spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 998

Tak Hanya Jaringan, XL Axiata pun Siapkan Solusi dan Simcard Khusus NB-IoT

0

Telko.id – Untuk menumbuh kembangkan bisnis di Internet of Things, tidak bisa dilakukan sendirian. Itu sebabnya, XL selain sudah siap dengan jaringan berbasis teknologi Narrowband IoT (NB-IoT) di 31 kota, operator ini pun siap melayani kebutuhan pasar korporasi dan UKM akan solusi IoT secara end to end dan customizesolusi untuk siap masuk ke industri 4.0.

XL pun tidak bekerja sendirian. Berbagai ekosistem pendukung seperti penyedia perangkat, platform, system security hingga perguruan tinggi dan institusi pendidikan terkait, serta komunitas yang memiliki minat melakukan riset dan pengembangan di bidang IoT untuk memanfaatkan jaringan NB-IoT pun  dirangkul.

Terlebih, dinamika industri telekomunikasi dan data serta teknologi digital sangat pesat kemajuannya sehingga XL pun harus menyesuaikan secara terus menerus dan berkesinambungan. Dan, layanan IoT ini memiliki masa depan yang menjanjikan. Baik untuk korporasi maupun UKM.

“Merespon hal tersebut kami terus memperkuat ekosistemnya, salah satunya dengan meluncurkan secara komersial penyediaan kartu perdana khusus NB-IoT, jaringan di 31 kota dan solusi NB-IoT secara end to end dan customize, yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh ekosistem yang membutuhkan,” ungkap Feby Sallyanto,Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata saat peluncuran jaringan NB-IoT dan solusinya di Jakarta (25/09).

Feby menambahkan, upaya pengembangan ekosistem NB-IOT ini, XL Axiata juga menjalin kerja sama dengan beberapa pihak seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perindustrian.

Selain itu XL Axiata juga sudah menjalin kerja sama dengan mitra lain seperti penyedia perangkat, platform, system security yang sudah teruji. Bagi kalangan pendidikan, jaringan NB-IoT ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang perangkat IoT baik dari pelajar/mahasiswa, juga industri di setiap kota yang telah terkoneksi.

Ke-31 kota/kabupaten tersebut adalah DKI Jakarta, Bogor, Bandung, Purwakarta, Majalengka, Cimahi, Cirebon, Tasikmalaya, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Mojokerto, Denpasar, Mataram, Medan, Binjai, Lhoksumawe, Lubuk Linggau, Padang, Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, Bengkulu, Banjarmasin, Bontang, Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, Makassar, dan Kendari.

Tidak hanya berhenti di 31 kota, jaringan NB IoT akan terus dikembangkan hingga bisa menjangkau ke seluruh Indonesia.

Secara teknis, jaringan NB-IoT prinsip kerjanya sama dengan teknologi selular secara umum. Hal yang membedakan adalah modul komunikasi yang ada pada perangkat IoT yang hanya dapat bekerja pada jaringan NB-IoT pada frekuensi 900 MHz (band 8).

Dengan menggunakan frekuensi yang rendah, jaringan NB-IoT dengan LPWA (Low Power Wide Area), artinya daya yang digunakan perangkat untuk berkomunikasi dengan jaringan sangat kecil namun cakupan jangkauannya sangat luas, sehingga jaringan tersebut lebih efektif dan efisien, dibandingkan dengan jaringan selular lainnya untuk use case IoT yang tidak membutuhkan bandwidth besar.

Dengan menggunakan NB-IoT, sebuah perangkat IoT juga dapat bertahan hingga 10 tahun dengan menggunakan baterai. Selain itu, perangkat pemancarnya dapat mencakup radius lebih dari 10 kilometer dan menggunakan infrastruktur telekomunikasi yang aman dan terintegrasi.

Jaringan NB-IoT milik XL Axiata didukung oleh penyedia perangkat telekomunikasi ternama seperti, Ericsson, Huawei, Cisco, dan beberapa perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi lainnya. Tidak hanya menyediakan layanan koneksi NB-IoT, XL Axiata melalui XL Business Solution juga menyediakan end-to-end solution berbasis teknologi NB-IoT sesuai dengan kebutuhan pelanggannya.

Untuk mendorong korporasi dan UMK menggunakan layanan ini, XL Axiata memberikan promo paket layanan NB-IoT sampai dengan 31 Desember 2019 seharga Rp 15.000,- (sebelum pajak) untuk satu tahun dengan quota 20MB untuk pelanggan korporat.

Selama masa promo, pelanggan layanan NB-IoT dapat menggunakan FlexIoT (IoT Platform full stack XL Axiata) untuk menerima data yang dikirim oleh perangkat NB-IoT dan membangun aplikasi di atas FlexIoT.

Sebagai informasi, pada awal tahun ini, XL Axiata sukses meluncurkan solusi IoT di bidang transportasi dengan product Fleetech yang sudah dinikmati oleh berbagai pelanggan korporat.

Kemudian pada pertengahan kuartal kedua tahun ini, di bidang agriculture, XL Axiata membangun solusi smart poultry dalam rangka digitalisasi industri peternak ayam untuk sebuah korporasi besar di Indonesia. Dalam waktu dekat, XL Business Solution akan memasuki area baru yaitu smart building dengan menggandeng beberapa korporasi ternama.

Jaringan 4G LTE XL Axiata juga terus diperluas, dan saat ini sudah tersedia di 408 kota/kabupaten di berbagai wilayah di Indonesia. XL Axiata juga terus berinvestasi untuk jaringan fiber, transmisi, backhaul, modernisasi jaringan, dan berbagai upgrade jaringan lainnya untuk meningkatkan stabilitas, kapasitas jaringan, dan kualitas layanan data seiring dengan terus meningkatnya trafik layanan data. (Icha)

GoPlay Hadir, Industri Film Indonesia pun Semakin Seru dan Semarak

0

Telko.id – Saat ini dunia perfilman Indonesia sedang lucu-lucu nya dan seru. Bagaimana tidak, jumlah film Indonesia sedang tumbuh terus, dan kualitasnya juga semakin meningkat. Padahal, film Indonesia selalu mendapatkan tekanan juga dari film-film luar. Nah, ditengah keseruannya ini, hadir GoPlay, platform video-on-demand dari GoJek.

Kehadirannya ini seperti mengobati kerinduan masyarakat Indonesia terhadap konten lokal yang berkualitas.

Tingginya antusiasme masyarakat terhadap konten lokal dapat dilihat dari pertumbuhan penonton film Indonesia selama tiga tahun terakhir. Yang meningkat dari 36 juta di tahun 2016 menjadi 46 juta di tahun 2018. Namun, dalam hal rasio penonton film Indonesia terhadap film asing di layar lebar, masih menjadi PR bersama.

Berdasarkan data Pusat Pengembangan (Pusbang) Indonesia, jumlah penonton film di bioskop terus meningkat. Jumlahnya mencapai 100,6 juta, 108,2 juta, dan 129,5 juta sepanjang 2016-2018.

Namun, peningkatan itu justru berbanding terbalik dengan rasio penonton film lokal terhadap total yang menurun. Rasionya sempat naik dari 36% di 2016 menjadi 37% pada 2017. Tetapi rasionya kembali menjadi 36% pada tahun lalu. Itu artinya, penonton Tanah Air lebih banyak membeli tiket film asing di bioskop.

Di sisi lain, akses penonton terhadap hiburan berkualitas masih terbatas. Layar bioskop juga tidak sebanding dengan jumlah populasi. Sehingga, sineas anak bangsa belum bisa menampilkan karyanya dengan optimal.

“Dengan GoPlay, kami berharap dapat menjawab kerinduan tersebut. Para pecinta film dan serial bisa menemukan berbagai konten mulai dari drama romantis, kisah hidup sehari hari, thriller, hingga serial komedi dari komika berbakat tanah air,” ungkap Edy Sulistyo, CEO GoPlay.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fajar Hutomo mengatakan kehadiran GoPlay bisa membuat industri perfilman bisa meningkat karena ruang pengembalian investasi lebih luas. Dengan adanya paltform ini, kesempatan industri film bukan hanya di layar lebar melainkan juga ruang digital.

“Bekraf juga mau mengedukasi investor, dengan kehadiran GoPlay ini membuat investasi perfilman bergairah, karena ruang pengembalian investasinya lebih luas,” kata Fajar usai peluncuran GoPlay, Rabu (26/09/2019).

Dia mengatakan produksi film makin banyak dan penonton makin meningkat, pada 2018 jumlah penonton mencapai 80 juta orang. Rasio pertumbuhan film Indonesia pun naik. Tahun ini saja ada 11 film Indonesia yang penontonnya mencapai 1 juta orang.

Gojek telah meluncurkan GoPlay, sebagai platform video on demand pertamanya. Berbeda dengan platform lainnya, GoPlay memberikan akses lebih luas untuk konten unik dan berkualitas, yang sejalan dengan misi mengoptimalkan industri film di Indonesia. (Icha)

Bisnis Gojek pun Semakin Mengurita Dengan Meluncurkan GoPlay

0

Telko.id – bisnis Gojek semakin hari, semakin menggurita. Terus bertambah unit bisnis lain yang memperkaya layanannya ke masyarakat Indonesia. Kini yang dirambah adalah dunia perfilman. Layanan ini diberi nama GoPlay.

GoPlay merupakan platform video-on-demand. Berbeda dengan platform lainnya, GoPlay memberikan akses lebih luas untuk konten unik dan berkualitas, yang sejalan dengan misi mengoptimalkan industri film di Indonesia. Kehadiran GoPlay memberikan kemudahan bagi para pecinta film dan serial menikmati beragam konten di manapun, kapan pun.

Tidak hanya memberikan angin sejuk bagi para pecinta film dan serial, GoPlay menjadi wadah bagi sineas nasional untuk memperkenalkan karya ke pasar yang lebih luas. GoPlay menyajikan konten yang diproduksi sendiri, yaitu GoPlay Originals, maupun konten eksklusif menarik lainnya.

“Kehadiran GoPlay dapat menjembatani para sineas berbakat dengan jutaan pengguna smartphone di Indonesia yang selalu mencari konten berkualitas. Gojek yang sudah didownload lebih dari ratusan juta kali di Indonesia, telah memiliki pengguna setia yang dapat langsung dijangkau para sineas,” kata Kevin Aluwi, Co-Founder Gojek dalam sambutannya saat peluncuran GoPlay di Jakarta (26/09).

Dia juga berharap GoPlay dapat menciptakan dampak sosial ekonomi yang positif bagi kemajuan ekosistem industri kreatif di Indonesia.

Untuk memanfaatkan layanan GoPlay ini, Anda dapat mengunduh konten dan menikmatinya secara offline dengan kualitas high definition, menggunakan perangkat mobile. Peluncuran layanan GoPlay dalam ekosistem Gojek ini menyusul peluncuran secara beta kepada sejumlah pengguna Gojek bulan Juli lalu.

Para pengguna Gojek maupun pecinta film dan serial di seluruh Indonesia dapat mengunduh aplikasi GoPlay dan menikmati beragam konten berkualitas termasuk produksi GoPlay Originals dan konten eksklusif.

Di tahap peluncuran ini, pengguna memperoleh kemudahan mengakses GoPlay dengan dua cara. Pertama, dengan biaya Rp89.000 dapat mengakses konten GoPlay selama sebulan penuh.Kedua, dengan biaya Rp99.000 dapat menikmati GoPlay sekaligus ongkir GoFood gratis senilai Rp600.000 (60 voucher) selama satu bulan. (Icha)

Industri Kesehatan Indonesia Siap Sambut Ke Teknologi 4.0

0

Telko.id – Tranformasi digital kini sudah mulai masuk ke industri kesehatan. Salah satu yang siap membantu adalah unit bisnis Lintasarta di bidang kesehatan, Owlexa Healthcare. Terutama untuk mempersiapkan peningkatan layanan administrasi kesehatan dengan beragam solusinya yang mengikuti perkembangan teknologi 4.0.

Hal ini disampaikan oleh Indar Siswanto, General Manager E-Health Strategic Business unit Owlex pada seminar kesehatan sekaligus memperingati ulang tahun nya yang ke-4 di Jakarta.

“Dengan pertambahan usia, Owlexa tentu terus melakukan optimalisasi. Kami membantu dalam mengelola kesehatan perusahaan dalam memberikan pelayanan secara optimal kesehatan kepada karyawannya, dengan demikian kita lebih fokus memberikan solusi-solusi kesehatan yang terbaik sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini,” ungkap Indar.

Menurut Indar Siswanto, saat ini Owlexa telah bekerjasama dengan lebih dari 3.800 provider di Tanah Air. Hal ini, katanya, menunjukan komitmen Owlexa dalam mendukung pertumbuhan industri kesehatan sejak diluncurkan pada September 2015.

“Owlexa berperan sebagai Third Party Administration (TPA) dalam memberikan solusi kesehatan sekaligus menjawab kebutuhan perusahaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terbaik dan andal bagi pesertanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, disamping itu Owlexa juga memberikan pelayanan adminsitrasi kesehatan atau Administration Service Only (ASO), serta produk pengelolaan dan pengendalian secara terencana terhadap dana kesehatan karyawan atau Managed Care, dengan sistem pelayanan rujukan dan pola pembayaran kapitasi atau fee for service tanpa mengurangi mutu pelayanan.

Senior Manager TPA Product and Customer Services Owlexa, Tri Rahayu, menambahkan, Owlexa menjaga konsistensi dalam memberikan pelayanan administrasi kesehatan dengan Cepat, Akurat, Responsif, dan Efisiensi sesuai dengan tagline Owlexa yakni CARE. “Ini salah satu yang membuat Owlexa berbeda adalah bisa memantau dana kesehatan secara realtime melalui web report,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut Tri, dengan menjadi bagian dari Unit Bisnis Lintasarta sebagai perusahaan ICT yang telah berpengalaman lebih dari 31 tahun menjadikan Owlexa lebih siap menghadapi geliat teknologi yang terus mengalami perkembangan. “Owlexa memberikan layanan yang terbaik kepada pelanggannya dengan di dukung oleh sistem dan teknologi yang handal serta sumber daya manusia berpengalaman di bidangnya,” ujarnya.

Tri menambahkan bahwa, Owlexa Healthcare memberikan pelayanan tanpa batas, diantaranya memberikan pelayanan terhadap proses administrasi klaim perusahaan atau asuransi mulai dari proses membership, eligibility member, case monitoring, discharge sampai pada proses pembayaran tagihan klaim biaya pengobatan.

“Layanan dan Fasilitas yang diberikan Owlexa di dukung dengan sistem teknologi informasi berbasis web dan siap di integrasikan dengan sistem Hospital Information System (HIS), pelayanan tanpa bayar tunai (Cashless) di jaringan provider, serta sudah memiliki Mesin EDC (Electronic Data Capture) & Web Based sendiri dimana mesin EDC tersebut ditempatkan di lokasi provider yang langsung terhubung ke sistem OWLEXA sehingga dapat melakukan verifikasi data secara online,” tutupnya. (Icha)

 

Pemerintah Bakal Bangun Kalimantan Ring, Seperti Apa Rencananya?

Telko.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyiapkan program baru untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di ibu kota negara (IKN) baru. Namanya Kalimantan Ring. Lelang proyek jaringan ini rencananya dibuka paling lambat 2021.

Menteri Kominfo Rudiantara menuturkan, upaya itu dilakukan untuk menopang kebutuhan internet di IKN baru. Sebab, akan banyak perpindahan masyarakat ke Kalimantan, terutama di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara yang jadi lokasi calon IKN.

“Diperkirakan traffic internet akan meningkat. Karena itu, kita akan buat Kalimantan Ring untuk meningkatkan keandalan infrastruktur telekomunikasi,” papar dia di Nunukan, Kalimantan Utara.

Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak operator terkait rencana tersebut. Meski belum memerinci, pria yang akrab disapa Chief RA itu menegaskan, tender pembangunan bakal dibuka paling lambat dua tahun mendatang.

“Kita bicarakan dengan operator, mau bangun tidak. Tapi dengan syarat operator kalau mau bangun harus dibuka kepada operator lain. Konsep harus sharing,” kata Rudiantara.

Rudiantara mengatakan akan melakukan pertemuan dengan operator untuk meningkatkan keterandalan jaringan telekomunikasi di Kalimantan.

“Yang jelas, sebelum pindah ibu kota negara, jaringan telekomunikasi sudah siap,” tuturnya.

Kemenkominfo juga berencana membangun gateway internasional di Kalimantan. Saat ini, kata dia, untuk mengakses internet di wilayah Kalimantan, terutama Nunukan, traffic data harus dibawa ke Jakarta atau Singapura terlebih dahulu. Hal itu memengaruhi kecepatan internet di sana.

“Jadi, nanti Kalimantan punya gateway untuk traffic dayanya sendiri,” ungkapnya. Rencananya pembangunan gateway dilakukan 5-10 tahun mendatang.

Rudiantara juga menambahkan bahwa nantinya infrastruktur jaringan akan dibangun di bahu jalan yang telah dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Salah satu yang dimanfaatkan adalah jalan yang dibangun Kementerian PUPR di perbatasan. Batas Indonesia dengan Malaysia itu kurang lebih 300 KM, di bahu jalan kita akan bangun fiber optik, sehingga nanti Kalimantan ring-nya akan semakin bagus,” ujarnya.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Anang Latif menuturkan, pembangunan jaringan di Kalimantan tak cukup hanya dengan membangun base transceiver station (BTS). Perlu ada pembangunan jaringan utama atau backbone.

Dia menjelaskan, pembangunan jaringan telekomunikasi memiliki hierarki yang harus dipenuhi. Pertama, jaringan backbone seperti Palapa Ring atau tol informasi yang sudah dibangun pihaknya dan Kemenkominfo di Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Kedua, jaringan backhaul (fishbone). Terakhir, jaringan akses atau last mileseperti BTS.

Meski kini Kalimantan sudah masuk jaringan Palapa Ring, jaringan di sana belum seandal Pulau Jawa. Bentuk ringnya pun belum sempurna. Karena itu, dibutuhkan jaringan utama dan pendukung yang membentuk ring secara sempurna. “Intinya bahwa di Kalimantan nanti butuh jaringan telekomunikasi andal. Jadi, perlu dilengkapi jaringan utama dan beberapa pendukung,” jelasnya.

Dia menekankan, konsep pembangunan itu harus segera dikomunikasikan dengan operator telekomunikasi di Indonesia. Dengan begitu, dapat diketahui pembagian peran dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi di IKN baru. “Kalau ada segmen yang tidak menarik secara bisnis oleh operator, pemerintah yang bangun,” ungkapnya.

Pembangunan infrastruktur di wilayah Kalimantan ini dinilai bakal lebih mudah bila dibandingkan dengan Papua. Sebab, secara geografis, bukit-bukit di sana tak setinggi Papua. Dengan begitu, dari segi pembiayaan bakal lebih murah.

Kalimantan Ring berbasis infrastruktur Sharing, Emang Telkomsel Mau?

Jika melihat kondisi jaringan telekomunikasi di Kalimantan Timur yang bakal menjadi Ibu Kota baru, Telkomsel lah yang memiliki jaringan yang lebih kuat di wilayah itu dibandingkan dengan operator lainnya.

Lalu, jika pemerintah ingin menerapkan infrastruktur sharing di wilayah tersebut, apakah Telkomsel bersedia berbagi jaringannya dengan operator lain?

Pasalnya, konsep infrastruktur sharing yang sudah ‘dikumandangkan’ oleh menkominfo sejak beberapa tahun belakangan ini, ditolak mentah-mentah oleh Telkomsel. Alasannya, untuk melayani pelanggannya sendiri saja masih kurang.

Hal itu sempat disampaikan oleh Telkomsel 3 tahun lalu, ketika isu infrastruktur sharing ramai diperbincangkan.

Seperti dikutip dari Kompas.com, Telkomsel menegaskan tidak akan mengadopsi sistem infrastructure sharing atau berbagi infrastruktur dengan operator lain. Alasannya jaringan mereka sudah padat pengguna dan tidak memungkinkan untuk dibagi.

Sebenarnya selama ini antar operator sudah ada kerjasama dalam infrastruktur pasif (site atau menara pemancar). Imbauan dari pemerintah kini mencakup berbagi infrastruktur aktif, misalnya Radio Access Network (RAN) Namun, seperti dikatakan oleh Direktur Network Telkomsel Sukardi Silalahi, operator pelat merah tersebut menolak melakukannya.

“Sharing itu bisa dilakukan kalau masih ada slot. Kalau occupancy kami rendah, tidak apa-apa sharing. Tapi jaringan kami sudah penuh,” ujarnya saat berbincang bersama wartawan di Jakarta, Selasa (15/3/2016), seperti dikutip dari Kompas.com.

Lalu, sekarang bagaimana?  

Yang pasti, untuk mengantisipasi kebutuhan telekomunikasi seluler calon Ibu Kota negara baru di Kalimantan Timur, Telkomsel terus memperkuat kualitas jaringan 4G di provinsi tersebut, terutama di tiga ruas jalan utama.

Seperti dikutip dari Kompas.com. dalam acara Media Update Telkonsel di Balikpapan, Senin (23/9/2019), dijelaskan bahwa ketiga ruas jalan ini mencakup jalur lintas Balikpapan hingga Samarinda (non-tol), rute jalan tol Balikpapan hingga Samarinda, dan ruas lintas Sepaku hingga Penajam Paser Utara.

“Kami perkuat jaringan Telkomsel di sana (jalur non-tol Balikpapan – Samarinda) dan secara keseluruhan 4G-nya sudah seamless,” kata GM Network Operation Quality Management Telkomsel Regional Kalimantan, Rahmad Putra Jaya, ketika berbicara dalam acara.

Hingga akhir tahun 2019 ini, Telkomsel menargetkan 1.800 BTS 4G baru akan melayani para konsumen di Kalimantan. Sebanyak 400 di antaranya dibangun di Kalimantan Timur.

“Hanya saja, masih ada di bawah 50 persen yang belum aktif, hanya tinggal tunggu sampai akhir tahun,” ujar Rahmad.

Dengan kata lain, ada kurang lebih 900 BTS 4G lagi yang harus dibangun oleh Telkomsel di wilayah Kalimantan demi mencapai target.

Telkomsel sendiri mengklaim sudah memiliki 18.100 BTS yang tersebar di wilayah seluruh wilayah di Pulau Kalimantan, di mana 6.100 di antaranya adalah BTS 4G.

Saat rencana penambahan rampung, operator yang identik dengan warna merah ini akan mengoperasikan sekitar 19.900 BTS di pulau Kalimantan, dengan rincian jumlah BTS 4G sekitar 7.900 unit.

Di Kalimantan sendiri, cakupan 4G Telkomsel diklaim sudah mencapai 86 persen dari populasi dengan jumlah pelanggan mencapai sekitar 12,6 juta. Sebanyak 6,8 juta di antaranya merupakan pelanggan data. (Icha)

Luar Biasa! Hanya 3 Tahun Saja, Agen Fintech Sudah Capai 5 Juta

0

Telko.id – Inklusi keuangan di Indonesia memang sudah tumbuh baik. Namun, keberadaan Financial Technology bakal lebih mendorong lagi. Terlihat dari data yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ketika memberikan keynote speech dalam Indonesia Fintech Summit & Expo 2019, di Assembly Hall-Jakarta Convention Center, Senin (23/09/2019), hanya butuh 3 tahun saja, agen Fintech sudah mencapai 5 juta.

“Sekitar70% dari mereka memberikan layanan kepada populasi yang belum tersentuh akses perbankan. Sehingga, kami percaya bahwa fintech dan agennya dapat berkontribusi terhadap pencapaian keuangan inklusif,” ungkap Menko Darmin menambahkan.

Darmin pun menyampaikan harapannya untuk industri fintech di nusantara ini, yakni fintech dapat menyediakan optimisme baru yang dapat memperlancar proses inklusi keuangan, khususnya kepada populasi yang masih belum tersentuh inklusi keuangan, jadi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tak hanya itu, Darmin juga mengingatkan agar terciptanya sebuah usaha untuk makin meningkatkan potensi fintech dan agennya dapat bekerja bersama agen bank untuk menyediakan layanan keuangan yang terjangkau, mudah, aman dan cepat. Perusahaan fintech juga harus memperhatikan manajemen risiko, edukasi dan perlindungan konsumen, selain hanya memikirkan profit saja.

“Untuk menambah keuntungan maksimal, perusahaan fintech harus mempunyai hubungan dengan sektor riil, jadi mampu menciptakan ekosistem ekonomi digital. Saya juga menganjurkan adanya kolaborasi antar stakeholders di bidang keuangan atau perbankan untuk mengatasi tantangan yang masih ada, seperti kesiapan infrastruktur teknologi, informasi dan komunikasi (TIK), literasi keuangan, tata kelola data digital, dan kerangka peraturan,” papar Darmin.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengamini perlunya pembangunan infrastruktur TIK yang mumpuni untuk semakin memajukan ekonomi digital di Indonesia. Pasalnya, hal ini akan berpengaruh terhadap kesiapan masyarakat untuk mengambil manfaat dari fintech itu sendiri, karena masih banyak juga daerah di Indonesia yang belum tersentuh digitalisasi.

“Selain itu, kami pun selalu membuka dialog dengan industri agara dapat menciptakan rezim perpajakan yang tepat untuk perusahaan digital dan nondigital, baik untuk Indonesia maupun rest of the world. Sebab, saat ini banyak transaksi yang sudah borderless,” jelas Menkeu Sri.

Sebagai informasi, saat ini Inklusi keuangan di Indonesia telah tumbuh baik. Berdasarkan Global Findex (2017), proporsi populasi orang dewasa Indonesia yang mempunyai rekening bank meningkat menjadi 48,9% dari jumlah 36,1% di 2014. Sementara, survei dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2016 juga memperlihatkan sebanyak 68,7% populasi orang dewasa telah memiliki akses terhadap berbagai layanan keuangan formal.

Namun, hasil kedua survei tersebut memperlihatkan masih terdapat sisa persentase yang besar dari orang dewasa yang belum memiliki rekening bank ataupun akses ke layanan keuangan lainnya. Untuk itu, masih diperlukan layanan keuangan yang lebih aman, mudah dan terjangkau, yang dapat dipenuhi dengan adanya teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh perusahaan fintech.

Dalam beberapa tahun ke belakang, jumlah perusahaan fintech khususnya yang bergerak di bidang pembayaran dan pinjaman terus meningkat signifikan. Hal tersebut menumbuhkan agen fintech yang lebih banyak lagi. (Icha)

Ngeri! Ternyata WannaCry Masih Mengancam Dunia Siber

0

Telko.id – Masih ingat dengan WannaCry yang menyerang seluruh dunia 12 Mei 2017 lalu? Ternyata, sampai sekarang, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh SophosLabs, ancaman WannaCry ini masih merajalela.

Setiap bulannya, jutaan percobaan serangannya memang dapat dihentikan, namun malware aslinya belum juga diperbarui sehingga ribuan varian yang berumur pendek masih bisa bergerak bebas di ‘alam liar’.

Sampai bulan Agustus 2019 ini saja, Sophos-Protected Endpoints berhasil menghentikan sebanyak 4.3 juta infeksi WannaCrydi seluruh dunia –  dimana 6.8 persen infeksi diantaranya berasal dari di Indonesia.

Beberapa negara di Asia juga masuk ke dalam 10 negara teratas yang serangan WannaCry-nya berhasil diamankan oleh Sophos-Protected Endpoints pada bulan Agustus 2019. Negara-negara tersebut antara lain, India yang berada di peringkat kedua (setelah AS) dengan angka mencapai 8,8 persen serangan.

Kemudian Indonesia di urutan kelima (6,8 persen) dan Filipina (5,8 persen) urutan ketujuh. Singapura sendiri berada di peringkat kesembilan (4,1 persen). Lalu Tiongkok yang berada pada peringkat 10 dengan 3,5 persen serangan.

AncamanWannaCry yang terus berlanjut ini sebagian besar disebabkan oleh versi-versibarunyayang memiliki kemampuanmemotong ‘kill switch’.Namun, ketika para peneliti Sophos menganalisis dan mengeksekusi beberapa sampelnya, mereka menemukan bahwa kemampuan untuk mengenkripsi data telah dinetralkan sebagai hasil dari korupsi kode.

Cara WannaCry menginfeksi korban baru adalah dengan memeriksa dan melihatapakah komputer tersebut sudah terinfeksi dan bila sudah terinfeksi maka WannaCry akan pindah ke target lain, Jadiinfeksi oleh malware versi inert secara efektif melindungi perangkat agar tidak terinfeksi oleh strainaktif.

Singkatnya, versibaru malware ini menjadi vaksin yang tidak disengaja.  Seperti halnya vaksin, malware ini menawarkan semacam kekebalan dari serangan berikutnyaoleh malware yang sama kepada komputer yang masih rentan.

Namun, komputeryang sejak awal seharusnya sudah ter-install patchyang dapat melindungi dari serangan WannaCry kenyataannya belum di-installpatchyang telahdirilis lebih dari dua tahun laluini.

Malware WannaCryorisinilhanya terdeteksi sebanyak 40 kali. Hingga saat ini, para peneliti SophosLabs telah mengidentifikasi 12.480 varian kode asli. Pemeriksaan lebih dekat terhadap lebih dari 2.700 sampel (98 persen terdeteksi) mengungkapkan bahwa mereka semua telah berevolusi untuk memotong ‘kill switch’–URL spesifik yang apabila malware tersebut terhubung maka secara otomatis akan mengakhiri proses infeksi–dan semuanya memiliki komponen ransomware yang rusak dan tidak dapat mengenkripsi data.

Peneliti Sophosjugatelah melacak kemunculanpertama dari versikorup yang telahtersebar luas saat inidua hari setelah serangan awal: 14 Mei 2017, yaitu ketika diunggah ke VirusTotal, namunbelum terlihat di ‘alam liar’.

“Wabah WannaCry 2017 telah mengubah lanskap ancaman selamanya. Penelitian kami menyoroti banyakkomputer yang masih belum terpasang patchdi luar sana dan apabila para pengguna yang belum meng-installpembaruan yang telah di rilis lebih dari dua tahun yang lalu maka ada berapa banyak patch lain yang telah ‘terjangkit’,” ungkap Peter Mackenzie, Security Specialist, Sophos yang juga penulis utama penelitian ini.

Yang dimaksud oleh Peter adalah ada beberapa korban beruntung karena jenismalware bisa berfungsi sebagai imun terhadap versi yang lebih baru.

“Jadi, sebaiknya organisasi atau perusahaan tidak boleh bergantung pada kondisi tersebut. Seharusnya, standar praktik harus menjadi kebijakan dalam memasang patch, kapan pun patch tersebut diterbitkan, serta menyediakan solusi keamanan yang kuat mencakup semua endpoint, jaringan, dan sistem,” ungkap Peter menambahkan.

Lalu, bagaimana cara Melindungi WannaCry dari malware dan ransomware?

  1. Periksa apakah Anda memiliki inventaris lengkap untuk semua perangkat yang terhubung ke jaringan Anda dan apakah perangkat lunak keamanan merekadalam versi terbaru.
  2. Selalu pasang patchterbaru pada semua perangkat di jaringan Anda. Lebih baikpasangsesegera mungkin setelah patch tersebut dirilis.
  3. Verifikasi apakah komputer Anda telah dipasangkan patchuntuk melawan eksploitasi EternalBlue yang digunakan di WannaCry dengan mengikuti instruksi ini: Cara Memverifikasi jika Mesin Rentan terhadap EternalBlue – MS17-010
  4. Selalu backupdata paling penting serta data lain saat ini secara berkala. Backup data Anda pada perangkat penyimpanan offlinesebagai cara terbaik untuk menghindari harus membayar uang tebusan ketika terpengaruh oleh ransomware.
  5. Tidak ada satu cara jituuntuk keamanan. Model keamanan berlapis adalah praktik terbaik yang perlu diterapkan pada semua bisnis.
  6. Sebagai contoh, Sophos Intercept Xmenggunakan pendekatan pertahanan mendalam yang komprehensif untuk perlindungan endpoint, yang juga menggabungkan beberapa teknik next-gen terkemuka untuk memberikan deteksi malware, perlindungan eksploitasi serta Respons & Deteksi EndpointBawaan (EDR).

(Icha)

ATSI Dukung Aturan IMEI Dengan 10 Syarat. Apa itu?

0

Telko.id – Persisnya tanggal 12 September 2019, ATSI atau Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap aturan atau regulasi terkait pengendalian alat/perangkat telekomunikasi selular melalui identifikasi International Mobile Equipment (IMEI). Hanya saja, dukungan tersebut ada embel-embel 10 persyaratan atau masukan.

Menurut Ketua Umum ATSI, Ririek Adriansyah, 10 masukan atau persyaratan itu adalah demi kepentingan semua stake holder, mulai dari pemerintah sampai masyarakat. Bukan sekedar untuk kepentingan anggota ATSI semata.

“untuk itu, ATSI konsisten mengusulkan bahwa regulasi ini sebaiknya bersifat preventif dan bukan korektif, sehingga tidak menyebabkan kerugian kepada semua pihak yang terkait yaitu operator seluler, pelaku usaha dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi termasuk hak terlindunginya data dan identitas pribadi pelanggan,” ungkap Ririek dalam pertemuan dengan media, (24/09) di Jakarta.

Pasalnya, dibalik itu semua ada aturan-aturan lain yang perlu diperhatikan agar tidak melanggar hukum. Ini juga yang menjadi fokus dari masukan ATSI ini. Terutama masalah hak terlindunginya data dan identitas pribadi pelanggan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka ATSI menyampaikan 10 poin masukan sebagai berikut:

  1. Mengusulkan agar Regulasi terkait Pengendalian Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi yang tersambung ke Jaringan Bergerak Seluler melalui Identifikasi International Mobile Equipment (IMEI) hanya diberlakukan untuk perangkat seluler baru. Adapun terhadap alat dan/atau perangkat eksisting tidak diwajibkan untuk registrasi ke Sistem Pengendalian Alat Dan/Atau Perangkat Menggunakan IMEI dan tidak dilakukan pemblokiran.
  2. Mengingat bahwa inisiatif ini bukan merupakan kewajban dalam lisensi operator seluler, ATSI mengusulkan agar pengadaan investasi sistem EIR yang harganya cukup signifikan di setiap operator seluler untuk pengendalian alat dan/atau perangkat telekomunikasi yang tersambung ke jaringan bergerak seluler melalui IMEI dan tidak dibebankan seluruhnya ke operator seluler.

“Kami berharap, yang mendapatkan benefit terkait peraturan ini juga kena beban juga,”        ungkap Ririek menjelaskan.

Siapa saja yang mendapatkan benefit? Menurut Ririek, yang mendapatkan benefit yang utama adalah pemerintah, lalu pedagang handphone yang memang bermain dipenjualan barang legal. Karena dengan adanya aturan IMEI ini maka pedagang handphone legal akan mendapatkan benefitnya.

  1. Terkait dengan objektif pemerintah untuk pengendalian alat dan/atau perangkat seluler dan untuk proteksi data operator seluler, maka Operator seluler akan mendapatkan data IMEI Legal dari kominfo dan sistem pengendali alat dan/atau perangkat yang menggunakan IMEI.

Masalah ini ternyata masih menjadi perdebatan. Pasalnya, operator minta data IMEI legal itu dikeluarkan oleh Kominfo, bukan dari Kemenperin. Hal ini disampaikan oleh Sekjen ATSI, Marwan O. Baasir.

Terlihat bahwa ATSI sedikti kurang percaya dengan adanya data IMEI di Kemenperin. “Takut kejadian seperti Regstrasi prabayar terulang, data terindikasi bisa keluar dari sistem. Karena kami tidak yakin akan dikelola sendiri oleh Kemepnerin. Kalau sampai itu di serahkan ke pihak ketiga untuk pengelolaanya, apakah ada jaminan data tidak keluar? Ini yang kami antisipasi,” ungkap Marwan.

Apalagi, dibalik itu semua ada aturan-aturan lain terutama Undang-undang ITE dan keamanan data pribadi dibalik itu semua. Jadi alangkah baiknya jika data berada Kominfo.

  1. Mengusulkan agar Sistem Pengendalian Alat Dan/Atau Perangkat Menggunakan IMEI dibangun secara redundancy untuk sistem proteksi sehingga dapat mengatasi potensi Single Point Of Failure (SPOF).
  2. Mengusulkan agar Sistem Pengendalian Alat Dan/Atau Perangkat Menggunakan IMEI yang menjamin pelanggan utk dapat memilih operator pilihannya.

“Kami berharap, konsumen denga adanya aturan ini masih tetap bisa memilih operator pilihannya, karena kalau IMEI sudah dipasangkan dengan handset atau handphone ada kemungkinan, konsumen kesulitan ketika akan berganti handphone,” ungkap Merza Fachys, Wakil Ketua Umum ATSI menjelaskan.

  1. Mengusulkan agar regulasi pengendalian alat dan/atau perangkat seluler melalui IMEI tidak diberlakukan bagi Inbound Roamer.
  2. Sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat, operator seluler akan memproses pelaporan perangkat seluler yang hilang atau dicuri sehingga tidak disalahgunakan oleh pengguna lain, dan data tersebut akan diteruskan ke sistem pengendali.
  3. Merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan kesepakatan kerja sama dengan GSMA terkait dengan alokasi IMEI dengan Type Allocation Code (TAC) Indonesia atau yang merepresentasikan IMEI nasional sebagai identitas semua perangkat seluler baru yang membedakan dengan IMEI perangkat eksisting.
  4. Mengusulkan kepada Kementerian Kominfo agar pemerintah menunjuk kementerian terkait untuk membangun dan/atau menyediakan Call Centre dan Customer Service untuk melayanani pendaftaran IMEI pada perangkat milik pelanggan, karena hal tersebut bukan tugas pokok dan fungsi dari operator seluler.

“Ketika konsumen ada masalah tentang IMEI saat akan mengganti handphone, perlu ada saluran untuk menyampaikan keluhan atau masalahnya. Ini bukan berada dibawah tanggung jawab operator, jadi pemerintah perlu menyediakan call center agar masalah yang dihadapi konsumen juga bisa diatasi,” ungkap Ririek.

  1. Mengusulkan kepada pemerintah agar peraturan menteri segera ditandatangani dimana peraturan menteri tersebut hanya berupa payung hukum dan tidak mengatur hal tekhnis. pengaturan detail tekhnis terkait tata cara sistem dan pengendalian perangkat berbasis IMEI utk diatur lebih lanjut dalam peraturan dirjen.

Urgent atau important aturan IMEI ini? Menurut Merza, aturan IMEI ini bisa dikatakan urgent. Kenapa? Karena yang terkait dengan aturan IMEI ini bukan berada dalam satu naungan kementerian saja. Tetapi ada empat kementerian yakni Kemenperin, Kominfo, Kementerian perdagangan dan Kementerian Keuangan.

“Terbayangkan, berapa banyak yang harus disinkronisasi dan diselaraskan untuk sampai aturan IMEI ini dikeluarkan. Waktu yang dibutuhkan juga akan lama. Jadi, memang urgent dilakukan,” ujar Merza menjelaskan.

Jadi, Merza menambahkan, sebaiknya, aturan dari setiap Kementerian cepat ditandatangani. Untuk masalah teknis lainnya, bisa dibicarakan kemudian dan dilanjutkan dalam peraturan dirjen.

Untuk masalah waktu pengaplikasiannya, ATSI melihat bahwa waktu 6 bulan setelah penandatanganan ini bisa saja cukup. Nanti toh, dalam perjalanannya akan terus di evaluasi dan jika diperlukan masih bisa diperpanjang lagi.

Selanjutnya, Ririek berharap Kementerian Kominfo akan memberikan perhatian khusus atas semua masukan yang disampaikan tersebut sehingga regulasi terkait tata kelola IMEI akan mampu memberikan manfaat maksimal seperti yang diharapkan, baik bagi pemerintah, maupun bagi operator, dan para pemangku kepentingan yang terkait lainnya. (Icha)

XL Axiata HUT, Pelanggan Dapat Xtra Kuota 3GB

0

Telko.id – Tidak lama lagi, XL Axiata akan ulang tahun. Untuk merayakannya, operator ini ‘bagi-bagi’ kuota hingga 3GB. Cara ini diyakini oleh XL dapat mempertahankan pelanggannya, meningkatkan jumlah pelanggan dan terutama trafik penggunaan.

Untuk mendapatkannya, pelanggan harus memiliki paket “Xtra Kuota Zero”. Paket baru ini memungkinkan pelanggan XL Prabayar yang sudah berlangganan paket Xtra Combo mendapatkan tambahan kuota hingga 3GB, tanpa biaya tambahan melalui aplikasi New MyXL untuk mengakses aplikasi-aplikasi pilihannya.

Paket Xtra Kuota Zero diharapkan dapat memberikan layanan yang lengkap untuk pelanggan khususnya dalam mendukung aktifitas digital dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu produk layanan inovatif XL Axiata melalui XL Prabayar yang paling baru adalah paket “Xtra Kuota Zero”. Paket baru ini memungkinkan pelanggan XL Prabayar yang sudah berlangganan paket Xtra Combo mendapatkan tambahan kuota hingga 3GB, tanpa biaya tambahan melalui aplikasi New MyXL untuk mengakses aplikasi-aplikasi pilihannya.

Paket Xtra Kuota Zero diharapkan dapat memberikan layanan yang lengkap untuk pelanggan khususnya dalam mendukung aktifitas digital dalam kehidupan sehari-hari.

“Tantangan saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berjumlah lebih dari 56 juta yang kemungkinan satu sama lain mengharapkan layanan yang berbeda dari XL. Akhirnya kami berinovasi dan meluncurkan Paket Xtra Kuota Zero,” ungkap Chief Marketing Officer XL Axiata, David Arcelus Oses, saat meluncurkan Paket Xtra Kuota Zero (23/09) di Jakarta.

David Arcelus menambahkan, pengguna layanan data XL Axiata terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada semester pertama 2019 total pengguna layanan data XL Axiata mencapai 88% dari total pelanggan.

Kebutuhan setiap pelanggan sangat beragam. Ada yang membutuhkan akses ke layanan hiburan, video, musik, games, atau berbagai layanan lainnya. Paket Xtra Kuota Zero ini diluncurkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda sesuai dengan minat mereka masing-masing.

Paket Xtra Kuota Zero dari XL Prabayar memberikan tambahan kuota hingga 3GB/bulan tanpa biaya tambahan yang dapat digunakan untuk mengakses aplikasi-aplikasi pilihan. Kuota tambahan ini bisa dinikmati oleh pelanggan yang sudah berlangganan paket Xtra Combo VIP, Xtra Combo Baru, dan varian paket Xtra Combo lainnya.

Paket inovatif terbaru ini tersedia dalam dua pilihan. Pertama, paket Xtra Kuota Zero Harian yang berisi aplikasi untuk mendukung kebutuhan sehari-hari, seperti WhatsApp, Line, Twitter, Google Duo, Tokopedia, Gojek dan segera menyusul aplikasi portal news seperti Detik.com, Kompas.com, dan Liputan6.com.

Kedua, paket Xtra Kuota Zero aplikasi pilihan seperti Netflix, YouTube, iflix, Smule, Joox, Instagram, Facebook, Free Fire, AOV dan PUBG Mobiledengan masa berlaku paket 10 hari.

Untuk mendapatkan Xtra Kuota Zero harian maupun yang 10 hari, pelanggan cukup berlangganan paket Xtra Combo apapun, dan mengakses ke NEW myXL untuk mengaktifkan paketnya. Paket Xtra Kuota Zero bisa didapatkan mulai tgl 19 September 2019.

Di sisi lain, XL juga memperkuat jaringan data nya. Pasalnya, XL menyakini bahwa kualitas jaringan data yang semakin baik dan merata telah mendorong pelanggan untuk lebih intens mengakses berbagai layanan data dari lokasi yang juga semakin luas.

Berdasarkan data terakhir mengenai distribusi penggunaan layanan data oleh pelanggan, layanan streaming memang menjadi layanan yang paling dominan, yaitu sekitar 68%. Pada layanan streaming ini, akses ke layanan video (via Youtube, Facebook, dan Intagram) sangat mendominasi, yaitu mencapai 64%. Streaming lain yang cukup banyak diakses adalah games sekitar 25%. Selanjutnya, instant messaging 17%, dan media sosial 15%.

Saat ini pelanggan data telah mencapai sekitar 88% dari total pelanggan XL Axiata sebanyak 56,6 juta pelanggan. XL Axiata juga terus melakukan perluasan dan peningkatan kapasitas jaringan di berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini jaringan XL Axiata telah diperkuat dengan lebih dari 127.000 BTS termasuk lebih dari 53.000 BTS 3G dan lebih dari 37.000 BTS 4G.

Jaringan 4G LTE XL Axiata terus diperluas, dan saat ini sudah mencapai lebih dari 408 kota/kabupaten di berbagai wilayah di Indonesia. XL Axiata juga terus berinvestasi untuk jaringan fiber, transmisi, backhaul, modernisasi jaringan, dan berbagai upgrade jaringan lainnya untuk meningkatkan stabilitas, kapasitas jaringan, dan kualitas layanan data seiring dengan terus meningkatnya trafik layanan data. (Icha)

XL Perkuat Jaringan Data Di Daerah Wisata Danau Toba

0

Telko.id – Daerah wisata memang menjadi incaran para operator untuk bangun dan memperkuat jaringan, termasuk juga Danau Toba. Tak heran, XL Axiata pun perkuat jaringannya di daerah tersebut mendukung upaya pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata berkelas dunia.

“Kami mendukung baik upaya pemerintah dalam mengembangkan Danau Toba sebagai destinasi wisata andalan di masa mendatang. Karena itu, dengan antusias, kami menyertainya dengan memperkuat jaringan data berkualitas yang meng-cover sekitar Danau Toba, termasuk Pulau Samosir, juga di sepanjang jalur menuju ke sana. Tidak ketinggalan, kami juga memperkuat jaringan di Bandara Silangit dan juga sepanjang jalur darat dari Medan ke Danau Toba,” ungkap Francky Rinaldo Pakpahan, Group Head XL Axiata West Region menjelaskan.

XL menyakini bahwa ketersediaan layanan telekomunikasi dan data berkualitas akan menjadi kebutuhan para wisatawan dan pelaku industri wisata pendukungnya. Di sisi lain, pemerintah pusat, pemerintah daerah, warga sekitar, dan semua pemangku kepentingan di sana juga membutuhkan layanan telekomunikasi dan data yang baik untuk meningkatkan produktivitas di sektor ekonomi dan sosial lainnya.

Francky menambahkan dalam beberapa waktu terakhir, trafik layanan data XL Axiata juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di area-area sekitar Danau Toba. Hal ini menunjukkan semakin banyaknya pelanggan XL Axiata yang nyaman dengan layanan data yang telah tersedia.

Bagi wisatawan, eloknya pemandangan alam dan atraksi budaya di sana merupakan pengalaman yang layak diunggah di media sosial berbagai platform, baik dalam format foto maupun video. Karena itu, kualitas jaringan data menjadi perhatian utama XL Axiata dalam penyediaan layanan di Kawasan Danau Toba.

Infrastruktur jaringan XL Axiata di Kawasan Danau Toba, termasuk Pulau Samosir, didukung lebih dari 750 BTS, termasuk hampir 550 BTS data (3G dan 4G). Sementara itu di sekitar Bandara  Silangit, yang telah menjadi akses baru menuju Danau Toba melalui jalur udara, XL Axiata juga telah menempatkan sekitar 40 BTS 4G dan 3G.

Begitu juga di sepanjang jalur darat dari Medan menuju Danau Toba sejauh kurang lebih 90 km, hampir seluruhnya telah terlayani jaringan data berkualitas 4G dan 3G.

Danau Toba yang seluas 1.130 km persegi merupakan danau vulkanik terbesar di dunia, dan masuk di tujuh kabupaten di Sumatera Utara. Selain wisata, kawasan danau juga memiliki potensi ekonomi di sektor perikanan, pertanian, perkebunan, dan kehutanan.

Adat istiadat masyarakat Batak di Samosir dan sekitar danau sangat atraktif dan selama ini telah mampu merebut perhatian wisatawan lokal dan dunia. Dengan pengembangan wisata yang saat ini dilakukan, pemerintah berharap Danau Toba akan menjadi salah andalan industri wisata terdepan setelah Bali. (Icha)