Tag: NB-IOT

  • Solusi IoT Telkomsel Merambah Ke Industri Akuakultur

    Solusi IoT Telkomsel Merambah Ke Industri Akuakultur

    Telko.id – Internet of Things tidak akan tumbuh berkembang jika belum terbentuk ekosistemnya. Dengan menggandeng eFishery dan Japfa melalui anak perusahaannya Suri Tani Pemuka (STP), Telkomsel membentuk ekosistem di industri akuakultur dengan menghadirkan Kampung Perikanan Digital untuk mewujudkan digital innovation village di Indonesia.

    Pengembangan ekosistem IoT ini diwujudkan melalui penerapan teknologi NB-IoT (Narrowband Internet of Things) dengan pemanfaatan mesin automatic fish feeder di kolam-kolam ikan untuk meningkatkan efisiensi pakan serta mempercepat siklus panen ikan.

    “IoT menjadi salah satu elemen penting untuk mendukung roadmap pemerintah Indonesia “Making Indonesia 4.0”. Telkomsel secara konsisten terus meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan untuk menghadapi tren IoT yang sedang berkembang secara global. Melalui kolaborasi antara Telkomsel, eFishery dan Japfa membuktikan bahwa teknologi IoT kini sudah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan tidak hanya di industri besar tetapi juga dapat diterapkan ke semua sektor industri termasuk sektor perikanan,” ujar Andi Kristianto, Vice President Corporate Planning Telkomsel.

    Harapannya adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya ikan melalui penerapan teknologi NB-IoT.

    NB-IoT sendiri merupakan teknologi telekomunikasi terbaru yang dirancang secara khusus agar komunikasi antar mesin yang semakin masif dengan coveragejaringan telekomunikasi yang semakin luas dapat dilakukan secara efisien, serta penggunaan daya pada perangkat pengguna semakin hemat.

    Teknologi radio akses NB-IoT, yang merupakan salah satu jenis teknologi jaringan Low Power Wide Area (LPWA), memungkinkan perangkat beroperasi hingga bertahun-tahun tanpa pengisian daya ulang baterai sehingga sangat menghemat biaya. Teknologi ini juga mampu menghasilkan kapasitas koneksi yang masif untuk solusi dan aplikasi berbasis IoT.

    Dengan adanya penerapan teknologi NB-IoT dalam mesin automatic fish feeder akan menghasilkan simplifikasi proses pemberian makan ikan di kolam yang luas sekalipun. Teknologi ini dapat mengatur pemberian pakan otomatis, sehingga memudahkan petani untuk memantau dan menjadwalkan pemberian pakan menggunakan aplikasi smartphone.

    Selain itu juga akan membantu petani meningkatkan efisiensi pakan serta mempercepat siklus panen ikan. Dalam kolaborasi ini, STP juga turut menghadirkan pakan-pakan ikan berkualitas untuk kolam-kolam ikan di Kampung Perikanan Digital ini.

    Program Kampung Perikanan Digital ini juga mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena telah mendukung program Desa Digital Jabar. Dalam program Desa Digital Jabar ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat ingin mengimplementasikan inovasi digital di 10 desa dari 5 kota yang berada di Jawa Barat melalui adopsi layanan IoT yang digelar Telkomsel khususnya dalam budidaya ikan.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Desa Digital adalah bagian dari skenario Jawa Barat yang siap dalam mewujudkan revolusi industri 4.0. Menurutnya, lewat program itu masyarakat desa bisa memanfaatkan aplikasi digital untuk meningkatkan pendapatan serta mengembangkan potensinya.

    Ridwan Kamil juga menjelaskan dengan hadirnya program Desa Digital masyakat desa bisa menjadi lebih produktif. “Tak hanya urusan wifi-wifi tapi mengubah cara berdagang, mengubah cara berkomunikasi, memetakan potensi, mempromosikan wisata desanya melalui sebuah digital ekosistem,” ujarnya.

    Gibran Huzaifah sebagai founder eFishery mengatakan “Perikanan merupakan industri yang besar, dan petani-pembudidaya Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Karenanya kenapa tidak Indonesia benar-benar jadi pionir dalam praktek budidaya yang mengedepankan teknologi”.

    Dengan adanya peranan Telkomsel sebagai penyedia layanan digital terbesar, serta STP sebagai penyedia produk perikanan terbesar, dan digabungkan dengan Pemprov yang memiliki visi yang luar biasa untuk membangun wilayah pedesaan, kolaborasi ini akan membantu petani Indonesia agar semakin besar.

    “Dan kami bahagia inisiatif dan produk kami dapat memfasilitasi kolaborasi tersebut. Ini sesuai dengan visi kami yaitu bring the future of aquaculture,” ujar Gibran.

    Kerjasama ini juga menurut President Director Suri Tani Pemuka JAPFA Group, Ardi Budiono membuktikan keseriusan Suri Tani Pemuka dalam mengembangkan industri budidaya perikanan yang berkelanjutan khususnya di Desa Losarang, Indramayu. Sinergi dengan Efishery dan Telkomsel juga menandakan bahwa dalam memajukan industri budidaya perikanan di Indonesia pun sudah mengikuti perkembangan teknologi.

    Keseriusan Telkomsel dalam pengembangan teknologi IoT akan menjadikan layanan yang tepat bagi Enterprise Customers yang menghubungkan perangkat, mesin dan objek yang berisi teknologi internet dengan tujuan membantu mengembangkan perusahaan bisnis serta memajukan kehidupan masyarakat di semua bidang.

    Mulai dari Automotive & Transportation (Fleet Management 2W & 4W, Order Management, Workforce Management), agriculture, environment monitoring,utility smart metering (water, gas and electricity), smart cities (parking and waste management), sampai smart building (alarm systems and access control). (Icha)

     

     

  • NB-IoT Bakal Jadi Faktor Kunci Pasar IoT Dunia Di 2020

    NB-IoT Bakal Jadi Faktor Kunci Pasar IoT Dunia Di 2020

    Telko.id – Narrowband IoT (NB-IoT) adalah teknologi radio Low Power Wide Area Network (LPWAN) yang dikembangkan oleh 3GPP untuk memungkinkan berbagai perangkat seluler dan layanan. Berdasarkan laporan dari Research and Markets, teknologi ini bakal menjadi salah satu tren utama yang mendorong pertumbuhan pasar chipset IoT hingga akhir tahun 2022.

    “Salah satu tren di pasar adalah pengenalan teknologi NB-IoT. Dalam laporan riset pasar modul IoT, analis kami mengidentifikasi pengenalan teknologi NB-IoT sebagai salah satu tren utama yang mendorong pertumbuhan pasar chipset IoT hingga akhir tahun 2022,” kata salah seorang analis dari tim peneliti Research and Markets menjelaskan.

    Pasalnya, teknologi NB-IoT ini memungkinkan perangkat kecil dengan faktor bentuk untuk terhubung ke bandwidth sempit berlisensi untuk memastikan transfer volume data yang tinggi,” kata salah seorang analis dari tim peneliti Research and Markets menjelaskan.

    Mengapa NB-IoT ini bakal trend? Teknologi ini secara khusus berfokus pada cakupan dalam ruangan, biaya rendah, masa pakai baterai yang lama, dan kepadatan sambungan yang tinggi. NB-IoT menggunakan subset dari standar LTE, tetapi membatasi bandwidth ke band sempit tunggal 200kHz. Ia menggunakan modulasi OFDM untuk komunikasi downlink dan SC-FDMA untuk komunikasi uplink.

    Selain NB-IoT sebenarnya yang diberlakukan oleh 3GPP Release 13 adalah eMTC (Enhanced Machine-Type Communication) dan EC-GSM-IoT.

    Dalam laporannya juga, Research and Markets menyebutkan bahwa yang akan menjadi pemain kunci di pasar chipset IoT global adalah Altair Semiconductor, Intel, MediaTek, NXP Semikonduktor, QUALCOMM, SAMSUNG, dan STMicroelectronics.

    Menurut laporan itu, satu pengendara di pasar meningkatkan jumlah perangkat pintar dan aplikasi. Perangkat pintar adalah perangkat interaktif yang menghubungkan pengguna dan perangkat lain menggunakan teknologi seperti Wi-Fi, Bluetooth, 4G, dan 3G. Perangkat ini memungkinkan komunikasi antara manusia dan teknologi saat menghubungkan dunia digital dan fisik melalui IoT.

    Lebih lanjut, laporan itu menyatakan bahwa satu tantangan di pasar adalah masalah privasi dan keamanan. Implementasi IoT menghasilkan masalah privasi dan keamanan utama. IoT memungkinkan perangkat yang berbeda, seperti peralatan rumah yang terhubung dan mobil yang terhubung, untuk terhubung satu sama lain dan berfungsi secara efisien.

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi obyektif informasi primer dan sekunder termasuk masukan dari peserta utama dalam industri. Laporan ini berisi pasar yang komprehensif dan lanskap vendor di samping analisis SWOT dari vendor utama. (Icha)

  • Selama 2018-2022 Pasar Chipset IoT Global Akan Tumbuh 13,22%

    Selama 2018-2022 Pasar Chipset IoT Global Akan Tumbuh 13,22%

    Telko.id – Internet of things perlahan sudah menunjukan pertumbuhan nya. Namun belum sampai tahap yang signifikan. Beriringan dengan itu, chipset IoT pun pasarnya terus tumbuh. Bahkab Research and Markets menyatakan dalam riset nya bahwa pasar chipset IoT ini akan tumbuh 13,22 % dari 2018-2022 mendatang.

    Perusahaan yang menjadi pemain utama di pasar tersebut adalah Altair Semiconductor, Intel, MediaTek, NXP Semiconductors, QUALCOMM, SAMSUNG, dan STMicroelectronics.

    Mengomentari laporan tersebut, seorang analis dari tim peneliti mengatakan: “Salah satu tren di pasar adalah pengenalan teknologi NB-IoT. Dalam laporan riset pasar modul IoT, analis kami mengidentifikasi pengenalan teknologi NB-IoT sebagai salah satu tren utama yang mendorong pertumbuhan pasar chipset IoT hingga akhir tahun 2022. Teknologi NB-IoT memungkinkan perangkat kecil dengan faktor bentuk untuk terhubung ke bandwidth sempit berlisensi untuk memastikan transfer volume data yang tinggi.

    “Menurut laporan itu, salah satu variable yang mempengaruhi pasar adalah meningkatkan nya jumlah perangkat pintar dan aplikasi. Perangkat pintar adalah perangkat interaktif yang menghubungkan pengguna dan perangkat lain menggunakan teknologi seperti Wi-Fi, Bluetooth, 4G, dan 3G. Perangkat ini memungkinkan komunikasi antara manusia dan teknologi saat menghubungkan dunia digital dan fisik melalui IoT.

    Lebih lanjut, laporan itu menyatakan bahwa satu tantangan di pasar adalah masalah privasi dan keamanan. Implementasi IoT menghasilkan masalah privasi dan keamanan utama. IoT memungkinkan perangkat yang berbeda, seperti peralatan rumah yang terhubung dan mobil yang terhubung, untuk terhubung satu sama lain dan berfungsi secara efisien.

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi obyektif informasi primer dan sekunder termasuk masukan dari peserta utama dalam industri. Laporan ini berisi pasar yang komprehensif dan lanskap vendor di samping analisis SWOT dari vendor utama. (Icha)

     

  • Pasar Chipset NB-IoT Global Bakal Tumbuh 60.85% Hingga 2021

    Pasar Chipset NB-IoT Global Bakal Tumbuh 60.85% Hingga 2021

    Telko.id – Internet of Things, ditenggarai banyak pihak bakal menjadi primadona bisnis telekomunikasi masa depan. Bayangkan saja, miliaran device akan terkoneksi satu sama lain. Salah satu jenis koneksi yang akan tumbuh dan berkembang adalah menggunakan teknologi Narrowband.

    Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Research and Markets, pertumbuhan chipset khusus yang menggunakan Narrowband pada perangkat Internet of Things atau IoT akan tumbuh hingga 60.85% dari 20177 hingga 2021 mendatang. Hasil riset tersebut memperhitungkan atau mempertimbangkan penjualan chipset NB-IoT yang dibutuhkan berbagai pengguna akhir seperti operator seluler, penyedia layanan telekomunikasi, dan OEM di perusahaan pertanian, otomotif, dan konsumen dan perusahaan utilitas listrik.

    Dalam laporannya tersebut, Research and Markets terdapat 6 pemain utama chipset NB-IoT ini. Siapa saja? Ericsson, Huawei Technologies, Intel, Nordic Semiconductor, Sequans, dan u-blox diproyeksikan akan menjadi supplier utama dalam industry chipset tersebut. Baru akan diikuti oleh vendor terkemuka lainnya yang ada di pasaran seperti Altair Semiconductor, CommSoild, Nokia, Qualcomm Technologies, Samsung, dan Vodafone.

    Mengomentari laporan tersebut, seorang analis dari tim peneliti mengatakan “Tren terbaru yang mendapatkan momentum di pasar adalah penerapan teknologi NB-IoT di bandara. Seperti yang dilakukan oleh Technavio adalah penyebaran NB-IoT di bandar udara. Bandara mengadopsi beberapa sistem dan teknologi cerdas untuk beralih ke bandara pintar. Sebuah bandara cerdas melibatkan integrasi beberapa teknologi sensor dan komunikasi untuk memungkinkan pertukaran data antara mesin, konsumen dengan mulus”.

    Salah satu fokus utama adalah memperbaiki pemrosesan penumpang di berbagai pos pemeriksaan. Bandara melihat perluasan infrastruktur TI mereka untuk mengakomodasi kios dan teknik pemrosesan lainnya untuk mempersingkat waktu tunggu para penumpang. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk menerapkan teknologi komunikasi yang efisien, yang akan memungkinkan interkoneksi berbagai wilayah di bandara.

    Selain itu, dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa salah satu pendorong utama pasar ini adalah Meningkatnya adopsi komunikasi M2M. Komunikasi M2M adalah komunikasi yang diperlukan untuk pertukaran informasi antar perangkat tanpa bantuan manual. Sensor diintegrasikan ke dalam mesin, dan sensor ini digunakan untuk memperoleh data dan mencatat informasi.

    Di mana, teknologi NB-IoT terus menggantikan teknologi saluran M2M konvensional, seperti Bluetooth, DSL, dan WLAN, untuk aplikasi (termasuk smart meter dan smart parking) yang memerlukan kecepatan data dan konektivitas jarak jauh yang rendah. Koneksi M2M yang dibutuhkan untuk meter cerdas, parkir cerdas, pertanian cerdas, dan bangunan cerdas memiliki tingkat data yang rendah. Oleh karena itu, mereka membutuhkan teknologi yang telah dibangun untuk mendukung kecepatan data yang rendah.

    Itu sebabnya, teknologi NB-IoT menjadi pilihan ideal karena bekerja dengan kecepatan data rendah (10 kbps) dan juga pada spektrum 200 kHz. Modul NB-IoT juga memiliki masa pakai baterai 10 tahun.

    Di sisi lain, dalam laporan tersebut juga menyatakan bahwa salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan pasar ini adalah Pertumbuhan LTE-M. Teknologi LTE-M telah dikembangkan untuk memungkinkan perangkat IoT terhubung ke jaringan 4G. LTE-M adalah teknologi yang akan datang, dan pertumbuhannya dapat berdampak drastis pada penjualan chipset NB-IoT.

    Alasannya, Teknologi NB-IoT memiliki beberapa masalah interoperabilitas, yang telah membatasi pertumbuhannya. Tantangan ini telah diatasi dengan standar LTE-M. Selain itu, ada perbedaan marjinal harga dan performa baterai. LTE-M memiliki efisiensi kinerja tinggi dan sangat fleksibel. LTE-M juga mendukung kecepatan data sekitar 100 kbps, dan ada biaya layanan yang lebih rendah karena dapat digunakan pada operator sekarang yang tersedia. LTE-M dapat digunakan pada jaringan 4G yang ada, yang mengurangi biaya infrastruktur.

    Sebagai informasi, Narrowband IoT atau NB-IoT adalah teknologi standar yang dikembangkan dengan menggunakan power yang rendah untuk area network yang luas atau sering juga disebut sebagai Low Powe Wide Area Network. Teknologi ini dapat menghubungkan dengan menggunakan frekuensi telekomunikasi selular. Sebuah teknoligi yang didesain untuk digunakan oleh Internet of Things dan Mobile IoT.

    Beberapa pihak melihat perkembangan IoT ini akan banyak menggunakan teknologi Narrowband IoT karena kemampuannya. Alasannya, teknologi ini memiliki berbagai keutamaan. Seperti, cocok untuk melayani ruangan dalam gedung, harga yang murah, baterai yang awet, serta mampu melayani device dalam jumlah besar.

    NB-IoT ini dapat diimplementasikan pada spectrum LTE atau Long Term Evolution. Baik menggunakan blok yang sama pada LTE normal maupun blok sumber daya yang tidak terpakai dalam guard band. Hal ini dianggap cocok untuk re-farming spectrum GSM. (Icha)

  • Ini Persiapan Telkomsel Sambut Era 5G

    Ini Persiapan Telkomsel Sambut Era 5G

    Telko.id – Era 5G memang secara dunia masih 3 tahun lagi yakni tahun 2020. Sampai saat ini, standarisasi 5G yang disepakati pun masih belum ditetapkan oleh ITU atau International Telecommunications Union. Namun, sudah banyak pihak yang bersiap untuk menghadapi era 5G itu yang diyakini akan memberikan peluang bisnis yang luar biasa.

    Telkomsel sebagai operator terbesar di Indonesia pun tidak tinggal diam. Bersama partner nya Huawei melakukan uji coba pertama di Indonesia teknologi 3rd Generation Partnership Project (3GPP) Massive Internet of Things (IoT) dan teknologi Frequency Division Duplexing (FDD) Massive Multiple-Input and Multiple-Output (MIMO). Uji coba ini merupakan salah satu upaya Telkomsel untuk mengakselerasi terbentuknya ekosistem IoT, sekaligus menandai dimulainya persiapan menuju penerapan teknologi 5G di Indonesia.

    Standarisasi teknologi 5G didesain untuk melayani tiga karakteristik ekstrem layanan seluler, yaitu Enhanced Mobile Broadband (eMBB), Massive Machine Type Communications (mMTC), dan Ultra-reliable and Low Latency Communications (uRLLC).

    Uji coba Massive IoT kali ini menggunakan teknologi radio akses Narrowband IoT (NB-IoT) yang sepenuhnya memenuhi standar 3GPP dan dilakukan pada frekuensi 900 MHz dengan metode stand alone sehingga jangkauannya lebih dalam atau lebih luas. Teknologi radio akses NB-IoT, yang merupakan salah satu jenis teknologi jaringan Low Power Wide Area (LPWA), memungkinkan perangkat beroperasi hingga 10 tahun tanpa pengisian daya ulang baterai sehingga sangat menghemat biaya. Teknologi ini juga mampu menghasilkan kapasitas koneksi yang masif untuk solusi dan aplikasi berbasis IoT mMTC yang beragam, antara lain Smart Water Meter, Smart Parking, Bike Sharing, Smart Electricity Meter, Smart Agriculture, dan Fleet Management.

    Sementara itu, FDD Massive MIMO merupakan teknologi antena yang telah dirancang untuk menghasilkan kapasitas sistem yang lima kali lebih besar dibandingkan teknologi Long Term Evolution (LTE) 2×2 MIMO pada umumnya. Teknologi ini merupakan salah satu kunci dalam implementasi teknologi 5G untuk meningkatkan kapasitas dan pengalaman pengguna dalam layanan eMBB.

    “Kami terus meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan untuk menghadapi tren IoT yang sedang berkembang secara global. Hal ini sejalan dengan visi kami untuk melakukan transformasi digital dan senantiasa menjadi yang terdepan dalam menerapkan perkembangan teknologi seluler terkini yang akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia di masa depan. Telkomsel menjadi operator pertama di Indonesia yang menerapkan NB-IoT dan FDD Massive MIMO sebagai tahapan menuju diimplementasikannya teknologi 5G,” kata Sukardi Silalahi Direktur Network Telkomsel.

    Demo yang dilakukan Telkomsel dan Huawei dalam uji coba ini adalah solusi Smart Water Meter dan Smart Parking. Pada demo Smart Water Meter, meteran air mengirimkan data dan diterima oleh platform IoT yang kemudian meneruskannya ke aplikasi mobile secara real time, di mana aplikasi tersebut menampilkan hasil pengukurannya.

    Sementara pada demo Smart Parking, ketika sensor mendeteksi keberadaan mobil di atas spot parkir, maka status spot parkirnya “terisi”, yang juga terlihat di aplikasi mobile. Solusi Smart Parking berbasis jaringan seluler dengan menggunakan teknologi LPWA sangat cocok diaplikasikan ke fasilitas parkir outdoor, di mana sensor parkir mampu beroperasi dengan menggunakan baterai dalam jangka waktu yang lama.

    Dalam dunia IoT, jaringan seluler dengan cakupan yang luas dibutuhkan untuk mendukung miliaran mesin yang dioperasikan secara remote untuk merekam dan menerjemahkan data yang kemudian digunakan untuk berbagai industri. “Uji coba ini menunjukkan bagaimana teknologi seluler dapat mendukung akselerasi perkembangan ekosistem IoT di masa mendatang untuk mendukung produktivitas bisnis dan kualitas hidup, sekaligus mempercepat proses terwujudnya Smart City di berbagai kota di Indonesia yang penerapannya akan mentransformasi berbagai aspek kehidupan masyarakat,” jelas Sukardi.

    Deputy CEO Huawei Indonesia Sun Xi Wei mengatakan, “Uji coba Massive IoT yang didukung teknologi LPWA NB-IoT termutakhir dari Huawei ini merupakan sebuah terobosan besar yang akan memberikan banyak manfaat untuk memberdayakan IoT yang lebih efisien pada konektivitas mobile di Indonesia. Kemitraan teknologi ini didasarkan pada hubungan strategis dan teknis dalam mengatasi kompleksitas juga mempersingkat waktu ke pasar-aplikasi IoT. Sebagai penyedia solusi ICT terkemuka, Huawei bangga untuk berpartisipasi dalam keberhasilan demo NB-IOT Smart Water Meter dan Smart Parking bersama Telkomsel untuk pertama kalinya di Indonesia.”

    Xi Wei melanjutkan, “Kita hidup di era informasi yang sangat cepat dan terus berubah, di mana permintaan akan akses layanan data semakin meningkat dan menimbulkan kendala pada jaringan seluler dikarenakan keterbatasan kapasitas sistem. Teknologi Massive MIMO akan membantu operator seperti Telkomsel untuk meningkatkan efisiensi kapasitas sistem hingga lima kali lipat. Selama ini Huawei telah banyak berinvestasi dalam pengembangan teknologi Massive MIMO sebagai kunci penting dalam teknologi 4.5G maupun 5G dan akan terus memimpin perkembangan ini.”

    Khusus untuk IoT, saat ini Telkomsel sedang mencari klien. “Kami sedang menjajaki dengan PDAM, PLN, Pertamina dan perusahaan lain untuk memanfaatkan IoT ini. Selain itu kami juga melakukan penjajakan ke pemerintah daerah dan juga partner existing lainnya,” kata Ivan C Permana, Vice President Next Generation Network Telkomsel.

    Ivan juga menambahkan bahwa setidaknya komersialisasi dari IoT ini akan dimulai pada awal tahun depan. Tahun ini baru masuk dalam tahapan pilot project untuk show off ke existing M2M partner agar bisa upgrade ke IoT.

    Itu sebabnya, Ivan masih memprediksikan pendapatan dari IoT belum besar di tahun ini. Masih berada di bawah 1% dari total revenue perusahaan. Baru 5 tahun ke depan akan ada kenaikan tetapi itupun tidak besar hanya sekitar 3 -5% saja.

    Hal ini disebabkan karena IoT ini memang tidak menghasilkan trafik data yang besar untuk setiap device nya tetapi jumlah device yang akan banyak. Itu sebabnya, Telkomsel pun harus bersiap dengan serbuan device dengan berbagai sensor yang akan muncul saat era 5G. (Icha)

  • Vodafone dan Huawei Sukses Uji Coba NB-IoT

    Vodafone dan Huawei Sukses Uji Coba NB-IoT

    Telko.id – Vodafone dan Huawei minggu ini menyelesaikan pengujian yang mereka klaim sebagai koneksi narrowband Internet of Things (NB-IOT) yang pertama pada jaringan seluler hidup, sekaligus membuka jalan bagi peluncuran layanan komersial pada 2017.

    Dilaporkan TotalTelecom (22/9), perusahaan membuat sambungan over-the-air pada jaringan 4G di Madrid. Sementara itu, sehubungan didirikan pada jaringan 4G Vodafone di Madrid, operator ini menggunakan spektrum 800-MHz.

    “Ini percobaan NB-IOT pertama yang sukses pada jaringan komersial dan merupakan tonggak teknologi yang signifikan di jalan menuju dunia dengan miliaran perangkat yang terhubung dengan biaya yang sangat rendah serta kebutuhan daya minim untuk jaringan mobile,” kata Matt Beal,  Vodafone’s group director of technology architecture and strategy pada sebuah posting blog.

    Sekadar informasi, NB-IOT adalah standar jaringan rendah daya, wide-area (LPWA) yang menggunakan spektrum berlisensi untuk menyediakan komunikasi jarak jauh dua arah dan di lokasi yang sulit dijangkau. Mendukung throughput rendahdalam jumlah yang sangat besar, serta perangkat biaya rendah yang mengkonsumsi daya yang sangat kecil.

    3GPP pada bulan Juni lalu menyelesaikan standarisasi NB-IOT sebagai bagian dari pekerjaannya Rilis LTE 13.

    “NB-IOT memiliki dukungan yang kuat sebagai teknologi LPWA industri untuk mendukung pelanggan perusahaan kami. Percobaan yang sukses ini menunjukkan komitmen dan kemampuan untuk membawa teknologi ini ke pasar pada awal 2017 Vodafone,” kata Beal.

  • M1 Segera Deploy NB-IOT

    M1 Segera Deploy NB-IOT

    Telko.id – M1 dan Nokia telah bekerja sama untuk menggelar jaringan narrowband Internet of Things (NB-IoT) yang pertama di Singapura pada 2017 mendatang.

    Ketika selesai, Nokia selaku vendor pertama untuk penyebaran skala besar dengan mitra operator dalam Asia memperkirakan bahwa hal ini menjadi salah satu penyebaran komersial pertama di dunia untuk NB-IOT.

    Dilansir dari TelecomAsia (24/8), jaringan NB-IOT dan perangkat yang dirancang bertujuan untuk memberikan peningkatan kinerja jaringan untuk komunikasi M2M (machine-to-machine). Seperti diketahui, M2M membutuhkan bandwidth rendah, penetrasi dalam ruangan yang kuat, dan konsumsi daya yang rendah, sementara NB-IOT memberikan manfaat spektrum berlisensi seperti kehandalan jaringan dan keamanan .

    Standar NB-IOT telah diselesaikan oleh Standar GSMA 3GPP pada bulan Juni 2016. Sedangkan perangkat Commercial NB-IOT diharapkan akan tersedia pada pertengahan 2017.

    Menurut Bell Labs Consulting, sejatinya akan ada hingga lima miliar perangkat IOT yang terhubung melalui jaringan seluler pada tahun 2020. Sementara Di Singapura, penyebaran NB-IOT akan mendukung perjalanan mereka ini untuk menjadi Smart Nation dengan didukung oleh data untuk memberikan layanan antisipatif kepada rakyatnya.

    “NB-IOT yang segera hadir akan menjadi teknologi yang berpotensi menghadirkan jenis aplikasi dan layanan untuk machine-to-machine dan smart city. Kami berharap dapat bekerja sama dengan mitra NB-IOT untuk mengeksplorasi penggunaan NB-IOT dalam mengembangkan layanan Smart Nation inovatif yang meningkatkan kehidupan warga negara kita dan membuat bisnis kita menjadi lebih produktif, “kata Jacqueline Poh, Chief Executive-designate, Government Technology Agency (GovTech).

    Sementara itu, Sandeep Girotra, Senior Vice President Nokia untuk Asia-Pasifik dan Jepang mengungkapkan bahwa kerjasama Nokia dengan M1 untuk penyebaran NB-IOT meletakkan sebuah dasar yang penting untuk aplikasi lebih lanjut dari layanan IOT berbasis LTE.

    M1 juga baru-baru ini mengumumkan tengah bekerja sama dengan Nokia pada penyebaran HetNet komersial pertama di Singapura.

  • Vodafone Kembangkan IoT Dengan Narrowband Bersama Huawei

    Vodafone Kembangkan IoT Dengan Narrowband Bersama Huawei

    Telko.id – Semua operator di dunia sedang bersiap menghadapi era internet of things. Namun, cara yang ditempuh beragam. Salah satunya adalah memanfaatkan Narrowband atau sering di sebut NB. Vodafone adalah salah satu operator di Australia yang mencoba teknologi Narrowband untuk IoT ini bersama dengan Huawei. Rencananya, NB-IoT ini akan diujicoba di Melbourne.

    NB-IoT ini dikembangkan pada jaringan 4G standar untuk koneksi ke beragam device dan sering disebut dengan Internet of Things.

    NB-IoT di Vodafone ini rencananya akan selesai pada akhir tahun ini. Kekuatannya adalah ultra low power standar yang akan memungkinkan untuk koneksi dengan berbagai device dengan menggunakan baterai yang kecil.

    Keunggulan lain dari NB-IoT ini adalah mampu menerima sinyak jarak jauh dan melewati berbagai rintangan yang sering dihadapi di perkotaan.

    “Berdasarkan pengujian kami di Melbourne CBD, NB-IOT mampu menembus 2 : 58 dinding ganda, bahkan mampu melakukan koneksi dengan objek yang berada di parkiran bawah tanah dan ruang bawah tanah,” ujar Benoit Hanssen, Vodafone CTO, seperti dilansir dari Computer World.

    Selain itu, Hanssen juga menambahkan bahwa uji coba juga dilakukan sepanjang jalan di pinggiran kota Melbourne, dengan jarak hingga 30 km.

    Yang menarik, Hanssen menyebutkan bahwa NB-IoT ini juga memiliki daya tahan baterai yang cukup lama, bahkan bisa mencapai 10 tahun. Dengan skalabilitas hingga 100 ribu perangkat per sel. Tentu, hal ini akan menghemat biaya dari chipset yang diperkirakan akan kurang dari 5 dolar Australia.

    Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh NB-IoT ini, Vodafone pun akan berencana untuk melanjutkan uji cobanya dalam beberapa bulan mendatang. (Icha)

  • Kenapa Operator Investasi di Non-Cellular Untuk IoT?

    Kenapa Operator Investasi di Non-Cellular Untuk IoT?

    Telko.id – Operator diseluruh dunia banyak yang sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran era Internet of Things. Berbeda-beda caranya untuk menghadapi ‘serbuan’ dari berbagai device yang akan saling terhubung itu. Operator di Perancis menyikapinya dengan berkomitmen untuk mengimplementasikan teknologi jaringan non-cellular untuk Internet of Things tersebut. Yang digunakan adalah low bandwidth. Tapi beberapa masih menunggu perkembangnya hingga 2017 mendatang, seperti yang disampaikan oleh Keith Dyer dari the mobile network.

    Operator SFR/ Altice baru saja menandatangani kerjasama dengan Sigfox untuk di Perancis dan negara lainnya. Itu artinya empat operator besar di negara tersebut komitmen untuk menggunakan teknologi non-cellular menghadapi era IoT. Orange dan Bouygues sudah duluan dengan berkomitmen melayani menggunakan LoRa-based Network.

    Operator ini akan menggunakan Sigfox untuk masuk ke pasar, walaupun tidak sesuai untuk LTE atau 2G atau 3G, dilihat dari kebutuhan M2M, tetapi aplikasi yang ada menggunakan low power dan akses low bandwidth.

    “Kami memilih Sigfox karena mampu menawarkan tahapan yang terbaik saat ini dan sudah terbangun,” ujara Michel Combes, CEO SFR menjelaskan. Memang, Sigfox bukan yang terbaik, tetapi untuk saat ini sudah sesuai. Terlebih, saat ini Sigfox sudah mengimplementasikan LoRa.

    Saat ini, Sigfox sudah mengklai bahwa jaringannya sudah mencakup 92% di seluruh Perancis. Hal itu, bukan menjadi pesaing cellular IoT tetapi akan lebih menjadi komplemen dari layanan IoT.

    Beberapa pihak menilai bahwa investasi di IoT non-Cellular akan menghalangi investasi di EC-GSMand NB-IOT, teknologi 3GPP R13 untuk daya rendah IOT seluler. Tapi operator tidak selalu melihatnya seperti itu. Orange Yves Bellego, misalnya, mengatakan bahwa oranye melihat LoRa sebagai solusi yang baik untuk mendapatkan ke pasar dengan cepat, tetapi operator juga cenderung untuk berinvestasi di setara seluler, ketika mereka siap. Itu berarti mungkin ada yang sudah dipasang perangkat LoRa untuk mendukung masa depan. Dan Bellego menilai bahwa ke depan akan membuat Opex lebih rendah. Ide dasarnya adalah untuk memiliki platform inti untuk layanan umum. Tidak peduli, teknologi akses radio apa yang dipakai di akhirnya.

    Meskipun Orange akan memiliki beberapa capex untuk implementasi di LoRa, namun SFR tidak demikian karena hanya bertindak sebagai reseller konektivitas dri Sigfor ini. Sehingga tidak akan mempengaruhi Capex nya. Secara teori pun, SFR dapat berpindah platform teknologi jika menginginkan.

    Selain itu, situasi di Perancis berbeda dengan pasar di Jerman dan Inggris, di mana operator besar tidak membuat pilihan yang cocok. Di pasar Inggris, Sigfox masuk melalui kemitraan dengan Arqiva, pemilik infrastruktur jaringan. Arqiva pun bertanggung jawab untuk melakukan penandatanganan dengan mitra lainnya. Dan, belum lama ini, Arqiva melakukan penandatangan dengan Wireless Logic sebagai reseller pertamanya.

    Vodafone, sebagai operator utama di Inggris dan Jerman, menjadi pemain terdepan dalam mengembangkan NB-IOT tech. Sudah melakukan kemitraan dengan pemasok seperti Huawei, dan juga menjadi anggota pendiri serta ketua Forum NB-IOT. Alasannya utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Di mana, ke depan ada pasar yang sangat besar. Seperti memenuhi kebutuhan pemerintah untuk melakukan smart metering. Dan operator harus melakukan sesuatu untuk itu. Sedangkan saat ini, pilihan teknologi yang ada tidak banyak. Jadi, wajar jika non- cellular network ini digunakan.

    Alasan lainnya adalah operator melihat bahwa NB-IOT dan yang 2G setara EC-GSM menawarkan lebih banyak kontrol dan kinerja yang lebih baik. Namun, ketika melihat kebutuhan akan kecepatan maka kecepatan yang ditawarkan oleh 3GPP telah berpindah ke standarisasi dengan varian low power dalam satu tahun terakhir ini.

    Menjawab pertanyaan dari TMN, Eric Parsons dari Ericsson mengatakan bahwa operator telah menginvestasikan dananya untuk non- cellular Low Power Wide Area (LPWA) karena sampai sekarang baru teknologi itu yang tersedia. “Teknologi ini ada dan kebutuhan sudah mendesak sehingga wajak jika bisnis tersebut direalisasikan secara positif. Hal itu yang membuat komunitas 3GPP langsung menanggapi solusi tersebut untuk jangka panjang.

    Lebih lanjut, Eric menambahkan bahwa “Operator dapat mengambil jaringan yang mereka miliki saat ini dan hanya mengaktifkan kemampuan dalam jaringan dengan grid yang sudah ada, sungguh sebuah langkah aktivasi yang sangat sederhana. Penyebaran pun dapat dilakukan dengan cepat. Ini menjadi aspek yang penting,”

    Nokia mengatakan bahwa interoperabilitas dan ketersediaan ekosistem di mana pengembang dapat membangun aplikasi akan menjadi keuntungan inti untuk IOT seluler. “Kami harus menunjukkan pada pelanggan kami bahwa ini adalah pilihan yang tepat atas teknologi lainnya, sehingga harus menunjukkan ekosistem yang luas, dan menunjukkan interoperabilitas,” ujar Eric menambahkan.

    Namun, dengan adanya Non-cellular IoT ini tidak semua setuju. Nokia misalnya, melihat bahwa kehandalan dari IoT seluler penggunaan spektrum berlisensi. Seperti yang diungkapkan oleh Ulrich Dropmann dari Nokia yang mengatakan bahwa ada salah satu pengembang yang mendapatkan komplain dari perusahaan karena peralatannya berhenti bekerja beberapa hari setelah ada ‘site’ yang dibangun di dekat kantornya dan menggunakan ISM band yang sama. Hal ini perlu dihindari karena jika menggunakan spektrum yang berlisensi maka kasus tersebut tidak akan terjadi. “Operator itu perlu menjaga kehandalan dan keamanan dari layanan yang diberikan,” sahut Ulrich menjelaskan.

    Tentu saja ada beberapa rencana besar untuk membangun IoT seluler. Seperti yang diungkapkan oleh Huang Yuhong, Deputy General Manager China Mobile Research Institute. Yunghong mengatakan bahwa China Mobile akan memiliki penyebaran pada akhir 2016, dengan “sangat besar” dan akan dikomersialkan pada tahun 2017. Lalu, Yunghong juga menjelaskan bahwa tahun 2020, akan ada 10 miliar perangkat IoT seluler di Cina. China Mobile sendiri pun berharap bahwa pada skala tertentu, akan sangat membantu mendewasakan pasar untuk semua orang.

    China-MObile-vision

    Untuk itu perlu melakukan pergerakan yang cepat. Operator menginginkan chipset yang terintegrasi pada stadar API yang rencananya akan siap dikomersialkan pada akhir 2016. Dengan demikian akan memberikan kemudahan bagi operator untuk menyelaraskan semuanya.

    Tentu hal itu menjadi tantangan bagi Semtech dan orang-orang di LoRa camp, dan juga untuk Sigfox, untuk sigap memanfaatkan 12 – 18 bulan yang ada untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin. Kemudian mempertahankan karena akan ada ‘serangan’ dari standar teknologi spektrum berlisensi.

    Saat ini, tantangan bagi teknologi spektrum berlisensi adalah membangun manfaat sebenarnya dari ekosistem 3GPP. Di mana akan ada standarisasi dengan spesifikasi baru. Tetapi banyak juga kalangan yang melihat lebih tegas. Apakah mau memilih selular atau non selular, operator pasti akan mendapatkan keuntungan. Terutama dari fleksibilitas yang ditawarkan pada pasar mereka.

    Lagi pula, yang terjadi pada era IoT itu adalah memperebutkan pasar yang sangat besar. Bayangkan saja, miliaran device akan saling terhubung pada era itu. Demikian juga variasinya yang banyak. Jadi, operator dapat lebih santai memilih teknologi yang akan digunakan. Namun, berbeda dengan Vodafone dan China Mobile yang melihat bahwa kebutuhannya sudah sangat mendesak sehingga perlu membawa standar seluler untuk LPWA IoT ke pasar sekarang. (Icha)

  • Singtel Tunjuk Ericsson Gelar 4G LTE Untuk IoT

    Singtel Tunjuk Ericsson Gelar 4G LTE Untuk IoT

    Telko.id – Singtel dan Ericsson mengumumkan kerjasama untuk menggelar jaringan 4G LTE yang akan mendukung pertumbuhan yang cepat dari perangkat yang terhubung (IoT). Kolaborasi ini akan dimulai dengan percobaan teknologi Narrow Band Internet of Things (NB-IOT) yang akan dimulai pada paruh kedua 2016.

    NB-IOT adalah solusi telekomunikasi yang akan memungkinkan cakupan layanan yang lebih luas dan perangkat yang lebih ringkas, yang akan membuat SingTel dapat mendukung penggunaan IoT baru dilokasi seperti Smart Cities, utilitas dan lingkungan. Jaringan 4G LTE dari Singtel ini sudah mendukung untuk low-cost category 1 (Cat-1) devices, yang dibangun untuk aplikasi IoT.

    “Konektivitas IoT menjadi bagian penting dari perusahaan-perusahaan besar di Singapura dan mendukung program Smart Nation dari pemerintah Singapura. Kami mengantisipasi pertumbuhan permintaan untuk menghubungkan banyak sensor dan perangkat dengan cara yang hemat biaya,” ujar Tay Soo Meng, Group Chief Technology Officer, Singtel menjelaskan.

    Lebih lanjut, Tay juga menjelaskan bahwa dengan fokus pada kemampuan hemat daya di jaringan akan memberikan manfaat efisiensi energi untuk ekosistem IoT. Jadi, setidaknya, daya tahan hidup baterai bisa mencapai 10 tahun. Dengan pengenalan awal dari perangkat IoT bertenaga rendah, maka Singtel juga akan selangkah lebih dekat untuk tujuan 5G, di mana perangkat baru dan teknologi sensor dapat memanfaatkan konektivitas jaringan untuk memberdayakan berbagai kasus penggunaan, seperti pencahayaan dan konektivitas kendaraan-ke-infrastruktur.

    “Singtel terus mengejar teknologi terkemuka dengan Ericsson –sebagai bagian dari program kemitraan 5G kami. Ericsson adalah salah satu pemimpin dalam mengeksplorasi teknologi baru seperti LTE-M dan NB-IoT, membuka jalan menuju connected eco-system baru dan kami sangat senang untuk bekerja sama dengan mereka untuk terus memberikan solusi inovatif untuk pasar kami,” ujar Tay menjelaskan.

    IoT adalah segmen yang tumbuh pesat dan, menurut Ericsson Mobility Report, 28 miliar perangkat yang terhubung diharapkan terjadi pada tahun 2021, dimana lebih dari 15 miliar akan terhubung M2M dan perangkat elektronik konsumen. Dukungan untuk Machine Type Communication yang masif juga menjadi salah satu aspek penting yang dimungkinkan oleh network eco-system generasi ke-lima.

    Kemampuan baterai jangka panjang menjadi prasyarat bagi sejumlah besar perangkat IoT, yang mendukung penyebaran lapangan dengan kebutuhan daya dan pemeliharaan yang minimal. Hal ini dimungkinkan untuk mengaktifkan lebih dari 10 tahun hidup baterai pada jaringan LTE yang ada. Kemampuan penghematan daya memungkinkan perangkat untuk memasuki mode deep sleep baru dan ideal untuk perangkat yang hanya perlu menghubungi jaringan sekali per jam atau bahkan kurang secara berkala.

    “IoT adalah pasar yang baru muncul dan kami senang untuk bekerja dengan Singtel untuk meningkatkan jaringan mereka untuk mendukung adopsi IoT. Bersama-sama kita akan terus mengeksplorasi teknologi IoT masa depan seperti Cat-M dan NB-IOT yang menjanjikan untuk mengurangi biaya perangkat dan meningkatkan cakupan dan daya tahan baterai lebih jauh. Contoh aplikasi yang dapat memanfaatkan teknologi ini adalah suhu, kualitas udara dan sensor banjir,” ujar Sam Saba, Region Head, Ericsson South East Asia & Oceania, menjelaskan. (Icha)