Telko.id – Smartfren baru saja meluncurkan kartu perdana BosKu atau Bonus Kuota. Tidak tanggung-tanggung, ada 4 juta kartu perdana atau simcard yang diproduksi dan disebar ke pasar secara gratis.
Ini adalah strategi Smartfren untuk menyediakan paket yang sesuai untuk setiap market segmen. Jadi jangan heran, smartfren banyak mengeluarkan paket kartu perdana.
“Ini strategi ‘sachet market’. Tinggal pilih, konsumen suka atau butuh yang mana. Yang unlimited atau yang banyak kasih bonus kuota seperti BusKu ini,” kata Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO of Commercial Smartfren menyebutkan saat peluncuran kartu perdana BosKu.
Bahkan, Djoko juga menambahkan, nanti akan juga kartu perdana BosKu yang ‘light’. Tapi masih belum mau dibuka, kapan akan diluncurkan.
Untuk kartu perdana BosKu ini mensasar masyarakat Indonesia yang baru membeli smartphone baru. Apa pun merek nya, karena paket ini hanya bisa berpasangan dengan satu IMEI saja.
Yang ditawarkan juga banyak, ketika beli baru, lalu mengisi ulang sebesar 50 ribu dan mengaktifkan MySmartfren dihari yang sama akan memperoleh bonus kuota sebesar 15GB yang berlaku selama 14 hari. Dan, program diikuti selama 24 bulan dengan terus mengisi ulang 50rb per bulan.
“Tahap pertama kita produksi 4 juta simcard. Kami berharap 80% bisa top up lagi di bulan kedua dan yang bisa bertahan hingga khir tahun bisa mencapai 50% nya. Jadi, paling tidak bisa menambah pelanggan sekitar 2 juta dari program ini,” ujar Joko menjelaskan.
Saat ini, pelanggan Smartfren menurut Djoko sudah mencapai 15 juta yang sebelumnya, pada akhir tahun 2018 baru mencapai 13 juta. Harapannya, pada akhir tahun nanti akan menjadi 30 juta pelanggan. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Apple mengumumkan layanan berbayar gamepremium untuk perangkat mobile bernama Apple Arcade. Layanan game berbayar ini dapat diakses melalui iPhone, iPad, Apple TV maupun perangkat Mac.
Apple Arcade, seperti diberitakan laman Phone Arena, akan berada di tab terpisah di dalam aplikasi App Store, berisi lebih dari 100 game premium yang khusus dibuat untuk layanan ini.
Game yang berada di Apple Arcade dapat dimainkan secara berkelanjutan. Pengguna dapat berpindah gawai lalu meneruskan game di level atau aktivitas terakhir mereka sebelum dimatikan.
Apple juga menyediakan mode offline, dimana pengguna bisa mengunduh game dan memainkannya tanpa sambungan Internet. Layanan ini juga memiliki fitur Family Sharing berkapasitas hingga enam orang.
{Baca juga:AirPods Terbaru Punya Teknologi Anti-Bising?}
Apple sudah menggandeng pemain besar dalam industri game dunia untuk menyediakan konten di Apple Arcade, antara lain yaitu SEGA, Disney Studios, Cartoon Network, Konami, Giant Squid, dan Mistwalker Corporation.
Apple Arcade akan tersedia tahun ini di lebih dari 150 negara, namun belum diketahui berapa besar biaya berlangganan bulanan layanan game premium ini.
Diperkirakan layanan tersebut tidak berbeda dengan langganan Apple News+, yang juga baru diumumkan, sekitar 9,99 dolar per bulan. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Smartfren baru saja meluncurkan kartu perdana baru bagi pengguna smartphone yang “haus kuota” dengan nama Kartu Perdana BosKu (Bonus Kuota).
Kartu perdana ini diklaim akan menyediakan bonus kuota internet 4G hingga 360 GB bagi penggunanya dengan cara hanya isi pulsa.
“Tahun lalu kita sudah menggebrak pasar dengan mengeluarkan kartu unlimited kita, sudah berjalan setahun dan sangat luar biasa hasilnya,” ujar Deputy CEO of Commercial Smartfren, Djoko Tata Ibrahim di acara peluncuran Kartu Perdana BosKu di Jakarta, Selasa (26/03/2019).
Khusus bagi pengguna yang melakukan aktivasi Kartu Perdana BosKu, akan memperoleh kuota internet mencapai 360GB selama 2 tahun asalkan mematuhi syarat dan ketentuan berlaku.
Pengguna wajib melakukan isi ulang pulsa minimal sebesar Rp 50 ribu paling lambat 3 hari setelah aktivasi kartu perdana. Nantinya, mereka akan mendapatkan bonus kuota yang diberikan per bulan selama 2 tahun.
{Baca juga:Sinyal 4G Smartfren Selimuti Pantai Pandawa Bali}
“Kita memberikan 360 GB selama 2 tahun, itu tiap bulan 15 GB yang sudah dibagi-bagi,” jelasnya.
Kuota bonusnya sendiri terdiri dari 2GB kuota utama, 3GB kuota untuk chatting, dan 10GB kuota malam (01.00 – 04.59 WIB) yang semuanya berlaku selama 14 hari. Selain itu, pengguna juga mendapat gratis menelpon sepuasnya ke semua pengguna Smartfren selama masa bonus berlaku.
Smartfren memastikan, bonus kuota mereka sama sekali tidak mempengaruhi pulsa pengguna. Mereka memastikan, pengguna tetap dapat membeli beragam paket internet yang tersedia di aplikasi. MySmartfren.
{Baca juga: Sebar 4G, Smartfren Dukung Kota Ranai di Natuna Jadi Smart City}
“Pangsa pasar smartphone yang besar di Indonesia kan di bawah Rp 2 juta, kalau dikasih 360 GB berarti konsumen mendapatkan value sebesar Rp 3,6 juta dengan estimasi harga per GB rata-rata di Indonesia mencapai Rp 10 ribu,” pungkasnya. (FHP/HBS)
Telko.id, Jakarta – Nintendo kemungkinan berencana merilis dua versi terbaru dari Nintendo Switch. Kabar ini memperkuat rumor dari pemasok pada tahun lalu bahwa Nintendo akan menyediakan model terbaru Switch.
Kabar terbaru ini disebut berhasil didapatkan The Wall Street Journal. Disebutkan bahwa Nintendo berencana merilisnya di tahun ini. Dua model Nintendo Switch terbaru akan dibedakan berdasarkan harganya.
Model termahal bakal ditargetkan untuk gamer kalangan konsol, seperti PlayStation 4 dan Xbox One X. Tidak diketahui seperti apa desainnya dan performanya. Tapi rumor tersebut menyatakan Switch tidak akan bertenaga seperti kedua konsol tadi.
Menurut The Verge, model termurah akan ditujukan untuk casual gamer. Kabarnya versi ini akan menjadi suksesor dari Nintendo 3DS. Versi ini juga akan kehilangan beberapa fitur, salah satunya adalah getar.
{Baca juga:3 Game Klasik Resident Evil akan Hadir di Nintendo Switch}
Sebuah informasi yang didapatkan menyebut bahwa kedua Switch terbaru akan diperkenalkan beberapa bulan lagi. Kemungkinan besar acara E3 2019 yang akan digelar pada 12 Juni nanti akan jadi waktu perkenalan Nintendo.
Pada Maret lalu, Presiden Nintendo, Tatsumi Kimishima, tidak berencana segera menyiapkan Nintendo Switch generasi kedua. Kimishima ingin Switch memiliki usia atau life cycle hingga lima atau enam tahun.
Selama ini, Switch berhasil menjadi perangkat gaming yang cukup populer. Di awal 2018, jumlah penjualan Nintendo Switch telah mengalahkan penjualan konsol pendahulunya, Wii U, hanya dalam waktu 10 bulan sejak ia diluncurkan.
Nintendo telah menjual 7,23 juta konsol Switch dalam kuartal lalu. Secara keseluruhan, Nintendo Switch telah terjual sebanyak sekitar 14,86 juta perangkat.
Wii U, yang dijual pada November 2012, berhasil terjual sebanyak 13,56 juta unit sebelum produksinya dihentikan pada 2017 dan dianggap sebagai produk gagal.
{Baca juga: Sebentar Lagi, Main Game di Chrome Pakai Kontroler Nintendo Switch}
Penjualan Nintendo Switch sejak dirilis juga mengalahkan penjualan PlayStation 2 yang menjadi konsol terlaris Sony sepanjang masa. Mengutip data yang dirangkum Nintendo Soup, di akhir bulan Desember lalu Nintendo Switch berhasil menjual sebanyak 3.258.083 unit sejak dirilis. Sementara PS2 hanya 3.016.622 unit. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Siapa yang tak kenal Will “Egg Boy” Connolly? Setidaknya, dalam beberapa pekan terakhi remaja Australia itu mendadak kondang setelah terlibat insiden pecah telur dengan salah seorang senator di negeri Kangguru, Fraser Anning.
Egg Boy, demikian Will kemudian mendapat julukan, membuat geger dunia maya ketika aksinya yang menceplok telur di kepala senator Australia viral. Ia melakukan itu menyusul penyataan kontroversial Anning terkait insiden penembakan di dua mesjid di Selandia Baru.
Will yang kala itu langsung “dijatuhkan” orang-orang dan pendukung Anning pun memberikan peringatan kepada warganet agar tidak meniru aksinya, karena berbahaya.
{Baca juga: Egg Boy: Jangan Tiru Saya, Kamu akan Dihajar 30 Orang}
“Jangan tiru saya, kamu akan dihajar oleh 30 orang,” candanya dalam sebuah video kala itu.
Lantas, apakah Will menyesali perbuatannya?
Ever since he cracked the egg that divided the nation, Melbourne teenager Will Connolly, better known as #EggBoy, has been both vilified and dubbed the “hero of the Earth”.
Dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun TV baru-baru ini, Will mengaku tidak menyesali perbuatannya, ataupun merasa perlu meminta maaf untuk aksinya. Meskipun dia sadar bahwa apa yang dilakukannya salah.
Connolly mengatakan dia melakukan itu (memecah telur di kepala senator) karena “jijik” dengan komentar senator Australia Fraser Anning.
“Setelah tragedi di Christchurch itu, saya pikir dunia seharusnya mendukung semua korban,” katanya. “Dan sang senator mengeluarkan pernyataan yang agaknya merupakan pidato kebencian yang memecah belah.”
{Baca juga: Bicara Teror Masjid Selandia Baru, Senator Australia Dilempari Telur}
Connolly juga mengungkapkan bahwa ia mendatangi acara yang dihadiri Anning dengan harapan sang senator berubah pikiran. Tapi ternyata tidak.
“Saya mengerti apa yang saya lakukan bukanlah hal yang benar, namun telur ini telah menyatukan orang-orang, dan puluhan ribu dolar telah dikumpulkan untuk para korban,” katanya.
Connolly juga mengkonfirmasi bahwa uang yang dikumpulkan orang-orang untuknya lewat kampanye crowdfunding GoFundMe akan diberikan kepada para korban serangan teroris Christchurch. Sementara terkait tawaran tiket konser dan tiket festival gratis seumur hidup, Will mengaku belum benar-benar memikirkannya.
Telko.id, Singapura – Samsung Electronics memperlihatkan seluruh rangkaian QLED TV 2019 di Samsung Forum Asia Tenggara dan Oseania 2019 di Singapura.
Salah satu yang diunggulkan adalah TV QLED 8K. Samsung meluncurkan QLED 8K 98 inci yang terbesar sejauh ini – menambah rangkaian televisi 2019 yang terdiri dari model berukuran 65 inci, 75 inci, 82 inci, dan 85 inci. QLED 8K TV ini dilengkapi Quantum Processor Samsung, teknologi semikonduktor pemrosesan gambar yang diperkuat Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan pengalaman menonton yang lebih baik.
Senior Product Marketing Manager TV and Audio Visual, Samsung Electronics Indonesia, Ubay Bayanudin mengatakan, ini TV pertama dalam industri ini, dimana pada prosesornya menggunakan kemampuan AI upscaling. Fitur AI upscaling pada layar QLED 8K ini mampu menghasilkan warna yang lebih nyata dan meningkatkan pengalaman pemirsanya untuk mempelajari dan membandingkan jutaan gambar.
{Baca juga : Samsung Pamer Teknologi Terbaru di Samsung Forum 2019}
“Ini tentunya membantu mengkalibrasi konten beresolusi lebih rendah dan mengoptimalkannya menjadi konten berkualitas 8K, terlepas dari format aslinya,” ujar Ubay.
Produk utama lain dalam rangkaian QLED 2019 adalah deretan 4K TV, Q90R, Q85R, Q80R, Q70R, dan Q60R yang berukuran antara 43 inci hingga 82 inci. Secara total, rangkaian QLED 2019 menampilkan lebih dari 20 model dan mencakup lebih banyak model layar besar.
Selain itu, semua QLED TV 2019 Samsung menggunakan HDR10+, sebuah format pemrosesan gambar premium. Standar HDR10+ membuat adegan terang tampak lebih terang dan adegan gelap tampak lebih gelap dengan mengoptimalkan kontras untuk setiap adegan, sehingga penonton dapat menikmati gambar dengan detail yang kaya. QLED 8K TV juga akan mendukung transmisi HDMI 2.1 (8K 60P).
{Baca juga : Uji Kamera Samsung Galaxy S10+, Dari Hagia Sophia Hingga Pegunungan Salju Uladag}
Dan yang manarik semua lini TV QLED Samsung tahun ini memiliki fitur New Bixby 2.0 dengan kemampuan Universal Guide untuk mengenal selera penonton. TV ini juga mendukung Apple Air Play 2, serta Amazon Alexa dan Google Assistant untuk perintah suara.
Rangkaian QLED TV 2019 generasi berikutnya ini akan tersedia di Asia Tenggara mulai dari April 2019. (MS)
Telko.id, Jakarta – Mi Fans Indonesia yang ingin meminang Redmi Note 7 Pro yang resmi tentu akan kecewa setelah mendengar kabar ini. Bagaimana tidak, versi Pro dari Redmi Note 7 itu dipastikan tidak akan diluncurkan secara global termasuk Indonesia, karena hanya tersedia secara eksklusif di dua negara saja.
Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Xiaomi Regional Director for SEA, John Chen melalui akun Facebook pribadinya. Ia menyatakan, smartphone tersebut hanya akan tersedia secara eksklusif di China dan India dengan alasan strategi pemasaran Redmi.
“Dear Mi Fans, saya menyesal untuk memberitahu bahwa Redmi Note 7 Pro TIDAK akan memiliki dirilis resmi ke negara-negara selain China dan India karena strategi produk kami,” katanya.
{Baca juga: 5 Fakta Redmi Note 7, Nomor 4 Paling “Greget”}
Redmi Note 7 dan Note 7 Pro sendiri memang punya perbedaan, khususnya pada sektor dapur pacu. Versi standar menggunakan prosesor octa-core 2.2 GHz Snapdragon 660, sementara versi Pro ditenagai oleh prosesor octa-core 2.0 GHz Snapdragon 675.
Konfigurasi RAM dan ROM juga berbeda di antara keduanya. Ketika versi standar masih menggunakan RAM 3GB/4GB dan ROM 32GB/64GB, versi Pro telah mengusung konfigurasi RAM dan ROM maksimal 6GB/128GB.
Khusus untuk India, Xiaomi memberikan konfigurasi berbeda pada kamera kedua smartphone ini. Kamera utama 48MP hanya diberikan untuk versi Pro saja, sementara versi Redmi Note 7 standar hanya memiliki kamera 12MP sebagai lensa utamanya.
Akan tetapi di luar India, termasuk China, kamera Redmi Note 7 standar dan versi Pro dibedakan dari kemampuan perekaman videonya saja. Redmi Note 7 Pro punya kemampuan untuk merekam video dengan kualitas hingga 2160p.
{Baca juga: Dalam Hitungan Menit, 200.000 Redmi Note 7 Ludes di India}
Di India sendiri, Redmi Note 7 Pro dibanderol dengan harga mulai dari USD240 atau setara Rp 3,3 jutaan. Sebelumnya, Redmi Note 7 akhirnya resmi hadir di Indonesia sebagai suksesor Redmi Note 6 yang diluncurkan tahun lalu.
Di Indonesia, harga Redmi Note 7 varian RAM 3GB dan ROM 32GB mencapai Rp 1.999.000 dan varian 4GB/64GB Rp 2.599.000. Redmi Note 7 diberi masa garansi hingga 18 bulan. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Samsung kembali merilis smartphone menengah terbarunya, Samsung Galaxy A70. Smartphone tersebut bisa dibilang sebagai smartphone pertama di jajaran seri Galaxy A dengan layar berteknologi Cinematic Screen beraspek rasio 20 : 9.
Melansir dari GSMArena, Selasa (26/03/2019), Galaxy A70 punya layar berukuran besar, bahkan lebih besar daripada Samsung Galaxy S10+ sekalipun.
Layarnya berukuran 6,7 inci dengan panel Super AMOLED beresolusi Full HD+ dan sudah disisipkan sensor sidik jari di bawahnya.
{Baca juga: Ada “Kerutan” di Layar Samsung Galaxy Fold, Lihat Videonya}
Layarnya didesain dengan konsep Infinity U, sehingga di bagian atasnya terdapat poni atau notch berbentuk waterdrop sebagai tempat bagi kamera depan beresolusi 32MP.
Meski layarnya berukuran super besar untuk sebuah smartphone, namun ukuran smartphone ini masih “masuk akal” bagi genggaman tangan.
Sebab, ukurannya hampir sama besar dengan Samsung galaxy A7 (2018) dan Galaxy Note 9 yang nyaman digenggam menggunakan satu tangan meski ukuran layarnya besar. Meski demikian, Samsung tetap memberikan fitur One Handed Navigation untuk mempermudah pengguna mengoperasikan smartphone dengan satu tangan.
Di sektor spesifikasinya, Samsung memberikan spesifikasi yang bertenaga. Seperti baterai berkapasitas 4,500 mAh dengan dukungan fast charging 25W, RAM 6GB/8GB, ROM 128GB yang bisa diperluas hingga 512GB dengan microSD, hingga sistem operasi One UI berbasis Android 9 Pie.
Penyematan tiga kamera mungkin sudah menjadi standar bagi Samsung untuk smartphone terbarunya. Sehingga Galaxy A70 pun memiliki konfigurasi tiga kamera di bagian belakang sebagai salah satu andalannya.
{Baca juga: Begini Wujud Smartphone Layar Lipat Samsung Selanjutnya?}
Resolusi ketiga kamera ini masing-masing 32MP aperture f/1.7 sebagai lensa utama, kemudian lensa ultra-wide 123° 8MP, dan lensa depth beresolusi 5MP.
Samsung Galaxy A70 tersedia dalam empat warna, yakni Coral, Blue, Black, dan White yang didesain dengan teknik pewarnaan 3D Glasstic yang membuatnya memiliki efek prisma pada body-nya. Hingga kini, Samsung masih belum memberikan informasi soal harganya, tapi Samsung memastikan akan mengungkapkan detail dari smartphone-nya pada 10 April mendatang. (FHP)
Telko.id, Turki – Layar bertompel memang menjadikan keluarga Galaxy S10 berbeda dengan Galaxy S sebelumnya. Dan ini mungkin penting bagi sebagian orang yang mengagungkan tampilan. Tapi tidak menjadi hal yang utama bagi kami.
Thats why kami lebih suka membicarakan fitur lainnya. Apakah itu chipset, in-screen fingerprint sensor, atau wireless powershare? Well, maybe next time. Kali ini kami ingin membahas kameranya. Dan semoga Anda setuju dengan pilihan kami ini.
Oke, pertama mari kita lihat spesifikasi tiga kamera yang ada di body belakang Samsung Galaxy S10+ (versi paling tinggi dari keluarga Galaxy S10). Disana, ada kamera utama beresolusi 12 MP dengan pixel 1.4µm dan apertur lensa f/1.5-2.4, ekuivalen dengan lensa 26mm. Kamera utamanya ini juga dilengkapi dengan Dual Pixel AF dan Optical Image Stabilizer (OIS).
Lalu ada kamera ultrawide yang mengandalkan sensor 16MP dengan pixel 1.0µm dan apertur f/2.4 (13mm-equivalent). Sementara satu kamera lainnya untuk Telephoto dengan spesifikasi sensor 12 MP dengan pixel 1.0µm dan apertur lensa f/2.4 (52mm-equivalent). Lengkap dengan Phase Detection AF (PDAF) dan OIS.
Ya, di atas kertas, spesifikasi tersebut cukup mewah. Dalam satu body ada lensa 52mm (equivalent), 13mm, dan 26mm dengan bukaan lensa hingga f/1.5. Dan bagi pengguna DSLR, untuk mendapatkan kemewahan tersebut mungkin perlu merogoh kocek hingga puluhan juta, hanya untuk lensanya saja. But hey, lets focus, kali ini kami tidak sedang membandingkan Galaxy S10+ dengan kamera DSLR.
Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan Samsung Galaxy S10+ dengan sensor dan lensa yang dibenamkannya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami coba mengujinya dengan benar-benar memfungsikannya sebagai kamera. Baik itu untuk photography maupun videography. Dan negara Turki, mulai dari kawasan Bursa, Uladag, hingga Istanbul jadi saksi pengujian kami.
User Interface
Antarmuka adalah salah satu parameter penting untuk sebuah kamera. Untuk itu kami akan fokus pada bagaimana antarmuka Galaxy S10+ memberikan kemudahan bagi penggunanya, baik untuk fotografer amatir maupun profesional.
Well, dalam catatannya kami, setidaknya ada empat cara untuk mengakses fitur kamera di Galaxy S10+. Pertama dengan menambahkan shortcut pada lock screen. Ya, Anda bisa mengaturnya pada menu Settings>Lock Screen>App Shortcut. Disana Anda bisa menjadikan menu kamera sebagai shortcut yang bisa diakses langsung dari halaman lock screen.
Cara kedua adalah dengan menekan tombol power sebanyak dua kali. Yup, dengan begitu, Anda akan langsung dibawa ke menu kamera tanpa melalui tahapan lain. Sedangkan cara ketiga dan ke-empat adalah dengan menggunakan perintah suara via Bixby dan juga menggunakan cara konvensional dengan menempatkan shortcut pada halaman muka Galaxy S10+, selazimnya fungsi shortcut pada perangkat Android. Nah dari ke-empat cara tersebut, kami lebih prefer yang kedua.
Lanjut ke dalam menu kamera, Samsung Galaxy S10+ menampilkan 4 ruas pada layarnya. Ruas pertama atau ruas paling atas, menampilkan ikon untuk setting kamera, flash, timer, ratio, dan filter. Ruas kedua berfungsi sebagai viewfinder. Ruas ketiga menampilkan camera mode yang terdiri dari photo, video, instagram, food, panorama, slow motion, live focus, pro, super slow-mo, dan hyperlapse. 8 mode yang kami sebut paling akhir bisa dimunculkan atau tidak dimunculkan di layar, pengguna bisa mengaturnya pada menu setting>camera modes>edit modes. Sedangkan untuk ruas terakhir atau ruas ke-4, ada preview photo/video, tombol shutter, dan tombol switch camera.
Selain 4 ruas tersebut, ada juga ruas tambahan persis di atas ruas ketiga, yang akan memunculkan opsi untuk jenis kamera yang digunakan, apakah ultrawide, telephoto, atau kamera utama (f/1.5-2.4).
Overall, kami menilai UI Galaxy S10+ cukup user friendly. Tidak butuh waktu lama untuk bisa “akrab” dan memaksimalkan seluruh fitur kameranya.
Features
Pada keluarga Galaxy S10, Samsung menambahkan beberapa fitur baru diantaranya Super Steady (video stabilization), Smart Composition (Shot Suggestions), instagram mode, HDR10+, dan tambahan theme untuk scene optimizer, lengkap dengan pilihan intelegent features seperti bright night, document scan dan starburst.
Sementara untuk fitur lainnya sama dengan kepunyaan Galaxy Note 9 yang meliputi flaw detection (untuk mendeteksi ketika objek foto berkedip atau lensa kontor), motion photos, pilihan resolusi video (UHD 60 fps, FHD 60 fps, HD, FHD, 19:9 2288x1080p, dan 1:1 1440x1440p), pilihan rasio foto (3:4, 1:1, 9:16, dan full) dengan resolusi sesuai dengan jenis kamera yang digunakan.
Tak ketinggalan fitur bixby vision dan AR Emoji yang kali ini lebih “kartun” ketimbang Galaxy Note 9.
Excellent Dynamic Range
Sekarang kita masuk dalam tahap terpenting dalam pengujian kamera. Yup, real life test. Pertama kami akan bicarakan kemampuan foto nya terlebih dulu. Ada beberapa sample foto yang kami ambil di Turki, mulai dari Green Mosque di Bursa, kawasan bersalju di Uladag hingga Hagia Sophia di Istanbul.
Hal positif pertama yang langsung bisa kami simpulkan adalah hasil jepretan Galaxy S10+ punya dynamic range yang excellent. Yup, Anda bisa lihat dari dua sample foto yang kami ambil di pelataran green mosque, Bursa, Turki. Dari foto-foto tersebut, tampak Galaxy S10+ mampu membingkai range pencahayaan, mulai dari sisi gelap hingga terang, dengan sangat bagus. FYI, kata “sangat” yang kami gunakan bisa diartikan bahwa Galaxy S10+ punya kemampuan di atas rata-rata dalam urusan dynamic range jika dibandingkan smartphone flagship yang ada di pasaran. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Galaxy S10+ mampu menghasilkan gambar dengan warna yang presisi dengan pengaturan white balance yang kami nilai cukup akurat.
Lebih dari itu, keberadaan scene optimizer berbasis kecerdasan buatan (AI) kami nilai cukup memanjakan pengguna. Dengan total 30 theme yang secara otomatis menyesuaikan settingan kamera berdasarkan objek foto, pengguna akan dimanjakan dengan hasil foto yang optimal untuk beragam jenis scene. Dan menurut kami, Samsung sukses “melatih” AI Galaxy S10+ menjadi fotografer dengan kualifikasi profesional. Settingan untuk beragam scene terasa pas. Baik itu white balace maupun kompisisi warnanya. Good Job.
{Baca juga: 5 Tips Mobile Photography Ala Tommy Siahaan, Nomor 2 Wajib Tahu!}
Ultrawide Angle
Dynamic range dan color rendering Galaxy S10+ is one of the best. Dan untuk sebuah kamera, dua keunggulan tersebut adalah pondasinya. Selebihnya kita bicara tentang optimalisasi.
Hal pertama yang bisa kita optimalkan adalah memotret objek dari jarak dekat dengan angle yang lebih luas. Dan itu bisa dilakukan dengan kamera ultrawide (ekuivalen dengan lensa 13mm) Galaxy S10+ yang dilambangkan dengan tiga daun. Dan foto berikut ini adalah salah satu contoh dari kegunaan kamera ultrawide dalam keseharian. Foto ini kami ambil dari dalam cable car yang mengantarkan kami menuju pegunungan salju di Uladag, Turki. Dengan jarak yang tidak lebih 1,5 meter, kami bisa membingkai objek foto dengan background yang luas.
Selain untuk mendapatkan foto dengan angle yang lebih luas dari jarak dekat, kamera ultrawide Galaxy S10+ juga bisa dimaksimalkan untuk menghasilkan foto-foto landscape. Disini kami menemukan keunggulan lain dari kamera Galaxy S10+ yaitu kemampuannya membingkai foto landscape dengan detail yang cukup bagus. Dan itu bisa Anda lihat di foto foto berikut ini.
Live Focus
Galaxy S10+ memang bukan seri Galaxy pertama yang menanamkan fitur Live Focus. But hey, coba perhatikan lebih seksama. Ada tiga opsi tipe blur yang ditambahkan pada Live Focus Galaxy S10+. Sebut saja Spin, Zoom dan Color Point. Sekilas mungkin seperti efek receh. Tapi coba tanyakan ke pengguna DSLR tentang bagaimana mereka menghasilkan gambar zoom blur effect. Yup, mereka harus memutar zoom lensa secara presisi untuk bisa mendapatkan foto dengan efek tersebut. Dan itu tidak mudah. Tapi dengan Galaxy S10+, efek tersebut bisa dibuat semudah meng-klik tombol shutter.
Low Light
Bukaan lensa F/1.5, selain berpengaruh untuk menghasilkan foto dengan background blur, juga penting untuk low light photography. Bukaan lensa yang besar (nilai apertur kecil) memungkinkan sensor untuk menyerap cahaya lebih banyak, sehingga foto di kondisi minim cahaya jadi terlihat lebih jelas. Ini pula yang menjelaskan kenapa Galaxy S10+ cukup piawai dalam menghasilkan foto bagus di kondisi low light.
Kami sendiri coba membuktikannya dengan dua jenis pengaturan yang berbeda. Pada objek foto pertama yang di ambil dari depan persimpangan jalan di Bursa, Turki, kami menggunakan mode otomatis. Sedangkan pada foto kedua, kami menggunakan mode pro dengan menggunakan ISO 100, apertur F1.5 dan exposure time 1/3 detik.
Kami sendiri lebih prefer pakai mode pro untuk memotret objek di kondisi low light. Karena dengan mode pro, kami bisa meminimalisir noise dengan cara menggunakan ISO rendah pada bukaan lensa F1.5 dengan pengaturan exposure time yang masih bisa mentolerir sedikit gerakan. Itupun jika kami memaksakan diri untuk tidak memakai tripod. Tapi jika memakai tripod, tanpa pikir panjang kami akan pilih mode pro.
Shots Suggestions
Fitur yang satu ini mungkin bukan favorit semua orang. Terutama bagi mereka yang sudah faham rules of third, rule of space, leading lines ataupun aturan-aturan fotografi lainnya. Yup, shots suggestions atau kami lebih suka menyebutnya smart composition, hanya akan menggurui mereka tentang bagaimana mengatur komposisi foto.
But hey, tidak semua orang jago fotografi. Tapi semua orang ingin menghasilkan foto dengan kualitas yang memanjakan mata. Dan dengan fitur smart composition ini, setiap orang bisa menghasilkan foto dengan komposisi keren dan menyandang sebutan pro.
Sebagai informasi, fitur shots suggestions/smart composition ini memaksimalkan database yang memuat lebih dari 100 juta foto untuk selanjutnya memberikan rekomendasi kepada pengguna Galaxy S10+ dalam mengambil foto dengan proporsi, posisi dan komposisi yang ideal. Artinya, dengan memaksimalkan fitur ini, hasil jepretan Anda bisa disejajarkan dengan foto-foto yang dihasilkan fotografer profesional. Nice!
Super Steady
Pada bagian video, kami tidak ingin bicara panjang tentang fitur hyperlapse maupun super slow-mo. Meskipun dalam catatan kami, ada peningkatan pada fitur super slow-mo di Galaxy S10+ dibanding seri Galaxy S sebelumnya. Yup, di Galaxy S10+ pengguna bisa merekam video slow motion sekitar 0.4 detik pada 960 fps dengan durasi playback sekitar 12 detik. Atau pengguna juga bisa merekam video slow-mo selama 0.8 detik pada 480 fps dengan durasi playback sekitar 24 detik.
Lebih dari itu, dibanding peningkatan super slow-mo, kami justru lebih tertarik pada peningkatan fitur video stabilization-nya. Fitur yang mendapat julukan Super Steady ini kami nilai berhasil menaikkan standar kualitas perekaman video lewat HP.
{Baca juga: 5 Tips Rekam Video Pakai Smartphone Ala Jay Subiakto}
Coba saja lihat footage yang kami ambil di pegunungan salju Uladag dan juga di atas kapal ferry sungai Bosforo, Turki. Pada dua video tersebut, kami bisa merekam objek bergerak sambil bergerak dengan cukup stabil. Kualitasnya gak kalah dengan video yang diambil menggunakan gimbal. Dan menurut kami inilah yang membuat kamera Galaxy S10+ istimewa.
Kesimpulan
Kamera Galaxy S10+ memang belum bisa dikatakan sempurna. Terlebih jika Anda punya ekspektasi untuk mensejajarkannya dengan kamera DSLR. Khususnya dalam menghasilkan gambar bokeh. Karena menurut kami, gambar bokeh maksimal hanya bisa Anda dapatkan saat memotret objek macro. Sementara jika Anda menggunakan live focus dan memotret objek dari jarak lebih dari 2 meter, bokeh yang dihasilkan masih belum serapih kamera DSLR berlensa mahal.
Pun demikian, kami berani bilang bahwa kamera Galaxy S10+ berhasil menaikkan standar kualitas photography dan videography via smartphone ke level yang lebih tinggi. Yup, level yang saat ini hanya bisa disamai oleh tidak lebih dari dua smartphone flagship lain yang ada di pasaran.
Note : Untuk Anda yang bertanya-tanya tentang bagaimana kualitas kamera depannya? Foto-foto berikut kami rasa bisa menjawab rasa ingin tahu Anda. Check this out!
Telko.id, Turki – Videography via smartphone kini sama pentingnya dengan smartphone photography. Inilah alasan kenapa Samsung terus meningkatkan kemampuan fitur rekam video di smartphone kembangannya. Tak terkecuali di Samsung Galaxy S10.
Flagship terbaru dari Samsung ini coba menaikkan level kamera smartphone ke tingkat yang lebih tinggi, yang tidak hanya bagus untuk foto tapi juga video. Hal tersebut diamini oleh sutradara video klip ternama, Jay Subiakto.
“Tidak ada karya spektakuler yang dihasilkan dengan mudah. Namun, Samsung Galaxy S10 memberikan kemungkinan yang luas untuk mengeksplorasi dengan cara yang lebih nyaman, lebih cepat dan lebih terarah,” jelas Jay Subiakto.
Menurutnya, kamera intuitif Galaxy S10 menghadirkan gambar ke dalam kehidupan melalui kombinasi teknologi terkini dan kepintaran terkemuka. Super Speed Dual Pixel dan Dual Aperture yang memuat teknologi kamera cerdas, memudahkan pengambilan gambar dan perekaman video:
Perekaman video dengan kualitas UHD dan pemutaran video dengan kualitas true-to-life, dan untuk pertama kalinya dalam industri smartphone, rangkaian Galaxy S10 mampu merekam video setingkat profesional dalam kualitas HDR10+ dengan kamera belakang.
Rekaman Super Steady dengan teknologi stabilisasi digital sehingga kamera dapat tetap fokus walaupun merekam objek bergerak. Rekaman video tetap stabil bahkan saat sedang aktif bergerak, dari bermain ski hingga bersepeda dan kegiatan aktif lainnya.
Lebih lanjut, Jay mengungkapkan bahwa kesempatan datang ketika kita berhadapan dengan lanskap indah yang penuh warna berbeda di Turki, tempat dimana Samsung mengajak para Jurnalis untuk mencoba langsung fitur kamera Galaxy S10.
Selaku sutradara professional, Jay Subyakto pun lantas memberikan lima tips rekam video menggunakan smartphone. Check this out!
Memilih smartphone yang tepat. Untuk mendapatkan footage yang baik dan layak untuk menjalani proses editing, pilih smartphone dengan kemampuan merekam baik. Rangkaian Samsung Galaxy S10 dilengkapi dengan kemampuan merekam video HDR10+ dan 10 bit, sehingga dapat menghadirkan kekentalan warna yang tidak akan pecah saat mengalami proses editing.
Perlakukan tangan layaknya tripod. Teknik ini dapat mengurangi guncangan saat merekam video. Samsung Galaxy S10 dilengkapi fitur Super Steady yang memampu meredam goncangan saat proses perekaman gambar. Super Steady pada kamera merupakan lompatan inovasi yang memungkinkan perekaman video dengan mulus, menstabilkan perekaman gambar meski objek video bergerak, hingga cuplikan video yang dihasilkan terlihat halus tanpa goncangan berarti.
Merekam dengan format landscape. Hasil rekaman akan terasa lebih utuh saat kita menggunakan format landscape saat merekam video menggunakan smartphone. Samsung Galaxy S10 dilengkapi Ultra-Wide angle yang mampu menangkap video sesuai dengan apa yang ditangkap oleh mata (123o) sehingga mampu memberikan efek sinematik.
Untuk menambah efek sinematik, kita dapat memanfaatkan sejumlah teknik pengambilan gambar saat sedang melakukan merekam menggunakan smartphone: a) Teknik Tilt – menggunakan tangan sebagai tumpuan untuk kemudian menggerakan smartphone ke atas atau ke bawah. b) Teknik Slide – sama seperti teknik tilt, teknik ini juga menggunakan tangan sebagai tumpuan, kemudian menggerakan smartphone ke kanan dan ke kiri. c) Teknik Panning – teknik ini digunakan dengan menjadikan badan sebagai tumpuan, dapat dilakukan dengan gerakan vertikal atau horizontal.
Memperhatikan angle pengambilan video. Samsung Galaxy S10+ dilengkapi dengan pilihan kamera berakang, Ultra – Wide, Wide dan Telephoto, sehingga dapat menangkap stock shoot dengan beragam angle.
Jay juga menambahkan tips mengambil video di tempat bersalju. Menurutnya, ukuran smartphone yang kecil seringkali membuatnya sulit untuk menangkap gambar dengan steady, sehingga hasil recording dari smartphone sering terlihat shaky. Jangankan sambil melakukan aktivitas lain, mengambil video sambil berjalan saja sering terlihat tidak stabil. Untuk menyiasati permasalahan tersebut, pengguna Samsung Galaxy S10 dapat mengatifkan fitur Super Steady saat me-record video. Hasilnya gambar akan terlihat lebih stabil meski sedang bermain salju sekalipun.