spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1365

Setelah Tol Darat dan Tol Laut Kini Giliran Indonesia Bangun Tol Langit

0

Telko.id – Tol Langit adalah istilah yang digunakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk infrastruktur telekomunikasi broadband yang menggunakan fiber optik dan satelit.

Untuk fiber optik, yang disebut sebagai proyek Palapa Ring sudah hampir selesai semua. Tinggal Paket Timur, yang rencananya bakal selesai tahun ini juga.

Sedangkan untuk satelit yang diberi nama Satelit Republik Indonesia (Satria), nantinya akan menjangkau daerah pelosok yang berada di wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) yang tidak terjangkau oleh fiber optic sehingga nantinya masyarakat dapat mengakses internet cepat atau 4G bukan lagi 2G.

Namun, saat ini masih tahap tender yang rencananya akan selesai pada April 2019.  Setelah itu, baru pengerjaannya mulai tahun 2020 dan di akhir 2022 diharapkan dapat meluncur ke luar angkasa. Baru pada tahun berikutnya, layanan akses internet melalui satelit sudah bisa dirasakan.

Pengadaan satelit itu sendiri akan dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI). Di mana, satelit yang akan diorbitkan itu berbasis High Throughput (HTS).

Menurut Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementrian Kominfo, Anang Latif, Satelit Satria yang berbasis satelit High Throughput  ini memiliki keunggulan yaitu biayanya yang efisien dan cakupan jangkauan Internetnya yang luas.

Sebagai perbandingan, satelit konvensional mengharuskan BAKTI menggelontorkan uang sewa sebesar Rp18 juta untuk setiap megabite per detik (Mbps).

Sedangkan, satelit multifungsi berbiaya per Mbps, dapat menjadi lebih murah yaitu Rp1 juta per Mbps.

Satria ini sendiri, nantinya akan memberikan sinyal broadband ke daerah terluar Indonesia khususnya di Kalimantan dan Papua.

Setidaknya ada 140 ribu titik yang tidak dapat diakses oleh fiber optik. Satelit ini akan mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI yang sulit dijangkau kabel optik.

Namun, dikarenakan beroperasinya Satria masih lama, maka pemerintah pun memutuskan untuk melakukan penyewaan satelit.

“Sembari menunggu penyelesaian Satria (Satelit Indonesia Raya) yang ditargetkan selesai 2023, kita menyediakan akses internet cepat untuk kebutuhan layanan pendidikan, kesehatan dan pertahanan keamanan dengan kerja ini dengan melakukan penyewaan satelit,” ungkap Anang.

Setelah melalui proses lelang, ada lima perusahaan terpilih untuk kerja sama dan akan menyediakan kapasistas satelit sebesar 21 Gbps, yaitu PT Aplikasinusa Lintasarta, PT Indo Pratama Teleglobal, Konsorsium iforte HTS, PT Pasifik Satelit Nusantara dan PT Telekomunikasi Indonesia dalam kurun waktu lima tahun dengan memperhatikan Service Level Agreement (SLA).

Mengenai sewanya, kata Anang, BAKTI mengalokasikan anggaran sebesar Rp 7,5 triliun untuk ‘nebeng’ satelit kelima operator itu sampai lima tahun, terhitung tahun 2019 – 2024.

“Dengan penyewaan ini, target kita bisa melayani 5.000 BTS (Base Transceiver Station) dengan titik internet juga 5.000, jadi 10.000 titik,” ungkap Anang menambahkan. 

Anang menyebutkan sewa dari kelima operator satelit turut memperhatikan Service Level Agreement (SLA). Ditambahkannya, penyediaan kapasitas satelit ini juga untuk mengejar target upaya pemerataan akses internet di seluruh Indonesia atau merdeka sinyal pada tahun 2020. 

PSN sebagai salah satu mitra pemerintah yang menyediakan satelit nya untuk disewa, baru saja meluncurkan Satelit nya yakni  Nusantara 1 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Caneveral, Florida, Amerika Serikat (22/02).

Direktur Utama Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso mengatakan, satelit Nusantara Satu ini akan mulai beroperasi pada bulan April 2019 mendatang. Adi berharap, satelit ini sebagai upaya dalam mengurangi kesenjangan jaringan komunikasi internet cepat di Tanah Air.

“Kebutuhan internet atau broadband sangat tinggi, kami memperkirakan ada 25 ribu desa yang tidak memiliki koneksi komunikasi internet memadai. Jadi, target kami untuk membantu mencakup mereka,” kata Adi sebelum proses peluncuran dilakukan, seperti dikuti dari Berita Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Nusantara Satu merupakan satelit Indonesia pertama yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) berkapasitas hingga 15 Gbps. Teknologi ini, diyakini mampu memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.

Dan, mulai Mei 2019 akan dimulai penyediaan kapasitas satelit komunikasi dengan melakukan penambahan 2000 BTS menjadi total 3010 titik ditahun 2019 dan tahun 2020 ditargetkan bisa bertambah hingga 5000 titik. Akhirnya, diharapkan Indonesia merdeka sinyal pun akan terwujud. (RIZ/Icha)

 

 

Nokia 9 PureView Andalkan Penta Camera Dengan Optik Zeiss

0

Telko.id – Nokia 9 PureView kali pertama diperkenalkan pada 2019, February 24. Perangkat bermesin Snapdragon 845 ini hadir dengan sistem operasi Android 9.0 (Pie), upgradable to Android 10, Android One dan dibekali dengan RAM berkapasitas 6 GB.

Sampai berita ini diturunkan, Nokia memang belum secara resmi merilis harga Nokia 9 PureView. Tapi jika melihat dari spesifikasi yang ditawarkan, perangkat ini diperkirakan akan dibandrol dengan harga yang kurang lebih sama dengan seri sebelumnya (Nokia 8 Sirocco).

(Baca Juga : Harga dan Spesifikasi Nokia Terbaru)

Perangkat cerdas ini hadir dengan beberapa pilihan warna (Midnight Blue) dan memiliki body berdimensi 155 x 75 x 8 mm (6.10 x 2.95 x 0.31 in) dengan berat 172 g (6.07 oz). Desainnya dibangun dari komponen Glass front (Gorilla Glass 5), glass back, aluminum frame, dengan slot SIM card yang diletakkan pada sisi body, support Single SIM (Nano-SIM) or Hybrid Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by).

Kamera Nokia 9 PureView

Sejak kemunculan media sosial dan platform berbagi lainnya, kamera jadi salah satu fitur penting dari sebuah perangkat cerdas. Tak terkecuali perangkat yang satu ini. Ya, berikut adalah sensor kamera utama yang dibenamkan ke dalam body belakang Nokia 9 PureView :

  • 5x 12 MP, f/1.8, 28mm (wide), 1/2.9″, 1.25µm
    (2x RGB & 3x B/W cameras, working simultaneously)
    TOF 3D, (depth).

Sensor kamera tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk menghasilkan foto dengan resolusi maksimal 12 MP tapi juga untuk merekam video dengan resolusi maksimal 2160p. Lalu bagaimana dengan kamera depannya?

Well, untuk kamera depan, perangkat ini mengandalkan sensor 20 MP, f/2.0, (wide), 1/2.8″, 1.0μm yang tidak hanya penting untuk selfie, tapi juga bisa diandalkan saat melakukan video call ataupun video conference. Kamera tersebut dilengkapi dengan fitur HDR dan bisa digunakan untuk merekam video dengan resolusi maksimal 2160p@30fps, 1080p@30fps, HDR.

Spesifikasi Nokia 9 PureView

Pada sektor performa, perangkat ini mengandalkan chipset Snapdragon 845 yang ditopang Central Processing Unit atau CPU Octa-core (4×2.8 GHz Kryo 385 Gold & 4×1.7 GHz Kryo 385 Silver) dan prosesor grafis / GPU Adreno 630. Komponen pemrosesan tersebut didukung dengan RAM berkapasitas 6 GB. Lengkap dengan opsi penyimpanan internal / ROM berkapasitas 128GB storage, no card slot dan baterai berjenis Li-Po dengan kapasitas 3320 mAh.

Beralih ke bagian multimedia, ada layar berukuran 5.99″ Inch dengan jenis P-OLED capacitive touchscreen, 16M colors. Resolusi layarnya 1440×2880 pixels dan telah dilengkapi dengan Corning Gorilla Glass 5, Always-on display
HDR10. Layar tersebut jadi viewfinder yang cukup nyaman untuk menampilkan beragam fungsi yang dibawanya. Termasuk untuk menonton video dan bermain game tentunya.

Baca Juga : LayarKaca21 dan 7 Situs Nonton Film Gratis Pengganti Indoxxi

Dan layaknya sebuah perangkat cerdas, Nokia 9 PureView sudah dibekali konektifitas yang terbilang lengkap. Untuk konektifitas jaringan seluler misalnya. Perangkat ini support teknologi GSM / HSPA / LTE yang bisa digunakan untuk melakukan komunikasi data dengan kecepatan maksimal HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE-A (5CA) Cat16 1024/150 Mbps.

Selain itu ada juga konektifitas USB 3.1, Type-C 1.0 reversible connector, GPS(Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS), Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, Wi-Fi Direct, hotspot, dan bluetooth (5.0, A2DP, LE, aptX). Tak ketinggalan fitur lainnya seperti Fingerprint (under display, optical), accelerometer, gyro, proximity, compass, barometer, ANT+.

Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah spesifikasi Nokia 9 PureView :

NETWORK
Technology GSM / HSPA / LTE
2G bands GSM 850 / 900 / 1800 / 1900 – SIM 1 & SIM 2 (dual-SIM model only)
3G bands HSDPA 850 / 900 / 1700(AWS) / 1900 / 2100
4G bands 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 12, 13, 17, 20, 28, 32, 38, 39, 40, 41, 66 – TA-1082
Speed HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE-A (5CA) Cat16 1024/150 Mbps
LAUNCH
Announced 2019, February 24
Status Available. Released 2019, March 15
BODY
Dimensions 155 x 75 x 8 mm (6.10 x 2.95 x 0.31 in)
Weight 172 g (6.07 oz)
Build Glass front (Gorilla Glass 5), glass back, aluminum frame
SIM Single SIM (Nano-SIM) or Hybrid Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by)
Colors Midnight Blue
IP67 dust/water resistant (up to 1m for 30 mins)
DISPLAY
Type P-OLED capacitive touchscreen, 16M colors
Size 5.99 inches, 92.6 cm2 (~79.7% screen-to-body ratio)
Resolution 1440 x 2880 pixels, 18:9 ratio (~538 ppi density)
Protection Corning Gorilla Glass 5
Always-on display
HDR10
PLATFORM
OS Android 9.0 (Pie), upgradable to Android 10, Android One
Chipset Qualcomm SDM845 Snapdragon 845 (10 nm)
CPU Octa-core (4×2.8 GHz Kryo 385 Gold & 4×1.7 GHz Kryo 385 Silver)
GPU Adreno 630
MEMORY
Card slot No
RAM 6 GB
Internal 128GB 6GB RAM
MAIN CAMERA
Sensors 5x 12 MP, f/1.8, 28mm (wide), 1/2.9″, 1.25µm
(2x RGB & 3x B/W cameras, working simultaneously)
TOF 3D, (depth)
Features Zeiss optics, dual-LED dual-tone flash, HDR, panorama
Video 2160p@30fps, 1080p@30fps, HDR
SELFIE CAMERA
Sensors 20 MP, f/2.0, (wide), 1/2.8″, 1.0μm
Features HDR
Video 2160p@30fps, 1080p@30fps, HDR
SOUND
SOUND 24-bit/192kHz audio
CONNECTIVITY
WLAN Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, Wi-Fi Direct, hotspot
Bluetooth 5.0, A2DP, LE, aptX
GPS Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS
NFC Yes
Radio No
USB 3.1, Type-C 1.0 reversible connector
FEATURES
Sensors Fingerprint (under display, optical), accelerometer, gyro, proximity, compass, barometer
Other ANT+
BATTERY
Type Li-Po
Size 3320 mAh
Non-removable Li-Po 3320 mAh battery
TESTS
Performance AnTuTu: 288473 (v7)
GeekBench: 8986 (v4.4)
GFXBench: 19fps (ES 3.1 onscreen)
Battery life

Beli Galaxy S10, Samsung Kasih Diskon untuk Guru dan Pelajar

0

Telko.id, Jakarta – Ada kabar gembira bagi Anda yang masih berstatus pelajar atau berprofesi sebagai guru. Pasalnya, Samsung akan memberikan diskon khusus hingga 40% bagi keduanya untuk berbagai teknologi yang dihasilkan Samsung, termasuk jajaran smartphone terbaru, Samsung Galaxy S10.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Senin (25/02/2019), untuk jajaran Samsung Galaxy S10 pihak Samsung akan memberi potongan harga sebesar 8% kepada guru dan pelajar.

Untuk mendapatkan diskon tersebut, baik siswa maupun guru harus memiliki alamat email edu. yang valid, sebelum dapat mendaftar program Diskon Siswa dan Guru Samsung. Nantinya dari program tersebut, mereka bisa mendapat potongan harga hingga 40% saat membeli perangkat di laman Samsung.com.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, diskon ini hanya dapat diperoleh saat membeli produk melalui situs web Samsung sendiri. Jika Anda berencana membeli Galaxy S10 dari toko retail, Anda akan kurang beruntung.

{Baca juga: Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat}

Untuk Galaxy S10, pihak samsung menawarkan diskon 8% untuk ketiga model yang ada. Anda juga dapat mengambil keuntungan dari potongan harga ini dan mendapatkan kesepakatan pre-order Samsung untuk Galaxy S10 yang menyediakan sepasang Galaxy Buds gratis kepada pelanggan yang melakukan pre-order flagship terbaru perusahaan.

Sebelumnya, Samsung resmi meluncurkan trio  smartphone flagship-nya, termasuk Samsung Galaxy S10, Galaxy S10+, dan Galaxy S10e dalam event khusus bertajuk “Galaxy Unpacked 2019” di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, California, Amerika Serikat, Rabu (20/2/2019) waktu setempat.

{Baca juga: Trio Samsung Galaxy S10 Resmi Diperkenalkan}

Sesuai banyak bocoran sebelumnya yang banyak beredar, suksesor Samsung Galaxy S9 ini mengusung desain, teknologi serta fitur yang benar-benar berbeda. Seperti layar misalnya, Samsung mengimplementasikan desain Infinity O pada ketiga smartphone barunya. Khusus untuk Samsung Galaxy S10 standar dan S10+, perusahaan asal Korea Selatan ini menggunakan layar yang melengkung di sisi kiri dan kanannya. [NM/IF]

Inikah Sony Xperia Terbaru yang Bakal Rilis di MWC 2019?

0

Telko.id, Jakarta – Sony dilaporkan bakal ikut meramaikan ajang Mobile World Congress (MWC) tahun ini. Usut punya usut, perusahaan asal Jepang ini akan memperkenalkan seri terbaru  dari Sony Xperia.

Dilansir Telko.id dari GSMArena pada Senin (25/02/2019), ada 4 rumor yang muncul terkait empat smarpthone Sony tersebut. Walaupun bukan dari informasi resmi pihak Sony, tetapi rumor ini tampaknya patut kita simak sebelum peluncuran benar-benar terjadi.

Panjang Layar 

Sony memakai merek dagang moniker CinemaWide untuk tampilan smartphone miliknya. Konon katanya,  tampilan layar memiliki bentuk memanjang dengan rasio 21: 9 dan menggunakan POLED. Sayang, pemindai sidik jari akan tetap berada di samping, dan bukannya di layar.

Tiga ponsel dengan Nama Baru

Kabar lainnya adalah adanya 3 ponsel yang memiliki nama baru. Secara logika, jika penerus
Sony Xperia XZ3 seharusnya bernama Xperia XZ4 atau Xperia XZ3 Premium, banyak rumor menunjukkan bahwa seri terbaru akan bernama Sony Xperia 1.

{Baca juga : Sony Xperia XZ4 Punya Kamera 52 Megapiksel?}

Selain Xperia X1, seri XA juga tak luput dar perhatian. Dimana kehadirannya sangat diharapkan sebagai bagian dari perayaan 10 tahun smartphone seri Xperia, yaitu Sony Xperia 10 dan Xperia 10 Plus. Selain itu, ada  juga harapan terkait kehadiran ponsel terjangkau bernama Sony Xperia L3.

Kamera dan Chipset

Sony biasanya meluncurkan smartphone Xperia teranyarnya di acara tahunan MWC dengan chipset Qualcomm terbaru dan kabarnya hal itu akan terjadi juga tahun ini. Sony juga siap dengan pengaturan tiga kamera di bagian belakang, yang akan menjadi kali pertama bagi pabrikan Jepang tersebut.

Kabarnya, Xperia 10 dan 10 Plus kemungkinan akan datang dengan Snapdragon 630 dan Snapdragon 660, masing-masing. RAM bisa 3 GB atau 4 GB, dengan penyimpanan hanya 64 GB. Sebagai tambahan, kedua perangkat akan memiliki slot microSD.

{Baca juga: Duo Sony Xperia XZ2 Terima Update Android 9 Pie}

Harga dan Ketersediaan

Rumor lainnya adalah terkait harga, dimana Sony dikabarkan akan membanderol Xperia XZ4 di harga €950 atau Rp 15,1 jutaan. Sementara untuk Sony Xperia XA3, rumor beredar akan dibanderol di harga €350 atau Rp 5,5 juta. Sony Xperia L3 sesuai segmentasinya, dijual di harga terjangkau sekitar €200 atau Rp 4,7 juta.

Sekali lagi, ini baru rumor, yang kebenarannya baru bisa kita buktikan saat pihak Sony benar-benar mengumumkan smartphone terbarunya ajang di MWC 2019. [NM/IF]

Alcatel Kenalkan Teknologi untuk Ponsel Layar Lipat, Seperti Apa?

0

Telko.id, JakartaAlcatel tak mau ketinggalan untuk ikut bergabung ke ranah ponsel lipat dan menggunakan panel layar fleksibel di perangkatnya. Sejumlah teaser dari teknologi besutannya, Dragonhinge, yang mulai wara-wiri menjadi bukti.

Teknologi tersebut memungkinkan panel layar fleksibel terlipat tanpa merusak komponen internal. Menurut siaran pers, Alcatel ingin Dragonhinge ada di rangkaian ponsel berdesain lipat miliknya, termasuk perangkat yang juga berfungsi sebagai tablet.

Dilansir Gizmodo, informasi serupa juga diunggah oleh Evan Blass, yang menampilkan petunjuk terkait sejumlah perangkat yang difoto oleh Alcatel dalam posisi berbeda.

{Baca juga: Huawei Mate X, Ponsel Layar Lipat 5G Pesaing Galaxy Fold}

Mengingat yang diumumkan Alcatel adalah teknologi, dan bukannya ponsel, maka perangkat pada foto ini pun  masih merupakan perangkat konsep dan bukan perwakilan perangkat konsumen yang sebenarnya.

Sayang, berdasarkan gambar yang diunggah Blass via akun Twitter miliknya tersebut, sejumlah pihak menilai desain yang diusung perangkat tidak menarik. Permasalahan utama yang dikeluhkan masyarakat adalah ukuran engsel yang dinilai terlalu besar sehingga menyisakan celah cukup lebar.

Celah ini menjadikan tampilan perangkat kurang menarik jika dibandingkan perangkat karya perusahaan asal Tiongkok bertajuk Royole Flexpai. Kedua sisi perangkat tidak simetris, menyisakan bagian layar cukup besar yang tidak terlindung.

{Baca juga: LG Masih “Galau” akan Rilis Ponsel Layar Lipat}

Saat dibentangkan sebagai tablet, perangkat ini hadir dengan tampilan lebih menarik serupa tablet karya produsen ponsel lipat lainnya. Salah satunya menawarkan tampilan eksterior serupa dengan Galaxy Fold.

Hingga saat ini, masih belum diketahui pasti apakah desain yang diusung perangkat merupakan desain akhir atau tidak Namun berbagai pihak berharap desain masih akan mengalami perubahan dan akan hadir dengan celah antara engsel yang lebih sempit dari desain saat ini. [BA/IF]

Keukeh, Microsoft Tetap Sasar Militer untuk HoloLens 2

0

Telko.id, JakartaMicrosoft resmi memperkenalkan HoloLens 2. Ada dua hal yang dijanjikan perusahaan dari generasi terbaru perangkat Mixed Reality buatannya itu, lebih nyaman dan mudah digunakan serta memiliki visualisasi lebih baik.

Menurut laporan Engadget, HoloLens 2 dibanderol dengan harga USD 3.500 atau sekitar Rp 49 jutaan. Ketika menggunakan headset ini, pengguna akan melihat gabungan antara dunia nyata dengan gambar virtual.

Sebagai contoh, ketika sedang memperbaiki sesuatu, pengguna bisa melihat cara untuk memperbaikinya. Atau, pengguna bisa melihat panah penunjuk arah ketika sedang berjalan.

{Baca juga: Karyawan Microsoft Protes Proyek Headset AR untuk Militer AS}

Microsoft adalah perintis teknologi Augmented Reality ketika memperkenalkan HoloLens pertama pada 2015 silam. Ketika itu, mereka membandrolnya USD 5.000 atau Rp 70 jutaan. Harga yang ditawarkan HoloLens ini terhitung sangat mahal jika dibandingkan dengan headset Virtual Reality buatan para pesaing.

Sebagai perbandingan, Oculus Rift dihargai USD 349 atau Rp 4,9 juta, HTC Vive membawa banderol harga USD 499 atau Rp 7 juta, sedangkan Sony PlayStation VR memiliki harga USD 299 atau Rp 4,2 juta.

Memang, untuk menggunakan headset seperti HTC Vive, pengguna harus membeli komputer high-end. Meskipun begitu, total uang yang harus dikeluarkan tetap lebih murah ketimbang HoloLens.

{Baca juga: HTC Vive Pro McLaren Edition, Headset VR Penggila F1}

Apakah Microsoft berhenti mengembangkan HoloLes? Nyatanya tidak. Raksasa teknologi ini memilih tetap  memperbarui headset tersebut. Namun demikian, mereka tidak menyatakan HoloLens sebagai perangkat konsumen. Terbukti dari target pasarnya, dimana mereka menyasar perusahaan dan militer. Yep, Microsoft sepertinya tidak peduli meski banyak pegawainya merasa cukup keberatan dan melakukan protes.

“Komputer kini tertanam di semua hal dalam dunia kita. Masa depan sudah nyata,” kata CEO Microsoft, Satya Nadella, ketika memperkenalkan HoloLens 2 pada Mobile World Congress 2019 di Barcelona. [BA/IF]

Ikuti Tren, LG Luncurkan V50 ThinQ dengan Jaringan 5G

0

Telko.id, Jakarta – LG mengikuti tren dan perkembangan zaman dengan menjadikan jaringan 5G sebagai fokus utama. Di ajang Mobile World Congress (MWC) Barcelona 2019, perusahaan asal Korea Selatan ini pun memperkenalkan handset teranyarnya, V50 ThinQ yang memiliki kemampuan 5G.

Dilansir Telko.id dari GSMArena pada Senin (25/02/2019), kehadiran V5 ThinQ juga dibarengi dengan smartphone andalan lain semisal G8 ThinQ dan G8s ThinQ. Smartphone pertama menjanjikan kekuatan jaringan yang cepat, mengingat ini adalah ponsel pertama LG dengan jaringan 5G yang dibekali chipset Snapdragon 855, lengkap dengan Modem Qualcomm X50 di badannya. Konon, ini menjanjikan 20 kali kecepatan 4G.

Sekilas, LG V50 ThinQ mirip dengan pendahulunya, LG V40 ThinQ. Ini karena handset memiliki tampilan layar OLED FullVision 3120x1440px dengan luas 6,4 inci. Kesamaan juga terlihat dari segi kamera, dimana di bagian depan V50 memiliki dua kamera dengan resolusi masing-masing 8 MP dan 5 MP.

{Baca juga: Smartphone LG Generasi Ketujuh Seri G Bakal Meluncur Awal Mei}

Di bagian belakang ada 3 kamera dengan spesifikasi 12 MP dengan bukaan f/1,5 standar, lalu 12MP dengan bukaan f/2,4 telephoto. Kamera ketiga memiliki resolusi 16MP dengan bukaan f/1,9 ultra-wide.

Dari segi baterai, LG V50 ThinQ 5G telah memperoleh baterai 20% lebih besar dari pendahulunya, dengan 4.000 mAh. Ada juga speaker stereo, Hi-Fi Quad DAC 32-bit, Radio FM dan body yang sesuai dengan MIL-STD 810G.

Sayangnya, LG tidak menyematkan sidik jari dalam layar di badan V50 ThinQ, seperti halnya smartphone papan atas saat ini. Tetapi sebagai gantinya, LG memasang pemindai sidik jari di bagian belakang dan pemindai wajah selfie di kamera bagian depan.

Tak hanya 5G, LG juga sepertinya tak ingin ketinggalan untuk ikut terjun ke ranah ponsel lipat. Tapi cara yang digunakan cukup unik. Alih-alih membuat ponsel layar lipat, LG mendukung V50 ThinQ dengan aksesoris layar ganda dengan tampilan layar OLED 6,2 inci,  2160x1080px yang terhubung ke perangkat melalui pin pogo di punggungnya.

http://telset.id/

Masih di ajang MWC 2019, LG juga meluncurkan G8 ThinQ dan G8s ThinQ. Keduanya datang dengan Snapdragon 855 dengan RAM 6GB tanpa modem 5G.  LG G8 ThinQ memiliki layar OLED 6,1 inci 3120x1440px dengan baterai 3.500mAh, lengkap dengan tiga buah kamera di badannya, dengan resolusi masing-masing  12MP untuk lensa standar, 12MP telefoto dan 16MP ultrawide triple camera.

{Baca juga: LG Akan Perkenalkan 4 Smartphone LG K Series Di CES 2017}

LG G8s ThinQ memiliki layar OLED 6,2 inci dengan resolusi 2248x1080px dan baterai 3.550mAh. LG G8s ThinQ juga memiliki tiga kamera yang terdiri dari 12MP standar, 12MP telefoto dan 13MP kamera ultrawide.

Untuk kamera depan, LG G8 ThinQ dan LG G8s ThinQ datang dengan kamera selfie 8MP dan kamera 3D Time of Flight (ToD) yang dapat membaca ketebalan dan karakteristik lain dari pembuluh darah di telapak tangan Anda untuk membuka kunci ponsel.

Kamera 3D juga digunakan untuk membuka kunci Wajah yang lebih aman yang tidak akan dibodohi dengan foto dua dimensi wajah Anda. Anda juga dapat mengontrol LG G8 ThinQ melalui gerakan udara yang disebut Air Motion.

Melambaikan tangan akan memungkinkan untuk melakukan panggilan, menambah dan mengurangi volume atau mengambil tangkapan layar saat Anda sedang mengemudi. LG V50 ThinQ 5G akan datang dalam warna Aurora Black tunggal, sedangkan G8 ThinQ akan datang dalam Carmine Red, New Aurora Black dan New Moroccan Blue. [NM/IF]

Xiaomi Ungkap Harga Mi 9 di MWC, Berapa?

0

Telko.id, Jakarta – Xiaomi tidak langusng mengumumkan harga penjualan global untuk Xiaomi Mi 9 usai meluncurkan smartphone flagship tersebut pada 20 Februari 2019 lalu. Tetapi di ajang teknologi Mobile World Congress (MWC) di Barcelona hari ini, pabrikan asal China itu mengumumkan jika Xiaomi Mi 9 dibandrol dengan harga USD 510 atau sekitar Rp 7,1 juta.

Dilansir Telko.id dari PhoneArena pada Senin (25/02/2019), harga tersebut diperuntukkan bagi versi RAM 6 GB dan penyimpanan internal 64GB. Sedangkan untuk versi RAM  6 GB dan penyimpanan internal 128 GB dibandrol dengan harga USD 566 atau Rp 7,9 juta.

Pemesanan pun dibuka pada Minggu (24/02/2019) lalu di website resmi perusahaan, Mi.com.

Seperti diketahui, Xiaomi telah secara resmi merilis smartphone flagship terbarunya, Mi 9 di Beijing, China, Rabu (20/2/2019) lalu. Tepatnya pukul 14.00 waktu Beijing.

{Baca juga: Glossy dengan Tiga Kamera, Begini Tampang Xiaomi Mi 9}

Mi 9 hadir dengan layar AMOLED berukuran 6,39 inci dengan resolusi FHD+ dengan Gorilla Glass 6 sebagai perlindungan layar. Ada notch kecil di bagian tengah atas layarnya untuk kamera selfie. Dibekali dengan prosesor octa-core Snapdragon 855, smartphone ini hadir dengan tiga varian RAM, yaitu 6GB, 8GB dan 12GB dengan dua varian memori internal, yaitu 128GB dan 256GB. Sayangnya Mi 9 tak dilengkapi dengan slot microSD.

Di bagian kamera, Mi 9 hadir dengan tiga kamera belakang dengan kamera utama beresolusi 48 MP dengan aperture f/1.75, lensa telephoto 12MP dan lensa wide angle 16MP dengan aperture f/2.2. Kamera Mi 9 ini dibekali fitur Artificial Antelligence (AI), termasuk di dalamnya mode Moon Mode yang dapat mengambil foto bulan dengan baik. Sementara untuk kamera depan, Mi 9 dibekali kamera selfie beresolusi 20MP.

{Baca juga: Setelah Xiaomi Mi 9, Giliran Black Shark 2 Nongol di Weibo}

Mi 9 menggunakan antarmuka MIUI 10 berbasis Android 9.0 Pie dan dibekali baterai berkapasitas 3.300 mAh yang didukung 20W wireless charging. Tak tanggung-tanggung, varian khusus Mi 9 ini hadir dengan casing transparan yang mirip Mi 8 Explorer Edition. Mi 9 hadir dengan dua pilihan warna menarik dan stylish, yaitu Lavender Violet dan Ocean Blue. {NM/IF]

Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat

0

Telko.id, Jakarta – Dua smartphone lipat yang ditunggu kehadirannya akhirnya muncul di tahun ini. Samsung Galaxy Fold yang diperkenalkan di “Galaxy Unpacked 2019”, dan Huawei Mate X yang melanggang manis di acara Mobile World Congress (MWC) 2019.

Keduanya sama-sama disematkan sejumlah teknologi terbaru, termasuk dengan memadukan konsep desain tablet dan smartphone menjadi satu kesatuan.

Nah, tentu menarik untuk membandingkan kedua smartphone itu. Oleh karenanya, dalam tulisan kali ini tim Telko.id, akan mencoba melakukan compare dua smartphone lipat, Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X.

{Baca juga: Huawei Mate X, Ponsel Layar Lipat 5G Pesaing Galaxy Fold}

Kami akan membandingkan soal desain (termasuk ukuran layar), spesifikasi, dan juga harganya. Yuk simak!

Desain

Meski sama-sama mengadopsi teknologi layar fleksibel yang bisa dilipat, keduanya sebenarnya mengusung desain yang berbeda bak langit dan bumi. Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.

Sementara Huawei Mate X, didesain agar layarnya dapat dilipat ke luar. Ketika dilipat, layar bagian depan berukuran 6,6 inci dan aspek rasio 19,5 : 9 akan aktif, sementara layar yang berada di bagian belakang dengan ukuran 6,38 inci dan aspek rasio 25 : 9 akan mati.

Menurut phoneArena, dilansir Telko.id pada Senin (25/02/2019), penggunaan desain Mate X bisa dibilang lebih baik daripada Galaxy Fold. Sebab, smartphone jadi terlihat lebih ramping dan menjadikannya memiliki rasio layar terhadap body yang jauh lebih besar ketika berada di mode lipat.

{Baca juga: Menakjubkan! Ini Hasil Lima Kamera Nokia 9 PureView}

Berbicara soal layarnya, Huawei Mate X juga lebih unggul. Smartphone ini mengusung layar berjenis AMOLED berukuran 8 inci dengan resolusi 2480 x 2200 piksel, dan tanpa notch atau poni.

Sementara Samsung Galaxy Fold, hanya mengandalkan layar berukuran 7,3 inci berjenis AMOLED dengan resolusi 1536 x 2152 piksel, dan memiliki notch atau poni di sudut layarnya.

Meski demikian, penggunaan notch sebagai tempat bagi frame kamera ketika berada di mode tablet pada Galaxy Fold bisa menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki Mate X. Itu karena, smartphone itu bisa memungkinkan pengguna melakukan video call dalam mode layar penuh.

{Baca juga: Harga Samsung Galaxy Fold Nyaris Rp 30 Juta!}

Sementara Mate X, hanya dapat digunakan untuk video call atau aktivitas lainnya ketika smartphone dilipat. Semuanya memang tergantung Anda, apakah ingin tampilan bersih tanpa notch atau tampilan yang “sedikit terganggu” dengan hadirnya notch pada mode tablet.

Spesifikasi

Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh. Sementara Huawei Mate X ditenagai oleh prosesor Kirin 980 yang juga berbasis 7nm, RAM 8 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,500 mAh.

Di sini terlihat, bahwa Huawei Mate X dilengkapi dengan baterai yang lebih besar. Tapi sayang, dengan penggunaan layar yang lebih besar juga, tampaknya baterai berkapasitas 4,500 mAh menjadi “terlihat tidak memuaskan”.

Sementara Galaxy Fold, memiliki RAM yang lebih besar, yang tentunya berdampak pada pengalaman penggunaan yang jauh lebih smooth. Tapi secara keseluruhan, kedua perangkat tampaknya memang memiliki baterai yang “kurang maksimal” jika melihat dari ukuran layarnya dan banyaknya fitur yang disematkan di dalamnya.

Harga

Samsung Galaxy Fold dilepas dengan harga USD 1880 atau setara dengan Rp 26,3 jutaan. Mahal? Pastinya. Tapi jika melihat harga Huawei Mate X yang mencapai hampir USD 2600 atau Rp 36,4 jutaan, tampaknya harga Galaxy Fold “terlihat begitu murah”.

Memang semuanya tergantung dari Anda sendiri, apakah ingin membeli Galaxy Fold dengan harga yang lebih murah, atau Huawei Mate X yang jauh lebih mahal namun memiliki beberapa keunggulan. Tapi perlu diingat, ketika Anda mulai memutuskan, Anda harus melihat beberapa hal terlebih dahulu sebelum membeli salah satu diantara keduanya.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10 vs iPhone XS: Adu Kuat Flagship “Zaman Now”}

Pertama, kebutuhan. Apakah perangkat yang Anda pilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehari-hari atau tidak. Kedua, daya tahan engsel ketika terus-menerus dilipat dan dibuka. Dan terakhir, apakah smartphone lipat tersebut bisa menggantikan fungsi dari smartphone yang Anda gunakan sebelumnya atau tidak.

Menutup perbandingan ini, berikut kami lampirkan tabel spesifikasi dari Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X:

Menakjubkan! Ini Hasil Lima Kamera Nokia 9 PureView

0

Telko.id, Jakarta – Nokia 9 PureView resmi melenggang di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Spanyol. Smartphone ini seakan telah melampaui semua brand smartphone sekarang, lewat penggunaan teknologi 5 kamera pertama di dunia sebagai daya tarik utamanya.

Ya, ketika smartphone lain masih mengadopsi dua atau tiga, dan maksimal empat kamera, HMD Global sebagai pemegang lisensi merek Nokia langsung membuat perbedaan dengan menghadirkan smartphone lima kamera.

Kelima kamera tersebut masing-masing memiliki sensor 12MP dengan lensa Zeiss dan aperture f/1.8. Dua lensa mengusung konfigurasi lensa RGB, sedangkan tiga sisanya merupakan lensa monokrom.

{Baca juga: Nokia 9 PureView, Ponsel 5 Kamera Pertama di Dunia}

Sebenarnya ada kamera keenam pada smartphone ini, yakni lensa ToF untuk membantu kamera utama mendapatkan informasi kedalaman pada foto. Melengkapi konfigurasi itu, terdapat dual-tone LED Flash untuk membantu kamera mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan lima kamera utama smartphone ini benar-benar memiliki kemampuan fotografi yang lebih unggul daripada kompetitor lainnya?

Well, seperti dilansir Telko.id dari GSMArena, Senin (25/02/2019), ada beberapa sampel foto yang diambil dari kamera Nokia 9 PureView untuk memperlihatkan bagaimana kualitas sebenarnya dari lima kamera smartphone ini. Berikut foto-fotonya:

Dari foto-foto tersebut, bisa ditarik sedikit kesimpulan bahwa kamera Nokia 9 PureView benar-benar mampu menghasilkan foto dengan detail, komposisi warna, dan kualitas yang benar-benar menakjubkan. Khususnya, ketika smartphone digunakan untuk memotret pemandangan secara landscape tanpa bantuan lensa ultra-wide atau telephoto.

{Baca juga: Berkualitas! Ini Hasil Foto Smartphone Oppo dengan 10x Lossless Zoom}

Berkat kehadiran tiga lensa monokrom, Nokia 9 PureView juga tidak hanya mumpuni mengambil foto B&W, tapi juga memungkinkan pengguna memotret di kondisi low-light dengan sangat baik. Sebab, HMD mengklaim bahwa tiga lensa ini dapat menangkap 10 kali lebih banyak cahaya daripada hanya menggunakan satu lensa monokrom saja.

Secara spesifikasi, Nokia 9 PureView mengusung layar OLED berukuran 5,99 inci dengan resolusi QHD+ (1440 x 2880 piksel). Layarnya juga mendukung teknologi sensor sidik jari di bawahnya, meski bukan ultrasonik seperti pada Samsung Galaxy S10 atau S10+.

{Baca juga: Performa Galaxy S10+ Masih Kalah dari iPhone XS}

Di sektor dapur pacunya, digunakan prosesor Snapdragon 845, RAM 6 GB, ROM 128 GB, baterai berkapasitas 3,320 mAh dan sistem operasi berbasis Android One.

HMD melepas Nokia 9 PureView diharga USD 699 atau sekitar Rp 9,8 juta. Rencananya smartphone ini akan resmi meluncur pada bulan Maret mendatang. (FHP)