Tag: Mastel

  • 11 Temuan Mastel, Dari Trafik Data, IoT Sampai Adopsi 5G

    11 Temuan Mastel, Dari Trafik Data, IoT Sampai Adopsi 5G

    Telko.id – Mastel beberapa waktu lalu melakukan Focus Group discussion terkait dengan kondisi teknologi dan telekomunikasi Indonesia tahun ini dan dampaknya di tahun depan. Hasilnya ada 11 temuan yang disampaikan dalam Dialog Mastel Menuju 2021. Apa saja temuannya?

    Salah satu yang dikemukan dari 11 temuan Mastel tersebut adalah operator tidak disarankan untuk terburu-buru mengadopsi teknologi 5G. Walaupun adopsi 5G ini sudah dimulai di beberapa negara.

    “Implementasi 5G ini membutuhkan sumber daya yang besar, sehingga tahun 2021, perlu dipertimbangkan untuk penggelaran dalam area dan ruang lingkup yang terbatas. Misalnya, kawasan industri terlebih dahulu, sembari mengembangkan ekosistem nasional infrastruktur 5G secara sharing dan open. Jadi tidak usah terburu-buru,” ujar Teguh Prasetya, Ketua Bidang Industri 4.0 Mastel, Kamis, 10 Desember 2020.

    Selain 5G, temuan Mastel lainnya adalah terkait lonjakan konsumsi data berbanding terbalik dengan harga jualnya.

    Menurut Teguh, operator harus mewaspadai beban investasi agar bisa terus beroperasi secara berkelanjutan. “Tahun depan, diprediksi bisnis telekomunikasi di Indonesia masih tumbuh 5,3 persen,” ungkap Teguh.

    Dalam temuan tersebut, Mastel juga menyebutkan bahwa ketentuan infrastruktur sharing sangat ditunggu. Alasannya, infrastruktur Sharing perlu ditingkatkan karena bisa menghemat Opex dan Capex sampai 40 persen.

    Terlebih, potensi market di tahun mendatang itu adalah di luar Pulau Jawa. Ada lebih dari 70 juta penduduk di Indonesia yang belum bisa mengakses internet. Sebagian dari mereka berada di luar Pulau Jawa yang sebagian masih menggunakan jaringan 2G hingga tak ada jaringan sama sekali.

    “Ini menjadi pasar potensial untuk bisa digarap di tahun 2021 secara lebih serius, meski diperlukan skema yang pas karena wilayah ini mungkin saja memenuhi kriteria wilayah USO,” kata Teguh.

    Temuan lainnya yang dipaparkan Mastel antara lain:

    • Peningkatan aktivitas online selama pandemi diprediksi bakal terus berlanjut di 2021. Aktivitas belanja online, yang sebelum pandemi didominasi kebutuhan sekunder, saat ini bergeser ke kebutuhan primer. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semata, tetap juga untuk kesenangan.
    • Membuka lapak di ecommerce menjadi salah satu kunci bagi UMKM mengatasi pandemi. Pada 2021, diprediksi akan semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan channel ini mengingat saat ini baru 2 juta UMKM yang memanfaatkannya, dari total 55 juta UMKM di Indonesia.
    • Perangkat Internet of Thimgs (IoT) kian banyak dimanfaatkan di masa pandemi. Tren teknologi perangkat berbasis IoT diperkirakan hingga 2022 CAGR mencapai 159 persen per tahun dengan besaran Rp355 triliun.
    • Sepanjang 2020. banyak investasi yang terhambat akibat pandemi. Tahun 2021 menjadi momen krusial untuk kembali mengejar target penggelaran fixed broadband di Indonesia dengan target 15-17 persen dari total jumlah rumah tangga di Indonesia.
    • Selama bertahun-tahun, industri perangkat dalam negeri tertekan oleh brand asing. Kebijakan TKDN perlu evaluasi, dan strategi pelaksanaannya perlu terus disesuaikan agar ekosistem industri perangkat digital nasional bisa ditumbuhkembangkan melalui pelaku bisnis lokal, sehingga potensi 2021 sebesar 30 juta perangkat baru akan berdampak besar untuk kemajuan ekosistem industri perangkat digital nasional.
    • Aktivitas digital membuat kebutuhan data center di Indonesia berkembang pesat. Diperkirakan 2021 akan tunbuh 120 persen. Kendati demikian, industri cloud computing lokal justru menghadapi persaingan ketat dari para pemain asing sehingga patut dikembangkan kolaborasi global yang menguntungkan para pihak.
    • UU Cipta kerja menjadi sinyal penting dari pemerimtah untuk mendorong dan melindungi industri telekomunikasi. Mulai dari infrastruktur sharing, adanya penetapan tarif batas atas dan bawah paket data, peran serta pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung, mendorong penggelaran jaringan telekomunikasi serta analog Switch Off, maksimal 2 tahun, bakala membawa perubahan besar di sektor industri ICT Indonesia di tahun 2021.

    Oleh karena itu, Teguh memaparkan bahwa Mastel memiliki saran dan rekomendasi untuk perbaikan industri di masa mendatang. Beberapa saran dan rekomendasi Mastel adalah,

    1. Membentuk sinergi dan harmoni antara pemerintah dengan dunia usaha agar terbangun ekosistem industri dan tata kelola pemanfaatan teknologi ICT untuk transformasi digital dan mendorong recovery pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih pesat.
    2. Satu di antara langkah nyata adalah memuat langkah nyata rencana investasi penggelaran jaringan ICT oleh para pelaku industri dalam dokumen RPJMN, dengan sumber pendanaan swasta maupun APBN, oleh Bappenas dan Kemenko Perekonomian.
    3. Indonesia perlu memiliki strategi kemitraan global dengan para raksasa teknologi, baik platform, apps maupun OTT sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia dalam kerangka ekonomi digital yang sesuai dengan potensi pasar Indonesia.
    4. Indonesia perlu melakukan penataan kembali topologi jaringan internet Indonesia, termasuk internet international gateway dan DC/DRC, pembagian peran bagi BAKTI dan para penyelenggara ICT.
    5. Kebutuhan SDM Digital serta pola pemenuhan kebutuhannya perlu disusun di setiap sektor dengan jenjang kompetensi yang relevan, beserta rencana program pembinaan dan pembiayaannya.

    (Icha)

  • MASTEL Bangun platform Digital Academy Bersama Zettagrid Indonesia

    MASTEL Bangun platform Digital Academy Bersama Zettagrid Indonesia

    Telko.id – Bangun ekosistem digital memang tidak bisa sendirian. Harus banyak pihak yang ‘keroyokan’ untuk membangunnya. Apalagi untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dan inovatif dalam menyongsong era industri 4.0 dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.  Itu sebabnya, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) akan membangunplatform Digital Academy Bersama Zettagrid Indonesia.

    Platform ini disediakanuntuk seluruh masyarakat yang berminat meningkatkan kompetensi di bidang Digital Skill & Knowledge. Platform e-learning yang dikembangkan di-adopt dan di-adapt dari paket-paket program Digital Talent Scholarshipdari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

    Reza Alvin, Country Manager Zettagrid Indonesia mengatakan, “Zettagrid Indonesia berkomitmen untuk selalu menjadi yang terdepan dalam memberikan solusi IT bagi masyarakat Indonesia dengan menyediakan infrastruktur IT yaitu Cloud. Kali ini kami sedang mendukung program pembinaan SDM Digitaldari MASTELDigital Academy (MDA).”

    “Infrastruktur IT Cloud dari Zettagrid akan membantu MASTEL dalam membangun dan menempatkan platform Digital Academy yang nantinya akan digunakan masyarakat Indonesia untuk mengikuti e-learningplatform tersebut,” jelas Reza.

    “Melalui kerjasama ini, MASTEL ingin turut serta meningkatkan kompetensi SDM Digital Indonesia agar lebih siap menyambut era Industri 4.0. Dengan SDM Digital yang mencukupi jumlah dan kompetensinya, untuk semua sektor ekonomi dan sosial, MASTEL berkeyakinan bahwa bonus demografi akan dapat terjadi,” ungkap Arki Rifazka, Direktur Eksekutif MASTEL.

    Zettagrid sendiri rencananya akan memberikan dukungan infrastruktur cloud yang tentu sangat mendukung operasional platform digital academy yang sedang MASTEL kembangkan.

    Manfaat Platform Digital Academy

    Platform e-learning dan sertifikasi Digital Academy disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan memfasilitasi pemagangan bagi lulusan Program Digital Talent Scholarshipyang diselenggarakan Kementerian Kominfo RI.

    Melalui e-learning dalam platform https://digitalacademy.id/  ini, para peserta program akan mendapat kesempatan untuk mempelajari modul-modul seperti Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtualdan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding.

    Selain itu, platform ini akan menjadi penghubung bagi para lulusan Program Digital Talent Scholarship dari Kemkominfo dan lulusan digitalacademy.id MASTEL untuk mendapat peluang magang ataupun recruitment di perusahaan-perusahaan anggota MASTEL dan mitra-mitra lain. (Icha)

     

  • Mastel: Indonesia Harus Punya Peran Besar di Era 5G

    Mastel: Indonesia Harus Punya Peran Besar di Era 5G

    Telko.id – Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta memang menjadi pasar yang mengiurkan bagi setiap produsen. Termasuk juga produsen teknologi. Apalagi, tidak lagi akan masuk teknologi 5G yang kabarnya merupakan teknologi baru yang membuat operato harus banyak mengganti perangkatnya. Tapi, apakah Indonesia hanya jadi pasar saja. Mampu kah Indonesia memiliki peran lebih banyak?

    Memang, teknologi 5G ini masih belum ada standart baku nya. Masih digodok terus. Targetnya baru pada 2019 standar internasional akan keluar. Dan yang paling cepat akan mengimplementasikan teknologi ini adalah Jepang yang rencananya pada 2020.

    Indonesia sendiri masih belum yakin kapan mengimplementasikannya. Masih banyak factor yang dipikirkan sampai akhirnya diputuskan untuk menggunakan 5G.

    “Kita jangan gagap teknologi. Bukannya mau jadi late adopter, tapi rational adopter,” kata Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), usai seminar bertajuk “5G: Policy, Technology, and Regulatory Perspective”, di Mercantile Athletic Club, WTC 1, Jakarta.

    “Sebaiknya kita lihat dulu negara-negara lain. Biarkan mereka adopsi lebih awal supaya kita bisa belajar dan lebih siap,” ia menambahkan.

    Adapun kesiapan yang dimaksud bukan cuma dari segi teknologinya, namun juga kesiapan industri, regulasi, dan ekosistem masyarakat. Basuki mencontohkan jika masyarakat belum siap, maka implementasi 5G tak akan dimanfaatkan secara maksimal.

    “Teknologi itu bagus kalau orang mengerti. Kalo hanya mengerti setengah-setengah, masyarakat nggak produktif,” kata dia.

    Basuki juga menambahkan bahwa regulasi terkait implementasi 5G tengah didiskusikan bersama dengan berbagai pihak. Menurut dia, dampak sosial dari 5G akan lebih kompleks ketimbang 4G LTE karena kemampuannya memicu lebih banyak kemunculan disruptive technology.

    “Kalau pas 4G kan ada kasus Uber itu hanya satu sektor. Nanti 5G dampaknya lebih problematik. Makanya persiapan ke sana harus lebih matang,” ia menjelaskan.

    Hal ini disepakati penasihat Indonesia 5G Forum, Kalamullah Ramli, pada kesempatan yang sama. Ia mengatakan 5G adalah teknologi yang tak bisa dibendung namun harus disertai regulasi yang kokoh agar tak kecolongan.

    Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi, Kristiono, aturan-aturan seperti TKDN dan pajak perlu diperdalam lagi sebelum era 5G masuk,” ujarnya.

    “Indonesia pasti mampu memiliki peran besar di 5G nanti. Adanya aturan TKDN yang saat ini berlaku untuk 4G menjadi cikal bakal nantinya ekosistem 5G terbentuk di Indonesia. Asal, pemerintah berpihak pada produsen dalam negeri,” kata Kristiono, menambahakan.

    Kristiono juga Menuturkan jika pun produsen Indonesia belum mampu maka harus ada aturan untuk produsen yang akan mengimport barang teknologi 5G harus bekerjasama atau memiliki partner lokal. (Icha)

     

  • Ayo Laporkan Berita Menyesatkan Lewat Aplikasi Turn Back Hoax

    Ayo Laporkan Berita Menyesatkan Lewat Aplikasi Turn Back Hoax

    Telko.id – Berita yang menyesatkan di media sosial sangat menjamur dimasyarakat. Bahkan Presiden Jokowi sampai gerah. Kita sebagai masyarakat kiranya perlu berpartisipasi aktif agar berita hoax tidak menyebar luas dan meresahkan. Caranya dengan menggunakan aplikasi Turn Back Hoax.

    Aplikasi ini dikembangkan oleh para pengembang aplikasi yang tergabung di Komunitas Masyarakat Anti Fitnah. Tujuan utama dari dibuatnya aplikasi ini adalah untuk membantu netizen Indonesia agar dapat mengenali berita hoax.

    Aplikasi Turn Back Hoax ini juga menempel pada aplikasi MASTEL yang memang didesain untuk mampu mengoleksi data-data dari segala bentuk informasi yang tidak benar atau hoax yang saat ini tengah banyak ditemukan di internet. Sementara aplikasi ini memiliki basis crowdsourcing (urun daya), karena dikembangkan oleh perorangan atau organisasi secara massal.

    Saat ini aplikasi tersedia dalam bentuk ekstensi untuk peramban Chrome. Apabila pengguna telah memasang aplikasi ini, maka ia akan dapat menggunakan akun Facebooknya untuk masuk kedalam aplikasi dan ketika menemukan konten yang mencurigakan bisa segera melakukan pelaporan.

    Konten tersebut bisa saja seperti halaman situs, gambar, dan juga pesan berantai yang biasanya sering ditemukan di jejaring media sosial seperti Facebook, Twitter dan lain-lain. Melalui aplikasi, pengguna juga memberikan informasi atau keterangan kenapa konten tersebut dicurigai sebagai hoax.

    Semua laporan yang masuk akan dihimpun dan bisa dicek melalui situs yang beralamat di data.turnbackhoax.id. Para pengguna lain juga bisa memberikan komentar mereka terhadap konten yang bermuatan hoax tersebut.
    Diharapkan dengan adanya aplikasi Turn Back Hoax, kedepannya Turn Back Hoax bisa dijadikan sebagai referensi dalam melakukan pengecekan terhadap segala bentuk informasi yang ditemukan di internet.

    “Sebagaimana layaknya sebuah aplikasi crowdsource, Turn Back Hoax mengandalkan partisipasi masyarakat guna melaporkan setiap berita fitnah dan hoax,” jelas Juru Bicara Mastel teguh Prasetya.

    Disamping itu, data yang berhasil dikumpulkan bisa juga digunakan dalam memudahkan sebuah proses untuk mencari tahu cara kerja sebuah berita hoax, sehingga bisa dilihat pergerakannya dan juga mengenali para pelakunya serta perangkat yang mereka gunakan.

    Selain dalam bentuk ekstensi Chrome, para pengembang aplikasi juga tengah membuat aplikasi mobile yang nantinya dapat dipasang di ponsel pintar Android dan juga iOS, sehingga semakin memudahkan para pengguna melakuka pelaporan. Sementara untuk datanya nanti dapat diakses baik melalui komputer, notebook, dan ponsel pintar.

    “Nantinya, laporan tentang berita hoax ini akan disampaikan ke Kominfo sebagai executor, ” tutup Teguh. (Icha)

  • MASTEL Bicarakan Interkoneksi

    MASTEL Bicarakan Interkoneksi

    Telko.id – Polemik penurunan tarif interkoneksi yang menjadi isu hangat beberapa pekan kebelakang seakan memecah persatuan operator seluler di Indonesia.

    Seperti diketahui, rencana penurunan tarif yang dimulai pada awal September ini menuai berbagai pro dan kontra dari para pemangku kepentingan. Telkomsel yang notabene menjadi operator BUMN secara tegas menolak penurunan tarif ini karena dianggap dapat merugikan negara hingga miliaran rupiah.

    Sementara itu, dari pihak operator seluler lainnya justru menyetujui penurunan ini karena dapat memberikan efisiensi bagi mereka ketika melayani panggilan offnet ke operator lainnya.

    Lantas, bagaimana menurut pandangan MASTEL? Ditemui pada salah satu acara di Jakarta(29/8), Ketua Umum MASTEL Kristiono mengungkapkan jikalau perubahan tarif ini merupakan proses reguler yang kerap dilakukan dan tidak perlu ada ribut-ribut.

    “Menurut saya interkoneksi itu adalah suatu proses reguler yang dilakukan adjustment setiap tahun dilakukan penyesuaian, kenapa dilakukan penyesuaian itu karena faktor dari interkoneksi itu ada beberapa hal termasuk dari luasnya coverage operator itu sendiri. Kaitannya dengan opec dan policy goverment yang punya policy tertentu dan tujuan tertentu pula,”.

    Lebih lanjut, Ia juga menegaskan jikalau perubahan tarif interkoneksi bukan kali ini saja terjadi.

    ” Bukan kali ini saja soal interkoneksi ini dilakukan perubahan. Interkoneksi itu setiap tiga tahun dilakukan perubahan dan tidak pernah ada polemik. Jadi begini artinya, interkoneksi itu sebenarnya sudah ada formulanya, data-data yang diperlukan setiap operator juga ada, policynya juga ada dari pemerintah yang berubah setiap periode.Jadi sebenarnya dengan formula yang ada, data-data yang diperlukan sudah jelas, harusnya ada mekasisme resolusi untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan,” tambahnya.

    Disinggung mengenai ribut-ribut antar operator, Ia menjawab bahwa setiap operator pasti memiliki banyak kepentingan yang berbeda.

    “Begini, perbedaan itu selalu ada ya wajar, karena setiap operator punya kepentingan masing-masing dan tujuan masing-masing. Nah, Pemerintah ini kan harusnya menjadi jembatan masing-masing operator dan disepakati yang menguntungkan semuanya. Baik operator maupun pemerintah, agar industri semakin baik dan masyarakat diuntungkan,” jawabnya.

    “Mungkin ada benefit yang lebih dan operator nantinya juga mampu untuk terus tumbuh. Jadi ini sebenarnya bukan suatu yang baru, perbedaan itu wajar, biasanya selalu ada resolusi untuk menjembatani itu semua dan itu kan dilakukan oleh pemerintah, karena domainnya ada di pemerintah. Jadi ini hanya proses saja,” tutupnya.

  • Indonesia ICT Summit 2016 Siap Digelar

    Indonesia ICT Summit 2016 Siap Digelar

    Telko.id – Indonesia ICT Summit 2016 segera di gelar, untuk tahun ini, Indonesia ICT Summit 2016 memiliki tiga tema besar yakni Broadband, Broadcasting Digital serta Wirelles Broadband.

    “Dalam pameran ini akan hadir berbagai exibitor dari berbagai sektor seperti IoT, Networking, IT Solution Provider, cloud hingga Big Data,” ujar Ben Wong, Presiden Direktur PT. Pamerindo Indonesia pada Jumpa Media di Jakarta (29/8).                   

    “Dalam event ini, kita akan mengundang 120 pembicara dari berbagai belahan dunia. Seperti Telkom Indonesia, IBM, hingga Iflix dan akan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla,” tambahnya.

    Sementara itu, Kristiono selaku ketua umum MASTEL menegaskan bahwa Event ini merupakan dua kombinasi event yang saling berkolaborasi.

    “Dimana ICT Summit yang memiliki tiga tema besar yakni broadband dan IoT yang menjadi isu yang sangat sentral dalam industri ini, Broadcasting Digital dan wirelles broadband,” ungkapnya.

    Kristiono menambahkan, outlook industri ICT untuk semester kedua akan merepresentasikan rencana Kominfo untuk efisiensi industri telekomunikasi, TKDN dan pengembangan wirelles broadband.

    Seperti diketahui, Broadcasting juga menjadi isu hangat di industri telekomunikasi, pasalnya dengan kecanggihan broadband yang mulai meningkat di Indonesia, tentu akan mengkonversi siaran televisi analog ke digital serta konten digital yang semakin inovatif.

    Sementara untuk wirelles broadband juga tidak kalah seru, dengan rencana perubahan PP Nomor 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan perubahan terhadap PP Nomor 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, akan sangat memungkinkan hadirnya operator dengan model MVNO.

    Lebih lanjut, Ismail MT perwakilan Kominfo mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan yang dapat meningkatkan industri ini. Ia juga menegaskan, kominfo sendiri memiliki rencana yang sejalan dengan summit ini yakni Broadband, Digitalisasi Broadcasting dan internet.

    “Ada tiga pilar yang sangat penting yang saling terkait dan mempengaruhi industri ICT dan Broadcasting yakni Regulasi, pemilik modal dan Broadband,” ujar Ismail.

    Kegiatan ini akan berlangsung pada tanggal 31 Agustus hingga 3 September yang bertempat di Jakarta International Expo, Kemayoran.

    Kegiatan ini juga akan diikuti oleh 264 peserta pameran yang berasal dari 28 negara di dunia. Dalam event ini juga akan ada kegiatan Commune Indonesia Showcase dan Broadcast Indonesia.

  • ZTE Ajak Stakeholder Percepat Implementasi 5G

    ZTE Ajak Stakeholder Percepat Implementasi 5G

    Telko.id – Salah satu penyedia layanan broadband dan solusi teknologi enterprise ZTE bersama dengan MASTEL mengajak para pemangku kepentingan seperti Kemkominfo, Kemenperin, serta para operator untuk duduk bersama guna mempercepat pengimplementasian dari teknologi internet generasi kelima atau 5G.

    Kegiatan ini juga disinyalir sebagai salah satu ajang dari ZTE untuk menjaring para klien mereka yakni beberapa operator besar agar menggunakan layanan infrastruktur dari perusahaan asal Tiongkok ini.

    Sebagai informasi, topik mengenai 5G ini dirasa terlalu dini untuk dibahas. Sebab, Pemerintah maupun beberapa operator besar di Indonesia baru saja menyelesaikan proses refarming 4G di frekuensi 1800 Mhz dan baru memulai menyelenggarakan layanan generasi keempat ini.

    “Menyadari manfaat perluasan pita lebar untuk perokonomian Indonesia, ZTE berinisiatif untuk memfasilitasi diskusi antara para pelaku bisnis telekomunikasi dan pemerintah untuk membahas teknologi terbaru, yaitu jaringan 5G,” jelas President Director PT ZTE Indonesia, Mei Zhonghua. Menurutnya, dengan diadakannya acara ini, ZTE berharap agar terciptanya sebuah pemahaman mengenai teknologi 5G serta berbagai solusi yang dapat dilakukan untuk mempercepat penerapan teknologi ini.

    Hal senada juga diucapkan oleh Kristiono selaku Ketua Umum Mastel. “Kita harus terus mengikuti perkembangan teknologi untuk bisa memperoleh kemanfaatan yg lebih baik, namun yang menjadi persoalan adalah kita tidak boleh melihat teknologi sekedar teknologi, tapi harus bisa melihatnya dari perspektif yang lebih luas, ” ucapnya kepada tim Telko.id

    Ia juga menambahkan apapun teknologinya harus memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas seperti memiliki akses untuk menjangkau teknologi tersebut serta menghadirkan layanan tersebut dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan.

    Teknologi 5G ini sejatinya dapat memberikan beberapa keuntungan lebih, seperti jumlah koneksi yang lebih besar, kapasitas 1000 kali lebih besar, throughput 10 kali lebih cepat, dan latency yang lebih rendah bila dibandingkan dengan teknologi 4G.

    ZTE juga sejatinya telah memiliki solusi untuk mendukung jaringan super cepat generasi kelima ini. Sebuah perangkat yang diberi nama Massive MIMO, perangkat ini sejatinya dapat meningkatkan level akses kapasitas jaringan secara menyeluruh dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada.

    Massive MIMO milik ZTE dirancang dengan memperhatikan ukuran, berat, biaya, rancang-bangun, dan instalasi yang tepat untuk penggunaan komersial. Massive MIMO mentransmisikan data steam yang lebih independen antara sistem dan perangkat user untuk menaikkan efisiensi spektrum. Pada simulasi pra-komersial, Massive MIMO dapat mengintegrasikan 128 antena (64 saluran independen) yang dapat menghasilkan kecepatan troughput 6 sampai 8 kali lebih besar, perangkat ini juga menjadi salah satu bagian inti dari penerapan jaringan 5G.

    Sementara itu Menteri Kominfo, Rudiantara mengatakan bahwa saat ini pemerintah baru saja menyelesaikan proses refarming 4G di frekuensi 1800 Mhz dan proses refarming belum sepenuhnya selesai. “Hal ini dikarenakan masih ada kemungkinan untuk melakukan refarming pada frekuensi 2100 Mhz dan kami masih berkonsentrasi untuk menyelesaikan hal tersebut,” jelas Rudiantara.

    Pria yang akrb disapa Chief RA ini menambahkan, saat ini yang menjadi fokus Kominfo serta para operator adalah bagaimana menyelenggarakan Carier Agregation pada 4G yang tentunya akan lebih meningkatkan kecepatan dan kualitas internet 4G di indonesia.

    Kominfo sejatinya tidak menutup pintu untuk setiap teknologi baru, hanya saja untuk saat ini pembahasan mengenai 5G dirasa belum saatnya, karena belum adanya bisnis model untuk jaringan internet generasi kelima ini.

    Sekiranya, penerapan jaringan 5G di Indonesia baru akan dibicarakan pada lima tahun mendatang karena ekosistem dari 4G seperti device dan application  belum sepenuhnya lengkap. (AK/HZ)