spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1346

Yeay! Samsung Galaxy S10 Sambangi 70 Negara, Termasuk Indonesia

0

Telko.id, Jakarta – Setelah resmi diperkenalkan secara global pada awal Maret lalu – tepatnya di San Fransisco, Amerika Serikat, Samsung akhirnya resmi membawa flagship teranyarnya ke lebih banyak negara. Tak tanggung-tanggung, sekitar 70 negara disebut-sebut didatangi trio Samsung Galaxy S10, termasuk Kanada, India, Cina, dan seluruh Eropa

Dilaporkan GSMArena, Minggu (9/3/2019), negara-negara tersebut awalnya membuka penjualan dengan pre-order, baik Galaxy S10 +, S10 maupun S10e, namun kini ketiganya sudah bisa ditemukan di toko-toko baik online maupun offline.

Hingga akhir bulan, setidaknya 130 negara dijadwalkan akan menerima kadatangan Samsung Galaxy S10 versi 4G, sementara versi 5G sendiri baru akan melantai akhir tahun ini.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10 vs iPhone XS: Adu Kuat Flagship “Zaman Now”}

Di Indonesia, peluncuran perdana ketiga flagship sendiri digelar pada 8-10 Maret 2019. Samsung menggelarnya di empat titik secara serentak, yakni Central Park Mall, Jakarta Barat; Kota Kasablanka Mall, Jakarta Selatan; Pakuwon Mall, Surabaya; dan Sun Plaza, Medan.

Sejumlah penawaran menarik pun diberikan Samsung Electronics Indonesia bagi calon pembeli. Untuk pembelian perdana Galaxy S10 dan S10+ misalnya, akan mendapatkan bundling promo Galaxy Buds, sementara pembelian Galaxy S10e akan mendapatkan bundling promo JBL Flip 3.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10 Disiksa dan Dibakar, Bisa Selamat?}

Tambahan menarik bagi pembelian perdana maupun pembelian trade in yaitu cashback hingga Rp 750.000 dan program cicilan 0% hingga 18 bulan melalui bank yang telah menjadi mitra Samsung.

Lain di Indonesia, lain di Taiwan. Di negara yang beribukota di Tapei ini, Samsung bahkan disebut-sebut kebanjiran pesanan, dengan Samsung Galaxy S10+ menjadi tokoh utamanya. Menurut laporan Digitimes, pre-order seri tersebut mencapai 60%, sementara sisanya dibagi antara S10 dan S10e, masing-masing 30% dan 10%.

Bagi Anda yang penasaran dengan smartphone teranyar Samsung ini, di bawah ini kami memiliki video ulasannya.

 

Gokil! Korea Utara Diduga Hasilkan Triliunan dari Peretasan

Telko.id, Jakarta – Korea Utara telah memperoleh sekitar USD 670 juta atau setara Rp 9.4 Triliun dalam bentuk mata uang virtual dan fiat, dalam upayanya mengatasi sanksi ekonomi yang diberlakukan sebagai akibat dari program nuklir dan misilnya.

Dilaporkan Nikkei, mengutp panel ahli yang melapor ke Dewan Keamanan PBB, tetangga Korea Selatan itu mengumpulkan dana melalui serangan dunia maya, yang dalam hal ini sebagian besar dilakukan oleh korps khusus dalam militer negara.

Dalam laporannya, panel merekomendasikan agar negara-negara anggota PBB “meningkatkan kemampuannya untuk memfasilitasi pertukaran informasi yang deras terhadap serangan cyber oleh Republik Rakyat Demokratik Korea, baik dengan pemerintah lain ataupun lembaga keuangan mereka sendiri.”

{Baca juga: Korea Utara Diduga Retas Data Pribadi 997 Pembelot}

Tak tanggung-tanggung, terkait serangan siber ini, Korea Utara disebut-sebut telah melakukan serangan terhadap lembaga keuangan asing selama tiga tahun, terhitung sejak 2015 hingga 2018. Negara yang dipimpin Kim Jong Un ini juga diperkirakan telah berhasil menargetkan pertukaran mata uang digital Asia setidaknya lima kali dari Januari 2017 hingga September 2018. Kerugian diperkirakan mencapai USD 571 juta atau sekitar Rp 8 Triliun.

Masih menurut panel, seperti dilansir dari TNW, Minggu (9/3/2019), mata uang virtual disebut telah membantu Korea Utara dalam menemukan lebih banyak cara untuk menghindari sanksi, mengingat itu lebih sulit untuk dilacak, dapat dicuci berkali-kali dan independen dari peraturan pemerintah.

{Baca juga: Korea Utara Manfaatkan Google Play untuk Cari Pengkhianat}

Sementara itu, Marine Chain, sebuah perusahaan yang menggunakan teknologi blockchain untuk bisnis jual beli kapal di seluruh dunia juga diduga memasok cryptocurrency ke pemerintah Korea Utara. Marine Chain yang berbasis di Hongkong sendiri kini dinytakan telah ‘mati’.

Wow! Kamera Ini Bisa Deteksi Pencuri, Bahkan Sebelum Beraksi

Telko.id, Jakarta – Sebuah teknologi kamera dikembangkan di negeri Sakura, Jepang. Teknologi tersebut memungkinkan kamera mengenali pencuri, bahkan sebelum mereka melakukan aksinya. Kok bisa?

Caranya dengan membaca gerak-gerik pencuri.

Dilansir Telko.id dari The Sun pada Jumat (08/03/2019), kamera keamanan ini sudah banyak dipasang pada pertokoan di Tokyo, Jepang. Nantinya kamera akan mengawasi perilaku pencuri yang tidak biasa, gelisah dan mengingatkan pegawai toko terhadap pencuri tersebut melalui aplikasi smartphone.

Pegawai dapat mendekati pencuri tersebut dan bertanya kepada mereka apakah mereka membutuhkan bantuan. Tindakan ini merupakan taktik jitu untuk mencegah pencuri beraksi di toko.

Perlu diketahui, alat dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) ini dibangun oleh para insinyur di startup Jepang bernama Vaak. Pendiri Vaak, Ryo Tanaka, mengatakan kepada Bloomberg bahwa teknologi itu merupakan inovasi untuk mencegah kejahatan.

{Baca juga: Two-Factor Authentication Facebook Ancam Keamanan Data Pengguna?}

“Ini langkah penting dan lebih dekat ke masyarakat di mana kejahatan dapat dicegah dengan AI. Sistem ini dapat dimuat ke dalam kamera keamanan yang ada dan melihat melalui rekaman secara real-time,” tutur Tanaka.

Tidak hanya mendeteksi perilaku, teknologi yang ditawarkan Vaak juga dapat melacak pergerakan Anda di sekitar toko, mencatat jenis kelamin Anda, perkiraan usia, barang favorit dan banyak lagi.

Tahun lalu, sistem itu digunakan untuk  melacak seseorang yang telah mengutil dari sebuah toko di Yokohama. Perusahaan yang menggunakan teknologi Vaak telah meminta perusahaan untuk tidak mengungkapkan toko mana yang menggunakan sistem karena alasan keamanan.

{Baca juga: Jepang Bikin Medali Olimpiade 2020 dari Ponsel Bekas}

Perusahaan itu sekarang siap untuk menjual perangkat lunak ke pihak lain meskipun tidak jelas apakah itu artinya akan berupa ekspansi ke Inggris. Namun, Vaak mungkin akan kesulitan untuk mengimplementasikan sistemnya ke toko-toko jalanan di Inggris, karena peraturan Uni Eropa tentang penyimpanan data. [NM/IF]

3 Kelebihan Pop-up Camera Vivo V15, Nomor 3 Berasa Ada di Masa Depan

0

Telko.id – Smartphone terbaru Vivo, yakni Vivo V15 merupakan salah satu smartphone yang berhasil menarik perhatian publik Indonesia. Bagaimana tidak, acara perkenalan dari smartphone ini bahkan diselenggarakan di sebuah taman air mancur terbesar se-Asia Tenggara, yakni Taman Wisata Air Sri Baduga Purwakarta, Jawa Barat.

Bukan cuma acara perkenalannya saja, Vivo V15 pun menawarkan banyak teknologi dan fitur baru di dalamnya, yang membuatnya seolah “sangat worth to buy” dengan harganya yang mencapai Rp 4,3 jutaan.

Salah satu teknologi baru yang dibawanya adalah Pop-up Camera, yang diprediksi akan menjadi tren desain pada smartphone di masa mendatang. Perlu diketahui, teknologi ini pertama kali dipamerkan Vivo pada seri Vivo NEX, yang merupakan seri flagship.

Nah, dalam tulisan kali ini, tim Telko.id akan membahas soal Pop-up Camera Vivo V15. Dalam bahasan ini, kami bakal merangkum 3 keunggulannya yang bisa dirasakan oleh para pengguna. Check this out!

Layar Bebas Tompel

Smartphone masa kini seolah “terpaku” dengan desain yang itu-itu saja. Seperti penggunaan desain layar memanjang dengan bezel cukup tebal di bagian atas dan bawahnya. Kemudian desain layar berponi atau menggunakan notch, sampai layar bertompel atau layar dengan adanya lubang kamera depan di bagian atasnya.

Namun, Vivo berani memberikan hal berbeda sekaligus memberikan solusi untuk memperluas layar sebesar mungkin dalam body yang kompak. Lewat Vivo V15 yang diresmikan di Indonesia, brand asal China ini mengandalkan Pop-up Camera.

Sekadar informasi, teknologi ini merupakan teknologi kamera mekanik yang hanya akan muncul dari dalam body smartphone ketika kamera depan digunakan, dan terbukti sukses memaksimalkan rasio layar terhadap body smartphone.

Vivo V15 sendiri mengusung layar berukuran 6,53 inci dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340 piksel) dan telah dilapisi oleh Corning Gorilla Glass 5. Rasio layar terhadap body-nya juga sudah mencapai 90,95%.

Apabila dibandingkan dengan smartphone berdesain kompak dengan bezel tebal seperti iPhone 6 Plus dengan layar berukuran 5,5 inci, ukurannya pun tak jauh berbeda daripada smartphone Apple tersebut.

Lantas, apa keuntungan dari layar yang berukuran besar? Tentu saja akan berdampak pada meningkatnya pengalaman penyajian konten yang jauh lebih baik bagi penggunanya. Layar Vivo V15 juga dapat memberikan tampilan warna yang lebih detail, serta mampu menyajikan konten video atau game bergrafis tinggi dengan baik.

Lebih Beda dan Canggih

Pop-up Camera juga membuat Vivo V15 menjadi terlihat jauh lebih canggih dan berbeda daripada smartphone lain di kelasnya. Satu alasannya, berkat teknologi ini smartphone tersebut langsung menyandang predikat sebagai smartphone pertama di dunia dengan teknologi 32MP Pop-up Camera.

Ya, ada kamera depan 32MP di Vivo V15! Besarnya resolusi kamera tersebut juga ditopang oleh bukaan f/2.0 dan dukungan berbagai fitur di dalamnya. Seperti HDR, dan fitur berbasis Artificial Intelligence (AI).

Ada sejumlah fitur berbasis AI pada 32MP Pop-up Camera Vivo V15. Sebut saja, AI Face Beauty yang dapat “memperbaiki” wajah pengguna saat selfie seperti mempercerah dan memperhalus wajah, meniruskan wajah, memperbesar mata, dan lainnya.

Kemudian, ada juga AI Portrait Lighting, sampai fitur Smart Framing untuk membuat pengguna dapat mengambil foto selfie dengan kualitas jernih dan detail yang baik. Canggih dan beda kan?

Cocok Buat Pamer

Sama seperti smartphone flagship dengan harga belasan juta Rupiah, Vivo V15 juga bisa jadi sarana pamer bagi penggunanya. Alasan terkuatnya adalah, berkat adanya Pop-up Camera.

Selain terlihat beda dan canggih karena resolusinya mencapai 32MP aperture f/2.0, ternyata Pop-up Camera juga punya efek suara khas dan terdengar kece ketika diaktifkan.

Ada tiga efek suara yang bisa dipilih oleh pengguna, yaitu Sci-Fi yang menyuguhkan suara dari “masa depan”, kemudian Machine yang menyajikan suara ala teknologi mekanik dari robot atau sejenisnya, dan Rhythm yang memberikan suara bernuansa tenang.

Jujur, kami lebih memilih suara Sci-Fi karena membuat smartphone ini seolah terlihat sebagai perangkat dari masa depan yang punya desain berbeda, teknologi baru, dan dikemas secara berkualitas.

Selain itu, pengguna juga dapat memamerkan bentangan layarnya yang lebih luas tanpa terganggu adanya poni seperti smartphone kebanyakan, atau tompel layaknya smartphone flagship yang baru-baru ini dirilis, dan “gangguan” lainnya.

Secara spesifikasi, Vivo V15 juga sudah dibekali dengan spesifikasi mumpuni di dalamnya. Smartphone tersebut ditopang oleh prosesor MediaTek Helio P70 octa-core 2.1 GHz, RAM 6 GB, dan ROM 64 GB yang bisa diperluas hingga 256 GB melalui microSD.

Vivo V15 juga ditenagai oleh baterai berkapasitas 4,000 mAh yang didukung oleh teknologi Dual Engine Fast Charging, dan sistem operasi FunTouch 9 berbasis Android Pie.

Vivo V15 sudah dapat dipesan per 5 Maret 2019 melalui pre-order di e-commerce dan Vivo Store. Selama masa pre-order (5 – 11 Maret 2019), Vivo Official Store mengadakan promo spesial di beberapa e-commerce besar Indonesia, yaitu Akulaku, JD.ID, Lazada, Shopee, Blibli, dan Tokopedia yaitu 100% Cashback untuk pelanggan beruntung yang telah menyelesaikan pembelian Vivo V15 serta Gift Box spesial senilai Rp 1.000.000. (FHP)

Perusahaan ASEAN Diminta Pakai Software Berlisensi, Kenapa?

Telko.id, Jakarta – Penggunaan software tanpa lisensi masih umum terjadi di kalangan perusahaan maupun sektor IT di Indonesia dan Kawasan ASEAN. Padahal, penggunaan software tanpa lisensi ini dapat menimbulkan risiko keamanan, bisnis dan hukum yang serius bagi perusahaan serta industri yang menerapkannya.

Untuk mengatasi hal ini, BSA Software Alliance, asosiasi perdagangan global penerbit software meluncurkan kampanye “Legalize and Protect” di kawasan ASEAN agar mendorong penggunaan software asli.

BSA pun berkolaborasi dengan pemerintah maupun mitra lain untuk mengedukasi perusahaan-perusahaan mengenai risiko-risiko signifikan dari penggunaan software tidak asli atau tidak berlisensi.

Sebagai  bagian dari kampanye ini, BSA bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengedukasi para pemimpin bisnis tentang risiko penggunaan software ilegal. Pasalnya, menurut data BSA, saat ini ada ribuan perusahaan di Indonesia yang diawasi karena adanya kemungkinan pelanggaran.

“Dengan beralih pada software berlisensi, perusahaan dapat melindungi keamanan data, daya saing dan reputasinya hingga terhindar dari risiko konsekuensi hukum,” ujar Senior Director BSA, Tarun Sawney.

{Baca juga: Software Bajakan Marak, Pemerintah Cuma Incar Pemain Kecil}

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Tim Telko.id pada Jumat (08/03/2019), wilayah Asia Pasifik memiliki tingkat penggunaan software ilegal tertingi di dunia yaitu sebesar 57%. Untuk itu, BSA telah mengorientasikan kampanyenya secara khusus untuk mencegah perusahaan dari praktik pemasangan maupun penggunaan software yang tidak berlisensi atau ilegal.

Chief Information Officer (CIO) dari berbagai perusahaan menemukan bahwa software tidak berlisensi memiliki risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Pasalnya satu dari tiga perusahaan memiliki peluang untuk terserang malware ketika mereka menggunakan atau memasang software tidak berlisensi.

Setiap serangan malware dapat merugikan perusahaan sebesar USD 2,4 juta atau Rp 34,3 miliar. Belum lagi dibutuhkan waktu 50 hari untuk memperbaikinya. Infeksi yang dapat menyebabkan downtime perusahaan, atau kehilangan data bisnis, akan berdampak serius pada merek dan reputasi perusahaan.

{Baca juga: Google Curi Data dan Kuota Internet Pengguna di Australia?}

Biaya untuk mengatasi malware yang menggunakan software tidak berlisensi pun semakin meningkat. Hal tersebut dapat merugikan perusahaan hingga lebih dari USD 10.000 atau Rp 143,3 juta untuk setiap perangkat komputer yang terserang, dan merugikan hampir USD 359 miliar atau Rp 5147 triliun per tahun bagi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia.

Tindakan menghindari ancaman keamanan dari malware saat ini telah menjadi alasan utama CIO untuk memastikan software dalam jaringannya berlisensi secara penuh. Upaya peningkatan kegunaan software merupakan faktor pendorong ekonomi dan keamanan yang sangat penting.

Perusahaan-perusahaan dapat mengambil langkah penting untuk meningkatkan manajemen software dan mendapatkan berbagai keuntungan. Untuk mendapatkan keuntungan tersebut, perusahaan dapat menerapkan software asset management (SAM) yang telah terbukti kualitasnya.

BSA percaya bahwa melalui kerja sama menyeluruh dengan pemerintah daerah di negara-negara ASEAN, kampanye “Legalize and Protect” tidak hanya akan memberikan perlindungan pada hak kekayaan intelektual software – tetapi juga mendorong komunitas bisnis ASEAN yang lebih kuat, dinamis, dan mampu bersaing dalam skala global. [NM/IF]

IFixit Beri Nilai 3 untuk Galaxy S10, Ini Alasannya

0

Telko.id, JakartaSamsung Galaxy S10 telah secara resmi rilis ke pasaran. Seperti sudah menjadi tradisi, ponsel baru yang meluncur ke publik akan menjadi “korban” iFixit. Ya, iFixit telah membongkar untuk melihat jeroan Galaxy S10.

Tak hanya Galaxy S10, iFixit juga “memutilasi” Galaxy S10e dan Galaxy S10 Plus. Kabarnya, iFixit lumayan kesulitan membongkar ponsel tersebut. Namun, ketika bodi ponsel sudah terbuka, komponen di dalamnya cukup mudah dipreteli. Sebagai misal kamera depan serta kamera belakang, port audio, serta motherboard Galaxy S10

iFixit tak kesulitan melepasnya satu per satu. Dan, di antara semua komponen galaxy S10, iFixit tertarik dengan keberadaan sensor sidik jari ultrasonik.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10+ Paling Banyak Diminati di Taiwan}

Dilaporkan The Verge, seperti dikutip Telko.id, Jumat (8/3/2019), sensor sidik jari ultrasonik Galaxy S10 terhubung langsung ke layar. Dengan kata lain, jika sensor tersebut rusak, maka komponen yang harus diganti adalah sensor sekaligus layarnya.

Hal serupa ditemukan oleh JerryRigEverything yang menyebut bahwa sensor sidik jari adalah satu kesatuan dengan layar. Komponen itu masih bisa berfungsi jika layar tergores. Namun, sensor akan berhenti berfungsi jika ada keretakan di layar.

{Baca juga: Masalah Flexgate “Nular” ke MacBook Pro 2018?}

Hal unik lain dari jeroan Galaxy S10 adalah komponen kamera depan hole punch. Komponen tersebut benar-benar menghabiskan tempat, mulai dari layar sampai bodi belakang. Yang dilubangi tak cuma layar, melainkan juga motherboard.

Setelah membongkar, iFixit lalu memberi nilai 3 dari 10 soal tingkat kemudahan dalam memperbaiki Galaxy S10. Skor itu mengindikasikan bahwa Galaxy S10 sulit untuk dibongkar. Untuk mengganti layarnya, teknisi perlu membongkarnya total. [SN/IF]

Sempat Ngumpet, Spotify Akhirnya Kembalikan Opsi Repeat

Telko.id, JakartaSpotify sebelumnya melakukan eksperimen terkait perubahan desain. Hal itu dikeluhkan pengguna, lantaran dianggap mempersulit akses fungsi Repeat untuk lagu yang tersedia di aplikasi. Betapa tidak, fitur ini dihapuskan dari tampilan depan menu Now Playing, dan sebagai gantinya ditempatkan pada menu Home baru yang diwakili oleh ikon tiga titik di sudut kanan atas.

Namun, dilaporkan Gizmodo, tak lama setelah pengguna mengeluhkan kesulitan tersebut di media sosial dan halaman situs Community Spotify, aplikasi ini kembali mendapatkan update.

Update yang dirilis Spotify ini mengubah tampilan halaman depan Spotify kembali menjadi seperti sebelumnya. Opsi Repeat ini dapat diakses dengan mudah di posisi yang sudah diketahui pengguna, yaitu di sebelah kanan ikon kendali pemutaran lagu standar, beserta tombol fungsi acak di sebelah kini.

{Baca juga: Spotify Bakal Blokir Pengguna yang Pakai Ad Blocker}

Mengetuk tombol Repeat sebanyak satu kali akan mengaplikasikan fungsi fitur ke playlist atau album yang sedang pengguna dengarkan, sedangkan mengulangi opsi Repeat ini akan membantu pengguna memutar satu lagu secara terus-menerus.

Perubahan menyoal fungsi Repeat ini menjadi perubahan terbesar yang membekali update terkini Spotify, meski bukan satu-satunya hal baru yang disuguhkan penyedia layanan musik streaming itu untuk aplikasi versi Android dan iOS karyanya.

Perubahan lain hadir di sebelah kiri daftar musisi dan judul lagu, yang kini didukung oleh tombol hati. Kehadiran tombol yang telah lama diminta oleh pengguna ini akan memudahkan pengguna untuk menyimpan lagu sebagai lagu kesukaan.

{Baca juga: Pengguna Spotify Premium Bertambah, Berapa Banyak Sih?}

Sebelumnya, fungsi ini hanya dapat dimanfaatkan untuk menyimpan stasiun radio dan playlist yang telah dikurasi Spotify. Namun, update Spotify ini digulirkan secara bertahap sehingga pengguna harus bersabar menunggu hingga update tiba di perangkat.

Sementara itu, Spotify secara diam-diam meluncurkan layanannya di India. Terlepas dari tuntutan hukum yang didapatnya dari Warner Music Group yang saat ini mencegah seniman besarnya untuk merilis lagu mereka di layanan tersebut.

Sejumlah masyarakat di India menyebut mereka telah dapat mengunduh aplikasi ini di perangkat Android dan mendaftarkan akun, meski Spotify tidak secara formal mengumumkan ketersediaan layanan ini. [BA/IF]

 

Fixed, Xiaomi Black Shark 2 Rilis 18 Maret 2019

0

Telko.id, JakartaXiaomi akhirnya mengonfirmasi kabar terkait peluncuran ponsel gaming Black Shark seri terbaru. Produsen smartphone asal China ini memberikan pernyataan melalui unggahan poster berbahasa China.

Seperti dikutip Telko.id dari Phone Arena, Jumat (8/3/2019), ponsel gaming Black Shark 2 akan diluncurkan di China pada 18 Maret 2019. Spesifikasinya sangat mumpuni untuk bermain game.

Black Shark 2 bakal memakai chipset tertinggi buatan Qualcomm, Snapdragon 855. Chipset inimengandalkan teknologi 7 nanometer terbaru sehingga berperforma aduhai.

{Baca juga: Setelah Xiaomi Mi 9, Giliran Black Shark 2 Nongol di Weibo}

Untuk mengimbanginya, Xiaomi memasang RAM 8GB dan kapasitas penyimpanan internal 128GB. Sementara untuk varian lainnya akan ada kapasitas RAM 12GB dan penyimpanan internal 256GB serta RAM 10GB, seperti halnya ponsel Black Shark Helo yang dirilis tahun lalu.

Sayang, belum banyak diketahui tentang spesifikasi lain Xiaomi Black Shark 2. Namun demikian, bisa dipastikan bahwa ponsel itu akan hadir dengan layar beraspek rasio 18:9 seperti versi sebelumnya.

{Baca juga: Xiaomi Ungkap Alasan Ingin Naikkan Harga Ponsel}

Black Shark 2 juga dikabarkan akan memiliki nuansa warna hijau serta hitam di bagian belakang bodinya. Kapasitas baterai kemungkinan besar berada di angka sekitar 4.000 mAh.

Black Shark 2 dilengkapi pula dengan sistem pendinginan, dan kemungkinan akan berjalan dengan sistem operasi berbasis Android Pie terkini. Sebagai awalan, Black Shark 2 rilis di pasar China. [SN/IF]

YouTube Kenalkan Fitur Cek Fakta untuk Atasi Topik Sensitif

Telko.id, Jakarta Youtube meluncurkan fitur terbaru, yakni cek fakta di topik pencarian di India. Nantinya pemeriksaan fakta akan muncul ketika pengguna mencari topik sensitif dan kontroversial.

Dilansir Telko.id dari Engagdet pada Jumat (08/03/2019), ketika Anda mencari topik sensitif maka akan muncul hasil pencarian dan akan menawarkan pemeriksaan fakta dari mitra terverifikasi untuk melawan penyebaran informasi yang salah.

Untuk saat ini fitur diluncurkan pertama di India dan akan tersedia dalam bahasa Hindi dan Inggris. Tetapi Youtube akan mengembangkan fitur tersebut agar tersedia di banyak negara dengan bahasa yang beragam.

“Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk membangun pengalaman berita yang lebih baik di YouTube, kami memperluas panel informasi kami untuk membawa fakta dari penerbit yang memenuhi syarat ke YouTube,” kata juru bicara YouTube.

“Kami meluncurkan fitur ini di India dan berencana untuk meluncurkannya di lebih banyak negara seiring berjalannya waktu,” tambahnya.

{Baca juga: YouTube Izinkan Komentar di Video Anak, tapi…}

Menurut YouTube, fitur cek fakta ini tidak serta memeriksa atau memblokir setiap video karena itu membutuhkan sumber daya yang banyak. Fitur pemeriksaan fakta Youtube biasanya akan muncul di hasil pencarian sebagai “serangan” pada setiap video yang menyebarkan informasi yang salah.

Nantinya hasil pencarian akan melewati proses pemeriksa fakta yang terhubung dengan website Google. Google dengan cepat mengambil informasi penting seperti klaim apa yang sedang diperiksa dan apakah itu benar atau salah.

Setelah sebuah konten video lolos dari pengecekan itu, informasi tersebut dapat dimunculkan oleh YouTube dalam hasil pencarian tanpa perlu penambahan informasi.

{Baca juga: YouTube akan Nonaktifkan Komentar di Video Anak-anak}

YouTube telah menerapkan sejumlah perubahan dalam beberapa tahun terakhir dalam upaya untuk memerangi video yang mengabadikan informasi palsu. Perusahaan mendapat kecaman karena memungkinkan munculnya orang-orang seperti Alex Jones dan penyebaran cerita-cerita palsu seperti teori konspirasi bahwa korban penembakan massal David Hogg adalah seorang aktor.

YouTube sejak itu mendorong gerakan dari organisasi berita terverifikasi dan telah menambahkan isyarat informasi di bawah video kontroversial. Youtube baru-baru ini jugamenghapus iklan dari video anti-vaksin untuk menjaga saluran dari serangan informasi yang keliru. [NM/IF}