spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1512

Indonesia Termasuk Urutan Ketiga Yang Paling Rentan Terhadap Malware

0

Telko.id – Microsoft CyberSecurity baru saja mengumumkan hasil temuannya. Di mana, dalam laporan Security Intelligence (SIR) volume 22nya menemukan bahwa Negara berkembang seperti Banglades, Kamboja, Indonesia, Myanmar dan Vietnam termasuk diantara lima besar negara di Asia Pasifik yang paling terekspos oleh program berbahaya.

Pada kuartal 2 tahun 2016, 45,2% komputer di Indonesia terserang malware, lebih tinggi dengan angka rata-rata global pada kuartal yang sama sebesar 20,8%. Kategori perangkat lunak berbahaya yang paling sering ditemui di Indonesia pada kuartal 2 2016 adalah Trojans dengan 41,5% angka serangan pada seluruh komputer, naik 37,8% dibandingkan angka pada kuartal sebelumnya. Worms menempati posisi kedua, dengan 24,5% serangan pada seluruh computer, turun 26,3% dibandingkan kuartla sebelumnya.

Laporan semi-tahunan Microsoft Security Intelligence (SIR) memaparkan data dan sudut pandang mendalam terhadap lanskap ancaman global, secara spesifik kepada kerentanan perangkat lunak, eksploitasi, malware dan serangan berbasis web. Dalam versi terbaru ini, laporan tersebut melacak endpoint serta ancaman data pada komputasi awan dan profil lebih dari 100 pasar individu. Laporan ini juga membagikan studi kasus terbaik dan solusi yang dapat membantu organisasi untuk dapat melindungi, mendeteksi dan merespon ancaman dengan lebih baik.

“Seiring kemajuan komputasi awan cerdas dalam era transformasi digital ini, kami dimotori oleh teknologi untuk mengejar kesempatan tanpa henti dengan dampak yang lebih besar,” jelas Antony Cook, Associate General Counsel, Microsoft Asia Pasifik, Jepang & Australia.

“Bagaimanapun, kita tidak akan selamanya tetap aman dan dapat mencapai kapasitas secara penuh pada dunia yang selalu terhubung ini, tanpa memahami ancaman keamanan siber dan menambah pemahaman mengenai perkembangan cybercrime,” kata Antony menambahkan.

Adapun, negara di Asia Pasifik yang Paling Rentan Terhadap Serangan Malware:

1.     Bangladesh

2.     Kamboja

3.     Indonesia

4.     Myanmar

5.     Vietnam

1.     Nepal

2.     Thailand

3.     Filipina

4.     Sri Lanka

5.     Malaysia

1.     Korea

2.     Singapura

3.     Selandia Baru

 

Rata-rata Serangan Malware di Berbagai negara di Asia Pasifik pada Kuartal 1 2017 (dari tertinggi hingga terendah)

Dalam lingkup Asia Pasifik, laporan ini menemukan bahwa sekitar satu dari empat komputer di Bangladesh, Kamboja dan Indonesia yang menjalankan produk keamanan real-time Microsoft di negara-negara ini melaporkan adanya serangan malware antara Januari sampai Maret 2017. Bangladesh, Kamboja, Indonesia, Myanmar, Vietnam, Nepal dan Thailand masing-masing melaporkan adanya serangan malware dengan rata-rata tingkat lebih dari 20% pada kuartal pertama 2017. Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sebesar 9%.

Di sisi lain, negara-negara di Asia Pasifik dengan level kematangan teknologi informasi yang lebih tinggi, yakni Selandia Baru dan Singapura, memiliki performa yang lebih baik dibandingkan rata-rata global.

Naiknya Angka Serangan Ransomware 

Ransomware adalah salah satu jenis malware yang paling terkenal pada tahun 2017. Pada paruh pertama tahun ini, dua gelombang serangan ransomware, yakni WannaCrypt dan Petya, memanfaatkan kerentanan pada sistem operasi Windows usang di seluruh dunia dan menonaktifkan ribuan perangkat dengan membatasi akses data secara tidak sah melalui enkripsi. Hal ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari individu tapi juga melumpuhkan banyak operasional perusahaan.

Sebagian besar serangan telah terkonsentrasi secara tidak proporsional di Eropa, dan banyak negara di Asia Pasifik belum terkena dampak yang parah. Namun, Korea adalah satu dari sedikit pengecualian di wilayah ini, dengan kejadian ransomware tertinggi kedua di seluruh dunia.

Penyerang mengevaluasi beberapa faktor saat menentukan wilayah mana yang harus ditargetkan, seperti GDP suatu negara, usia rata-rata pengguna komputer dan metode pembayaran yang tersedia. Bahasa juga dapat menjadi faktor pendukung utama karena serangan yang sukses sering kali bergantung pada kemampuan penyerang untuk melakukan personalisasi pada pesan untuk meyakinkan pengguna untuk mengaktifkan data berbahaya tersebut.

Layanan dan Akun Komputasi Awan Dibawah Kepungan Siber

Seiring dengan meningkatnya migrasi awan, awan telah menjadi pusat data utama bagi sebagian besar organisasi. Ini juga berarti data berharga dan aset digital yang tersimpan di awan, membuatnya menjadi target bagi penjahat dunia maya.

Sebagian besar serangan terhadap akun konsumen dan perusahaan yang dikelola pada komputasi awan ini diakibatkan oleh kata kunci yang lemah dan dapat ditebak serta pengelolaan kata sandi yang buruk, diikuti oleh serangan phishing yang ditargetkan dan pelanggaran layanan pihak ketiga. Seiring dengan frekuensi dan kecanggihan serangan terhadap akun pengguna pada komputasi awan yang meningkat, kebutuhan untuk pengamanan data melampaui kata sandi untuk otentikasi sangatlah diperlukan.

Membangun Kepercayaan di Dunia Digital dengan Memperkuat Postur Cybersecurity

Seiring lanskap ancaman yang terus berevolusi dan berkembang, sebuah organisasi perlu memastikan bahwa sudah memiliki rancangan keamanan siber yang solid, bersih dan kuat untuk melindungi lingkungan digitalnya dengan lebih baik, serta mendeteksi ancaman dan merespon serangan.

Berikut adalah empat praktik terbaik yang dapat dipertimbangkan oleh individu dan organisasi untuk meminimalisir risiko siber dan tetap bertahan dalam lanskap ancaman yang selalu berubah:

  • Jangan bekerja di hotspot Wi-Fi umum tempat penyerang dapat “mengintip” komunikasi digital, menangkap detil login dan kata sandi, serta mengakses data pribadi.
  • Teratur memperbarui sistem operasi dan program perangkat lunak lainnya untuk memastikan patch terbaru telah diinstal. Hal ini dapat mengurangi risiko eksploitasi kerentanan.
  • Mengurangi risiko kompromi kredensial dengan mendidik pengguna tentang mengapa mereka harus menghindari kata kunci sederhana dan menerapkan metode otentikasi multi faktor, seperti satu dari Azure Multi-Factor Authentication (MFA).
  • Terapkan kebijakan keamanan yang mengontrol akses kepada data sensitif dan membatasi akses jaringan perusahaan ke pengguna, lokasi, perangkat, dan sistem operasi yang sesuai. Kebijakan ini dapat secara otomatis memblokir pengguna tanpa otorisasi yang tepat atau menawarkan saran yang mencakup pengaturan ulang kata sandi dan penegakan autentikasi multi-faktor.

Sumber daya seperti Laporan Intelijen Keamanan hanyalah satu aspek pendekatan dan komitmen komprehensif Microsoft terhadap keamanan – termasuk platform holistik, kecerdasan unik dan kemitraan luas – yang sangat penting untuk memungkinkan transformasi digital organisasi terkemuka di Asia Pasifik. (Icha)

Jambi dan Sultra Kini Sudah Bisa Merasakan Layanan 4G LTE XL

0

Telko.id – XL Axiata sebagai operator terus melakukan perluasan jaringan layanan Data berkualitas di berbagai daerah. Untuk wilayah Provinsi Jambi, kini sudah 8 kota/kabupaten yang telah terjangkau layanan 4G LTE. Total saat ini telah beroperasi sekitar sekitar 100 BTS 4G dan lebih dari 300 BTS 3G yang akan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga kualitas dan perluasan jangkauan.

Sementara itu, di Provinsi Sulawesi Tenggara, jaringan 4G LTE XL Axiata juga telah masuk ke 5 kota/kabupaten dan mampu mendorong kenaikan trafik layanan data secara signifikan di daerah tersebut.

“Saat ini layanan 4G LTE dari XL Axiata sudah masuk ke lebih dari 117 kota/kabupaten di semua provinsi di Sumatera, dengan target bisa masuk dan melayani masyarakat di 127 kota/kabupaten yang ada di sana, ” kata Yessie D. Yosetya, Direktur/Chief Service Management Officer XL Axiata.

Yosetya juga menambahkan bahwa “Perluasan yang dilakukan oleh XL ini cukup agresif, karena kami melihat saat inilah momentum yang paling tepat mengingat semakin meratanya permintaan atas layanan data yang berkualitas di berbagai daerah. Untuk area-area yang belum memungkinkan masuknya jaringan 4G LTE, kami pun meningkatkan jangkauan layanan 3G yang juga lebih berkualitas.”

Sejak Mei 2017 lalu, kota/kabupaten yang sudah terlayani jaringan 4G LTE XL adalah Kota Jambi, Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Merangin, Kabupaten Muarojambi, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan Kota Sungai Penuh. Dengan hadirnya layanan 4G LTE ini, XL Axiata berharap warga masyarakat di Jambi secara umum dan terutama para pelanggan, akan bisa memanfaatkan akses ke jaringan internet cepat dan layanan data berkualitas secara maksimal, terutama untuk tujuan-tujuan yang produktif. Jumlah BTS 4G terbanyak ada di Kota Jambi sebagai ibukota provinsi dan pusat perekonomian, yaitu sekitar 50 unit.

Pada sisi pelanggan, saat ini ada sekitar 1,3 juta total pelanggan XL Axiata di Provinsi Jambi, dengan 33% diantaranya telah secara aktif menggunakan layanan data, baik 4G maupun 3G. Sejak layanan 4G LTE masuk ke 8 kota/kabupaten tersebut, dalam 3 bulan terakhir terlihat peningkatan trafik layanan data sebesar 86%.

Diprediksi trafik layanan data di wilayah inibakan terus meningkat seiring dengan semakin banyak pelanggan yang beralih menggunakan smartphone 4G. Dari sisi pengguna, saat ini jumlah pelanggan yang sudah menggunakan smartphone 4G mencapai 32% dari total pelanggan Jambi.

4G LTE XL dia Sulawesi Tenggara

Perkembangan yang menggembirakan juga terjadi di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Tercatat kenaikan trafik data mencapai 134% dalam kurun waktu setahun terakhir, termasuk 3 bulan sejak layanan 4G LTE masuk Sultra. Layanan 4G LTE XL Axiata ini telah hadir di Kota Kendari, Kota Bau-Bau, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Muna. Total pelanggan XL Axiata di Sultra lebih dari 379 ribu, sekitar 100 ribu pelanggan di antaranya telah aktif memanfaatkan layanan 4G LTE.

Untuk memperkuat layanan 4G LTE ini, XL Axiata terus membangun infrastruktur di Sultra. Jumlah BTS 4G pun terus bertambah, kini mencapai 40 unit di kelima kota/kabupaten yang sudah terjangkau tersebut. Jumlah BTS 4G terbanyak ada di Kota Kendari yang merupakan Ibukota provinsi dan pusat perekonomian.

Penambahan BTS 4G ini masih akan terus berlanjut sesuai dengan peningkatan kebutuhan pelanggan. Sementara itu, perluasan ke kota/kabupaten lainnya di Sultra juga terus diupayakan. Untuk kota/kabupaten lainnya yang belum terjangkau 4G LTE, pelanggan bisa memanfaatkan layanan 3G dengan kualitas yang telah ditingkatkan. Total ada sekitar 300 unit BTS 3G di seluruh kota/kabupaten di Sultra.

Secara umum, di seluruh wilayah Sulawesi permintaan layanan Data pada pelanggan telekomunikasi juga cukup tinggi. Di Semester 1 2017, dari total pelanggan XL Axiata di seluruh Sulawesi sekitar 2,7 juta, tingkat penetrasi smartphone data (3G dan 4G) mencapai 68%. Khusus untuk pengguna smartphone 4G, jumlahnya lebih dari 1 juta pelanggan. Sementara itu, trafik layanan data di seluruh Sulawesi meningkat hingga 269% dalam setahun terakhir, dan untuk trafik 4G LTE bahkan sampai 509%.

Pertumbuhan trafik layanan Data di seluruh Sulawesi tersebut mendorong XL Axiata untuk terus membangun infrastruktur layanan data, termasuk 4G LTE, di berbagai provinsi. Layanan 4G LTE sudah masuk dan melayani masyarakat di 37 kota/kabupaten lain di semua provinsi di Sulawesi. Kota-kota tersebut antara lain Makassar, Manado, Palu, Parepare, Gorontalo, dan Kotamobagu.

Kini, total BTS 4G di seluruh Sulawesi yang sudah beroperasi ada sekitar 500 unit, dan akan terus ditambah hingga mencapai lebih dari 560 unit sampai akhir tahun 2017. Sementara itu, untuk layanan 3G, sudah menjangkau semua provinsi dan sebagian besar kota/kabupaten di seluruh Sulawesi, dengan jumlah total BTS 3G mencapai lebih dari 1.700 unit, dan ditargetkan lebih dari 1.900 unit hingga akhir tahun.

Secara nasional, hingga akhir Agustus 2017, sudah ada 338 kota/kabupaten yang terjangkau layanan internet cepat 4G LTE, termasuk di antaranya ratusan kota/kabupaten di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah pelanggan layanan Data secara umum juga terus meningkat, saat ini mencapai sekitar 70% dari total pelanggan. Hingga akhir Juni 2017, jumlah pelanggan yang menggunakan smartphone juga terus meningkat dan menjadi sekitar 67% dari total pelanggan.

Sementara itu, pelanggan layanan XL 4G LTE juga terus tumbuh dan telah mencapai sekitar 20 juta dari total pelanggan. Layanan XL Axiata saat ini didukung oleh total lebih dari 93 ribu BTS, termasuk lebih dari 42 ribu BTS 3G dan lebih dari 14 ribu BTS 4G. ( Icha)

Service Recovery Satelit Telkom 1 Diharapkan Tuntas 10 September

0

Telko.id – Kerusakan Satelit Telkom 1 sejak 29 Agustus lalu memang sangat mengganggu. Terutama bagi nasabah bank yang akan mengambil uang nya di ATM. Pasalnya, hampir 15 ribu ATM di seluruh Indonesia terganggu akibat kerusakan satelit milik Telkom ini. Saat ini, Telkom sudah mencapai tingkat pemulihan yang signifikan yaitu 66 % titik yang terpulihkan sehingga layanan ATM bisa berjalan kembali.

Progress service recovery Satelit Telkom-1 pada posisi tanggal 5 September 2017. Satelit Telkom-1 yang melayani 63 pelanggan, 8 diantaranya adalah operator VSAT dengan total pemanfaatan kapasitas transponder sebesar 29,25 TPE dialihkan ke transponder pengganti sejak 28 Agustus dan sudah terealisasinya 100% pada tanggal 30 Agustus.

Sedangkan untuk progress repointing ground segment, dari total site yang terdampak sebanyak 15.019 dengan rincian 11.547 ATM dan 3.445 Non ATM. Sudah normal sebanyak 10.654 site (71%) yang terdiri dari 7.658 ATM (66 % dari total ATM) dan Non ATM sebanyak 2.996 atau 87 %. Sebanyak 1.013 site dari 10.654 site yang sudah normal disolusikan dengan menggunakan Fiber Optic 337 sites dan machine to machine sebanhyak 676 sites.

Rencananya, untuk Penyelesaian Service Recovery Satelit Telkom 1 dari total site yang masih in progress sebanyak 4.521 terdiri dari 3.916 ATM dan 605 Non ATM. Rata-rata  progress recovery perhari 1.166 site, maka penyelesaian sisa 4.521 site akan dapat diselesaikan tanggal 10 September 2017.

Saat ini, Menteri Komunikasi dan informatika Republik lndonesia, Rudiantara mengatakan pihaknya tengah menunggu informasi terkait penyebab rusaknya satelit Telkom 1. Hal itu dibutuhkan untuk kelengkapan administrasi permintaan suspend slot 108 BT ke ke International Telecommunication Union (ITU).

“Sudah kirim surat ke ITU tentunya akan ditindaklanjuti dengan proses administrasinya. Kami tunggu juga dari Telkom mengenai penyebab dan lain sebagainya,” kata Rudiantara beberapa waktu lalu, di Gedung Graha Merah Putih, Jakarta.

Rudiantara menjamin pihaknya bisa mengamankan slot 108 BT hingga pengganti Telkom 1 diluncurkan Agustus 2018. “Karena kita juga Telkom sudah di secure kontraknya sejak 2016. Bagi ITU untuk tidak memberikan slot yang kosong kepada orang lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkom, Alex J Sinaga mengatakan pihaknya bersama Lockheed Martin selaku pabrikan Satelit Telkom 1 masih mendalami penyebab kerusakan.

Sebenarnya, masa kerja Telkom-1 ini 15 tahun dan berakhir tahun 2015 lalu. Namun, berdasarkan hasil pengamatan Telkom dan perusahaan dirgantara Lockheed Martin yang membuat satelit tersebut, menilai bahwa Telkom-1 masih bisa berfungsi baik hingga tiga tahun lagi. Tapi tandap diduga, Telkom-1 keburu rusak.

Itu sebabnya, pengganti Satelit Telkom-1 yakni Telkom-4 yang rencananya akan diluncurkan pada Agustus 2018. Telkom-4 ini menggantikan satelit Telkom 1 di slot orbit 108 BT dengan jumlah kapasitas Telkom 4 lebih besar dari kapasitas satelit Telkom 1 sebagai upaya memenuhi kebutuhan transponder yang kian meningkat.

“Satelit Telkom 4 ini memiliki kapasitas yang sangat besar, sampai 60 transponder. Sementara satelit Telkom 1 hanya 36 transponder. Selain itu, jangkauannya juga sangat luas sampai ke India,” kata Alex J Sinaga, Direktur Utama Telkom di gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu.

Namun, tanpa diduga, Telkom-1 telah lebih dahulu mengalami kerusakan sebelum penggantinya diluncurkan. Artinya, ada kekosongan slot di orbit 108 BT selama satu tahun sampai Satelit Telkom 4 diluncurkan.

“Kira-kira setahun Slot itu akan kosong maka ada terminologinya di industri per satelit sesuai rekomendasi itu yang disebut itu di suspend. Kita harus mengirim surat nanti saya akan kirim surat ke kominfo nanti kominfo atas nama negara Republik Indonesia sebagai anggota PBB kirim surat ke International Telecommunication Union (ITU),” kata Alex menambahkan. (Icha)

Huawei Kini Punya Layanan Cloud Enterprise Intelligence

0

Telko.id – Untuk mendukung digitalisasi perusahaan maupun pemerintahan, cloud tidak dapat berdiri sendiri. Salah satunya adalah perlu dukungan dari Artificial Inteligence. Dengan demikian analisis dari layanan hingga solusi kelanjutannya dapat dilakukan demi perbaikian secara berkesinambungan. Itu sebabnya, Huawei meluncurkan Cloud Enterprise Intelligence.

“Cloud Enterprise Intelligence akan dihadirkan dengan platform untuk solusi umum dan skenario khusus. Kombinasi Huawei Cloud dan EI memungkinkan Huawei Cloud untuk lebih cerdas dan dapat membantu untuk menciptakan nilai industri yang lebih besar dengan kemajuan teknologi,” kata Zheng Yelai, President of Cloud Business Unit Huawei dalam acara Huawei Connect 2017 di Shanghai yang bertajuk “Grow with the Cloud”.

Yelai juga menambahkan bahwa “Tim kami memiliki pemahaman yang mendalam tentang skenario bisnis para pelanggan, baik karyawan yang fokus di bidang R&D, pemasaran, ataupun penjualan. Dan, Kami selalu mengutamakan kebutuhan pelanggan dan disaat yang sama juga terus berinovasi. Itu sebabnya, Kami telah mengembangkan Huawei Cloud untuk membantu perusahaan-perusaahan agar lebih mudah untuk melakukan digitalisasi, dan memastikan keberhasilan perusahaan-perusahaan yang memiliki keinginan untuk berinovasi.”

Platform ini mencakup tiga tipe layanan cloud pintar dan platform komputasi yang beragam, yang dirangkum menjadi fitur-fitur berikut:

  • Layanan platform dasar: mencakup pembelajaran mesin, pembelajaran mendalam, dan platform analisis grafik, serta pelatihan AI, pemahaman, dan pengindeksan platform.
  • Layanan AI umum: mencakup layanan-layanan API (Application Programming Interface) seperti pengenalan visual API, pengenalan suara API, dan pengenalan bahasa yang natural untuk API.
  • Solusi untuk skenario khusus: Huawei bekerja sama dengan para mitra dalam menciptakan solusi untuk AI, komputasi awan, dan skenario IoT (Internet of Things) untuk memenuhi kebutuhan industri.
  • Platform komputasi yang beragam: Huawei memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam bidang rekayasa sistem, chipset, perangkat keras, dan perangkat lunak pokok, serta dapat menawarkan tiga tipe layanan cloud pintar, mengungkap kehebatan algoritma dengan kekuatan komputer yang luar biasa.

Public cloud dan private cloud milik Huawei memiliki arsitektur terpadu, mendukung evolusi yang mulus, serta memberikan pengalaman yang konsisten. Perusahaan-perusahaan dapat dengan efisien dan bebas menyebarkan layanan nya pada platform public cloud atau private cloud, yang siap mendukung migrasi serta perluasan layanan. Untuk mencegah vendor lock-in, Huawei menawarkan solusi hybrid cloud yang memungkinkan integrasi dengan platform public cloud milik pihak ketiga, termasuk yang berasal dari Amazon dan Microsoft.

Huawei pun membuka diri untuk bekerja sama dengan para mitra sehingga dapat menciptakan jaringan cloud yang memiliki cakupan global, memberikan solusi lengkap yang membantu perusahaan-perusahaan yang berbasis di Tiongkok untuk memasuki kancah persaingan global, serta membantu perusahaan-perusaan diluar Tiongkok untuk memasuki pasar Tiongkok.

Sebagai informasi tambahan, saat ini, Huawei sudah melakukan kerjasama dengan mitranya untuk melakukan 12 studi kasus. Seperti dengan perusahaan otomotif  (termasuk Volkswagen dan Mercedes-Benz), Philips, the Commercial, dan Industrial Bank of China (ICBC), serta beberapa platform layanan pemerintah yang telah memilih untuk menggunakan Huawei Cloud dan layanan cloud dari mitra Huawei. (Icha)

 

Data Center XL Sudah Dapat Sertifikasi Internasional

0

Telko.id – Bisnis data center dengan akan direvisinya Peraturan Pemerintah no.82 tahun 2012 memiliki peluang yang sangat besar. Terlebih, jika bisnis Internet of Things mulai marak. Itu sebabnya, perusahaan yang memiliki bisnis data center juga giat meningkatkan mutu nya agar dipilih oleh para perusahan yang membutuhkan.

Salah satunya adalah XL Axiata. Dalam pengembangan bisnis Data Center, operator ini sangat memperhatikan aspek keamanan untuk setiap pelanggannya. Menjadi tantangan tersendiri bagi XL Axiata untuk mampu menyediakan layanan Data Center dengan standar International.

Hal itu yang membuat XL Axiata ‘nafsu’ untuk memperoleh sertifikasi internasional. Dan akhirnya, sertifikasi internasional “Uptime Tier III Design” dari lembaga sertifikasi terpercaya Uptime Institute, dari Inggris untuk Data Center Bintaro bisa didapat.

“Data Center Bintaro merupakan salah satu yang terbesar yang kami miliki dan melayani sejumlah perusahaan besar sebagai pusat penyimpanan Data. Kami harus memastikan selalu aspek keamanan di semua Data Center yang kami miliki. Sertifikasi ‘Uptime Tier III Design’ menjadi pengakuan sekaligus jaminan kualitas layanan berstandar internasional yang kami sediakan di Data Center Bintaro. Prestasi ini akan mendorong kami untuk meningkatkan kualitas layanan di Data Center lainnya,” kata Aun Abdul Wadud, Head of Product Solution Management XL Axiata.

Dengan diperolehnya Sertifikat “Uptime Tier III Design” ini memastikan bahwa Data Center Bintaro memiliki fasilitas lebih dari 1 sumber daya listrik dan jaringan (multi network link) dengan tingkat uptime hingga 99.982%.
“Dengan begitu, syarat “No Shut Down” untuk Data Center Tier III bisa terpenuhi oleh Data Center Bintaro ini. Sertifikat yang sama sebelumnya telah diraih oleh Data Center Surabaya,” kata Adrien Kehlstadt, Business Line Manager TEC IAP DKSH Indonesia selaku Konsultan untuk Uptime.

Sertifikat “Uptime Tier III Design” ini sekaligus melengkapi sejumlah sertifikat penting lainnya yang telah disematkan pada Data Center milik XL Axiata. Di antaranya adalah PCIDSS (Payment Card Industry Data Security Standard) ISO/IEC 27001:2013 untuk Information Security Management, ISO/IEC 20000-1:2011 untuk Information Technology Services Management, serta ISO/IEC 9001: 2008 untuk Quality Management System.
Semua sertifikat tersebut menunjukkan keseriusan XL Axiata dalam penyediaan kualitas layanan Data Center bagi setiap pelanggannya di masing-masing area yang digunakan.

Sebagai informasi, XL Axiata saat ini memiliki 5 Data Center yang berlokasi di Bintaro-Tangerang, Surabaya, Pekanbaru, Cibitung, dan Bandung. 3 Data Center yakni Bintaro-tangerang, Surabaya dan Pekanbaru merupakan Data Center yang memberikan Layanan publik antara lain Colocation, Komputasi Awan (Cloud) dan DRC (Disaster Recovery Center).

Tidak kurang dari 50 perusahaan mempercayakan penyimpanan Data miliknya di Data Center XL Axiata. Mereka antara lain bergerak dalam Industri Perbankan, Financial, E-Commerce, dan Jasa Jaringan Telekomunikasi. (Icha)

Mantap, Akibat TKDN Import Smartphone Pun Turun 36%

0

Telko.id – Dengan adanya aturan TKDN atau Tingkat Kandungan Dalam Negeri, terbukti mampu meningkatkan investasi di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja lebih banyak. Seperti yang tercatat oleh Ditjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di mana, investasi industri manufaktur perangkat seluler di Indonesia mencapai Rp7 Triliun dan menyerap lebih sekira 13 ribu tenaga kerja.

“Sekitar 43 merek perangkat telepon seluler sudah dibuat di Indonesia dengan total investasi manufaktur kurang lebih 7 triliun rupiah dan penyerapan tenaga kerja sebesar 13.000 pekerja,” kata Mochammad Hadiyana, Plt. Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika Ditjen SDPPI yang dilansir dari berita Kementerian Komunikasi dan Informatika. Informasi tersebut diperoleh dari pendataan terhadap sertifikasi perangkat seluler.

Lebih lanjut, Hadiyana menyatakan jumlah itu berasal dari 18 industri Handphone Komputer Genggam dan Tablet (HKT) yang beroperasi di Indonesia. “Saat ini sudah tumbuh 18 perusahaan yang berfungsi sebagai electronic manufacturing system untuk merakit perangkat telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet,” tambahnya.

Kondisi tersebut juga memperngaruhi produk diimpor dari luar negeri. “Dalam akhir tahun 2016, produk impor menurun sebesar lebih kurang 36% dari tahun 2015, menjadi lebih kurang 18,5 juta unit dengan nilai lebih kurang USD 775 juta untuk 50 merek lokal dan internasional,” paparnya.

Hal yang menarik, dengan adanya penurunan impor HKT ternyata membawa kontribusi pada peningkatan produksi di dalam negeri. “Meningkat sebesar 36% dari tahun 2015, menjadi lebih kurang 68 juta unit untuk 42 merek lokal dan global,” jelasnya.

Mengenai kebijakan ketentuan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), Direktur Standardisasi menyatakan sudah banyak produsen yang mematuhi aturan tersebut. “Saat ini berdasarkan Data Sertifikasi per tahun 2017 sudah ada setidaknya 13 merek perangkat telekomunikasi yang sudah memiliki TKDN diatas 30%,” tuturnya.

Kondisi itu pun memiliki kontribusi terhadap penurunan impor untuk hampir semua perangkat genggam atau mobile. “Dengan diberlakukannya ketentuan TKDN maka nilai impor telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet turun dengan nilai USD 2,8 juta dari tahun 2014 ke tahun 2016,” pungkasnya. (Icha)

Trend Ke depan Pelanggan Paskabayar Indonesia Akan Tumbuh Pesat

0

Telko.id – Bagi operator, memiliki pelanggan paskabayar memang menyenangkan. Pasalnya, dari sisi ARPU atau average rate per usage lebih tinggi ketimbang prabayar. Lalu, loyalitasnya juga lebih tinggi.

“Pelanggan paskabayar itu lebih loyal. Terbukti, rasio churn atau berganti nomor ke operator lain hanya di bawah 2 persen, sementara yang prabayar rasionya sekitar 15 persen hingga 20 persen. ARPU untuk pascabayar juga lebih besar, sampai Rp 200.000-an. Sementara yang pra bayar hanya sekitar Rp 36.000-an,” ucap Dian, Presdir/CEO XL Axiata menjelaskan.

Di sisi lain, dengan adanya trend penggunaan data yang semakin tinggi, masyarakat pun banyak yang tidak mau ‘ribet’ dengan harus mengisi pulsa, memperhatikan masa tenggang kartu dan kuota. Akibat dari trend tersebut memberikan dampak yang positif pada operator, di mana banyak juga masyarakat yang asalnya pengguna prabayar pindah ke paskabayar karena tidak perlu mengingat masa tenggang kartu maupun kuota.

Fenomena ini terlihat pada XL. Di mana, terjadi peningkatan jumlah pelanggan paskabayar cukup signifikan. Pada akhir tahun lalu, pelanggan paskabayar XL 400 ribu saja. Ketika lebih fokus menggarap pelanggan paskabayar, ternyata direspon dengan baik oleh masyarakat hingga terjadi kenaikan sampai 600 ribuan pelanggan.

“Pada sister company XL di Malaysia, yang paling tumbuh itu justru pelanggan pascabayar. Saya rasa Indonesia juga bakal ke arah sana. Target XL sampai akhir 2017, Mudah-mudahan bisa sampai 800 ribu pelanggan,” jelas Dian menambahkan.

Sekadar informasi, hingga akhir Juni 2017 lalu, pelanggan XL Axiata mencapai 50,5 juta pelanggan, sebanyak 582.000 di antaranya adalah pelanggan layanan pascabayar.

Untuk menjaga agar pelanggan tetap loyal, XL pun memberikan apresiasi berupa hadiah utama untuk para pelanggan setia yang memenangi Program Xtravaganza & FantAXIS periode 7 Mei – 4 Agustus 2017. 
 
Jumlah pelanggan yang mengikuti program Xtravaganza dan FantAXIS periode ini tidak kurang dari 12,7 juta peserta. Hadiah bagi para pemenang dilakukan dengan pengundian setiap pekan di hadapan petugas dari Kementrian Sosial, Dinas Sosial, dan Kepolisian.

Pengundian dilakukan dengan sistem komputer yang terhubung dengan database pemenang. XL Axiata telah melakukan pengundian sebanyak 13 kali dengan total 90 orang pemenang, yang terdiri dari pemenang mingguan babak gratis dan 13 pemenang mingguan babak eksklusif. Selain itu juga telah didapatkan 4 pemenang Grand Prize dan pemenang M-Learning diakhir periode.
 
Hadiah bagi pemenang pada Xtravaganza & FantAXIS periode kedua ini berupa masing-masing 90 keping emas 5 gram untuk hadiah mingguan babak awal, 13 keping emas 20 gram untuk hadiah mingguan babak eksklusif. Hadiah Utama untuk babak awal berupa uang tunai Rp 60 juta dan emas 100gram. Hadiah Utama babak eksklusif uang tunai Rp 300 juta dan emas 500gram.

Sementara itu untuk babak M-Learning akan mendapatkan emas 10gram, uang 10 juta, HP Samsung c9 dan motor Yamaha Mio M3, dengan ketentuan 1 kategori hadiah untuk 1 pemenang.

Untuk kategori Babak Premium, pelanggan dari Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, berhasil meraih hadiah berupa 500 gram emas. Pelanggan dari Tangerang Selatan, Banten, meraih hadiah uang tunai Rp 300 juta. Sementara itu untuk Babak Gratis, pelanggan dari Brebes, Jawa Tengah, memenangi  100 gram emas, dan pelanggan dari Cilandak, Jakarta Selatan, memenangi uang tunai Rp 60 juta. Hadiah diserahkan oleh Presiden Direktur/CEO XL Axiata, Dian Siswarini dan anggota Direksi XL Axiata lainnya di Jakarta, 4 September 2017.
 
Saat ini, kuiz Xtravaganza & FantAXIS Sesi ke-3 sedang berlangsung mulai 5 Agustus 2017 lalu dan akan berakhir pada 2 November 2017. (Icha)

Duh, Malware Spionase Gazer Serang Kedubes dan Konsulat di Seluruh Dunia

0

Telko.id – Untuk kesekian kalinya keamanan dunia diuji oleh aktivitas ilegal berbahaya yang bergerak dari bawah tanah tanpa sepengetahuan siapa pun. Kita pernah merasakan bagaimana WannaCry, PetyaLike dan malware Joao menggebrak tanpa suara dan membuat dampak yang besar di seluruh dunia dan menyebabkan kerusakan yang parah.

Kerusakan itu kini semakin mengakumulasi setelah para peneliti ESET berhasil melacak aktivitas kelompok siber spionase Turla yang menyusupkan backdoor yang sebelumnya tidak terdokumentasi yang telah digunakan untuk memata-matai konsulat dan kedutaan besar di seluruh dunia.

Tim peneliti ESET adalah yang pertama di dunia mendokumentasikan malware backdoor lanjutan milik Turla yang mereka beri nama “Gazer”. Malware ini sejak tahun 2016 telah beraksi dengan agresif dalam serangan ditargetkan terhadap pemerintah dan diplomat dunia.

Keberhasilan gerilya Gazer dikarenakan metode canggih yang mereka gunakan untuk memata-matai target yang dituju, kemampuannya untuk dapat bertahan hidup dalam perangkat yang terinfeksi dan menyembunyikan diri dari pandangan pengguna komputer yang menjadi korban, semua adalah upaya untuk mencuri informasi dalam jangka waktu yang lama.

Peneliti ESET telah menemukan bahwa Gazer telah berhasil menginfeksi sejumlah komputer di seluruh dunia, dengan korban terbanyak berada di Eropa. Anehnya, pemeriksaan ESET terhadap berbagai operasi spionase berbeda yang menggunakan Gazer telah mengidentifikasi bahwa target utama tampaknya adalah Eropa Tenggara dan negara-negara bekas Uni Soviet.

Semua serangan yang dilakukan Turla menggunakan Gazer menggambarkan bagaimana kekuatan malware backdoor yang dikembangkannya sejak dulu.

Ada empat ciri khas kelompok siber spionase Turla dalam aksinya. Pertama yang diincar adalah Kedutaan dan kementerian. Kedua, Spearphishing yang menghadirkan backdoor tahap pertama seperti Skipper. Lalu, ketiga adalah backdoor canggih punya kemampuan bersembunyi, seperti backdoor yang dibuat Turla sebelumnya yaitu Carbon dan Kazuar. Cara ini juga yang digunakan oleh Gazer. Keempat adalah backdoor tahap kedua yang menerima instruksi enkripsi dari server C&C menggunakan website yang dikuasai dan legitimate sebagai proxy-nya.

Kesamaan lain yang menonjol antara Gazer dan kreasi masa lalu dari grup cyberespionage Turla menjadi jelas saat malware dianalisis. Gazer berupaya ekstra untuk menghindari deteksi dengan mengubah strings di dalam kodenya, mengacak marker, dan menghapus file dengan aman.

Malware backdoor Gazer yang ditemukan oleh tim peneliti ESET, menjadi bukti yang  jelas terlihat bahwa seseorang telah memodifikasi sebagian besar strings-nya, dan memasukkan frasa yang terkait dengan permainan video di seluruh kodenya.

Menanggapi luasnya serangan dan target yang disasar, Technical Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh mengatakan “Seperti sudah diperkirakan, semakin banyak targeted attack , yaitu malware dengan tujuan yang spesifik. Malware ini jelas menjadi alat mata-mata oleh kelompok Turla yang bisa jadi disewa oleh aktor-aktor intelektual tertentu yang ingin mencuri dan mencari tahu rahasia negara-negara di dunia”.

“Semua organisasi, baik pemerintah, diplomatik, penegak hukum, atau bahkan bisnis tidak boleh menganggap enteng kasus ini, karena dari hasil penelitian ESET, meskipun fokus serangan ditujukan pada negara di Eropa Tenggara dan bekas Uni Soviet, namun malware juga sudah disebar ke seluruh dunia dan menyusup ke setiap kedutaan besar dan konsulat. Karena itu, setiap stakeholder harus menanggapi ini dengan serius dan menerapkan pertahanan berlapis untuk mengurangi kemungkinan pelanggaran keamanan.” tambah Yudhi lagi. (Icha)

 

 

CEO XL : Perlu Ada Aturan Frekuensi Sebelum Konsolidasi

0

Telko.id – Investasi yang dilakukan oleh operator dianggap sudah over lapping sehingga menjadi tidak efisien secara industri. Pasalnya, pada satu daerah bisa dua atau tiga operator melakukan investasi yang sama. Tentu hal ini menjadi pemborosan. Hal tersebut disampaikan oleh CEO XL Axiata, Dian Siswarini usai Perayaan Hari Pelanggan dan Pengumuman Pemenang Extravaganza dan Fantaxis di Jakarta (4/9).

“Langkah konsolidasi operator menjadi 3 atau 4 saja akan menyehatkan industri telko di Indonesia. Tapi sebelum itu perlu adanya aturan mengenai frekuensi,” kata Dian.

Yang dimaksud dengan pengaturan tarif itu, salah satunya adalah apakah frekuensi akan tetap menjadi milik dari operator yang melakukan langkah konsolidasi atau tidak? Pasalnya, frekuensi ini adalah aset yang sangat besar nilainya. Jika ditiadakan, maka hitungan dalam negosiasi juga akan berbeda total.

“Bisa jadi, aturan frekuensi yang belum jelas ini menjadi hambatan bagi para operator untuk melakukan konsolidasi. Ada ketakutan, ketika sudah mengeluarkan uang banyak ternyata frekuensi tidak masuk dalam perjanjian karena harus dikembalikan ke pemerintah,” kata Dian menambahkan.
Tapi XL sendiri menampik bahwa sedang melakukan negosiasi dalam rangka konsolidasi. “Kami kan baru saja mengambil Axis. Jadi sampai sekarang belum ada rencana untuk konsolidasi,” ujar Dian.

Wacana konsolidasi ini sebenarnya sudah berulang kali dilontarkan oleh Menkominfo, Rudiantara. Bahkan, pada suatu kesempatan, menyampaikan akan mencabut izin operasional operator telekomunikasi yang tak mau berkonsolidasi.

Nantinya, peraturan konsolidasi itu bakal berkekuatan hukum tetap. Sampai, pemerintah berniat membuat peraturan yang lebih rinci mengenai mekanisme pencabutan izin operasional dan operator seperti apa yang bisa dicabut izinnya.

Aturan yang dibuat pemerintah tersebut nantinya tidak hanya berlaku bagi operator seluler, tetapi juga operator BWA (Broadband Wireless Access). Dulu memang ijin layanan diberikan dengan mengaitkan dengan frekuensi. Kedepannya frekuensi sudah teknologi netral sehingga tidak perlu lagi mengaitkan dengan ijin layanan.

Rencananya, peraturan tentang konsolidasi ini dapat rampung tahun ini juga.

Di Indonesia saat ini, ada enam operator seluler dan enam operator BWA yang sebenarnya mungkin berkonsolidasi satu sama lain. (Icha)

 

Gunakan SWAPPS, Pulsa Axis pun Jadi Hemat 40%

0

Telko.id – Pulsa memang seperti sudah menjadi kebutuhan pokok. Terutama bagi masyarakat yang tidak bisa lepas dari smartphone. Di sisi lain, masyarakat juga ingin tetap memanfaatkan gadgetnya tetapi secara hemat. XL Axiata melihat fenomen ini dan meluncurkan aplikasi SWAPPS bagi pelanggan Axis nya untuk dapat berhemat pulsa bulanan.

“AXIS selalu mencari cara baru yang inovatif untuk mampu membangun loyalitas pelanggan dengan memberikan berbagai penawaran terbaik. Kami percaya bahwa pelanggan tidak akan mengabaikan kesempatan untuk dapat berhemat dan menabung lebih banyak melalui smartphone yang dimiliki, ditukar dengan mendapatkan informasi terpilih”, kata David Arcelus dari Chief Marketing Officer XL Axiata.

Aplikasi SWAPPS yang merupakan hasil kerjasama antara XL Axiata dan UnlockD sangat mudah digunakan. Pelanggan cukup melihat iklan, berita maupun penawaran menarik lainnya yang muncul melalui layar smartphone yang dimilikinya. Dengan hanya melakukan hal itu, mereka akan mendapatkan reward yang nantinya dapat ditukarkan dengan sejumlah pulsa dengan besaran tertentu. Aplikasi SWAPPS bisa didapatkan melalui Google Play Store. Penjelasan lebih lanjut mengenai aplikasi ini bisa didapatkan melalui www.axisnet.id.

“SWAPPS ini merupakan cara yang cerdas untuk menggunakan smartphone, dan  pertumbuhan yang kami raih di pasar lain telah membuktikan hal itu. Kami memahami segmen anak muda ini sangat bergantung dengan apa yang bisa dihadirkan oleh smartphone yang mereka miliki. Jadi kami yakin bahwa SWAPPS akan mampu memberikan pengalaman baru kepada mereka dalam memanfatkan perangkat yang dimilikinya,” kata Aliza Knox, COO UnlockD.

UnlockD merupakan perusahaan terkemuka dalam pembangunan platform advertising dan konten, yang berbasis di Singapura. Menurut Aliza, layanan berbasis win-win model yang mereka ciptakan telah berhasil memberikan manfaat bagi pelanggan perusahaan-perusahaan telko yang menggunakan aplikasinya. Karena itu, dia berharap kerjasama AXIS dengan unlockD ini dapat menghadirkan SWAPPS sebagai aplikasi yang memberikan manfaat lebih banyak kepada pelanggan atas layanan AXIS.

Peluncuran aplikasi SWAAPS ini juga diikuti dengan investasi dari Axiata Digital Group Malaysia pada Unlockd, untuk mendorong Unlockd Series B mampu lebih berkembang. Dengan demikian perusahaan ini mampu berekspansi di pasar yang lebih luas di Asia. Bagaimana pun juga Asia Pasific merupakan area kunci pertumbuhan bagi UnlockD.

Berdasarkan data dari GSMA, diperkirakan terdapat lebih dari 2,5 miliar pengguna di Asia Pasific, dengan perkiraan 3.1 miliar pada tahun 2020. Menurut eMarketer (April 2017), pertumbuhan terkuat industry digital akan mengambil tempat di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Cina, India, dan Vietnam, yang secara total akan mendorong tingkat penetrasi smartphone ke hampir sepertiga populasi di Asia Pasifik. (Icha)