Telko.id – Dari semua operator yang ada di Indonesia, rasanya baru XL saja yang bisa memberikan perbedaan layanan dari para pelanggannya. Kali ini, XL meluncurkan paket Xtra Combo VIP. Pelanggan yang memakai paket ini akan mendapatkan prioritas jaringan tertinggi. Mantap kan?
“Untuk pelanggan yang memakai paket Xtra Combo VIP, ada sejumlah keuntungan lebih yang bisa pelanggan dapatkan,” ungkap David Arcelus Oses, Chief Marketing Officer XL Axiata.
Manfaat pertama yang bisa didapatkan pelanggan paket Xtra Combo VIP adalah berupa akses jaringan yang memberikan kenyamanan lebih. Hal ini dimungkinkan karena Xtra Combo VIP mendapatkan prioritas jaringan tertinggi di antara semua paket internet di layanan prabayar.
Manfaat kedua, menawarkan fleksibilitas yang lebih maksimal untuk akses data dan internet kapan pun dan di mana pun. Pelanggan bisa mendapatkan manfaat ini karena dengan Xtra Combo VIP semua sisa kuota yang ada tetap bisa dipergunakan di bulan-bulan berikutnya tanpa batas dan tanpa biaya.
Manfaat ketiga, memberikan nilai lebih dalam penyediaan konten tambahan yang relevan. Manfaat yang bisa pelanggan peroleh berupa akses ke iFlix VIP tanpa biaya berlangganan. Selain itu, masih ada manfaat tambahan lainnya, yaitu berupa streaming You-Tube tanpa kuota di jam 01:00 s/d 06:00, serta Xtra Nelpon ke semua operator berlaku 24 jam.
Tersedia 5 pilihan paket Xtra Combo VIP. Paket dengan kuota data terkecil 10GB seharga Rp 69 ribu untuk masa aktif 30 hari, dengan kuota bebas hangus sebesar 5GB di jaringan 2G/3G/4G. Paket paling besar dengan kuota data 70GB untuk 30 hari seharga Rp 249 ribu, kuota bebas hangus sebesar 35GB. Pilihan lainnya yaitu paket 20GB, 30GB, dan 40GB.
Xtra Kuota dan Xtream 2
Di luar Xtra Combo VIP, XL Axiata juga merilis dua produk XL lain untuk generasi digital, yaitu Xtra Kuota dan Xtream 2 . Xtra Kuota merupakan paket tambahan khusus untuk pelanggan Xtra Combo dan Xtra Combo VIP. Melalui Xtra Kuota pelanggan bisa memilih berlangganan akses layanan OTT seperti Youtube, Iflix, atau mobile legend sesuai kebutuhan masing-masing pelanggan.
Paket Xtra kuota baru ini sudah bisa didapatkan oleh pelanggan mulai 7 Februari 2019 melalui UMB *123#, MyXL dan outlet penjual pulsa, dengan harga Rp 10Ribu.
Sekarang ini OTT seperti YouTube, Iflix, Mobile Legend dan lainnya digunakan oleh banyak orang. Karena itu kami berupaya memberikan paket yang sesuai dengan harapan pelanggan. Dengan Xtra Kuota, pelanggan Xtra Combo dan Xtra Combo VIP bisa memilih paket yang sesuai kebutuhannya dan khusus untuk layanan yang mereka pilih, sehingga mendapatkan manfaat lebih besar dengan harga murah, ujar David.
David menambahkan, Xtream 2 pun akan segera hadir untuk memenuhi kebutuhan generasi digital dari segi perangkat genggam dengan spesifikasi mumpuni dan sudah mendukung 4G. Tentunya dengan harga dan penawaran yang sangat menarik,jadi tunggu saja kejutan dari kami. (Icha)
Telko.id – Harga yang murah dengan spesifikasi mumpuni merupakan hal yang paling menarik perhatian konsumen smartphone di Indonesia. Makanya, sejumlah brand yang memasarkan produknya di Indonesia menerapkan strategi smartphone “murmer“ alias murah meriah, termasuk Redmi saat meluncurkan Redmi Note 7.
Ya, sub-brand Xiaomi ini baru saja merilis smartphone pertama mereka setelah resmi “pisah” dari Xiaomi.
Xiaomi sendiri merupakan brand yang sudah lama dikenal dengan smartphone yang memiliki spesifikasi tinggi dengan harga yang terjangkau.
{Baca juga: Review Huawei P30 Pro: Kamera Masih Jadi Andalan}
Nah, saat pertama kali diperkenalkan, Redmi Note 7 langsung membuat kejutan. Bagaimana tidak, smartphone ini “cuma” dihargai Rp 1,9 jutaan saja untuk versi paling rendahnya.
Padahal, Redmi Note 7 dibekali spesifikasi handal dan didukung oleh berbagai fitur serta teknologi yang mumpuni. Tapi, apa benar smartphone ini punya spesifikasi handal dan mumpuni?
Well, sekarang tim Telko.id akan mengulas smartphone ini secara lengkap dengan membahas sisi desain, layar, spesifikasi, hingga urusan kameranya dalam review Redmi Note 7 berikut ini. Yuk simak!
Desain
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Jujur, kalau soal desain sebenarnya tidak ada yang spesial dari Redmi Note 7. Sebab, desain Redmi Note 7 terbilang mainstream karena sudah diadopsi oleh sebagian besar smartphone kelas menengah yang beredar saat ini.
Bagian depan misalnya, Redmi Note 7 punya desain layar memanjang dengan adanya notch atau poni yang berukuran kecil di bagian atasnya. Desain poni ini mirip-mirip dengan notch yang juga diadopsi oleh beberapa brand lainnya, seperti Oppo, Realme, Huawei, dll.
{Baca juga: 5 Fakta Redmi Note 7, Nomor 4 Paling “Greget”}
Yang berbeda justru adalah nama dari notch tersebut. Jika di Oppo disebut waterdrop notch, Realme dan Huawei dipanggil dewdrop notch, di Redmi Note 7 disebut sebagai “Dot Drop”.
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Masih bagian depan, bezel kiri dan kanan dari smartphone ini terbilang tipis. Namun jika berbicara soal bezel bagian bawahnya, masih terbilang cukup tebal seperti bezel Mi 8 Lite ataupun Pocophone F1. Wajar, smartphone menengah bukan flagship yang harganya nyaris puluhan juta rupiah.
Pindah ke bagian belakang, desain Redmi Note 7 juga “terinspirasi” dari smartphone menengah lainnya, sebut saja Huawei Nova 3i. Yang paling terlihat “kesamaannya” adalah frame kamera ganda, letak LED Flash, hingga posisi sensor sidik jarinya.
Meski demikian, Redmi melapisi body belakang yang berlapis panel kaca 2,5D Gorilla Glass 5 dengan warna yang kece. Kami memiliki unit berwarna Blue, dan meski tanpa “embel-embel” gradasi, warna biru pada smartphone ini terlihat cantik dan premium.
{Baca juga: Redmi Note 7 “Dihajar” Durian dan Semangka, BisaSelamat?}
Di sisi desain, yang patut diapresiasi dari Redmi Note 7 justru build quality dari smartphone ini. Redmi Note 7 punya body dengan daya tahan yang jempolan.
“Kekuatannya” dibuktikan dengan beberapa video yang dirilis Xiaomi sebelum smartphone ini dirilis, seperti mampu menghancurkan semangka, dijatuhi durian utuh, sampai diinjak oleh seorang wanita menggunakan sepatu high heels.
Kami memang tidak menguji daya tahannya secara ekstrem seperti itu. Namun selama kami menggunakannya, smartphone ini sudah beberapa kali jatuh ke lantai, dan tidak ada “luka serius” pada body-nya.
Layar
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 mengusung layar berukuran besar, tepatnya 6,3 berjenis IPS LCD dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340 piksel) dan aspek rasio mencapai 19,5 : 9. Seperti body belakang, layar ini juga dilapisi oleh panel 2,5D Gorilla Glass 5 yang tahan dari goresan benda-benda cukup tajam seperti kunci, uang koin, dan lainnya.
Untuk sebuah smartphone Rp 1,9 jutaan, spesifikasi layar Redmi Note 7 tergolong sangat baik. Karena biasanya, smartphone yang baru dirilis dengan rentang harga ini masih menggunakan layar beresolusi HD+.
{Baca juga: Gara-gara Ini, Redmi Note 7 “Batal” Punya Sidik Jari di Layar}
Secara kualitas, sebetulnya “11-12” dengan smartphone lain yang punya panel layar IPS LCD beresolusi sama. Nyaman dilihat mata, karena konten yang disuguhkan menampilkan warna dan detail yang baik, khususnya bagi penggemar game bergrafis tinggi seperti PUBG, Real Racing 3, PES 2019, dan lainnya.
Tapi ada satu yang cukup disayangkan, yakni fitur Auto Brightness yang tidak terlalu pintar menyesuaikan intensitas cahaya layar saat di dalam atau di luar ruangan, serta kondisi siang hari atau malam hari. But, secara overall, layarnya sangat berkualitas untuk sebuah smartphone Rp 1,9 jutaan.
Spesifikasi
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Dengan harga yang relatif murah, Redmi Note 7 sudah ditenagai oleh prosesor octa-core 2.2 GHz Snapdragon 660 AIE atau Artificial Intelligence Engine. AIE merupakan chip khusus yang disematkan Qualcomm untuk sejumlah SoC high-end dan flagship Snapdragon saja.
Seperti Snapdragon 660, Snapdragon 710, Snapdragon 820, Snapdragon 821, Snapdragon 835, Snapdragon 845 hingga Snapdragon 855. Sederhananya, seluruh smartphone yang menggunakan prosesor dengan AIE memiliki teknologi AI hasil kombinasi software buatan brand atau OEM dan hardware Qualcomm untuk meningkatkan kinerja smartphone.
{Baca juga: Review Nokia 5.1 Plus: Murah, Tapi Gak Murahan}
Digunakan juga konfigurasi RAM 3GB/4GB, ROM 32GB/64GB, dan baterai berkapasitas 4,000 mAh yang didukung oleh teknologi Qualcomm Quick Charge 4 bertenaga 18W (9V/2A). Dengan kombinasi spesifikasi ini, kinerja Redmi Note 7 terbilang ngebut yang bisa kami buktikan lewat benchmark via AnTuTu Benchmark versi 7.
Berdasarkan benchmark yang kami gunakan, smartphone ini memperoleh skor 143.976 poin, dan itu merupakan skor yang tinggi sekali untuk smartphone dengan harga Rp 2 jutaan.
Mari bandingkan dengan smartphone di rentang harga Rp 2 jutaan yang pernah kami ulas, seperti Nokia 5.1 Plus, Realme 3, dan Samsung Galaxy J6+, nyatanyaRedmi Note 7 unggul jauh. Menurut catatan kami, tiga smartphone tadi yang masing-masing mencetak skor 119 ribuan untuk Nokia 5.1 Plus, 132 ribuan untuk Realme 3, dan 42 ribuan untuk Samsung Galaxy J6+. Berikut grafis perbandingannya:
Selain menggunakan AnTuTu, kami juga mencoba gaming test dengan menjalankan aplikasi Game Bench untuk memainkan game bergrafis tinggi seperti PUBG hingga Life After. Berdasarkan benchmark, kedua game ini bisa dilibas di rata-rata di 26 fps.
Tadi sudah kami sebutkan bahwa Redmi Note 7 mendukung teknologi fast charging dari Qualcomm. Tapi sayangnya, Xiaomi tidak menyertakan charger yang mendukung teknologi tersebut, karena mereka hanya memberikan charger 5V/2A dalam paket pembelian.
Alhasil, teknologi Qualcomm Quick Charge 4.0 di Redmi Note 7 terasa sia-sia. Berdasarkan pengujian kami, mengisi baterai 4,000 mAh Redmi Note 7 dari 1% hingga penuh membutuhkan 170 menit. Lama banget kan?
Namun apabila menggunakan charger 9V/2A, kami memperoleh waktu 127 menit untuk mengisi baterai dari 7% hingga penuh. Perbedaan yang sangat jauh. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi Xiaomi untuk memberikan charger yang mendukung teknologi fast charging dalam paket pembelian.
Meski begitu, dari sisi ketahanan daya, smartphone ini terbilang awet baterai. Berdasarkan pengujian langsung menggunakan aplikasi PCMark, smartphone itu mencatat waktu 12 jam 21 menit dengan baterai tersisa 15%. Itu terbilang awet, karena screen on-time pun tercatat di waktu yang sama.
Sistem Operasi
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 sudah berjalan di atas MIUI 10 berbasis Android 9 Pie. Sistem operasi ini terbilang smooth dan lancar digunakan di jagoan pertama Redmi tersebut.
Tapi ada kekurangan yang kami rasa sangat fatal pada MIUI 10, yaitu banyak iklan. Ya, lagi-lagi masalahnya masih banyak iklan yang mengganggu. Memang, smartphone Xiaomi terbilang murah di kelasnya, tapi apakah harus “mengorbankan” kenyamanan pengguna dengan menampilkan iklan di aplikasi bawaan untuk “menambah pemasukan”?
Iklan itu sendiri seperti adware yang muncul di aplikasi bawaan seperti File Manager, Assistant, Cleaner, hingga sistem pemindaian keamanan untuk setiap aplikasi baru yang di-install. Kami akhirnya seperti menggunakan aplikasi bajakan atau aplikasi gratisan dengan hadirnya serangkaian iklan yang mengganggu.
Apabila seandainya iklan itu tidak ada, MIUI 10 menjadi salah satu sistem operasi yang patut diperhitungkan karena UI-nya fresh, prosesnya smooth dan nyaman digunakan, serta kaya fitur. Masukan lagi nih buat Xiaomi.
Kamera
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 memiliki kamera ganda dengan sensor 48MP Isocell Slim GM 1 aperture f/1.8 sebagai lensa utama dan sensor 5MP aperture f/2.4 sebagai lensa depth. Saat kami menggunakannya, secara default Redmi Note 7 akan menghasilkan gambar 12MP.
Tapi, ada juga opsi untuk benar-benar mengaktifkan mode 48MP yang menghasilkan foto beresolusi sama. Caranya, dengan masuk ke mode Pro.
Namun menurut kami, hasil kamera 12MP jauh lebih detail dan punya kualitas yang lebih baik serta warna yang lebih tajam daripada menggunakan opsi kamera 48MP. Kok bisa?
{Baca juga: Sayang Sekali, Redmi Note 7 Pro Gak Masuk ke Indonesia}
Itu karena, sistem akan memadatkan atau memampatkan foto 48MP menjadi 12MP. Proses itu disebut Redmi sebagai 4-in-1 Super Pixel. Berikut hasil foto-fotonya:
Smartphone ini menawarkan cukup banyak fitur pada kameranya. Salah satunya adalah Night Mode yang memungkinkan pengguna mengambil gambar bagus di kondisi cahaya yang kurang atau malam.
Cara kerja mode ini adalah mengambil gambar selama beberapa detik, tergantung intensitas cahaya saat pengambilan gambar. Biasanya, makin gelap, maka proses pengambilan gambar akan makin lama.
Kemudian, seluruh gambar yang diambil tadi akan digabungkan menjadi satu foto yang bagus. Foto malam yang dihasilkan juga cukup baik, minim noise, detail yang baik, dan warna yang cukup tajam. Berikut beberapa hasil foto malamnya:
Untuk kamera depan, smartphone ini dibekali kamera 13MP aperture f/2.2 yang didukung teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu mempercantik, menghaluskan, dan “memperbaiki” wajah pengguna saat selfie.
Kualitasnya juga cukup baik, standar lah untuk smartphone yang tidak menjagokan kamera depannya. Akan tetapi, terkadang wajah saat selfie terlihat jauh lebih mulus dan sangat terlihat telah “dimanipulasi”. Berikut beberapa fotonya:
Kesimpulan
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Pada umumnya, smartphone dengan harga Rp 1,9 jutaan hingga Rp 2 jutaan memiliki fitur yang terkenal biasa saja. Namun, kesan tadi seolah hilang saat kami menggunakan Redmi Note 7, yang sukses membuat kami terkejut dengan kemampuan yang disuguhkannya.
Meski desainnya terbilang mainstream, namun daya tahannya patut diacungi jempol. Kemudian spesifikasi dan performanya juga memberikan pengalaman baik kepada kami, khususnya di sektor baterai.
Lalu kameranya. Mana lagi smartphone di harga ini yang memberikan kamera utama 48MP sebagai salah satu daya tariknya? Kualitas foto yang diberikan pun sudah baik dan cukup berkualitas.
Ya, Xiaomi dan Redmi sukses membuat smartphone berharga terjangkau dengan performa dan kemampuan yang mumpuni bagi masyarakat Tanah Air. Great job!
Kelebihan
Kekurangan
Harga Terjangkau
Daya tahan dan build qualitybody bagus
Layar dan body sudah dilapisi Gorilla Glass 5
Warna gradasi yang menarik
Layar berukuran besar dan Full HD+
Spek mumpuni dengan Snapdragon 660 AIE
Baterai tahan lama
Kamera 48MP
Kamera ada Night Mode
Desain mainstream dan cenderung “ikut-ikutan”
Belum diberikan charger 9V/2A atau yang mendukung Quick Charge 4.0
Telko.id – Harga yang murah dengan spesifikasi handal merupakan hal yang paling menarik perhatian konsumen smartphone di Indonesia. Makanya, sejumlah brand yang berbisnis di Tanah Air pun menerapkan strategi “smartphone murmer” alias Murah Meriah ketika merilis smartphone baru di sini, termasuk Redmi saat meluncurkan Redmi Note 7.
Ya, sub-brand Xiaomi ini baru saja merilis smartphone pertama mereka setelah resmi “pisah” dari Xiaomi.
Buat yang gak tahu, Xiaomi merupakan brand yang juga sudah terkenal sejak dulu untuk urusan smartphone berperforma dengan harga yang terjangkau.
{Baca juga: Review Huawei P30 Pro: Kamera Masih Jadi Andalan}
Nah saat pertama kali diperkenalkan, Redmi Note 7 langsung membuat kejutan. Bagaimana tidak, smartphone ini “cuma” dihargai Rp 1,9 jutaan saja untuk versi paling rendahnya.
Padahal, Redmi Note 7 “katanya” ditopang oleh spesifikasi handal dan didukung oleh berbagai fitur serta teknologi yang mumpuni. Tapi, apa benar smartphone ini punya spesifikasi handal dan mumpuni?
Well, sekarang tim Telko.id akan mengulas smartphone ini secara lengkap dengan membahas sisi desain, layar, spesifikasi, hingga urusan kameranya dalam review Redmi Note 7 berikut ini. Agar, Anda dapat mengetahui seperti apa sihsmartphone tersebut. Yuk simak!
Desain
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Jujur, kalau soal desain sebenarnya tidak ada yang spesial dari Redmi Note 7. Sebab, desain Redmi Note 7 terbilang mainstream karena sudah diadopsi oleh sebagian besar smartphone kelas menengah yang beredar saat ini.
Bagian depan misalnya, Redmi Note 7 punya desain layar memanjang dengan adanya notch atau poni yang berukuran kecil di bagian atasnya. Desain poni ini mirip-mirip dengan notch pada sejumlah smartphone Oppo, Realme, Huawei, dan lainnya.
{Baca juga: 5 Fakta Redmi Note 7, Nomor 4 Paling “Greget”}
Yang berbeda justru adalah nama dari notch tersebut. Jika di Oppo disebut waterdrop notch, Realme dan Huawei dipanggil dewdrop notch, di Redmi Note 7 disebut sebagai “Dot Drop”.
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Masih bagian depan, bezel kiri dan kanan dari smartphone ini terbilang tipis. Namun jika berbicara soal bezel bagian bawahnya, masih terbilang cukup tebal seperti bezel Mi 8 Lite ataupun Pocophone F1. Wajar, smartphone menengah bukan flagship yang harganya nyaris puluhan juta rupiah.
Pindah ke bagian belakang, desain Redmi Note 7 juga “terinspirasi” dari smartphone menengah lainnya, sebut saja Huawei Nova 3i. Yang paling terlihat “kesamaannya” adalah frame kamera ganda, letak LED Flash, hingga posisi sensor sidik jarinya.
Meski demikian, Redmi melapisi body belakang yang berlapis panel kaca 2,5D Gorilla Glass 5 dengan warna yang kece. Kami memiliki unit berwarna Blue, dan meski tanpa “embel-embel” gradasi, warna biru pada smartphone ini terlihat cantik dan premium.
{Baca juga: Redmi Note 7 “Dihajar” Durian dan Semangka, BisaSelamat?}
Di sisi desain, yang patut diapresiasi dari Redmi Note 7 justru build quality dari smartphone ini. Redmi Note 7 punya body dengan daya tahan yang jempolan. Itu dibuktikan dengan beberapa video yang dirilis Xiaomi sebelum smartphone ini dirilis, seperti mampu menghancurkan semangka, dijatuhi durian utuh, sampai diinjak oleh seorang wanita menggunakan sepatu high heels.
Kami memang tidak menguji daya tahannya secara ekstrem seperti itu. Namun selama kami menggunakannya, smartphone ini sudah beberapa kali jatuh ke lantai, dan tidak ada “luka serius” pada body-nya.
Layar
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 mengusung layar berukuran besar, tepatnya 6,3 berjenis IPS LCD dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340 piksel) dan aspek rasio mencapai 19,5 : 9. Seperti body belakang, layar ini juga dilapisi oleh panel 2,5D Gorilla Glass 5 yang tahan dari goresan benda-benda cukup tajam seperti kunci, uang koin, dan lainnya.
Untuk sebuah smartphone Rp 1,9 jutaan, spesifikasi layar Redmi Note 7 tergolong sangat baik. Karena biasanya, smartphone yang baru dirilis dengan rentang harga ini masih menggunakan layar beresolusi HD+.
{Baca juga: Gara-gara Ini, Redmi Note 7 “Batal” Punya Sidik Jari di Layar}
Secara kualitas, sebetulnya 11-12 dengan smartphone lain yang punya panel layar IPS LCD beresolusi sama. Nyaman dilihat mata, karena konten yang disuguhkan menampilkan warna dan detail yang baik, khususnya bagi penggemar game bergrafis tinggi seperti PUBG, Real Racing 3, PES 2019, dan lainnya.
Tapi ada satu yang cukup disayangkan, yakni fitur Auto Brightness yang tidak terlalu pintar menyesuaikan intensitas cahaya layar saat di dalam atau di luar ruangan, serta kondisi siang hari atau malam hari. But, secara overall, layarnya sangat berkualitas untuk sebuah smartphone Rp 1,9 jutaan.
Spesifikasi
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Di harganya yang “cuma segitu”, Redmi Note 7 sudah ditenagai oleh prosesor octa-core 2.2 GHz Snapdragon 660 AIE atau Artificial Intelligence Engine. AIE merupakan chip khusus yang disematkan Qualcomm untuk sejumlah SoC high-end dan flagship Snapdragon saja.
Seperti Snapdragon 660, Snapdragon 710, Snapdragon 820, Snapdragon 821, Snapdragon 835, Snapdragon 845 hingga Snapdragon 855. Sederhananya, seluruh smartphone yang menggunakan prosesor dengan AIE memiliki teknologi AI hasil kombinasi software buatan brand atau OEM dan hardware Qualcomm untuk meningkatkan kinerja smartphone.
{Baca juga: Review Nokia 5.1 Plus: Murah, Tapi Gak Murahan}
Digunakan juga konfigurasi RAM 3GB/4GB, ROM 32GB/64GB, dan baterai berkapasitas 4,000 mAh yang didukung oleh teknologi Qualcomm Quick Charge 4 bertenaga 18W (9V/2A). Dengan kombinasi spesifikasi ini, kinerja Redmi Note 7 terbilang ngebut yang bisa kami buktikan lewat benchmark via AnTuTu Benchmark versi 7.
Berdasarkan benchmark yang kami gunakan, smartphone ini memperoleh skor 143.976 poin, dan itu merupakan skor yang tinggi sekali untuk smartphone dengan harga Rp 2 jutaan.
Mari bandingkan dengan smartphone di rentang harga Rp 2 jutaan yang pernah kami ulas, seperti Nokia 5.1 Plus, Realme 3, dan Samsung Galaxy J6+. Redmi Note 7 unggul jauh dari 3 smartphone tadi yang masing-masing mencetak skor 119 ribuan untuk Nokia 5.1 Plus, 132 ribuan untuk Realme 3, dan 42 ribuan untuk Samsung Galaxy J6+. Berikut grafis perbandingannya:
Selain menggunakan AnTuTu, kami juga mencoba gaming test dengan menjalankan aplikasi Game Bench untuk memainkan game bergrafis tinggi seperti PUBG hingga Life After. Berdasarkan benchmark, kedua game ini bisa dilibas di rata-rata di 26 fps.
Tadi sudah kami sebutkan bahwa Redmi Note 7 mendukung teknologi fast charging dari Qualcomm. Tapi sayangnya, Xiaomi tidak menyertakan charger yang mendukung teknologi tersebut, karena mereka hanya memberikan charger 5V/2A dalam paket pembelian.
Sehingga, teknologi Qualcomm Quick Charge 4.0 terasa sia-sia. Berdasarkan pengujian kami, mengisi baterai 4,000 mAh Redmi Note 7 dari 1% hingga penuh membutuhkan 170 menit. Lama banget kan?
Namun apabila menggunakan charger 9V/2A, kami memperoleh waktu 127 menit untuk mengisi baterai dari 7% hingga penuh. Perbedaan yang sangat jauh. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi Xiaomi untuk memberikan charger yang mendukung teknologi fast charging dalam paket pembelian.
Masih baterai, gara-gara menggunakan mesin utama mumpuni dan juga efisien, smartphone ini terbilang awet baterai. Berdasarkan pengujian langsung menggunakan aplikasi PCMark, smartphone itu mencatat waktu 12 jam 21 menit dengan baterai tersisa 15%. Itu terbilang awet, karena screen on-time pun tercatat di waktu yang sama.
Sistem Operasi
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 sudah berjalan di atas MIUI 10 berbasis Android 9 Pie. Sistem operasi ini terbilang smooth dan lancar digunakan di jagoan pertama Redmi tersebut.
Tapi ada kekurangan yang kami rasa sangat fatal pada MIUI 10, yaitu banyak iklan. Memang, smartphone Xiaomi terbilang murah meriah apabila dibandingkan smartphone lain di kelasnya. Tapi, apakah harus “mengorbankan” kenyamanan pengguna dengan menampilkan iklan di aplikasi bawaan untuk “menambah pemasukan”?
Iklan itu sendiri seperti adware yang muncul di aplikasi bawaan seperti File Manager, Assistant, Cleaner, hingga sistem pemindaian keamanan untuk setiap aplikasi baru yang di-install. Kami akhirnya seperti menggunakan aplikasi bajakan atau aplikasi gratisan dengan hadirnya serangkaian iklan yang mengganggu.
Apabila seandainya iklan itu tidak ada, MIUI 10 menjadi salah satu sistem operasi yang patut diperhitungkan karena UI-nya fresh, prosesnya smooth dan nyaman digunakan, serta kaya fitur. Masukan lagi nih buat Xiaomi.
Kamera
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Redmi Note 7 memiliki kamera ganda dengan sensor 48MP Isocell Slim GM 1 aperture f/1.8 sebagai lensa utama dan sensor 5MP aperture f/2.4 sebagai lensa depth. Saat kami menggunakannya, secara default Redmi Note 7 akan menghasilkan gambar 12MP.
Tapi, ada juga opsi untuk benar-benar mengaktifkan mode 48MP yang menghasilkan foto beresolusi sama. Caranya, dengan masuk ke mode Pro.
Namun menurut kami, hasil kamera 12MP jauh lebih detail dan punya kualitas yang lebih baik serta warna yang lebih tajam daripada menggunakan opsi kamera 48MP. Kok bisa?
{Baca juga: Sayang Sekali, Redmi Note 7 Pro Gak Masuk ke Indonesia}
Itu karena, sistem akan memadatkan atau memampatkan foto 48MP menjadi 12MP. Proses itu disebut Redmi sebagai 4-in-1 Super Pixel. Berikut hasil foto-fotonya:
Smartphone ini menawarkan cukup banyak fitur pada kameranya. Salah satunya adalah Night Mode yang memungkinkan pengguna mengambil gambar bagus di kondisi cahaya yang kurang atau malam.
Cara kerja mode ini adalah mengambil gambar selama beberapa detik, tergantung intensitas cahaya saat pengambilan gambar. Biasanya, makin gelap, maka proses pengambilan gambar akan makin lama.
Kemudian, seluruh gambar yang diambil tadi akan digabungkan menjadi satu foto yang bagus. Foto malam yang dihasilkan juga cukup baik, minim noise, detail yang baik, dan warna yang cukup tajam. Berikut beberapa hasil foto malamnya:
Untuk kamera depan, smartphone ini dibekali kamera 13MP aperture f/2.2 yang didukung teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu mempercantik, menghaluskan, dan “memperbaiki” wajah pengguna saat selfie.
Kualitasnya juga cukup baik, standar lah untuk smartphone yang tidak menjagokan kamera depannya. Akan tetapi, terkadang wajah saat selfie terlihat jauh lebih mulus dan sangat terlihat telah “dimanipulasi”. Berikut beberapa fotonya:
Kesimpulan
Foto: Aditya Helmi/Telko.id
Pada umumnya, smartphone dengan harga Rp 1,9 jutaan hingga Rp 2 jutaan memiliki fitur yang terkenal biasa saja. Namun, kesan tadi seolah hilang oleh Redmi Note 7 yang sukses membuat kami terkejut dengan kemampuan yang disuguhkannya.
Meski desainnya terbilang mainstream, namun daya tahannya patut untuk diacungi jempol. Kemudian spesifikasi dan performanya juga memberikan pengalaman baik kepada kami, khususnya di sektor baterai.
Lalu kameranya. Mana lagi smartphone di harga ini yang memberikan kamera utama 48MP sebagai salah satu daya tariknya? Kualitas foto yang diberikan pun sudah baik dan cukup berkualitas.
Ya, Xiaomi dan Redmi sukses membuat smartphone berharga terjangkau dengan performa dan kemampuan yang mumpuni bagi masyarakat Tanah Air. Great job!
Kelebihan
Kekurangan
Harga Terjangkau
Daya tahan dan build qualitybody bagus
Layar dan body sudah dilapisi Gorilla Glass 5
Warna gradasi yang menarik
Layar berukuran besar dan Full HD+
Spek mumpuni dengan Snapdragon 660 AIE
Baterai tahan lama
Kamera 48MP
Kamera ada Night Mode
Desain mainstream dan cenderung “ikut-ikutan”
Belum diberikan charger 9V/2A atau yang mendukung Quick Charge 4.0
Telko.id, Jakarta – Snap Inc mengumumkan sejumlah fitur baru yang akan tersedia untuk Android dan iOS. Selama Snap Partner Summit, Snap Inc. mengumumkan dua program baru untuk Snapchat, yaitu Snap Games dan Snap Original.
Menurut The Verge, Snap Games merupakan fitur baru yang akan dapat ditemukan pada bar Chat di dalam aplikasi Snapchat versi Android dan iOS.
Untuk dapat menikmati fitur ini, pengguna tidak harus menginstal aplikasi tambahan.
Pengguna juga akan dapat menemukan seluruh rekan yang tengah memainkan game, mengirimkan pesan, bermain bersama dan bahkan berbincang dengan memanfaatkan fitur Voice Chat.
{Baca juga: Snapchat Uji Fitur “Status” di Snap Maps, Mirip Foursquare}
Awalnya, Snap Games akan tersedia dengan enam game mobile, yaitu Bitmoji Party, Tiny Royale, Snake Squad, C.A.T.S. Drift Race, Zombie Rescue Squad, dan Alphabear Hustle. Snap Games telah mulai digulirkan pada aplikasi versi Android dan iOS, meski secara bertahap.
Sementara itu, Snap Originals terdiri dari rangkaian acara seperti dokumentari, komedi dan drama remaja. Snap menyebut konten pada fitur ini berbeda dari konten lain, diklaim lebih personal, intim dan sesuai dengan cara penggunaan ponsel saat ini.
Snap mengaku telah mempersiapkan 10 konten acara untuk Snap Originals, dan menyebut bahwa konten ini dapat dinikmati secara langsung dari smartphone selama terhubung dengan internet. Fitur dan konten ini mulai tersedia pada minggu ini, Namun Snap berjanji akan menambahkan lebih banyak konten di masa mendatang.
Pengumuman utama lain yang disampaikan Snap Inc adalah peningkatan kemampuan pada Snap Lense. Peningkatan ini dihadirkan via fitur Creator Profiles, cara baru untuk membantu Lens Creator untuk memamerkan karya mereka dan mempelajari pemirsa.
Snap turut memperkenalkan metode lebih mudah untuk menemukan Lenses yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Cukup dengan menekan dan menahan layar pada menu kamera untuk memindai dunia di sekitar pengguna.
Selain itu, Snap juga mengumumkan rangkaian alat pengembangan baru, yang dikelompokan sebagai Snap Kit. Alat ini akan memungkinkan pengembang untuk menyematkan fungsionalitas Snapchat secara langsung pada aplikasi mereka.
{Baca juga:Adik Bos Snapchat Bikin Situs Porno Tanpa Gambar}
Kit ini terdiri dari Creative Kit, Bitmoji Kit, dan Ad Kit yang kini telah tersedia untuk kreator, memungkinkan pengguna Snapchat untuk berinteraksi dengan lebih mudah dengan Snap khusus.
Sementara App Stories akan memungkinkan pengguna berbagi konten secara langsung dari kamera Snapchat ke Story aplikasi lain. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Bajak membajak diperusahan raksasa teknologi sudah bukan hal yang aneh terjadi. Kali ini, giliran Apple yang membajak salah satu peneliti dan ahli AI (artificial intelligence) terbaik Google.
Tampaknya, perusahaan teknologi kini memang tengah berlomba-lomba untuk mendapatkan peneliti AI berkualitas.
Ia adalah Ian Goodfellow, salah satu peneliti paling ternama di industri kecerdasan buatan. Sebelum ini, ia pernah bekerja untuk Google sebelum dia pindah ke OpenAI yang didanai oleh Elon Musk.
Namun, menurut The Verge, belum lama ini Goodfellow memperbarui profil LinkedIn miliknya dan menyebutkan bahwa dia bekerja di Apple sebagai Director untuk machine learning di grup Special Project.
{Baca juga: Demi Apple News, Apple Bajak Eks Presiden Conde Nast}
AI kini adalah salah satu teknologi kunci. Bagi perusahaan teknologi, menemukan ahli AI untuk bisa menciptakan teknologi baru bukanlah hal yang mudah.
Google identik dengan AI. Namun, Apple juga menggunakan berbagai tipe AI di produknya, mulai dari fotografi hingga pengenalan wajah. Apple juga sedang sibuk untuk mengembangkan software mobil otonom, yang sudah pasti membutuhkan banyak ahli AI.
Berumur 34 tahun, Goodfellow dikenal sebagai ahli AI ternama. Dia dikenal karena menciptakan sistem AI yang dikenal dengan nama Generative Adversial Network (GAN).
Sistem ini terbukti efektif, terutama untuk membuat foto, video, audio, dan teks palsu. Salah satu penggunaan GAN adalah untuk membuat foto dari orang yang sebenarnya tidak ada.
Ini bukan pertama kalinya Apple mempekerjakan mantan punggawa Google. Sebelum ini, Apple berhasil menarik mantan bos Goodfellow, John Giannandrea pada bulan April lalu. Sebelumnya, Giannandrea bekerja sebagai Head of AI Google.
{Baca juga: Demi SIRI, Apple Bajak Pentolan AI Google}
Giannandrea adalah seorang ahli pembelajaran mesin (AI) yang bergabung dengan Google pada 2010. Menurut The Verge, di Apple, ia akan mengepalai divisi strategi pembelajaran mesin dan AI. Posisinya akan langsung berada di bawah kendali sang CEO, Tim Cook.
Cook menyatakan bahwa Giannandrea memiliki komitmen yang sama terkait privasi dan pendekatan yang dilakukan oleh Apple. Cook berharap banyak kepadanya untuk melakukan sejumlah inovasi di produk-produk masa mendatang besutan Apple. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – Labo VR kit akan bekerja sama dengan The Legend of Zelda: Breath of the Wild dan Super Mario Odyssey di Switch. VR mode akan hadir full version via patch.
Kabar soal VR mode di The Legend of Zelda: Breath of the Wild diumumkan via akun Twitter Nintendo of America.
Dalam video yang dibagikan di akun Twitter, perusahaan game asal Jepang ini mengajak bergabung dengan Mario untuk dalam VR sederhana.
Ada tiga mini misi baru yang harus diselesaikan, melibatkan pengumpulan music notes dan coins di tiga dunia game yang ada, Cap, Seaside, dan Luncheon Kingdoms. Untuk Zelda, pengalaman VR ditambahkan ke seluruh permainan melalui opsi menu.
{Baca juga: Tahun Ini Nintendo Switch akan Rilis Dua Seri Baru
Menurut laporan The Verge, pengguna bisa memicu apakah ingin menggunakan Toy-Con VR Googles dari opsi sistem atau tidak. Pengguna tidak perlu memulai menyimpan file baru untuk memainkan Zelda di VR.
Update akan hadir ke Legends of Zelda: Breath of the Wild dan Super Mario Odyssey pada 25 April mendatang. Nintendo Labo VR kit sendiri baru akan meluncur pada 12 April 2019 di Amerika Serikat.
Sementara non-VR Nintendo Labo sudah kompatibel dengan Mario Kart 8 Deluxe. Headset virtual reality (VR) dirancang untuk memungkinakn keluarga membuat game dan pengalaman VR sendiri.
{Baca juga: Cara Download Call of Duty Mobile di Smartphone Android}
Informasi menyebut bahwa kit bisa direnovasi menjadi enam format yang berbeda termasuk blaster gun, kamera, burung, pedal angin, gajah lengkap dengan gading, dan kacamata VR biasa. [BA/HBS]
Telko.id, Jakarta – National Science Foundation Amerika Serikat akan memamerkan hasil proyek Event Horizon Telescope (EHT) berupa foto terkini lubang hitam atau black hole. EHT merupakan kerja sama internasional yang dibentuk pada 2012.
“Sekitar 200 orang terlibat dalam proyek itu. Kami mengobservasi lubang hitam dan lingkungan sekitar,” kata astrofisikawan Shepherd Doeleman, yang juga Direktur EHT dari Pusat Astrofisika, Harvard, & Smithsonian, seperti dilansir Reuters.
EHT sendiri bakal dipamerkan di Brussel, Santiago, Shanghai, Taipei, dan Tokyo pada Rabu (10/04) mendatang. Para ilmuwan menargetkan dua black hole yang sangat besar.
{Baca juga: Perusahaan Ini Bikin Koin ‘Lubang Hitam’ Stephen Hawking}
Yang pertama bernama Sagittarius A, berlokasi di pusat Galaksi Bima Sakti. Sagittarius A berukuran empat juta kali massa matahari dengan jarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi.
Seperti dikutip Telko.id, Minggu (07/04/2019), jarak satu tahun cahaya mencapai 9,5 triliun kilometer. Sementara yang kedua dinamai M87, terletak di dekat pusat Galaksi Virgo, berukuran 3,5 miliar kali matahari dan jaraknya 54 juta tahun cahaya.
Lubang hitam adalah ruang yang terbentuk ketika bintang-bintang besar hancur pada akhir masa hidup. Ini merupakan satu tempat paling berbahaya di alam semesta, dan segala sesuatu yang masuk ke sana seperti benda langit-bintang, planet, gas, debu, dan radiasi elektromagnetik tidak akan bisa kembali lagi.
{Baca juga: 10 April, Astronom untuk Pertama Kalinya akan Ungkap Foto Black Hole}
Ukuran lubang hitam bervariasi, ada versi supermasif yang mampu melahap material dan radiasi dan bergabung dengan black hole lain.
Astrofisikawan dari University of Arizona, Dimitrios Psaltis, mengartikan lubang hitam sebagai lengkungan ekstrem dalam ruang waktu. Istilah itu mengacu kepada tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu yang digabung menjadi empat dimensi Continuum. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – Peluncuran kedua roket Falcon Heavy milik SpaceX tiba-tiba ditunda. Hal tersebut terungkap berdasarkan laporan industri dari Spaceflight Now dan NASA Spaceflight. Kira-kira, apa penyebabnya?
Sebelumnya, peluncuran akan dilakukan pada Minggu (07/04), pukul 6.36 sampai 20.35 waktu setempat. Namun, ada peringatan penutupan wilayah udara, sehingga peluncuran pun diundur menjadi Selasa (09/04) malam.
Dilansir dari UPI, penundaan terjadi karena cuaca, masalah teknis, atau masalah lain. NASA Spaceflight melaporkan bahwa uji coba yang dilakukan pada awal minggu digeser menjadi Selasa malam meski belum terkonfirmasi.
{Baca juga: Kapsul Crew Dragon Milik SpaceX Sukses Kembali ke Bumi}
Roket Falcon Heavy akan membawa Arabsat 6A, satelit komunikasi untuk perusahaan yang berbasis di Riyadh, Arab Saudi. Roket ini akan lepas landas dari Launch Complex 39A di Kennedy Space Center.
Dikutip Telko.id pada Minggu (07/04/2019), peluncuran itu diharapkan akan membawa ribuan penonton ke Space Coast Florida guna melihat kali pertama booster Block 5 digunakan untuk roket. Baru kali ini roket Falcon Heavy membawa muatan komersial.
{Baca juga: Roket SpaceX Pembawa Mobil Tesla Lewati Orbit Mars}
Booster Block 5 adalah Falcon 9 generasi terbaru. Nantinya, perangkat tersebut akan digunakan kembali hingga beberapa kali. Peluncuran perdana roket Falcon Heavy ke luar angkasa berlangsung pada Februari 2018 silam.
Kala itu, 100 ribu orang datang untuk menonton. Peluncuran tersebut cukup menarik perhatian publik karena roket diketahui membawa mobil Tesla Roadster merah Elon Musk, dan terdapat boneka Starman sebagai “pengemudinya”. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – NASA akan mengirim sepasang robot lebah bernama Astrobee ke stasiun luar angkasa atau ISS pada akhir April 2019. Proyek itu merupakan kolaborasi luar angkasa tercanggih antara astronot dan robot.
Menurut laporan India Times, Astrobee akan menuju ISS bersama sejumlah astronot. Astrobee akan membantu para ilmuwan dan teknisi dalam mengembangkan sekaligus menguji teknologi untuk pemanfaatan ruang tanpa gravitasi.
Seperti dikutip Telko.id, Minggu (07/04/2019), Astrobee juga akan membantu astronot untuk melakukan aktivitas rutin di luar angkasa. Menurut lembar fakta, Astrobee dibekali kipas khusus untuk membantu pergerakannya.
{Baca juga: Robot Otonom NASA Terinspirasi Film Star Wars}
Kabar juga menyebut bahwa kipas tersebut memungkinkan robot yang dikembangkan dan dibangun oleh satu pusat riset NASA bernama Ames Research Center itu melayang dan terbang di kondisi minim hingga tanpa gravitasi.
Astrobee juga berbekal lengan robotik berukuran kecil untuk menggenggam. Terdapat pula sejumlah sensor, laser, dan alat input yang memungkinkannya untuk berinteraksi dengan astronot dan lingkungan ISS.
Robot lebah ini juga dibekali komponen telepresensi, memungkinkan pegawai NASA yang berlokasi di Houston, Texas untuk mengawasi dan berinteraksi dengan semua kru di ISS.
{Baca juga: NASA Kecam India Soal Penembakan Satelit Pakai Misil}
Sebelumnya, NASA meluncurkan satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite atau TESS untuk mencari eksoplanet yang memiliki kehidupan. Satelit itu akan mengamati 400 ribu bintang dan menentukan target pengamatan. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – Wiebe Wakker, seorang pria asal Belanda, menyelesaikan perjalanan dari Belanda ke Australia sejauh 95.000 kilometer menggunakan mobil listrik. Ia mengakhiri perjalanan di Sidney, Australia pada Minggu (07/04) waktu setempat.
Wakker rela melakukan perjalanan sangat jauh guna membuktikan kelayakan mobil listrik untuk menghadapi perubahan iklim. Ia mengendari mobil yang dinamai The Blue Bandit untuk melintasi sekitar 33 negara.
Menurut laporan Times Now, dikutip Telko.id pada Minggu (07/04/2019), perjalanan Wakker dimulai dari Belanda. Ia membutuhkan waktu tiga tahun untuk tiba di Australia. Petualangannya didanai oleh donasi publik dari seluruh dunia.
{Baca juga: Viral, Wanita Ini Nyaris “Suapi” Mobil Listrik dengan BBM}
Donasi tersebut ia gunakan untuk mengisi ulang baterai The Blue Bandit. Ia juga memanfaatkan donasi untuk makanan dan menginap.
Melakukan perjalanan selama 1.000 hari lebih dengan melewati beberapa negara seperti Turki, Iran, India, Myanmar, dan Indonesia, ia akhirnya tiba di Australia tanpa kendala berarti. Informasi menyebut bahwa rute yang ia lewat merupakan penawaran yang masuk ke situs resminya.
Wiebe Wakker
“Saya ingin mengubah opini publik dan menginspirasi masyarakat untuk mulai mengendarai mobil listrik. Saya ingin membuktikan keuntungan melakukan perjalanan menggunakan energi non-minyak,” jelas Wakker.
{Baca juga: Tesla Akui Masa Depannya Mengkhawatirkan, Kok Bisa?}
Wakker mengatakan, sebelum dimodifikasi, The Blue Bandit menghabiskan 6,785 liter BBM untuk perjalanan sepanjang itu. Setelah dimodifikasi, mobil bisa melaju hingga 200 kilometer dengan satu kali pengisian baterai.
Wakker mengaku hanya menghabiskan USD 300 atau tak kurang dari Rp 4,2 juta untuk biaya daya listrik sepanjang perjalanan. Sebagian besar uang tersebut dikeluarkan kala ia melintasi wilayah pedalaman Australia. (SN/FHP)