spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1702

Akhirnya, Zuk Z1 Dapat Sertifikat Postel

0

Telko.id – Medio Desember lalu, Zuk Z1 sempat dihempas masalah. Sempat terbukti bahwa Zuk Z1 ini menggunakan sertifikat Postel yang palsu. Tentu saja, membuat, merek yang baru saja masuk ke Indonesia tersebut menarik produknya di pasar.

Semua itu merujuk pada postingan Herry SW, pemerhati Gadget yang menulis di blog pribadinya, terungkap bahwa ada kejanggalan dalam nomor sertifikat postel yang tertempel di kemasan ponsel tersebut. Di nomor sertifikat tersebut tertera 36012/SDPPI/2014 sebagai nomor sertifikat. Sementara Zuk Z1 sendiri baru diperkenalkan pada Agustus 2015. Usut punya usut, nomor tersebut ialah nomor sertifikat milik Redmi 1S yang notabene adalah handset 3G pabrikan Xiaomi.

Kini, Zuk Z1 sudah mendapatkan sertifikat dari postel yang dikeluarkan oleh Ditjen sumber dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika. Nomor sertifikasinya adalah 44610/SDPPI/2016 yang diberikan kepada Lemo Mobile Technology (Hongkong) CO.,Ltd dan akan berlaku hingga 19 januari 2019. Walau demikian, di situs Blibli.com masih tertulis produk tidak dapat dibeli untuk saat ini.

Spesifikasi Zuk Z1 ini sebenar nya cukup mumpuni. Sudah dibekali dengan processor Qualcomm Snapdragon 801 2.5 Ghz dan mengandalam RAM 3GB da 64 GB ROM serta GPU Adreno 330. Selain itu, baterai yang dimiliki sudah 4100 Mhz yang tentu akan membuat smartphone ini tahan lama. ZUK Z1 ini juga merupakan smartphone pertama di dunia yang menanamkan fitur revertible USB 3.0 Tipe-C, mengadopsi teknologi terbaru seperti sensor sidik jari. Smartphone ini luga sudah mampu digunakan pada jaringan 4G dan mendukung Jaringan Worldwide berbasis TDD-LTE maupun FDD LTE. (Icha)

 

Merza Fachys : Network Sharing Adalah Kebutuhan Operator dan Pemerintah

0

Telko.id – Direktur Utama Smartfren, Merza Fachys mengaku bahwa Network Sharing merupakan kebutuhan dari para operator dan Pemerintah untuk mencapai efisiensi di industri teleomunikasi Indonesia. pada acara media update yang diselenggrakan oleh Smartfren di Jakarta (25/1), Merzha mengungkapkan dukungan Smartfren terhadap solusi efisiensi yang sedang digalakkan oleh Pemerintah ini. Ia menyebut, ” Network Sharing akan menjadikan Investasi menjadi lebih efisien dan tentunya dengan investasi yang lebih efisien akan berpengaruh pada tarif yang akan di bebankan kepada pengguna,”

Senada dengan Merza, Munir, VP Special Project Network, juga mengatakan bahwa Smartfren mendukung rencana pemerintah untuk mendorong para operator dalam melakukan Network Sharing. “Smartfren sangat mendukung dan antusias untuk ikut network sharing,” ucapnya kepada tim Telko.id pada sesi doorstop.

Munir menambahkan, solusi ini akan membuat biaya investasi menjadi lebih efisien. Karena itulah, dia menjelaskan bahwa apapun format dari kerja sama Network Sharing, maka akan mereka ikuti. “Kalau menguntungkan semua pihak, apa salahnya?” katanya.

Munir juga menyebutkan, teknologi yang ada saat ini telah siap untuk melakukan Network Sharing. Dia juga meyakinkan bahwa jika Network Sharing dilakukan, tidak akan ada masalah interverensi sinyal. Ia berujar, bahwa satu-satunya syarat untuk melakukan kerja sama berupa Network Sharing saat ini adalah persetujuan antara dua perusahaan untuk melakukan Network Sharing. Setelah persetujuan untuk bekerja sama dicapai, dia mengatakan, hanya diperlukan waktu paling lama 6 bulan untuk melakukan Network Sharing, tentunya jangka waktu tersebut akan terlaksana apabila teknologi dari kedua operator sama.

Sekedar Informasi, saat ini Smartfren telah mengadakan pembicaraan dengan beberapa operator lain, walaupun pembicaraan tersebut masih bersifat non-formal. Di Indonesia sediri saat ini sudah ada dua operator yang menyelenggarakan Network Sharing, yakni Indosat Ooredoo dan juga XL Axiata yang mengumumkan kerjasama jaringan untuk 4G LTE melalui MORAN (Multi Operator Radio Access Network).

Munir juga menambahkan, yang menentukan terlaksananya Network Sharing bukanlah pada jenis jaringan TDD atau FDD melainkan pada teknologi yang digunakan.
“Yang menentukan adalah teknologi dan gak masalah mau TDD ataupun FDD, yang penting teknologi nya mendukung dan tinggal kesepakatan dengan operator,” ucapnya.

Sejatinya, terdapat sebuah kekhawatiran jika para operator melakukan Network Sharing, maka suatu ketika sebuah BTS mengalami gangguan, pengguna yang menggunakan jasa operator dengan BTS tersebut juga akan mengalami masalah dan tidak dapat terhubung ke jaringan. Meskipun begitu, Munir mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir akan hal ini.

Dia menjelaskan, dalam sebuah daerah, biasanya BTS yang terpasang tidak hanya ada satu. Di sekitar BTS tersebut masih akan ada BTS-BTS yang lain. “Jadi, kalaupun satu BTS mati, pelanggan akan tetap dapat terhubung ke jaringan, meski mungkin kualitasnya sedikit berkurang,” ujar Munir.

Seperti diketahui, Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa pemerintah ingin meningkatkan efisiensi pada industri telekomunikasi dengan mendorong para operator untuk bekerja sama dan melakukan network sharing. Namun, Telkomsel yang notabene adalah Operator terbesar di Indonesia mengungkapkan Network Sharing dapat menurunkan kualitas layanan ke pelanggan.

Seperti yang disebutkan diatas, Smartfren sangat mendukung upaya Pemerintah dalam rangka efisiensi ini. Jika ini terwujud, bukan tidak mungkin percepatan pita lebar nasional akan lebih cepat dan dana efisiensi dari Network Sharing dapat digunakan oleh para operator untuk membangun banyak BTS di daerah yang rural dan sulit terjangkau internet.

85 Kota Ini Sudah dapat Nikmati Jaringan 4G Smartfren

0

Telko.id – Sejak pertama kali dilucurkan pada bulan Agustus silam, jaringan 4G LTE milik Smartfren kini telah bisa dinikmati di 85 kota di Indonesia. Operator yang bermarkas di Jalan Sabang, Jakarta ini menyebut angka 85 tentuya akan bertambah di tahun ini. Hal tersebut dituturkan oleh pihak Smartfren pada saat acara media update di Jakarta (25/1).

Tim telko.id berhasil merangkum nama-nama kota tersebut, untuk Anda para pengguna Smartfren, berikut adalah nama-nama kota yang telah dialiri jaringan 4G LTE Smartfren, Apakah kota anda termasuk?

Provinsi Kota
DKI Jakarta 1.       Jakarta
Banten
  1. Tangerang
  2. Tangerang Selatan Serang
  3. Serang
  4. Cilegon
  5. Pandeglang

 

Jawa Barat
  1. Bogor
  2. Bekasi
  3. Purwakart
  4. Depok
  5. Sukabumi
  6. Bogor
  7. Bekasi
  8. Purwakart
  9. Depok
  10. Sukabumi
  11. Cianjur
  12. Subang
  13. Bandung
  14. Sumedang
  15. Garut
  16. Tasikmalaya
  17. Ciamis
  18. Banjar

 

Jawa Tengah
  1. Cirebon
  2. Semarang
  3. Surakarta
  4. Cilacap
  5. Purwokerto
  6. Wonosobo
  7. Temanggung
  8. Magelang
  9. Pekalongan
  10. Tegal
  11. Kudus
  12. Yogyakarta
  13. Wonosari
  14. Bantul

 

Jawa Timur
  1. Surabaya
  2. Malang
  3. Madiun
  4. Jember
  5. Gresik
  6. Sidoarjo
  7. Pasuruan
  8. Probolinggo
  9. Situbondo
  10. Banyuwangi
  11. Blitar
  12. Tulungagung
  13. Kediri
  14. Ponorogo

 

Kalimantan Barat
  1. Pontianak
  2. Singkawang

 

Bali dan Lombok
  1. Denpasar
  2. Mataram

 

Sumatera Utara
  1. Aceh
  2. Sabang
  3. Bireun
  4. Lhoksumawe
  5. Medan
  6. Tebing Tinggi
  7. Pematang Siantar
  8. Brastagi
Sumatera Barat

 

  1. Padang
  2. Pariaman
  3. Padang Panjang
  4. Bukit Tinggi
Sumatera Selatan

 

  1. Palembang
  2. Bandar Lampung
  3. Prahbumulih
  4. Lahat
  5. Pagar Alam
  6. Kota Bumi
  7. Metro
Riau

 

  1. Pekanbaru
  2. Batam
  3. Duami
  4. Duri

 

Sulawesi Selatan

 

  1. Makassar
  2. Pare Pare
  3. Palopo

 

Sulawesi Utara

 

  1. Manado
  2. Koyamobago

 

Kalimantan Selatan

 

  1. Banjarmasin
  2. Martapura
  3. Banjarbaru
  4. Kota Baru

 

Kalimantan Timur

 

  1. Balikpapan
  2. Samarinda

 

Demikianlah daftar 85 kota yang telah mendapatkan layanan 4G LTE dari Smartfren. Mengenai jumlah pengguna, sampai dengan akhir tahun 2015 lalu mereka telah mampu menjaring sekitar 800 ribu pelangggan 4G. Di tahun ini diperkirakan jumlah tersebut akan semakin meningkat tajam, mengingat program promosi yang mereka hadirkan serta kerjasama bundling dengan beberapa vendor smartphone global seperti Samsung dan Lenovo.

 

Smartfren juga berhasil menjaring banyak pengguna berkat promo tarif internet 4G mereka yang cukup terjangkau. Mereka menghadirkan paket True Unlimited yang sangat terjangkau. Untuk menggunakan paket ini, pengguna harus membeli perangkat Andromax 4G atau produk Hisense Pure Shoot dan pengguna akan dibebanan tarif paket sebesar Rp.75.000,- Paket ini juga menjamin para pengguna untuk mengakses berbagai konten video streaming di jaringan 4G tanpa perlu merisaukan FUP yang biasanya hadir pada paket unlimted kebanyakan.

Selesai! Roadmap E-government 2016-2019

0

Telko.id – Akhirnya, pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyempurnakan petajalan atau roadmap e-government 2016-2019.

Roadmap e-government kali ini, berdasarkan Siaran Pers dari Kominfo sudah mengacu kepada nilai-nilai strategis dari Nawacita, fokus pembangunan pemerintah saat ini, konsep dari tim rumah transisi, dan prioritas-prioritas Presiden. Karena untuk menyelesaikan atau mengimplementasikan suatu petajalan e-government yang menyeluruh, yaitu yang berwujud “digital society” suatu negara akan membutuhkan 15 sampai 20 tahun, maka fokus e-government saat ini adalah program jangka pendek yaitu target 2016-2019.

Dalam program jangka pendek tahun 2016 ini juga akan dientukan program “quick wins”, dengan beberapa kebutuhan mendesak dari Presiden akan menjadi beberapa targetnya. Kebutuhan tersebut misalnya adalah:

  1. Aplikasi yang dapat memberikan informasi “real time” status penyerapan anggaran dari masing-masing instansi dan progress pelaksanaan program- program prioritas  masing-masing kementerian dan lembaga.
  2. Implementasi e-officepada level pimpinan antar-instansi yang real time dan nir-kertas (paperless) dimulai dengan disposisi dan status follow up disposisi menteri kepada jajaran di bawahnya, persuratan, pre-MOM (minutes of meeting) atau just in time MOM (MOM yang langsung dapat di-sebarkan kepada semua peserta pertemuan begiitu selesai), dan lain-lain.

E-government Indonesia akan disusun dalam model citizen-centric application agar masyarakat bisa langsung merasakan manfaatnya secara masif.

E-government juga diupayakan menjadi salah satu dari program prioritas nasional. Program ini sangat strategis sehingga diperlukan payung hukum yang memadai untuk menjalankan inisiatif-inisiatif yang tertampung di dalamnya. Agar tidak memakan waktu untuk mendapatkan payung hukum, pemerintah dapat mengeluarkan Peraturan Presiden tentang strategi nasional untuk e-government, di mana setiap tahunnya akan dikeluarkan Instruksi Presiden untuk  mengatur jalannya petajalan, dan kemudian detail rencana aksi dapat disusun oleh masing-masing kementerian dan lembaga.

“E-government perlu menginventarisasi sumber daya nasional yang sudah ada dari masing-masing sektor sekaligus penanggungjawab masing-masing sumber daya tersebut, untuk disusun menjadi sebuah bank data,” kata MenPAN-RB, Yuddy Chrisnandi.

Tiga Prinsip

“Roadmap yang ada sekarang ini harus dibuatkan detail rencana kerja dalam rangka menyelesaikan quick wins di pertengahan tahun. Untuk merencanakan itu, kita juga harus memanfaatkan infrastruktur dan aplikasi yang sudah ada,” tutur Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. “Prinsip dalam membuat rencana kerja dan implementasi adalah: Pertama, menggunakan aplikasi-aplikasi yang sudah ada di kementerian, lembaga, atau masyarakat.  Apa yang sudah ada bisa disempurnakan sehingga tidak lagireinvent the wheels.  Kedua, harus berprinsip efisiensi melalui infrastructure sharing. Ketiga, semaksimal mungkin implementasi mulai dari daerah terluar Indonesia sesuai dengan semangat Nawacita.”

Selain itu, faktor kunci keberhasilan e-government Indonesia juga sangat bergantung kepada kepemimpinan digital (digital leadership)yang kuat seperti yang sudah dimiliki oleh Presiden Joko Widodo, perubahan pola pikir dan budaya kerja, partisipasi aktif publik, penyediaan infrastruktur TIK dasar, dan sumber daya manusia TIK yang kompeten,” tutur ketua Wantiknas, Ilham Habibie. (Icha)

Kominfo Tengah Siapkan 7 Jenis ASEAN ICT Skill Standard

0

Telko.id – Masalah pasar bebas ASEAN memang menjadi perhatian banyak pihak. Termasuk juga Kementerian Komunikasi dan Informatika. Apalagi dalam menghadapi MEA 2016. Sebuah tantangan dalam menyediakan tenaga kerja yang kompeten.

Saat ini, Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo tengah mempersiapkan tujuh jenis ASEAN ICT Skill Standard. Standar itu meliputi Software Development, ICT Project management, Enterprise Architecture Design, Network and Sistem Administration, Information System and Network Security, Mobile Computing dan Cloud Computing.  “SKKNI diperlukan untuk mempersiapkan SDM dalam negeri menghadapi Pasar Bebas ASEAN (MEA). SKKNI perlu dibuat dan ditentukan skema sertifikasinya,“ tambah Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Badan Litbang SDM Kemkominfo menjelaskan.

“Untuk itu, kami melakukan penyusunan standar keahlian yakni Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia,” ujar Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Badan Litbang SDM Kemkominfo, Basuki Yusuf  Iskandar menjelaskan pada Workshop Rancangan SKKNI.

SKKNI merupakan rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Di bidang komunikasi dan informatika, terdapat dua bagian SKKNI. Pertama, informatika yang terdiri dari operator dan programmer komputer, jaringan komputer, ICT Project Management  dan lain-lain. Sedangkan bidang komunikasi meliputi multimedia, desain grafis, kehumasan, periklanan, dan produser televisi.

Balitbang SDM Kominfo pun sudah menyiapkan penyempurnan RSKKNI Software Development yang akan mencakup tiga bidang yakni analisa desain, pemograman, dan quality assurance. “Bidang pemrograman sudah selesai pada tahun 2015, sementara analisa desain dan quality assurance ditargetkan selesai Agustus 2016.

Workshop ini diikuti oleh perwakilan Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM), Ikatan Profesi Komputer dan Informatika Indonesia (IPKIN), Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (ASPILUKI), akademisi, LSP bidang Telematika, dan kalanga industri.(pih-Anjar). (Icha)

LTE, Apa dan Bagaimana?

0

Apa Itu LTE?

LTE merupakan kependekan dari Long Term Evolution dan ini dimulai sebagai sebuah proyek pada tahun 2004 oleh sebuah badan telekomunikasi yang dikenal dengan sebutan Third Generation Partnership Project (3GPP). SAE (System Architecture Evolution) adalah evolusi dari jaringan inti GPRS/3G. Istilah LTE biasanya digunakan untuk mewakili baik LTE maupun SAE.

LTE berevolusi dari sistem 3GPP sebelumnya yang dikenal sebagai Universal Mobile Telecommunication System (UMTS), yang pada gilirannya berevolusi dari Global System for Mobile Communications (GSM). Bahkan spesifikasi terkait secara resmi dikenal sebagai evolved UMTS Terrestrial Radio Access (E-UTRA) dan evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN). Versi pertama dari LTE didokumentasikan di Release 8 spesifikasi 3GPP.

Sebuah peningkatan pesat pada penggunaan mobile data dan munculnya aplikasi baru seperti konten streaming MMOG (Multimedia Online Gaming), mobile TV, Web 2.0, telah memotivasi 3rd Generation Partnership Project (3GPP) untuk menggarap Long-Term Evolution (LTE) dalam perjalanan menuju layanan mobile generasi keempat.

Tujuan utama dari LTE adalah untuk menyediakan kecepatan akses data yang tinggi, latency rendah dan paket teknologi radio akses yang dioptimalkan untuk mendukung penyebaran bandwidth yang fleksibel. Pada saat yang sama arsitektur jaringan telah dirancang dengan tujuan untuk mendukung lalu lintas packet-switched dengan mobilitas yang mulus dan kualitas layanan yang mumpuni.

Evolusi LTE

Tahun

Event

Mar 2000 Release 99 – UMTS/WCDMA
Mar 2002 Rel 5 – HSDPA
Mar 2005 Rel 6 – HSUPA
2007 Rel 7 – DL MIMO, IMS (IP Multimedia Subsystem)
November 2004 Spesifikasi LTE digarap
January 2008 Spesifikasi selesai dan disetujui dengan Release 8
2010 Target penyebaran pertama

 

10 Fakta tentang LTE

  • LTE bukan hanya teknologi penerus dari UMTS tetapi juga CDMA 2000.
  • LTE penting karena akan membawa hingga 50 kali peningkatan kinerja dan efisiensi spektrum yang lebih baik untuk jaringan selular.
  • LTE diperkenalkan untuk mendapatkan kecepatan akses data yang tinggi, downlink hingga 300Mbps dan uplink hingga 75 Mbps.
  • LTE adalah teknologi yang ideal untuk mendukung tingkat data yang tinggi untuk layanan seperti voice over IP (VOIP), streaming multimedia, konferensi video atau bahkan modem seluler berkecepatan tinggi.
  • LTE menggunakan baik mode Time Division Duplex (TDD) maupun Frequency Division Duplex (FDD). Dalam FDD, transmisi uplink dan downlink menggunakan frekuensi yang berbeda, sedangkan pada TDD uplink dan downlink menggunakan frekuensi yang sama dan dipisahkan oleh waktu.
  • LTE mendukung bandwidth operator fleksibel, dari 1,4 MHz hingga 20 MHz serta FDD dan TDD. LTE dirancang dengan bandwidth operator terukur dari 1,4 MHz hingga 20 MHz dimana bandwidth yang digunakan tergantung pada pita frekuensi dan jumlah spektrum yang tersedia dengan operator jaringan.
  • Semua perangkat LTE harus mendukung transmisi Multiple Input Multiple Output (MIMO), yang memungkinkan BTS untuk mengirimkan beberapa aliran data melalui frekuensi yang sama secara bersamaan.
  • Semua antarmuka antara node jaringan di LTE kini berdasarkan IP, termasuk koneksi backhaul ke basis stasiun radio. Ini adalah penyederhanaan besar dibandingkan dengan teknologi sebelumnya yang awalnya berdasarkan E1/T1, ATM dan frame relay link, dengan sebagian besar dari mereka menjadi narrowband dan mahal.
  • Mekanisme Quality of Service (QoS) telah distandarkan pada semua interface untuk memastikan bahwa persyaratan panggilan suara untuk penundaan konstan dan bandwidth, masih bisa bertemu ketika batas kapasitas tercapai.
  • Bekerja dengan sistem GSM/EDGE/UMTS memanfaatkan spektrum 2G dan 3G yang ada dan spektrum baru. Mendukung perpindahan dan roaming ke jaringan seluler yang ada.

Keuntungan LTE

  • Throughput tinggi: Kecepatan data yang tinggi dapat dicapai baik downlink maupun uplink. Inilah yang menyebabkan throughput yang tinggi.
  • Latency rendah: Waktu yang dibutuhkan untuk terhubung ke jaringan berada dalam kisaran beberapa ratus milidetik dan keadaan hemat daya kini dapat masuk dan keluar dengan sangat cepat.
  • FDD dan TDD di platform yang sama: Frequency Division Duplex (FDD) dan Time Division Duplex (FDD), kedua skema ini dapat digunakan pada platform yang sama.
  • Pengalaman pengguna akhir yang unggul: Optimasi sinyal untuk pembentukan koneksi dan antarmuka udara serta prosedur manajemen mobilitas lainnya telah meningkatkan pengalaman pengguna. Mengurangi latency (menjadi 10 ms) untuk pengalaman pengguna yang lebih baik.
  • Koneksi mulus: LTE juga akan mendukung koneksi tanpa batas ke jaringan yang ada seperti GSM, CDMA dan WCDMA.
  • Plug and play: Pengguna tidak harus secara manual menginstal driver untuk perangkat. Sebaliknya sistem secara otomatis mengenali perangkat, load driver baru untuk hardware jika diperlukan, dan mulai bekerja dengan perangkat baru yang terhubung.
  • Arsitektur sederhana

LTE – QoS

Pada LTE, QoS diimplementasikan antara UE dan PDN Gateway dan diterapkan untuk menetapkan bearer. ‘Bearer’ sendiri pada dasarnya adalah konsep virtual dan sebuah konfigurasi jaringan untuk memberikan perlakuan khusus pada pengaturan lalu lintas, misalnya paket VoIP diprioritaskan oleh jaringan dibandingkan dengan lalu lintas web browser. Sama seperti Ethernet dan internet yang memiliki berbagai jenis QoS, berbagai level QoS juga dapat diterapkan pada lalu lintas LTE untuk aplikasi yang berbeda.

Evolved Packet System (EPS) bearer menyediakan korespondensi one-to-one dengan radio bearer RLC dan memberikan dukungan untuk Traffic Flow Templates (TFT). Dalam hal ini, ada empat jenis bearer EPS, yang meliputi:

GBR Bearer sumber daya secara permanen dialokasikan oleh kontrol masuk. Kontrol masuk sendiri bertugas untuk melakukan validasi dalam sistem komunikasi di mana sebuah pemeriksaan dilakukan sebelum sambungan dibuat untuk melihat apakah sumber daya saat ini cukup untuk koneksi yang diusulkan.

Non-GBR Bearer tidak memiliki kontrol masuk

Dedicated Bearer terkait dengan TFT tertentu (GBR atau non-GBR)

Default Bearer Non GBR, dimaksudkan untuk mencakup banyak hal yang berbeda untuk lalu lintas yang belum ditetapkan

Parameter Dasar LTE

0

Parameter

Deskripsi

Kisaran Frekuensi Band UMTS FDD dan TDD ditetapkan pada 36.101(v860) Table 5.5.1, di bawah ini
Duplexing FDD, TDD, half-duplex FDD
Kanal coding Turbo code
Mobilitas 350 km/h
Kanal Bandwidth (MHz)
  • 1.4
  • 3
  • 5
  • 10
  • 15
  • 20
Konfigurasi Transmisi Bandwidth NRB : (1 blok sumber = 180kHz in 1ms TTI )
  • 6
  • 15
  • 25
  • 50
  • 75
  • 100
Skema Modulasi

UL: QPSK, 16QAM, 64QAM(optional)


DL: QPSK, 16QAM, 64QAM

Skema Multiple Access

UL: SC-FDMA (Single Carrier Frequency Division Multiple Access) mendukung 50Mbps+ (20MHz spectrum)


DL: OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) mendukung 100Mbps+ (20MHz spectrum)

Teknologi Multi-Antenna

UL: Multi-user collaborative MIMO


DL: TxAA, spatial multiplexing, CDD ,max 4×4 array

Puncak kecepatan data di LTE

UL: 75Mbps(20MHz bandwidth)


DL: 150Mbps(UE Category 4, 2×2 MIMO, 20MHz bandwidth)


DL: 300Mbps(UE category 5, 4×4 MIMO, 20MHz bandwidth)

MIMO

(Multiple Input Multiple Output)

UL: 1 x 2, 1 x 4


DL: 2 x 2, 4 x 2, 4 x 4

Cakupan 5 – 100km dengan sedikit penurunan setelah 30km
QoS E2E QOS memungkinkan prioritas dari layanan yang berbeda tingkatan
Latensi Lantensi End-user < 10mS

 

Band-band operasi E-UTRA

Berikut ini adalah tabel untuk band-band operasi E-UTRA yang diambil dari spesifikasi LTE 36,101 (v860) Tabel 5.5.1:

e_utra

Arsitektur Jaringan LTE

0

Arsitektur Jaringan tinglat tinggi LTE terdiri dari tiga komponen utama, diantaranya:

  • User Equipment (UE).

  • Evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN).

  • Evolved Packet Core (EPC).

    EPC atau Evolved Packet Core berkomunikasi dengan paket jaringan data di dunia luar seperti internet, jaringan perusahaan swasta atau subsistem IP multimedia. Antarmuka antara bagian-bagian yang berbeda dari sistem dilambangkan dalam Uu, S1 dan SGI seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

lte_architecture

User Equipment (UE) atau Peralatan Pengguna

Arsitektur internal dari user equipment untuk LTE identik dengan yang digunakan oleh UMTS dan GSM yang sebenarnya adalah sebuah Mobile Equipment (ME) atau peralatan mobile. Peralatan Mobile terdiri dari 3 modul penting, diantaranya Mobile Termination (MT), yang menangani semua fungsi komunikasi; Terminal Equipment (TE), yang mengakhiri aliran data; dan Universal Integrated Circuit Card (UICC), atau dikenal juga sebagai kartu SIM untuk peralatan LTE. Ini menjalankan aplikasi yang dikenal sebagai Universal Subscriber Identity Module (USIM).

Sebuah USIM menyimpan data pengguna tertentu sama halnya dengan kartu SIM 3G. Kartu ini berisi informasi tentang nomor pengguna ponsel, identitas jaringan rumah, kunci keamanan dan lain-lain.

E-UTRAN (Akses Jaringan)

Arsitektur evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN) telah diilustrasikan dalam gambar di bawah ini.

lte_e_utran

E-UTRAN menangani komunikasi radio antara ponsel dan evolved packet core dan hanya memiliki satu komponen, BTS evolved, yang disebut eNodeB atau eNB. Setiap eNB adalah BTS yang mengontrol ponsel dalam satu atau lebih sel. BTS yang berkomunikasi dengan ponsel dikenal sebagai eNB yang melayaninya.

Ponsel LTE berkomunikasi hanya dengan satu BTS dan satu sel pada satu waktu dan berikut adalah dua fungsi utama yang didukung oleh eNB:

  • eBN mengirim dan menerima transmisi radio untuk semua ponsel menggunakan analog dan fungsi pemrosesan sinyal digital dari antarmuka udara LTE.

  • eNB mengontrol operasi tingkat rendah dari semua ponselnya, dengan mengirimkan sinyal pesan seperti perintah handover.

Setiap eBN dihubungkan ke EPC dengan menggunakan antarmuka S1 dan ini juga dapat terhubung ke BTS terdekat dengan antarmuka X2, yang utamanya digunakan untuk pemberian isyarat dan melanjutkan paket selama handover.

Sebuah home eNB (HeNB) adalah BTS yang telah dibeli oleh pengguna untuk menyediakan cakupan femtocell di dalam rumah. Sebuah home eNB dimiliki oleh sekelompok pelanggan tertutup (CSG) dan hanya dapat diakses oleh ponsel dengan USIM yang juga dimiliki oleh kelompok serupa.

Evolved Packet Core (EPC)

Arsitektur Evolved Packet Core (EPC) telah digambarkan di bawah ini. Ada beberapa komponen lagi yang belum ditampilkan dalam diagram untuk membuatnya tetap sederhana. Komponen ini seperti Sistem Peringatan Gempa Bumi dan Tsunami (Earthquake and Tsunami Warning System – ETWS), Equipment Identity Register (EIR) dan Policy Control and Charging Rules Function (PCRF).

lte_epc

Berikut adalah penjelasan singkat dari masing-masing komponen yang ditampilkan dalam arsitektur di atas:

  • Komponen Home Subscriber Server (HSS) telah diteruskan dari UMTS dan GSM dan merupakan database pusat yang berisi informasi tentang semua pelanggan operator jaringan.

  • Packet Data Network (PDN) Gateway (P-GW) berkomunikasi dengan dunia luar seperti jaringan paket data PDN, menggunakan antarmuka SGI. Setiap PDN diidentifikasi oleh acces point nama (APN). PDN gateway memiliki peran yang sama seperti GPRS support node (GGSN) dan serving GPRS support node (SGSN) dengan UMTS dan GSM.

  • Serving Gateway (S-GW) bertindak sebagai router, dan meneruskan data antara BTS dan PDN gateway.

  • Mobility Management Entity (MME) mengontrol operasi tingkat tinggi ponsel dengan cara memberikan pesan dan Home Subscriber Server (HSS).

  • Policy Control and Charging Rules Function (PCRF) adalah komponen yang tidak ditampilkan dalam diagram di atas tetapi bertanggung jawab untuk melakukan kontrol atas proses tertentu, serta menyediakan kebijakan pengaturan dan aliran keputusan untuk pembiayaan/charging.

Antarmuka antara serving dan PDN gateway dikenal dengan S5/S8. Keduanya memiliki implementasi yang sedikit berbeda. Disebut S5 jika kedua perangkat berada dalam jaringan yang sama, dan S8 jika mereka berada di jaringan yang berbeda.

Fungsi Pembagian antara E-UTRAN dan EPC

Diagram berikut ini menunjukkan pembagian fungsi antara E-UTRAN dan EPC untuk jaringan LTE:

 

lte_epc_eutran

2G/3G Versus LTE

Tabel berikut membandingkan berbagai protokol Network Elements & Signaling penting yang digunakan dalam 2G/3G dan LTE

2G/3G

LTE

GERAN and UTRAN E-UTRAN
SGSN/PDSN-FA S-GW
GGSN/PDSN-HA PDN-GW
HLR/AAA HSS
VLR MME
SS7-MAP/ANSI-41/RADIUS Diameter
DiameterGTPc-v0 and v1 GTPc-v2
MIP PMIP

Arsitektur Roaming LTE

0

LTE dan Roaming

Sebuah jaringan yang dijalankan oleh satu operator di satu negara dikenal sebagai Public Land Mobile Network (PLMN) dan ketika pengguna yang berlangganan menggunakan PLMN operator-nya maka dikatakan Home-PLMN, tapi roaming memungkinkan pengguna untuk bergerak di luar jaringan rumah mereka dan menggunakan sumber daya dari jaringan operator lain. Jaringan lain ini disebut Visited-PLMN.

Pengguna roaming terhubung ke E-UTRAN, MME dan S-GW dari jaringan LTE yang dikunjungi. Namun, LTE/SAE memungkinkan P-GW baik dari jaringan yang dikunjungi maupun rumah digunakan, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

lte_roaming_architecture

Jaringan rumah PGW memungkinkan pengguna untuk mengakses layanan operator rumah bahkan saat berada di jaringan yang dikunjungi. Sebuah P-GW di jaringan yang dikunjungi memungkinkan “breakout lokal” ke internet di jaringan yang dikunjungi.

Antarmuka antara serving dan PDN gateway dikenal sebagai S5/S8. Ini memiliki dua implementasi yang sedikit berbeda, yaitu S5 jika kedua perangkat berada dalam jaringan yang sama, dan S8 jika mereka berada di jaringan yang berbeda. Untuk ponsel yang tidak roaming, serving dan gateway PDN dapat diintegrasikan ke dalam satu perangkat, sehingga antarmuka S5/S8 hilang sama sekali.

Biaya Roaming LTE

Kompleksitas dari mekanisme biaya baru diperlukan untuk mendukung roaming 4G jauh lebih banyak daripada di lingkungan 3G. Beberapa gambaran mengenai biaya pra-bayar dan pasca bayar untuk roaming LTE diberikan di bawah ini:

  • Biaya prabayar – standar CAMEL, yang memungkinkan layanan prabayar di 3G, tidak mendukung dalam LTE. Oleh karena itu, informasi pelanggan prabayar harus diarahkan kembali ke jaringan rumah sebagai kebalikan untuk ditangani oleh jaringan lokal yang dikunjungi. Akibatnya, operator harus bergantung pada arus hitung-hitungan baru untuk mengakses data pelanggan prabayar, seperti melalui P-Gateways di kedua IMS dan lingkungan non-IMS mereka atau melalui CSCF mereka dalam lingkungan IMS.
  • BIaya Pascabayar – Biaya penggunaan data pada pascabayar berlaku sama dalam LTE seperti dalam 3G, menggunakan versi TAP 3.11 atau 3.12. Dengan layanan IMS local breakout, TAP 3.12 diperlukan.

Operator tidak memiliki jumlah visibilitas yang sama ke kegiatan pelanggan seperti yang mereka lakukan dalam skenario home-routing dalam kasus skenario local breakout karena sesi pelanggan-data disimpan dalam jaringan yang dikunjungi. Oleh karena itu, agar operator rumah dapat menangkap informasi real-time pada kedua pelanggan pra dan pasca bayar, harus dibangun antarmuka Diameter antara sistem biaya dan jaringan P-Gateway yang dikunjungi.

Dalam kasus local breakout dari skenario layanan ims, jaringan yang dikunjungi menciptakan detail catatan panggilan (CDR) dari S-Gateway (s), namun, CDR ini tidak mengandung semua informasi yang diperlukan untuk membuat sesi mobile TAP 3.12 atau catatan pesan acara untuk penggunaan layanan. Akibatnya, operator harus menghubungkan jaringan data inti CDR dengan CDR IMS untuk membuat catatan TAP.

 

Penomoran dan Penamaan Dalam LTE

0

Area jaringan LTE dibagi menjadi tiga jenis area geografis, yakni:

S.N.

Area dan Deskripsi

1

Area pool MME

Ini adalah area di mana ponsel dapat bergerak tanpa perubahan serving MME. Setiap area pool MME dikendalikan oleh satu atau lebih MME pada jaringan.

2

Area layanan S-GW

Ini adalah area yang dilayani oleh satu atau lebih serving gateway S-GW, di mana ponsel dapat bergerak tanpa perubahan serving gateway.

3

Area Tracking

Area pool MME dan area layanan S-GW keduanya terbuat dari unit kecil yang tidak berlapis dan dikenal sebagai area pelacakan atau tracking area (TA). Ini mirip dengan lokasi dan area routing dari UMTS dan GSM serta akan digunakan untuk melacak lokasi ponsel yang ada di modus siaga.

Dengan demikian jaringan LTE akan terdiri dari banyak area pool MME, banyak area layanan S-GW dan banyak area tracking.

ID Jaringan

Jaringan ini akan diidentifikasi menggunakan Public Land Mobile Network Identity (PLMN-ID) yang akan memiliki tiga digit kode seluler negara (MCC – mobile country code) dan dua atau tiga digit kode jaringan selular (mobile network code – MNC). Misalnya, MCC untuk Inggris adalah 234, sementara jaringan Vodafone UK menggunakan MNC 15.

lte_network_id

ID MME

Setiap MME memiliki tiga identitas utama. Kode MME atau MME Code (MMEC) secara unik mengidentifikasi MME dalam semua pool area. Sekelompok MME diberikan sebuah MME Grup Identity (MMEGI) yang bekerja bersama dengan MMEC untuk membuat MME identifier (MMEI). Sebuah MMEI secara unik mengidentifikasi MME dalam jaringan tertentu.

lte_mmei

Jika kita menggabungkan PLMN-ID dengan MMEI maka kita sampai pada Globally Unique MME Identifier (GUMMEI), yang mengidentifikasi sebuah MME di mana saja di dunia:

lte_gummei

ID Tracking Area

Setiap area pelacakan memiliki dua identitas utama. Kode area pelacakan atau Tracking area code (TAC) mengidentifikasi area pelacakan dalam jaringan tertentu dan jika kita menggabungkan ini dengan PLMN-ID maka kita akan mendapatkan Globally Unique Tracking Area Identity (TAI).

lte_tai

ID sel

Setiap sel dalam jaringan memiliki tiga jenis identitas. Identitas sel E-UTRAN (ECI) mengidentifikasi sel dalam jaringan tertentu, sedangkan sel E-UTRAN identifier global (ECGI) mengidentifikasi sel mana saja di dunia.

Identitas sel fisik, merupakan angka dari 0 sampai 503 dan itu membedakan sel dari tetangga terdekatnya.

ID Mobile Equipment 

Identitas peralatan mobile internasional (IMEI) adalah identitas unik untuk peralatan mobile dan Identitas pelanggan mobile internasional (IMSI) adalah identitas yang unik untuk UICC dan USIM.

M temporary mobile subscriber identity (M-TMSI) mengidentifikasi ponsel pada serving MME-nya. Menambahkan kode MME dalam hasil M-TMSI di S temporary mobile subscriber identity (S-TMSI), yang mengidentifikasi ponsel dari dalam area pool MME.

lte_s_tmsi

Akhirnya menambahkan identitas grup MME dan identitas PLMN dengan S-TMSI menghasilkan Globally Unique Temporary Identity (GUTI).

lte_guti