spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 30

Aturan Pemda Tumpang Tindih Hambat Investasi Infrastruktur Telekomunikasi

0

Telko.id – Pelaku usaha mendesak pemerintah untuk segera mengurai berbagai persoalan regulasi di tingkat daerah yang dinilai menghambat percepatan pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.

Tumpang tindih aturan, biaya retribusi yang tinggi, hingga mekanisme perizinan yang berbeda-beda di setiap wilayah menjadi kendala utama yang membebani operator dalam berinvestasi.

Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Fariz Azhar Harahap, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai disparitas biaya yang harus ditanggung operator.

Ia mencatat setidaknya terdapat 12 daerah di Indonesia yang mematok biaya sewa lahan untuk kabel serat optik dengan harga yang sangat tinggi, di mana sebagian besar wilayah tersebut berada di provinsi Jawa Timur.

Dalam diskusi Morning Tech yang digelar di Jakarta Selatan, Kamis (12/2), Fariz memberikan contoh konkret mengenai kebijakan di Surabaya. Di kota tersebut, nilai sewa lahan untuk infrastruktur telekomunikasi disamakan dengan nilai dasar komersial.

Padahal, karakteristik pemanfaatan lahannya sangat berbeda dengan properti komersial pada umumnya.

“Di Surabaya misalnya, nilai sewanya disamakan dengan nilai dasar komersil di sana. Contohnya untuk biaya sewa area pembangunan ATM, padahal infrastruktur fiber optic kita ada di bawah tanah, yang sebenarnya di atasnya masih bisa digunakan untuk kegiatan lain,” tegas Fariz saat membedah carut-marut aturan daerah yang menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan layanan telekomunikasi.

Ketidakpastian Biaya Barang Milik Daerah

Selain persoalan tingginya biaya sewa lahan, ketidakpastian dalam penetapan nilai sewa pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD) juga menjadi sorotan utama.

Basis perhitungan yang berbeda-beda di setiap kabupaten dan kota membuat pelaku usaha kesulitan dalam merencanakan nilai investasi jangka panjang. Variasi harga yang muncul antar daerah dinilai tidak masuk akal dan memberatkan.

Fariz mencontohkan perbedaan drastis antara dua wilayah. Untuk infrastruktur yang sama, biaya sewa pemanfaatan BMD di Mojokerto bisa menembus angka Rp13 miliar.

Sementara itu, di Lampung, biaya yang dikenakan berada di angka Rp11 miliar. Angka-angka ini menunjukkan tidak adanya standar baku yang diterapkan secara nasional, meskipun regulasi payung sebenarnya sudah tersedia.

Menurut Fariz, meskipun peraturan pusat sudah ada, implementasi di lapangan sering kali melenceng. Banyak pemerintah daerah yang masih menerapkan retribusi dan mekanisme perizinan penempatan kabel atau fiber optik yang tumpang tindih dan mahal.

Kondisi ini menciptakan iklim usaha yang tidak sehat dan menghambat ekspansi jaringan ke area-area yang membutuhkan konektivitas.

Penurunan Minat Investasi Operator

Dampak dari regulasi yang berbelit ini dikonfirmasi oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Pengembangan Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi (Aspimtel), Tagor H. Sihombing. Ia menyatakan bahwa kerumitan aturan serta besarnya biaya sewa dan retribusi yang wajib dibayarkan berdampak langsung pada minat investasi pelaku usaha. Hal ini terlihat dari tren penurunan jumlah pemain di industri menara.

Tagor menyebutkan bahwa jumlah pelaku industri menara saat ini terus menurun jika dibandingkan dengan kondisi 25 tahun silam. Padahal, keberadaan infrastruktur telekomunikasi sangat krusial untuk mendukung ekosistem digital, terutama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Jika hambatan ini terus berlanjut, pemerataan akses digital akan semakin sulit dicapai.

Ia mendorong adanya perubahan paradigma dari pemerintah daerah dalam memandang kehadiran infrastruktur digital. Pemda diharapkan tidak lagi melihat operator telekomunikasi semata-mata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi, melainkan sebagai mitra strategis yang membawa kemajuan teknologi bagi masyarakat setempat.

“Paradigma melihat ini hanya sebagai bisnis itu harus diubah. Daripada demi mendapatkan retribusi yang akhirnya membatasi pelaku usaha untuk masuk ke daerah itu, lebih baik kita membuka karpet merah sehingga investasi bisa masuk, masyarakatnya di sana juga bisa melek teknologi nantinya,” ujar Tagor.

Ancaman Terhadap Target Nasional 2029

Kritik keras juga datang dari Ketua Umum Perkumpulan Advokat Teknologi Informasi Indonesia (Peratin), Kamilov Sagala. Ia mengingatkan bahwa tulang punggung pembangunan infrastruktur digital di Indonesia sepenuhnya berada di tangan pelaku industri swasta.

Hal ini berbeda dengan pembangunan infrastruktur jalan raya yang masih melibatkan pemerintah secara langsung melalui APBN.

Kamilov memperingatkan, jika persoalan regulasi dan biaya tinggi ini tidak segera diurai, target-target ambisius pemerintah di sektor digital terancam gagal total.

Ia pesimistis target jangkauan jaringan fiber optik sebesar 90 persen per kecamatan pada tahun 2029 dapat tercapai. Demikian pula dengan target peningkatan kecepatan fixed broadband dari rata-rata 32,1 Mbps menuju 100 Mbps pada tahun yang sama.

Demi mencapai keadilan industri, Kamilov menyarankan pembentukan Undang-Undang baru yang spesifik mengatur ekosistem ini agar industri telekomunikasi dapat tumbuh sehat. Menurutnya, pelaku usaha seharusnya diberi penghargaan dan kemudahan, bukan justru ditakut-takuti dengan beban biaya yang tidak masuk akal.

“Sebaiknya segera bikin UU baru yang bisa membangun industri telekomunikasi tumbuh sehat. Beri mereka penghargaan karena pelaku usaha lah yang membangun infrastruktur digital selama ini. Bukan malah memberatkan, menakut-nakuti. Keadilan harus ditegakkan, kepastian hukum harus ditegakkan,” tegas Kamilov.

Pemerintah Cari Jalan Tengah

Merespons keluhan para pelaku usaha, Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mulyadi, mengakui perlunya kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Ia menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh pertumbuhan industri telekomunikasi nasional melalui regulasi yang suportif.

Mulyadi menjelaskan pembagian peran yang saat ini berjalan. Pembangunan infrastruktur digital dalam dua tahun terakhir telah banyak diserahkan kepada pihak swasta, sementara pemerintah lebih memfokuskan sumber daya untuk pembangunan di wilayah 3T. Oleh karena itu, hambatan yang dialami swasta di daerah non-3T harus segera diselesaikan bersama.

“Pembangunan infrastruktur sudah dua tahun ini diserahkan ke swasta, pemerintah tidak lagi membangun infrastruktur digital. Pemerintah fokus di wilayah 3T. Ini harus disadari bersama, karena pembangun infrastruktur digital ini tugas bersama,” ungkap Mulyadi.

Senada dengan Mulyadi, Ketua Tim Fasilitasi Pemanfaatan Bersama Infrastruktur Pasif Ditjen Infrastruktur Digital Komdigi, M. Hilman Fikrianto, menambahkan bahwa penggelaran jaringan harus mengacu pada tiga prinsip utama: transparan, akuntabel, dan efisien. Prinsip ini wajib diterapkan baik oleh pelaku usaha maupun pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan.

Hilman menekankan pentingnya mencari solusi yang menguntungkan semua pihak (win-win solution). Pemerintah pusat saat ini tengah berupaya memfasilitasi dialog untuk menemukan titik temu antara kebutuhan reformasi regulasi di daerah dengan keberlanjutan bisnis operator.

“Kita perlu cari jalan tengah, yang bisa diterima oleh semua pihak, baik oleh industri, operator telekomunikasi, pemda-pemda maupun pemerintah pusat. Ini kita mencari jalan tengahnya,” pungkas Hilman. (Icha)

Alibaba dan ByteDance Rilis Ai Gambar Tandingi Nano Banana

Telko.id – Alibaba dan ByteDance resmi meluncurkan model AI pembuat gambar terbaru sebagai upaya menyaingi dominasi Google Nano Banana di pasar teknologi visual global.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kompetisi tidak lagi fokus pada model bahasa besar (LLM), melainkan beralih ke pengembangan kecerdasan visual berbasis AI yang semakin kompleks.

Mengutip laporan SCMP, Alibaba memperkenalkan Qwen-Image-2.0 melalui ekosistem Alibaba Cloud, sementara ByteDance merilis Seedream 5.0 dengan peningkatan pada kemampuan pemahaman konteks. Kedua model tersebut diklaim menghadirkan kualitas visual yang lebih tajam serta efisiensi dalam memproses pengguna yang detail.

Qwen-Image-2.0 dirancang mampu mengubah paragraf panjang menjadi slide presentasi profesional secara instan. Alibaba menyebut model ini menjawab persoalan klasik AI pembuat gambar, terutama kesalahan penulisan teks yang sering muncul pada hasil visual.

Baca juga:

Seusai diperkenalkan melalui media sosial resmi perusahaan, model ini disebut mampu menangani kompleks prompt dan menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi layanan digital Alibaba.

Di sisi lain, Seedream 5.0 milik ByteDance menonjolkan aspek penalaran atau logika dalam memahami konteks perintah pengguna. Model tersebut dinilai lebih adaptif terhadap instruksi bertingkat, termasuk kemampuan mentransfer gaya visual dari referensi tertentu ke gambar baru. Seusai diuji coba terbatas pada aplikasi CapCut, teknologi ini menunjukkan peningkatan detail visual melalui sistem pengayaan berbasis AI.

Meski begitu, Google Nano Banana Pro tetap tampil unggul dalam konsistensi detail dan stabilitas keluaran. Dalam sejumlah pengujian independen, model besutan DeepMind itu disebut lebih andal ketika menangani komposisi kompleks dengan banyak elemen visual.

Seusai dibandingkan dari sisi kecepatan pembuatan gambar, Google tetap menjadi pilihan utama dalam alur produksi profesional yang menuntut efisiensi tinggi.

Hingga kini, Alibaba dan ByteDance belum merilis laporan teknis komprehensif terkait benchmark resmi seperti FID maupun CLIP score. Perbandingan kinerja yang beredar masih mengandalkan uji komunitas dan peningkatan publik.

Publik kini menunggu data numerik resmi untuk memastikan siapa yang benar-benar memimpin revolusi AI pembuat gambar di pasar global.

One UI 8.5 Hadir dengan Direct Voicemail di Galaxy

Telko.id – Februari 2026 diprediksi menjadi periode yang dinantikan para penggemar Samsung. Selain kehadiran seri andalan Galaxy S26, perhatian juga tertuju pada sistem operasi terbaru yang akan menopangnya, yakni One UI 8.5.

Berdasarkan update beta terbaru, Samsung tampaknya sedang melakukan polesan terakhir sebelum peluncuran besar-besaran di akhir bulan ini. Update ini membawa fitur yang sudah lama dinanti-nanti pengguna Android yang dapat menyaingi pesaingnya (iOS).

Highlight utama di pembaruan kali ini adalah Direct Voicemail. Fitur ini mirip dengan fitur Live Voicemail di iPhone, One UI 8.5 menghadirkan kemampuan transkripsi pesan suara secara real-time.

Cara kerjanya adalah ketika ada telepon yang masuk, dan dibiarkan masuk ke kotak suara (voicemail), pengguna bisa melihat transkrip teks secara langsung (live) di layar saat penelepon sedang berbicara.

Pengguna dapat langsung memutuskan untuk mengangkat telepon di tengah-tengah rekaman kalau ternyata isinya penting atau darurat. Semua proses ini dilakukan on-device menggunakan AI, jadi privasi percakapan akan tetap aman di dalam HP.

Baca juga:

Di versi Beta 4 ini, Samsung juga melakukan sejumlah perbaikan teknis. Beberapa bug yang sebelumnya dikeluhkan pengguna seri Galaxy S25 kini telah diatasi, di antaranya pergeseran posisi jam di layar kunci serta masalah smartphone yang menyala otomatis meskipun perangkat terhubung ke headset Bluetooth.

Bagi pengguna setia Samsung, khususnya seri Galaxy S25, perangkat ini menjadi prioritas utama dalam distribusi pembaruan One UI 8.5. berdasarkan pantauan Mureks, performa Galaxy S25 Ultra masih tergolong sangat mumpuni untuk menjalankan berbagai fitur kecerdasan buatan dengan kebutuhan komputasi tinggi yang akan dihadirkan dalam One UI 8.5.

Samsung juga telah menyiapkan peta jalan pembaruan untuk sejumlah perangkat Galaxy lainnya. Informasi yang diterima Mureks menyebutkan, pembaruan One UI 8.5 akan digulirkan secara bertahap mulai akhir Februari hingga beberapa bulan kedepan pada tahun 2026.

Gelombang pertama yang dijadwalkan berlangsung akhir Februari hingga Maret 2026, pembaruan ini akan hadir secara bawaan pada Samsung Galaxy S26 Series, serta tersedia untuk Samsung Galaxy S25, S25+, S25 Ultra, dan perangkat layar lipat Samsung Galaxy Z Fold 7 serta Z Flip 7.

Gelombang kedua akan menyusul pada Maret hingga April 2026, menyasar Samsung Galaxy S24 Series serta Samsung Galaxy Fold 6 dan Z Flip 6. Sementara itu, pada gelombang ketiga, Samsung juga berencana menghadirkan One UI 8.5 untuk lini menengah seperti Galaxy A56, A55, serta sejumlah seri mid-range terpilih lainnya.

Gak Pake Snapdragon Terkuat? Bocoran Chipset Xiaomi 18 Bikin Fans Kaget!

0

Telko.id – Selama satu dekade terakhir, nama Xiaomi selalu identik dengan satu formula sederhana namun mematikan: spesifikasi “rata kanan” dengan harga yang masuk akal.

Bagi para penggemar teknologi atau Mi Fans, peluncuran seri angka (number series) dari Xiaomi adalah momen yang dinanti karena biasanya menjanjikan chipset Qualcomm Snapdragon seri 8 terbaru dan terkuat di pasaran.

Tradisi ini telah membangun reputasi Xiaomi sebagai raja performa di segmen flagship yang terjangkau. Namun, apa jadinya jika tradisi suci tersebut dipatahkan pada generasi mendatang?

Kabar mengejutkan baru saja beredar di jagat teknologi yang mungkin akan membuat Anda mengernyitkan dahi. Berdasarkan informasi terbaru yang beredar, Xiaomi 18 dikabarkan tidak akan menggunakan chipset generasi terbaru paling atas dari Qualcomm.

Ini adalah sebuah anomali yang jarang terjadi dalam sejarah peluncuran produk flagship utama Xiaomi. Biasanya, setiap kali Qualcomm merilis prosesor top-tier terbarunya, Xiaomi adalah salah satu pabrikan pertama yang mengadopsinya untuk lini utama mereka.

Pergeseran strategi ini tentu memicu tanda tanya besar di benak para pengamat industri dan konsumen setia. Apakah ini pertanda bahwa Xiaomi mulai mengubah haluan dari sekadar mengejar skor benchmark tertinggi menuju efisiensi biaya, atau ada strategi segmentasi pasar yang lebih dalam?

Transisi ini mengingatkan kita pada bagaimana lini produk lain berevolusi, di mana performa mentah bukan lagi satu-satunya jualan utama. Sebelum kita menghakimi keputusan ini, mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik rumor panas ini.

Pergeseran Strategi Dapur Pacu

Informasi yang menyebutkan bahwa Xiaomi 18 tidak akan mengusung “otak” terkuat dari Qualcomm mengindikasikan adanya perubahan peta persaingan hardware.

Dalam beberapa tahun terakhir, biaya komponen, terutama semikonduktor canggih, terus merangkak naik secara signifikan.

Menggunakan chipset Snapdragon varian tertinggi (misalnya seri “Ultra” atau “Pro” dari generasi tersebut) tentu akan melambungkan harga jual perangkat ke titik yang mungkin kurang kompetitif bagi target pasar Xiaomi.

Langkah ini bisa jadi merupakan upaya Xiaomi untuk menjaga harga varian reguler Xiaomi 18 agar tetap bersahabat. Mungkin Anda ingat bagaimana Xiaomi dulu sangat agresif di segmen performa tinggi, bahkan merilis lini khusus seperti Ponsel Gaming legendaris mereka yang selalu memprioritaskan kecepatan di atas segalanya.

Namun, untuk seri angka reguler, keseimbangan antara harga, performa, dan efisiensi daya kini tampaknya menjadi prioritas yang lebih logis.

Jika rumor ini benar, kemungkinan besar Xiaomi 18 versi standar akan menggunakan chipset yang satu tingkat di bawah varian tertinggi—mungkin versi “s” atau bahkan chipset flagship generasi sebelumnya yang masih sangat mumpuni.

Ini bukan berarti ponsel tersebut akan lambat. Di era sekarang, kesenjangan performa antara chipset nomor satu dan nomor dua seringkali tidak terasa dalam penggunaan sehari-hari, kecuali Anda adalah pengguna ekstrem yang gemar melakukan rendering video berat di ponsel.

Dampak pada Pengalaman Pengguna

Apakah keputusan untuk tidak menggunakan silikon termahal Qualcomm akan merusak pengalaman Anda? Kemungkinan besar tidak. Industri smartphone saat ini telah mencapai titik jenuh performa.

Fokus inovasi telah bergeser dari sekadar kecepatan prosesor menuju integrasi ekosistem dan kecerdasan buatan (AI). Xiaomi sendiri belakangan ini sangat gencar membangun ekosistem yang saling terhubung.

Alih-alih hanya menjual kecepatan, Xiaomi kini menawarkan solusi gaya hidup. Lihat saja bagaimana mereka agresif merilis berbagai Perangkat Pintar untuk melengkapi rumah modern Anda.

Dengan chipset yang sedikit lebih efisien (meski bukan yang terkuat), Xiaomi 18 mungkin justru akan menawarkan daya tahan baterai yang lebih baik dan manajemen panas yang lebih stabil—dua hal yang sering dikeluhkan pada ponsel dengan prosesor super kencang.

Selain itu, Xiaomi selalu memiliki cara unik untuk menjaga loyalitas penggunanya, tidak hanya melalui hardware tetapi juga melalui program komunitas yang menarik.

Misalnya, baru-baru ini mereka menggelar Kompetisi Umrah yang menunjukkan bahwa pendekatan mereka kepada konsumen sangatlah personal dan tidak melulu soal spesifikasi teknis di atas kertas.

Melihat Masa Depan Inovasi Xiaomi

Keputusan untuk (mungkin) “menurunkan” spesifikasi dapur pacu pada model dasar Xiaomi 18 juga bisa dibaca sebagai strategi diferensiasi yang lebih tegas antara model “Vanilla” (biasa), Pro, dan Ultra.

Ada kemungkinan chipset monster dari Qualcomm akan disimpan secara eksklusif untuk varian Xiaomi 18 Ultra, sementara model dasar difokuskan sebagai daily driver yang solid.

Visi jangka panjang Xiaomi memang tidak pernah main-main. Mereka pernah memamerkan konsep gila melalui Smartphone Masa Depan seri MIX Alpha yang membuktikan bahwa mereka mampu berinovasi di luar batas.

Jadi, jika Xiaomi 18 nanti tidak membawa Snapdragon teratas, percayalah bahwa Xiaomi pasti menyematkan nilai jual lain yang tak kalah menarik, entah itu dari sektor kamera, desain, atau kemampuan pengisian daya super cepat.

Penting juga untuk diingat bahwa ekosistem Xiaomi kini mencakup keamanan dan kenyamanan rumah. Integrasi ponsel dengan perangkat seperti Kamera Pintar mereka membutuhkan konektivitas yang stabil dan AI yang cerdas, bukan sekadar raw power.

Oleh karena itu, pemilihan chipset yang lebih seimbang mungkin justru mendukung visi besar “Human x Car x Home” yang sedang mereka bangun.

Pada akhirnya, rumor mengenai absennya chipset teratas Qualcomm di Xiaomi 18 ini mengajarkan kita untuk tidak lagi terpaku pada satu metrik spesifikasi saja. Dunia teknologi terus bergerak dinamis.

Sebuah ponsel pintar di masa depan tidak lagi dinilai dari seberapa tinggi skor AnTuTu-nya, melainkan seberapa baik ia mengerti kebutuhan Anda, seberapa awet baterainya menemani hari sibuk Anda, dan seberapa mulus ia terhubung dengan perangkat lain di sekitar Anda.

Mari kita tunggu konfirmasi resminya, namun satu hal yang pasti: Xiaomi selalu punya kejutan. (Icha)

Bukan Cuma Tren Sesaat! Ini Alasan 2026 Bakal Jadi Era Emas Smartphone Lipat

0

Teko.id – Pernahkah Anda merasa bosan dengan desain ponsel yang begitu-begitu saja dalam satu dekade terakhir? Bentuk kotak pipih yang dominan seolah mencapai titik jenuh, membuat inovasi terasa stagnan.

Namun, kehadiran teknologi layar lipat beberapa tahun belakangan memberikan angin segar, seolah menjanjikan masa depan fiksi ilmiah yang kini berada dalam genggaman.

Pertanyaannya, apakah ini hanya gimmick mahal atau evolusi alami dari perangkat komunikasi kita?

Data terbaru dari Counterpoint Research memberikan gambaran yang cukup mengejutkan sekaligus realistis mengenai industri ini. Sepanjang tahun 2024, pengiriman smartphone lipat global tercatat tumbuh sebesar 23% secara year-on-year (YoY).

Angka ini menunjukkan bahwa minat konsumen sebenarnya ada dan terus tumbuh, didorong oleh pemain besar yang konsisten membanjiri pasar dengan inovasi terbaru mereka.

Namun, para analis melihat adanya sedikit “rem mendadak” menjelang tahun 2025, di mana pertumbuhan diprediksi akan melambat karena berbagai faktor persaingan harga dan strategi pabrikan.

Meski tahun depan mungkin terlihat sedikit lesu, jangan buru-buru memandang sebelah mata. Laporan tersebut justru menyoroti tahun 2026 sebagai titik balik krusial.

Ibarat ketenangan sebelum badai, pasar sedang bersiap untuk lonjakan besar yang akan mengubah peta persaingan teknologi seluler secara drastis.

Transisi ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan tentang kedewasaan teknologi dan masuknya pemain raksasa yang selama ini masih “malu-malu” untuk terjun ke kolam inovasi layar fleksibel ini.

Transisi Menuju Kedewasaan Pasar

Tahun 2024 menjadi saksi dominasi dua raksasa teknologi, Samsung dan Huawei, yang terus mendorong batas kemampuan perangkat lipat.

Peluncuran produk seperti Samsung Galaxy Z Fold Special Edition dan Huawei Mate X6 menjadi bukti nyata bahwa permintaan pasar masih sangat kuat.

Inovasi yang mereka tawarkan membuat Samsung Smartphone Lipat tetap menjadi tolak ukur utama bagi konsumen yang menginginkan produktivitas tinggi dalam saku mereka.

Namun, Counterpoint mencatat adanya fenomena menarik untuk tahun 2025. Beberapa merek asal Tiongkok, seperti Oppo dan vivo, dilaporkan mulai menahan diri.

Mereka diprediksi akan menunda peluncuran perangkat lipat tipe book-type (lipatan seperti buku) terbaru mereka.

Alasannya cukup pragmatis: tekanan profitabilitas. Persaingan harga yang ketat membuat margin keuntungan menipis, memaksa pabrikan untuk berpikir ulang sebelum membanjiri pasar global dengan model baru, terutama ketika daya beli konsumen di beberapa wilayah belum pulih sepenuhnya.

Kondisi ini menciptakan masa transisi yang unik. Di satu sisi, teknologi semakin matang dengan engsel yang lebih kuat dan layar yang makin minim lipatan.

Di sisi lain, para pemain industri mulai lebih selektif. Ini bukan berarti pasar sedang sekarat, melainkan sedang mencari bentuk keseimbangan baru sebelum melompat ke fase pertumbuhan berikutnya yang lebih agresif.

Faktor “X” di Tahun 2026

Jika 2025 adalah tahun konsolidasi, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun ledakan. Analis senior dari Counterpoint, Jene Park, mengungkapkan bahwa pemicu utamanya adalah potensi masuknya Apple ke dalam gelanggang smartphone lipat.

Selama ini, Apple dikenal sebagai perusahaan yang tidak selalu menjadi yang pertama, tetapi selalu menjadi penyempurna teknologi. Kehadiran iPhone lipat dipercaya akan memberikan validasi mutlak terhadap kategori produk ini di mata konsumen awam.

Masuknya raksasa Cupertino tersebut diprediksi akan memicu efek domino. Pengguna setia ekosistem iOS yang selama ini ragu beralih ke Android demi layar lipat, akhirnya akan memiliki opsi dalam ekosistem mereka sendiri.

Mengingat Smartphone Aktif di dunia didominasi oleh perangkat Apple, konversi sebagian kecil pengguna iPhone ke model lipat saja sudah cukup untuk mengguncang statistik pengiriman global secara masif.

Selain itu, persaingan di tahun 2026 tidak hanya akan berkutat pada form factor, tetapi juga integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih mendalam.

Dengan Apple yang berpotensi menjadi Raja Smartphone Global di segmen premium, standar kualitas dan durabilitas perangkat lipat dipastikan akan meningkat pesat, memaksa kompetitor untuk terus berinovasi atau tertinggal.

Proyeksi Jangka Panjang yang Menggila

Optimisme ini didukung oleh data jangka panjang yang solid. Counterpoint memproyeksikan bahwa pengiriman smartphone lipat global akan melampaui angka 130 juta unit pada tahun 2030.

Ini merepresentasikan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 17% antara tahun 2025 hingga 2030. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan smartphone konvensional yang cenderung stagnan.

Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh Apple atau Samsung saja. Merek lain seperti Honor juga terus menunjukkan taringnya dengan desain yang semakin tipis dan elegan, seperti yang terlihat pada seri Honor Magic 8.

Kompetisi yang sehat ini menjamin bahwa harga perangkat lipat perlahan akan menjadi lebih terjangkau, sehingga tidak lagi menjadi barang mewah yang eksklusif bagi kalangan tertentu saja.

Pada akhirnya, masa depan industri seluler tampaknya memang akan “melipat”. Dengan teknologi yang semakin matang dan ekosistem aplikasi yang semakin mendukung tampilan layar besar yang fleksibel, perangkat ini menawarkan solusi hibrida antara ponsel dan tablet yang sulit ditolak.

Bagi Anda yang masih ragu, mungkin tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk mulai melirik dan bersiap mengganti perangkat lama Anda dengan teknologi yang lebih dinamis. (Icha)

Huawei Kembangkan Pura X Versi Non-Folding dengan Layar Lebar

0

Telko.id – Huawei dikabarkan tengah mengerjakan varian perangkat baru yang cukup unik dalam peta persaingan smartphone global. Berdasarkan informasi terbaru yang beredar, raksasa teknologi tersebut sedang mengembangkan versi non-folding atau tidak dapat dilipat dari Huawei Pura X.

Perangkat ini disebut-sebut akan mengusung karakteristik fisik yang tidak biasa, yakni penggunaan rasio aspek layar yang lebar.

Langkah ini menandakan eksperimen berani dari Huawei untuk menghadirkan faktor bentuk (form factor) yang berbeda di pasaran.

Jika biasanya seri dengan akhiran “X” pada lini produk Huawei identik dengan mekanisme layar lipat seperti pada seri Mate X, kehadiran versi non-folding ini menawarkan proposisi nilai yang berbeda.

Pengguna berpotensi mendapatkan area layar seluas perangkat lipat yang sedang terbuka, namun dalam bentuk candybar solid tanpa engsel.

Informasi mengenai pengembangan perangkat ini masih sangat terbatas, namun fokus utama terletak pada desain layarnya.

Dengan mengadopsi rasio aspek yang lebar, smartphone ini kemungkinan besar ditujukan untuk produktivitas tinggi dan pengalaman multimedia yang lebih imersif tanpa perlu khawatir akan durabilitas layar lipat.

Konsep ini mengingatkan pada pendekatan desain yang memprioritaskan “screen real estate” maksimal dalam satu genggaman tangan.

Konsep Layar Lebar pada Pura X

Keputusan untuk membuat versi non-folding dari sebuah perangkat yang sejatinya didesain sebagai ponsel lipat (atau memiliki DNA ponsel lipat) adalah strategi yang menarik.

Huawei Pura X versi ini diprediksi akan mempertahankan dimensi lebar yang biasanya ditemukan pada ponsel lipat saat mode tidak terlipat, namun dijadikan permanen dalam bentuk batang.

Hal ini memberikan keuntungan berupa ketahanan fisik yang lebih baik karena absennya komponen bergerak seperti engsel.

Rasio aspek lebar yang menjadi sorotan utama dalam bocoran ini mengindikasikan bahwa perangkat tersebut akan lebih pendek namun lebih lebar dibandingkan smartphone konvensional pada umumnya.

Desain seperti ini sangat ideal untuk menampilkan dokumen, spreadsheet, atau menikmati konten video tanpa pemangkasan (cropping) yang berlebihan.

Bagi pengguna yang menyukai ukuran layar tablet mini namun menginginkan perangkat yang masih bisa masuk ke saku, konsep ini menjadi solusi alternatif.

Selain itu, penggunaan nama “Pura” yang disematkan pada model ini menegaskan posisi perangkat dalam ekosistem high-end Huawei. Seperti diketahui, seri Pura (sebelumnya seri P) dikenal dengan keunggulan fotografi dan desain estetis.

Integrasi elemen desain “X” ke dalam lini Pura, namun tanpa mekanisme lipat, menunjukkan adanya peleburan fitur antara gaya modis seri Pura dan produktivitas seri Mate/X.

Di pasar Indonesia sendiri, antusiasme terhadap produk Huawei masih tinggi, terutama setelah peluncuran seri Harga Pura 80 yang kompetitif. Kehadiran perangkat dengan form factor unik seperti Pura X non-folding ini tentu akan menambah variasi pilihan bagi konsumen yang mencari perangkat premium dengan identitas visual yang kuat.

Potensi Pasar dan Fungsionalitas

Pengembangan Huawei Pura X dengan layar lebar non-folding ini bisa jadi merupakan respons terhadap segmen pasar yang menginginkan layar besar namun skeptis terhadap keawetan layar lipat.

Layar lebar memungkinkan antarmuka pengguna (UI) yang lebih kaya, seperti kemampuan split-screen yang lebih nyaman atau tampilan keyboard virtual yang lebih luas untuk mengetik.

Meskipun belum ada detail spesifikasi teknis mengenai prosesor atau kamera yang akan digunakan, besar kemungkinan perangkat ini akan mewarisi teknologi kamera canggih khas seri Pura.

Kombinasi antara layar lebar untuk viewfinder dan sensor kamera superior bisa menjadikan perangkat ini alat konten kreasi yang mumpuni. Hal ini sejalan dengan apa yang ditawarkan pada Sensor Kamera di model Pro terbaru mereka.

Belum ada konfirmasi resmi mengenai kapan perangkat ini akan diluncurkan atau apakah akan tersedia secara global. Namun, kabar mengenai pengerjaan proyek ini menunjukkan bahwa Huawei terus berinovasi mencari celah pasar yang belum tergarap maksimal oleh kompetitor.

Perangkat dengan rasio aspek lebar non-standar memang jarang ditemui, namun memiliki basis penggemar tersendiri di kalangan power user.

Langkah Huawei ini patut dipantau, mengingat rekam jejak perusahaan dalam menghadirkan inovasi perangkat keras yang seringkali menjadi tren di industri.

Jika Pura X versi non-folding ini benar-benar terealisasi, ia akan mengisi celah unik antara smartphone tradisional dan tablet kompak, menawarkan pengalaman visual yang luas dengan durabilitas perangkat konvensional. (Icha)

Laba Indosat Tembus Double-Digit, Pendapatan 2025 Capai Rp56,5 Triliun

0

Telko.id – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) resmi mengumumkan pencapaian finansial yang impresif untuk tahun buku 2025.

Emiten telekomunikasi ini berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp56,5 triliun, yang mencerminkan pertumbuhan bisnis berkelanjutan di tengah persaingan industri yang ketat.

Kinerja positif ini turut ditandai dengan lonjakan laba bersih sebesar 12,2% secara year-on-year (YoY), mempertegas posisi perusahaan dalam menjaga profitabilitas yang sehat.

Memasuki tahun 2026, Indosat membawa momentum solid dari kuartal terakhir tahun sebelumnya. Pada periode kuartal IV-2025, perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9% secara kuartalan (quarter-on-quarter) menjadi Rp15,36 triliun.

Angka ini menjadi indikator kuat bahwa strategi perusahaan dalam mengarungi dinamika industri telekomunikasi berjalan efektif.

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari fokus perusahaan pada eksekusi strategi yang disiplin.

Menurutnya, Indosat menutup tahun 2025 dengan fundamental yang semakin kokoh untuk melaju kencang di tahun 2026.

“Kami menutup tahun 2025 dengan momentum yang kuat, mencapai panduan kinerja yang telah ditetapkan, serta mengakhiri tahun dengan fondasi yang solid untuk melaju ke 2026. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan pendapatan yang kuat, peningkatan profitabilitas, dan kinerja laba bersih yang solid,” ujar Vikram dalam keterangan resminya di Jakarta.

Kinerja keuangan yang mentereng ini juga terlihat dari pos laba yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik induk. Pada kuartal terakhir 2025, pos ini melonjak drastis sebesar 53,5% secara kuartalan dan 12,2% secara tahunan menjadi Rp5,5 triliun.

Capaian ini menunjukkan efisiensi operasional yang terus membaik seiring dengan upaya perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, termasuk sejarah perusahaan yang rutin Bagikan Dividen kepada para investor.

Selain itu, EBITDA perusahaan tercatat meningkat 12% menjadi Rp26,6 triliun. Pertumbuhan EBITDA yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan ini menegaskan kesehatan fundamental keuangan Indosat serta kedisiplinan manajemen dalam pengelolaan biaya.

Transformasi AI Dorong ARPU

Salah satu sorotan utama dalam laporan kinerja Indosat 2025 adalah peningkatan Average Revenue Per User (ARPU) yang progresif. Indosat mencatat ARPU menyentuh angka Rp44 ribu, sebuah pencapaian yang didorong oleh strategi personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Pemanfaatan teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan spesifik setiap pelanggan.

Langkah ini sejalan dengan visi besar perusahaan yang terus memperkuat Komitmen AI dalam setiap lini operasionalnya. Vikram menambahkan bahwa pertumbuhan ARPU ini merupakan hasil dari penguatan jaringan serta fokus konsisten dalam menghadirkan pengalaman pelanggan yang luar biasa.

Dalam upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan pelanggan, Indosat juga telah mengimplementasikan inovasi berfokus pada pelanggan seperti fitur AI-powered 360 Scam and Spam Protection.

Solusi keamanan berbasis platform agentic canggih ini dirancang untuk melindungi pelanggan dari ancaman penipuan dan pesan sampah di berbagai kanal digital, yang sekaligus membangun kepercayaan digital di ekosistem Indosat.

Transformasi menjadi perusahaan berbasis AI (AI Native TechCo) terus dipercepat melalui investasi berkelanjutan pada infrastruktur digital.

Hal ini termasuk langkah strategis perusahaan dalam menerbitkan Obligasi Indosat untuk memperkuat struktur permodalan guna mendukung ekspansi jaringan dan teknologi.

Ekspansi Layanan Home Broadband

Merespons tingginya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas digital untuk bekerja, belajar, dan berbisnis, Indosat terus memperluas jangkauan layanan Fixed Wireless Access (FWA). Melalui brand HiFi Air, Indosat menghadirkan solusi internet rumah yang andal untuk mendukung gaya hidup digital yang terus berkembang.

Hingga akhir tahun 2025, layanan 5G dan HiFi Air telah tersedia di 24 kota di seluruh Indonesia. Ekspansi agresif ini membuahkan hasil positif, di mana Indosat berhasil menutup tahun dengan basis pelanggan Home Broadband (HBB) mencapai sekitar 400.000 pelanggan.

Berbagai inisiatif strategis ini merupakan bagian dari integrasi kecerdasan artifisial dengan kapabilitas jaringan canggih. Tujuannya adalah menghadirkan konektivitas yang lebih cerdas, adaptif, dan berorientasi pada manusia.

Dengan fondasi keuangan yang kuat dan operasional berbasis data, Indosat Ooredoo Hutchison optimistis dapat terus menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan serta memberdayakan Indonesia melalui ekosistem digital yang tangguh dan inklusif. (Icha)

Apple Rilis iOS 26.3, Tawarkan Kemudahan Pindah ke Android

0

Telko.id – Apple secara resmi telah merilis pembaruan sistem operasi terbaru mereka, yakni iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 untuk pengguna global.

Dalam pembaruan kali ini, raksasa teknologi asal Cupertino tersebut membawa perubahan yang cukup mengejutkan, yakni dukungan fitur yang dirancang khusus untuk mempermudah proses migrasi pengguna ke perangkat berbasis Android.

Peluncuran iOS 26.3 ini menandai langkah strategis baru bagi Apple dalam hal interoperabilitas antar sistem operasi. Jika sebelumnya ekosistem iOS dikenal sangat tertutup dan sulit ditinggalkan, pembaruan ini memberikan fleksibilitas lebih bagi konsumen yang ingin beralih platform tanpa harus kehilangan data penting mereka.

Dukungan serupa juga dihadirkan pada iPadOS 26.3, memastikan pengalaman transisi yang mulus tidak hanya bagi pengguna iPhone, tetapi juga pengguna tablet iPad.

Langkah ini tentu memancing berbagai reaksi dari pengamat industri teknologi. Keputusan untuk mempermudah jalan keluar dari ekosistem Apple dianggap sebagai respons terhadap dinamika pasar yang menuntut keterbukaan akses data bagi konsumen.

Pengguna kini memiliki opsi lebih leluasa untuk menentukan perangkat yang ingin mereka gunakan tanpa merasa terkunci dalam satu merek tertentu.

Dukungan Migrasi yang Lebih Luas

Fitur migrasi yang disematkan dalam iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 ini memungkinkan transfer data yang lebih komprehensif. Pengguna yang berniat mengganti perangkat mereka ke ekosistem kompetitor kini dapat memindahkan aset digital mereka dengan hambatan yang lebih minim.

Hal ini sejalan dengan tren industri di mana Migrasi Data antar platform menjadi isu krusial bagi kenyamanan konsumen.

Sebelumnya, perpindahan dari iOS ke Android sering kali menjadi proses yang rumit dan memakan waktu. Pengguna kerap menghadapi kesulitan dalam memindahkan kontak, foto, hingga riwayat percakapan.

Dengan pembaruan ini, Apple tampaknya ingin memastikan bahwa meskipun pengguna memilih untuk meninggalkan produk mereka, pengalaman pengguna tetap menjadi prioritas utama hingga tahap akhir penggunaan perangkat.

Di sisi lain, ekosistem Android sendiri terus berbenah untuk menyambut pengguna baru. Google terus mengembangkan Platform Android agar semakin ramah bagi mereka yang baru beralih.

Sinergi antara kemudahan melepas data dari iOS dan kesiapan Android menerima data tersebut akan menciptakan iklim kompetisi perangkat yang lebih sehat dan berfokus pada kualitas fitur.

Dampak Bagi Pasar Smartphone

Kemudahan migrasi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan pasar ponsel pintar. Pengguna yang selama ini bertahan menggunakan iPhone karena takut kehilangan data, kini memiliki keberanian untuk mencoba perangkat lain.

Hal ini bisa menjadi peluang besar bagi produsen smartphone berbasis Android, termasuk merek-merek yang menyasar segmen menengah dan premium.

Di Indonesia sendiri, persaingan antar vendor semakin ketat. Bahkan, merek lokal seperti Advan terus berinovasi untuk merebut hati konsumen.

Upaya produsen Ponsel Lokal untuk meningkatkan kualitas perangkat mereka kini bisa mendapatkan momentum positif dengan adanya kemudahan migrasi dari sistem operasi iOS.

Fleksibilitas ini juga berdampak pada industri aplikasi dan hiburan digital. Pengembang aplikasi kini bisa lebih optimis bahwa pengguna mereka dapat tetap menikmati layanan di berbagai perangkat.

Sebagai contoh, ketersediaan Game Mobile populer di kedua platform memastikan bahwa progres permainan dan pembelian dalam aplikasi tetap relevan, terlepas dari perangkat apa yang digunakan konsumen.

Tantangan Teknis yang Masih Ada

Meskipun Apple telah membuka pintu migrasi melalui iOS 26.3, proses perpindahan data antar sistem operasi yang berbeda arsitektur tidak selamanya berjalan tanpa celah.

Pengguna tetap disarankan untuk melakukan pencadangan (backup) data secara manual sebelum memulai proses transfer untuk menghindari risiko kehilangan informasi penting.

Belajar dari berbagai kasus migrasi layanan digital sebelumnya, seringkali muncul isu tak terduga saat sistem baru diterapkan.

Masalah seperti Kendala Teknis pada server atau inkompatibilitas format file tertentu masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, langkah Apple dalam merilis fitur ini kemungkinan akan diikuti dengan serangkaian panduan teknis atau pembaruan minor untuk menambal celah yang mungkin ditemukan oleh pengguna awal.

Rilisnya iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 ini menegaskan posisi Apple yang mulai melunak terhadap eksklusivitas ekosistemnya. Bagi konsumen, ini adalah kabar baik yang menjanjikan kebebasan lebih dalam memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka tanpa tersandera oleh kesulitan teknis perpindahan data. (Icha)

Infinix Note 60 Series Dikabarkan Beralih ke Chipset Snapdragon

0

Telko.id – Infinix tampaknya sedang mempersiapkan strategi baru yang cukup signifikan untuk lini produk kelas menengah mereka. Berdasarkan informasi yang beredar, seri Infinix Note 60 mendatang dilaporkan akan meninggalkan tradisi penggunaan chipset MediaTek dan beralih menggunakan prosesor besutan Qualcomm, yakni Snapdragon.

Langkah ini menjadi sorotan utama mengingat lini Note dari Infinix selama ini sangat identik dengan penggunaan chipset seri Helio maupun Dimensity.

Kabar mengenai penggunaan platform Snapdragon pada Infinix Note 60 series ini memicu berbagai spekulasi positif di kalangan pengamat teknologi maupun penggemar gadget.

Perubahan pemasok chipset ini dinilai sebagai upaya strategis Infinix untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan persepsi kualitas produk mereka di segmen yang sangat kompetitif. Penggunaan prosesor Snapdragon sering kali diasosiasikan dengan optimalisasi aplikasi yang lebih matang serta efisiensi daya yang lebih baik.

Pergeseran ini tentu menjadi angin segar bagi konsumen yang selama ini mendambakan variasi pada perangkat Infinix.

Meskipun belum ada rincian spesifik mengenai tipe Snapdragon seri apa yang akan digunakan, konfirmasi mengenai perpindahan kubu dari MediaTek ke Qualcomm ini saja sudah cukup untuk menempatkan Infinix Note 60 series sebagai salah satu perangkat yang patut dinantikan kehadirannya di pasar global maupun Indonesia.

Transformasi Strategi Dapur Pacu Infinix

Keputusan untuk menyematkan otak pemrosesan dari Qualcomm pada seri Note terbaru menandai babak baru dalam evolusi produk Infinix. Selama beberapa tahun terakhir, seri Note dikenal sebagai perangkat yang menawarkan layar besar dan performa mumpuni dengan harga terjangkau, yang sebagian besar ditenagai oleh chipset MediaTek.

Sebagai contoh, generasi sebelumnya seperti Infinix Note 10 dan varian Pro-nya sangat mengandalkan seri Helio G untuk memberikan performa gaming yang stabil di kelasnya.

Namun, transisi ke Snapdragon pada Note 60 series menjanjikan potensi peningkatan di berbagai sektor. Chipset Snapdragon dikenal memiliki Image Signal Processor (ISP) yang kuat, yang berpotensi meningkatkan kualitas fotografi dan videografi secara signifikan.

Hal ini sejalan dengan tren pasar saat ini di mana kemampuan kamera menjadi salah satu faktor penentu utama bagi konsumen dalam membeli smartphone baru.

Selain itu, dukungan komunitas pengembang terhadap chipset Snapdragon cenderung lebih besar.

Ini membuka peluang bagi pengguna yang gemar melakukan kustomisasi perangkat atau menggunakan aplikasi kamera pihak ketiga seperti Google Camera (GCam) untuk mendapatkan hasil foto yang lebih optimal dibandingkan aplikasi bawaan.

Dampak pada Ekosistem dan Keamanan

Langkah Infinix untuk mengadopsi teknologi baru tidak hanya terbatas pada perangkat keras. Perusahaan ini juga terus berinovasi dalam aspek keamanan perangkat lunak.

Baru-baru ini, terdapat inisiatif strategis di mana Solusi Keamanan berbasis AI mulai diintegrasikan ke dalam ekosistem smartphone mereka. Dengan hadirnya chipset Snapdragon yang umumnya memiliki unit pemrosesan AI yang canggih, integrasi fitur keamanan siber ini diharapkan dapat berjalan lebih mulus dan responsif pada Note 60 series.

Kombinasi antara perangkat keras yang reliabel dan sistem keamanan yang ditingkatkan akan menjadikan seri ini tidak hanya menarik bagi gamer atau pengguna multimedia, tetapi juga bagi pengguna profesional yang membutuhkan perangkat aman untuk produktivitas sehari-hari.

Ini adalah langkah logis bagi Infinix untuk naik kelas dan menantang dominasi brand lain yang sudah lebih dulu mapan di segmen menengah atas.

Posisi di Tengah Kompetisi Pasar

Pasar smartphone kelas menengah saat ini sedang mengalami saturasi dengan banyaknya pilihan yang tersedia. Peluncuran produk-produk inovatif seperti Infinix Note Edge yang menawarkan desain tipis dengan baterai besar menunjukkan bahwa Infinix tidak ragu untuk bereksperimen dengan form factor dan spesifikasi kunci.

Kehadiran Note 60 series dengan Snapdragon akan melengkapi portofolio tersebut, memberikan opsi bagi pengguna yang memprioritaskan performa chipset di atas segalanya.

Jika melihat ke belakang, kesuksesan Infinix Note 10 Pro membuktikan bahwa pasar merespons positif terhadap perangkat yang memberikan value-for-money tinggi.

Dengan beralih ke Snapdragon, Infinix berpotensi menarik segmen pengguna baru yang sebelumnya mungkin ragu memilih Infinix karena preferensi terhadap merek prosesor tertentu. Ini adalah strategi akuisisi pasar yang cerdas, memanfaatkan reputasi global Qualcomm untuk mendongkrak citra merek Infinix.

Selain itu, langkah ini juga bisa dilihat sebagai respons terhadap pergerakan kompetitor yang juga mulai agresif merilis perangkat dengan spesifikasi tinggi di harga terjangkau.

Seri terbaru yang baru saja dirilis global, seperti Desain Tipis pada seri Hot, menunjukkan konsistensi bahasa desain Infinix. Jika Note 60 series menggabungkan estetika modern tersebut dengan kekuatan Snapdragon, produk ini memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin pasar di kuartal mendatang.

Ekspektasi Konsumen dan Ketersediaan

Antusiasme terhadap kabar ini terlihat cukup tinggi di berbagai forum teknologi. Banyak yang berharap bahwa penggunaan Snapdragon tidak akan melambungkan harga jual perangkat secara drastis.

Infinix selama ini dikenal sebagai “price killer”, dan mempertahankan identitas tersebut sambil meningkatkan spesifikasi inti akan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai tanggal peluncuran pasti dari Infinix Note 60 series. Namun, bocoran mengenai penggunaan chipset ini mengindikasikan bahwa proses pengembangan perangkat sudah berada di tahap lanjut.

Konsumen di Indonesia, yang merupakan salah satu pasar terbesar bagi Infinix, tentu berharap agar seri ini segera masuk resmi tidak lama setelah peluncuran globalnya.

Perubahan haluan ke Snapdragon pada Infinix Note 60 series adalah sebuah pernyataan tegas bahwa Infinix siap berkompetisi di level yang lebih tinggi.

Dengan memadukan reputasi performa Qualcomm dan strategi harga agresif khas Infinix, seri ini diprediksi akan menjadi salah satu highlight penting dalam peta persaingan smartphone tahun ini. (Icha)

Riset Ungkap 1 dari 4 Smartphone Aktif di Dunia Adalah iPhone

0

Telko.id – Data terbaru dari firma riset pasar Counterpoint Research mengungkapkan pencapaian signifikan bagi ekosistem Apple di kancah global. Laporan tersebut mencatat bahwa satu dari setiap empat smartphone yang aktif digunakan di seluruh dunia saat ini adalah iPhone.

Angka ini menandakan dominasi Apple dalam hal basis pengguna aktif (installed base), meskipun persaingan pengiriman unit perangkat keras terus berlangsung ketat dengan berbagai pabrikan Android.

Pencapaian pangsa pasar 25% dari total populasi smartphone aktif ini menegaskan tingginya tingkat retensi pengguna Apple dibandingkan kompetitornya. Counterpoint menyoroti bahwa metrik ini berbeda dengan data pengiriman kuartalan yang sering berfluktuasi.

Basis pengguna aktif mencerminkan jumlah perangkat yang benar-benar beroperasi di tangan konsumen, bukan sekadar jumlah unit yang dikirimkan ke distributor atau toko ritel dalam periode tertentu.

Keberhasilan Apple menguasai seperempat pangsa smartphone aktif global didorong oleh siklus hidup perangkat yang lebih panjang serta dukungan pembaruan perangkat lunak yang konsisten.

Hal ini membuat iPhone model lama tetap relevan dan digunakan oleh konsumen dalam jangka waktu lama, atau beralih tangan melalui pasar sekunder yang sangat hidup. Fenomena ini menjaga ekosistem iOS tetap tumbuh stabil di tengah dinamika industri seluler yang kompetitif.

Dominasi Basis Pengguna Aktif

Data yang dipaparkan Counterpoint Research memberikan gambaran jelas mengenai loyalitas merek yang kuat di kalangan pengguna Apple. Sementara sistem operasi Android secara kolektif menguasai sisa pangsa pasar sebesar 75%, angka tersebut terpecah ke dalam ratusan merek (OEM) yang berbeda seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dan lainnya.

Sebaliknya, Apple berdiri sendiri sebagai entitas tunggal yang memegang porsi 25% tersebut, menjadikannya pemain tunggal dengan basis pengguna terbesar.

Kekuatan basis pengguna aktif ini menjadi aset vital bagi Apple dalam mengembangkan bisnis layanan mereka. Dengan semakin banyaknya perangkat yang aktif, potensi pendapatan dari App Store, Apple Music, iCloud, dan layanan berlangganan lainnya semakin besar.

Ini adalah strategi jangka panjang yang membedakan Apple dari banyak pesaing yang lebih fokus pada volume penjualan perangkat keras semata.

Menariknya, pertumbuhan basis pengguna ini juga didukung oleh performa penjualan model-model terbaru. Laporan pasar menunjukkan bahwa seri terbaru Apple terus mendapatkan respons positif.

Hal ini terlihat dari data yang menempatkan iPhone 16 sebagai salah satu kontributor utama dalam menjaga momentum penjualan Apple di berbagai wilayah kunci.

Peran Pasar Sekunder dan Perangkat Refurbished

Salah satu faktor kunci yang memungkinkan Apple mencapai penetrasi 25% adalah ketahanan nilai jual kembali perangkatnya. iPhone dikenal memiliki nilai jual kembali (resale value) yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata ponsel Android.

Hal ini menciptakan pasar sekunder yang kuat, di mana perangkat yang sudah berusia dua atau tiga tahun masih aktif diperjualbelikan dan digunakan oleh pemilik baru.

Strategi Apple untuk mulai masuk secara resmi ke ranah penjualan perangkat rekondisi juga turut memperluas jangkauan pasar mereka ke segmen harga yang lebih terjangkau.

Langkah strategis seperti menghadirkan opsi iPhone Refurbished resmi memberikan akses bagi konsumen dengan anggaran terbatas untuk tetap masuk ke dalam ekosistem iOS, yang pada akhirnya menambah jumlah total pengguna aktif global.

Pasar sekunder ini secara efektif memperpanjang umur pakai setiap unit iPhone. Jika sebuah ponsel Android mungkin dipensiunkan setelah 2-3 tahun pemakaian, sebuah iPhone seringkali berganti pemilik hingga dua atau tiga kali sebelum akhirnya didaur ulang.

Akumulasi dari perangkat lama yang masih beroperasi inilah yang mendongkrak angka active installed base Apple secara signifikan.

Konteks Persaingan Global dan Lokal

Melihat lanskap yang lebih luas, pencapaian Apple ini terjadi di tengah pemulihan industri smartphone secara umum. Data industri menunjukkan adanya tren positif dalam pengiriman dan aktivasi perangkat baru.

Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi pada segmen premium, tetapi juga mencerminkan pulihnya daya beli konsumen yang mendorong Pasar Global ke arah yang lebih sehat setelah sempat melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, penetrasi iPhone yang kuat di pasar global juga memberikan dampak tidak langsung terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meskipun pasar lokal masih didominasi oleh perangkat Android di segmen entry-level dan mid-range, aspirasi konsumen untuk memiliki produk Apple terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital.

Analis memproyeksikan bahwa Pasar Indonesia akan terus melihat peningkatan adopsi smartphone premium dalam beberapa tahun ke depan, yang berpotensi memperbesar porsi Apple di tanah air.

Ke depan, Apple tampaknya tidak akan mengendurkan gas. Rumor mengenai inovasi desain dan teknologi pada seri mendatang, seperti iPhone 17, mengindikasikan bahwa perusahaan asal Cupertino ini terus berupaya menarik minat pengguna baru maupun pengguna lama untuk melakukan upgrade.

Inovasi perangkat keras yang dipadukan dengan ekosistem perangkat lunak yang matang menjadi benteng pertahanan utama Apple dalam menjaga rasio 1 banding 4 ini tetap bertahan, atau bahkan meningkat di masa depan.

Data dari Counterpoint ini menjadi indikator penting bagi para pengembang aplikasi, pemasar, dan investor. Tingginya jumlah pengguna aktif iPhone berarti demografi pengguna iOS tetap menjadi target pasar yang sangat lukrat dengan tingkat pengeluaran yang umumnya lebih tinggi dibandingkan pengguna platform lain.

Bagi Apple, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan basis pengguna raksasa ini agar tidak beralih ke kompetitor di tengah gempuran inovasi ponsel lipat dan AI dari kubu Android. (Icha)