spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1299

Jepang akan Kirim Robot Astronot ke Bulan

Telko.id, Jakarta – Menjelajahi Bulan menggunakan tubuh robot astronot yang berbasis di ruang angkasa dari Bumi, akan menjadi kenyataan bagi para pekerja di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Sebab, Jepang telah berencana mengirim robot telepresence ke luar angkasa dan kemungkinan akan menjelajahi Bulan.

Proyek ini merupakan hasil dari kemitraan baru antara Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA) dan startup robot ruang angkasa yang disebut GITAI.

Seperti dikutip Telko.id dari The Sun, Minggu (31/03/2019), JAXA dan GITAI ingin mengirim armada robot ke ISS pada tahun 2020.

Tujuannya, agar robot dapat melakukan pekerjaan kasar atau berbahaya, sehingga astronot manusia dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting seperti penemuan ilmiah.

Salah satu pendiri dan CEO GITAI, Sho Nakanose, mengatakan kepada IEEE Spectrum, proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi resiko keamanan dan masalah biaya.

“Kami ingin mengatasi masalah biaya dan keamanan perjalanan manusia dengan menggunakan teknologi robotika,” jelasnya.

{Baca juga: Tahun 2024, Astronot NASA akan Tinggal di Bulan}

Dia menambahkan, pengiriman manusia adalah masalah yang paling mendesak dan mengakar dalam industri luar angkasa. Oleh sebab itu, mereka mengembangkan robot telepresensi ruang karena dapat dibuat lebih cepat lebih praktis daripada robot otonom.

GITAI telah meluncurkan video yang menampilkan sebuah robot mirip manusia yang dapat melakukan tugas-tugas sederhana di laboratorium, yang sengaja didesain seperti stasiun luar angkasa ISS.

Startup ini mengklaim, salah satu robot yang dikirimkannya ke luar angkasa dapat mengirimkan video 360 derajat berkualitas tinggi ke Bumi hanya dengan penundaan 60 milidetik.

Perusahaan mengatakan bahwa mengirimkan robot ke luar angkasa akan memangkas biaya hingga sepersepuluh dari biaya pengiriman manusia ke ISS.

Namun, para astronot tidak perlu khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka. Sebab, beberapa robot yang digunakan adalah robot semi-otonom atau dikendalikan dari jarak jauh, sehingga kemampuan para astronot masih dibutuhkan.

{Baca juga: China Berhasil Daratkan Pesawat di “Sisi Gelap Bulan”}

Sementara itu, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan diri akan kembali mengirim astronot ke Bulan pada tahun 2024. Sedangkan, China baru saja mendaratkan pesawat antariksa Chang’e 4 di sisi terjauh Bulan. [BA/HBS]

  Video Pilihan   

Wah! Peneliti Kembangkan AI untuk Prediksi Kematian

Telko.id, Jakarta – Para ilmuwan di University of Nottingham telah menciptakan artificial intelligence (AI), yang memiliki kemampuan memprediksi kematian seseorang. Jadi apakah orang itu akan mati lebih awal atau tidak, kecerdasan buatan ini akan mengetahuinya.

Dilaporkan Thesun, Minggu (31/3/2019), algoritma AI ini dapat mengetahui pasien yang menderita penyakit kronis yang kemungkinan beresiko mati lebih awal. Teknologi ini dapat meningkatkan perawatan kesehatan untuk pencegahan resiko kematian di masa depan.

Para peneliti melatih algoritma AI berbasis komputer dengan mengevaluasi data kesehatan umum yang ada antara 2006 hingga 2016, oleh lebih dari setengah juta orang paruh baya di Inggris.

{Baca juga: Trio “Bapak AI” jadi Pemenang Turing Award 2018, Siapa Saja?}

Selama waktu itu, hampir 14.500 peserta studi meninggal, terutama akibat kanker, penyakit jantung dan penyakit paru-paru. Resiko kematian telah diprediksi oleh algoritma AI dengan akurasi 76 persen.

“Perawatan kesehatan preventif adalah prioritas yang berkembang dalam memerangi penyakit serius, sehingga selama beberapa tahun kami telah bekerja untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko kesehatan terkomputerisasi dalam populasi umum,” kata seorang peneliti, Dr Stephen Weng.

Dia menambahkan, selama ini sebagian besar aplikasi hanya fokus pada satu jenis penyakit. Namun, penelitiannya bertujuan untuk memprediksi resiko kematian akibat beberapa penyakit berbeda, dan ini sangat kompleks.

{Baca juga: Gunakan AI, Peneliti Cari Cara Deteksi Depresi di Instagram}

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh timnya diakui Weng sebagai langkah besar ke depan di bidang prediksi kematian dini. Teknologi ini dapat membantu dalam mendiagnosis dan pengobatan lebih awal pada pasien berisiko

Faktor lain, termasuk usia, jenis kelamin, riwayat merokok dan diagnosis kanker, juga berperan besar dalam memprediksi kemungkinan kematian dini seseorang.

Namun, beberapa model prediksi juga memperhitungkan etnis, aktivitas fisik, lemak tubuh, jumlah buah dan sayuran yang dimakan seseorang, konsumsi alkohol, dan polusi udara.

Para peneliti percaya bahwa AI adalah bagian penting dari masa depan obat yang dipersonalisasi, namun teknik terbaru mereka akan membutuhkan lebih banyak penelitian sebelum dapat diterapkan secara luas. [BA/IF]

Microsoft Hilangkan Nama Markus “Notch” Persson dari Minecraft

Telko.id, Jakarta – Nama pengembang atau developer asli Minecraft, Markus ‘Notch’ Persson, kabarnya tidak akan muncul lagi dalam pembaruan Minecraft selanjutnya. Namun, ini tak berarti namanya akan hilang sama sekali.

Jika sebelumnya kata-kata “Made by Notch” atau “The Work Of Notch” sering kita temui di menu, utamanya ketika pengguna baru menjalankan game, nantinya kata-kata itu dihilangkan dari rotasi pesan-pesan acak.

Namanya akan tetap muncul, namun hanya pada halaman credit. Hal ini sepertinya dilakukan Microsoft selaku pemilik hak cipta Minecraft, dengan sengaja.

{Baca juga: Microsoft akan Bawa Minecraft ke Xbox Game Pass}

Menurut Venture Beat, Microsoft tidak ingin Minecraft memiliki hubungan dengan sang pencipta lamanya, dan ini sah-sah saja. Paling tidak, ada alasan kuat di balik kebijakan itu.

Minecraft dan tim pengembangnya, Mojang, sudah dibeli sejak tahun 2014 dengan harga sebesar Rp 36 triliun. Jadi, wajar apabila Microsoft ingin menghilangkan nama sang pengembang dari tampilan di game Minecraft.

{Baca juga: Minecraft Mobile Raup Pendapatan Rp 1,5 Triliun}

Minecraft merupakan game sandbox yang mengajak para pemainnya untuk berpikir kreatif. Pengguna bisa membuat banyak hal, termasuk membangun konstruksi-konstruksi unik dan alat bantu untuk berpetualang di dunia Minecraft.

Saat ini, Minecraft memiliki jumlah pemain aktif bulanan sangat besar, yakni 91 juta orang. Mereka termasuk pengguna setia karena sudah bermain Minecraft sejak lama. [BA/IF]

MetaFly, Drone yang Bisa Terbang seperti Kupu-kupu

Telko.id, JakartaStartup yang berbasis di Perancis, Marsille, menciptakan drone yang terinspirasi gaya terbang alami mirip serangga seperti kupu-kupu dan burung. Drone ini mereka beri nama MetaFly.

Berbeda dengan drone konvensional, MetaFly tidak dilengkapi dengan rotor, juga tidak dirancang untuk mengambil gambar, tetapi hanyak untuk terbang.

Proyek ini didanai secara eksklusif di platform crowdfunding Kickstarter. Lebih spesifik lagi, drone berbentu menyerupai serangga ini terbang menyerupai gerakan kepakan sayap kupu-kupu, dan dioperasikan menggunakan remote.

MetaFly dapat bermanuver hingga 100 meter, memiliki berat kurang dari 10g, dengan lebar sayap 29cm dan dapat dengan cepat mencapai kecepatan 20 km / jam.

{Baca juga: Ngeri! Rusia Bikin “Gun Drone” dengan Senapan AK-47}

Desain MetaFly pada dasarnya tahan terhadap tabrakan berkat sayap serat karbon dan kaki elastisnya yang membantunya mendarat dengan tegak.

Menurut penemunya, MetaFly hanya memiliki otonomi delapan menit, tetapi baterainya mampu diisi ulang dalam waktu kurang dari 15 menit.

Model pertama MetaFly tersedia di Kickstarter hingga 2 Mei, dan dilepas dengan harga mulai dari € 69 atau sekitar Rp 1,1 juta pada pengiriman pertama, bulan September tahun ini. Setelah itu, drone ini kemungkinan akan dibanderol € 129 atau sekitar Rp 2 juta.

Proyek ini telah mendapat pendanaan 10 kali lebih dari target pendanaannya, yakni sebesar € 30.000 atau sekitar Rp 482 juta.

{Baca juga: DRAGON, Robot “Drone Naga” yang Jago Manuver}

Proyek MetaFly ini dipimpin oleh Edwin Van Ruymbeke, yang pada 2014 telah berhasil melakukan crowdfunded pada proyek Bionic Bird yang spektakuler. [BA/HBS]

Pesan GrabFood, Pelanggan Dibuat Kaget oleh Driver Berkursi Roda

Telko.id, Jakarta – Seorang pengguna Facebook di Singapura membagikan postingan yang menyentuh hati, seolah ingin mengingatkan banyak orang akan pentingnya untuk bersyukur. Dalam postingannya, pemilik akun Facebook Shahril Jantan ini menceritakan pengelamannya kala memesan minuman via GrabFood.

“Saya memesan secangkir teh bubble dari I-Tea untuk istri saya melalui GrabFood. Outlet bagi pengendara berada di Tampines dan dikirim ke tempat tinggal saya di Bedok Reservoir. Dengan mobil, perjalanan memakan waktu sekitar 10-12 menit, sepeda 15-20 menit, skuter elektronik mungkin 12-15 menit,” tulisnya.

Setelah 30 menit berlalu, ia mulai agak tidak sabar karena tidak seperti biasanya. Dia kemudian melacak pergerakan driver di aplikasi dan tampak pengemudi yang membawa teh pesanannya bergerak sangat lambat.

{Baca juga: Ini Strategi GrabFood Bisa Tumbuh 10 Kali Lipat}

Dia mulai bertanya-tanya, apakah pengemudi ini menggunakan moda transportasi lain. Akhirnya, ketika ikon pengemudi pada GPS melintas wilayahnya, ia menyadari bahwa driver tersebut telah melewati tempat parkir.

Shahril pun semakin gelisah dan penasaran. Dia kemudian melihat keluar jendela dan melihat sesuatu yang membuatnya kagum.

Seorang driver GrabFood menggunakan kursi roda bermotor berjalan perlahan di sepanjang trotoar tepat di depan apartemennya. Ia kemudian dengan cepat berlari untuk menemuinya.

Ia pergi ke lobi lift dan menghampirinya, dia kemudian mengkonfirmasi bahwa memang pengemudi GrabFood tersebut lah yang telah melakukan perjalanan dari Tampines.

{Baca juga: Cuma 29 Menit, GrabFood Tercepat Antar Pesan Makanan}

“Saya tersentuh. Saya menjadi sedikit emosional tetapi berusaha tetap tenang karena putri saya berada di sebelah saya. Ketika dia menyerahkan minuman yang saya pesan (karena saya sudah melakukan pembayaran melalui GrabPay), saya dengan cepat mengambil dompet saya dan memberikan uang tunai apa pun yang saya miliki di dalamnya. Sejujurnya saya agak kaget. Saya kehilangan kata-kata,” tulisnya.

Shahril mengatakan, pengalaman ini menjadi momen yang berharga baginya dan putrinya. Dia mengapresiasi atas keteguhan driver Grab tersebut dan mengucapkan terima kasih.

“Masyaallah. Ketekunan yang dia tunjukkan untuk mengatasi tantangan yang ada padanya. Semoga Allah memberinya kekuatan, harapan, dan rezeki untuk terus menjadi inspirasi bagi orang-orang berbadan sehat lainnya seperti anda dan saya,” katanya. [BA/IF]

Bakal Ada Kriteria untuk Orang yang Bisa “Live” di Facebook

Telko.id, Jakarta – Facebook berencana untuk membatasi siapa-siapa saja yang bisa melakukan siaran langsung atau live di platform-nya. Hal ini sebagaimana diungkap Chief operating officer Facebook, Sheryl Sandberg.

Rencana Facebook ini, seperti diwartakan VentureBeat, dilakukan menyusul tragedi yang terjadi di Christchurch beberapa pekan lalu. Dimana seorang pria bersenjata seorang diri menewaskan 50 orang di dua masjid di Selandia Baru, sambil menyiarkan pembantaian itu.

Masih menurut Sandberg, seperti tertulis di blog, Facebook akan memantau siapa saja yang bisa “Live” di platformnya dengan mengacu pada sejumlah faktor, termasuk standar pelanggaran komunitas.

{Baca juga: Tagar #InstagramDown dan #FacebookDown Ramai di Twitter}

Terkait serangan di Christchurch sendiri, Facebook mengaku setidaknya telah mengidentifikasi lebih dari 900 video berbeda yang menunjukkan bagian dari pembantaian 17 menit dan telah menggunakan alat intelijen buatan untuk mengidentifikasi dan menghapus kelompok pembenci di Australia dan Selandia Baru.

Pekan lalu, raksasa jejaring sosial itu mengatakan telah menghapus 1,5 juta video secara global yang memiliki rekaman serangan masjid Selandia Baru dalam 24 jam pertama setelah serangan.

{Baca juga: Buntut Teror di Selandia Baru, Facebook Ditinggal Pengiklan}

Awal pekan ini, salah satu kelompok utama yang mewakili Muslim di Prancis mengatakan mereka menggugat Facebook dan YouTube, menuduh keduany menghasut kekerasan dengan mengizinkan streaming video.

Perdana Menteri Selandia Baru turut mengecam perusahaan-perusahaan media karena ikut tidak bertanggung jawab terkait konten. Bank-bank langsung menarik iklan dari Facebook dan Google.

Restrukturisasi, Sony Bakal PHK 50 Persen Karyawan Tahun Depan

Telko.id, Jakarta – Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepertinya menjadi hal yang tak terhindarkan bagi sejumlah karyawan di divisi mobile Sony. Apalagi setelah restrukturisasi yang berujung pada bergabungnya divisi tersebut ke dalam keluarga besar Sony Electronics – termasuk TV, audio dan kamera.

Sebuah laporan dari Jepang mengatakan bahwa setidaknya setengah dari tenaga kerja di divisi smartphone Sony akan dirumahkan. Saat ini, jumlah tenaga kerja sendiri mencapai 4.000 orang.

GSMArena pada Minggu menyebut, PHK ini akan terjadi pada Maret 2020 nanti. Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya operasi, mengingat perusahaan akan berfokus pada Eropa dan Asia Timur, dan membatasi operasi di Asia Tenggara.

{Baca juga: Gelombang Kedua, Tesla PHK 150 Karyawan}

Beberapa karyawan Jepang akan ditawari posisi di divisi lain, sementara orang-orang di Eropa dan di Cina akan memiliki opsi untuk pensiun secara sukarela.

Restrukturisasi dan pemutusan hubungan kerja ini terjadi menyusul rapor merah yang dibukukan Sony Mobile selama beberapa tahun terakhir. Pangsa pasar perusahaan telah menyusut menjadi kurang dari 1% setelah lebih dari 3% pada 2010 dan penjualan ponsel cerdas untuk tahun fiskal 2018 diperkirakan sekitar 6,5 juta unit.

Harapan perusahaan adalah bahwa setelah restrukturisasi dan optimalisasi dalam biaya operasi, bisnis seluler akan dapat menghasilkan laba pada tahun fiskal 2020.

{Baca juga: Tencent PHK Karyawan Gara-gara Bisnis Game Redup}

Drama PHK di perusahaan besar ini nyatanya tidak hanya menghantui Sony Mobile. Belum lama ini, perusahaan multimedia dan game asal Amerika Serikat, Electronic Arts (EA) juga diketahui telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 350 karyawan dari total 9000 karyawannya secara global.

Sementara untuk pasar sendiri, EA dilaporkan berisiap menurunkan intensitas operasinya di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Rusia. Alasannya serupa, kinerja perusahaan yang menurun.

Menilik Cara Pandang 3 Generasi Soal Keamanan Siber, Beda?

Telko.id, Jakarta – Kemajuan dalam teknologi tak dimungkiri telah membuat dunia terasa lebih kecil dari sebelumnya. Akibatnya, kesenjangan antar generasi pun terus melebar. Perbedaan yang paling terlihat dari setiap kelompok umur yang berbeda adalah gaya hidup, nilai-nilai dan kebiasaan yang dianut, termasuk bagaimana cara setiap generasi dalam memandang teknologi dan keamanan siber.

Generasi X, misalnya, sebagai generasi paling akhir yang tumbuh tanpa teknologi, secara inheren begitu berhati-hati dan lambat untuk mengadopsi teknologi baru. Dengan demikian, kelompok ini cenderung mengawasi data dan keuangan online mereka.

Sebaliknya, kaum Millenial umumnya mengabaikan keamanan teknologi, dengan empat dari lima (80%) mengatakan bahwa mereka dengan santai memercayai keamanan data ke organisasi yang mereka hadapi. Sebagai anggota masyarakat yang lahir tepat di era internet, Generasi Z memahami teknologi pada tingkat intuitif dan gesit dalam memisahkan kehidupan publik dan pribadinya.

{Baca juga: Waduh, Indonesia Kekurangan Ahli Keamanan Siber}

Sebagian dari generasi ini, seperti diungkap Vice President of Global Sales, Kaspersky Lab, Maxim Frolov, menghabiskan 25% hidup di depan layar dan sepertinya menyukai berbagi foto di media sosial. Sementara 81% menggunakan pengaturan privasi untuk membatasi siapa yang benar-benar dapat menemukan mereka di dunia maya.

Mengacu pada adanya kesenjangan dalam menyikapi teknologi dan privasi di antara generasi ini, penting bagi para pebisnis teknologi sebagai penyedia layanan digital, keamanan siber dan perangkat lainnya untuk menghilangkan segala ketakutan serta merumuskan penawaran secara tepat, bagaimana caranya? Tiga langkah berikut bisa jadi acuan!

Tiga Level Keamanan

Pertama adalah memperhatikan keamanan perangkat. Keamanan perangkat sudah menjadi hal biasa bagi semua orang di abad ke-21. Sementara generasi lebih muda memiliki pengetahuan bawaan yang cukup untuk mengetahui cara melindungi diri dari ancaman dasar, generasi yang lebih tua mengandalkan solusi anti-virus yang tersedia untuk PC, Mac, dan berbagai sistem operasi seluler.

Kedua, keamanan finansial. Perubahan lanskap pada sistem pembayaran masa kini telah membuat kita semakin sulit untuk melindungi keuangan pribadi. Era dimana kita membayar dengan uang tunai di saku sudah tidak lagi populer. Saat ini, menggunakan kartu debit atau kredit merupakan metode yang paling populer – dengan empat dari lima orang (81%) menggunakannya untuk melakukan pembelian online. Popularitas e-wallet (seperti PayPal) dan cryptocurrency juga sedang memasuki eranya.

{Baca juga: Memperkuat Keamanan Siber Tanpa Bantuan Asing}

Terakhir, adalah keamanan data itu sendiri. Dengan pelanggaran high-profile yang kerap terjadi dan data menjadi subjek jual beli, kekhawatiran akan keamanan data privasi tidak menunjukkan penurunan. Facebook, misalnya, (di samping skandal keamanan data yang sebelumnya terjadi baru-baru ini) harus mengakui bahwa seorang pelaku kejahatan siber telah mengeksploitasi kerentanan teknis dan memberikan akses ke-50 juta akun pengguna melalui celah di tampilan “view as” yang merupakan bagian dari fitur aplikasi.

Penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi lonjakan besar tahun ini dalam nilai data yang dicuri dan diperdagangkan di dark web: salah satu yang paling berharga adalah rincian kartu kredit, yang dapat dijual dengan rata-rata US$ 250, bahkan kredensial Amazon memiliki nominal jauh lebih sedikit, yaitu sekitar US$ 30

Mempertanyakan Kepercayaan

Baik di kantor atau di rumah, teknologi menjadi benar-benar transformatif, fakta ini perlu didukung dengan pengalaman pengguna yang intuitif demi meningkatkan kualitas hidup sehari-hari. Namun, seiring dengan masyarakat dari seluruh generasi menuntut keamanan yang lebih besar, kepercayaan juga menjadi komoditas penting. Saat ini, perilaku konsumen semakin ditentukan oleh apakah merek teknologi yang dibeli memiliki kualitas yang baik menurut preferensi yang dimiliki.

Kepercayaan lintas generasi dalam teknologi tetap penting untuk setiap kesuksesan layanan atau inovasi baru. Organisasi-organisasi dengan reputasi baik secara tidak langsung telah memiliki kepercayaan tersendiri dari masyarakat saat mereka memilih, membeli atau memperbarui.

Pendekatan Granular dan Menjaga Keseimbangan

Dengan melihat adanya perbedaan driver privasi di setiap generasi yang berbeda, haruskah organisasi menyesuaikan penawaran mereka? Iya dan tidak.

Satu hal yang pasti adalah bahwa strategi pemasaran tidak boleh ditentukan berdasarkan usia saja. Pendekatan yang terperinci akan selalu direkomendasikan dan dapat dilakukan melalui penciptaan personas yang berbeda. Semua kelompok millenial misalnya, mereka tidaklah sama. Salah satu diantaranya mungkin seorang mid-level manajer di sebuah perusahaan akuntansi dan masih lajang, lainnya mungkin sudah menikah dengan dua anak dan bermain dalam orkestra simfonik.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki lima target audiens yang ditetapkan, termasuk ‘pekerja kantor digital’ atau ‘remaja sekolah’. Ini hanya bagian teratas dari puncak gunung es; masing-masing dari lima kelompok tersebut berisi sekitar sepuluh jenis audiens yang lebih terperinci.

Setelah dipersempit, audiensi granular ini mungkin berisi 10 hingga 15 ‘avatar’ yang berbeda. Ini bisa berupa golongan remaja dari keluarga berkecukupan yang memiliki akses ke gawai paling canggih, atau seorang geek TI muda yang bertanggung jawab penuh atas sistem TI keluarganya. Indikator sederhana seperti ini menjadi penting bagi organisasi ketika merencanakan komunikasi pemasaran mereka.

Saat membuat berbagai strategi komunikasi pelanggan, penting untuk menyoroti berbagai skenario kasus penggunaan pada masing-masing kelompok kecil serta menunjukkan bagaimana kebiasaan, dan kehadiran produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka. Organisasi harus memperhatikan sejarah perjalanan pelanggan, sehingga dapat melakukan komunikasi secara lebih efektif dalam prosesnya.

Mengetahui perjalanan pelanggan melalui penjualan tradisional tidak akan berfungsi dengan pendekatan granular karena harus multi-dimensi dan berisi ratusan lapisan. Saluran komunikasi digital baru, seperti aplikasi messenger, dan alat pemasaran yang muncul dapat membantu hal tersebut. Pendekatan berbasis digital untuk penjualan memang menuntut investasi dan reorganisasi proses, tetapi akan memungkinkan bisnis untuk berkembang lebih baik di pasar yang semakin kompetitif.

 

Menilik Pandangan 3 Generasi Soal Keamanan Siber

Telko.id, Jakarta – Kemajuan dalam teknologi tak dimungkiri telah membuat dunia terasa lebih kecil dari sebelumnya. Akibatnya, kesenjangan antar generasi pun terus melebar. Perbedaan yang paling terlihat dari setiap kelompok umur yang berbeda adalah gaya hidup, nilai-nilai dan kebiasaan yang dianut, termasuk bagaimana cara setiap generasi dalam memandang teknologi dan keamanan siber.

Generasi X, misalnya, sebagai generasi paling akhir yang tumbuh tanpa teknologi, secara inheren begitu berhati-hati dan lambat untuk mengadopsi teknologi baru. Dengan demikian, kelompok ini cenderung mengawasi data dan keuangan online mereka.

Sebaliknya, kaum Millenial umumnya mengabaikan keamanan teknologi, dengan empat dari lima (80%) mengatakan bahwa mereka dengan santai memercayai keamanan data ke organisasi yang mereka hadapi. Sebagai anggota masyarakat yang lahir tepat di era internet, Generasi Z memahami teknologi pada tingkat intuitif dan gesit dalam memisahkan kehidupan publik dan pribadinya.

{Baca juga: Waduh, Indonesia Kekurangan Ahli Keamanan Siber}

Sebagian dari generasi ini, seperti diungkap Vice President of Global Sales, Kaspersky Lab, Maxim Frolov, menghabiskan 25% hidup di depan layar dan sepertinya menyukai berbagi foto di media sosial. Sementara 81% menggunakan pengaturan privasi untuk membatasi siapa yang benar-benar dapat menemukan mereka di dunia maya.

Mengacu pada adanya kesenjangan dalam menyikapi teknologi dan privasi di antara generasi ini, penting bagi para pebisnis teknologi sebagai penyedia layanan digital, keamanan siber dan perangkat lainnya untuk menghilangkan segala ketakutan serta merumuskan penawaran secara tepat, bagaimana caranya? Tiga langkah berikut bisa jadi acuan!

Tiga Level Keamanan

Pertama adalah memperhatikan keamanan perangkat. Keamanan perangkat sudah menjadi hal biasa bagi semua orang di abad ke-21. Sementara generasi lebih muda memiliki pengetahuan bawaan yang cukup untuk mengetahui cara melindungi diri dari ancaman dasar, generasi yang lebih tua mengandalkan solusi anti-virus yang tersedia untuk PC, Mac, dan berbagai sistem operasi seluler.

Kedua, keamanan finansial. Perubahan lanskap pada sistem pembayaran masa kini telah membuat kita semakin sulit untuk melindungi keuangan pribadi. Era dimana kita membayar dengan uang tunai di saku sudah tidak lagi populer. Saat ini, menggunakan kartu debit atau kredit merupakan metode yang paling populer – dengan empat dari lima orang (81%) menggunakannya untuk melakukan pembelian online. Popularitas e-wallet (seperti PayPal) dan cryptocurrency juga sedang memasuki eranya.

{Baca juga: Memperkuat Keamanan Siber Tanpa Bantuan Asing}

Terakhir, adalah keamanan data itu sendiri. Dengan pelanggaran high-profile yang kerap terjadi dan data menjadi subjek jual beli, kekhawatiran akan keamanan data privasi tidak menunjukkan penurunan. Facebook, misalnya, (di samping skandal keamanan data yang sebelumnya terjadi baru-baru ini) harus mengakui bahwa seorang pelaku kejahatan siber telah mengeksploitasi kerentanan teknis dan memberikan akses ke-50 juta akun pengguna melalui celah di tampilan “view as” yang merupakan bagian dari fitur aplikasi.

Penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi lonjakan besar tahun ini dalam nilai data yang dicuri dan diperdagangkan di dark web: salah satu yang paling berharga adalah rincian kartu kredit, yang dapat dijual dengan rata-rata US$ 250, bahkan kredensial Amazon memiliki nominal jauh lebih sedikit, yaitu sekitar US$ 30

Mempertanyakan Kepercayaan

Baik di kantor atau di rumah, teknologi menjadi benar-benar transformatif, fakta ini perlu didukung dengan pengalaman pengguna yang intuitif demi meningkatkan kualitas hidup sehari-hari. Namun, seiring dengan masyarakat dari seluruh generasi menuntut keamanan yang lebih besar, kepercayaan juga menjadi komoditas penting. Saat ini, perilaku konsumen semakin ditentukan oleh apakah merek teknologi yang dibeli memiliki kualitas yang baik menurut preferensi yang dimiliki.

Kepercayaan lintas generasi dalam teknologi tetap penting untuk setiap kesuksesan layanan atau inovasi baru. Organisasi-organisasi dengan reputasi baik secara tidak langsung telah memiliki kepercayaan tersendiri dari masyarakat saat mereka memilih, membeli atau memperbarui.

Pendekatan Granular dan Menjaga Keseimbangan

Dengan melihat adanya perbedaan driver privasi di setiap generasi yang berbeda, haruskah organisasi menyesuaikan penawaran mereka? Iya dan tidak.

Satu hal yang pasti adalah bahwa strategi pemasaran tidak boleh ditentukan berdasarkan usia saja. Pendekatan yang terperinci akan selalu direkomendasikan dan dapat dilakukan melalui penciptaan personas yang berbeda. Semua kelompok millenial misalnya, mereka tidaklah sama. Salah satu diantaranya mungkin seorang mid-level manajer di sebuah perusahaan akuntansi dan masih lajang, lainnya mungkin sudah menikah dengan dua anak dan bermain dalam orkestra simfonik.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki lima target audiens yang ditetapkan, termasuk ‘pekerja kantor digital’ atau ‘remaja sekolah’. Ini hanya bagian teratas dari puncak gunung es; masing-masing dari lima kelompok tersebut berisi sekitar sepuluh jenis audiens yang lebih terperinci. Setelah dipersempit, audiensi granular ini mungkin berisi 10 hingga 15 ‘avatar’ yang berbeda. Ini bisa berupa golongan remaja dari keluarga berkecukupan yang memiliki akses ke gawai paling canggih, atau seorang geek TI muda yang bertanggung jawab penuh atas sistem TI keluarganya. Indikator sederhana seperti ini menjadi penting bagi organisasi ketika merencanakan komunikasi pemasaran mereka.

Saat membuat berbagai strategi komunikasi pelanggan, penting untuk menyoroti berbagai skenario kasus penggunaan pada masing-masing kelompok kecil serta menunjukkan bagaimana kebiasaan, dan kehadiran produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka. Organisasi harus memperhatikan sejarah perjalanan pelanggan, sehingga dapat melakukan komunikasi secara lebih efektif dalam prosesnya. Mengetahui perjalanan pelanggan melalui penjualan tradisional tidak akan berfungsi dengan pendekatan granular karena harus multi-dimensi dan berisi ratusan lapisan. Saluran komunikasi digital baru, seperti aplikasi messenger, dan alat pemasaran yang muncul dapat membantu hal tersebut. Pendekatan berbasis digital untuk penjualan memang menuntut investasi dan reorganisasi proses, tetapi akan memungkinkan bisnis untuk berkembang lebih baik di pasar yang semakin kompetitif.

 

Ponsel Lipat Microsoft Kembali Terlihat, Siap Unjuk gigi?

0

Telko.id, Jakarta – Setelah sempat tak ada kabar selama beberapa saat, perangkat Microsoft yang dapat dilipat dan dijuluki “Proyek Andromeda” – konon Surface Phone, baru-baru ini kembali terungkap.

Adalah World Intellectual Property Organization (WIPO), yang belum lama ini mempublikasikan sebuah paten diketahui oleh Windows United (melalui MSPoweruser). Dari laporan, diketahui  paten Microsoft tersebut berfokus pada engsel yang dapat digunakan pada perangkat.

{Baca juga: Ponsel Lipat Sony Bisa Diubah Jadi Layar Transparan?}

Dilaporkan PhoneArena, Sabtu (30/3/2019), engsel akan memungkinkan Surface Phone digunakan seperti laptop dalam orientasi lanskap; tampilan di atas akan digunakan sebagai layar sedangkan tampilan di bawah digunakan sebagai keyboard QWERTY virtual.

Engsel ini juga memungkinkan layar di perangkat Micsofot ini dapat diputar secara penuh 360 derajat dan memungkinkan pengguna mengubah perangkat menjadi ponsel.

 

Sebuah ilustrasi yang merupakan bagian dari aplikasi paten menunjukkan bagaimana pengguna dapat membuka flip hanya untuk melihat notifikasi dan pengingat.

{Baca juga: Susul Samsung, Motorola Juga Siapkan Ponsel Lipat}

Sebelumnya, diketahui bahwa Microsoft berencana untuk merilis produk yang dapat dilipat mendekati akhir tahun ini. Namun, ada kemungkinan bahwa produk akan lebih besar dari yang ditampilkan sebelumnya, dan mungkin sama sekali tidak muat di kantong.