spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1693

Inilah Hasil Uji Jaringan 4G Smartfren dan VoLTE di Garut – Tasikmalaya

0
Telko.id – Tim telko.id mendapatkan kesempatan untuk kembali melakukan pengujian jaringan 4G milik Smartfren. Kali ini Tim Telko.id melakukan pengujian di kawasan Garut dan Tasikmalaya. Untuk pengujian, kami menggunakan benchmark Nperf dan melakukan pengujian di tiga titik yakni pada Sumber Alam, perjalanan dari Garut menuju Tasikmalaya dan ketika sampai di Hotel Santika yang berada di kawasan Tasikmalaya.
Sementara untuk pengujian jaringan VoLTE, kami menggunakan perangkat Andromax R2 yang telah mendukung layanan VoLTE.
Ketika pengujian awal yang bertempat di Sumber Alam, Garut. Kecepatan jaringan 4G Smartfren mencapai 11,36 Mbps untuk kecepatan maksimal download.
nperf1
Sementara untuk kecepatan upload, jaringan 4G LTE milik Smartfren mampu menghasilkan kecepatan maksimal sebesar 8,47 Mbps, dengan latency mencapai 48 ms. Hasil ini dirasa cukup baik, mengingat kawasan ini bukanlah sebagai kota besar di Indonesia.
Kemudian, pengujian dianjutkan pada perjalanan dari kota Garut menuju Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Garut-Tasikmalaya no. 184. Dilokasi ini kecepatan internet Smartfren melorot pada angka 3,39 Mbps untuk kecepatan maksimal download.
nperf2
Sementara untuk kecepatan maksimal upload, jaringan 4G LTE milik Smartfren hanya mampu memberika kecepatan maksimum di angka 0,13 Mbps, dengan latency mencapai 100 ms.
Pengujian terakhir teerletak pada kota Tasikmalaya, atau tepatnya pada Hotel Santika. Di lokasi ini, Internet 4G dari smartfren juga tidak menunjukan peningkatan yang signifikan. Bahkan, untuk kecepatan download maksimal mereka kembali melemah menjadi 3, 32 Mbps.
nperf3
Namun, terjadi peningkatan pada sisi upload data. Untuk kecepatan maksimal upload, Internet 4G dari Smartfren melonjak pada angka 5,97 Mbps. Hasil ini tentu jauh lebih baik ketimbang pengujian kedua tadi. Sementara untuk latency, di lokasi ini internet 4G mereka berada pada angka 19 ms.
Bagaimana dengan VoLTE?
Di tengah perjalanan Tim Telko.id juga menjajal fitur terbaru dari 4G Smartfren yaitu layanan VoLTE atau Voice over LTE. Tidak seperti percobaan VoLTE Smartfren sebelumnya, kali ini untuk setup call, kami memerlukan waktu lebih dari 5 detik dan sempat beberapa kali mengalami kegagalan.
Setelah beberapa kali dilakukan ujicoba, akhirnya kami berhasil melakukan layanan VoLTE tersebut, tentunya dengan setup call yang lebih lama dari percobaan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Untuk panggilan suara, kami merasakan kualitas suara HD seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Suara Noise juga tidak terdengar, kualitas suara yang dihasilkan jauh lebih jernih ketimbang layanan voice konvensional.
volte renni
Kami juga menjajal fitur lain dari VoLTE yakni Video Call. fitur ini sejatinya berjalan dengan baik dan sangat mudah dalam melakukan switch dari telepon suara. Namun, kualitas video yang dihasilkan tidak sejernih yang kami harapkan. Walaupun tidak menemukan delay antara audio dan visualnya, namun kualitas video yang dihasilkan sedikit pecah. Kemungkinan hal ini dikarenakan oleh kualitas 4G Smartfren di lokasi tersebut sedang kurang baik, sehingga berpengaruh pada layanan Video Call dan setup call yang lebih lama dari biasanya. Pasalnya, ketika kami menjajal layanan VoLTE Smartfren di Jakarta, Setup call yang diperlukan kurang dari 3 detik serta kualitas video call yang cukup mumpuni.

Alasan Smartfren Percayakan ZTE – Nokia Untuk Urusi 4G

0

Telko.id – Sebagai operator 4G dengan cakupan terluas, Smartfren pasti memperoleh hal tersebut dengn bantuan dari vendor telekomunikasi dan jaringan. Dari banyaknya vendor raksasa yang akrab dengan para operator Indonesia, Akhirnya Smartfren menjatuhkan pilihan mereka pada ZTE dan juga Nokia.

Namun, Smartfren mengungkapkan alasan mengapa mereka memilih ZTE dan Nokia sebagai penyedia solusi jaringan  dan infrastruktur mereka? Mereka mengungkapkan, karena yang cocok dengan mereka adalah kedua vendor tersebut. Mereka sebelumnya juga telah mengadakan tender terkait hal ini dan pilihan jatuh ke tangan dua vendor ini.

Munir SP, VP Special Project Network Smartfren mengungkapkan, “Kita melakukan tender ke semua vendor dan terdapat banyak pilihan, setelah memilih-milih akhirnya pilihan yang cocok dengan kita adalah ZTE dan Nokia,” ucap Munir pada saat jumpa wartawan dan komunitas di Kawasan Tasikmalaya(25/2).

Munir juga menjelaskan alasan-alasan lain di balik pemilihan kedua vendor tersebut. Setidaknya terdapat tiga alasan yang menjadikan ZTE dan Nokia terpilih sebagai vendor mereka. seperti,

Teknologi, Munir mengakui bahwa teknologi ZTE ternyata tidak kalah dibandingkan dengan vendor dari Eropa dan Amerika Serikat. Sementara untuk Nokia sudah berpengalaman dalam menciptakan jaringan wireless diseluruh dunia. “Syarat pemilihan kita yang pertama adalah dari segi teknologi dan cocok dengan apa yang kita inginkan” tandas Munir.

Lebih lanjut Ia mengungkapkan alasan berikutnya, Secara Komersial dan Bisnis Sejatinya kedua vendor ini menawarkan harga yang sesuai dengan budget dari Smartfren, meski tidak menyebutkan angka pasti, Namun Munir menjelaskan bahwa kedua vedor ini cocok untuk komersial budgeting mereka.

Kemudian alasan lainnya adalah karena  mereka pernah bekerjasama dengan ZTE dan mengaku puas dengan hasil dari vendor asal China tersebut.

Sekedar informasi, Smartfren membagi wilayah netwrking mereka menjadi dua bagian, yakni bagian barat dan bagian timur. Untuk bagian barat, Smartfren lebih mempercayakan kepada Nokia utuk menghadirkan infrastruktur 4G di wilayah ini, wilayah barat meliputi daerah Jakarta, Jawa Barat sampai dengan Aceh

Sementara untuk wilayah timur, Smartfren memberikan kepercayaan kepada rekan lama mereka yakni ZTE. Untuk wilyah timur sendiri meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan wilayah lainnya.

Sekedar informasi, Smartfren sudah mengalokasikan dana sebesar USD 500 juta untuk menciptakan infrastruktur 4G LTE di Indonesia dan saat ini mereka masih melakukan investasi-investasi untuk peningkatan coverage, optimalisasi jaringan dan sebagainya. Investasi sebesar USD 500 juta tersebut merupakan total investasi sejak mereka launching 4G dan berlaku hingga dua tahun kedepan.

China Mobile Targetkan Setengah Juta Pengguna LTE Tahun Ini

0

Telko.id – China Mobile telah mengumumkan rencana bisnisnya tahun ini. Salah satu operator terbesar di Tiongkok itu memasang target untuk mencapai 1,40 juta BTS TD-LTE, menjual 330 juta perangkat 4G dan memperluas basis pelanggan 4G menjadi lebih dari 500 juta pada akhir 2016.

Dilaporkan Telecompaper, Kamis (25/2), Bos China Mobile, Shang Bing, mengatakan bahwa perusahaan telah mengerahkan 1,10 juta BTS TD-LTE pada akhir 2015, mengcover lebih dari 1,2 miliar penduduk dan menawarkan roaming 4G di 114 negara dan wilayah. China Mobile menjual 300 juta perangkat TD-LTE pada tahun 2015, menyusul penambahan lebih dari 400 pengguna TD-LTE per menit.

Saat ini, basis pelanggan 4G China Mobile berjumlah 340 juta, atau sekitar 30 persen dari basis global. Operator ini juga telah menyelesaikan penyebaran carrier agregasi di lebih dari 300 kota dan telah mengkomersialkan layanan VoLTE di 100 kota.

Bing mengatakan bahwa China Mobile akan mempercepat penyebaran 4G dengan meningkatkan jumlah BTS TD-LTE menjadi 1,40 juta dan menggunakan teknologi CA di area pusat dan hot-spot di seluruh kota pada akhir 2016. Selain itu, perusahaan juga akan mengkomersialkan layanan VoLTE di lebih dari 260 kota pada semester pertama tahun ini, dan berencana untuk mulai menjual Rich Communication Service (RCS) pada semester kedua tahun ini.

China Mobile juga ingin mempercepat penyerapan VoLTE/perangkat yang memungkinkan CA, menjual 330 juta perangkat 4G dan memperluas basis pengguna 4G menjadi lebih dari 500 juta pada tahun 2016.

Selain itu, operator mengatakan ingin mengembangkan jaringan khusus untuk IoT dan bertujuan untuk mewujudkan 100 juta koneksi IoT di 2016. Menurut Bing, China Mobile berharap untuk mematangkan narrow-band IoT (NB-IOT) dan mengkomersialkan itu pada tahun 2017.

Telefonica Transformasi Jaringan Agar Siap Hadapi Video Ultra HD, 5G dan IoT

0

Telko.id – Masih ada waktu 4 tahun lagi untuk mempersiapkan jaringan agar siap menghadapi 5G, IoT dan berbagai layanan lainnya. Tak pelak, operator pun sudah mulai bersiap melakukan transfromasi jaringan agar pada saat nya nanti semuanya sudah siap dan lebih cepat mendapat pemasukan. Seperti yang dilakukan oleh operator di Spanyol, Telefonica dengan Nokia.

Telefonica menunjuk Nokia untuk melakukan transformasi jaringannya agar siap menghadapi maraknya video ultra HD, era 5G dan IoT. Yang ditransformasi adalah jaringan IP core dari operator ini.

Langkah ini harus dilakukan dengan cepat karena saat ini Telefonica sedang menghadapi pesat nya kenaikan data traffic melalui layanan-layanan video inovatif dan konten popular barunya yaitu layanan Movistar+. Pelanggan nya aktif mengakses konten ini sudah lebih dari empat juta pelanggan. Dengan fenomena ini maka Telefonica harus siap dengan tuntutan dari para pelanggannya untuk dapat mengalirkan banyak video dan data.

Untuk itu akan dilakukan kombinasi teknologi fisik dan virtual routing milik Nokia agar dapat meningkatkan kinerja jaringan selular dan tetap Telefonica secara signifikan. Harapannya, tentu layanan ke konsumen pun meningkat.

“Ketika kami mengeluarkan penawaran layanan data bandwidth tinggi dan video, kami berkomitmen untuk memberikan pengalaman berkualitas sebaik mungkin untuk konsumen kami,” ujar Joaquín Mata, Direktur Network Technology and Operations, Telefonica Spanyol, menjelaskan.

Itu sebabnya, Telefonica menunjuk Nokia untuk mengubah jaringan IP Core dengan teknologi core router dan virtualisasi-nya. Selain itu, operator ini pun menyerahkan kebutuhan untuk layanan masa depannya pada perusahaan jaringan asal Finlandia ini.

“Kami akan melakukan transformasi jaringan IP core Telefonica dengan memanfaatkan kemampuan SDN, NFV dan core routing,” ujar Basil Alwan, Pimpinan IP/Optical Networks, Nokia menjelaskan.

Yang dilakukan oleh Nokia adalah menggelar portfolio IP nya – termasuk router-router inti dan virtual – di lapisan-lapisan inti dan peering pada jaringan Telefonia. Semua itu dilakukan untuk lebih mendorong kapasitas dengan sebuah rancangan yang sangat handal. Penggelaran akan dikelola oleh Service Aware Manager (SAM) 5620 Nokia dan Control Place Assurance Manager (CAPM) 5650 Nokia, yang akan meminimalisir miskonfigurasi dan malfungsi control plane serta update-update routing yang tidak terdeteksi. Nokia juga akan melakukan instalasi dan pengawasan, integrasi sistem dan migrasi layanan-layanan terkini – ke arsitektur jaringan baru. (Icha)

Kecepatan Bukan Jadi Tolak Ukur 4G Smartfren

0

Telko.id – Pada ajang Network Drive Test (NDT), yang mengambil rute Garut-Tasikmalaya, Smartfren mengungkapkan bahwa kecepatan bukanlah satu-satu nya cara untuk mengukur kualitas internet 4G mereka.

Hal itu diutarakan oleh Munir SP, selaku VP Special Project Network mereka yang menyebutkan, Tak semua pelanggan butuh hasil uji kecepatan internet.

Seperti diketahui, biasanya saat melakukan uji jaringan internet semua provider telekomunikasi selalu menonjolkan kecepatan download dan upload yang bisa dicapai. Namun, sebetulnya tak terlalu dibutuhkan oleh semua para pelanggan. ” Yang dibutuhkan mayoritas dari pelanggannya adalah kenyamanan saat menggunakan layanan internet” tegas Munir di sela-sela obrolan santai dengan Tim Telko.id di Garut, Jawa Barat (24/2).

Munir juga menambahkan, “Yang dilihat pelanggan itu, lebih ke penggunaan video, lagu, chatting, atau apapun itu yang bersifat sosial, bagaimana hasilnya? Lancar atau tidak, iya kan,”

Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa hasil uji kecepatan lebih diperuntukan bagi pelanggan yang suka lakukan download. Sementara pengguna yang suka melakukan download hanyalah sepersekian dari total pelanggan Smartfren yang memerlukan layanan seperti itu.

Oleh sebab itu, Ia mengajak beberapa media termasuk Telko.id untuk menjajal kenyamanan layanan yang ditawarkan oleh pihaknya dengan melakukan drive test dari Garut sampai Tasikmalaya.

Dalam drive test ini juga Smartfren telah menjadwalkan akan menjajal kehebatan jaringannya untuk melakukan layanan Voice Over LTE (VoLTE) atau panggilan suara berbasis 4G yang baru saja dirilisnya pada pertengahan bulan ini.

Sekedar informasi, VoLTE merupakan layanan suara yang menawarkan kualitas lebih jernih tanpa gangguan dibandingkan dengan layanan panggilan suara konvensional lantaran menggunakan jaringan LTE melalui IP Multimedia System (IMS) yang memiliki jalur khusus.

“Kita ingin mengajak dan memperlihatkan betapa layanan internet itu seperti apa yang dibutuhkan oleh para pelanggan, kalau hanya speed test saja, itu menurut saya memberikan gambaran yang keliru bagi pelanggan. Karena tidak semua speed itu menyebabkan di layanan memiliki korelasi dengan speed. Speed bener, tapi itu lebih kepada ke teman-teman yang suka download. Nah, saat ini kita akan menunjukan cara baru layanan berkomunikasi melalui VoLTE,” tutup Munir.

IMG_20160225_47113

Pada saat obrolan santai tersebut, Munir juga sempat menunjukan kecanggihan layanan VoLTE mereka dengan berkomunikasi secara realtime melalui fitur video call di VoLTE dengan Merza Fachyz selaku Presiden Direktur PT. Smartfren Tbk.

MediaTek dan Orange Kerjasama Untuk Optimalisasi Pasar IoT

0

Telko.id – Era Internet of Things memang ditunggu banyak pihak. Maklum saja, potensi pasar di era itu begitu besar. Itu sebabnya, banyak pihak saat ini melakukan kerjasama untuk memastikan bahwa peluang besar itu dapat dicapai tanpa kendala yang berarti. Seperti yang dilakukan MediaTek dan Orange.

Kerjasama ini ditujukan juga untuk mengatasi permintaan industri yang tumbuh untuk device yang akan saling terhubung nantinya. Perjanjian ini juga akan membahas pengembang profesional dan produsen perangkat IOT termasuk produk elektronik.

‘IOT Booster Program’ ini bertujuan juga untuk memasarkan chipset keluaran dari MediaTek dengan Kartu SIM Oranye atau terintegrasi dengan Kartu SIM Oranye pada modul di device. Penawaran tersebut akan mencakup harga konektivitas untuk kebutuhan IOT. Chipset dari MediaTek ini nantinya sudah langsung dapat digunakan oleh developer professional untuk mempercepat pembuatan produknya dan dapat langsung terhubung dengan jaringan selular tanpa perlu melakukan pengaturan lagi.

Program ini juga dapat digunakan untuk setiap skala industri. Baik besar mapun kecil. Hal ini juga akan mendukung para star-up untuk mencari ide ‘out of the box’ yang dapat terkoneksi langsung dengan IoT dalam lini produknya. Konektivitas dari chipset ini juga dirancang untuk umur panjang. Setidaknya sampai 5 tahun ke depan akan diberikan harga yang tetap.

“Kerjasama ini juga bertujuan untuk mempercepat terwujudnya ekosistem dan menggali berbagai potensi IoT untuk menghubungkan dengan berbagai perangkat,” ujar Yves Maitre, VP Eksekutif untuk Objects Connected dan Kemitraan, Orange.

Yves juga menambahkan bahwa kerjasama dengan MediaTek ini akan menggabungkan jaringan Orange dengan konektifitas dengan MediaTek yang ahli dalam memproduksi chipset. Tentu hal ini akan memudahkan pelanggan Orange dalam menginstal konektivitas seluler ke dalam lini produk yang mereka gunakan, tetapi dengan harga tetap.

Kolaborasi ini dengan MediaTek dan Orange ini akan membantu juga para perusahaan elektronik untuk masuk pasar. Diharapkan juga, program ini akan memberikan nilai tambah, seperti geo-location, device management, data management dan inovatif features IoT lainnya. Dengan demikian, para pengembang professional maupun produsen device, mulai sekarang dapat merancang dan memproduksi dalam skala besar, daya rendah, miniatur dan cost effective device untuk melakukan koneksi indoor atau outdoor. Semuanya dilakukan tanpa perlu khawatir lagi dengan masalah purna jual. Apalagi, setiap device yang terhubung menggunakan chipset dan simcard dari program ini akan lebih berjalan mulus dan dapat menggunakan fasilitas internasional roaming dalam jaringan Orange di 200 negara.

“Tentu dengan adanya kerjasama ini akan menghilangkan rintangan utama untuk adopsi yang lebih luas dari objek yang terhubung di mana-mana. Sekarang perangkat yang terhubung selular dapat langsung diaktifkan seperti teknologi konektivitas lainnya, dan digunakan secara praktis pada skala global, “kata JC Hsu, Corporate Vice President MediaTek dan General Manager dari unit bisnis IOT menjelaskan.

Lebih lanjut, JC Hsu juga mengatakan bahwa kemitraan ini memberikan akses pelanggan Orange pada kualitas layanan yang tinggi, jaringan yang luas dan kesepakatan roaming. Termasuk juga menjadi jalan masuk ke pasar siap pakai untuk perangkat yang terhubung selular. (Icha)

Smartfren Kembali Tegaskan Bukan Operator 4G CDMA

0

Telko.id – Sepuluh tahun sudah Smartfren menggelar layanan CDMA di Tanah Air. Hal inilah yang menyebabkan nama CDMA begitu melekat pada diri mereka. Tak terkecuali pada layanan 4G mereka yang juga sering disebut oleh banyak orang dengan sebutan ‘4G CDMA’.

Mereka juga mengungkapkan, meskipun mayoritas pelanggan mereka masih menggunakan layanan CDMA, Namun mereka sudah enggan disebut sebagai operator CDMA tatkala mereka telah memiliki layanan 4G yang bahkan saat ini memiliki coverage terluas ila dibandingkan dengan operator lainnya.

Hal ini sejatinya diutarakan oleh Munir SP, VP Special Project Network mereka yang menyebutkan bahwa tidak ada istilahnya 4G CDMA. Ia juga mengungkapkan, “Smartfren juga tidak memerulukan handset khusus untuk mengakses 4G, asal handset tersebut mendukung 4G pada band 5 dan 40 atau salah satunya, maka bisa menggunakan 4G milik Smartfren,” ucapnya pada sesi ngobrol santai di sela-sela kegiatan Network Drive Test di kawasan Garut (24/2).

Hal senada juga diutarakan oleh Derrick Surya, Head of Brand Marketing Communication PT Smartfren yang menyebut, “lebih tepat Operator 4G LTE, kalau bisa ditambahkan yang terluas karena itu juga sudah terbukti. Hal itu ada dalam pernyataan rilis dari perusahaan riset jaringan Opensignal yang dikeluarkan pada September 2015 lalu,”tuturnya.

Derrick juga menjelaskan bahwa mayoritas penggunaan data pelanggan kini datang dari jaringan 4G, bukan 3G. Hal tersebut dikarenakan para pengguna 4G mereka menggunakan layanan streaming video seperti youtube dan sebagainya, sehinggga jumlah pemakaian data mereka melonjak tajam.

Hadirnya layanan VoLTE sebagai inovasi baru dari Smartfren juga diharapkan dapat menjaring lebih banyak pelanggan mereka untuk bermigrasi ke jaringan 4G LTE. Apalagi dengan harga handset yang cukup terjangkau yakni dari kisaran 800 ribuan hingga 1.7 juta rupiah.

Belum lagi dengan hadirnya berbagai promo diskon yang ditujukan kepada pelanggan lama mereka dengan menunjukan SMS resmi dari pihak Smartfren dan pelanggan tersebut pun berhak mendapatkan potongan harga untuk produk Andromax 4G.

Selain itu, Derrick juga menjelaskan bahwa Smartfren ingin menghilangkan persepsi publik terhadap penggunaan data 4G yang boros. Sejatinya hal tersebut merupakan perubahan dari kecenderungan pengguna yang lebih sering menyaksikan tayangan streaming karena internet 4G lebih cepat dan stabil.

Dengan menghilangkan persepsi ini, diharapkan semakin banyak pengguna mereka yang ‘hijrah’ ke 4G. “Kenapa harus pindah ke 4G? Karena di masa depan layanan 4G akan terus berkembang,” tutup Derrick.

VoLTE Smartfren, Dari Regulasi Hingga Edukasi

0

Telko.id – Smartfren sebagai operator 4G baru-baru ini mengambil langkah yang cukup berani terkait inovasi mereka ddalam teknologi 4G LTE yakni dengan meluncurkan layanan VoLTE atau Voice over LTE. Yang menjadi permasalahan kini adalah belum adanya peraturan interkoneksi yang mengatur mengenai layanan VoLTE.

Sebagai pemain tunggal untuk layanan VoLTE di Indonesia saat ini, Smartfren memang baru menggunakan layanan ini untuk sesama pengguna mereka, namun sejatinya layanan VoLTE akan sangat optimal apabila dapat digunakan ke semua operator selular 4G di Indonesia. Karena belum ada operator lain yang menyelenggarakan layanan VoLTE, serta belum diberlakukannya peraturan interkoneksi yang ada, maka layanan VoLTE mereka akan berubah menjadi layanan voice konvensional.

Lalu, Bagaimana Strategi Smartfren untuk ‘mendorong’ pihak regulasi dalam hal ini Kominfo? Melalui pembicaaan pesan singkat kami kepada pihak Smartfren, mereka mengaku tidak melakukan langkah apapun untuk setidaknya mempercepat diberlakukannya peraturan mengenai tarif interkoneksi ini.

Namun, operator yang bermarkas di Jalan Sabang, Jakarta ini mengaku sangat siap apabila diperlukan untuk membantu membuat rancangan peraturan ini. Sekedar Informasi, Pada Jumat (19/2), Smartfren secara resmi menyelenggarakan layanan Voice Over LTE mereka yang menjangkau semua pelanggan mereka di lebih dari 85 kota di Inonesia.

Smartfren juga mengungkapkan, mereka selalu mendukung pemerintah dalam penerapan regulasi telekomunikasi termasuk untuk regulasi VoLTE. Mereka juga meyakini bahwa pemerintah dan jajaran regulator lainnya akan mengatur tarif interkoneksi VoLTE tepat pada waktunya, tentunya dengan solusi yang menguntungkan berbagai pihak.

Sementara itu, disinggung mengenai kerjasama roaming internasional mengenai VoLTE dengan penyelengggara lain diseluruh dunia, mereka menjawab sedang dalam perencanaan. Munir SP, VP Special Project Network Smartren mengungkapkan, ” Saat ini kami baru akan melakukan kerjasama roaming LTE dengan penyelenggara 4G di seluruh dunia dan belum volte,” Ucapnya pada saat kegiatan Network Drive Test, di Kawasan Garut (24/2).

Pada kegiatan yang sama, Munir juga mengungkapkan bahwa hasil dari speed sejatinya tidak menjadi jaminan. Pasalnya, yang terpeting adalah kualitas dari layanan secara keseluruhan.

Di dalam melakukan uji jaringan LTE, smartfren juga menjelaskan bahwa mereka menyiapkan device yang cukup terjangkau oleh pelanggan, agar pengguna bisa menggunakan teknologi 4G dan layanan VoLTE dengan maksimal.

Seperti diketahui, beberapa maju seperti di Amerika serikat dan India sudah menyelenggarakan layanan VoLTE. Bahkan, di Asia tenggara sendiri tercatat Singapura jga sudah menyelenggarakan layanan ini melalui operator SingTel.

Berbicara mengenai edukasi, Munir juga menyebut mereka melakukan edukasi ke pelangan untuk layanan baru ini melalui beberapa cara. Seperti, pada kantor berita, komunitas, sosial media bahkan mereka pun sampai menyasar dunia pendidikan.

Diharapkan, melalui edukasi ini, layanan VoLTE cepat berkembang di Indonesia dan diharapkan juga operator lain segera menghadirkan layanan VoLTE sehingga pihak regulasi pun dapat segera mengatur tarif interkoneksi utuk layanan terbaru ini.

XL Axiata Pilih Ericsson Untuk Implementasi Hypersclae Cloud dan NFV

0

Telko.id – Setiap operator harus mampu mengadopsi berbagai teknologi yang sesuai untuk menjamin pelayanannya di masa depan. Termasuk juga XL Axiata yang kerap melakukan transformasi jaringan agar dapat memberikan pengalaman yang terbaik pada pelanggannya.

Namun, langkah transformasi yang dilakukan oleh XL ini harus memenuhi standar virtualisasi multi vendor dan akan memungkinkan layanan inovatif untuk dihadirkan ke pasar lebih cepat lagi. Untuk itu, XL Axiata menggandeng Ericsson sebagi mitra agar transformasi jaringannya berjalan lancar.

Dalam kerjasama kali ini, XL Axiata bermitra dengan Ericsson untuk mengimplementasikan hyperscale cloud dan NFV. Selain itu juga, XL Axiata akan menerapkan arsitektur terpilah dalam tranformasi jaringannya. Dan Ericsson memberikan solusi full-stack cloud, termasuk Ericsson Hyperscale Datacenter System 8000 yang dibangun berdasarkan Intel ® Rack Skala Architecture.

“Melalui inisiatif cloud hyperscale dengan Ericsson ini, kami berharap untuk menempatkan NFV dan cloud untuk penggunaan praktis. Kami akan mempercepat pengiriman layanan inovatif dengan mengekspos aset jaringan, sambil meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko dalam bagaimana jaringan sedang dibangun dan dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan,“ ujar Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata, menjelaskan.

Ericsson akan menyebarkan solusi cloud terpadu termasuk Ericsson Hyperscale Datacenter System 8000 yang dibangun berdasarkan Intel (R) Rack Skala Architecture, dan Virtual Network Functions (VNFs) sebagai bagian dari evolusi cloud XL Axiata dan realisasi dari Network Functions Virtualization (NFV).

“Ini merupakan tonggak penting dalam kemitraan panjang kami dengan XL Axiata, menandai langkah penting dalam evolusi cloud untuk XL Axiata. Kami akan terus memperkuat kemitraan dengan memanfaatkan kepemimpinan Ericsson di cloud dan NFV,“ ujar Thomas Jul, Presiden Direktur, Ericsson Indonesia, menjelaskan.

Sebagai bagian dari tahap pertama transformasi, Ericsson Service Aware Policy Controller (SAPC) dan Traffic Monitoring and Analysis (TMA) VNFs juga akan dikerahkan.

Manajemen umum dari VNFs akan diaktifkan oleh Ericsson Network Manager, yang mendukung pengelolaan kedua fungsi jaringan fisik dan virtual, menawarkan pemandangan umum dari sumber daya jaringan dan layanan di beberapa teknologi jaringan, dan menyediakan lifecycle management untuk VNFs. Ini merupakan langkah kunci bagi tranformasi cloud XL Axiata, karena kedua IT dan aplikasi jaringan akan ditempatkan di lingkungan yang sama.

Solusi ini menawarkan arsitektur NFV terbuka dan memenuhi kebutuhan XL Axiata untuk lingkungan virtualisasi multivendor yang terstandarisasi yang akan memungkinkan operator untuk membawa layanan baru ke pasar dengan lebih cepat. Dengan mengadopsi Ericsson Hyperscale Datacenter System 8000 dengan software carrier-grade juga akan memungkinkan XL Axiata untuk mengoptimalkan NFV dan infrastruktur IT melalui infrastruktur terpilah dan software-defined yang mendukung pemanfaatan sumber daya yang lebih fleksibel dan responsif.

Sebagi informasi tambahan, Ericsson Hyperscale Datacenter System 8000 adalah generasi baru dari sistem datacenter menggunakan arsitektur hardware terpilah untuk pemanfaatan sumber daya yang lebih baik. Fokus awal adalah pada transformasi cloud bagi operatoruntuk NFV, IT dan operasi cloud komersial. (Icha)

Singtel Tunjuk Ericsson Gelar 4G LTE Untuk IoT

0

Telko.id – Singtel dan Ericsson mengumumkan kerjasama untuk menggelar jaringan 4G LTE yang akan mendukung pertumbuhan yang cepat dari perangkat yang terhubung (IoT). Kolaborasi ini akan dimulai dengan percobaan teknologi Narrow Band Internet of Things (NB-IOT) yang akan dimulai pada paruh kedua 2016.

NB-IOT adalah solusi telekomunikasi yang akan memungkinkan cakupan layanan yang lebih luas dan perangkat yang lebih ringkas, yang akan membuat SingTel dapat mendukung penggunaan IoT baru dilokasi seperti Smart Cities, utilitas dan lingkungan. Jaringan 4G LTE dari Singtel ini sudah mendukung untuk low-cost category 1 (Cat-1) devices, yang dibangun untuk aplikasi IoT.

“Konektivitas IoT menjadi bagian penting dari perusahaan-perusahaan besar di Singapura dan mendukung program Smart Nation dari pemerintah Singapura. Kami mengantisipasi pertumbuhan permintaan untuk menghubungkan banyak sensor dan perangkat dengan cara yang hemat biaya,” ujar Tay Soo Meng, Group Chief Technology Officer, Singtel menjelaskan.

Lebih lanjut, Tay juga menjelaskan bahwa dengan fokus pada kemampuan hemat daya di jaringan akan memberikan manfaat efisiensi energi untuk ekosistem IoT. Jadi, setidaknya, daya tahan hidup baterai bisa mencapai 10 tahun. Dengan pengenalan awal dari perangkat IoT bertenaga rendah, maka Singtel juga akan selangkah lebih dekat untuk tujuan 5G, di mana perangkat baru dan teknologi sensor dapat memanfaatkan konektivitas jaringan untuk memberdayakan berbagai kasus penggunaan, seperti pencahayaan dan konektivitas kendaraan-ke-infrastruktur.

“Singtel terus mengejar teknologi terkemuka dengan Ericsson –sebagai bagian dari program kemitraan 5G kami. Ericsson adalah salah satu pemimpin dalam mengeksplorasi teknologi baru seperti LTE-M dan NB-IoT, membuka jalan menuju connected eco-system baru dan kami sangat senang untuk bekerja sama dengan mereka untuk terus memberikan solusi inovatif untuk pasar kami,” ujar Tay menjelaskan.

IoT adalah segmen yang tumbuh pesat dan, menurut Ericsson Mobility Report, 28 miliar perangkat yang terhubung diharapkan terjadi pada tahun 2021, dimana lebih dari 15 miliar akan terhubung M2M dan perangkat elektronik konsumen. Dukungan untuk Machine Type Communication yang masif juga menjadi salah satu aspek penting yang dimungkinkan oleh network eco-system generasi ke-lima.

Kemampuan baterai jangka panjang menjadi prasyarat bagi sejumlah besar perangkat IoT, yang mendukung penyebaran lapangan dengan kebutuhan daya dan pemeliharaan yang minimal. Hal ini dimungkinkan untuk mengaktifkan lebih dari 10 tahun hidup baterai pada jaringan LTE yang ada. Kemampuan penghematan daya memungkinkan perangkat untuk memasuki mode deep sleep baru dan ideal untuk perangkat yang hanya perlu menghubungi jaringan sekali per jam atau bahkan kurang secara berkala.

“IoT adalah pasar yang baru muncul dan kami senang untuk bekerja dengan Singtel untuk meningkatkan jaringan mereka untuk mendukung adopsi IoT. Bersama-sama kita akan terus mengeksplorasi teknologi IoT masa depan seperti Cat-M dan NB-IOT yang menjanjikan untuk mengurangi biaya perangkat dan meningkatkan cakupan dan daya tahan baterai lebih jauh. Contoh aplikasi yang dapat memanfaatkan teknologi ini adalah suhu, kualitas udara dan sensor banjir,” ujar Sam Saba, Region Head, Ericsson South East Asia & Oceania, menjelaskan. (Icha)