Telko.id, Bangkok – Samsung resmi memperkenalkan salah satu seri tabletflagship-nya, Samsung Galaxy Tab S5e. Apabila dibandingkan dengan seri terdahulunya, yakni Samsung Galaxy Tab S4, tablet ini memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam sisi desainnya.
Samsung Galaxy Tab S5e memiliki desain yang tidak seperti tablet pada umumnya, yang biasanya punya bobot berat dan body yang cukup tebal.
Diungkapkan Randy Tonggo, Product Marketing Manager Samsung Mobile Indonesia, tablet ini hanya berbobot 400 gram dengan ketebalan mencapai 5,5 mm saja.
{Baca juga: Waah… Laptop Gaming Ini Bisa Berubah Jadi Tablet Terkencang}
“Jika dibandingkan, ketebalannya sama dengan 5 Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang ditumpuk, dan beratnya lebih ringan dari segelas kopi yang biasa kita beli,” katanya di acara Media Session Galaxy Tab Series, di Bangkok, Thailand, Selasa (09/04/2019).
Foto: Muhammad Faisal/Telko.id
Tablet ini mengusung layar berukuran besar, tepatnya 10,5 inci berjenis Super AMOLED beresolusi (2560 x 1600 piksel). Dijelaskan Selvia Gofar, Senior Product Marketing Manager Samsung Mobile Indonesia, layar sebesar itu mampu menunjang berbagai aktivitas pengguna secara maksimal, dari bekerja sampai hiburan.
Sementara untuk spesifikasinya, Samsung Galaxy Tab S5e telah menggunakan prosesor octa-core 2.0 GHz Snapdragon 670, RAM 4GB, ROM 64GB yang bisa diperluas menggunakan microSD hingga 512GB, baterai berkapasitas 7,040 mAh yang didukung fast charging 18W, dan sistem One UI berbasis Android 9 Pie.
Meskiditujukan bagi pengguna dengan mobilitas yang tinggi, namun Samsung tetap memaksimalkan sisi multimedia pada tablet terbarunya ini. Menurut Selvia, Galaxy Tab S5e telah memiliki empat speaker stereo dari AKBG dengan dukungan teknologi Dolby Atmos.
{Baca juga: Main Gadget Malam Hari Bikin Anak-anak Susah Tidur}
Yang menarik, speaker ini dapat beradaptasi secara otomatis pada saat pengguna menggunakannya secara portrait ataupun landscape.
“Tablet ini juga sudah punya empat speaker stereo dari AKG. Suaranya seperti berputar karena ada teknologi 3D Dolby Atmos,” ucapnya.
Di sisi kamera, Samsung menyematkan kamera utama dengan sensor 13MP aperture f/2.0 di belakang, dan kamera selfie dengan sensor 8MP aperture f/2.0 untuk kebutuhan memotret, video call, dan lainnya. Lantas, bagaimana dengan harga Samsung Galaxy Tab S5e?
Well, Samsung melepasnya dengan harga Rp 7,4 jutaan, dan akan tersedia pada akhir April mendatang. Tablet ini punya tiga pilihan warna, yaitu Black, Silver, dan Gold. Seperti seri Galaxy Tab S sebelumnya, Samsung juga menyediakan aksesoris berupa Pogo Keyboard yang bisa dihubungkan lewat port magnetik di body tablet seharga Rp 1,6 jutaan. (FHP)
Telset, Jakarta – Seorang wanita yang asyik berbicara di ponsel, ditabrak taksi ketika dia menyeberang jalan, Lavender Street dekat Kempas Road, Jumat (5/4/2019) kemarin.
Cuplikan kecelakanaan yang diambil melalui Dashcam beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang wanita sedang menggunakan ponselnya sambil terburu-buru menyeberang jalan di tengah lalu lintas yang padat.
Wanita ini tidak menggunakan tempat penyeberangan bagi pejalan kaki. Menurut keterangan waktu dalam video, insiden ini terjadi di area Bendemeer, pada Jumat pukul 15:12 sore.
{Baca juga:Seperti Pesawat, Mobil di Inggris Bakal Punya ‘Kotak Hitam’
Dalam klip tersebut, tampak wanita itu melintasi dua lajur dari jalan empat lajur sebelum berhenti di dekat tengah lajur paling kiri. Tak lama setelah itu, sebuah taksi menabraknya hingga terpental.
Sopir taksi kemudian menghentikan mobilnya dan keluar untuk membantu wanita itu. Wanita itu mampu berdiri dan sopir taksi membimbingnya hingga ke trotoar terdekat.
Rekaman kecelakaan itu diunggah di beberapa halaman Facebook termasuk di SG Road Vigilante dan District Singapore. Insiden ini mendorong para netizen untuk mendesak agar para pejalan kaki lebih berhati-hati.
Seorang pengguna Facebook, Isaac Boo, menulis bahwa bentangan Lavender Street tempat insiden itu terjadi terdapat banyak pejalan kaki.
Pengguna lain, Yusrin Yusof mengatakan, sebaiknya jangan menggnakam ponsel sambil berjalan di jalan raya. “Jangan berbicara di telepon sambil berjalan atau menyeberang. Anda harus keluar mencari untuk … lalu lintas bukan sebaliknya,” tulisnya.
{Baca juga:Google Hadirkan Aplikasi Pemandu Jalan untuk Tunanetra}
Pengguna Facebook Steven Chan menyarankan pejalan kaki agar tetap waspada terhadap kendaraan yang datang dari kiri jalan bahkan ketika terjadi kemacetan. [BA/HBS]
Telko.id – Tarif sewa infrastruktur di jalur MRT dianggap terlalu tinggi oleh beberapa operator. Tak heran, tidak semua operator sinyal nya ‘manteng’ di jalur MRT ini. Hanya ada Telkomsel dan Smartfren.
Smartfren sendiri, benar-benar memanfaatkan peluang uji coba yang diberikan oleh Tower Bersama group sebagai mitra strategis penyedia konektivitias seluler dan jaringan internet nirkabel/wifi yang ditunjuk oleh MRT Jakarta. Sambil, terus bernegosiasi untuk memperoleh titik temu tarif yang menguntungkan kedua belah pihak.
Yang sebenarnya, pihak penyelenggara, memberikan kesempatan trial pada semua operator. Ya, kalau kemudian yang melakukan trial adalah Smartfren dan Telkomsel ya ndak apa-apa. Mungkin yang lain sudah pengalaman.
Penyediaan sinyal di jalur MRT ini memang tidak mudah. Pasalnya, ada sebagian kereta cepat ini melalui tunnel atau terowongan. Lalu, area MRT ini juga banyak berada dibawah tanah, jadi, perlu infrastruktur khusus agar pengguna MRT tetap dapat nyaman berkomunikasi.
“MRT Jakarta ini kan melewati tunnel yang bisa dipastikan, signal dari luar tidak bisa masuk. Kebetulan TBG telah menyiapkan antena-antena dan kita tinggal nyantel ke sana untuk uji coba atau trial,” jelas Deputy CEO of Commercial Smartfren, Djoko Tata Ibrahim kepada awak media usia menjajal layanan Smartfren di MRT Jakarta, Selasa (9/4).
Menurut Djoko, proses negosiasi telah dilakukan Smartfren dan TBG semenjak tiga bulan yang lalu. Diklaim dia, sudah mulai terlihat titik temu dari proses negosiasi tersebut. Proses uji coba ini dilakukan sampai pada akhirnya Smartfren dan TBG menyepakati biaya sewa dan tidak ada biaya yang dikeluarkan selama proses uji coba.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari TBGI atau pun operator seluler mengenai tarif pasti penyewaan infrastruktur jaringan MRT. Sebelumnya sempat beredar laporan, TBIG menetapkan tarif sewa Rp 600 juta per bulan.
Smartfren sendiri sedang melakukan uji coba yang baru dimulai sejak dua minggu belakangan ini.
“Sudah dua mingguan lebih, kami melakukan koneksi dengan infrastruktur telekomunikasi di MRT ini. Dalam rangka uji coba atau trial. Kami monitoring semua. Apakah sinya stabil tidak, apa yang menyebabkan sinyal up and down nya bisa kita ukur, kalau kereta lewat bagaimana. Semua nya kita monitoring untuk mengantisipasi apa yang perlu di improved,” ujar Merza Fachys, Presiden Direktur Smartfren, ketika ditemui usai uji coba jaringan Smartfren di MRT Jakarta, Selasa (9/4).
Sampai kapan akan melakukan uji coba? Merza berharap trial ini dapat berlangsung sampai negosiasi selesai karena itu yang tertulis dalam surat perjanjian trial ini.
“Untuk harganya belum tahu, karena kami ingin lihat bisnis modelnya dulu bisa seperti apa saja. Apakah bisa biayanya naik pelan-pelan per bulan, per terowongan (bawah tanah), atau seperti apa. Sejauh ini belum ada ketetapan biaya,” tutur Merza.
“Kita akan cari solusi yang saling menguntungkan, pasti ada. Ini masih kami diskusikan,” ungkap Merza mempertegas.
Negosiasi tarif sewa ini berlangsung antara para ATSI atau Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia yang terdiri dari perwakilan para operator seluler dengan Tower Bersama Infrastructure (TBIG) sebagai mitra strategis yang ditujuk oleh MRT Jakarta untuk penyedia konektivitas seluler dan jaringan nirkabel atau WiFi di wilayah operasional MRT Jakarta.
TBIG, ini membangun leakage cable di terowongan jalur MRT agar para provider seluler bisa meletakkan Base Transceiver Station (BTS) mereka di sana. BTS ini yang kemudian akan menyalurkan sinyal seluler ketika konsumen berada di jalur bawah tanah MRT.
Sementara itu, dari sisi teknologinya, menurut VP Technology Relations and Special Project Smartfren Munir Syahda Prabowo, sepanjang jalur MRT Jakarta pihaknya telah menyematkan teknologi 4G Advanced.
“Untuk di indoor, kami memakai teknologi yang namanya cable leak yang dipasang oleh partner kami, TBIG. Kalau Smartfren tugasnya memberikan ‘suntikan sinyal’ ke kabel yang telah disediakan TBIG dari BTS yang kami miliki,” terangnya.
Untuk melayani para penumpang MRT Jakarta, Smartfren memasang 4 BTS di transportasi ini. Smartfren diklaim dapat menampung 2.000 pelanggan per BTS-nya secara bersamaan dan tidak akan lemot saat menggunakan jaringannya.
Sedangkan untuk bisa melayani sepanjang jalur MRT, Smartfren akan memasang 10 BTS supaya sinyal bagus, bukan hanya di dalam tunnel tetapi juga di semua area MRT. (Icha)
Telko.id – Samsung membuat lompatan besar dalam usahanya menahan gempuran dari smartphone China di pasar Indonesia, dengan meluncurkan seri Galaxy M pada awal tahun ini. Kini di segmen menengah atas, Samsung mengeluarkan kwartet A series yakni Samsung Galaxy A50, A30, A20 dan A10.
Saat peluncurannya, seri tertinggi dari kuartet A series, yakni Samsung Galaxy A50 menawarkan beberapa fitur unggulan yang biasa ada di perangkat flagship.
Sebut saja seperti sensor sidik jari optik yang berada di bawah layar, layar Super AMOLED, dan Tiga kamera belakang. Sementara jeroannya disokong chipset baru Exynos 9610.
Untuk mengetahui lebih jauh keunggulan dan kekurangan dari smartphone yang dibandrol dengan harga Rp 4.099.000 ini, kami akan mengulasnya pada review Samsung Galaxy A50 berikut ini.
Desain dan Layar
Dalam hal dimensi, Galaxy A50 sangat mirip dengan A30, memiliki layar yang persis sama dengan menggunakan layar Full HD+ (2340 x 1080) Super AMOLED Infinity-U 6,4 inci. Memang terasa sedikit besar, terutama ketika meraih keseluruhan area.
Tetapi seperti semua perangkat dengan layar besar, Anda harus menyesuaikan gengaman tangan untuk mencapai semua area terutama sudut layar dalam satu penggunaan tangan. Tetapi tidak seperti Galaxy A30 yang memiliki sensor sidik jari di belakang, saat menggenggam A50 tidak perlu repot mengatur tangan untuk menggunakan sensor sidik jari, karena sensor sidik jari optik terpasang di layar.
Foto : Helmi / Telko.id
Lalu pada layar ada lekukan kecil di bagian atas, yang oleh Samsung disebut sebagai layar Infinity-U atau yang biasa kami sebut ‘waterdrop notch’. Ini merupakan rumah untuk kamera selfie bersama dengan sensor lainnya.
Desain Galaxy A50 sendiri ramping cuma 7,7mm, dengan jack headphone 3.5mm dan USB-C di bagian bawah, Lalu ada tombol power dan volume di samping. Perangkat itu memang terasa sedikit berbobot dibandingkan dengan ponsel seri A lainnya, tetapi tidak dalam jumlah yang berarti.
Meskipun bingkainya terlihat seperti aluminium dan bagian belakangnya menyerupai kaca, ternyata masih menggunakan bahan Polimer. Sedangkan untuk ketahanan layar ada Gorilla Glass 5 di bagian depan. Ketika dirilis, Galaxy A50 akan tersedia dalam empat pilihan warna, yakni warna black, white, blue dan coral.
Hardware dan Performa
Foto : Helmi / Telko.id
Samsung Galaxy A50 ditenagai oleh chipset Exynos 9610, yang belum pernah digunakan di ponsel Galaxy apa pun. Dibangun pada proses fabrikasi 10nm, chipset ini menggunakan arsitektur octa-core big.LITTLE. Keempat inti Cortex A73 yang memiliki clock speed 2.3GHz.
Rasanya cukup kuat untuk melakukan semua kegiatan seperti main game, bersosmed, bahkan edit video dengan aplikasi pihak ketiga. Sedangkan empat core efisiensi Cortex A53 yang memiliki clock 1.7GHz, memastikan bahwa ponsel ini tidak menyedot daya saat tidak melakukan aktivitas yang berlebihan. Ada GPU MP3 Mali G72 yang menangani grafis.
Galaxy A50 yang kami review memiliki RAM 4GB untuk ROM 64GB. Akan tetapi Samsung juga menyediakan varian RAM 6GB dan ROM 128.
Kinerja Galaxy A50 yang kami pakai selama satu minggu ini terasa sangat nyaman untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Saat kami coba mengukur menggunakan aplikasi benchmarking AnTuTU, Galaxy A50 yang kami pakai mencatat skor 143.283.
Skor ini kurang lebih hampir sebanding dengan skor yang dicatat Redmi Note 7 dengan 143.976, dan Realme 3 dengan skor 132.851. Kedua smartphone tersebut juga sudah kami review sebelumnya.
Untuk performa baterai, Galaxy A50 sesuai dengan apa yang Anda harapkan dari sebuah ponsel dengan baterai 4.000 mAh. Ponsel ini tahan sehari penuh dengan berbagai aktifitas, seperti bermain game, media sosial, streaming musik, dan streaming film. Dari penggunaan aplikasi Accubattery, 4000 mAh dapat menempuh waktu penggunaan 13 jam 50 menit dari i 100% hingga 0%. Dengan catatan waktu Screen On Time 8 jam 7 menit.
Untuk pengisian baterai, Galaxy A50 sudah menggunakan fitur Fast Charging 15 watt. Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian baterai 1% – 100% sekitar 2 jam 31 menit.
Kamera
Foto : Helmi / Telko.id
Galaxy A50 hadir dengan pengaturan tiga kamera belakang yang mencakup lensa utama 25MP, lensa ultra wide 8MP (sudat pandang 123 derajat), dan sensor Bokeh 5MP. Ini mirip dengan Galaxy A7 (2018), hanya kamera utama adalah sensor 25MP dan bukan sensor 24MP, dan kualitas gambar tidak berubah sebagai hasilnya.
Sebelum kita melihat dan berbicara tentang sampel kamera, aplikasi kamera pada Galaxy A50 mengemas sejumlah fitur yang kita bisa jelajahi. Anda mendapatkan Live Fokus (mode bokeh), mode Pro, bersama dengan Slow motion dan opsi perekaman video hyperlapse juga ada.
Kamera utama mengambil foto yang bagus dalam cahaya alami yang cukup, tetapi ada noice dalam pengambilan cahaya rendah. Detail menjadi buram dalam kondisi cahaya rendah, dan jika ada terlalu banyak lampu di sekitar objek, hasil foto menjadi sedikit berlebihan.
Pencahayaan Maksimal di Siang hari / Foto : MaulSore hari dengan pencahayaan lampu gedung / Foto : Maul
Lensa ultra-wide yang menjadi bintang menurut kami. Pasalnya ini sangat membantu kami untuk mengambil lebih banyak objek dalam satu gambar. Namun, gambar yang diambil dengan sensor ultra-wide terlihat berbeda dari yang diambil dengan kamera belakang utama. Resolusi yang lebih rendah berarti Anda tidak dapat memperbesar gambar terlalu banyak, dan karena lensa ultra-wide memiliki aperture F2.2 (kamera utama adalah F1.7).
So! Hasil foto kurang cahayanya sudah barang tertentu berbeda apalagi tidak dilengkapi autofokus. Untungnya, Samsung telah menambahkan opsi mode Pro (manual) agar bisa mengambil foto sesuai dengan keinginan kami.
Kondisi dalam ruangan dengan lensa utamaKondisi dalam ruangan dengan lensa Ultra wide
Pada lensa ultra-wide juga tidak bisa menggunakan fasilitas zoom. Oh ya..untuk fasilitas zoom 4x pada kamera utama juga belum membuat kami tersenyum, masih banyak noice dimana-mana mungkin ini cocok untuk keadaan darurat (yang penting ada fotonya).
Penggunaan Zoom 4X
Penggunaan fasilitas Burst juga agak susah mendapatkan hasil maksimal ketika mengambil foto dengan objek bergerak, ketika objek banyak bergerak yang membuat hasil foto jadi kurang bagus.
Penggunaan faslitas Burst
Lensa kamera belakang ketiga adalah sensor bokeh 5MP yang memungkinkan gambar Fokus Langsung (bokeh). Ini yang membuat kami tersenyum melihat hasilnya. Beberapa hasil foto sangat mengagumkan meski bokeh yang dihasilkan kadang-kadang kurang rapih dan terlihat aneh jadinya.
Mungkin karena perbedaan dalam resolusi kamera utama dan kedalaman. Foto-foto Live Focus yang diambil didalam ruangan dengan pencahayaan yang baik mampu menghasilkan foto dramatis pemisahan yang cukup antara subjek dan latar belakang.
Namun, hal-hal bisa sedikit berlebihan di siang hari yang cerah. Foto Live Focus pada kondisi malam biasanya baik juga, tetapi Galaxy A50 dapat gagal untuk menambahkan efek bokeh tanpa cahaya yang cukup.
Konsidi cahaya minim
Kamera depan dengan resolusi 25MP dengan aperture f2.0 juga dapat mengambil foto dengan mode Live Fokus. Dalam cahaya yang cukup dan kondisi yang tidak terlalu terang, hasilnya cenderung melembutkan wajah. Detailnya cukup bagus. Kamera berfungsi dengan baik selama menggunakan sensor wajah bahkan dalam kondisi cahaya redup.
Selfie dengan pencahayaan lampu di dalam ruangan
Video
Galaxy A50 mendukung perekaman video hingga resolusi 1080p (Full-HD) dari kamera depan dan belakang. Tidak ada rekaman video 4K, perangkat juga tidak memiliki opsi 60fps dan itu sangat mengecewakan bagi seseorang yang berencana untuk membeli ponsel ini hanya karena kameranya.
Kami merekam beberapa sampel dari Galaxy A50, satu dengan lensa standar dan lainnya dengan lensa ultra wide-angle. Meskipun reproduksi warna dan stabilisasi video sederhana, Anda juga dapat melihat kamera cepat mendapatkan fokus dan pencahayaan.
Interface
Foto : Helmi / Telko.id
Galaxy A50 (bersama dengan Galaxy A30 dan Galaxy A10) adalah perangkat di segmen menengah pertama Samsung yang hadir dengan Android Pie dan Samsung One UI dengan versi terbaru One UI 1.1, sama seperti yang ditemukan di Galaxy S10.
One UI 1.1 menghadirkan dukungan untuk fitur Digital Wellbeing, yang berfungsi yang memberi tahu Anda seberapa banyak menggunakan ponsel setiap hari dan memungkinkan Anda menyetel alarm dan timer untuk memberi tahu Anda bahwa Anda terlalu sering menggunakan ponsel atau aplikasi tertentu.
A50 mendukung Bixby Voice meskipun tidak memiliki tombol Bixby khusus . Samsung sekarang membiarkan Anda menggunakan tombol power untuk meluncurkan Bixby Voice, dan ini langkah yang cerdas.
Setelah tombol power dipetakan ke Bixby, opsi power untuk restart atau mematikan telepon dipindahkan ke di sebelah tombol pengaturan (untuk melihat geser layar dari atas kebawah) dan ini eksklusif untuk Android Pie.
{Baca juga:Segera Dirilis, Ini Harga Samsung Galaxy A40}
Fitur lain pada Galaxy A50 termasuk mode One UI Night , Always On Display, Secure Folder, Dual Messenger , mode One-handed, Game Launcher, Blue light Filter, dan navigation bar gestures. Anda bisa mendapatkan opsi isyarat seperti mengangkat telepon untuk membangunkan dan Ketuk dua kali untuk membangun,
Sensor Sidik Jari
foto : Maul / Telko.id
Ketika saya pertama kali mengatur sensor sidik jari di layar pada Galaxy A50, kami merasa seperti yang pernah kami lakukan di sensor ultrasonik pada Galaxy S10 Plus. Pendapat saya berubah setelah beberapa hari.
Sensor sidik jari A50 sayangnya meski saat pengaturan awal diminta begitu banyak sudut sidik jari, tetapi kami mengalami kesulitan untuk membukanya, terlalu banyak kesalahan. Yang lebih buruk lagi, kadang-kadang saya diminta untuk menempelkan jari lebih lama, hanya untuk memberi tahu bahwa tidak ada kecocokan saat menempelkan jari.
Samsung Pay
Foto : Helmi / Telko.id
Samsung Pay adalah pengembangan aplikasi pada smartphone Samsung Galaxy yang memungkinkan pengguna untuk dapat melakukan live transaction sehingga melakukan pembayaran lebih cepat dan mudah, dengan teknologi QR menggunakan dompet digital dari layanan mitra yang sudah bekerja sama dengan Samsung.
Aplikasi sudah pre-installed di Galaxy A50 atau Pengguna Samsung Galaxy lainnya, bisa mendapatkan aplikasi Samsung Pay pada Google Playstore dan Galaxy Store. Untuk menggunakan akun Dana sebagai sumber e-wallet Samsung Pay, pastikan pengguna telah memiliki akun Dana sebelumnya. Proses pendaftaran akun Dana juga bisa dilakukan secara mudah hanya dengan 3 langkah pada aplikasi Samsung Pay.
Kesimpulan
Galaxy A50, memiliki aspek fitur yang baik seperti layar Super AMOLED. Sedangkan Samsung terus menjadi satu-satunya pabrikan yang memberi Anda kamera belakang ultra wide untuk smartphone di segmen menengah. Galaxy A50 memiliki daya tahan baterai yang sangat baik dan dilengkapi dengan Android Pie dan antarmuka dan fitur One UI terbaru Samsung.
Sayangnya, sensor sidik jari dalam layarnya tidak sesuai dengan akurasi dan konsistensi sensor sidik jari kapasitif. Namun, jika Anda menginginkan teknologi dan perangkat lunak terbaru, Galaxy A50 adalah opsi yang cukup bagus yang bisa Anda miliki.
Kelebihan
Kekurangan
Desain yang cantik
Tampilan Layar AMOLED
Spesifikasi dapur pacu yang kuat
Sensor sidik jari dalam layar
Daya tahan baterai sangat baik, dukungan pengisian cepat
Performa kamera siang hari baik dan kamera ultra lebar berfungsi dengan baik
Mengambil selfie biasa dan bokeh yang bagus
Android Pie dengan One UI out of the box, dukungan Bixby Voice
Sensor sidik jari optik terlalu rewel, kurang akurat
Telko.id, Jakarta – Ada selentingan baru terkait rencana kehadiran iPhone 2019. Katanya, iPhone terbaru bakal nongol dengan fitur tiga kamera. Tak hanya satu, tetapi ada dua iPhone 2019 yang berformat tiga kamera.
Dilansir 9To5Mac, seperti dikutip Telko.id, Selasa (9/4/2019), dua iPhone 2019 akan menggunakan layar OLED, seperti halnya iPhone XS dan iPhone XS Max pada 2018 lalu. Bedanya, dua ponsel itu akan berlayar lebih besar.
Informasi menyebut, iPhone terbaru bakal menggunakan layar OLED berukuran 6,1 inci dan 6,5 inci. Tahun lalu, Apple mengadopsi layar OLED berukuran 5,8 inci untuk iPhone XS dan layar OLED 6,5 inci untuk iPhone XS Max.
Kabar lain menyatakan bahwa iPhone terbaru berlayar 6,1 inci dan 6,5 inci akan lebih tebal daripada iPhone XR dan iPhone XS Max. Namun, tambahan ketebalannya hanya dalam satuan milimiter yang berarti sangatlah kecil.
{Baca juga:iPhone 2019 Punya Mode Underwater, Buat Apa?}
Nantinya, teknologi tiga kamera di iPhone terbaru akan digunakan untuk fitur Depth-Sensing. Tapi, beberapa sumber mengatakan bahwa iPhone tiga kamera akan memberikan lensa Ultra Wide untuk mengambil foto lebih luas.
Selain tiga kamera belakang, iPhone keluaran 2019 juga akan menggunakan Bidirectional Wireless Charging. Daya baterai bisa diisi ke perangkat iPhone lain cukup lewat fitur Wireless Charging di bagian belakang ponsel.
{Baca juga: Apple Bakal Ganti Semua Layar iPhone 2020 ke OLED?}
Selain kamera, iPhone versi mendatang konon akan berbekal sejumlah peningkatan internal. Satu di antaranya adalah kecepatan Wi-Fi lebih baik. Perusahaan riset Barclays melaporkan bahwa iPhone akan didukung standar Wi-Fi 6 terbaru.
Telko.id, Jakarta – Setelah sukses dengan menggelar eSport game competitionJakarta Survivor League 2019, Telkomsel kembali menggelar kompetisi eSport bertajuk “Jawara Cup 2019”.
Pihak Telkomsel menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan dukungan mereka untuk ikut mengembangkan industri eSport atau olahraga elektronik di Indonesia.
Game yang dilombakan dalam kompetisi ini adalah Free Fire, dimana game ini merupakan salah satu yang paling banyak diminati oleh kalangan gamers.
“Telkomsel tidak hanya mendukung hobby dan minat para generasi muda masa kini saja, tetapi kami juga ingin menciptakan engagement yang kuat dengan mereka untuk sama-sama membangun dan mengembangkan eSport di Indonesia,” kata General Manager Digital Product Area Expansion Jabotabek Jabar Telkomsel Kurnia Hadhi dalam keterangannya, Selasa (9/4/2019).
{Baca juga: Telkomsel Gelar ‘Jakarta Survivor League 2019’ untuk Gamers “Newbie”}
Oleh karena itu, lanjut Hadhi, dalam kepanitiaan kompetisi kali ini Telkomsel juga melibatkan banyak pihak seperti para komunitas games, para gamers yang menjadi caster langsung serta youtuber.
Kompetisi games Jawara Cup 2019 ini dimulai dari bulan April hingga Mei 2019 dan diikuti oleh 3250 gamers atau 650 squad dengan hadiah total puluhan juta rupiah.
Para gamers yang mengikuti kompetisi ini berasal dari berbagai kalangan dari mulai pelajar hingga komunitas-komunitas pecinta online games di wilayah Jabotabek Jabar.
Jawara Cup 2019 ini digelar secara online dan offline, dimana pada babak final nanti tim yang lolos akan bertemu dan dilombakan secara langsung.
{Baca juga: Telkomsel Gelar Indonesia Games Championship eSports}
Hingga saat ini ada lebih dari 6,3 juta pelanggan Telkomsel di wilayah operasional Jabotabek Jabar yang mengakses game online melalui smartphone, dimana top 3 games yang dimainkan adalah Free Fire, Mobile Legends dan PUBG.
“Melalui kompetisi Jawara Cup 2019, kami berharap dapat mewadahi hobby dan minat anak muda yang gemar dengan olahraga elektronik,” tutup Hadhi. [HBS]
Telko.id, Jakarta – Dominasi penjualan game digital oleh Steam kembali terusik. Bukan dari Epic Store Games, melainkan oleh platform serupa asal China, yaitu WeGame milik perusahaan besar Tencent.
Menurut laporan Engadget, Tencent diam-diam telah membuka akses layanan WeGame ke berbagai negara.
Itu artinya, layanan penjualan game digital tersebut sekarang dirilis untuk global, bukan hanya di China seperti selama ini.
Kabarnya, Tencent menggunakan layanan server yang ada di Hong Kong untuk merilis versi global dengan nama WeGame X. Namun dalam peluncurannya, layanan ini masih bisa dibilang sedang dalam tahap early access.
{Baca juga:Game Online Bikin Saham Tencent Melesat}
Ini dari versi China yang sudah menyediakan banyak game terutama game buatan developer dan studio negaranya. WeGame X masih berisi 17 gam. Disebutkan bahwa game tersebut merupakan game buatan developer indi asal China.
Untuk fitur, disebutkan sebagian besar sudah serupa seperti di layanan Steam. Misalnya bagian ulasan, genre tag, mode offline untuk beberapa game dan layanan penyimpanan progres permainan di layanan cloud.
WeGame X dilihat sebagai cara bagi industri game China untuk bisa berjaya tidak hanya di dalam negaranya. WeGame dikabarkan sudah memiliki basis pengguna sebesar 200 juta pengguna di negaranya.
{Baca juga:Begini Cara Main PUBG Mobile di PC Pakai Tencent Gaming Buddy}
Nantinya, game buatan developer China yang disudah dibuat versi globalnya bisa tersedia di WeGame X. Sebelumnya, layanan Steam sangat menguasai bisnis distribusi game berformat digital. Sebagian besar publisher game menyediakan game mereka untuk dijajakan lewat Steam. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta– Indonesia sedang berbangga atas prestasi yang dicapai oleh PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GoJek, karena berhasil menyandang status Decacorn. Namun banyak yang meragukan status tersebut karena menganggap nilai valuasi GoJek belum memenuhi syarat.
Seperti diketahui, Decacorn adalah istilah yang diberikan kepada perusahaan rintisan digital dengan valuasi lebih dari USD 10 miliar atau setara Rp 141 triliun.
Sementara GoJek dikabarkan memiliki nilai valuasi mencapai USD $ 10 miliar atau Rp 141,5 triliun. Namun ada kabarnya nilai valuasi belum menyentuh angka tersebut.
Dilansir Telko.id dari TechCrunch pada Selasa (09/04/2019), berdasarkan dua sumber yang dekat dengan perusahaan, nilai valuasi GoJek sebenarnya baru mencapai USD$ 9,5 miliar atau Rp 134,4 triliun. Data ini merujuk pada laporan pendanaan terbaru perusahaan itu di bulan Januari lalu.
Perlu diketahui bahwa kabar status Decacorn bermula dari laporan perusahaan analitik CB Insights pada awal April 2019. Dalam laporannya yang dikuti banyak media, GoJek masuk dalam daftar 19 perusahaan Decacorn dengan nilai valuasi mencapai USD $ 10 miliar atau sudah memenuhi syarat sebagai Decacorn.
{Baca juga: Selamat! Gojek Naik Kelas Menjadi Decacorn}
GoJek memang cukup tertutup mengenai nilai valuasi terbaru mereka. Perusahaan ride sharing itu hanya mengatakan bahwa pihaknya mendapat kucuran dana lebih dari USD 1 miliar, sehingga ketika CB Insights menulis bahwa GoJek telah menjadi Decacorn, maka media pun langsung merilis beritanya.
Laporan CB Insights pun cukup menarik karena menuliskan nilai valuasi Grab sebesar USD $ 11 miliar atau Rp 155,7 triliun. Padahal valuasi kompetitor Gojek itu sudah mencapai USD $ 14 miliar atau Rp 198,1 triliun karena mendapat kucuran dana sekitar $ 1,46 miliar atau Rp 20,6 miliar dari SoftBank’s Vision Fund.
{Baca juga: Diduga Dukung LGBT, Warganet Bikin Tagar #UninstallGojek}
Hingga saat ini perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim itu belum mau berkomentar terkait status Decacorn dan informasi bantahan yang menyebut jika valuasi Gojek belum layak menyandang Decacorn.
Namun kasus ini membuktikan bahwa media dapat membangun berita dari sepotong informasi yang belum diverifikasi terlebih dahulu. Jadi apakah Gojek sudah naik kelas atau belum masih menjadi misteri hingga saat ini. [NM/HBS]
Telko.id, Jakarta – Sebuah sistem pengenalan wajah telah gagal melindungi seorang pria dari dua orang pencuri yang berhasil membuka kunci ponselnya saat dia tidur. Akibatnya, ia kehilangan lebih dari 12.000 yuan atau sekitar Rp 25,5 juta.
Menurut laporan berita televisi setempat, pria asal Provinsi Zhejiang, yang diidentifikasi bernama Yuan, menghubungi polisi pada Selasa (2/4/2019) setelah mengetahui uang dari rekening banknya hilang.
Setelah dilakukan penyelidikan, petugas kepolisian menduduh dua teman sekamar Yuan yang bertanggungjawab atas pencurian tersebut.
Polisi mengatakan, kedua pelaku membuka kunci telepon saat korban tidur dan menggunakan WeChat Pay untuk mentransfer dana ke rekening mereka sendiri. Uang yang dicuri dua temannya itu kemudian dikembalikan ke Yuan.
{Baca juga: Stasiun Kereta Beijing Pakai Pemindai Wajah dan Tangan}
Dalam laporan itu, tidak disebutkan merek dan jenis ponsel itu. Tetapi seorang petugas polisi yang tidak disebutkan namanya mengatakan harganya sekitar 1.000 yuan atau sekitar Rp 2,1 juta.
“Sepertinya fitur pengenalan wajah di ponsel Yuan tidak terlalu dapat diandalkan. Kami melakukan tes dan menemukan, anda juga bisa membuka kunci, bahkan dengan mata tertutup,” katanya.
Banyak smartphone yang dilengkapi dengan sistem pengenalan wajah sebagai perangkat keamanan, tetapi tidak semua memerlukan pemindaian iris, sehingga dapat dibuka dengan lebih mudah.
Saat ini, China memimpin dunia dalam teknologi pengenalan wajah dan dengan cepat menjadi fitur kehidupan sehari-hari masyarakat. Teknologi ini, banyak digunakan oleh tim keamanan untuk melihat semua orang yang dicurigai sebagai penjahat.
Tan Jianfeng, pendiri Shanghai Zhongren Network Security Co, mengatakan bahwa sistem pengenalan sidik jari dan wajah berfungsi sementara, orang harus tetap menggunakan nomor identifikasi pribadi untuk menjaga data pribadi dan keuangan mereka tetap aman.
“Jika kata sandi hilang, anda dapat mengubahnya, tetapi informasi biometrik tidak dapat diproduksi ulang. Setelah bocor, anda tidak bisa mendapatkan wajah baru. Di era big data, sekali otentikasi biometrik telah selesai semua informasi itu dikonversi menjadi kode mesin, dan selama dalam bentuk itu dapat dicegat,” katanya.
Pada 2015, Kementerian Keamanan Publik China meluncurkan proyek untuk membangun basis data pengenalan wajah paling kuat di dunia.
{Baca juga: Berkat Teknologi Pemindai Wajah, Buronan Diciduk saat Nonton Konser}
Tujuannya adalah untuk dapat mengidentifikasi lebih dari 1,3 miliar warga negaranya. Caranya dengan mencocokkan pemindaian wajah dengan gambar pada kartu identitas mereka, dalam waktu tiga detik dan dengan tingkat akurasi 90 persen.
Sementara itu, perusahaan teknologi Cina seperti Tencent, yang mengembangkan WeChat Pay, telah mengadopsi sistem pengenalan wajah untuk digunakan dalam pembayaran ritel, perjalanan, dan seluler. Orang-orang sekarang juga dapat menarik uang tunai dari ATM menggunakan pengenalan wajah. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) ingin menggunakan HoloLens untuk keperluan anggotanya. Guna menunjukkan cara kerjanya, mereka mendemonstrasikan Integrated Visual Augmentation System (IVAS).
Angkatan Darat AS menggunakan HoloLens 2 yang telah dimodifikasi untuk membantu para tentara berlatih serta memberi informasi dalam pertempurann.
CNBC melaporkan, IVAS terasa seperti Call of Duty yang sebenar-sebenarnya. Melalui perangkat AR buatan Microsoft itu, tentara AS bisa melihat posisi lawan di peta, kompas, dan navigasi senapan.
Fitur Thermal Imaging memungkinkan personel melihat dalam gelap tanpa perlu khawatir tentang cahaya night vision.
{Baca juga: Keukeh, Microsoft Tetap Sasar Militer untuk HoloLens 2}
Saat latihan, dikutip Telko.id dari Trusted Review, Selasa (9/4/2019), IVAS juga bisa digunakan untuk meningkatkan performa tentara. Para instruktur bisa membantu tentara untuk memperbaiki bidikan atau menjelaskan tentang teknik tertentu.
Saat ini, ukuran HoloLens 2 terlalu besar untuk bisa diintegrasikan dengan helm tentara. Namun, dalam waktu enam bulan, ukuran HoloLens bisa diperkecil sehingga hanya seperti kacamata. Ada pula komponen di tubuh para tentara.
Menurut Under Secretary of the Army, Ryan McCarthy, pada 2022 dan 2023 diperkirakan akan ada ribuan tentara AS yang menggunakan HoloLens. Pada 2028, jumlah tentara AS yang menggunakan IVAS juga akan terus bertambah.
Angkatan Darat AS melakukan demonstrasi tersebut untuk menghilangkan kekhawatiran bahwa teknologi HoloLens akan digunakan sebagai alat pembunuh. Penggunaan HoloLens akan membuat tentara semakin sadar dengan keadaan sekitar.
{Baca juga: Karyawan Microsoft Protes Proyek Headset AR untuk Militer AS}
Microsoft mendapatkan kontrak HoloLens dengan Angkatan Darat AS senilai USD 479 juta atau sekira Rp 6,8 triliun. Namun demikian, para pekerja Microsoft memprotes keputusan perusahaan untuk menerima kontrak itu. [SN/HBS]