spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1538

Selama 2016 Huawei Mampu Menjual 139 Juta Unit Smartphone

0

Telko.id – Huawei memang lebih dikenal dengan perusahaan ITC Technologi. Untuk bisnis konsumen nya tidak sebesar unit lainnya terutama jaringan. Namun, di tahun 2016 lalu, Huawei cukup puas dengan perolehan dari unit bisnis ini. Pasalnya, setiap tahun value brand nya terus meningkat. Bahkan Huawei juga cukup pede pada tahun 2017 ini bakal menduduki posisi 40 dari 500 Most Valuable Brands yang pada tahun ini berada diposisi 47.

Secara sales revenue secara global, Huawei pada tahun ini mampu memperoleh $27 Miliar atau sekitar Rp.159 Triliun. Ada peningkatan sebesar 30% dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai $20 Miliar. “Sedangkan untuk global shipments terjadi peningkatan sebesar 29% atau dari 108 juta unit di 2015 menjadi 139 juta unit,” kata Glory Cheung, CMO Huawei Consumer Business Group

Glory menambahkan bahwa saat ini global smartphone market share Huawei pun meningkat. Dari 7.4%, naik 1.9% menjadi 9,3% sehingga smartphone Huawei mampu menempati posisi ke 3.

Jika melihat lebih dalam lagi mengenai pasar smartphone, maka Huawei berhasil meningkatkan market share untuk premium sebesar 10%. Dari 11.20% pada kuartal 4 tahun 2015 menjadi 22.60% pada tahun 2016. Yang dimasukan smartphone premium oleh Huawei ini adalah yang memiliki harga yang berkisar dari 500 US$ sampai 600 US$ atau dalam range Rp.6 juta ke atas.

Khusus di Cina, harapannya pada kuartal dua tahun 2017 ini Huawei mampu mencapai market share 20.2% untuk semua jenis smartphone. Yang asalnya hanya 16.85%.

“Sedangkan untuk premium smartphone yakni yang memiliki harga daitas Rp.6 juta mampu mencapai 18.1% market share. Naik dari tahun sebelumnya pada waktu yang sama hanya mencapai 8.8%,” kata Glory.

Glory juga mengungkapkan bahwa Negara yang memiliki market share Huawei diatas 15% ada 33 negara. Sedangkan, yang memiliki market share diatas 20% ada 22 negara.

Produk smartphone yang memiliki peran besar sampai Huawei mampu menempatkan diri di pasar dengan cukup baik adalah Huawei P9. Di mana, produk tersebut menjadi yang pertama yang mampu mencapai produksi 12 juta
unit. Lebih banyak 152% dibandingkan dengan penjualan Huawei P8. Lalu Huawei Mate 9 mampu terjual sampai 5 juta unit dan lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan Huawei Mate 8. (Icha – Shenzhen)

XL Axiata–Ericsson Ujicoba 5G Outdoor Pertama di Indonesia

0

Telko.id – XL Axiata Tbk (XL Axiata) bekerjasama dengan Ericsson Indonesia menyelenggarakan ujicoba teknologi 5G outdoor atau dilakukan di luar ruangan, yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Ujicoba ini merupakan inovasi XL Axiata untuk menjadi yang terdepan dalam menjajaki dan mempersiapkan adopsi terhadap tren teknologi terbaru. Kedua pihak sepakat bahwa uji coba ini merupakan bagian dari upaya mempelajari lebih dalam mengenai seluk-beluk teknologi 5G dalam rangka persiapan untuk menyongsong implementasi teknologi jaringan tercanggih ini secara global di tahun 2020 mendatang.

Teknologi 5G diklaim mampu menghadirkan kecepatan koneksi hingga 20 Gbps, jauh melebihi kemampuan teknologi 4G LTE yang baru sekitar dua tahun terakhir diimplementasikan di Indonesia.

“Ujicoba di luar ruang (outdoor) yang kami lakukan ini, selain untuk secara langsung mengetahui apa saja keunggulan teknologi 5G, sekaligus juga untuk menegaskan konsistensi XL Axiata untuk selalu berinovasi menjadi operator terdepan dalam menjajagi dan mempersiapkan adopsi terhadap tren teknologi terbaru di masa depan,” kata Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata.

Sebagaimana diperkirakan, teknologi 5G akan mulai bisa diimplementasikan secara global pada 2020, berarti tinggal sekitar 3 tahun lagi, bahkan bisa lebih cepat lagi, karena saat ini pertumbuhan pelanggan/penggunaan layanan 4G sangat cepat sekali diluar prediksi.

“Menampilkan 5G demo bersama dengan XL Axiata tidak hanya membuktikan kepemimpinan Ericsson dalam teknologi bergerakgenerasi berikutnya tetapi juga menunjukkan kesiapan jaringan yang ada untuk mendukung 5G dan ekosistem untuk membangun Internet of Things (IoT).

Demonstrasi hari ini dengan XL Axiata juga menandai sebuah tonggak penting dalam mewujudkan visi pemerintah Indonesia untuk Digital Indonesia di tahun-tahun mendatang,” kata Thomas Jul, Presiden Direktur, Ericsson Indonesia dan Timor Leste.

Dian menambahkan, bahwa inovasi teknologi akan terus berkembang dengan cepat. Karena itu, XL Axiata juga harus cepat menyesuaikan diri dengan melakukan berbagai persiapan di segala aspek baik teknis maupun bisnis, termasuk kesiapan ekosistem untuk infrastruktur, sumber daya manusia, dan juga pemahaman kepada masyarakat mengenai manfaat teknologi 5G guna mendukung dan memberikan kemudahan aktifitas kehidupan masyarakat dan dunia bisnis di masa depan di Indonesia.

Berbagai persiapan yang sudah dilakukan XL Axiata, sebagai bagian dari tahapan untuk mengimplementasikan teknologi 5G nantinya, diantaranya adalah dari sisi spektrum, XL Axiata sudah menerapkan berbagai penerapan sejumlah teknologi guna meningkatkan/mengoptimalkan pemanfaatan spektrum mulai dari Carrier Aggregation(CA), License Assisted Access (LAA), dan kini Modulasi LTE 256 QAM. XL sudah mulai menerapkan teknologi 4.5G 4×4 MIMO.

Sedangkan dari sisi core, XL Axiata sudah melakukan konvergensi jaringan dan IT dengan menerapkan teknologi Network Functions Virtualization (NFV).

Selain itu juga mempersiapkan dari sisi Transport. Di mana XL Axiata terus melakukan perluasan jaringan tulang punggung (back bone) fiber optik yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

Kemudian, XL juga berupaya agar Ekosistem 5G terbentuk dengan cara aktif mendorong pemanfaatan akses Internet Wireless to the home kepada masyarakat, melalui layanan XL Go dan XL Home.

Berikut gambaran keunggulan teknologi 5G dibandingkan generasi sebelumnya. Selain mampu menghadirkan kecepatan koneksi hingga 20 Gbps, juga memiliki latency yang sangat rendah (<=1ms end to end latency). Selain itu, 5G juga mampu menyediakan koneksi simultan hingga kurang lebih 2000 pengguna aktif. Selanjutnya, teknologi jaringan tercanggih ini juga unggul pada sisi penghematan tenaga, bahkan hingga 1000x lebih efisien dibandingkan dengan teknologi perangkat hari ini.

Dengan semua keunggulan itu, maka memungkinkan diselenggarakannya layanan-layanan digital inovatif. Misalnya saja mobil otonom yang sudah mulai diimplementasi di beberapa negara maju. Keunggulan 5G juga akan mampu menopang inovasi digital di berbagai bidang, termasuk kedokteran, selain juga akan mendukung industri robotik dan otomasi.

Uji coba yang dilaksanakan di halaman luar Grha XL, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, ini bertujuan antara lain dalam rangka mendalami aspek teknis teknologi 5G, meliputi pemasangan antenna radio, BTS serta uji coba teknis. Untuk perangkat baseband di jaringan XL Axiata.

Mekanisme ujicoba yang dilakukan adalah dengan menempatkan perangkat radio 5G. Uji coba dilakukan untuk mendemonstrasikan keandalan teknologi ini dalam tingkat kecepatan yang jauh melebihi 4G dengan tingkat latency yang sangat rendah. Perangkat yang akan digunakan adalah base station 5G, sistem pemancar radio berbasis teknologi 5G dengan teknologi Antenna Integrated Radio, user equipment 5G, dan sarana pendukung lainnya.

Implementasi layanan 5G mensyaratkan koneksi yang mencapai hingga 20 Gbps, delay 1 ms, spektrum bandwitdh yang lebih lebar, jumlah piranti yang tersambung yang sangat banyak, pemakaian daya jaringan dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi, serta persyaratan-persyaratan lainnya. Inovasi yang berkelanjutan perlu terus dilakukan untuk mempersiapkan transformasi jaringan XL Axiata menuju 5G ready.

Untuk implementasi di Indonesia, teknologi jaringan 5G ini masih harus menunggu kesiapan regulasi dari pemerintah dan penyetaraan teknologi serta ekosistem secara teknis. Semua hal itu baru akan selesai pada kisaran tahun 2018 – 2020. (Icha)

Huawei Siapkan 10 Skenario Cloud Untuk Percepatan Transformasi Digital

0

Telko.id – Cloud adalah masa depan ICT. Cloud ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai skenario dan tentunya diharapkan dapat mengefisiensikan bisnis perusahaan yang ujungnya adalah memberikan nilai tambah bagi konsumen. Dalam event Huawei Analyst Summit 2017 mengatakan bahwa tahun ini akan mempromosikan 10 skenario yang spesifik tentang solusi layanan cloud. Yang akan dilakukan dengan bekerjasama dengan para mitra industrinya.

Skenario yang disediakan oleh Huawei ini meliputi HPC CLoud, SAP CLoud, IoT Cloud dan skenario umum lainnya. Dengan demikian, perusahaan dapat memilih dari 10 skenario tersebut yang sesuai dan lebih efisien untuk melakukan transformasi digital.

Yang baru saja diperkenalkan pada event HAS 2017 ini adalah ServiceStage. Solusi public cloud pertama. Sebuah platform terbuka untuk para pengembang Cloud Native app yang mampu mengintegrasikan pengembangan workflow framework, app dan sumber shcedulling framework, seperti untuk micro-service operation dan governance framework.

Di sisi lain, Huawei juga menjadi public cloud miliknya terpercaya dan terbuka yang didedikasikan untuk menciptakan nilai tambah pada bisnis yang dilakukan para konsumennya demi pelayanan yang lebih maksimal pada pelanggannya. Hal ini akan sangat dijaga agar para klien nya juga percaya dan mau memanfaatkan teknologi berbasis cloud ini.

“Terlebih, Huawei juga menyakini bahwa dengan adanya teknologi cloud ini maka akan merangsang transformasi digital akan lebih cepat lagi,” kata Zheng Yelai, President, Cloud BU and IT Product Line, Huawei.

Untuk mendukung bisnis cloud tersebut, sejak Maret 2017 ini Huawei membentuk bisnis unit khusus untuk Cloud dan IT. Sampai saat ini, sudah ada beberapa penawaran untuk menangani konsumen dibeberapa negara. Seperti China, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, dan beberapa Negara di Asia Pasific. Termasuk juga beberapa perusahaan besar seperti Volkswagen, Philips, dan CERN.

Tidak ketinggalan, Huawei juga bekerjasama dengan beberapa operator seperti Deutsche Telekom, China Mobile, Telefónica untuk membuat public cloud services. Semua itu bekerja menggunakan Huawei Cloud Platform.

“Layanan cloud ini menjadi bagian penting dalam infrastruktur untuk mendukung transformasi digital pada era Cloud 2.0 ini,” kata Zheng Yelai. (Icha – Shenzhen)

Digital Transformation Sebuah Keniscayaan

Telko.id – Salah satu yang diangkat dalam Huawei Analist Summit 2017 (11/4) adalah digital transformation yang dianggap sudah sangat perlu dilakukan oleh perusahan menuju digital.

“Digital transformation ini akan mengakselerasi dan mendorong modernisasi industri. Seperti industri finansial, transportasi, manufaktur dan pemerintahan. Semua itu tentu akan mengubah cara kita hidup dan bekerja,” kata Willian Xu, Executive Director of the Board, Chief Strategy Marketing Officer, Huawei.

William juga menambahkan bahwa “Estimasi kami, trafik data yang akan terbentuk secara global setiap tahun akan meningkat dan akan mencapai 180 ZB (Zetabytes) pada tahun 2025 atau sekitar 150 kali dibandingkan dengan tahun 2010”.

Pasalnya, digitalisasi industry akan memberikan benefit yang sangat besar. Termasuk peluang bisnis baru dan efisiensi yang akan dihasilkan oleh jutaan perusahaan. Proses ini juga tentu akan mempengaruhi dari bisnis Huawei dengan banyaknya permintaan pada digital infrastrukturnya. Mulai dari device, pipe atau jaringan dan cloud. Hal ini menunjukan betapa besarnya peluang di ICT industri ini.

Berdasarkan proyeksi dari Global Connectivity Index, pada tahun 2017 ini ICT akan menjadi ‘bahan bakar’ bagi pertumbuhan ekonomi dan cloud menjadi pendorong utamanya. Setidaknya setiap US$1 investasi di ICT infrastruktur akan menghasilkan pertumbuhan GDP baru sebesar US$3.

Itu sebabnya, perusahaan yang menggunakan ICT, tidak saja untuk mendukung system bisnisnya tetapi juga system produksi utama dan setiap system pembuat keputusan akan secara signifikan meningkatkan efisiensi dan inovasinya.

Namun, peningkatannya pada tahun 2025 akan jauh lebih besar lagi. “setidaknya pada 2025, setiap US$1 investasi di ICT infrastruktur akan menghasilkan US$5 ekstra GDP.

Dalam analisisnya GCI menunjukan ketika penetrasi fixed broadband mampu memperoleh value 10% dan 35% maka adopsi cloud juga akan melonjak secara signifikan. Lalu, ketika sebuah negara, level cloudification meningkat 3%, maka investasi di biga data analytic dan Internet of thing akan take off.

“Berdasarkan data tersebut maka kami merekomendasikan untuk perusahaan yang secepatnya melakukan investasi di cloud sebaik di broadband maka perusahaan tersebut juga akan memiliki pondasi yang kuat untuk pengembangan digitalnya,” kata William.

Untuk membantu industri menuju digital, Huawei pun harus mendigitalisasi juga proses penjualan dibisnis utamanya. Terlebih, layanan cloud akan menjadi pondasi untuk transformasi digital bagi operator telekomunikasi dan semua industri lainnya.

“Jadi, untuk merespon trend yang ada, Huawei sudah membentu Cloud Business Unit. Bahkan, kami akan melakukan investasi yang cukup besar untuk membangun ekosistem cloud,” kata William Xu.

Untuk menghadapinya, secara internal Huawei juga akan meningkatkan efisiensi dan kapasitas untuk inovasi dengan menjadi perusaaan digital. Setidaknya, perlu waktu 3 – 5 tahun untuk mengeksplorasi lebih jauh dari transformasi digital dan mengetahui aplikatif dari semua itu yang terbaik.

Secara eksternal, Huawei juga akan mendigitalisasi hubungan dengan partner dan mensosialisasikan Real-time, On-demand, All-Online, DIY dan pengalaman Sosial pada setiap proses penjualan pada lima group kunci yakni klien, konsumen, partner, supplier dan karyawan. (Icha – Shenzhen)

HAS 2017: Go Digital Go CLoud

Telko.id – Huawei Global Analyst Summit 2017 baru saja dibuka di Shenzhen (11/4) dan akan berlangsung selama 2 hari. Acara ini dihadiri oleh 500 peserta dari kalangan analis dan media.

Dalam presentasinya Eric Xu, Deputy Chairman of the Board, Rotating CEO, Huawei menyebutkan bahwa ke depan ada tiga peluang bagi bisnis jaringan. Yang pertama adalah video, home application dan vertical bisnis atau bisnis diluar operator telko.

Untuk video sendiri, Eric menyebutkan pangsa pasar nya sangat besar sekali. Termasuk entertainment video, video communications, dan video surveillance. “Kami perkirakan pasar video ini akan mencapai We US$700 billion pada tahun 2020 dan akan mencapai US$1 trillion by 2025,” kata Eric.

Sedangkan untuk home application, saat ini saja sudah mencapai 2 miliar households di dunia. Sayangnya, 1.1 miliar masih belum terkoneksi dengan broadband. Sekitar 300 juta hanya memiliki koneksi yang lambat bahkan kurang dari 10 Mbit/s. Dan diperkirakan 1.4 miliar household akan menjadi target pasar baru.

Peluang bisnis lainnya adalah vertical industries. Di mana, akan banyak sekali perusahaan di semua lini industry akan melakukan digital transformasi dan menjadikan perusahaannya berbasis digital.

“Setidaknya, kami memproyeksikan pada 2025 akan ada potensi pasar yang mencapai 15 triliun dolar,” kata Eric optimis.

Eric menambahkan bahwa “Di sisi lain, ada tantangan yang harus dihadapi para perusahaan. Di mana, aka nada perubahan bisnis model dan teknologi baru yang diterapkan. Tak heran banyak operator yang menghadapi berbagai problem selama menjalankan bisnisnya”.

Misalnya, profit dari layanan yang sudah ada menurun, pengembangan dari layanan baru terlalu lambat, kesulitan akuisisi dari site resourses dan effisiensi O&M yang rendah.

Itu sebabnya, Huawei komitmen untuk menjadi partner bagi para operator dan pihak lain untuk mengawalnya selama proses digital trasnformasi dan bisnisnya menjadi sukses.

“Pertama, kami akan meningkatkan kemampuan jaringan yang sudah ada dan memaksimalkan network value nya. Kedua, ke depan kami akan mengembangkan video menjadi basic service dan membuat cloud service untuk membantu vertical industry untuk go dgital,” kata Eric.

Eric juga menegaskan bahwa “Mulai 2017 ini, Huawei akan fokus pada layanan public cloud. Kami akan investasi yang cukup besar untuk membangun open public cloud platform yang terpercaya yang akan menjadi pondasi untuk keluarga Huawei Cloud. Yang termasuk di dalamnya adalah public cloud yang akan kami bangun bersama dengan operator, public cloud yang dapat dioperasikan sendiri.” (Icha – Shenzhen)

Lintasarta Kembali Adakan Appcelerate 2017 Bareng LPIK-ITB

0

Telko.id – Setelah sukses dengan ajang Lintasarta Appcelerate 2016, pada tahun ini Lintasarta kembali bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK-ITB) untuk mengadakan Appcelerate 2017.

Appcelerate merupakan realisasi Program Corporate Social Responsibility Lintasarta dalam bentuk kompetisi rencana bisnis yang berfokus pada inovasi produk berbasis aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri; perbankan, keuangan, migas, perkebunan, manufaktur, kesehatan, logistik, transportasi, kelautan, dan pariwisata.

Kerjasama Lintasarta dan LPIK-ITB diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilaksanakan di Ruang Rapim B, Gedung Rektorat ITB Bandung. Penandatanganan. PKS ini mengawali rangkaian kegiatan Appcelerate 2017 yang akan dimulai pada April – Desember 2017.

Rangkaian kegiatan Appcelerate meliputi beberapa tahapan seleksi dimana meliputi kegiatan inkubasi bisnis, mentoring yang meliputi kegiatan mentoring yang melibatkan pihak Lintasarta dan ITB.

Dalam masa inkubasi, tim yang terpilih juga akan mendapatkan dana bantuan pengembangan produk. Di akhir masa inkubasi, kesepuluh tim akan kembali mempresentasikan produk akhir yang telah dikembangkan, tiga tim terbaik akan memenangkan dana dengan total ratusan juta rupiah, yang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnis lebih lanjut.

“Lintasarta Appcelerate bertujuan untuk mengembangkan minat dan menyediakan sarana aktualisasi bagi para mahasiswa menjadi enterpreneur digital,” kata Arya Damar President Director Lintasarta.

Arya juga menambahkan bahwa “Kerja sama dengan LPiK ITB juga bertujuan mendukung program pemerintah yang sedang gencar mendorong agar lembaga pendidikan mampu menghasilkan 1000 startup yang mampu memanfaatkan ekonomi digital dalam mengembangkan usahanya.

Event ini pun diharapkan mampu membantu terciptanya digital ekonomi atau e-commerce yang akan membuka lapangan kerja seiring dengan aktivitas digital ekonomi yang berbasis internet yang diharapkan terus meningkat setiap tahun.

“Invensi dan inovasi dalam bidang ICT sangat penting bagi pengembangan industri ekonomi digital Indonesia saat ini dan di masa depan. Kerjasama ITB dengan Lintasarta melalui Appcelerate diharapkan mendorong percepatan munculnya entrepreneur dan start up dalam bidang ekonomi digital, sesuai dengan visi ITB sebagai entrepreneur university,” kata Bambang Riyanto Trilaksono, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB.

Pada Appcelerate 2016 yang lalu, Kazee, BIOPS dan Winaafi keluar sebagai pemenang. Kazee merupakan produk yang berfokus untuk membantu perusahaan untuk mendengarkan dan memahami pelanggan melalui analisis percakapan pelanggan di media sosial. BIOPS merupakan aplikasi precision farming yang menawarkan monitoring dan controlling untuk para petani greenhouse.

Sedangkan Winaafi adalah aplikasi sembako mart yang menawarkan kemudahan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mengintegrasikan antara toko kelontong lokal dengan konsumen di sekelilingnya. (Icha)

Rangkul Komunitas, Doku dan iGlobal Arsiteki Aplikasi Bertajuk Salam Al Azhar

0

Telko.id – Sebuah aplikasi bernama “Salam Al Azhar” diperkenalkan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar hari ini, Jumat (7/4/2017). Ditenagai oleh penyedia solusi pembayaran elektronik Doku, aplikasi ini tak hanya memungkinkan penggunanya dapat dengan mudah mengakses beragam aplikasi pendidikan, tetapi juga melakukan pembayaran dan banyak lagi.

“Aplikasi Salam Al Azhar adalah bentuk komitmen Doku untuk terus memperluas ekosistem “cashless society”, tak terkecuali untuk sektor pendidikan. Dengan aplikasi ini, diharapkan bisa mengembangkan potensi yang ada, baik bagi siswa, orangtua maupun masyarakat luas,” kata Irfan Burhan, VP Merchant Business Doku dalam acara perkenalan yang dilangsungkan di aula Masjid Agung Al Azhar.

Salam Al Azhar sendiri, yang merupakan co-branding dari platform sistem pendidikan modern (LEKAR Apps), seperti diungkapkan Ketua Umum YPI Al Azhar, H. Muhammad Suhadi, merupakan sebuah “rumah besar komunitas” berbasis teknologi digital terkini yang hadir berkat Joint Operation antara Doku, PT. Indoglobal Nusa (iGlobal) dan Persyarikatan Al Azhar.

“Ini adalah sebuah terobosan terbaru yang hadir untuk merangkul seluruh komunitas keluarga besar Al Azhar dimanapun mereka berada, untuk dapat bergabung, bersilaturahmi dan saling memberikan manfaat bagi sesama dan masyarakat luas,” katanya.

Salam Al Azhar telah beroperasi secara resmi sejak 14 November 2016 dengan aktivitas awal untuk mendukung aktivitas PMB (Pendaftaran Murid Baru) dan beragam pembayaran uang pangkal, uang sekolah dan donasi bagi para murid Sekolah Islam Sekolah Al Azhar secara online, baik dari smartphone, komputer/laptop ataupun aplikasi mobile berbasis Android dan Apple.

Salam Al Azhar powered by Doku didesain sebagai sebuah layanan komunitas yang tak hanya mudah untuk diakses, tetapi juga lengkap. Melalui aplikasi ini pengguna tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas tetapi juga mendapat informasi.

Untuk itu, lanjut Irfan, sejumlah fitur unggulan pun dibenamkan Doku di aplikasi ini termasuk layanan pendaftaran sekolah, laporan kegiatan sekolah, layanan Informasi nilai, konseling pendidikan, pembayaran uang formulir, SPP bulanan, hingga pembayaran ZISWAF (zakat Infaq, sedekah dan wakaf).

Itu belum termasuk beragam layanan pendukung gaya hidup, kuliner, travel, leisure, Investasi, belanja, jaringan bioskop hingga layanan keuangan seperti e-wallet, pendanaan, pembayaran, pembelian, tarik tunai, transfer, cash reward, e-voucher dan sebagainya.

“Layanan Salam Al Azhar juga dilengkapi dengan sistem pembayaran berbasis QR code yang akan memudahkan gaya hidup penggunanya,” pungkasnya.

Indosat dan 5 Partner nya Bangun Sistem Jaringan Kabel Bawah Laut Baru

0

Telko.id – AARNet, Google, Indosat Ooredoo, Singtel, SubPartners, dan Telstra hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan Alcatel Submarine Networks (ASN) untuk membangun sistem jaringan kabel bawah laut internasional baru yang akan menghubungkan Singapura, Indonesia dan Australia.

Setelah pembangunan selesai, sistem kabel INDIGO (sebelumnya dikenal sebagai APX West & Central) ini akan memperkuat hubungan komunikasi antara Australia dan negara-negara di Asia Tenggara yang sedang berkembang pesat, dapat mengurangi latency dan meningkatkan keandalan. Dengan menggunakan teknologi optik terpadu mutakhir, setiap dua pasang kabel serat optik dapat memiliki kapasitas minimal 18 Terabit per detik, dengan kemungkinan peningkatan kapasitas di kemudian hari.

Sistem ini akan menggunakan rancangan dua pasang serat optik ‘open cable’ dengan teknologi pembagian spektrum. Anggota konsorsium akan memiliki spektrum tersendiri yang memberikan kemampuan secara independen untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi ini dan melakukan peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan di kemudian hari.

Sistem kabel laut INDIGO membentang sepanjang kurang lebih 9000 km yang menghubungkan Singapura dan Perth, sampai ke Sydney. Dalam sistem ini terdapat tambahan dua pasang kabel serat optik yang menghubungkan Singapura dan Jakarta melalui sebuah unit percabangan (branching unit). Sistem kabel laut ini akan mendarat di fasilitas stasiun kabel laut yang saat ini telah ada di Singapura, Australia dan Indonesia.

David Burns, Managing Director, Global Services and International, Telstra Group, mengatakan: “Pertumbuhan konsumsi data internet yang mencapai 70% tahun lalu di Asia membuat investasi di jaringan internasional menjadi hal yang penting untuk menjawab kebutuhan konsumen dan bisnis yang saling terhubung. Hal ini akan menjadi infrastruktur teknologi penting yang menghubungkan Asia Tenggara dan Australia, dan merupakan kelanjutan dari berbagai peningkatan jaringan yang baru-baru ini dilakukan Telstra untuk memenuhi permintaan data dan konektivitas yang lebih baik dari konsumen kami di Asia Pasifik.”

“Kerja sama strategis ini adalah pencapaian yang besar bagi dunia riset dan edukasi Australia,” ungkap Chris Hancock, CEO, AARNet. “Hal ini akan menyediakan infrastruktur penting bagi kerja sama riset dan edukasi transnasional yang semakin tumbuh antara Australia dan partner kami di Asia.”

“Kami berkomitmen untuk menyediakan akses digital dan telekomunikasi yang baik bagi Indonesia. Konsorsium INDIGO adalah kerja sama penting dan strategis bagi Indosat Ooredoo yang akan menyediakan layanan digital bagi masyarakat Indonesia. Bersama-sama, kami akan menyediakan koneksi data dan akses internet kelas dunia yang sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia,” kata Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat Ooredoo.

Alex juga menambahkan bahwa Ketersediaan infrastruktur jaringan berkecepatan tinggi, baik dari dan menuju Indonesia, sangat penting bagi konsumen bisnis dan personal di Indonesia agar dapat terhubung dengan konten global. Itu sebabnya, Indosat percaya bahwa kerja sama yang baik dengan konsorsium ini akan menghasilkan alternatif yang dapat diandalkan oleh lalu lintas data yang terus berkembang.

“Pembangunan INDIGO sesuai dengan peningkatan permintaan jaringan pita lebar berkecepatan tinggi antara Asia dan Australia. Sistem kabel ini melengkapi jaringan global kami yang menghubungkan Asia, Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Timur Tengah. INDIGO akan menyediakan jalur data super cepat bagi Singtel dan anak perusahaan kami, Optus, untuk mendukung perkembangan ekonomi digital di wilayah-wilayah tersebut,” kata Ooi Seng Keat, Vice President, Carrier Services, Group Enterprise, Singtel.

“Penyediaan jaringan yang aman, dapat diandalkan dan berkecepatan tinggi antara Singapura dan Sydney menjadi fokus utama SubPartners semenjak didirikan,” ungkap Bevan Slattery, CEO SubPartners.

Bevan menambahkan bahwa SubPartners juga merasa senang dapat menjadi bagian dari sistem kabel INDIGO, dan akhirnya bisa merealisasikan proyek infrastruktur yang sangat penting ini, sehingga kami dapat menyediakan sebuah jalur internasional bagi Australia menuju Asia Tenggara.

ASN akan membangun sistem komunikasi kabel laut ini, yang diharapkan selesai pada pertengahan 2019. (Icha)

NexSat Combo Layana Baru Perpaduan TV Berlangganan dan Internet

0

Telko.id – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah memacu lahirnya berbagai layanan hiburan inovatif dengan segala keunggulannya. Fenomena ini mempengaruhi tuntutan masyarakat dan pasar untuk mendapatkan layanan hiburan yang lebih luas, berkualitas, kaya akan manfaat, simpel, dan harga terjangkau. Menjawab kebutuhan ini, Nexmedia sebagai penyedia TV berlangganan praktis tanpa parabola bersama dengan Indosat Ooredoo Business sepakat untuk melakukan kerjasama strategis melalui program “NexSat Combo” yang memadukan layanan TV berlangganan berkualitas dan internet berkecepatan tinggi kepada pelanggan.

Kemitraan strategis ini ditandatangani oleh Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo dan Junus Koswara, Presiden Direktur Nexmedia, yang juga dihadiri oleh pejabat senior lainnya dari Nexmedia dan Indosat Ooredoo Business di SCTV Tower Senayan, Jakarta Pusat.

Hanya dengan harga mulai dari Rp 190 ribuan per bulan, pelanggan Nexmedia akan dapat menikmati tayangan channel kelas dunia seperti BeIN Sports 1, FOX, AXN, Star World dan masih banyak lagi; dan juga akan mendapatkan paket data dari Indosat Ooredoo business sebesar 20GB di jaringan 4G Plus, 6GB di jaringan 3G/4G, 5000 menit telpon ke sesama pelanggan Indosat Ooredoo, 30 menit telpon ke semua operator, dan 5000 SMS. Jika pelanggan ingin memiliki Mifi modem untuk koneksi internetnya, pelanggan hanya perlu membayar mulai Rp 240 ribuan per bulan untuk mendapatkan paket di atas plus Mifi Huawei E5577.

“Sinergi Indosat Ooredoo Business bersama Nexmedia ini menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses internet cepat melalui jaringan 4G Plus serta layanan hiburan yang berkualitas serta mendidik melalui televisi berlangganan. Inisiatif ini juga sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, kami ingin membawa manfaat digital semaksimal mungkin bagi bisnis dan masyarakat di Indonesia,” demikian disampaikan Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo.

“Sebuah kebanggaan bagi kami dapat berkerjasama dengan salah satu penyedia layanan telekomunikasi terkemuka di Indonesia yaitu Indosat Ooredoo Business. NexSat Combo kami hadirkan tidak hanya untuk menjawab tuntutan pasar dalam menghadirkan media hiburan yang lebih lengkap, namun juga sebagai wujud komitmen kami dalam melayani para pelanggan setia kami” tambah Andy Jobs selaku Direktur Marketing, Sales dan Produk Nexmedia.

Diharapkan kerjasama antara kedua perusahaan ini dapat memberikan manfaat lebih bagi pelanggan Nexmedia untuk dapat mengakses internet berkecepatan tinggi di jaringan Indosat Ooredoo yang sudah tersebar di Indonesia sebagai persembahan Indosat Ooredoo Business sambil menikmati tayangan channel kelas dunia dari Nexmedia dengan biaya terjangkau. (Icha)

Indosat ‘Cetak’ Investor Pasar Modal Muda

0

Telko.id – Saat ini investor pasar modal di Indonesia masih berada di angka 564.952 single investor identification (SID). Masih sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 240 juta atau kurang dari 1%. Melihat kondisi ini, Indosat ingin ikut berpartisipasi. Caranya dengan membuat kompetisi Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016, Targetnya adalah untuk mencetak pemain saham yang andal.

ISTC 2016 ini merupakan ajang kompetisi yang kedua yang direspon cukup baik oleh masyarakat. Setidaknya, terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu yang pesertanya berjumlah 8000 orang, tahun ini bisa mencapai 10 ribu peserta.

“Melihat antusias peserta, kami percaya bahwa program ISTC ini merupakan salah satu program yang dapat mewujudkan Indonesia sebagai salah satu Negara ekonomi terbesar di Asia,” kata Alexander Rusli, CEO Indosat Ooredoo.

Direktur pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan juga optimis dengan kondisi bursa saham Indonesia yang semakin atraktif dalam beberapa tahun terakhir akan merangsang minat masyarakat untuk menjadi investor di BEI.

Dalam kompetisinya, para peserta ISTC 2016 ditantang menggunakan aplikasi mobile untuk melakukan simulasi secara virtual namun dengan penggunaan data yang real time dari BEI. Adapun aplikasinya sendiri merupakan hasil kerjasama Indosat Ooredoo dengan BEI dan Trimegah Securities.

Setelah melalui sejumlah tahapan, dipilih masing tiga pemenang dari dua kategori yang dilombakan, yakni pelajar dan umum. Dari kategori pelajar, mahasiswa asal Universitas Brawijaya Malang bernama Firdaus Sahrul Anggara menjadi juara satu, dikuti juara dua dan tiga yang masing-masing berasal dari Universitas Andalas Padang dan Universitas Brawijaya lagi.

Sedangkan di kategori umum juaranya dipegang oleh Dwi Winarno asal Depok, disusul dua orang lainnya yang berasal dari Sleman, Yogyakarta dan Jakarta. “Kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal itu merupakan salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia,” kata Alexander Rusli. (Icha)