Telko.id, Jakarta – Game Call of Duty: Black Ops 4 modus Blackout mendapatkan peta baru. Peta baru tersebut dinamakan Alcatraz. Dinamakan Alcatraz karena terinspirasi dari pulau penjara yang berlokasi di San Francisco Bay.
Dilansir Trustedreviews, Activision bahkan menggambarkan sebagai pertempuran ‘battle royale’ jarak dekat dan ditampilkan dalam sebuah trailer.
Trailer berdurasi 1 menit 34 detik diunggah ke YouTube memperlihatkan bagaimana serunya permainan tersebut.
Melalui tampilan trailer, gamer bisa melihat bagaimana suasana pertempuran jarak dekat. Seperti diketahui, Blackout merupakan versi kecepatan tinggi dari battle royale tradisional.
{Baca juga:Activision Gandeng Tencent Rilis Call of Duty: Mobile}
Dalam trailer tersebut juga tampil zombie yang siap mengejar, gamer bisa dilengkapi dengan berbagai senjata seperti pistol, senjata api otomatis, senjata untuk menembak jarak jauh, panah, serta pisau.
Alcatraz hadir untuk gamer PlayStation 4 pada 2 April 2019. Ini juga akan meluncur untuk PC dan Xbox untuk masa yang akan datang.
Belum lama ini, Activision mengumumkan kerja sama dengan penerbit game asal China, Tencent, untuk meluncurkan Call of Duty: Mobile. Kabar baiknya, game yang dibuat oleh Timi Studio milik Tencent ini bisa dimainkan secara gratis.
{Baca juga: Cara Download Call of Duty Mobile di Smartphone Android}
Peta, mode, senjata, dan karakter di game tersebut akan didasarkan franchise Call of Duty, termasuk Black Ops dan Modern Warfare.
Call of Duty: Mobile akan fokus pada fitur multiplayer kompetitif. Di sini, pengguna akan menemukan berbagai mode seperti Team Deathmatch, Search and Destroy, dan Free-For-All. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA menyebut aksi penembakan satelit menggunakan misil oleh India adalah tindakan yang buruk. Sebab, penembakan itu telah mengembuskan lebih dari 400 puing di luar angkasa.
NASA bahkan mengungkapkan, tindakan India berpotensi membahayakan stasiun luar angkasa internasional (ISS) beserta para astronot di dalamnya.
Aksi ngawur India tersebut dianggap sangat tidak sesuai dengan tujuan penerbangan luar angkasa umat manusia.
{Baca juga: Tembak Jatuh Satelit, India Jadi Kekuatan Luar Angkasa Baru}
Administrator NASA, Jim Bridenstine, menyampaikannya pada acara siaran langsung di YouTube saat pertemuan dengan para pegawai NASA di Town Hall.
“Hal tersebut tidak dapat diterima. NASA merasa perlu menjelaskan mengenai dampaknya,” ucap Bridenstine, seperti dilansir CNN.
India berhasil meluncurkan misi Shakti pada 27 Maret 2019 lalu. Tujuannya untuk menghancurkan satelit yang tidak lagi terpakai dan masih ada di orbit. India pun mengklaim jadi negara keempat yang berhasil menyelesaikan misi itu.
Penghancuran satelit India disebutkan Bridenstine menghasilkan 400 puing. Dikutip Telko.id, Rabu (3/4/2019), NASA kini melacak 60 puing di antaranya. Sebagian puing bahkan melesat di orbit yang ada di atas ISS sehingga berpotensi membahayakan.
“Risiko di ISS sekarang naik 44 persen. Beruntung, ISS memiliki prosedur darurat jika tiba-tiba ditemukan sampah luar angkasa yang akan menghantam. Para kru memiliki kapsul sekoci yang bisa membawa kembali ke Bumi,” jelas Bridenstine.
Baca juga: April 2019, NASA akan Kirim Sembilan Astronot ke ISS
Lantaran dilakukan di orbit bawah, penghancuran satelit yang dilakukan oleh India tak separah penghancuran oleh China. Pada 2007, China juga melakukan peluncuran misil antisatelit dan sisa puing masih mengelilingi Bumi hingga sekarang.
NASA kini memantau 23.000 serpihan benda ruang angkasa yang melayang di orbit dengan besar lebih dari 10 sentimeter. Sepertiga dari debu ruang angkasa itu dibuat ketika China meledakkan satelit, disusul ledakan serupa oleh AS dan Rusia pada 2009. [SN/HBS]
Telko.id, Jakarta – Lenovo tengah melakukan sejumlah eksperimen beberapa model desain ponsel lipat untuk perangkat baru dengan merek Motorola.
Hal ini didukung oleh paten yang dirilis Worlds Intellectual Organization (WIPO) yang didaftarkan satu tahun lalu.
Dalam keterangannya disebutkan bahwa paten ini mencakup desain lipat serupa kerang dengan sejumlah kesamaan yang diusung oleh paten RAZR.
{Baca juga:Motorola Razr “Reborn” Bisa Dilipat ke Arah Luar}
Dilaporkan GSM Arena, komponen utama pada ponsel ini adalah engsel fleksibel yang memungkinkan pengguna melipat perangkat dengan sejumlah cara berbeda.
Gambar dalam dokumen paten ini menampilkan layar sekunder di bagian bawah belakang ponsel, berkemampuan dilipat untuk menutupi sebagian kecil dari layar fleksibel utama. Ponsel ini dapat kembali dilipat untuk memudahkannya disimpan di saku.
Selain itu, kemampuan kembali melipat layar sekunder ponsel ini juga bertugas untuk melindungi layar tersebut dan menampilkan sebagian kecil dari bagian atas layar fleksibel pada perangkat ini.
Kamera utama dapat ditemukan pada bagian belakang ponsel dan kamera depan terdapat di bagian atas bezel, dengan speaker di sisi atas perangkat.
Jika Lenovo mewujudkan perangkat ini, pada ponsel lipat pertama karya produsen asal Tiongkok ini akan menjadi pesaing dari Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X.
Tidak hanya dua produsen besar di industri smartphone tersebut, perangkat lipat Lenovo ini juga akan menghadapi persaingan dari Apple yang juga mendaftarkan paten terkait dengan iPhone berdesain lipat.
{Baca juga: Susul Samsung, Motorola Juga Siapkan Ponsel Lipat}
iPhone berdesain lipat karya raksasa teknologi asal Cupertino, California, Amerika Serikat tersebut diperkirakan akan muncul di pasar pada tahun 2020 mendatang. Sebagai informasi, paten ponsel lipat Lenovo ini hadir dengan nomor US D828,321 S.
Paten dengan usungan judul Flexible Smart Mobile Phone ini didaftarkan Lenovo pada bulan November 2017 lalu. Sebelumnya, Lenovo Legion mengumumkan dua produk terbaru di Indonesia, terdiri dari dua segmen yaitu laptop gaming dan portable desktop, lebih dikenal sebagai Legion Cube. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Epic Games telah mengumumkan rencana untuk membawa mini battle royale (mini BR) games ke Creative mode di Fortnite. Rencana itu terungkap selama AMA di Reddit’s Fortnite Creative subreddit.
Melansir Slashgear, dalam bentuk saat ini, Fortnite Creative memungkinkan pemain membuat peta sendiri menggunakan berbagai elemen dan material dalam game.
Creative ini bisa terbatas pada tujuan di mana pemain terlibat dalam bentuk battle royale mereka sendiri.
{Baca juga:Akhirnya, Voice Chat di Fortnite Aktif Kembali!}
Sejauh ini sudah ada creative island dan Block yang debut. Tapi, akan ada jenis pengalaman ketiga lain yang tersedia di bawah Creative: official battle royale.
Tidak seperti pertandingan battle royale personal di Creative, game mini-BR akan mencakup pemberhentian bus dan Storm. Pada Sabtu lalu, seorang pengguna Reddit mengajukan pertanyaan, ‘Apakah akan ada lingkaran simulasi badai sehingga Anda bisa berlatih?”
Epic pun merespons pertanyaan yang dilontarkan oleh pengguna Reddit. Tim member Epic ‘darkveil’ mengatakan, ‘Ya sudah ada rencana tapi secara teknik sedikit sulit’.
Epic ingin menyediakan mini-BR game dalam Creative di mana pengguna akan bisa mengkonfirgurasi Storm, menggunakan fitur bus drop, dan hal-hal lain dari Fortnite battle royale island utama.
{Baca juga: Epic Games Tunda Pembaruan Rutin Fortnite, Ada Apa?}
“Alasannya rumit. Itu karena cara Creative memungkinkan banyak game untuk berjalan pada waktu yang sama di server yang sama. Kami akan mengetahuinya,” kata darkveil. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – WhatsApp memperkenalkan fitur pengecek fakta bagi para pengguna di India, menjelang Pemilu di negara tersebut. Fitur baru ini memanfaatkan teknologi AI (artificial intelligence).
Layanan itu dihadirkan untuk melawan disinformasi dan berita palsu yang menyebar lewat platform menjelang pemilihan umum di India yang akan dimulai pada 11 April 2019.
Dilansir Reuters, Rabu (3/4/2019), WhatsApp bekerja sama dengan startup alias perusahaan rintisan lokal bernama Proto.
Nantinya, mereka akan menilai dan melabeli pesan-pesan yang menyebar di WhatsApp sebagai benar, salah, menyesatkan, atau bahkan dibantah.
Pesan yang bisa mendapat label tersebut adalah yang telah diteruskan terlebih dahulu oleh pengguna kepada Checkpoint Tipline. Pesan-pesan itu kemudian digunakan untuk menjadi database untuk mempelajari dan memahami bagaimana disinformasi menyebar.
Seperti dikutip Telko.id, tidak hanya pesan teks yang bisa dicek faktanya, tapi juga yang berbentuk gambar dan video. Menariknya, layanan tersebut tak hanya mendukung bahasa Inggris, tetapi juga empat bahasa lokal seperti Hindi, Telugu, Bengali, dan Malayalam.
Ssayang, kala Reuters mencoba untuk melaporkan pesan yang mengandung disinformasi kepada Checkpoint Tipline, respons dari WhatsApp masih terbilang sangat lambat. Dua jam setelah pesan tersebut dikirim, Checkpoint Tipline masih menunggu klasifikasi dari WhatsApp.
Asal tahu saja, bukan kali pertama ini WhatsApp menghadapi ancaman disinformasi dan berita palsu di platform menjelang pemilihan umum. Tahun lalu, WhatsApp juga menghadapi tantangan yang sama menjelang pemilu di Amerika Selatan, tepatnya Brasil.
WhatsApp menyebut, layanan itu merupakan satu dari berbagai fitur baru yang hadir untuk menekan penyebaran hoaks. WhatsApp sebelumnya telah membatasi pesan hanya bisa diteruskan sebanyak lima kali serta memberi label kepada pesan yang diteruskan.
Telko.id, Jakarta – Produsen perangkat gaming, Razer meluncurkan Razer Turret, keyboard dan mouse nirkabel untuk konsol video gameXbox One.
Peluncuran perangkat ini mampu mempermudah para gamer konsol dalam permainan silang dan mampu dimainkan saat pengguna berada di sofa.
“Kami sangat bangga bekerja sama dengan Microsoft untuk menghadirkan kolaborasi eksklusif ini kepada Anda,” kata CEO Razer Min-Liang Tan.
“Dengan menghadirkan Razer Turret untuk Xbox One, sekarang memungkinkan untuk menghadirkan pengalaman penuh keyboard dan mouse, dengan pencahayaan dan integrasi game ke Xbox One,” tambahnya, seperti dilansir Venture Beat.
{Baca juga: Xbox One X, Konsol Next Gen Paling Bertenaga}
Razer Turret dibuat dengan koneksi 2,4 gigahertz melalui dongle tunggal untuk mouse dan keyboard, dan daya tahan baterai hingga 40 jam dengan sekali pengisian daya.
Perangkat juga dilengkapi dengan Xbox Dynamic Lighting dan teknologi pencahayaan Razer Chroma, sehingga gamer sekarang dapat memiliki akses ke ekosistem pencahayaan Razer.
Pencahayaan Razer Chroma ini memiliki ekosistem pencahayaan hingga 16,8 juta pilihan warna dan efek pencahayaan untuk mouse dan keyboard.
Razer telah bekerja dengan pengembang untuk menghadirkan Xbox Dynamic Lighting dan dukungan Razer Chroma dalam game, dengan judul seperti X-Morph Defense, Vermintide 2, dan lainnya.
“Razer Chroma berkembang lebih jauh ke ruang tamu, membangun kesuksesan yang kami miliki dengan Philips Hue dalam pencahayaan ruangan,” kata Tan.
Selanjutnya, bentuk mouse juga didasarkan pada mouse gaming Razer Mamba Wireless dan memiliki sensor optik canggih 5G dan switch mouse mekanis Razer dengan daya tahan klik 50 juta.
{Baca juga: Microsoft Rilis Aplikasi AR untuk Android dan iOS}
Permukaan mouse disembunyikan di bawah badan utama keyboard dan dapat diperpanjang untuk digunakan, kemudian ditarik untuk penyimpanan atau pengisian daya
Perangkat ini memiliki sandaran tangan ergonomis bawaan yang memanjang dari dasar keyboard Razer Turret. Perangkat ini sepenuhnya kompatibel dengan Windows 10 PC, dan dijual seharga USD250 atau sekira Rp 3,6 jutaan. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Twitter telah mengumumkan kehadiran fitur baru yang bisa digunakan oleh pengguna untuk mengajukan protes terhadap konten atau tweet yang terkena laporan atau report. karena langgar aturan Bagaimana cara mengaksesnya?
Menurut laporan Mashable, fitur tersebut memungkinkan pengguna untuk mengajukan banding secara langsung terhadap cuitan alias tweet yang dianggap melanggar aturan. Caranya cukup langsung dari aplikasi.
Seperti dikutip Telko.id, Rabu (3/4/2019), ketika pengguna mengunggah alias memposting konten yang dianggap melanggar pedoman Twitter, maka pengguna lain bisa secara langsung melaporkannya via fitur itu.
{Baca juga: Twitter Perbarui Fitur Pelaporan untuk Lindungi Pengguna}
Nantinya, manakala ada laporan masuk, akun si pembuat tweet bisa saja mendapat sanksi alias suspend untuk sementara waktu. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, akun si pembuat cuitan akan ditutup secara permanen.
Tatkala hal tersebut terjadi, pemilik tweet bisa mengajukan banding. Dalam metode laporan sebelumnya, pengguna harus mengisi formulir secara online untuk kemudian dikirim dan dikaji oleh tim khusus di Twitter.
Melalui fitur terbaru Twitter, pengguna yang hendak mengajukan banding bisa langsung melakukannya lewat aplikasi. Twitter mengklaim fitur itu mampu merespons keluhan 60 persen lebih cepat dari sebelumnya.
{Baca juga:Twitter Bakal Punya Fitur untuk Sembunyikan Cuitan}
Akan tetapi, proses banding tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi, jika akun Twitter yang bersangkutan telanjur mendapat suspend. Pengguna harus bersabar untuk mendapatkan kembali akses ke akun Twitter. [SN/HBS]
Telko.id, Jakarta – Google resmi menghentikan layanan Google+ pada Selasa (2/4/2019) waktu setempat. Mulai tanggal itu, pengguna tak lagi bisa membuat akun baru di layanan media sosial tersebut.
Sebelumnya, Google mengumumkan layanan akan dihentikan mulai 2 April 2019. Pengumuman itu dikeluarkan Google untuk seluruh pengguna via email.
“Keputusan kami menghentikan Google+ karena minim penggunaan. Kami sulit mempertahankan layanan sesuai ekspektasi pengguna,” tulis Google dalam emailnya, dilansir Mashable.
{Baca juga: Google Perkenalkan Layanan Streaming Game “Stadia”}
Tak hanya menutup layanan, Google juga memastikan akan menghapus semua konten, termasuk foto dan video di arsip album. Namun, penghapusan konten membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.
Seperti dikutip Telko.id, Rabu (3/4/2019), selama waktu tersebut, pengguna tetap bisa melihat aktivitas pertemanan di layanan ini. Pengguna bisa mengamankan seluruh data yang sempat dibagikan lewat layanan tersebut.
Sebaliknya, seiring penutupan layanan, pengguna tidak bisa lagi membuat profil, halaman, komunitas, atau acara baru. Keputusan itu pun sempat mengundang perhatian sebagian pengguna.
{Baca juga: Seru! Begini Cara Main Game Snake di Google Maps}
Rencana penutupan ini sebenarnya sudah diungkap sejak Oktober 2018. Selain karena sepi pengguna, Google sempat tersandung kasus kebocoran data. Data 5,2 juta pengguna kabarnya terkena dampak.
Telko.id, Jakarta – Google resmi menghentikan layanan Google+ pada Selasa (2/4/2019) waktu setempat. Mulai tanggal itu, pengguna tak lagi bisa membuat akun baru di layanan media sosial tersebut.
Sebelumnya, Google mengumumkan layanan akan dihentikan mulai 2 April 2019. Pengumuman itu dikeluarkan Google untuk seluruh pengguna via email.
“Keputusan kami menghentikan Google+ karena minim penggunaan. Kami sulit mempertahankan layanan sesuai ekspektasi pengguna,” tulis Google dalam emailnya, dilansir Mashable.
{Baca juga: Google Perkenalkan Layanan Streaming Game “Stadia”}
Tak hanya menutup layanan, Google juga memastikan akan menghapus semua konten, termasuk foto dan video di arsip album. Namun, penghapusan konten membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.
Seperti dikutip Telko.id, Rabu (3/4/2019), selama waktu tersebut, pengguna tetap bisa melihat aktivitas pertemanan di layanan ini. Pengguna bisa mengamankan seluruh data yang sempat dibagikan lewat layanan tersebut.
Sebaliknya, seiring penutupan layanan, pengguna tidak bisa lagi membuat profil, halaman, komunitas, atau acara baru. Keputusan itu pun sempat mengundang perhatian sebagian pengguna.
{Baca juga: Seru! Begini Cara Main Game Snake di Google Maps}
Rencana penutupan ini sebenarnya sudah diungkap sejak Oktober 2018. Selain karena sepi pengguna, Google sempat tersandung kasus kebocoran data. Data 5,2 juta pengguna kabarnya terkena dampak.
Telko.id – Kamera merupakan salah satu unggulan utama dari jajaran seri Huawei P, termasuk seri terbarunya yaitu Huawei P30 Pro. Sektor kamera ini ditingkatkan secara signifikan oleh Huawei pada smartphone terbarunya yang diperkenalkan di Paris, Perancis beberapa waktu lalu.
Sektor kamera memang menjadi perhatian utama pabrikan asal China ini sejak menghadirkan seri P9 beberapa tahun lalu.
Saat itu, Huawei menggandeng merek kamera kenamaan asal Jerman, Leica untuk bersama-sama mengembangkan sektor kamera demi mendapatkan hasil “smartphone photography” terbaik.
Apabila dibandingkan dengan seri sebelumnya, Huawei P20 Pro, Huawei P30 Pro punya beragam keunggulan dan fitur baru hasil kombinasi teknologi antara Leica dengan Huawei.
{Baca juga: Hands-on Huawei P30 Pro: Berbeda Berkat Empat Kamera Leica}
Nah, karena kamera menjadi satu bagian penting pada P30 Pro, sekaligus menjadi andalan utamanya, makanya tim Telko.id akan mengulas soal kamera smartphone itu dalam review Huawei P30 Pro berikut ini. Dalam review Huawei P30 Pro ini, kami lebih mengulas secara mendalam pada sektor kameranya. Yuk simak!
Leica Quad Camera System
Total, Huawei P30 Pro memiliki lima kamera. Satu kamera di depan beresolusi 32MP yang disematkan pada poni atau notch berdesain dewdrop di bagian atas, dan empat kamera di belakang yang disebut sebagai “Leica Quad Camera System”.
Sensor 40MP aperture f/1.6 dengan lensa wide-angle sebagai lensa utamanya. Kamera ini didukung oleh teknologi Huawei SuperSpectrum Sensor dan juga Optical Image Stabilization (OIS).
Sebagai lensa ultra-wide, digunakan sensor 20MP aperture f/2.2. Kemudian sensor 8MP lensa telephoto dengan teknologi SuperZoom Lens yang mampu mendukung optical-zoom 5x, hybrid-zoom 10x, dan digital-zoom 50x. Terakhir, ada lensa ToF atau Time of Flight untuk keperluan foto bokeh.
Ada beberapa fitur yang disematkan Huawei pada kamera utama smartphone-nya, seperti Night Mode, Extreme Zoom, hingga Dual Video Recording. Untuk fitur terakhir ini, memungkinkan pengguna untuk menggunakan dua lensa secara terpisah saat merekam video.
Jadi nantinya, akan muncul tampilan ganda pada layar, close-up dan wide-angle. Namun hingga kini, fitur tersebut masih belum ada pada P30 Pro yang kami gunakan. Katanya sih, Huawei akan menghadirkannya via update OTA.
Secara default atau saat kami menggunakan kamera untuk memotret, kamera Huawei P30 Pro menangkap gambar dengan resolusi 10MP, bukan 40MP. Lho, bukannya 40MP? Tenang, karena pengguna bisa mengaktifkan mode 40MP kok, tapi konsekuensinya, fitur SuperZoom Lens tidak bisa digunakan.
Meski demikian, sebenarnya pengaturan default pada kamera smartphone ini mampu memberikan foto berkualitas bagus dengan detail yang baik nan tajam. Sebab, saat pengambilan gambar terjadi, sistem akan memampatkan foto 40MP menjadi 10MP.
Kamera ini juga dibantu oleh adanya teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Master AI. Ketika teknologi ini diaktifkan, kamera akan otomatis memberikan pengaturan yang paling cocok untuk skenario foto yang diambil.
{Baca juga: Klaim “Terbaik”, Huawei Bandingkan P30 Pro dengan iPhone Xs, Galaxy 10+ dan Kamera DSLR}
Misalnya, memotret bunga anggrek. Maka kamera P30 Pro akan memberikan pengaturan “Flowers” yang akan meningkatkan warna bunga dan detailnya. Lalu saat memotret landscape dengan adanya awan biru, otomatis kamera menggunakan pengaturan “Clouds” atau “Blue Sky” yang meningkatkan warna dari langit menjadi lebih biru dan awan menjadi lebih putih.
Tapi, ada perbedaan sentuhan pada Master AI saat menggunakan pengaturan 10MP dan 40MP. Di 10MP, Master AI seperti totalitas meningkatkan kualitas pada foto. Namun di 40MP, Master AI seperti memberikan sentuhan yang “biasa saja”. Berikut beberapa hasil fotonya:
Ada teknologi bernama Huawei SuperSpectrum Sensor di lensa utama P30 Pro. Kayak bagaimana sih? Okay, akan kami jelaskan ya..
Huawei SuperSpectrum Sensor merupakan teknologi sensor baru dengan konfigurasi RYYB, bukan lagi RGGB seperti sensor kamera di smartphone kebanyakan. Intinya, sensor ini menggantikan piksel hijau dengan piksel kuning yang diklaim mampu meningkatkan ISO maksimum menjadi 409.600.
Itu artinya, teknologi ini mampu meningkatkan masukan cahaya yang signifikan, yang berdampak pada mudahnya pengguna untuk mengambil foto malam atau foto dengan minim cahaya yang bagus saat menggunakan Night Mode atau mode otomatis. Berikut hasil fotonya:
Kombinasi AI dengan lensa ultra-wide 20MP di Huawei P30 Pro juga menjadi salah satu kombinasi yang patut untuk diapresiasi. Tapi sebelumnya, mode ultra-wide hanya dapat diaktifkan apabila pengaturan kamera berada di 10MP, bukan 40MP.
Foto menggunakan lensa ultra-wide memang mampu menghasilkan foto dengan jangkauan luas yang biasanya cocok untuk memotret landscape, gedung-gedung, dan lainnya. Foto juga mampu ditangkap dengan kualitas yang baik, serta detail dan warna yang tajam. Berikut hasil fotonya:
Sekarang membahas soal SuperZoom Lens. Teknologi ini memanfaatkan desain kamera periskop yang memungkinkan kamera untuk mendukung pembesaran gambar jauh lebih baik, daripada smartphone lain dengan teknologi zooming “yang biasa”.
Dengan desain tersebut, cahaya akan dibengkokkan pada sudut 90 derajat melalui kaca prisma. Apa manfaatnya? Agar masih tersedia cukup ruang, sekaligus tidak mengganggu desain bodysmartphone ketika kamera melakukan zoom mendalam. Selain itu gambar yang dihasilkan diklaim semakin jelas dan detail.
{Baca juga: Diluncurkan, Huawei P30 Pro Jagokan “Leica Quad Camera System”}
Seperti yang sudah kami sebutkan sebelumnya, teknologi SuperZoom Lens yang mampu mendukung optical-zoom 5x, hybrid-zoom 10x, dan digital-zoom 50x. Bagaimana kualitasnya? Jujur, kami menyukai foto saat memanfaatkan SuperZoom Lens.
Alasannya satu, foto tetap berkualitas baik meski sudah diperbesar sampai 10x. Ya, cuma 10x saja, karena lewat dari perbesaran tersebut, kamera menggunakan teknik digital-zoom yang kualitasnya jauh di bawah optical maupun hybrid-zoom. Berikut beberapa hasil fotonya:
Jangan lupakan lensa ToF di Huawei P30 Pro, karena lensa tersebut juga jago dalam urusan foto portrait atau bokeh. Dikombinasikan dengan AI, kamera mampu mengelompokkan mana objek utama dan bagiannya yang harus ditonjolkan, dan mana background foto yang wajib untuk di-blur.
Seperti gambar di bawah ini, rambut pada objek utama tetap aman dari blur. Sebab biasanya, ada beberapa kesalahan yang dibuat oleh kamera smartphone saat mengambil foto portrait, yakni mem-blur-kan bagian dari objek utama, seperti rambut. Berikut beberapa hasil fotonya:
Kamera Selfie 32MP
Memang sih Huawei tidak mengklaim P30 Pro sebagai smartphone selfie. Akan tetapi, brand ini tetap memberikan kamera dengan sensor 32MP aperture f/2.0 untuk memberikan kepuasan maksimal kepada pengguna yang “gila selfie”.
Kamera ini punya fitur standar yang biasanya mudah ditemukan di berbagai smartphone yang menjagokan fitur selfie, seperti HDR, mode Beautify, sampai pengaturan efek bokeh ala-ala foto studio.
Dari beberapa fitur tadi, yang memegang peranan penting di kamera depan P30 Pro adalah fitur HDR. Fitur ini mampu memberikan hasil foto berkualitas dan punya warna serta detail yang tajam pada objek utama hingga background foto.
Misalnya saat mengambil foto selfie di lingkungan dengan kondisi cahaya yang terik. Biasanya, cahaya yang terik membuat foto menjadi over-brightness yang membuat objek utama apalagi background terlalu “bercahaya”.
Tapi di smartphone ini, masalah tersebut tidak kami temui, karena detail dan warna pada foto terlihat tajam dan bagus. Berikut beberapa hasil fotonya:
Spesifikasi
Di samping kualitas kameranya yang baik, Huawei P30 Pro ditanamkan spesifikasi yang powerful. Smartphone ini mengusung layar berukuran 6,47 inci berjenis OLED yang melengkung di sisi kiri dan kanannya, dan memiliki teknologi sensor sidik jari di dalamnya.
Resolusi layarnya mencapai maksimal Full HD+ (1080 x 2340 piksel) dengan aspek rasio 19,5 : 9. Layar ini telah mendukung teknologi HDR 10 yang mampu menampilkan konten dengan warna yang tajam. Mirip Huawei Mate 20, smartphone itu juga punya poni berukuran kecil di bagian atasnya sebagai tempat bagi kamera depan.
Huawei P30 Pro masih menggunakan prosesor yang sama pada seri Mate 20 yang dirilis tahun lalu, yaitu prosesor octa-core (2×2.6 GHz Cortex-A76 & 2×1.92 GHz Cortex-A76 & 4×1.8 GHz Cortex-A55) HiSilicon Kirin 980.
{Baca juga: Review Huawei Mate 20: Jagoan Baru dengan Teknologi Lengkap}
Meski demikian, konfigurasi RAM, ROM, hingga baterai yang ada padanya berbeda. P30 Pro memiliki RAM 8GB, ROM 256GB, dan baterai berkapasitas 4,200 mAh yang mendukung fast charging 40W, fast wireless charging 15W, dan reverse wireless charging.
Berdasarkan pengujian menggunakan AnTuTu Benchmark versi 7, P30 Pro memperoleh skor 274.313 poin dengan mode normal. Nah untuk “mode tidak normal” alias Performance Mode, P30 Pro “menggila” dengan skor 317.378 poin.
Mode Normal
Performance Mode
Sementara untuk baterai, Huawei P30 Pro termasuk smartphone yang punya daya tahan yang bagus. Saat menggunakannya sebagai daily driver, smartphone mampu bertahan hingga 1 hari penuh tanpa diisi baterainya, dan itupun masih tersisa baterai sebesar 9% yang diperkirakan masih mampu menopang smartphone selama 3 jam lebih.
Soal pengisian dayanya pun, Huawei P30 Pro terhitung ngebut. Lewat teknologi SuperCharge 40W, baterai dapat terisi dari 11% ke 100% dalam waktu 54 menit!
Kesimpulan
Kamera Huawei P30 Pro menjadi salah satu yang terbaik saat ini. Menurut kami, kameranya dapat membuat pengguna yang “awam” fotografi sekalipun bisa menghasilkan foto yang berkualitas di kondisi apapun. Entah itu kondisi pencahayaan yang baik, sampai gelap.
Berkat kerja sama dengan Leica, Huawei sebenarnya menciptakan sebuah kamera yang disisipkan teknologi smartphone di dalamnya, bukan sebuah smartphone dengan kamera.
Setelah mencoba langsung kualitas kamera P30 Pro, jujur saja kami masih cukup heran dan tak habis pikir, kenapa Huawei mau mempermalukan diri dengan aksi “tipu-tipunya” dengan memanipulasi foto dari DSLR di iklan teasersmartphone P30 Pro beberapa waktu lalu. Semoga hal bodoh itu tak akan diulang kembali.
Meski dibekali fitur mumpuni, namun faktor harga yang tergolong mahal bisa jadi kesulitan tersendiri bagi Huawei untuk menjual P30 Pro di Indonesia. Harga Huawei P30 Pro mencapai €999 atau setara Rp 15,9 jutaan untuk varian 8GB/128GB, €1.099 atau Rp 17,5 jutaan untuk model 8GB/256GB, dan €1.249 atau Rp 19,9 jutaan untuk versi 8GB/512GB.
Well, apakah kali ini Huawei bisa berbicara banyak di pasar Indonesia dengan bermodalkan P30 Pro? Mungkin bisa jadi orang akan tergiur dengan fitur-fiturnya yang gahar, terutama kameranya. Tapi untuk mengatakan Huawei akan sukses di Indonesia, sepertinya masih sangat berat.
Selain terlampau mahal, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi Huawei untuk bisa “mencuri hati” konsumen Indonesia. (FHP/HBS)