spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1307

Klaim Terbaik, Huawei Bandingkan P30 Pro dengan iPhone Xs dan Galaxy 10+

0

Telko.id, Jakarta – Huawei baru saja mengumumkan smartphone flagship terbarunya Huawei P30 dan Huawei P30 Pro. Dan salah satu hal terbesar yang menjadi fokus Huawei adalah kualitas kameranya. Kedua smartphone ini diklaim Huawei sebagai smartphone dengan kamera terbaik.

Yang menarik, saat di acara peluncuran P30 dan P30 Pro, yang digelar di Paris, Perancis, Selasa (26/3) lalu, nama Samsung dan iPhone ikut disebut-sebut saat Huawei memamerkan kemampuan kamera Huawei P30 Pro.

Saat itu, Huawei membandingkan kamera P30 Pro dengan iPhone Xs Max dan Samsung Galaxy S10 Plus. Salah satu petinggi Huawei memamerkan kebolehan kamera P30 Pro. Ia menyebut flagship baru Huawei itu mengungguli kedua smartphone jagoan pesaingnya itu.

Tapi apakah memang kamera P30 Pro lebih unggul? Bagaimana sebenarnya komparasi spesifikasi ketiga flagship tersebut?

{Baca juga: Diluncurkan, Huawei P30 Pro Jagokan “Leica Quad Camera System”}

Seperti dilansir PetaPixel, terlihat dari foto yang dihasilkan memang sangat nyata kamera Huawei P30 dan P30 Pro behasil mengungguli kamera iPhone Xs Max dan Galaxy S10 Plus.

Akan tetapi dari parameter yang digunakan dilihat dari gambar sangat kurang berimbang. Di gambar telihat kalau iPhone Xs Max memang memiliki aperture f/1.8, tapi Shutter Speed yang digunakan hanya 1/4s dengan ISO 3200.

Begitu juga saat dibandingkan dengan Galaxy S10 Plus, Huawei menggunakan parameter yang tidak berimbang, karena S10 Plus menggunakan aperture f/1.5 dengan Shutter Speed 10s dan ISO 800.

{Baca juga: Diadu dengan Xiaomi Mi 9, Huawei P30 Pro “Kedodoran”}

Sedangkan Huawei P30 menggunakan aperture f/1.8 dengan Shutter Speed 30s dan ISO 3200. Sementara P30 Pro juga menggunakan aperture f/1.6 Shutter Speed 30s dan ISO 3200.

Dari situ terlihat sangat jelas komparasi yang dilakukan tidak berimbang. Hal pertama yang tidak berimbang tentunya Shutter Speed Huawei P30 dan P30 Pro menggunakan 30s (detik).

Secara fungsi jelas ketika Shutter Speed semakin lama, maka exposure time nya akan semakin lama dan sensor akan semakin banyak menyerap  cahaya, namun apabila semakin singkat exposure time-nya maka cahaya yang masuk semakin sedikit pula. Ini yang terjadi saat komperasi kamera dari keempat smartphone tersebut, sangat tidak berimbang.

{Baca juga: Performanya “Loyo”, Xiaomi Ejek “Softcase” Huawei P30 Pro}

Yang kedua soal masalah ISO, pada Galaxy S10 Plus hanya menggunakan ISO 800 sedangkan keduanya menggunakan ISO 3200.  Sementara secara fungsi, semakin besar nilai pada settingan ISO kamera, maka semakin sensitive dan besar cahaya yang didapat.

Secara konsep fotografi ketika ingin mendapatkan hasil maksimal tentunya segitiga exposure seperti ISO, Shutter Speed dan Aperture harus di atur sesuai dengan kondisi.

Nah, kalau lihat komparasi di atas, tentunya tidak memenuhi syarat karena parameternya yang digunakan tidak berimbang. Jadi wajar saja hasil foto yang ditampilkan duo Huawei P30 dan P30 Pro terlihat lebih unggul. Terkecuali jika Huawei hanya ingin menunjukkan bahwa P30 dan P30 Pro punya shutter speed dan range ISO yang lebih luas dibanding kedua kompetitornya tersebut. Selain tentu saja fakta bahwa untuk mode pro, dua kompetitornya tersebut hanya sanggup di setting maksimal untuk ISO dan shutter speed seperti yang disebutkan di atas.

Lantas, apakah Huawei P30 dan P30 Pro lebih unggul dari dua kompetitornya tersebut? Untuk parameter range ISO dan shutter speed, Yes. Tapi secara umum, perlu komparasi yang lebih komprehensif untuk mengatakan bahwa kamera Huawei P30 dan P30 Pro lebih unggul dari iPhone Xs Max dan Samsung Galaxy S10 Plus. (MS)

Bos Facebook Indonesia Mengundurkan Diri

Telko.id, Jakarta – Ada kabar mengejutkan dari Facebook Indonesia. Mereka mengonfirmasi bahwa Sri Widowati telah resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Country Director Facebook Indonesia.

Menurut keterangan resmi dari pihak Facebook Indonesia, perempuan yang akrab disapa Wido ini telah mengundurkan diri dan mengembangkan karirnya di tempat lain.

“Wido telah memutuskan untuk mengembangkan karirnya di luar Facebook,” kata Juru Bicara Facebook kepada Tim Telko.id pada Kamis (28/03/2019)

Diungkapkan bahwa perusahaan menerima keputusan Wido dan berterimakasih atas dedikasinya menjadi orang nomor 1 di Facebook Indonesia selama tiga tahun.

“Kami berterima kasih atas dampak positif yang telah Wido berikan selama tiga tahun terakhir dalam membantu menjalankan program-program Facebook di Indonesia dan kami berharap agar kesuksesan selalu menyertai langkah Wido ke depannya,” tambahnya.

{Baca juga: Tak Ada Data Pengguna Facebook Indonesia di Cambridge Analytica}

Hingga kini pihak Facebook mengaku belum menemukan pengganti Wido. Saat ini perusahaan masih mencari pengisi kursi kosong yang ditinggalkan Wido. “Belum, masih dalam proses saat ini,” kata Juru Bicara Facebook.

Sri Widowati ditunjuk sebagai bos Facebook Indonesia pada Maret tahun 2016 silam. Selama bekerja, Wido fokus mendorong dukungan untuk bisnis internasional maupun di Indonesia dalam beragam industri seperti e-commerce, consumer goods atau produk konsumen, layanan finansial dan teknologi atau telekomunikasi.

{Baca juga: Sudah Dapat SP II, Kiprah Facebook di Indonesia Masih Aman}

Selama beberapa tahun belakangan, perusahaan telah mengalami pertumbuhan mencapai dua digit di Indonesia. Sedangkan Instagram, yang juga dinaunginya, telah berkembang 100% dari tahun sebelumnya.

Ketika itu, Instagram sendiri baru saja mengumumkan bahwa komunitasnya di Indonesia telah mencapai 22 juta, atau tumbuh sebesar 100% dibanding tahun sebelumnya. [NM/HBS]

Epic Games “Didemo” Gamers China, Kok Bisa?

Telko.id, JakartaEpic Games Store belakangan ini dikabarkan mendapat protes keras dari para gamers di China. Menurut laporan Abacus, protes ini datang karena Epic Games Store tidak mau menjual game ke gamers China.

Para gamers menilai, tidak bisa mendapatkan sejumlah game yang mereka inginkan. Berbeda dengan Steam yang bisa diakses meski ilegal.

Gamers China juga tidak sepenuhnya dapat mengandalkan WeGames, platform milik Tencent. Sebab, layanan ini belum tentu memiliki game populer yang dirilis global di luar China.

{Baca juga: Gamers di India Cuma Bisa Main PUBG Enam Jam per Hari}

Pihak Epic Games Store akhirnya membeberkan alasan mengapa kejadian tersebut bisa dialami oleh gamers di Negeri Tirai Bambu. Menurut Head of epic Games Store, Steve Allison, pihaknya enggan berurusan dengan pemerintah China.

Ada kebijakan di China yang menyebutkan bahwa developer game asing dilarang menjual game secara langsung ke gamers di China, termasuk menyediakan akses game online.

Seperti yang diketahui, di China, konten game juga harus melewati pengawasan badan sensor pemerintah. Konten yang berseberangan dengan ideologi atau keinginan pemerintah negara tersebut tidak diperbolehkan beredar.

“Mereka (Steam) tidak memiliki kantor di China. Kami memiliki tim yang bekerja di sana, jadi status legal menjadi hal sensitif bagi kami. Kami ingin memastikan keamanan pekerja kami,” tutur Allison.

{Baca juga: Bandai Namco akan Rilis Game Baru “Rad”}

Penjelasan ini tidak meredakan emosi para gamers. Mereka tetap membandingkan Epic Games Store dengan para pesaing, seperti Valve (Steam), Ubisoft (Uplay), Electronic Arts (Origins), dan CD Projekt (GOG) yang tetap membuka akses layanan di China.

Bahkan beberapa di antara gamers ini mengambil kesimpulan bahwa Epic Games Store menolak beroperasi di China karena takut bersaing dengan WeGame milik Tencent. Memang, Tencent adalah pemegang 40 persen saham dari Epic Games.

“Tencent sama sekali tidak berkontribusi langsung dalam bisnis kami. Mereka tidak membahas Epic Games Store dengan kami. Mereka tidak membuat keuputusan untuk kami atau memberikan saran. Mereka juga tidak berada di kantor kami,” sanggah Allison. (BA/FHP)

Trio “Bapak AI” jadi Pemenang Turing Award 2018, Siapa Saja?

Telko.id, JakartaTuring Award 2018 atau Hadiah Nobel di Bidang Komputer jatuh kepada tiga peneliti yang disebut sebagai Bapak AI yang telah merancang fondasi AI untuk serangkaian teknologi berbasis Artificial Intelligence modern.

Mereka adalah Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, dan Yann LeCun. Ketiganya, memang acap dikenal sebagai Bapak AI, dan berhak menerima hadiah sebesar USD 1 juta atau lebih kurang Rp 14,3 miliar.

Hadiah tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras mereka dalam pengembangan subdivisi AI yang disebut deep learning. Mereka mengembangkan teknik pada 1990-an dan 2000-an.

Pengembangan yang mereka lakukan mendorong kemunculan inovasi besar di bidang computer vision dan speech recognition, sekaligus dinilai merupakan fondasi dari teknologi AI.

{Baca juga: Seperti Pesawat, Mobil di Inggris Bakal Punya ‘Kotak Hitam’}

Menurut laporan The Verge, fondasi AI yang dimaksud meliputi mobil otonom hingga perangkat lunak untuk mendiagnosa penyakit, serta sistem pengenalan wajah di smartphone atau perangkat lain.

Sekarang, Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, dan Yann LeCun memegang posisi penting di perusahaan maupun universitas. Mereka juga masih rajin mengembangkan AI beserta teknik serta metodenya.

Geoffrey Hinton bekerja di Google dan University of Toronto. Kemudian, Yoshua Bengio merupakan seorang profesor di University of Montreal dan membuat perusahaan AI bernama Element AI.

{Baca juga: Banyak Akal! Programmer Langsung jadi Selebgram “Ngetop” Berkat AI}

Sementara Yann LeCun, dikutip Telko.id, Kamis (28/03/2019), menjabat Chief AI Scientist di Facebook serta mengajar di New York University. “Ini penghargaan terbaik. Saya semakin bersemangat,” ujar Yann LeCun.

Head of AI Google, Jeff Dean, memuji pencapaian Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, dan Yann LeCun. “Mereka tetap teguh untuk mengembangkan AI ketika prospeknya masih diragukan,” terangnya. (SN/FHP)

Ngeri! Rusia Bikin “Gun Drone” dengan Senapan AK-47

Telko.id, Jakarta – Salah satu senjata buatan Rusia yang paling legendaris adalah Avtomat Kalashnikova 1947 atau lebih dikenal dengan sebutan AK-47. Kini Rusia nampaknya ingin mengembangkan senjatanya itu dengan kemampuan yang lebih canggih dalam wujud “gun drone”.

Hal itu diketahui setelah pabrik senjata asal Rusia, Almaz-Antey mengajukan desain paten berupa drone yang bersenjatakan senapan AK-47.

Dilansir Telko.id dari The Sun pada Kamis (28/03/2019) paten tersebut telah diajukan sejak Februari 2018 lalu, dan konsepnya telah bocor di media sosial.

Dari gambar konsep paten yang beredar si media sosial, nampak drone tersebut sebenarnya lebih mirip AK-47 dengan tambahan sayap.

Drone memiliki 2 sayap dan 1 ekor yang tampaknya berfungsi sebagai pengatur atau stabilitator agar mudah dikendalikan arah terbangnya. Drone juga memiliki dua bola di dekat sayap yang tampaknya untuk mendukung sistem baling-baling. Sedangkan di bagian tengah, terdapat jaring logam untuk melindungi AK-47.

{Baca juga: China Ciptakan Drone Tenaga Surya, Bisa Gantikan Tugas Satelit}

Perlu diketahui bahwa senapan AK-47 merupakan salah satu senapan serbu yang paling mematikan. Pasalnya, senjata tersebut mampu menembakan 600 butir peluru dalam 1 menit dengan jangakuan target hingga 300 meter,

Jadi bisa dibayangkan, bagaimana ketika senjata tersebut diubah dalam bentuk drone. Betapa mematikannya drone bersenjata AK-47 milik Almaz-Antey saat berada di medan pertempuran.

 Here's what it looks like from above

Tentu saja drone membutuhkan pilot yang terampil, karena sang pilot tidak hanya menerbangkan tapi juga mengarahkan senjata supaya tepat sasaran.

Mungkin salah satu kelemahannya adalah, “gun drone” ini tidak memiliki cara untuk pengisian peluru secara otomatis. Sehingga jika sudah habis 30 peluru dimuntahkan, maka drone harus kembali ke pangkalan untuk mengisi amunisi.

Rusia sendiri memang semakin inovatif untuk mengembangkan peralatan perang mereka. Sebelumnya pemerintah Rusia diketahui menciptakan kacamata canggih malam atau night vision goggles (NVG) untuk pilot helikopter serang dan transportasi militer.

 You wouldn't want this flying straight for you

{Baca juga: Rusia Ciptakan Kacamata Canggih Pilot Helikopter Perang}

Kacamata tipe GEO-ONV1 tersebut dipasang di helm pilot helikopter Mi-8/17/24 dan Ka-52 di Suriah. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, ilmuwan berhasil meningkatkan karakteristik konverter elektro-optik dan membuat perangkat generasi ketiga yang terbukti lebih unggul ketimbang milik Amerika Serikat. [NM/HBS]

Sumber: The Sun

Mitsubishi Bikin Robot Pemadam Kebakaran Spesialis Pabrik Kimia

Telko.id, Jakarta – Mitsubishi Heavy Industries memperkenalkan dua robot pemadam kebakaran baru bernama Water Cannon Robot dan Hose Extension Robot. Keduanya didesain untuk membantu para petugas pemadam kebakaran dalam memadamkan api yang dianggap terlalu berbahaya bagi manusia.

Kedua robot ini merupakan spesialis kebakaran di pabrik kimia. Menurut Slashgear, dikutip Telko.id, Kamis (28/03/2019), Mitsubishi Heavy Industries melakukan demonstrasi secara terbuka terhadap dua robot baru itu di Tokyo, Jepang pada minggu lalu.

Seperti namanya, Water Cannon Robot adalah sebuah mesin otonom yang dilengkapi sarana penyemprot air bertenaga kuat untuk memadamkan api besar.

{Baca juga: Peneliti Ciptakan Kulit Elektronik yang Bisa Sembuh Sendiri}

Bagaimana dengan Hose Extension Robot? Hose Extension Robot merupakan selang sepanjang 300 meter yang berfungsi menyuplai air ke Water Cannon Robot. Keduanya saling melengkapi.

Water Cannon Robot dan Hose Extension Robot bekerja sama dengan robot pengawas yang bisa dioperasikan di darat dan di udara. Ketiganya saling terhubung berkat sistem komando utama.

Saat dibutuhkan, mesin-mesin itu akan menjadi Firefighting Robot System. Informasi menyebut, Firefighting Robot System merupakan proyek Badan Manajemen Bencana dan Kebakaran Jepang.

Kabar terbaru menyatakan, Institut Penelitian Kebakaran dan Bencana Nasional Tokyo telah melakukan demonstrasi robot-robot buatan Mitsubishi Heavy Industries pada 22 Maret 2019 lalu.

{Baca juga: “Gak Pake Lama”, Robot Ini Bisa Masak Ribuan Makanan Jepang}

Ada berbagai teknologi yang ditanamkan di robot tersebut, termasuk sensor laser, GPS, dan penyemprot air. Water Cannon Robot juga bisa menyemburkan air bertekanan 1.0MPa per menit. (SN/FHP)

“Gak Pake Lama”, Robot Ini Bisa Masak Ribuan Makanan Jepang

Telko.id, Jakarta – Sekarang banyak robot canggih yang bisa melakukan apapun keinginan manusia. Termasuk robot bernama AUTEC, yang mampu membuat ribuan makanan Jepang, seperti sushi sampai nasi nigiri hanya dalam waktu satu jam.

Menurut DailyMail, AUTEC mampu membuat 200 sushi dan 2.400 bola nasi nigiri dalam waktu tak lebih dari 60 menit. AUTEC ini tidak butuh latihan atau belajar selama bertahun-tahun agar mahir membuat sushi.

Dikutip Telko.id, Kamis (28/03/2019), AUTEC diproduksi oleh perusahaan teknologi Monk Conveyors Inggris. AUTEC dirancang untuk membuat 200 sushi per jam serta ribuan bola nasi atau nigiri dalam waktu singkat.

{Baca juga: Di Negara Ini, Toko-toko Pakai CCTV AI Anti Maling}

Untuk membuat bola nasi nigiri, AUTEC punya wadah yang berputar. AUTEC bisa menambahkan bahan lain seperti sayuran, sashimori, hingga nori, sekalian membungkusnya dan memotongnya sebelum disajikan.

AUTEC bekerja secara berdampingan dengan chef di kafe atau restoran. Sayang, untuk sementara, AUTEC baru tersedia di Inggris. Namun, AUTEC bisa dikirim ke Jepang dalam waktu maksimal delapan minggu.

Monk Conveyors mengklaim bahwa sistem di robot tersebut bisa membantu para pengusaha restoran. Selain lebih praktis dan efisien, AUTEC membantu menghemat biaya dan mengurangi beban tenaga.

{Baca juga: Jepang Perkenalkan Robot Relawan di Olimpiade Tokyo 2020}

Inovasi robot memang dekat dengan makanan. Sebelumnya, para ilmuwan menciptakan robot berbentuk tangan. Robot itu dihadirkan untuk membantu orang makan secara otomatis hingga merasa kenyang. (SN/FHP)

Dari Miliaran sampai Triliunan, Siapa Saja CEO dengan Gaji Tertinggi?

Telko.id, Jakarta – CEO atau Chief Executive Officer, atau disebut pula sebagai Direktur Utama adalah jenjang tertinggi dalam perusahaan (eksekutif) atau administrator yang diberi tanggung jawab untuk mengatur keseluruhan suatu organisasi. Mulai dari menjadi komunikator, pengambil keputusan, pemimpin, pengelola (manajer), hingga eksekutor. Singkat kata, bukan pekerjaan yang ringan.

Tak heran, jika mereka yang menduduki posisi inipun diganjar dengan gaji yang tak biasa. Bukan cuma puluhan apalagi belasan juta, tetapi lebih dari itu.

{Baca juga: CEO Microsoft Tanggapi Protes Karyawan soal Kontrak Pentagon}

Tahun 2018 lalu, seperti dilaporkan Business Insider, setidaknya tercatat beberapa nama CEO, dari berbagai perusahaan di seluruh dunia, yang masuk ke dalam kategori CEO dengan gaji tertinggi.

5. Randall Stephenson, CEO AT&T

Randall Lynn Stephenson menjabat sebagai eksekutif sekaligus presiden di AT&T sejak 9 Mei 2007. Selain sebagai CEO, Stephenson juga menduduki posisi sebagai Ketua Nasional Pramuka Amerika dari 2016 hingga 2018. Tahun 2018, pria kelahiran 22 April 1960 ini mendapat gaji sebesar US$29.12 juta atau sekitar Rp 414 miliaran.

4. Stephen MacMillan, CEO Hologic 

MacMillan menjabat sebagai chairman, presiden, dan CEO Hologic sejak Desember 2013. Hologic sendiri merupakan produsen alat kesehatan dan diagnostik yang berbasis di Marlborough, Massachusetts. Tahun 2018 kemarin, lulusan Harvard Business School ini mendapat gaji sebesar U$42.04 juta atau setara Rp 598 miliar.

3. Richard Handler, CEO Jefferies Group

Richard B. “Rich” Handler adalah seorang pebisnis AS yang saat ini menjabat sebagai presiden dan CEO Jefferies Group, sebuah perusahaan investasi dan perbankan yang berbasis di New York, AS. Tahun 2018 lalu, alumni Stanford University ini mendapat gaji US$44.67 juta atau sekitar Rp 635 miliar.

2. Bob Iger, CEO The Walt Disney Company

Robert A. “Bob” Iger menjabat sebagai pimpinan tertinggi di The Walt Disney Company sejak tahun 2000. Iger terlibat dalam pengambilan alih Pixar pada tahun 2006 setelah periode ketegangan dengan studio animasi tersebut. Tahun 2018 lalu, Iger mendapatkan gaji sebesar US$65.65 juta atau sekitar Rp 934 miliar.

1. David Zaslav, CEO Discovery, Inc.

David M. Zaslav adalah presiden sekaligus CEO Discovery Inc., Ia menduduki posisi ini sejak Januari 2007, dengan raihan salah satunya mengakuisisi Scripps Networks Interactive. Tahun 2018 lalu, mantan eksekutif NBC Universal ini mengantongi gaji US$129 juta atau sekitar Rp 1,8 Triliun.

 

Samsung Meluncurkan TV “Sultan”, Paling Mahal Rp1,5 Miliar

0

Telko.id, Jakarta – Dalam perhelatan Samsung Forum Asia Tenggara dan Oseania 2019 di Singapura, Samsung meluncurkan TV “Sultan” QLED 8K 98 inci dengan harga Rp 1,5 miliar.

Senior Product Marketing Manager TV and Audio Visual, Samsung Electronics Indonesia, Ubay Bayanudin mengatakan, tren TV Big Inci semakin kesini semakin besar. Kalau dulu orang membeli TV dengan ukuran 65 Inci terlihat besar, akan tetapi ketika bawa ke rumah dia nyesel karena TV-nya malah kekecilan. Nah, itu kenapa tren Big Inci semakin besar.

“Real resolusi sebenarnya  bukan full HD 1920×1080 akan tetapi PPI (pixel per inci) jadi ketika ngomongin full HD 32 inci pasti lebih bagus dibandingkan dengan full HD 55 inci. Nah! Karena tren big inci semakin besar resolusi yang dibutuhkan juga semakin tinggi itulah kenapa QLED 8K 2019 keluar,” ujar ubay saat temu media di Samsung Forum di Singapore 2019.

Untuk rangkaian 2019 Samsung akan mengeluarkan model berukuran 65 inci, 75 inci, 82 inci, dan 98 inci.

Lebih Lanjut ubay menjelaskan, QLED 8K TV ini dilengkapi Quantum Processor Samsung, teknologi semikonduktor pemrosesan gambar yang diperkuat Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan pengalaman menonton yang lebih baik. Diluncurkan oleh Samsung Electronics sebagai yang pertama dalam industri ini, machine-learning pada Quantum Processor menggunakan kemampuan AI-nya untuk mempelajari dan membandingkan jutaan gambar.

“Ini membantunya mengkalibrasi konten beresolusi lebih rendah dan mengoptimalkannya menjadi konten berkualitas 8K, terlepas dari format aslinya. Dengan demikian, ini mengatasi soal keterbatasan jumlah konten 8K asli,” ungkap Ubay.

Rencannyanya rangkaian QLED 8K TV Samsung ini akan diluncurkan bulan Mai 2019 di Indonesia. Untuk harganya sendiri sesuai dengan jenis ukuran. Tv 65 inchi dibandrol Rp80.499.000, 75 inchi Rp119.999.000, 82 inchi Rp166.999.000, dan paling mahal 98 inchi Rp1.499.999.000. (MS)

Electronic Arts PHK 350 Karyawan, Ada Apa?

Telko.id, Jakarta – Perusahaan multimedia dan game asal Amerika Serikat, Electronic Arts (EA) mengonfirmasi telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 350 karyawan dari total 9000 karyawan secara global. Selain itu, perusahaan juga akan menurunkan intensitas operasi di Jepang dan Rusia. Ada apa?

Dilansir Telko.id dari The Verge pada Kamis (28/03/2019), kabar PHK karyawan EA ini diumumkan sang CEO, Andrew Wilson melalui sebuah email kepada media Kotaku.

Dalam email tersebut, Wilson tidak mengungkapkan motif kebijakan tersebut. Ia hanya menyebut bahwa kinerja perusahaan memang sedang menurun belakangan ini.

“Kami memiliki visi untuk menjadi perusahaan game terbaik di dunia, namun jika kami harus jujur, kami belum sampai kesana sekarang,” tulisnya.

{Baca juga: Edan! EA Bayar Ninja Rp 14 Miliar untuk Apex Legends}

Perlu diketahui bahwa saat ini industri video game sedang mengalami masa sulit. EA dilaporkan membatalkan game Star Wars yang berfokus pada pemain tunggal pada Januari kemarin setelah sempat ingin dikerjakan pada tahun 2017.

Selain itu, sebuah laporan dari media Jepang, Famitsu juga mengkonfirmasi bahwa EA telah menutup kantor Jepang sepenuhnya. Sebelumnya pihak EA mengaku sedang mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi tantangan tersebut.

“Kami sangat fokus pada peningkatan kualitas dalam permainan dan layanan kami,” kata pihak EA.

{Baca juga: Gokil! Pendapatan Industri Game Kalahkan Industri Film Hollywood}

Salah satu pesaing utamanya, Activision Blizzard juga mengalami hal serupa.  Pada awal Februari kemarin perusahaan ini malah memangkas hampir 800 pekerja demi efisiensi kinerja.

Terkait nasib karyawan yang kena PHK,  juru bicara EA mengkonfirmasi bahwa perusahaan akan berusaha memberikan “pesangon dan sumber daya lain” bagi mereka yang terdampak. [NM/IF]