spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1577

Menkominfo: Indonesia Akan Uji Coba 4.5G di Asian Games 2018

0

Telko.id – Indonesia sudah ditunjuk oleh Dewan Olimpiade Asia (OCA) sebagai tuan rumah Asian Games menggantikan Vietnam. Ajang olahraga terbesar di Asia ini akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Di Jakarta akan menggelar 29 cabang olahraga (cabor), sementara Palembang hanya 11 cabor.

Pada ajang Asian Games 2018 nanti, Indonesia, terutama di Jakarta dan Palembang, akan dilakukan uji coba 4.5G. “Jadi semua atlit dan official nya akan dilayani oleh jaringan 4.5G, ” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjelaskan dalam sambutannya di acara Indonesia ICT Carnival 2016 (25/08).

Layanan 4.5G yang diharapkan oleh Rudiantara ini sudah dilakukan sejak turun dari pesawat, naik ke bus untuk para atlit, masuk hotel sampai ketika akan berbelanja. “Tidak dapat ditampik bahwa dengan adanya Asian Games ini juga akan menambah pemasukan devisa. Jadi sangat mungkin peserta, atlit dan official berbelanja dengan e-payment,” ujar Rudiantara menambahkan.

Rudiantara mengharapkan Huawei dapat membantu Indonesia dengan menjadi IT Partner. Bukan hanya dari sisi mempersiapkan jaringan saja tetapi juga IT solusi lainnya. Termasuk juga aplikasi. “Cuma, saya juga harus bicara lagi pada yang bertanggungjawab menangani event ini.

“Event besar seperti Asian Games ini akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Mulai dari meningkatkan merek nasional, menarik wisatawan luar negeri, menarik foreign direct investment dan meningkatkan popularitas pemerintah,” ujar Qui Heng, President of Huawei Marketing menjelaskan.

Beberapa negara yang pernah atau akan menjadi tuan rumah event besar seperti Asian Games atau yang lebih besar lagi juga menggunakan teknologi informatika untuk menyambut tamunya. “Seperti Jepang, yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Akan memanfaatkan teknologi 5G. Lalu saya tanya pada menterinya ketika bertemu, akan seperti apa nanti layanan yang akan diberikan. Jawabnya, yang penting akan digelar 5G. Rinciannya seperti apa, sambil jalan. Lagi pula masih tahun 2020,” cerita Rudiantara.

Untuk uji coba 4.5G ini sendiri, Rudiantara menyatakan bahwa tidak akan mengalokasikan frekuensi khusus. Uji coba akan menggunakan frekuensi yang ada. Agar rencana ini dapat berjalan, Rudiantara dalam waktu dekat akan mengumpulkan semua operator, penyedia aplikasi dan pihak-pihak lain yang berkaitan untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang uji coba 4.5G ini. (Icha)

ZTE Terbaik Untuk Solusi LTE End-to-End

0

Telko.id – ZTE dinobatkan sebagai pemimpin untuk solusi LTE end-to-end dalam Gartner Magic Quadrant terbaru untuk infrastruktur jaringan LTE 2016.

Magic Quadrant mengevaluasi pasar seluruh dunia untuk infrastruktur jaringan LTE end-to-end, termasuk di dalamnya 10 vendor yang menyediakan radio access dan elemen core network untuk LTE.

ZTE merupakan salah satu pemain utama dalam pasar infrastruktur mobile LTE. Bermula dari pasar Cina dan Asia Pasifik, kini perusahaan yang berbasis di Tiongkok ini telah memasuki pasar internasional yang lebih besar, dengan mendapatkan referensi dari pengguna yang puas seperti Telenor Group.

Berbekal pengalaman proyek LTE di Cina, ZTE berhasil memasuki beberapa pasar kunci yang lain seperti Asia Tenggara, India dan Eropa. Belum lama ini, ZTE juga meluncurkan inisiatif pre-5G dengan mengkomersialkan beberapa solusi teknologi 5G untuk diimplementasikan di atas jaringan 4G.

ZTE merupakan pemasok utama dalam pasar 3G/4G di Cina dan merupakan pemain kunci dalam pasar infrastruktur mobile dunia. Hal ini dibuktikan dengan pendapatan yang relatif stabil dan pengalaman membangun jaringan yang penting.

ZTE terus menunjukkan, menguji dan beroperasi dengan kemampuan yang canggih dengan para penyedia layanan komunikasi (CSP) – misalnya, Massive Multiple Input, multiple output (MIMO) dancloud radio – untuk mendapatkan tempat di pasar.

Di Asia, implementasi teknologi ZTE bisa dilihat di dalam jaringan LTE SoftBank di Jepang dan jaringan TDD/FDD China Mobile di Hong Kong, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin. ZTE juga dapat menggunakan produkfixed line-nya dan hubungan baik yang dimiliki untuk membantu perusahaan penyedia telekomunikasi yang menginginkan peningkatan LTE dan mempererat kerjasama dengan mereka.a dengan para provider telekomunikasi tersebut.

Masukan dari para provider telekomunikasi mencakup pujian untuk fleksibilitas dan responsivitas yang dimiliki ZTE terutama dalam fase penyediaan awal. ZTE juga meningkatkan komunikasi pemasarannya yang dapat meningkatkan visibilitas perusahaan..

Gartner mengemukakan bahwa meskipun ZTE berasal dari Tiongkok, ZTE harus meningkatkan keberadaan dan brand awareness-nya di lebih banyak negara seiring bertambahnya kontrak dan pencapaian di pasar internasional. ZTE dapat memperoleh manfaat dengan merekrut tenaga insinyur lokal yang memiliki pengetahuan jaringan setempat dan bahasa lokal, agar lebih mendunia.

Sasar UKM, RML Hadirkan Solusi IT Hemat Biaya

0

Telko.id – Perusahaan distributor penyedia network dan IT (Information and Technology), PT Raditya Mulia Lestari siap memenuhi kebutuhan para pengguna jaringan dan IT di Indonesia khususnya para pelaku UMKM di Indonesia.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima tim Telko.id (25/8), Direktur Utama PT Raditya Mulia Lestari (RML) Jimmy Hadian mengungkapkan, untuk mewujudkan hal tersebut perusahaan sudah menggandeng lima vendor IT ternama dari berbagai negara di Asia.

“Kami bekerjasama dengan lima perusahaan yang terpercaya yang membawa berbagai keunggulan. Saat ini kita ingin memberikan beberapa solusi terbaru kepada seluruh perusahaan dalam hal IT. Karena semua perusahaan saat ini pasti menggunakan IT,” ujar Jimmy.

Sekadar informasi, kelima vendor tersebut masing-masing memiliki berbagai keunggulan yang berbeda, hal ini tentunya akan semakin mempermudah calon pelanggan mulai dari para pengusaha UKM, industri, hingga perusahaan BUMN untuk memperoleh pelayanan yang sesuai kebutuhan.

Kelima vendor IT yang dimaksud yaitu, Piolink, ZyXel, Monitor App, Netka System, dan Jiran Soft. Kesemuanya berasal dari Korea, Thailand, Taiwan, dan Malaysia. Mungkin nama ini terdengar asing di telinga kita, namun Jimmy meyakini bahwa kelima vendor tersebut memiliki kualitas dan harga yang mampu bersaing.

Jimmy mencontohkan untuk bidang network management server (NMS), terdapat Netka yang memiliki kecanggihan lebih dari vendor asal Amerika Serikat. “Netka System dari Asia atau buatan Thailand jadi bisa memonitor produk yang ada di pasaran tidak seperti buatan Amerika yang hanya bisa memonitor produk buatan Amerika saja,” terangnya.

Selain itu, unique selling point yang bisa didapat oleh para perusahaan di Tanah Air khususnya UMKM adalah harga, walau tidak menyebut angka, namun Jimmy mengklaim dapat memenuhi kebutuhan jaringan dan IT dengan harga kompetitif.

Rencananya sekitar 60 partner reseller dari seluruh Indonesia akan memasarkan lima produk tersebut ke berbagai perusahaan. Jimmy juga menegaskan bahwa segmentasi pasar untuk produk ini untuk seluruh level perusahaan.

“Selama ini pengguna kami berasal dari perusahaan-perusahaan BUMN, lalu dari Kementerian dan ada banyak juga dari UMKM yang juga sudah memilki infrastruktur IT,” lanjut Jimmy.

Sementara itu, berbicara mengenai target pemasaran sampai akhir tahun ini, PT Raditya Mulya Lestari tidak memiliki target khusus, namun saat ini pihaknya akan melakukan konsolidasi terlebih dahulu dengan para reseller.

‘Token’ dan ‘Poin’ Jadi Cara elevania Apresiasi Loyalitas Pelanggan

0

Telko.id – elevenia melakukan inovasi dengan memberikan benefit kepada regular member-nya yang kini telah hampir mencapai 3,5 juta.

Benefit tersebut akan berlaku untuk setiap member, baik yang login dan melakukan ulasan produk di social media maupun yang melakukan konfirmasi pembelian dan ulasan produk.

Member yang login dan melakukan ulasan produk akan mendapatkan elevenia token, sementara mereka yang melakukan pembelian dan ulasan produk akan mendapatkan poin belanja elevenia masing-masing Rp 500.

Diungkapkan Anggita Vela Lydia, General Manager Partnership & Promotion elevenia, poin dan token ini merupakan bagian dari program loyalti elevenia, yakni sebagai bentuk apreasisi elevenia yang diberikan kepada membernya atas segala aktivitas yang dilakukan setiap hari.

“Jadi, member tidak hanya belanja saja, tapi dengan login, memberikan ulasan produk dan melakukan konfirmasi bahwa barang telah diterima, member juga bisa mendapatkan added value,” katanya.

Token yang dikumpulkan nantinya akan dapat ditukarkan dengan voucher diskon untuk membeli berbagai produk mulai dari handphone hingga voucher untuk berbelanja bulanan. Sedanglan untuk poin yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai potongan langsung untuk pembelanjaan berikutnya.

 

OJK dan KADIN Siap Gelar Indonesia Fintech Festival & Conference 2016

0

Telko.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kamar Dagang & Industri (KADIN) baru-baru ini mengumumkan sebuah inisiatif baru sebagai bentuk konkrit dukungan untuk pertumbuhan industri fintech di Indonesia. Diberi nama Indonesia Fintech Festival & Conference 2016, inisiatif ini akan menjembatani semua stakeholder di industri FinTech, mulai dari regulator, institusi keuangan swasta, investor, startup, inkubator, asosiasi industri dan juga dari kalangan akademis.

“Pelaku usaha FinTech yakin akan ada lebih banyak kerjasama saling menguntungkan antara lembaga keuangan seperti bank dengan perusahaan teknologi atau FinTech di masa depan,” kata Niki Santo Luhur, Ketua Umum Asosiasi FinTech Indonesia, sebagai salah satu pendukung konferensi ini, dalam keterangan resmi, Kamis (25/8)..

Saat ini, ia menambahkan, FinTech sudah membantu bank membuka saluran baru distribusi produk keuangan‎, mempermudah proses akuisisi nasabah dan merchant, dan membantu efisiensi operasional serta mengelola risiko. “Jadi, kami melihat momentum yang tepat bagi regulator, lembaga keuangan, dan FinTech untuk duduk di satu forum dan mendiskusikan strategi bersama,” imbuhnya.

Selain didukung oleh Asosiasi FinTech Indonesia, acara ini juga akan didukung oleh Asosiasi Pemodal Ventura dan Startup Indonesia (AMVESINDO), sebagai asosiasi yang menaungi para investor dan startup di Indonesia.

“Di negara berkembang seperti Indonesia, fintech dapat membantu mensejahterakan masyarakat dengan memberikan data yang akan mengubah ekonomi informal menjadi bankable,ungkap Donald Wihardja, Wakil Ketua AMVESINDO.

Donald juga menyatakan bahwa dengan populasi 250 juta, kelas menengah yang kian berkembang dan masih banyak komponen masyarakat yang belum tersentuh produk perbankan (unbanked), Indonesia memiliki potensi hingga Rp. 1.600 triliun dari sisi permintaan pendanaan namun hanya Rp. 600 triliun yang mampu disediakan oleh bank dan institusi perbankan.

Hal-hal seperti ini akan menjadi sorotan untuk diskusi di acara Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 yang akan dihadiri oleh hadirin dari perwakilan pemerintah, regulator, bank, asuransi, lembaga peminjam, startup, investor dan institusi perbankan lainnya.

Acara Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 sendiri akan digelar pada tanggal 29-30 Agustus 2016 di Indonesia Convention & Exhibition (ICE) di BSD, Tangerang, Banten.

Beberapa pembicara yang dijadwalkan untuk hadir meliputi Darmin Nasution (Menteri Koordinator Perekonomian), Muliaman Hadad (Ketua Dewan Komisioner OJK), Rudiantara (Menteri Kominfo), Enggaristo Lukita (Menteri Perdagangan), Rosan P. Roeslani (Ketua Umum Kadin), Ronald Waas (Bank Indonesia), Kartika Wirjoatmodjo (Presiden Direktur Bank Mandiri), Asmawi Syam (Direktur BRI), Armand Hartono (Wakil Presiden Direktur BCA), dan banyak lagi.

XL : MVNO Untungkan Negara

0

Telko.id – Isu mengenai hadirnya model sharing MVNO (Mobile Virtual Network Operator) kembali menguat. Hal ini tidak lain karena rencana revisi dua perubahan terbatas terhadap 2 peraturan pemerintah di bidang telekomunikasi. Masing-masing adalah perubahan terhadap PP Nomor 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan perubahan terhadap PP Nomor 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Kedua PP ini merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Pokok perubahan terhadap 2 PP tersebut intinya mengatur masalah backbone network sharing dan akses jaringan antaroperator.

Menurut XL Axiata, sebagai salah satu operator terbesar di Indonesia menegaskan jikalau model sharing MVNO dapat menciptakan efisiensi dan menguntungkan negara.

“XL sangat serius terkait dengan model MVNO. Kami yakin masih ada jaringan yang bisa dimaksimalkan, sementara di sisi lain ada keterbatasan untuk menjangkau semua segmen yang tidak bisa dipenuhi,” ujar Yessie D. Yosetya, Chief Service Managment XL Axiata.

Yessie juga menegaskan, jika dilihat dari tiga aspek, yakni operator, mitra bisnis dan konsumen. Model sharing MVNO tentu sangat menguntungkan dan memberikan efisiensi bagi industri telekomunikasi di Indonesia.

Berbicara mengenai MVNO, beberapa pengamat merasa model ini adalah model yang dapat menghasilkan efisiensi yang cukup tinggi di industri telekomunikasi di Indonesia, seperti halnya  yang dilakukan pada industri telelkomunikasi di Jepang pada tahun 2001 silam.

Secara sederhananya, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi atau Operator Mobile memberikan layanan komunikasi bergerak kepada pelangganya tanpa harus memiliki infrastruktur jaringan sendiri, melainkan melakukan kerja sama dengan operator telekomunikasi yang ada  melalui pola MOU atau Minutes of Use, yang berarti membayar menit atau lamanya komunikasi yang digunakan oleh pelanggan.

Di dalam MVNO itu terjadi pemisahan yang jelas antara tanggung jawab penyedia jaringan (Network Provider) dengan penyedia layanan (Service Provider). Jadi dalam hal ini si penyedia layanan hanya membeli kapasitas jaringan yang ada dari si penyedia jaringan. Nantinya akan dipakai untuk layanan komunikasi suara, data atau juga SMS.

Sistem kerjasama dalam pola MVNO bisa bermacam-macam, tergantung dari kesepakatan kedua pihak. Salah satu nya adalah lewat MOU (minute of use) dengan pembayaran berdasarkan pada lamanya penggunaan jaringan. Dalam skema MVNO terdapat pemisahan tanggung jawan antara penyedia jaringan (network provider) dan penyedia layanan (service provider).

Sampai dengan saat ini, XL Axiata sendiri sejatinya telah mengimplementasikan passive network sharing dengan Indosat Ooredoo. Namun, model network sharing ini masih baru sebatas MORAN (Multi Operator Radio Acces Network) yang dirasa masih kurang ‘Joss’.

DPR Minta Kominfo ‘Tunda’ Revisi Peraturan Interkoneksi

0

Telko.id – Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara berserta jajarannya dipanggil untuk melakukan Rapat Kerja dengan Anggota Komisi I DPR RI (24/08). Dalam Rapat Kerja tersebut, di minta untuk menjelaskan mengenai rencana penurunan tarif interkoneksi serta Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan Peraturan Pemerintah Nomor 53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Berkaitan dengan penurunan biaya interkoneksi, Komisi I DPR RI dapat menerima penjelasan Menteri Kominfo. Secara khusus, Komisi I akan melakukan pendalaman mengenai kebijakan itu dan meminta Kementerian Kominfo memberikan hasil perhitungan biaya interkoneksi antar operator.

Mengenai revisi peraturan pemerintah, Komisi I DPR RI akan mengadakan rapat lanjutan yang melibatkan Kementerian Kominfo dan kementerian terkait lainnya.

Sebelumnya, penurunan tarif interkoneksi ini dianggap dapat merugikan negara karena berpotensi membuat Telkom merugi hingga 50 triliun. Artinya, akan ada kaitannya dengan pendapatan negara dari pajak dan deviden Telkom serta berpotensi menggangu APBN 2017 mendatang.

Padahal, salah satu alasan penurunan tarif interkoneksi sendiri dikarenakan tarif interkoneksi yang ada saat ini sudah terlalu tinggi dan harus diturunkan agar tidak terlalu membebankan konsumen retail. Selain itu, turunnya tarif interkoneksi juga diharapkan dapat menghasilkan sebuah efisiensi bagi para pelaku usaha di industri telekomunikasi.

“Fokus kerja tetap pada dua hal yakni efisiensi dan penyebaran broadband yang merata. Bagaimana mencapai hal itu, tentu butuh inovasi baik dari sisi regulasi atau pelaku usahanya,” ujar Menkominfo Rudiantara beberapa waktu lalu. (Icha)

Telkomsel Sudah Bangun 70 BTS di Alor Untuk Dukung Kedaulatan NKRI

0

Telko.id – Daerah perbatasan, menjadi daerah yang sangat rawan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, pemerintah melakukan kegiatan Gerakan Pembangunan Terpadu Perbatasan atau Gerbangdutas 2016. Kegiatan ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah untuk percepatan pembangunan di daerah perbatasan.

Telkomsel pun kembali mempertegas komitmennya untuk mendukung kedaulatan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melalui hadirnya akses telekomunikasi di daerah-daerah perbatasan di berbagai lokasi di Indonesia. Hal ini dikemukakan oleh Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah di sela-sela kegiatan Gerakan Pembangunan Terpadu Perbatasan (Gerbangdutas) 2016 bersama Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo di Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Hadirnya jaringan Telkomsel hingga wilayah perbatasan negara merupakan bentuk nyata komitmen kami membuka akses telekomunikasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Penggelaran jaringan telekomunikasi yang menjangkau setiap jengkal wilayah Indonesia ini kami lakukan untuk memerdekakan seluruh masyarakat di NKRI dari keterisolasian komunikasi,” ungkap Ririek.

Ririek lebih lanjut menambahkan bahwa hadirnya akses telekomunikasi bagi masyarakat setempat juga diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan, diantaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru.

Di sisi lain, melihat posisi penting wilayah-wilayah perbatasan yang secara geopolitik sangat strategis, kehadiran layanan Telkomsel di lokasi tersebut tentunya semakin memperkokoh terpeliharanya NKRI sebagai negara kepulauan. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di pulau terluar maupun perbatasan negara merupakan bentuk dukungan Telkomsel dalam memelihara keutuhan NKRI, meningkatkan ketahanan nasional sekaligus mempersatukan bangsa Indonesia yang tersebar di berbagai pulau yang ada di negara kepulauan Indonesia ini.

Saat ini sebanyak kurang lebih 200.000 jiwa masyarakat di Kabupaten Alor telah dilayani oleh lebih dari 70 base transceiver station (BTS) Telkomsel. Terbukanya akses komunikasi di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Republik Demokrat Timor Leste ini, diharapkan juga dapat membantu TNI khususnya dalam menunjang berbagai kegiatan operasional tentara yang bertugas di garda terdepan.

Adapun secara nasional, saat ini Telkomsel telah mengoperasikan 627 BTS yang berlokasi di perbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini. Dari 627 BTS yang berbatasan langsung dengan tujuh negara tetangga tersebut, 148 di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan data.

Dari seluruh BTS Telkomsel di perbatasan negara, 16 BTS berlokasi di Batam dan Bintan yang berbatasan dengan Singapura; 202 BTS berbatasan dengan Malaysia di Dumai, Rokan, Bintan, Karimun, Anambas, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatera bagian Utara, Rokan Hilir; 63 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam, 173 BTS di Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste; 64 BTS di Pulau Rote dan Maluku berbatasan dengan Australia; 70 BTS di Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina; dan 39 BTS di Papua bagian Timur berbatasan dengan Papua Nugini.

Ke depannya, Telkomsel berupaya memperluas jangkauan jaringan di wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Secara nasional Telkomsel telah menggelar lebih dari 118.000 BTS hingga penjuru Tanah Air yang menjangkau hingga 95% wilayah populsi penduduk Indonesia.

Bantuan Kepedulian Sosial untuk Masyarakat Alor

Sebagai bagian dari kontribusi kepada masyarakat di lokasi tempat beroperasinya perusahaan, dalam kegiatan kali ini, Telkomsel juga menyerahkan bantuan kepedulian sosial kepada masyarakat di Desa Welai Timur, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, NTT, berupa satu unit mobil tangki air bersih, 150 lampu mandiri, dan 10 paket lampu penerangan lingkungan mandiri.

Kami berharap bantuan ini dapat memberikan nilai tambah bagi pemerintah, petugas penjaga daerah perbatasan , dan masyarakat yang berada di Alor, yang tentunya bermanfaat dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ririek. (Icha)

Huawei Dorong Terbentuknya Ekosistem Cloud Di Indonesia

0

Telko.id – Masa depan dunia digital akan terbentuk dengan baik jika ekosistem juga terbangun dengan sempurna. Salah satu ekosistem dari dunia digital ini adalah adanya IT dalam bentuk Cloud Computing dan Big Data secara luas digunakan di seluruh industri. Di mana, bisnis tradisional akan melakukan transformasi dengan cloud dan menetapkan standar baru.

Cloud nantinya akan membentuk sebuah ekosistem sendiri yang mampu terintegrasi dengan ekosistem digital secara keseluruhan. Hal ini yang menjadi fokus Huawei Tech Investment atau Huawei Indonesia, penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam acara Huawei Cloud Conference Indonesia (HCC Indonesia 2016), sebagai bagian dari acara the 3rd Indonesia ICT Carnival 2016 – New ICT New Games yang berlangsung selama dua hari, di Raffles Hotel, Jakarta. Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai industri.

Dalam HCC Indonesia 2016, Huawei bersama-sama dengan Accenture, Cloudera, Anabatic, IDPRO, Infosys dan Telkomsigma juga meluncurkan solusi terbaru yaitu Huawei FusionSphere 6.0. Produk terbaru ini adalah sebuah sistem operasi cloud kelas enterprise yang membantu pelanggan menggunakan server virtual, private clouds, public clouds, hybrid clouds, desktop clouds, dan NFVI, memungkinkan layanan utama di cloud dan memfasilitasi inovasi produksi yang berkesinambungan.

Huawei FusionSphere 6.0 mengusung konsep open source yang digunakan dalam komponen, arsitektur, dan ekosistem sehingga memungkinkan pelanggan untuk memiliki lebih banyak pilihan dalam perangkat lunak.

Huawei FusionSphere 6.0 bekerja sama dengan komunitas open-source OpenStack, sesuai dengan standar OpenStack asli, dan mendukung antarmuka pemrograman aplikasi (APIs) OpenStack. Aplikasi pihak ketiga yang dikembangkan berdasarkan OpenStack asli dapat berjalan pada Huawei FusionSphere 6.0 tanpa harus melakukan perubahan. Dengan tingkat kemampuan open source, produk terbaru ini cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan kebutuhan unik dari setiap pelanggan.

“Huawei sangat antusias untuk membangun “win-win cloud ecosystem” dengan para mitra. Kami ingin berbagi kesuksesan dalam pengimplementasian di sektor TIK secara global dan menggunakan teknologi, produk dan solusi TIK yang paling inovatif dan kompetitif untuk mendukung mitra bisnis strategis kami di Indonesia, menciptakan nilai-nilai dan manfaat baru bagi pelanggan mereka di era cloud saat ini,” Liu Haosheng, CEO Huawei Indonesia mengungkapkan dalam pembukaan HCC Indonesia 2016 (24/08)

Huawei FusionSphere 6.0 dirancang untuk membantu perusahaan mengatasi tantangan yang dihadapi selama tahap-tahap transformasi TI, membuat bisnis dan alur kerja perusahaan semakin efektif dan efisien dalam menghadapi perubahan pasar, menurunkan investasi pada aset TI dan sumber daya manusia.

“Kami juga berfokus pada infrastruktur TI, platform perangkat lunak, serta layanan cloud perusahaan saat membuat ekosistem cloud. Bersama-sama dengan mitra perusahaan di Indonesia, kami optimis akan membuat sebuah ekosistem cloud yang terbuka untuk mencapai kesuksesan bersama,” ungkap Alex Cheng, Chief Technology Officer, IT, Data Centre and Cloud Solution Sales, Global Solutions Elite Team APAC Branch, Huawei Technologies menjelaskan.

Pada acara ini, Huawei Indonesia juga mengungkapkan kisah suksesnya dalam hal transformasi cloud yang dilakukan oleh perusahaan bersama Accenture, sebagai mitra, untuk Telkomsigma. Kisah sukses ini menunjukkan bahwa Huawei Indonesia berkomitmen untuk melakukan inovasi bersama mitra untuk membangun cloud ecosystem yang terbuka sehingga dapat membantu pelanggan perusahaan dalam mempercepat transformasi ke arah solusi cloud. (Icha)

Semester Pertama, Laba China Telecom Meningkat

0

Telko.id – China Telecom telah melaporkan peningkatan sebesar 6,3% untuk laba bersih pada semester pertama 2016 yang berasal dari pertumbuhan pendapatan yang kuat.

Dilaporkan TelecomAsia (24/8), Laba bersih sendiri mencapai 11,67 miliar yuan dengan pendapatan usaha naik 7,2% menjadi 176800000000 yuan dan pendapatan jasa tumbuh 5,6% ke 155,22 miliar yuan.

Sementara itu, pendapatan layanan seluler tumbuh sebesar 8,3% menjadi 67,5 miliar yuan, atau 43,4% dari total pendapatan layanan.

China Telecom berhasil menambahkan 9 juta total pelanggan seluler selama periode ini menjadi 206.940.000 pelanggan, sedangkan basis pelanggan 4G operator tumbuh dari 31.650.000 pelanggan menjadi 90.100.000. pelanggan broadband nirkabel tumbuh 118 juta.

Sementara pendapatan layanan fixed line naik walaupun kecil, yakni sebesar 3,6% menjadi 87,7 miliar yuan, dengan perusahaan menambahkan 4,9 juta pelanggan broadband wireline untuk 118 juta.

Sementara basis pelanggan FTTH China Telecom tumbuh sebesar 17,35 juta menjadi 88,34 juta atau hampir tiga perempat dari total pelanggan wireline broadband operator.

Ke depannya, Chairman China Telecom Yang Jie berkomentar bahwa strategi nasional “CyberPower” China akan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pembangunan yang berkesinambungan dari industri telekomunikasi China.

Perusahaan ini menghadapi persaingan pasar intensif tapi rencana untuk secara proaktif merespon dengan berfokus pada peningkatan bisnis inti sementara mengejar pertumbuhan di lima wilayah berkembang utama, katanya.