spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1423

Smartfren Gelar Turnamen Mobile Legend Untuk Amatir

0

Telko.id – Smartfren bekerja sama dengan perusahaan pengembang games “Mobile Legend” Moonton dan Yamisok tech Indonesia menyelenggarakan Smartfren National Mobile Legend daily tournament 2018.

Berbeda dengan event kompetisi game pada umumnya, Smartfren National Mobile Legend daily tournament 2018 diselenggarakan khusus bagi para gamer amatir. Chief Brand Officer Smartfren, Roberto Saputra mengatakan, hal ini dilakukan agar para gamers yang masih dalam kategori pemula dan menengah dapat bersaing satu sama lain yang masih setara kemampuannya.

Selain itu, para pemain juga nantunya dapat mengukur kemampuan, sehingga mereka dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dan mampu mengembangkan diri dan juga timnya jika masih kalah bersaing.

“Kami juga memiliki pandangan, bahwa yang paling dibutuhkan gamer untuk mengembangkan dirinya, selain berkompetisi dengan kemampuan seimbang, mereka perlu untuk merasakan kehandalan dan stabilnya jaringan Smartfren,” ujara Roberto.

Untuk mendukung dan memberikan pengalaman bermain game yang berbeda, Smartfren menghadirkan paket data “Super 4G Kuota” dimana para gamers dapat menikmati bermain game sepuasnya selama satu bulan penuh, tanpa khawatir kehabisan kuotanya.

Super 4G Kuota Smartfren, dihadirkan seharga Rp 65.000,-. Selain itu pulsa Smartfren juga dapat digunakan untuk melakukan pembelian (in-app purchase) untuk karakter diamond dan skin  yang tersedia di game Mobil Legend. Pembelian juga dapat dilakukan via portal Smart Voucher di bit.ly/SVocher.

Mekanisme turnamen game ini akan menggunakan konsep poin & leaderboard. Setiap harinya tim yang akan bertanding akan mendapatkan poin. 64 tim dengan poin tertinggi di leaderboard akan bertanding di final bulanan. Dan 60 tim yang memiliki poin tertinggi di leaderboard selama 3 bulan pelaksanaan acara akan bertanding di grand final. (Icha)

Ini Dia Payung Hukum Pengembangan Fintech Yang Dikeluarkan OJK

0

Telko.id – Medio September lalu, Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan Peraturan OJK No. 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan sebagai ketentuan yang memayungi pengawasan dan pengaturan industri financial technology (fintech).

“Peraturan ini dikeluarkan OJK mengingat cepatnya kemajuan teknologi di industri keuangan digital yang  tidak dapat diabaikan dan perlu dikelola agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Inovasi keuangan digital perlu diarahkan agar menghasilkan inovasi keuangan digital yang bertanggung jawab, aman, mengedepankan perlindungan konsumen dan memiliki risiko yang terkelola dengan baik.

Peraturan ini juga dikeluarkan sebagai upaya mendukung pelayanan jasa keuangan yang inovatif, cepat, murah, mudah, dan luas serta untuk meningkatkan inklusi keuangan, investasi, pembiayaan serta layanan jasa keuangan lainnya.

Pokok-pokok pengaturan Inovasi Keuangan Digital (IKD) antara lain:

Mekanisme Pencatatan dan Pendaftaran Fintech

Setiap penyelenggara IKD baik perusahaan Startup maupun Lembaga Jasa Keuangan (LJK) akan melalui 3 tahap proses sebelum mengajukan permohonan perizinan:

  1. Pencatatan kepada OJK untuk perusahaan Startup/non-LJK. Permohonan pencatatan secara otomatis termasuk permohonan pengujian Regulatory Sandbox. Sedangkan untuk LJK, permohonan Sandbox diajukan kepada pengawas masing-masing bidang (Perbankan, Pasar Modal, IKNB).
  2. Proses Regulatory Sandboxberjangka waktu paling lama satu tahun dan dapat diperpanjang selama 6 bulan bila diperlukan.
  3. Pendaftaran/perizinan kepada OJK.

Mekanisme Pemantauan dan Pengawasan Fintech

OJK akan menetapkan Penyelenggara IKD yang wajib mengikuti proses Regulatory Sandbox. Hasil uji coba Regulatory Sandbox ditetapkan dengan status

  1. Direkomendasikan
  2. Perbaikan
  3. Tidak direkomendasikan.

Penyelenggara IKD yang sudah menjalani Regulatory Sandbox dan berstatus direkomendasikan dapat mengajukan permohonan pendaftaran kepada OJK. Untuk pelaksanaan pemantauan dan pengawasan, penyelenggara IKD diwajibkan untuk melakukan pengawasan secara mandiri dengan menyusun laporan self assessment yang sedikitnya memuat aspek tata kelola dan mitigasi risiko.

Penyelenggara IKD dilarang mencantumkan nama dan/atau logo OJK namun dapat mencantumkan nomor tanda tercatat/terdaftar.

Dalam jangka menengah, OJK dapat menunjuk pihak lain (Asosiasi Penyelenggara IKD yang diakui oleh OJK) yang bertugas dalam pengawasan IKD.

Pembentukan Ekosistem Fintech 

Untuk memelihara ekosistem keuangan, Lembaga Jasa Keuangan yang telah memperoleh izin atau terdaftar di OJK dilarang bekerja sama dengan Penyelenggara IKD yang belum tercatat di OJK atau terdaftar di otoritas lain yang berwenang guna memelihara ekosistem keuangan.

Membangun Budaya Inovasi 

OJK menginisiasi pembentukan Pusat Inovasi Keuangan Digital (Fintech Center) dan ekosistem IKD yang bertujuan sebagai sarana komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antara otoritas terkait dan pelaku IKD serta wadah Inovasi dan Pengembangan IKD.

Inklusi dan Literasi

Penyelenggara IKD wajib melaksanakan kegiatan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan kepada masyarakat.

Bisnis dan Perlindungan Data 

Penyelenggara IKD wajib menyediakan pusat pelayanan konsumen berbasis teknologi sebagai bentuk penerapan edukasi dan perlindungan konsumen beserta usahanya.

Manajemen Risiko yang Efektif

Penyelenggara IKD wajib menerapkan prinsip pemantauan secara mandiri, menginventarisasi risiko utama, menyusun laporan risk self assessment secara bulanan, dan memiliki perangkat yang dapat meningkatkan efisiensi dan kepatuhan atas proses pemantauan yang dilakukan oleh OJK.

Kolaborasi

Dengan dibentuknya Fintech Center maka dapat membantu berjalannya proses Regulatory Sandbox sebagai langkah inkubasi model bisnis yang inklusif dan memenuhi prinsip kehati-hatian serta meningkatkan sinergi antar industri, pemerintah, akademisi dan innovation hub lain.

Perlindungan Konsumen

Penyelenggara wajib menerapkan prinsip dasar perlindungan konsumen yaitu (a) transparansi, (b) perlakuan yang adil, (c) keandalan, (d) kerahasiaan dan keamanan data/informasi konsumen, dan (e) penanganan pengaduan serta penyelesaian sengketa konsumen secara sederhana, cepat, dan biaya terjangkau.

Transparansi

Penyelenggara IKD wajib menerapkan prinsip pengawasan berbasis disiplin pasar, risiko dan teknologi terhadap inovasinya antara lain harus memperhatikan transparansi produk dan layanan, pasar yang kompetitif dan inklusif, kesesuaian dengan kebutuhan konsumen, penanganan mekanisme keluhan yang segera, dan aspek keamanan dan kerahasiaan data konsumen dan transaksi.

Anti-Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

Penyelenggara IKD juga wajib menerapkan program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme di sektor jasa keuangan terhadap konsumen sesuai ketentuan Peraturan OJK di bidang AML-CFT (Anti Money Laundering and Counter-Financing of Terrorism).

Sebelumnya OJK telah mengeluarkan peraturan mengenai fintech peer to peer lending melalui POJK 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. (Icha)

 

 

 

Inti Dari Inovasi Digital Itu Kolaborasi

0

Telko.id – Digitalisasi sudah menjadi keharusan dalam semua bidang industri. Namun, semua nya tidak akan mulus, tidak tidak melakukan kolaborasi. Padahal, kolaborasi melalui inovasi digital adalah kunci perkuat ekonomi. Termasuk juga ekonomi Indonesia.

Kolaborasi ini terlebih harus dilakukan oleh UMKM yang notabene tidak memiliki dukungan financial yang kuat ketimbang perusahaan besar. Namun, jangan salah, UMKM ini juga lah yang menjadi garda depan perekonomian Indonesia dan sudah terbukti kemampuan nya dalam beberapa kondisi perekonomian Indonesia yang sulit beberapa waktu lalu.

UMKM ini juga yang menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan. Di mana, Indonesia diproyeksikan sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke 5 di dunia pada tahun 2045. Kondisi tersebut di dukung oleh adanya bonus bonus demografi, baik angkatan kerja maupun meningkatnya jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

UMKM yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 60 juta usaha. Dan, sebagai negara pengguna internet terbesar, ekonomi digital menjadi kunci untuk dapat mentransformasikan potensi tersebut menjadi faktor keunggulan bangsa.

Hal ini diungkapkan Deputi Komisioner OJK Institute Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sukarela Batunanggar dalam acara Sosialisasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan, yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Semarang (27/11).

Peraturan yang baru diterbitkan pada awal September 2018 ini diharapkan menjadi ketentuan industri financial technology (fintech), tanpa menghambat tumbuhnya inovasi-inovasi baru yang tumbuh dari industri tersebut.

Dalam paparannya, Sukarela menambahkan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengoptimalkan keberadaan teknologi tersebut melalui bisnis model inovatif dan kreatif.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama para pemangku kepentingan sektor keuangan dapat memberdayakan masyarakat, sehingga tercapai dua objektif. Pertama akses pembiayaan jadi lebih terjangkau bagi para UMKM, Kedua yaitu edukasi dari sisi kapasitas masyarakat. Dalam konteks ekonomi daerah, sinergi dan kolaborasi dari berbagai para pemangku kepentingan di berbagai daerah, sangat diperlukan.” tambah Sukarela.

Dia menjelaskan OJK pada kesempatan sosialisasi POJK 13/2018 ini tidak hanya melakukan sosialisasi peraturan tentang Inovasi Keuangan Digital, tetapi juga membawa pesan untuk memperkuat karakter ekonomi daerah melalui inovasi.

Di mana, POJK 13/2018 berfungsi sebagai payung hukum Inovasi Keuangan Digital secara menyeluruh yang antara lain mencakup insurtech, crowdfunding, serta penyelesaian transaksi dan pengelolaan investasi secara digital di masa mendatang‚ setiap subsektor inovasi keuangan akan memiliki POJK khusus untuk masing-masing subsektor (lex specialist) dan merujuk kepada payung hukum POJK 13/2018 ini.

“Inovasi keuangan digital ini perlu didukung sekaligus dipantau dan dikendalikan agar bisa bersinergi dengan lembaga keuangan yang telah ada serta memberikan perlindungan maksimal kepada konsumen,” ujarnya.

Dia menambahkan OJK juga mengarahkan agar inovasi keuangan digital diawasi dengan prinsip market conduct, yang pelaksanaannya bekerjasama dengan asosiasi fintech yang diakui oleh OJK.

Dalam pelaksanaan market conduct, kata dia, OJK membuat pendekatan baru yaitu principle based regulation dan activity based licensing, yang berarti OJK hanya membuat garis besar pengaturan (principles) saja. sementara terjemahan dari pengaturan ini akan dibuat oleh para pelaku industri.

Ditambahakan, OJK juga menerapkan prinsip pro-inovasi melalui penerapan regulatory sandbox, yang merupakan mekanisme pengujian oleh Otoritas Jasa Keuangan untuk menilai keandalan proses bisnis, model bisnis, instrumen keuangan, dan tata kelola penyelenggara.

“Proses regulatory sandboxdilaksanakan paling lama Satu tahun dan dapat diperpanjang selama enam bulan jika diperlukan. Hasil regulatory sandbox adalah status untuk direkomendasikan, perbaikan. atau tidak direkomendasikan,” ucapnya.

Selain itu, sambungnya peraturan ini juga mendorong terbentuknya ekosistem inovasi keuangan digital yang akan dipimpin oleh OJK bekerjasama dengan semua pihak terkait, untuk membangun ekosistem yang bersimbiosis-mutualisme agar memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

“Melalui POJK ini, OJK juga berkepentingan untuk memberikan akses keuangan kepada para pelaku usaha UMKM melalui jalur inovasi keuangan digital terutama yang memfokuskan usaha pada karakter ekonomi lokal seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan perternakan, sehingga bisa menghilangkan hambatan yang sering dimiliki oleh pelaku usaha UMKM dalam bidang permodalan dan pemasaran,” katanya.

Targetnya adalah mengarahkan inovasi keuangan digital agar menghasilkan inovasi keuangan digital yang bertanggung jawab, aman, mengedepankan perlindungan konsumen dan memiliki risiko yang terkelola dengan baik. (Icha)

 

Open Signal: Jaringan 4G Paling Terdampak Paska Gempa Sulawesi

0

Telko.id – Open signal OpenSignal mengukur dampak yang dialami pengguna ponsel sebelum dan sesudah gempa Bumi sebesar 7.5 dennen pusar gempa berada di pulau Sulawesi Indonesia, pada harı Jumat 28 September 2018.

Gempa bumi yang memicu tsunami dengan ketinggian hingga 6 m dan bersamaan dengan itu menyebabkan berbagai macam kerusakan di kota Palu serta daerah di sekitarnya. Dampak pada teknologi mobil sangatlah luas tapi berdasarkan data Open signal, hal tersebut tidak menyebabkan pemadaman total di seluruh wilayah tersebut.

Setelah bencana, layanan 4G di Palu memerlukan waktu hampir dua minggu untuk kembali normal. OpenSignal mengamati bahwa terjadi penurunan ketersediaan 4G secara drastis, di mana layanan memerlukan hampir dua minggu untuk kembali seperti 30 hari sebelumnya bagi rata-rata pengguna ponsel.

Meskipun demikian, ketersediaan 4G tidak tampak menurun parah pada hari pertama saat gempa namun pada hari kedua — Minggu 30 September — ketika ketersediaan LTE turun hingga hampir 60%. Dampak yang terlambat ini mempengaruhi penggunaan jaringan seluler dengan menunjukkan bahwa kerusakan langsung pada menara transmisi akibat gempa bumi bukanlah penyebab utama dari pemulihan jaringan yang terlambat.

Setelah gempa para pengguna ponsel lebih sulit untuk menemukan sinyal LTE. Berdasarkan pengamatan Open Signal, penerapan distribusi data yang dilakukan secara geografis, di ketahui bahwa pembacaan sebelum gempa bumi cukup menyebar di seluruh kota dan kota administratif di sekitarnya.

Sementara data yang dikumpulkan pada hari setelah bencana alam kebanyakan berada di tengah kota dan di dekat bandar udara, dengan sebaran pengukuran di seluruh wilayah yang lain.

Distribusi tersebut menunjukkan bahwa pengguna ponsel tampaknya dapat menemukan sinyal ponsel di tengah kota — di mana penyedia layanan memasang sejumlah menara transmisi untuk melayani kepadatan populasi yang lebih tinggi.

Petak peta oleh Stamen Design, di bawah CC BY 3.0. Data oleh OpenStreetMap, di bawah ODbL.

Meskipun begitu, peta menunjukkan penekanan hasil yang berbeda dalam pembacaan yang di dapat dari berbagai macam teknologi seluler yang berbeda.

Sebelum bencana alam, pengguna ponsel dapat mengakses jaringan 4G di mana saja di mana terdapat sinyal, sedangkan setelah itu wilayah yang tercakup oleh layanan LTE menyusut dibandingkan dengan di mana perangkat memiliki konektivitas mobil, hal tersebut memberikan petunjuk tambahan mengenai penurunan ketersediaan LTE.

Perangkat 4G rata-rata tersambungkan dengan menara transmisi LTE yang lebih jauh. OpenSignal mengukur jarak rata-rata perangkat 4G dari menara transmisi LTE setiap hari setelah bencana alam, dan membandingkannya dengan jarak rata-rata di lokasi yang sama dalam waktu 30 hari sebelum gempa bumi. Kami amati bahwa rata-rata perangkat setelah bencana alam tersambungkan dengan menara transmisi yang lebih jauh, dan hal tersebut memerlukan 11 hari untuk kembali normal.

Pada 30 September — dua hari setelah gempa bumi — rata-rata perangkat tersambungkan ke menara transmisi LTE yang berjarak lebih dari 1.400 meter jauhnya, sedangkan dalam 30 hari sebelum jarak rata-rata di lokasi yang sama — kami melihat, bahwa umumnya pusat kota — kurang dari 500 meter.

Peningkatan rata-rata jarak sambungan yang jauh menunjukkan bahwa lebih sedikit menara transmisi LTE yang beroperasi dalam beberapa hari setelah gempa bumi, di mana perangkat tidak dapat tersambungkan ke menara transmisi 4G terdekat perangkat tersebut malah tersambungkan ke menara transmisi yang lebih jauh.

Hal ini juga menunjukkan bahwa rata-rata lebih banyak perangkat tersambungkan ke menara transmisi yang sama, sehingga meningkatkan kepadatan pada sebagian jaringan yang masih hidup tersebut.

Ketika bencana alam terjadi, operator penyedia layanan mobil menghadapi tantangan yang signifikan untuk memulihkan layanan menjadi normal dan tergantung ukuran bencana yang dapat memerlukan waktu berhari-hari — saat kami ukur dengan hurricane Florence di Amerika. — atau minggu-minggu, setelah gempa bumi di Sulawesi, Indonesia.

Dalam situasi tersebut, operator tidak hanya harus menghadapi pemulihan sebagian jaringan yang terputus, tapi juga menghadapi penurunan penggunaan ponsel karena lebih banyak pengguna yang tersambungkan ke menara transmisi yang lebih kecil, selanjutnya meningkatkan kepadatan di jaringan.

Untuk analisa tersebut, OpenSignal melakukan pengukuran berdasarkan pengalaman para konsumen secara langsung dalam penggunaan jaringan ponsel saat mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Setidaknya, ada 3 miliar pengukuran individu setiap hari dari sepuluh juta ponsel pintar di seluruh dunia. Yang dilakukan setiap jam dalam sehari, setiap hari selama setahun. Baik, dalam kondisi penggunaan secara normal, termasuk dalam dan luar ruangan, di kota dan di desa, di setiap tempat di wilayah tersebut.

Dengan menganalisis pengukuran perangkat yang terekam di tempat di mana pelanggan sebenarnya tinggal, bekerja dan bepergian, kami melaporkan layanan jaringan mobil sebagaimana pengguna benar-benar mengalaminya.

Khusus untuk analisa di Palu ini, terkumpul 8.854.926 pengukuran yang berasal dari 1.762 perangkat di kota Palu – Pulau Sulawesi, Indonesia –- selama periode waktu: 29 Agustus – 20 Oktober 2018.

Data dikumpulkan setiap hari dan membandingkan pengalaman pengguna ponsel pintar selama hari-hari setelah gempa bumi, versus rata-rata pengalaman pada 30 hari sebelumnya. (Icha)

 

 

 

I Loop Run Telkomsel Hadir Di Bekasi Ajak Millenials Hidup Sehat yang Fun

0

Telko.id – I Loop Run Telkomsel hadir di Bekasi untuk menyambut tingginya animo anak muda dalam mengikuti kompetisi lari. Kegiatan yang digelar (25/11) lalu merupakan kegiatan lari sepanjang 5 Kilometer ini diikuti oleh lebih dari 2000 peserta dari kaum millennials Bekasi dan sekitarnya.

Tema gelaran I Loop Run di Bekasi kali ini adalah Cosplay Run Mobile Legends, dimana para peserta yang ikut berlari akan mengenakan kostum karakter di Mobile Legens, seperti Gatot Kaca dan Lancelot bagi peserta laki-laki , serta Angela dan Odette untuk perempuan.

“Sebagai kartunya anak muda, Loop terus mencoba memfasilitasi hobi para millennials dimana salah satunya adalah lari melalui gelaran I Loop Run. Saat ini olahraga lari menjadi trend tersendiri bagi para millenials, oleh karena itu kami hadirkan sebuah acara berlari bersama sejauh 5 Km yang dipadukan dengan konsep fun dalam kompetisi,” ujar Agus Mulyadi, Vice President Sales & Marketing Area Jabotabek Jabar Telkomsel.

Di tahun kedua penyelenggaraannya, I Loop Run 2018 digelar di 8 kota Indonesia termasuk di wilayah operasional Jabotabek Jabar Telkomsel, yakni Bekasi dan Cimahi. Seluruh peserta juga berkesempatan memenangkan beragam hadiah undian seperti Sepeda Motor, paket Liburan ke Korea bareng VIU, Taplus Muda BNI senilai 20 Juta Rupiah, Smartphone, saldo TCASH  dan pulsa Telkomsel dengan total hadiah Ratusan Juta Rupiah.

“Hingga bulan oktober 2018, market share kartunya anak muda LOOP telah mencapai 28% khusus di wilayah Bekasi. Kehadiran produk dengan segmentasi khusus anak muda seperti brand LOOP ini akan memberikan ragam pilihan produk dan layanan yang sesuai kebutuhan dan terjangkau. Selain itu, dalam menggaet segmen anak muda, Telkomsel selalu berusaha menghadirkan beragam produk dan layanan menarik lainnya serta kegiatan-kegiatan yang mendukung generasi millennials seperti I LOOP Run.” Ungkap Agus. (Icha)

 

 

 

XL Axiata Dukung “Republic of IoT 2018” Demi Pengembangan IoT Lokal

0

Telko.id – Internet of Things memang digadang-gadang akan menjadi bisnis yang luar biasa. Namun, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Termasuk juga masalah, termasuk dalam menghadirkan beragam inovasi produk dan layanan yang diharapkan dapat mendukung perkembangan IoT di Indonesia, terutama dalam pengembangan Eco-system IoT di Indonesia.

Untuk itu, XL Axiata ikut mendukung penyelenggaraan ajang kompetisi IoT terbesar “Republic of IOT 2018” (RIoT) di Jakarta, akhir pekan lalu. Sebagai langkah untuk ikut mengembangkan layanan Internet of Things (IOT) terus berlanjut.

Pada ajang tersebut, sebanyak 30 tim terpilih dari seluruh Indonesia menampilkan proyek IoT potensial asli Indonesia.

”Selain turut memajukan industri IoT di Indonesia, dukungan kami atas RIoT 2018 ini merupakan bagian dari upaya dalam mengembangkan bisnis IoT. Kami melihat potensi besar yang dimiliki oleh para developer lokal Indonesia dalam mengembangkan IoT. Karena itu, kami berharap banyak melalui R-IoT 2018 kami akan bisa mendapatkan gambaran yang lebih pasti mengenai kemampuan dan potensi para developer Indonesia,” ujar Kiril Mankovski, Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata.

“Jika nanti nya ada peluang kerjasama dengan para developer lokal dan meraih sukses bersama di masa mendatang, tentu kami sangat senang,” ujar Kirim menambahkan.

Republic of IoT 2018 merupakan perhelatan Internet of Things terbesar di Indonesia. Ajang ini diselenggarakan oleh Makestro dan Infia Pariwara, berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, serta didukung penuh oleh XL Axiata melalui XL Business Solutions.

RIoT 2018 berlangsung selama dua hari, 24 dan 25 November, 2018. Ajang yang merupakan wadah bagi para makers, komunitas, dan pemangku kepentingan IoT lokal ini juga mendapatkan dukungan dari BEKRAF, Nodeflux, Global Research Cloud, serta u-Blox, sebagai rekanan acara.

Pada RIoT 2018 ini peserta diminta untuk  membuat solusi berbasis IoT dari berbagai topik yaitu: agrikultur, logistik, energi dan utilitas, industrial IoT, keamanan, kesehatan, fintech, building automation, fleet management, dan transportasi. Solusi-solusi yang dihasilkan diharapkan dapat direalisasikan dan bernilai-guna untuk masyarakat dan industri untuk mendukung progam pemerintah Making Indonesia 4.0

Didalam perhelatan IoT terbesar di Indonesia ini, XL Axiata melalui XL business solutions pun menghadirkan beragam inovasi produk dan layanan yang diharapkan dapat mendukung perkembangan IoT di Indonesia, terutama dalam pengembangan Eco-system IoT di Indonesia.

XL Axiata menghadirkan kesiapan infrastruktur NB-IoT; X-camp sebagai laboratorium developer IoT dalam berinovasi dan sekaligus sebagai wadah untuk dipertemukan dengan pihak investor maupun pihak bisnis lainnya; dan FlexIoT sebagai platform bagi para developer IoT dalam membangun inovasi-inovasi IoT-nya secara efektif dan efisien.

Karya dari 30 tim dinilai oleh tim penjurian yang selanjutnya memilih 3 tim untuk dinobatkan sebagai juara dan 1 tim favorit. Berdasarkan penilaian juri, pemenang pada RIoT 2018 masing-masing adalah:

Pictafish dari Malang, Ultrafarming dari Banda Aceh, dan Disteam dari Malang . Tim Favorit dimenangkan oleh Mahapati dari Bali. Hadiah untuk pemenang berupa uang tunai, pemenang juga berkesempatan mengembangkan karyanya lebih lanjut dan mendapat bimbingan serta inkubasi di X-Camp (Lab Inovasi IoT XL)

Tim pemenang masing-masing membuat karya berupa Water Measurement Kit yang  mengintegrasikan AI camera dan water sensors untuk menganalisa kualitas air; Kandang digital untuk monitoring dan controlling peternakan ayam; dan Early Warning System pendeteksi kebakaran hutan. Sementara itu, tim yang menjadi juara favorit membuat karya berupa Smart Water Monitoring System untuk Tambak Ikan Kerapu .

Selama berlangsungnya RIoT 2018 juga diselenggarakan sejumlah aktivitas, antara lain Breakout Class, yang terdiri dari Workshop; Hardware Hands-On; dan Un-Conference, yaitu panggung yang terbuka bagi seluruh pengunjung untuk bebas berbicara soal topik pilihannya. Juga ada makerspace yang merupakan miniature dari makerspace yang ada di X-Camp, pengunjung dapat mengenal IoT dan merasakan pengalaman secara hands-on merakit device IoT.

Tahun ini, sesi Keynote dibawakan oleh Semuel Abrijani Pangarepan, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo; Kiril Mankovski, Chief Enterprise Officer XL Axiata,; dan Andri Yadi, CEO DycodeX. Selain itu, RIoT 2018 juga menampilkan pembicara-pembicara dari latar belakang beragam, meliputi pelaku industri, pemilik startup, pelaku hobi, serta komunitas.

Mereka adalah Andri Yadi, CEO DycodeX; Joe Ooi, Business Development Manager u-blox; Teguh Prasetya, Founder Indonesia IoT Forum; Faris Rahman, Co-Founder & CTO Nodeflux; Maulidan Isbar, Co-Founder Kayuh BikeShare; Mahendra Ahdini, CEO Arsys Caturangga; Bullitt Zulfiqar, Bullit.tech; dan M. Ibnu Fadhil, Buitenzorg Makers Club. (Icha)

 

 

 

Telkomsel Siap Di Garda Depan Revolusi Industri 4.0 Indonesia

0

Telko.id – Untuk memastikan bahwa Indonesia siap menghadapi revolusi industry 4.0, pemerintah mencanangkan strategi yakni Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industry 4.0.

Salah satu factor penting adalah industry telekomunikasi yang akan menjadi tulang punggung untuk memuluskan strategi tersbut. Dimana, ketika industry 4.0 hadir maka akan terjadi peningkatan konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Itu sebabnya, Telkomsel sudah melakukan berbagai uji coba dan kerjasama untuk turut mendukung upaya pemerintah tersebut. Di mana, ada lima teknologi utama yang akan menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Dalam proses menuju revolusi industri 4.0, ICT menjadi tulang punggung untuk memuluskannya. Pasalnya, pada saat itu, ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Berdasarkan kajian Indonesia IoT Forum, potensi IoT terhadap kenaikan produktivitas di Indonesia pada tahun 2022 diperkirakan mencapai Rp 444 triliun, dengan 400 juta sensor (perangkat) yang saling terhubung. Jumlah itu akan terus meningkat hingga sekitar Rp 1.700 triliun pada tahun 2025.

Dari 400 juta perangkat terhubung itu, sektor manufaktur mengambil porsi 16%, diikuti sektor kesehatan 15%, asuransi 11%, perbankan dan sekuritas 10%, ritel dan perdagangan besar 8%. Sedangkan sisa mencakup layanan komputasi, pemerintah, transportasi, dan lain-lain.

Bayangkan, betapa besar nya potensi untuk operator ICT dan ekosistem lainnya ketika masa itu dating. Tak pelak, Ririek Ardiansyah, Direktur Utama Telkomsel optimis bahwa suatu hari nanti pelanggan Telkomsel bisa mencapai 1 miliar.

“Suatu hari nanti, pelanggan Telkomsel mungkin bisa 1 miliar. Tapi yang 800 jutanya itu seperti ini (sepeda pintar) lalu AC, Kulkas, dan lainnya,” ujar Ririek saat mengimplementasikan inovasi NB-IoT Bike Sharing yang disebut Spekun (Speda Kuning) beberapa waktu lalu di kampus Universitas Indonesia depok.

NB-IoT atau Narrow Band Internet of Things memang menjadi salah satu teknologi yang didalami oleh Telkomsel dalam mendukung Revolusi Industri 4.0 ini.

Selain perangkat yang murah, jangkauan dan koneksi yang luas serta perangkat dengan baterai yang tahan lama menjadi keunggulan dari teknologi ini. Sehingga nanti nya akan lebih efektif digunakan oleh industry dalam mengadopsi teknologi ini untuk menghadapi revolusi 4.0.

“Kelebih lain adalah NB-IoT memiliki bandwidth paling lebar sehingga dapat digunakan secara luas di berbagai industri vertikal. Apalagi, tidak perlu menggelar infrastruktur baru,” ujar Rio Novrianto, GM IoT Business Operations & Analytics Telkomsel beberapa waktu lalu.

Itu sebabnya, Telkomsel membuka diri untuk kerjasama dengan berbagai elemen dalam ekosistem demi masa IoT ini. Baik dari device, pembuat aplikasi maupun koleborasi lain seperti dengan pemerintah, swasta maupun retail.

Dengan IoT, para pengusaha dapat mengatur dan mengelola operasional bisnis nya secara real time. Apalagi, dalam mengaplikasikan IoT ini juga ada Artificial Intelligent dan big data dibaliknya sehingga berbagai data yang masuk dapat dianalisa dengan cepat dan lebih akurat ketimbang dilakukan secara manual.

Ada beberapa layanan yang saat ini sudah siap diberikan oleh Telkomsel. Pertama adalah untuk indutsri logistic, dimana para perusahaan akan memperoleh visibilitas operasional secara real-time, baik dari lokasi, peralatan, hingga karyawan. Meningkatkan efisiensi dan kinerja operasional jika menggunakan IoT.

“Jaringan Telkomsel dapat diakses oleh area terpencil yang menjawab kendala kami dan adanya APN Private menjadikan jaringan yang diberikan pun tepercaya dan aman. Semua fasilitas IoT membantu kita mengontrol segalanya dengan mudah,” kata Fikri Subhan, VP Operation & Service of Technology POS INDONESIA menjabarkan dalam website resmi IoT Telkomsel yakni telkomseliot.com.

Kedua, industry keuangan atau perbankan. Dengan IoT, memungkinkan melakukan analisa dan mengeksekusi transaksi keuangan secara real-time. Sudah tentu akhirnya akan membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan membuka lebih banyak peluang untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.

BRI yang sudah menggunakan pun mengakui bahwa dengan IoT Telkomsel dapat lebih mudah mengontrol pemakaian data di device yang tersebar di lapangan.

“Mulai dari kebutuhan aplikasi kredit sampai dengan menerima pembayaran pajak. Telkomsel Smart Connectivity menawarkan pelayanan yang lebih efisien dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan operator lainnya,” aku Damar, System Engineer Bank Rakyat Indonesia.

Bagi PT Enerren yang juga sudah menggunakan solusi IoT Telkomsel yakni Fleet Management mengaku sangat membantu dalam mengatur operasional menjadi lebih efisiensi. Dan memberikan kontrol ke semua perangkat, mengumpulkan data untuk memprediksi perawatan dan manajemen energi yang lebih baik secara real time.

“Sejak menggunakan fitur Real Time Diagnostic, kami dapat mengidentifikasi aset bermasalah pada saat itu juga. PIC kami dapat segera diberitahu dan langsung menangani masalah pada perangkat. Telkomsel IoT memudahkan kami untuk memantau armada dan lokasi asset lain secara real-time dengan penggunaan GPS,” kata Febri – Enerren Operational GM Enerren.

Beberapa waktu lalu, Telkomsel pun sudah bekerjasama dengan PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) dalam mengimplementasikan teknologi Narrow Band-Internet of Things (NB-IoT) pada sistem smart meter di jaringan listrik. Sistem smart meter yang juga disebut sebagai Advanced Meter Infrastructure (AMI) ini diklaim sebagai teknologi yang pertama dikomersialkan di Asia Tenggara.

Selain itu, beberapa waktu lalu, Telkomsel juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan G4S Indonesia di GraPARI Telkom Grup, Jakarta.

Melalui kerjasama ini, Telkomsel akan menyediakan berbagai solusi digital kepada salah satu perusahaan jasa keamanan terbesar tersebut, yang meliputi layanan IoT (internet of things) Control Center, FleetSight dan Compack Enterprise.

Dimana, Solusi IoT Control Center yang ditawarkan oleh Telkomsel itu akan membantu otomatisasi pengelolaan layanan seluler perangkat yang terhubung dengan internet, guna mengoptimalkan penggunaan dengan biaya operasi yang efisien. Layanan ini akan menjadi solusi konektvitas aplikasi internal untuk laporan keamanan G4S Indonesia.

Solusi FleetSight akan membantu perusahaan untuk mengendalikan armada sekaligus melakukan efisiensi dalam pemeliharaan asset bergerak tersebut. Kegiatan operasional seluruh armada G4S Indonesia yang terdiri dari sekitar 500 mobil dan 200 motor akan didukung layanan Telkomsel FleetSight.

Sedangkan sekitar 2.000 karyawan dan 10.000 mitra G4S Indonesia akan dilengkapi oleh layanan Compack Enterprise,  sebuah layanan komunikasi yang memberikan paket komunikasi istimewa dengan dukungan jaminan keamanan data perusahaan dan kehandalan jaringan internet 4G LTE Telkomsel yang hadir hingga ke daerah pelosok Indonesia.

Telkomsel sebenarnya juga sudah memulai bisnis IoT ini beberapa tahun lalu. Seperti ada T-Bike yang kembangkan tahun 2016 lalu. Di mana, aplikasinya dikembangkan sendiri oleh karyawan Telkomsel.

Dan, bukan hanya perusahaan besar. Telkomsel pun aktif menggandeng perusahaan rintisan yang fokus mengembangkan teknologi internet of things di bidang pertanian.

VP Corporate Planning Telkomsel Andri Kristianto mengatakan saat ini mereka tengah menginkubasi perusahaan rintisan di bidang teknologi pertanian (agriculture technology/agritech). Menurutnya, potensi pertanian di Indonesia sangat besar dan erat dengan solusi IoT.

“Contohnya, salah satu masalah petani ikan 80% cost itu untuk pakan. Jadi mereka sering over feeding, itu kan costly sekaligus membuat kualitas air juga menurun. Itu yang sedang kita coba otomatisasi lewat teknologi ini,” tuturnya beberapa waktu lalu saat ditemui usai peresmian Telkomsel Experience Zone.

Telkomsel juga menyakini bahwa IoT ini bakal menjadi pilar baru dalam menambahkan pendapatannya.

“Dari semua layanan digital, yang memberikan impact terbesar adalah IoT. IoT ini juga sagat erat relevansi nya dengan program pemerintah yakni Making Indonesia 4.0,” ujar Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel saat jumpa media pada ajang festival kreatif, IdeaFest X The NextDev di Jakarta (26/10).

Telkomsel sendiri tidak hanya mengembangkan IoT saja, tetapi juga berbagai layanan, baik yang kini sudah berjalan maupun berbagai macam layanan yang masih dalam bentuk incubator untuk digali potensinya. Baik entertainment maupun bisnis.

IoT sendiri merupakan konsep yang punya tujuan memperluas pemanfaatan Internet agar terus terhubung di segala macam perangkat, mulai dari perangkat rumah tangga hingga korporasi. Konsep ini sangat mungkin dimasuki oleh Telkomsel dalam mengembangkan bisnisnya dan memperkuat posisi sebagai perusahaan telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia. 

Adapun solusi IoT Telkomsel yang sudah melewati masa inkubasi, antara lain bike sharing di Universitas Indonesia (UI) yang merupakan hasil kolaborasi bersama Banopolis; automatic fish feederdengan adanya aqua culture solution bagi petani dan petambak di berbagai daerah di Indonesia hasil kolaborasi bersama eFishery; dan, smart bin waste management system bersama Danone dan Alfamart. 

Sedangkan beberapa solusi bisnis lainnya yang akan segera masuk ke tahap komersialisasi antara lain adalah smart metering, dan remote tank monitoring.

Ririek juga mengakui bahwa saat ini pendapatan atau revenue, digital sudah memberikan sumbangan yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dari legacy. “Bahkan, tahun depan besar akan lebih besar lagi,” kata Ririek.

Jadi, dengan segala pernak-pernik IoT yang dipersiapkan, Telkomsel pun siap di garda depan revolusi industri 4.0 Indonesia. (Icha)

 

Perjalanan 5G Di Indonesia Masih Panjang

0

Telko.id – Pemerintah Indonesia baru akan membuka lelang pita fekuensi 5G pada tahun 2022. Langkah-langkah strategis kearah itu sudah di petakan.

Seperti yang diungkapkan Direktur Penataan Sumber Daya, Ditjen SDPPI Kemkominfo, Denny Setiawan, rencana implementasi 5G sudah disiapkan sejak 2017 dengan menggelar uji coba indoor pita frekuensi 15GHz oleh XL Axiata dan 72GHz oleh Telkomsel.

Kemudian, pada tahun ini kembali digelar uji coba oleh operator seluler yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo. Uji coba indoor dan outdoor pita frekuensi 28GHz digelar oleh Telkomsel saat Asian Games XVII.

Kemudian, XL menggelar uji coba outdoor pada pita frekuensi yang sama. Indosaat Ooredoo melakukan pengujian yang sama pada Kamis (22/11/2018) melalui 3D Augmented Reality (AR).

“Pada tahun depan direncanakan akan dilakukan kembali uji coba pada pita frekuensi 26GHz dan pita lainnya yakni 3,5GHz,” kata Denny dalam acara uji coba 5G di kantor Indosat Ooredoo.

Tahun depan juga pemerintah akan menyusun dan mensosialisasikan draft kebijakan 5G, dengan fokus mendukung revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital.

Finalisasi kebijakan dan regulasi untuk 5G, termasuk spektrum, model bisnis, dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) diharapkan terjadi pada periode 2020-2021. Kemudian, juga akan dilakukan uji coba 5G menggunakan perangkat komersial dan mencoba use case berkaitan dengan manufaktur terkait revolusi industri 4.0.

“Kami akan menentukan pita frekuensi yang akan digunakan, harganya berapa, membangun small cell, serta bisnis model juga penting. Ini semua harus disiapkan dari spektrum hingga regulasinya,” ungkap Denny.

Setelah semua proses tersebut berlangsung, baru pemerintah bisa membuka lelang pita frekuensi 5G. Sejauh ini, ada tiga kandidat pita frekuensi yang kerap disebut akan menjadi pilihan Indonesia, yakni 3,5GHz, 26GHZ, dan 28GHz.

Peluncuran layanan broadband berbasis 5G, yakni mobile dan fixed broadband, diprediksi akan dilakukan pada 2022. Namun, Denny tidak menutup kemungkinan waktu peluncuran bisa lebih cepat.

“2022 mungkin baru bisa dirilis, tapi kalau harmonisasi berjalan baik mungkin bisa lebih cepat,” tuturnya.

Menurut Denny, untuk memberikan layanan 5G pada masyarakat Indonesia ini, bukan sekedar frekuensi saja yang harus dipersiapkan. Tetapi juga membangun ekosistem. Baik Device, Network dan Aplikasi.

Frekuensi 5G Masih Jadi PR Pemerintah

Sejauh ini, memang ada tiga kandidat pita frekuensi yang kerap disebut akan menjadi pilihan Indonesia, yakni 3,5GHz, 26GHZ, dan 28GHz.

Namun, frekuensi yang ideal untuk 5G itu, di Indonesia masih jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Misalnya, untuk frekuensi 3,5 GHz saat ini sudah ditempati untuk layanan satelit, tidak akan digunakan untuk layanan akses pita lebar atau broadband wireless access (BWA).

Satelit yang memiliki pita frekuensi C-Band dianggap paling cocok untuk dipancarkan ke seluruh wilayah Indonesia. C-Band memiliki besaran 3.7 GHz hingga 4.2 GHz untuk downlink dan 5.925 GHz hingga 6.425 GHz untuk uplink.

“Kami masih berdiskusi untuk pemanfaatan frekuensi tersebut agar tak menimbulkan masalah,” ujar Denny.

Denny juga menyebutkan bahwa Indonesia masih membutuhkan satelit karena wilayahnya yang terbagi menjadi pulau-pulau. Hal itulah yang masih menjadi pertimbangan penggunaan frekuensi menengah untuk 5G.

“Mid frekuensi 3,5 band kandidat utama yang sedang menjadi pembahasan utama.
Indonesia juga sangat membutuhkan satelit karena negara kepulauan untuk terrestrial network,” ujarnya.

Itu sebabnya, Indonesia belum menentukan frekuensi yang akan digunakan untuk teknologi 5G ini. Ditambah lagi, pemerintah juga menanti kesempatan World Radiocommunication Conferences (WRC) di akhir tahun ini. Pada kesempatan itu, Indonesia akan menentukan sikap sesuai dengan keputusan secara global. Alasannya, masalah frekuensi harus disesuaikan dengan kebijakan yang diatur International Telecommunication Union (ITU).

“Kami akan memutuskan frekuensi bersamaan dengan WRC meeting atau pertemuan. Jadi frekuensi secara global itu tidak diputuskan sendiri-sendiri oleh tiap negara tapi ikut bersama-sama kebijakan frekuensi dunia yang diatur oleh ITU,” kata Ismail, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika menjelaskan pada wartawan beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, masalah di frekuensi 3.5GHz ini tidak terjadi di Indonesia saja. Hal ini juga terjadi di sebagian besar negara di Asia.

“Beberapa case seperti di Hongkong, Australia, dan India, sekarang mereka lagi menunggu co-exist antara satelit dengan cellular network. Pasti akan dibutuhkan detail studi, Ericsson bisa share misalkan dari segi pengukuran, hingga case study yang pernah kita lakukan di India, Australia, ataupun Hongkong. Tidak menutup kemungkinan juga kita perlu field test 3,5GHz co-exist di Indonesia, kita ada hitung-hitungan jarak dengan stasiun bumi, maka dari itu kita perlu support,” ungkap Ronni Nurmal, VP Network Solutions Ericsson Indonesia pada diskusi 5G di Indosat Ooredoo.

Operator Harus Bahu Membahu Bangun Ekosistem 5G

Ekosistem menjadi kunci bagi suksesnya 5G di Indonesia. Baik dari sisi Device, Network maupun aplikasi. Ditambah lagi, karena 5G ini akan sangat bermanfaat bagi industri ketimbang retail, maka industry pun harus menanggapi kehadiran 5G ini dengan melakukan perubahan menuju digitalisasi industry seperti yang dicanangkan oleh pemerintah yakni Making Indonesia 4.0.

Selain itu, operator pun tidak bisa ‘egois’ dengan membangun jaringan sendiri-sendiri. Diperlukan kerjasama seperti active network sharing. Memang untuk active network sharing ini pemerintah berjanji akan merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000.

Di mana, Active network sharing adalah mekanisme penggunaan bersama infrastruktur aktif telekomunikasi antaroperator telekomunikasi di suatu negara. Namun, nantinya, revisi aturan network sharing ini tidak bersifat wajib bagi seluruh operator. Sayang, sampai saat ini oturan yang dimaksudkan mesih belim keluar juga.

Pasalnya, 5G membutuhkan kemudahan akses infrastruktur publik. Kondisinya saat ini, menurut Indra Gunakan, seorang pengamat telekomunkasi menyebutkan bahwa dengan naiknya trafik data di Indonesia, ternyata tidak membuat pendapatan atau revenue operator meningkat.

“Ada dua alasan, pertama adalah harga yang diterapkan lebih rendah dibandingkan dengan cost produksinya, kedua, industri sudah tidak sehat karena terjadi perang harga,” ujar Indra ketika ditemu di kantornya dibilangan Thamrin, Jakarta (23/11).

Kalau hal ini terjadi terus, Indra pesismis operator memiliki dana untuk membangun jaringan 5G. Apalagi, untuk membangun jaringan 5G ini harus ‘bongkar’ peralatan yang ada sekarang ini.

Ditambah lagi, untuk membangun site baru sangat sulit dan mahal akuisisi lahannya. Jika operator mau bekerja sama, tentu hal ini akan lebih memuluskan lagi upaya Indonesia untuk membangun jaringan 5G di Indonesia.

Ada nya palapa ring memang sudah sangat membantu operator untuk bangun jaringan. Paling tidak, operator tidak perlu membangun backbone. Tapi ternyata, Indra mengkhawatirkan kalau backbone ini tidak banyak dimanfaatkan oleh operator karena memang operator tidak punya dana besar untuk bangun jaringan.

Pasalnya, dari backbone yang dibangun pemerintah pun, masih cukup jauh untuk sampai ke wilayah yang secara ekonomi menguntungkan bagi operator. “Operator belum tentu punya dana yang cukup untuk narik kabel dari backbone ke wilayah yang strategis,” ungkap Indra.

Jadi memang, network sharing menjadi penting di era 5G ini. (icha)

 

 

Ini Dia Teknologi 5G Yang Dipamerkan Indosat Ooredoo dan Ercisson

0

Telko.id – Indosat Ooredoo bersama dengan Ericcson menunjukkan kesiapan 5G dengan menampilkan berbagai contoh penggunaan teknologi 5G. Semua itu dipamerkan dalam rangka merayakan ulang tahun operator ini yang ke 51.

Hal ini juga sekaligus menyoroti kesiapan Indosat Ooredoo terkait jaringan 5G dan keahlian Ericsson dalam teknologi dan layanan komunikasi yang canggih. Kedua perusahaan pun juga menyoroti dua demo utama dalam acara ini yaitu test bed untuk 5G dan 3D-AR (Augmented Reality).

“5G memiliki potensi untuk mempercepat transformasi digital di berbagai industri di Indonesia, serta memberdayakan konsumen dengan pengaplikasian yang inovatif. Kesiapan 5G tertanam dalam visi kami dalam upaya membangun jaringan berkualitas video yang kompetitif,” ujar Arief Musta’in, Director & Chief Innovation Officer Indosat Ooredoo.

Kenapa 3D Augmented Reality? Tentu dalam memamerkan sesuatu harus yang menarik perhatian. Dan, 3D Augmented Reality cukup interaktif. Apalagi teknologi ini disinyalir memiliki potensi yang sesuai untuk kasus penggunaan pada perusahaan serta pengaplikasiannya pada konsumen. Seperti pada industri jasa yang menyediakan bantuan jarak jauh, perawatan kesehatan, pendidikan dan ritel.

Dalam demo 3D-AR, peserta dapat melihat dan berinteraksi dengan objek virtual yang terlihat hidup seperti anatomi manusia fotorealistik dan gambar 360 derajat dari planet Bumi. Pengalaman yang mendalam ini dilakukan secara real-time kepada audiens yang lebih luas melalui 5G.

Selain itu, Indosat dan Ericsson pun melakukan ujicoba 5G test bed. Di mana kecepatannya mencapai ~10Gbps per UE (User Equipment) dari total 20Gbps, yang berarti jauh lebih cepat daripada LTE. 5G test bed juga memiliki beam tracking sebagai salah satu kemampuan unggulan 5G yang memungkinkan kapasitas serta kinerja yang lebih tinggi.

Selain itu, teknologi ini juga memungkinkan streaming video 4K ke UE melalui radio 5G.

Selain menampilkan 5G test bed dan 3D-AR, baik Indosat Ooredoo maupun Ericsson juga menghadirkan demo lain, seperti; 5G deployment considerations dan connected drones yang dapat diuji coba dari jarak yang lebih jauh atau dengan jalur penerbangan yang telah ditentukan sebelumnya.

Untuk melakukan itu, diperlukan konektivitas 5G nirkabel berlatensi rendah yang andal. Pada demo ini, drone nano terbang di atas model 3D-kota. Ada juga LAA, yang merupakan solusi untuk hotspot berkapasitas tinggi (misalnya di bandara, stadion, pusat perbelanjaan), yang menggunakan spektrum unlicense untuk meningkatkan kecepatan/kapasitas tambahan untuk LTE dan kemungkinan koeksistensi dengan WiFi.

Yang terakhir di demo adalah NB-IoT yang akan dipakai untuk berbagai kasus penggunaan oleh Indosat Ooredoo.

“5G mewakili evolusi teknologi seluler utama yang dapat membuka kemungkinan dan aplikasi baru. Kami percaya bahwa 5G akan memainkan peran utama dalam transformasi digital di Indonesia,” kata Jerry Soper, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.

Jerry menambahkan, “Kerjasama Indosat Ooredoo dan Ericsson ini juga untuk meningkatkan jaringan dan teknologi untuk para pelanggan. Kami berharap bahwa demonstrasi ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang manfaat 5G untuk kehidupan kita, dan bagaimana Ericsson dan Indosat Ooredoo akan terus bekerja sama untuk membawa kemampuan terbaik kita untuk meningkatkan kualitas jaringan di Indonesia”. (Icha)

Saat Pesta Ulang Tahun ke 51, Indosat Ooredoo Pamer 5G

0

Telko.id – Indosat Ooredoo secara gamblang mengakui bahwa ada keterlambatan dalam beberapa hal, terutama jaringan dan bisnis dibandingkan dengan para kompetitornya. Namun, masuk usia ke 51 tahun ini juga dijadikan momen penting bagi operator ini untuk bangkit dan kembali ke masa kejayaan nya yang pernah dicapai.

Banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dilakukan. Tapi moment pesta ulang tahun ke 51 ini ditandai juga dengan ujicoba teknologi 5G. Tanda bahwa  yang akan Indosat tidak mau ketinggalan dengan pesaing nya yang sudah terlebih dahulu menggelar ujicoba. Walaupun baru ada di kantor Indosat Ooredoo pusat saja.

Memang, teknologi 5G ini masih belum jelas kapan akan dikomersialkan, tetapi paling tidak ujicoba ini akan meningkatkan pengalaman pelanggan. Salah satu layanan 5G yang dipamerkan saat ultah ini adalah 3D-AR (Augmented Reality).

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah atas dukungan yang diberikan, sehingga Indosat Ooredoo berhasil melakukan uji coba teknologi 5G, sebagai bagian dari strategi pengembangan jaringan kami ke depan. Kami berharap dukungan ini akan terus diberikan pemerintah, untuk dapat disinergikan dengan upaya yang dilakukan oleh para pelaku industri telekomunikasi secara keseluruhan dalam memberikan pengalaman teknologi terbaru bagi masyarakat Indonesia,” demikian disampaikan Chris Kanter, President Director & CEO Indosat Ooredoo.

Chris Kanter menambahkan, “Kami sangat bangga menjadi bagian dari Group Ooredoo yang menjadi pelopor pertama di dunia dalam menerapkan teknologi 5G ini secara komersial”.

Rencana strategis pengembangan jaringan Indosat Ooredoo ke depan juga sejalan dengan Ooredoo Group untuk terus meningkatkan pengalaman pelanggan. Berbagai upaya penerapan strategi pengembangan jaringan yang akan dilakukan saat ini dan ke depan  berkomitmen untuk menghadirkan jaringan berkualitas video yang kompetitif bagi pelanggan di era komunikasi data saat ini.

“Uji coba 5G hari ini merupakan wujud kesiapan dan menjadi elemen penting dalam mewujudkan hal ini,” ujar Chris optimis.

Dalam uji coba 5G ini, Indosat Ooredoo menjadi yang pertama di Indonesia melakukan demo 3D Augmented Reality Collaboration. 3D Augmented Reality Collaboration melalui 5G ini memberikan pengalaman interaktif dan kolaboratif dalam berkomunikasi ke level yang lebih tinggi. Secara umum, Aplikasi kolaborasi 3D AR ini antara lain dapat digunakan di bidang edukasi dan customer support, untuk menghasilkan komunikasi visual yang lebih berkualitas dan efisien.

Rangkaian ujicoba dan pameran teknologi 5G ini juga  akan berlangsung pada tanggal 22-23 Nopember di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, yang dihadirkan bersama dengan Ericsson. Serangkaian diskusi panel, sharing teknologi serta demo dan ujicoba untuk merasakan kelebihan dari teknologi 5G ini yang bisa dilakukan oleh pelanggan dan masyarakat. (Icha)