spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 216

Bocoran Samsung Galaxy Z Flip7: Exynos 2500 Bakal Jadi Kejutan Besar?

Telko.id – Samsung Galaxy Z Flip7, yang diprediksi meluncur awal Juli bersama saudaranya Galaxy Z Fold7, dikabarkan akan menjadi perangkat lipat pertama yang ditenagai Exynos 2500—setelah sebelumnya chipset ini gagal masuk ke Galaxy S25 karena masalah produksi.

Ini bukan sekadar upgrade biasa. Kehadiran Exynos 2500 di Z Flip7 menandai perubahan strategi besar Samsung.

Selama ini, lini ponsel lipat premium Samsung selalu mengandalkan Snapdragon, sementara Exynos hanya muncul di seri mid-range seperti Galaxy A51 5G atau Galaxy A71 5G.

Tapi dengan masalah produksi Snapdragon 8 Elite dan perbaikan yield Exynos 2500, Samsung rupanya siap mengambil risiko.

Exynos 2500: Spesifikasi yang Menjanjikan

Menurut sumber terpercaya, Exynos 2500 akan menjadi chipset 10-core dengan konfigurasi unik: satu Cortex-X925 (3.3 GHz), dua Cortex-A725 (2.75 GHz), lima Cortex-A725 (2.36 GHz), dan dua Cortex-A520 (1.8 GHz).

GPU-nya, Xclipse 950, mengadopsi arsitektur AMD RDNA 3.5—bukan yang terbaru, tapi tetap menarik untuk performa gaming dan emulasi.

Yang membuatnya spesial? Ini pertama kalinya Exynos digunakan di perangkat lipat Samsung. “Dengan volume penjualan Z Flip7 yang diperkirakan lebih rendah daripada seri S, masalah yield produksi mungkin tidak terlalu kritis,” ujar seorang analis industri.

Kabarnya, chipset ini akan digunakan di mayoritas pasar termasuk India dan Korea, sementara Snapdragon 8 Elite hanya untuk China dan Amerika Utara.

Mengapa Ini Penting untuk Samsung?

Setelah kegagalan Exynos 2400 yang membuat banyak penggemar kecewa, keputusan Samsung ini cukup berani. Tapi ada alasan strategis di baliknya. Dengan menggunakan Exynos di Z Flip7, Samsung bisa:

  • Mengurangi ketergantungan pada Qualcomm
  • Menguji pasar untuk penerimaan Exynos di segmen premium
  • Mengoptimalkan kontrol perangkat lunak dan kamera secara end-to-end

Seperti yang terlihat di Galaxy M21, Samsung memang sedang gencar mendiversifikasi portofolio chipset-nya.

Pertanyaannya: apakah pengguna siap menerima Exynos di perangkat flagship setelah beberapa generasi performa yang kurang memuaskan?

Jika rumor ini benar, Juli nanti akan menjadi momen bersejarah bagi Samsung. Tapi seperti biasa, kita harus menunggu konfirmasi resmi. Satu hal yang pasti—persaingan chipset ponsel tahun ini akan semakin panas! (Icha)

Poco F7 Segera Rilis? Bocoran Spesifikasi dan Tanggal Peluncuran

Telko.id – Xiaomi bocoran nya akan segera meluncurkan Poco F7 secara global, walaupun  jadwalnya sempat mengalami penundaan. Apa saja yang bisa kita harapkan dari smartphone ini?

Perangkat ini telah terlihat di beberapa sertifikasi, termasuk NBTC di Thailand, yang mengonfirmasi nama dan model number-nya, yaitu 25053PC47G.

Awalnya, kabar beredar bahwa Poco F7 akan dirilis pada akhir Mei, namun rupanya jadwal tersebut bergeser ke bulan Juni.

Spekulasi ini semakin kuat dengan adanya dugaan bahwa perangkat ini merupakan versi rebrand dari Redmi Turbo 4 Pro yang sudah diluncurkan di China bulan lalu.

Jika benar demikian, smartphone ini akan hadir dengan spesifikasi yang menggiurkan. Layar AMOLED 6,83 inci dengan resolusi 1280×2272 piksel dan refresh rate 120 Hz menjadi salah satu fitur andalannya.

Tak hanya itu, kecerahan puncaknya mencapai 3.200 nit, menjadikannya ideal untuk penggunaan di bawah sinar matahari langsung.

Poco F7 dengan layar AMOLED 120Hz dan Snapdragon 8s Gen 4
Poco F7 dikabarkan akan segera rilis dengan spesifikasi flagship.

Di bawah kap mesin, Snapdragon 8s Gen 4 akan menjadi otaknya, didukung RAM 12GB atau 16GB serta opsi penyimpanan hingga 1TB.

Spesifikasi Kamera dan Baterai yang Menggoda

Untuk urusan fotografi, smartphone ini dikabarkan akan membawa kamera utama 50 MP, kamera ultrawide 8 MP, dan kamera selfie 20 MP.

Kombinasi ini menjanjikan hasil foto yang tajam dan detail, baik di kondisi terang maupun minim cahaya.

Sementara itu, baterai berkapasitas 7.550 mAh pada Redmi Turbo 4 Pro mungkin akan dipertahankan untuk versi global, meski belum ada konfirmasi resmi.

Poco F7 akan bergabung dengan seri F7 lainnya yang sudah lebih dulu hadir, seperti Poco F7 Ultra dan F7 Pro.

Kedua varian ini telah mencuri perhatian dengan performa flagship-nya, dan perangkat ini diprediksi akan melanjutkan tren tersebut.

Kapan Poco F7 Akan Resmi Diluncurkan?

Meski belum ada pengumuman resmi dari Xiaomi, bocoran dari berbagai sertifikasi menunjukkan bahwa perangkat ini akan segera meluncur dalam waktu dekat.

Jika mengikuti pola peluncuran sebelumnya, kemungkinan besar Poco F7 akan diperkenalkan secara global pada bulan Juni.

Namun, apakah Xiaomi akan mempertahankan semua spesifikasi dari Redmi Turbo 4 Pro untuk pasar internasional? Jawabannya masih menjadi misteri.

Dengan spesifikasi yang menjanjikan dan harga yang diprediksi kompetitif, Poco F7 berpotensi menjadi salah satu smartphone mid-range terbaik tahun ini. Apakah Anda termasuk yang menantikan kehadirannya? (Icha)

Infinix Xpad GT: Tablet Gaming Murah dengan Snapdragon 888 yang Mengejutkan

Telko.id – Infinix kembali mengejutkan pasar dengan meluncurkan Infinix Xpad GT – tablet gaming yang mengusung chipset Snapdragon 888, prosesor flagship tahun 2021 yang dulu menghidupi berbagai ponsel premium.

Pilihan chipset ini cukup mengejutkan, mengingat Snapdragon 888 sudah tergolong “jadul” di tahun 2025.

Namun, keputusan Infinix menggunakan prosesor ini justru menjadi strategi cerdas untuk menawarkan performa tinggi dengan harga yang lebih terjangkau.

Bagaimana tidak, Snapdragon 888 masih mampu menyaingi chipset mid-range terbaru dalam hal performa gaming.

Spesifikasi Gahar dengan Harga Terjangkau

Infinix Xpad GT hadir dengan spesifikasi yang mengesankan untuk segmen harganya. Tablet ini dibekali layar besar 13 inci dengan refresh rate 144Hz, resolusi 2.880 x 1.840 piksel, dan dukungan HDR10.

Layar ini mampu mencapai kecerahan hingga 700 nits, menjadikannya ideal untuk gaming di berbagai kondisi pencahayaan.

Infinix Xpad GT gaming tablet unveiled with 13'' 144Hz display and Snapdragon 888

Untuk pendinginan, Infinix memasang vapor chamber berukuran besar guna menjaga suhu Snapdragon 888 tetap optimal selama sesi gaming marathon.

Tablet ini juga dilengkapi dengan 8GB RAM dan penyimpanan internal 256GB – konfigurasi yang lebih dari cukup untuk gaming mobile kelas atas.

Performa Gaming yang Masih Tangguh

Meski menggunakan chipset “tua”, performa gaming Infinix Xpad GT tetap patut diperhitungkan. Infinix mengklaim tablet ini mampu menjalankan Standoff 2 dengan frame rate 144fps, Honor of Kings dan Mobile Legends di 120fps, serta PUBG Mobile di 90fps – angka yang cukup mengesankan untuk perangkat di kisaran harga ini.

Dukungan audio juga tak kalah mengesankan dengan delapan speaker yang didukung teknologi DTS untuk pengalaman suara 3D.

Sayangnya, Infinix menghilangkan jack audio 3.5mm, meskipun mereka menyertakan adapter USB-C ke 3.5mm dalam paket penjualan.

Infinix Xpad GT highlights

Desain Premium dengan Baterai Jumbo

Dari segi desain, Infinix Xpad GT mengusung bodi metal yang ramping dengan ketebalan hanya 6.5mm. Tablet ini dibekali baterai berkapasitas besar 10.000mAh dengan dukungan pengisian cepat 33W – kombinasi yang ideal untuk gaming mobile dalam waktu lama.

Untuk kamera, terdapat modul 13MP di bagian belakang dan 9MP di depan. Meski bukan fokus utama tablet gaming, kamera ini cukup memadai untuk video call atau dokumentasi sederhana.

Harga dan Ketersediaan

Infinix Xpad GT saat ini sudah bisa dipesan secara pre-order di Malaysia melalui Lazada dengan harga MYR 1.700 (sekitar Rp5,8 juta).

Sebagai bonus pre-order, pembeli akan mendapatkan keyboard dengan trackpad dan stylus secara gratis – aksesori yang biasanya dijual terpisah.

The Infinix Xpad GT has a large 13” 144Hz HDR10 display

Dengan spesifikasi dan harga yang ditawarkan, Infinix Xpad GT berpotensi menjadi pilihan menarik bagi gamer mobile yang ingin pengalaman premium tanpa merogoh kocek terlalu dalam.

Keputusan Infinix menggunakan Snapdragon 888 mungkin mengejutkan, tetapi terbukti menjadi strategi yang cerdas untuk menawarkan value for money yang sulit ditandingi. (Icha)

Sony Tutup PlayStation Stars: Apa yang Akan Terjadi dengan Program Loyalitas Selanjutnya?

Telko.id – Sony resmi mengumumkan penghentian PlayStation Stars, program rewards yang telah berjalan sejak 2022. Mulai 23 Juli 2025, pemain tak bisa lagi mengumpulkan poin, dan pada 2 November 2026, program ini akan benar-benar ditutup.

Sebenarnya, PlayStation Stars diluncurkan sebagai upaya Sony untuk memberikan nilai tambah bagi para pemain setia.

Dengan membeli game di PlayStation Store, menyelesaikan misi khusus, atau meraih trofi, pengguna bisa mengumpulkan poin yang bisa ditukar dengan kredit belanja atau koleksi digital eksklusif. Namun, setelah hampir tiga tahun berjalan, program ini akhirnya menemui titik akhir.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Sony memutuskan untuk menutup program yang sempat digadang-gadang sebagai salah satu daya tarik ekosistem PlayStation? Mari kita telusuri lebih dalam.

Fakta di Balik Penutupan PlayStation Stars

Menurut pengumuman resmi di PlayStation Blog, Sony tidak memberikan alasan spesifik terkait keputusan ini.

Namun, beberapa faktor bisa menjadi penyebabnya. Pertama, program ini sempat mengalami gangguan teknis besar pada awal 2024, di mana pemain tidak bisa mengakses rewards selama hampir sebulan.

Kedua, respons komunitas terbelah—beberapa menyukai koleksi digitalnya, sementara yang lain mengkritik nilai rewards yang terbatas.

Antarmuka PlayStation Stars di PS5

Bagaimana Nasib Poin dan Koleksi Digital Anda?

Bagi Anda yang masih aktif di PlayStation Stars, berikut timeline penting yang perlu diperhatikan:

  • 23 Juli 2025: Poin tidak bisa lagi dikumpulkan, dan tidak ada misi atau rewards baru.
  • 2 November 2026: Program ditutup total, tetapi poin yang sudah terkumpul masih bisa ditukar hingga hari terakhir.

Kabar baiknya, koleksi digital yang sudah Anda miliki (seperti figur virtual atau tema eksklusif) tetap bisa diakses meski program sudah tutup.

Namun, Sony menegaskan bahwa setelah 2 November 2026, tidak ada lagi kesempatan untuk menukarkan poin.

Masa Depan Program Loyalitas Sony

Sony menyatakan bahwa mereka akan “mengembangkan inisiatif baru berdasarkan temuan dari PlayStation Stars.” Meski belum ada detail resmi, spekulasi mengarah pada dua kemungkinan:

  1. Integrasi dengan PlayStation Plus: Mungkin Sony akan menawarkan rewards eksklusif bagi anggota PS Plus, seperti diskon tambahan atau konten early access.
  2. Program Baru untuk PS6: Dengan penjualan PS5 mencapai 55 juta unit pada Maret 2025, Sony mungkin sedang mempersiapkan strategi loyalitas untuk generasi konsol berikutnya.

Apapun bentuknya, harapan para pemain jelas: program yang lebih stabil, rewards lebih bernilai, dan transparansi yang lebih baik.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Sony bisa menghadirkan pengganti yang lebih baik, atau justru kehilangan momentum?

Bagi yang ingin tetap update dengan kabar terbaru seputar PlayStation, jangan lupa ikuti kanal resmi Sony atau media teknologi terpercaya.

Siapa tahu, tak lama lagi akan ada pengumuman menarik yang bisa membuat Anda kembali tersenyum. (Icha)

3 Trik Jitu Bikin Konten Hangout Makin Keren dengan Galaxy S25 Series

Telko.id – Paling kesel kalau mengalami momen hangout seru bersama teman, tapi hasil fotonya justru mengecewakan? Entah karena ekspresi wajah yang tidak kompak, latar belakang yang berantakan, atau momen candid yang terlewat begitu saja.

Di era di mana konten digital menjadi bagian tak terpisahkan dari interaksi sosial, memiliki perangkat yang mampu mengabadikan momen secara sempurna bukan lagi sekadar keinginan—melainkan kebutuhan.

Galaxy S25 Series hadir dengan solusi cerdas berbasis Galaxy AI yang mengubah cara Anda menciptakan konten. Tidak sekadar memotret, seri terbaru Samsung ini menawarkan pengalaman fotografi yang lebih intuitif, kreatif, dan—yang terpenting—tanpa ribet.

Dengan tiga fitur unggulannya, Single Take, Best Face, dan Generative Edit, Galaxy S25 Series siap menjadi partner andalan untuk mengangkat kualitas konten hangout Anda ke level profesional.

Single Take: Revolusi Pengambilan Gambar dalam Satu Ketukan

Bayangkan Anda sedang asyik bercanda dengan teman-teman, tapi harus bolak-balik mengganti mode kamera antara foto, video, hingga slow-motion. Alih-alih menikmati momen, Anda justru sibuk mengurusi teknis. Fitur Single Take pada Galaxy S25 Series menghapus kerumitan tersebut.

Content image for article: 3 Trik Jitu Bikin Konten Hangout Makin Keren dengan Galaxy S25 Series

Dengan teknologi Galaxy AI, cukup tekan tombol shutter sekali, dan perangkat akan secara otomatis menangkap berbagai angle, momen candid, hingga menghasilkan footage slow-motion terbaik.

Sistem ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga memastikan tidak ada momen berharga yang terlewat. Cocok untuk Anda yang ingin fokus menikmati kebersamaan tanpa pusing memikirkan pengaturan kamera.

Best Face: Solusi Cerdas untuk Ekspresi Wajah yang Sempurna

Masalah klasik saat foto bersama: satu orang sudah tersenyum lebar, sementara yang lain masih belum siap. Hasilnya? Foto yang harus diulang berkali-kali. Fitur Best Face di Galaxy S25 Series menjawab tantangan ini dengan elegan.

Content image for article: 3 Trik Jitu Bikin Konten Hangout Makin Keren dengan Galaxy S25 Series

Dalam satu kali jepretan, kamera akan mengambil beberapa frame sekaligus dan memberikan opsi untuk memilih ekspresi wajah terbaik dari setiap individu dalam gambar.

Tidak perlu khawatir ada yang merem atau kurang semangat—semua bisa disesuaikan dengan sekali sentuh.

Teknologi ini didukung oleh kecerdasan buatan yang mampu menganalisis ekspresi wajah secara real-time, memastikan setiap orang terlihat maksimal.

Generative Edit: Menghapus Gangguan dengan Presisi Tinggi

Latar belakang foto yang berantakan sering kali merusak komposisi gambar. Entah itu orang yang berlalu-lalang atau objek tidak diinginkan yang tiba-tiba muncul, masalah ini bisa diatasi dengan fitur Generative Edit pada Galaxy S25 Series.

Content image for article: 3 Trik Jitu Bikin Konten Hangout Makin Keren dengan Galaxy S25 Series

Ditenagai Galaxy AI, fitur ini mampu menghilangkan objek mengganggu secara natural tanpa meninggalkan jejak editan.

Yang lebih mengesankan, teknologi ini juga bisa mengisi bagian yang dihapus dengan elemen yang sesuai dengan latar belakang, sehingga hasilnya terlihat alami. Tidak perlu aplikasi edit foto tambahan—semua bisa dilakukan langsung dari galeri perangkat.

Dengan kombinasi ketiga fitur ini, Galaxy S25 Series tidak hanya memudahkan proses pembuatan konten, tetapi juga meningkatkan kualitasnya secara signifikan. Jadi, tunggu apa lagi? Segera eksplorasi fitur-fitur canggih ini dan jadikan setiap momen hangout Anda layak untuk dibagikan. (Icha)

Xiaomi 16 Series Bakal Pakai Snapdragon 8 Elite 2, Apa Keunggulannya?

Pernahkah Anda membayangkan memiliki smartphone dengan performa setara laptop gaming? Bocoran terbaru mengindikasikan Xiaomi 16 series akan mewujudkan mimpi tersebut. Qualcomm baru saja mengonfirmasi Snapdragon Summit 2025 di September mendatang – sinyal kuat bahwa ponsel flagship Xiaomi akan menjadi yang pertama mengadopsi chipset Snapdragon 8 Elite 2.

Kolaborasi Xiaomi dan Qualcomm bukanlah hal baru. Namun, pengumuman kemitraan multi-tahun kali ini istimewa karena sekaligus mematahkan rumor perpecahan antara kedua raksasa teknologi tersebut. CEO Lei Jun secara eksplisit menyebut Qualcomm sebagai “mitra kunci” dalam ekspansi global Xiaomi, terutama untuk segmen premium.

Lantas, apa yang membuat Xiaomi 16 series layak dinantikan? Simak analisis mendalam berikut ini.

Snapdragon 8 Elite 2: Senjata Rahasia Xiaomi 16

Berdasarkan pernyataan resmi Qualcomm, Xiaomi 16 dan 16 Pro akan menjadi pioneer pengguna chipset generasi terbaru ini. Meski masih menggunakan nama kode “Elite 2”, beberapa spek kunci sudah terendus:

  • Fabrikasi 3nm TSMC – 25% lebih efisien dari generasi sebelumnya
  • GPU Adreno 760 dengan dukungan ray tracing hardware
  • Modem X75 5G dengan kecepatan unduh hingga 10Gbps

Xiaomi 16 Series dengan Snapdragon 8 Elite 2

Yang menarik, strategi Xiaomi kali ini berbeda dengan seri sebelumnya. Jika Xiaomi 15 series mengandalkan kolaborasi lensa Leica sebagai nilai jual utama, generasi ke-16 justru fokus pada revolusi performa komputasi.

Xring Chip: Kartu As untuk Model Ultra

Sementara varian standar mengusung Snapdragon, Xiaomi rupanya menyimpan kejutan untuk model high-end. Xiaomi 16S Pro dan 16 Ultra diprediksi akan menggunakan chipset Xring generasi kedua – penyempurnaan dari Xring O1 yang baru saja debut di 15S Pro.

Menurut insider industri, pembagian ini bukan tanpa alasan:

  1. Keterbatasan produksi chip Xring yang masih dalam tahap pengembangan
  2. Strategi diferensiasi produk untuk menarik berbagai segmen pasar
  3. Optimasi khusus untuk fitur AI dan fotografi komputasional

Pertanyaan besarnya: akankah dual-chipset strategy ini berhasil menggeser dominasi Samsung dan Apple di pasar premium? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana Xiaomi menyinergikan kekuatan Snapdragon dengan inovasi HyperOS mereka.

Kapan Xiaomi 16 Series Meluncur?

Berdasarkan pola rilis sebelumnya dan konfirmasi Qualcomm Summit, timeline yang paling mungkin adalah:

  • Pengumuman resmi: Minggu ketiga September 2025
  • Pre-order global: Akhir September
  • Ketersediaan retail: Pertengahan Oktober

Untuk pasar China, Xiaomi biasanya lebih agresif. Tidak menutup kemungkinan versi 16S Pro akan tiba lebih cepat, mengikuti jejak Redmi Note 14 series yang sukses dengan strategi peluncuran bertahap.

Dengan kombinasi chipset mutakhir, desain yang diprediksi lebih ergonomis, dan pengalaman software yang semakin matang, Xiaomi 16 series berpotensi menjadi game-changer di industri smartphone 2025. Tinggal menunggu berapa harga yang akan ditempel di tag-nya – faktor yang sering kali menjadi batu sandungan Xiaomi di kasta premium.

Xiaomi Smart Camera C100 Resmi Dirilis: Fitur AI dan Privasi Unggulan

Telko.id – Xiaomi baru saja meluncurkan Smart Camera C100 secara global. Kamera pengawas indoor terbaru ini bukan sekadar alat rekam biasa—ia hadir dengan kecerdasan buatan (AI) canggih dan fitur privasi yang membuatnya layak jadi penjaga rumah masa kini.

Xiaomi, raksasa teknologi asal Tiongkok, terus memperluas portofolio perangkat smart home-nya. Setelah sukses dengan seri sebelumnya, perusahaan kini memamerkan Smart Camera C100 yang sudah terdaftar di situs global mereka.

Ini sinyal kuat bahwa produk tersebut akan segera tersedia di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Lantas, apa yang membuat kamera ini berbeda dari pesaingnya? Mari kita telusuri lebih dalam.

Spesifikasi Unggulan Xiaomi Smart Camera C100

Dibekali sensor 3MP, Smart Camera C100 mampu merekam video dengan resolusi 2304×1296. Xiaomi menggunakan kompresi H.265 untuk menghemat ruang penyimpanan tanpa mengorbankan kualitas gambar.

Kombinasi lensa wide-angle 128° dan aperture besar f/1.6 memastikan kamera ini tetap menangkap gambar berwarna penuh bahkan dalam kondisi cahaya minim.

Untuk pengawasan malam hari, Xiaomi memasang LED infrared 940nm yang tidak memancarkan cahaya merah—solusi cerdas agar kamera tidak menarik perhatian saat beroperasi di kegelapan.

Kecerdasan Buatan yang Lebih dari Sekadar Deteksi Gerak

Xiaomi membekali C100 dengan beberapa fitur AI mutakhir:

  • Deteksi manusia (human detection) untuk mengurangi alarm palsu
  • Pengenalan tangisan bayi (crying baby detection)
  • Peringatan suara keras (loud noise alerts)
  • Virtual fence monitoring untuk memantau area tertentu

Yang menarik, semua pemrosesan AI dilakukan secara lokal (on-device) untuk meningkatkan kecepatan respons dan mengurangi ketergantungan pada cloud. Ini sekaligus memperkuat aspek privasi pengguna.

Privasi Jadi Prioritas Utama

Di era dimana kekhawatiran tentang penyalahgunaan data semakin meningkat, Xiaomi menyertakan beberapa fitur perlindungan privasi:

  • Penutup lensa fisik yang bisa digeser manual
  • Zona masking untuk menyensor area tertentu
  • Enkripsi data end-to-end

Dengan menutup lensa secara fisik, Anda bisa memastikan kamera benar-benar berhenti merekam—bukan sekadar mode “off” virtual yang masih rentan dibobol.

Konektivitas dan Kompatibilitas

Smart Camera C100 mendukung Wi-Fi 6 dan Bluetooth 5.2 untuk koneksi yang lebih stabil. Perangkat ini kompatibel dengan Android 8.0/iOS 12.0 ke atas dan bisa diintegrasikan dengan Google Assistant serta Amazon Alexa. Untuk penyimpanan, Anda memiliki beberapa pilihan:

  • microSD card (hingga 256GB)
  • NAS devices
  • Cloud storage berbayar

Dengan bobot hanya 170 gram dan dimensi 69 x 68 x 115 mm, kamera ini cukup ringkas untuk dipasang di berbagai sudut ruangan. Dayanya disuplai melalui adaptor 5V⎓1A standar.

Meski Xiaomi belum mengumumkan harga resmi, kehadiran produk di situs global menandakan peluncuran internasional sudah di depan mata.

Xiaomi sepertinya sedang gencar memperluas lini produk IoT-nya. Beberapa waktu lalu, mereka juga meluncurkan mesin cuci dengan HyperOS dan microwave pintar berkapasitas 20L.

Tren ini menunjukkan betapa serius perusahaan dalam membangun ekosistem smart home yang terintegrasi.

Smart Camera C100 bukan sekadar alat pengawas—ia adalah bukti bagaimana teknologi AI dan desain yang dipikirkan matang bisa menciptakan solusi keamanan rumah yang cerdas sekaligus menghormati privasi.

Tinggal menunggu berapa harga yang akan Xiaomi pasang untuk paket lengkap ini. (Icha)

Google AI Ultra: Fitur Canggih dengan Harga Fantastis, Apa Worth It?

Telko.id – Google baru saja mengumumkan AI Ultra dalam konferensi I/O 2025, sebagai penyempurnaan dari AI Pro (sebelumnya AI Premium).

Dengan banderol $249,99/bulan—atau $124,99/bulan untuk tiga bulan pertama—layanan ini menawarkan 30TB penyimpanan cloud, YouTube Premium, dan akses ke model AI paling mutakhir. Namun, benarkah ini revolusi atau sekadar eksperimen mahal?

Di tengah persaingan ketat dengan Samsung yang menghadirkan AI canggih di Galaxy S25 Series atau MediaTek dengan chipset Kompanio Ultra, Google tampaknya ingin memimpin lini premium. Tapi, apakah konsumen siap merogoh kocek sedalam ini?

AI Ultra vs. AI Pro: Apa Bedanya?

AI Ultra menjanjikan “model paling kuat dengan limit tertinggi” plus akses eksklusif ke produk AI eksperimental.

Salah satunya adalah Veo3—generator video AI yang bisa menciptakan adegan lengkap dengan efek suara dan dialog hanya dari prompt teks.

Sementara itu, AI Pro tetap dijual seharga $19,99/bulan dengan fitur standar seperti Imagen 4 (generator gambar) dan Deep Research (analisis dokumen pribadi).

Perbandingan fitur Google AI Ultra dan AI Pro

Pertanyaannya: apakah selisih $230/bulan benar-benar terasa? Jika Anda bukan kreator konten profesional atau penggemar berat teknologi, mungkin AI Pro sudah lebih dari cukup.

Namun, bagi yang ingin mencoba batas kemampuan AI, Ultra menawarkan pengalaman “early adopter” yang sulit ditolak.

Gemini di Chrome: Revolusi atau Gimmick?

Mulai besok, pengguna AI Pro dan Ultra di AS bisa mengakses Gemini langsung di Chrome. Fitur awal memungkinkan AI menjelaskan konten kompleks atau meringkas artikel.

Kedepannya, Gemini bahkan akan bisa membuka tab dan menavigasi web atas nama Anda. Tapi, apakah ini solusi atau justru ancaman privasi?

Dibandingkan dengan Try Galaxy terbaru yang fokus pada interaksi intuitif, langkah Google terasa lebih ambisius.

Namun, dengan harga selangit, apakah fitur ini akan menjadi standar baru atau sekadar ceruk pasar?

Google AI Ultra mungkin bukan untuk semua orang—tapi ia menandai babak baru dalam perlombaan AI. Pertanyaannya: seberapa jauh kita rela membayar untuk teknologi yang suatu hari mungkin menjadi biasa? (Icha)

TWS Makin Digemari! Pasar Global Tumbuh 18%, Apple Tetap Raja

Telko.id –  Fakta terbaru dari Canalys menyatakan bahwa pasar perangkat audio True Wireless Stereo (TWS) global mencatat pertumbuhan spektakuler 18% pada kuartal pertama 2025—angka tertinggi sejak 2021.

Sebanyak 78 juta unit dikapalkan ke seluruh dunia, dengan Apple masih bercokol di puncak.

Lonjakan ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi permintaan konsumen.

Namun, raksasa seperti Apple, Xiaomi, dan Samsung justru mencatatkan kinerja gemilang.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik tren ini? Dan mengapa vendor harus berinovasi lebih dari sekadar menurunkan harga?

Mari selami laporan Canalys lebih dalam untuk memahami dinamika pasar TWS yang semakin kompetitif—dan bagaimana kecerdasan buatan (AI) akan menjadi game changer di masa depan.

Apple Kuasai Pasar, Xiaomi dan Samsung Mengejar

Apple masih menjadi pemain dominan dengan 18,2 juta unit TWS dikapalkan pada Q1 2025—angka yang hampir dua kali lipat dari pesaing terdekatnya, Xiaomi.

Samsung menempati posisi ketiga, disusul oleh Huawei dan boAt. Di Amerika Utara, Apple menguasai lebih dari 50% pangsa pasar, berkat loyalitas pengguna iPhone dan integrasi ekosistem yang mulus.

Canalys: Global TWS market grows 18% as Apple remains undisputed leader

Namun, pertumbuhan pasar AS yang mencapai dua digit justru dipicu oleh pembangunan inventaris awal sebagai antisipasi ketidakpastian tarif.

“Banyak vendor kecil yang mulai mengurangi ekspansi karena permintaan konsumen yang lesu dan lanskap regulasi yang belum jelas,” ungkap analis Canalys.

Fitur AI dan Ekosistem Jadi Penentu Masa Depan

Canalys menegaskan bahwa pasar TWS sedang memasuki fase baru. “Inovasi bentuk dan harga sudah tidak cukup.

Konsumen sekarang menginginkan terjemahan real-time, pelacakan kebugaran, dan interaksi berbasis AI,” jelas laporan tersebut.

Vendor yang mampu menghadirkan solusi holistik—bukan sekadar produk—akan memenangkan persaingan jangka panjang.

Perkembangan ini sejalan dengan tren AI yang semakin masif, seperti yang juga dilakukan LG dengan lini produk premium berbasis AI-nya.

Bahkan, realme yang tumbuh 132% di Q3 2024 pun mulai mengintegrasikan fitur cerdas ke perangkat audio mereka.

Peluang di 2025: Dari Gamer Hingga Pengguna Produktivitas

TWS akan tetap menjadi fokus utama vendor sepanjang 2025, baik sebagai pelengkap portofolio maupun gerbang masuk ke segmen konsumen baru.

Sementara pengguna produktif membutuhkan fitur kolaborasi dan multitasking yang mulus.

Dengan kata lain, TWS tidak lagi sekadar aksesori—tapi bagian integral dari gaya hidup digital. Pertanyaannya: apakah Anda sudah menemukan pasangan TWS yang tepat? (Icha)

Bocoran Samsung Galaxy S26: Kamera Baru yang Bikin DSLR Minder

Telko.id – Rumor beredar, Samsung Galaxy S26 yang diindikasikan akan menjadi produk flagship di 2026  akan membawa sensor kamera utama baru, mengakhiri era ISOCELL GN3 yang bertahan sejak Galaxy S23.

Sensor 50 MP yang sama-sama berasal dari keluarga ISOCELL GN ini diprediksi memiliki kemampuan lebih canggih, meski detail teknisnya masih menjadi misteri.

Kabar ini muncul di tengah spekulasi bahwa Samsung mungkin mengubah formasi seri S26, termasuk kemungkinan tidak adanya model “Plus” seperti varian Edge yang disebut akan menggantikannya.

Lantas, seberapa signifikan peningkatan ini bagi pengguna sehari-hari? Mari kita telusuri lebih dalam.

Revolusi Sensor Kamera Setelah 3 Generasi

ISOCELL GN3 pertama kali diperkenalkan di Galaxy S23 dan bertahan hingga S25. Sensor ini dikenal memiliki pixel size 1.0μm, aperture f/1.8, dan mendukung Dual Pixel Pro AF.

Meski performanya solid, teknologi sensor kamera telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir.

Perbandingan Kamera Samsung Galaxy S25 dan S26

Menurut sumber industri, sensor baru ini kemungkinan besar akan menawarkan:

  • Peningkatan light gathering capability untuk fotografi low-light
  • Autofocus yang lebih cepat dan akurat
  • Dynamic range yang lebih lebar
  • Dukungan untuk video 8K yang lebih stabil

Implikasi untuk Fotografi Mobile

Upgrade sensor ini bukan sekadar gimmick marketing. Dalam dunia fotografi mobile, sensor adalah jantung dari kualitas gambar.

Sebagai perbandingan, chipset terbaru seperti MediaTek Helio G95 telah menunjukkan bagaimana kolaborasi hardware-software bisa menghasilkan performa kamera yang mengesankan.

Dengan sensor baru, Galaxy S26 berpotensi menawarkan:

  • Detail gambar yang lebih kaya meski dalam kondisi cahaya minim
  • Warna yang lebih natural dan akurat
  • Noise reduction yang lebih baik tanpa mengorbankan detail
  • Kemampuan HDR yang lebih canggih

Menanti Januari 2026

Samsung diketahui konsisten meluncurkan seri Galaxy S di bulan Januari. Jika pola ini berlanjut, kita mungkin hanya perlu menunggu sekitar 7 bulan lagi untuk konfirmasi resmi tentang sensor kamera baru ini.

Sementara itu, pertanyaan besar tetap menggantung: Akankah upgrade kamera ini dibarengi dengan peningkatan signifikan di aspek lain seperti chipset, baterai, atau layar? Atau justru Samsung fokus menyempurnakan pengalaman fotografi sebagai nilai jual utama?

Satu hal yang pasti: persaingan di segmen flagship smartphone tahun depan akan semakin sengit. Dan dengan bocoran ini, Samsung sepertinya tidak berniat menyerahkan tahtanya sebagai raja fotografi mobile. (Icha)