spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1197

Dear Huawei, Pendirimu Ternyata Seorang Apple Fanboy

0

Telko.id, Jakarta – CEO dan juga pendiri Huawei, Ren Zhengfei, membuat pengakuan mengejutkan. Ia secara blak-blakan mengklaim sebagai seorang Apple Fanboy, atau penggemar berat iPhone.

Ia bahkan mengaku membelikan iPhone untuk semua anggota keluarganya. Padahal seperti diketahui, iPhone adalah ponsel buatan Apple yang menjadi pesaing Huawei.

Seperti dikutip Telko.id dari Independent, Minggu (26/5/2019), Zhengfei menyebut bahwa iPhone mempunyai ekosistem yang baik. Karenanya, pendiri Huawei ini sama sekali tak ragu untuk membelikan semua anggota keluarganya iPhone manakal hijrah dari China.

“Saat kami berada di luar negeri, saya membeli iPhone. Menurut saya, kita jangan berpikir sempit. Sebagai pendiri Huawei, saya tak mengharamkan diri untuk memiliki ponsel merek lain. Saya tak harus selalu memakai produk Huawei,” terang Zhengfei.

{Baca juga: Dampak Embargo AS, Minat Pelanggan Huawei Menurun}

Ada makna khusus dari pengakuan Zhengfei membeli iPhone saat bersama keluarga bepergian ke luar negeri. Ia merespons pernyataan petinggi Huawei yang menuruti pemerintah China untuk memboikot perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Perselisihan antara Huawei dengan pemerintah AS memang semakin panas. Beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah larangan bagi perusahaan AS untuk menggunakan peralatan Huawei.  Google dkk pun sepakat memutus akses ke Huawei.

Huawei sempat buka suara terkait pencabutan dukungan Android di ponsel buatannya oleh Google. Perusahaan asal China tersebut menyatakan berkomitmen untuk memberi pembaruan keamanan dan layanan bagi perangkat yang sudah beredar di pasaran.

“Huawei hanya dapat menggunakan versi publik Android dan tidak akan bisa mendapatkan akses ke aplikasi dan layanan dari Google. Namun, Huawei akan terus menyediakan pembaruan keamanan dan layanan purnajual untuk semua produk,” ujar Huawei.

{Baca juga: Huawei Didepak dari Asosiasi Pengembang Kartu SD, Kenapa?}

Menyikapi boikot dari Google, Huawei menggaungkan rencana untuk membangun ekosistem perangkat lunak sendiri yang aman dan berkelanjutan. Tujuannya, mereka ingin memberi pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global. [SN/HBS]

Sumber: Independent

Barang di Lazada Ini Disangka Alat untuk Bunuh Diri

Telset.co.id, Jakarta – Menjadi pedagang online kadang tidak mudah dan kadang semakin sulit ketika harus berurusan dengan internet troll. Semakin sulit jika produk yang anda jual agak aneh atau unik, dan mengundang troll untuk berkomentar lebih banyak lagi.

Seorang penjual di Lazada memasang alat traksi serviks, atau sejenis alat ortopedi untuk meringankan sakit leher dan punggung. Ternyata, hanya sedikit orang yang tahu kegunaan atau fungsi alat ini.

Para trol memburu-buru halaman penjual barang ini dan mengajukan beragam pertanyaan konyol. Namun, si penjual dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan dari para troll dengan bijak.

{Baca juga: “Shoppertainment”, Konsep Belanja Menyenangkan ala Lazada}

Beberapa komentar menanyakan apakah alat tersebut dapat digunakan untuk bunuh diri. Pedagang online ini pun menjawab dengan penuh hati-hati, dan meminta para troll untuk lebih menghargai hidup.

Hingga saat ini, produk yang ditawarkan di Lazada ini telah mendapat 45 pertanyaan, dan semuanya dijawab oleh penjual. Beberapa pengguna memuji penjual karena sangat sabar, dan bahkan ada yang menawarinya pekerjaan sebagai customer service.

Berurusan dengan troll bisa jadi menyebalkan, tetapi pedagang online ini telah memberikan contoh yang bagus, terutama ketika berurusan dengan masalah sensitif seperti bunuh diri dan melukai diri sendiri.

{Baca juga: 3 Produk Terlaris yang Diincar Pengguna Lazada Indonesia, Apa Saja?}

Perangkat penarik leher mungkin sebenarnya bermanfaat bagi mereka yang biasa menatap layar untuk waktu yang lama di kantor. [BA/HBS]

Sumber: worldofbuzz

Ponsel Bisa Deteksi Penyakit Alzheimer 30 Tahun sebelum Gejala

0

Telko.id, Jakarta – Ponsel bakal bisa mendeteksi penyakit Alzheimer atau pikun sejak 30 tahun sebelum gejala muncul. Para ahli mengatakan, ponsel dan gadget lain seperti Fitbits juga bisa melakukan pemeriksaan serupa lima tahun sebelum gejala tampak.

Dennis Chan dari Universitas Cambridge, yang mengembangkan teknik untuk memeriksa 86 pasien lanjut usia, mengatakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian. Harapannya, lima tahun ke depan, deteksi Alzheimer via ponsel bisa terealisasi.

Menurut Asosiasi Alzheimer, seperti dikutip Telko.id dari New York Post, Minggu (26/5/2019), lebih kurang 5,8 juta orang Amerika Serikat hidup dengan penyakit Alzheimer. Pada 2050, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 14 juta orang.

{Baca juga: Peneliti Kembangkan Teknologi AI untuk Deteksi Alzheimer}

Sejauh ini, belum ada obat untuk menyembuhkan Alzheimer. Namun demikian, beberapa obat bisa meredakan gejalanya. Chan menambahkan, teknologi dan aplikasi dapat dipakai untuk mendeteksi mereka yang berisiko tinggi terserang Alzheimer.

“Dokter dapat melakukan intervensi dini dengan menyarankan perubahan gaya hidup guna mengurangi kemungkinan pengembangan penyakit. Mereka baru akan menjalani pengobatan saat hasil analisa membuka kemungkinan untuk itu,” tukasnya.

Maret 2019 lalu, sekelompok peneliti IBM menggunakan mesin pembelajaran untuk menemukan cara mendeteksi penyakit Alzheimer. Penanda biologi yang dipakai adalah peptida bernama amiloid-beta yang bisa diketahui lewat sebuah tes darah.

{Baca juga: Aplikasi Ini Bisa Bantu Tuna Netra ‘Melihat’}

Dengan metode itu, para peneliti akan bisa memperhitungkan risiko seseorang terkena Alzheimer, jauh sebelum gejala muncul. Metode tersebut juga bisa digunakan untuk mengetahui secara lebih cepat ancaman Alzheimer dibanding pemindaian otak. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

NASA Mulai Simulasi Lalu-lintas Drone Pengantar Pizza

Telko.id, Jakarta – NASA mengembangkan sistem manajemen lalu lintas nasional untuk drone. NASA untuk pertama kali mengujinya di luar garis pandang operator. Beberapa drone pun tampak terbang di atas pusat kota Reno, Nevada, minggu ini.

Menurut New York Post, dikutip Telko.id, Minggu (26/5/2019), NASA melakukan serangkaian simulasi pengujian teknologi yang suatu hari nanti akan digunakan untuk mengelola ratusan ribu drone untuk mengantarkan paket, pizza, dan pasokan medis.

Direktur riset dan teknologi di Ames Research Center NASA, David Korsmeyer, mengatakan,  sejumlah drone lepas landas pada Selasa (21/5/2019) dari atap garasi parkir berlantai lima dan mendarat di atap lain di gedung yang berada di seberang jalan.

{Baca juga: Dua Pesawat NASA Hilang Misterius di Planet Mars}

Drone-drone tersebut melayang menyesuaikan kekuatan angin sebelum kembali ke titik lepas landas. Perangkat itu dilengkapi dengan GPS. Sejumlah drone terbang tidak lebih tinggi dari lampu jalan kota, tetapi tetap mampu menghindari tabrakan.

Drone yang diuji coba oleh NASA mempunyai sistem pelacakan yang terhubung ke komputer NASA. Karenanya, drone-drone tersebut tak bertabrakan meski terbang rendah dan saling berdekatan. Tes serupa telah dilakukan di daerah terpencil dan pedesaan.

“Ketika memulai proyek ini empat tahun lalu, banyak yang tidak mengira bahwa hari ini kami menerbangkan UAV dengan sistem drone canggih dari gedung-gedung tinggi,” kata Chris Walach, Direktur eksekutif Institut Sistem Otonomi Nevada.

Pelan tapi pasti, teknologi drone memang telah mengubah segalanya. Beberapa waktu lalu, peneliti dari University of Maryland mengklaim berhasil menggunakan drone untuk mengirim ginjal. Ginjal tersebut akan dipakai oleh perempuan berusia 44 tahun.

{Baca juga: Sebentar Lagi, Kirim Barang di Malaysia Pakai “Kurir Drone”}

Setelah ginjal tiba di rumah sakit, perempuan itu langsung menjalani operasi transplantasi. Operasi berlangsung di University of Maryland Medical Center. Peneliti mengklaim, pengiriman organ tubuh menggunakan drone adalah hal pertama di dunia. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

 

Hilangnya 3D Touch di iPhone 2019 Kian Nyata

0

Telko.id, Jakarta – Beberapa tahun lalu, Apple menghadirkan teknologi 3D Touch di iPhone sebagai perluasan dari Force Touch di jam tangan pintar Apple Watch. Teknologi tersebut pun terus ada di iPhone sampai keluaran 2018. Tapi fitur tersebut kemungkinan akan hilang di iPhone 2019.

Namun, seperti dilaporkan Ubergizmo, rumor bahwa teknologi 3D Touch tak akan lagi ada di iPhone 2019 semakin kuat. MacRumor mengklaim berhasil menukil catatan penelitian dari analis Barclays Curtis dan rekan.

Barclays Curtis dan rekan telah menggelar pertemuan dengan beberapa pemasok komponen untuk perangkat Apple. Hasilnya, dikutip Telko.id, Minggu (26/5/2019), iPhone keluaran 2019 berpotensi kehilangan fitur 3D Touch.

{Baca juga: iPhone 2019 Punya Mode Underwater, Buat Apa?}

Sebenarnya, di iPhone XR, Apple telah menghilangkan 3D Touch dan diganti dengan teknologi Haptic Touch. Haptic Touch merupakan campuran long-press dan 3D Touch. Cukup menekan lama suatu objek, fitur-fitur tertentu akan aktif.

April 2018 lalu, sudah muncul kabar bahwa iPhone 6,1 inci kemungkinan tidak bakal memiliki fitur 3D Touch. Apple dikabarkan akan menghilangkan fitur 3D Touch di iPhone 6,1 inci keluaran 2019 guna menghemat biaya produksi.

Hal itu dikemukakan oleh analis KGI Securities, Ming-Chi Kuo. Ia menyatakan, di iPhone 6,1 inci, Apple akan menggunakan teknologi Cover Glass Sensor (CGS). Fungsinya untuk memindahkan modul sentuh iPhone dari panel ke permukaan kaca.

{Baca juga: Tahun Ini, iPhone XR Terbaru Punya Dua Kamera Canggih}

Lantaran Apple berencana menggabungkan teknologi layar CGS ke iPhone 6,1 inci, fitur 3D Touch sangat mungkin untuk dihapus, bahkan di iPhone terbaru seri lain. Meski begitu, Kuo yakin iPhone 6,1 inci bisa mendongkrak penjualan Apple. [BA/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Best Buy “Bersihkan” Samsung Galaxy Fold dari Daftar Jual

0

Telko.id, Jakarta – masalah kerusakan Samsung Galaxy Fold masih berbuntut panjang. Setelah Samsung memutuskan untuk menarik kembali unit ulasan, kini e-commerce Best Buy memutuskan untuk menghapus ponsel layar lipat itu dari lapak jualan mereka.

Samsung memang sudah berjanji akan melakukan perbaikan untuk meningkatkan daya tahan ponsel lipatnya. Sayang, Samsung tidak menyatakan, kapan Galaxy Fold tuntas menjalani proses penyempurnaan.

Yang jelas, Samsung tidak akan menyelesaikannya dalam waktu dekat. Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang telanjur memesan Galaxy Fold?

{Baca juga: Waduh, Layar Samsung Galaxy Fold “Gampang Rusak”?}

Best Buy, e-commerce terkemuka di Amerika Serikat, menyatakan telah membatalkan semua pemesanan Galaxy Fold. “Kami mengutamakan para pelanggan. Kepuasan mereka sangatlah penting bagi kami,” demikian penjelasan Best Buy.

Meski demikian, dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Minggu (26/5/2019), Best Buy menyatakan akan menjual lagi Galaxy Fold ketika Samsung telah menetapkan tanggal rilisnya. Namun, Best Buy bakal terlebih dahulu memastikan kesiapannya.

Best Buy telah mengarahkan para pelanggan ke halaman pemesanan Galaxy Fold. Para pemesan bisa meninggalkan alamat email di halaman tersebut. Ke depan, mereka akan diberi tahu manakala Galaxy Fold sudah tersedia untuk dibeli.

Sampai kini, Samsung masih menimbang-nimbang, kapan akan meluncurkan secara resmi ponsel layar lipat Galaxy Fold seharga USD 2.000 ke pasar. CEO Samsung, Koh Dong-jin, berjanji segera memberi keputusan dalam waktu dekat.

“Kami telah meninjau cacat di Galaxy Fold. Kami akan menyampaikan kesimpulan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya. Koh juga memberi tahu bahwa kerusakan di Galaxy Fold ternyata disebabkan oleh zat yang masuk ke perangkat.

{Baca juga: Samsung Masih ‘Galau’ Soal Waktu Perilisan Galaxy Fold}

Ia menyampaikannya setelah Samsung menyatakan tidak bisa mengirim Galaxy Fold pada akhir Mei 2019 kepada para pemesan jika tidak ada konfirmasi. Padahal, Samsung berencana meluncurkannya di Amerika Serikat pada 26 April 2019.

Akan tetapi, beberapa hari sebelum tanggal peluncuran, beberapa media yang berkesempatan melakukan pengujian telah mengobral permasalahan di Galaxy Fold. Mau tak mau, Samsung menunda peluncuran ponsel tersebut. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Demi Foto Selfie, Perempuan Ini Jatuh dari Tebing

Telko.id, Jakarta – Seorang perempuan harus merenggang nyawa saat melakukan foto selfie di Pantai Oregon, Amerika Serikat. Perempuan yang bernama Michelle Casey (21) ini ingin mendapatkan pemandangan terbaik saat berfoto selfie, tapi justru jatuh dari tebing dan meninggal dunia.

Dilansir Telko.id dari Today pada minggu (26/05/2019) Michelle Casey adalah mahasiswi dari Oregon  State University jurusan Kinesiologi. Minggu pagi, Casey bersama pacarnya pergi ke garis Pantai Oregon, tepatnya di titik Gunung Neahkahnie.

Disana, Casey memanjat dinding penahan untuk mendapatkan pemandangan laut yang ia inginkan untuk melakukan selfie. Naas, karena tak hati-hati, Casey terjatuh dari ketinggian 100 kaki atau 30 meter, sebelum tersangkut di pohon.

{Baca juga: Turis Kebanyakan Selfie, Belanda “Ogah” Promosi Wisata}

Casey sebenarnya masih hidup ketika tim penyelamat datang 2 jam kemudian. Casey di terbangkan ke Rumah Sakit Portland, namun nyawanya tidak tertolong. Kematian Casey menambah serangkaian kecelakaan yang disebabkan oleh aktifitas foto selfie yang beresiko.

Sebelumnya pada bulan maret lalu, seekor Jaguar menganiaya perempuan yang melompati penghalang kebun binatang Arizona untuk mendapatkan gambar yang lebih dekat.

Lain Amerika, lain juga Rusia.  Remaja putri asal Rusia bernama Karina Baymukhambetova bernasib tragis. Maksud hati melakukan selfie alias swafoto, nyawanya justru melayang gara-gara tertabrak kereta api yang melintas. Ia dilaporkan melakukan selfie di rel kereta api.

Gadis 15 tahun itu telah diperingatkan oleh saudaranya agar tidak melakukan tindakan nekat. Namun, ia malah mengaku tidak takut terhadap apapun atau siapapun.

{Baca juga: Tragis! Gara-gara Selfie, Gadis Cantik Tewas Tertabrak Kereta}

Braaak! Tiba-tiba kereta api mengempaskan tubuh Karina. Masinis sebenarnya sudah tahu dari kejauhan ada orang di rel kereta api. Ia bahkan sempat membunyikan klakson berkali-kali sebagai peringatan.

Meurut informasi yang kami dapatkan, dilaporkan bahwa sudah ada sekitar 259 orang di seluruh dunia yang tewas saat mengambil foto selfie. Semoga kejadian ini bisa menjadi peringatan bagi Anda yang suka selfie. Sayangilah nyawa Anda, jangan berbuat konyol hanya demi sebuah foto. [NM/HBS]

Sumber: Today

Apple Kembangkan Alat Kesehatan Pendeteksi Asma

Telko.id, Jakarta Apple sangat tertarik untuk mengembangkan inovasi di bidang alat kesehatan. Perusahaan pimpinan Tim Cook tersebut berencana membuat inovasi Apple berupa alat kesehatan untuk mendeteksi penyakit asma.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Minggu (26/05/2019), Apple dikabarkan mengakuisisi perusahaan yang memproduksi alat pemantau asma pada anak-anak, yakni Tueo Health. Perusahaan tersebut membuat aplikasi smartphone dan beberapa sensor pernapasan, yang bisa untuk memantau asma seorang anak.

Tetapi Apple menolak berkomentar terkait isu akuisisi tersebut. Walaupun selama ini Apple mengaku memiliki rencana yang cukup besar untuk perangkat Apple Watch mereka. Seperti kita tahu bahwa Apple terus menambah daftar fitur kesehatan di perangkat jam pintar andalannya tersebut.

{Baca juga: Tim Cook: Apple Rajin Caplok Perusahaan Startup}

Misalnya Apple Watch memiliki fitur untuk memeriksa kadar glukosa yang cocok untuk penderita diabetes. Selain itu Apple juga mengembangkan fitur pendeteksi penyakit stroke. Apple bekerja sama dengan Johnson & Johnson dalam studi pengembangan Apple Watch untuk membantu mengurangi risiko stroke.

Apple Watch juga sering menyelamatkan penggunanya. Pada april lalu Apple Watch Series 4 menolong nenek 80 tahun. Apple Watch Series 4 memiliki fitur pendeteksi jatuh. Jam tangan pintar tersebut akan membunyikan alarm sebagai upaya untuk menarik perhatian orang lain.

Jika merasakan pengguna bergerak, Apple Watch Series 4 akan memberi opsi untuk mengabaikan peringatan atau menghubungi 911 menggunakan Digital Crown. Namun, jika tak ada gerakan selama satu menit, panggilan Emergency Services akan dilakukan secara otomatis. Hal itulah yang terjadi dalam kasus seorang nenek 80 tahun.

{Baca juga: Lagi, Apple Watch Series 4 Selamatkan Nyawa Nenek 80 Tahun}

Dilansir phoneArena, Selasa (16/04/2019), pesan Apple Watch Series 4 dikirimkan ke kontak darurat ketika sang nenek terjatuh di apartemennya di Haidhausen, Munich, Jerman. Kala wanita paruh baya itu terjatuh dan kehilangan kesadaran, otomatis jam pintar ini memanggil operator 911. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Pilih jadi Atlet Esports, Bocah 15 Tahun Ini Putus Sekolah

Telko.id, Jakarta – Benjy Fish (15) memilih untuk menekuni dunia game. Bocah ini telah berhenti sekolah untuk berfokus menjadi atlet esports Fortnite. Hasilnya dia telah mengumpulkan uang £ 25.000 atau Rp 456,6 juta selama bermain game.

Dilansir Telko.id dari Daily Mail pada Minggu (26/05/2019), Benjy Fish merupakan lelaki asal Middlesex Inggris. Benjy berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang dari bermain game. Dirinya telah mengumpulkan uang £ 25.000 atau Rp 456,6 juta serta memiliki 150.000 subscribers di Youtube dan 120.000 pengikut di Twitch.

Dalam wawancaranya, Benjy menjelaskan jika keputusan untuk berhenti sekolah keluar dari mulut ibunya yang bernama Anne. Awalnya sang ibu tidak mendukung kegiatan bermain game Benjy tersebut.

Namun ketika Benjy memberitahu jika dirinya akan memenangkan kompetisi game Fortnite dengan hadiah £ 10.000 atau Rp 182,6 juta maka ibunya pun berubah pikiran.

{Baca juga: Pemain Fortnite Tak Lagi Bisa Turun di Tilted Towers}

Ibu menyarankan Benjy untuk berhenti sekolah dan berfokus pada karirnya sebagai atlet e-sports. “Saat itulah segalanya benar-benar mulai lepas landas dan saya ditandatangani sebagai seorang profesional oleh tim esports terbaik yakni NRG eSports,” kata Benjy

Sebelum memutuskan berhenti, bermain Fortnite memberikan dampak buruk bagi kegiatannya di sekolah. Benjy sering tertidur di kelas karena bermain Fortnite “Aku pergi ke sekolah dengan bermain Fortnite hingga dini hari selama 7 hari seminggu,” ujarnya.

Benjy pun akhirnya berhenti sekolah. Benjy mengatakan bahwa meninggalkan sekolah adalah hal terbaik untuknya, karena bisa berkonsentrasi penuh dalam bermain. Dia bisa bermain hingga pukul 04.00 pagi dan bangun pukul 14.00 siang.

{Baca juga: Gokil! Bocah Ini Hasilkan Rp 2,8 Miliar dari Main Game Fortnite}

Saat ini Benjy telah berjuang di Fortnite World Cup. Benjy telah lolos ke final untuk kategori solo dan duo. Jika Benjy menang maka dirinya berhak mendapat hadiah sebesar £ 4 juta atau Rp 73,2 Miliar.

Dia mengatakan jika menang dalam pertandingan dunia itu, ia ingin membeli rumah untuk dirinya sendiri dan ibunya, yang bertindak sebagai manajernya. [NM/HBS]

Sumber: Daily Mail

Apple Digugat karena Jual Data Pengguna iTunes

Telko.id, Jakarta – Apple digugat oleh pelanggan atas tuduh penjualan data pengguna. Pelanggan Apple mengungkapkan jika Apple secara tidak sah menjual informasi terkait riwayat pembelian dan data pribadi pengguna iTunes.

Dilansir Telko.id dari Bloomberg pada Minggu (26/05/2019), tiga pelanggan iTunes dari negara bagian Rhode Island dan Michigan, Amerika Serikat menggugat kasus ini di Pengadilan Federal San Francisco pada Jumat (24/05/2019).

Mereka mewakili ratusan ribu penduduk negara bagian mereka, yang mengalami kasus serupa. Pengungkapan data pribadi pelanggan iTunes tidak hanya melanggar hukum tetapi juga bisa berbahaya karena memungkinkan untuk menargetkan anggota masyarakat yang rentan.

{Baca juga: Apple Bocorkan Data Wajah Pengguna iPhone X}

“Misalnya, setiap orang atau entitas dapat menyewa daftar nama dan alamat pengguna wanita berpendidikan tingi yang belum menikah, berusia 70 dengan pendapatan lebih dari USD $80 ribu atau Rp 1,1 miliar yang membeli musik country dari Apple melalui toko iTunes. Data tersebut dijual USD $136 atau Rp 1,9 juta per seribu pelanggan terdaftar,” ujar penuntut.

Selain itu Apple meminta USD 250 untuk setiap pengguna iTunes Rhode Island yang datanya diungkap. Sementara USD 5.000 untuk setiap pengguna di Michigan. Kendati gugatan sudah masuk, Apple masih belum memberikan komentar soal kasus tersebut.

Kasus gugatan ke Apple bukan kali ini saja terjadi. Seorang pengguna asal New Jersey bernama Gina Priano-Keyer mengajukan gugatan kepada Apple terkait masalah baterai jam tangan pintar Apple Watch.

Dilansir Ubergizmo, seperti dikutip Telko.id, Rabu (10/4/2019), Gina menuding Apple melakukan praktik penipuan terhadap konsumen. Gina melaporkan baterai Apple Watch miliknya mengembung. Cacat di baterai Apple Watch tak hanya merusak layar, tetapi juga berpotensi melukai si pengguna.

{Baca juga: Pengguna Apple Watch Gugat Apple Gara-gara Baterai}

Gina mengklaim, Apple tahu mengenai masalah itu, tetapi tetap menjual Apple Watch ke pasaran. Cacat tersebut kali pertama ia temukan saat sedang mengisi ulang baterai. Ia membawanya ke gerai resmi Apple di New Jersey. [NM/HBS]

Sumber: Bloomberg