungan yang ditentukan, serta air gap untuk memisahkan salinan data dari jaringan utama.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Synology mengembangkan ActiveProtect sebagai solusi pencadangan dan pemulihan data yang memusatkan pengelolaan backup sekaligus memisahkan infrastruktur pemulihan dari sistem produksi utama.

ActiveProtect Manager 2.0 juga memperluas kompatibilitas dengan lingkungan virtualisasi enterprise, termasuk Nutanix AHV dan Proxmox VE, serta mendukung kebutuhan pemulihan pada lingkungan on-premises maupun cloud.

Synology turut memperkenalkan DP5200, perangkat backup berukuran ringkas 1U yang ditujukan bagi perusahaan dengan infrastruktur tersebar di kantor pusat, cabang, dan berbagai lokasi operasional.

“Memiliki backup saja belum cukup. Perusahaan harus memastikan data backup tetap aman dan benar-benar dapat dipulihkan saat terjadi serangan,” jelas Joshua Nathanael, Sales Manager Synology.

AI Bisa Tingkatkan Produktivitas, tetapi Kendali Data Tetap Penting

Di luar pengelolaan infrastruktur dan keamanan siber, AI juga membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Teknologi ini dapat membantu berbagai pekerjaan rutin, mulai dari menyusun dokumen, membuat presentasi, menerjemahkan materi, hingga mengolah spreadsheet.

Namun, survei Synology menemukan bahwa lebih dari 80% perusahaan di Indonesia masih menghabiskan setidaknya dua jam setiap minggu untuk menyusun, memformat, atau menerjemahkan dokumen tanpa bantuan AI.

Angka tersebut memperlihatkan adanya peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja melalui otomatisasi. Meski demikian, penerapan AI di lingkungan bisnis juga perlu mempertimbangkan keamanan informasi, lokasi pemrosesan data, serta kendali perusahaan atas informasi sensitif.

Synology mengembangkan kemampuan AI dalam ekosistem produktivitas dan kolaborasi berbasis on-premises. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan AI dengan tetap mempertahankan kendali atas data bisnis sesuai konfigurasi dan kebijakan sistem yang digunakan.

Melalui Synology Office Suite, AI dapat membantu penyuntingan dokumen, pembuatan konten presentasi, hingga pencarian formula spreadsheet. Ekosistem tersebut juga dilengkapi Synology ChatPlus dan Meet untuk mendukung komunikasi serta kolaborasi tim.

Pendekatan ini menjadi salah satu pilihan bagi organisasi yang ingin meningkatkan produktivitas tanpa harus memindahkan seluruh data bisnis ke berbagai platform terpisah. Namun, penerapan AI tetap membutuhkan pengaturan hak akses, kebijakan penggunaan data, dan evaluasi keamanan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Pengawasan Berbasis AI Percepat Investigasi

Pemanfaatan AI juga semakin relevan dalam pengawasan fisik, terutama bagi perusahaan yang mengelola toko, pabrik, kampus, gudang, dan gedung perkantoran.

Sistem pengawasan menghasilkan rekaman video dalam jumlah besar setiap hari. Ketika terjadi insiden, tim keamanan perlu mencari bagian rekaman yang relevan untuk mengetahui kronologi kejadian. Proses tersebut dapat memakan waktu jika seluruh video harus diperiksa secara manual.

Synology mengembangkan kemampuan AI pada sistem pengawasan untuk membantu analisis dan pencarian rekaman video. Melalui DVA7400, teknologi deteksi berbasis AI dan pencarian video cerdas memungkinkan tim keamanan menemukan kejadian yang relevan dengan lebih cepat.

Rekaman pengawasan juga dapat dimanfaatkan sebagai informasi operasional untuk mendukung investigasi dan penanganan insiden.

Synology turut mengembangkan teknologi hybrid surveillance yang menggabungkan sistem on-premises dan cloud. Pendekatan tersebut memberikan fleksibilitas implementasi sesuai skala dan kebutuhan pengawasan perusahaan.

Meski demikian, efektivitas penerapannya tetap bergantung pada konfigurasi sistem, kualitas rekaman, serta kebijakan pengelolaan dan akses terhadap data pengawasan.

Kesiapan Infrastruktur Menentukan Keberhasilan AI

Synology menilai transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas teknologi tersebut diadopsi, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur yang mendukungnya.

Perusahaan membutuhkan sistem penyimpanan yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis, strategi backup yang andal, solusi produktivitas yang tetap menjaga kendali atas data, serta teknologi pengawasan yang membantu meningkatkan efisiensi operasional.

Bagi perusahaan di Indonesia, langkah tersebut perlu disesuaikan dengan skala usaha, jenis data yang dikelola, kebutuhan ketersediaan layanan, serta risiko keamanan yang dihadapi.

Investasi infrastruktur juga tidak cukup hanya berorientasi pada kapasitas. Efisiensi penggunaan penyimpanan, kemampuan pemulihan setelah serangan, kemudahan pengelolaan, dan perlindungan data perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

Melalui pengembangan solusi penyimpanan, ActiveProtect, produktivitas berbasis AI, dan sistem pengawasan cerdas, Synology berupaya membantu perusahaan membangun infrastruktur yang lebih tangguh untuk menghadapi perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, pemanfaatan AI yang berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara produktivitas, efisiensi, dan keamanan. Tanpa pengelolaan data yang baik serta strategi pemulihan yang teruji, peningkatan adopsi AI justru dapat memperbesar kompleksitas operasional dan risiko bisnis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU