spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1174

Siap-siap! Age of Empires II: Definitive Edition Segera Dirilis

Telko.id, JakartaMicrosoft akan mengungkapkan berbagai hal tentang game terbarunya, Age of Empires II: Definitive Edition pada gelaran E3 2019. Kabarnya, game tersebut akan memiliki tampilan dan gameplay yang mirip dengan seri sebelumnya, Age of Empires: Definitive Edition.

Sekadar informasi, tahun lalu, Microsoft merilis Age of Empires: Definitive Edition. Pada dasarnya, ini adalah game yang dipermak ulang, karena Microsoft hanya meningkatkan grafisnya.

Age of Empires: Definitive Edition mempunyai tekstur resolusi lebih tinggi dan mendapat dukungan 4K Ultra HD.

{Baca juga: Asyik! Ada Mode Street Football dan Futsal di FIFA 20}

Seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Selasa (11/06/2019), Age of Empires II: Definitive Edition hadir untuk merayakan ulang tahun ke-20 dari game strategi itu. Asal tahu saja, game ini dinilai sebagai permainan terpopuler yang pernah ada dengan tampilan grafis 4K Ultra HD nan memukau.

Pada ajang E3 2019, Microsoft juga mengonfirmasi rencana untuk memperluas layanan Xbox Game Pass untuk PC. Layanan tersebut kali pertama diluncurkan untuk konsol Xbox. Raksasa perangkat lunak itu sudah menetapkan harganya.

{Baca juga: Netflix Gabung Acara E3 2019, Mau Rilis Game?}

Microsoft mengungkapkan, harga berlangganan layanan Xbox Game Pass untuk PC sebesar USD 4,99 atau Rp 70.000 per bulan. Microsoft meluncurkan versi beta untuk layanan yang akan menyertakan setidaknya sepuluh game tersebut.

Beberapa judul di antaranya adalah Halo: The Master Chief Collection dan Gears 5. Selama peluncuran beta, Microsoft hanya membebankan biaya USD 1 atau lebih kurang Rp 14.000 per bulan sampai layanan siap untuk diluncurkan. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

Mozilla Mau Rilis “Firefox Berbayar”, Apa Keunggulannya?

Telko.id, Jakarta – Pada umumnya, browser tersedia secara gratis. Tapi, Mozilla sepertinya ingin menantang arus dengan rencana untuk hadirkan Firefox berbayar.

Dijelaskan oleh CEO Mozilla, Chris Beard, Firefox versi berbayar bakal meluncur pada musim gugur tahun ini. Meski demikian, ia meluruskan tentang maksud dari Firefox berbayar.

“Kami tidak ada rencana untuk menagih uang kepada pengguna untuk hal-hal yang selama ini tersedia secara gratis. Kami akan meluncurkan layanan berlangganan edisi premium,” terangnya dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Selasa (11/06/2019).

{Baca juga: Mozilla Kembangkan Mode “Super Private Browsing”, Apa Itu?}

Jika tak ada aral, peramban Firefox edisi premium bakal hadir pada Oktober 2019 mendatang. Di peramban berlangganan itu, Mozilla menghadirkan fitur-fitur VPN dan penyimpanan cloud nan aman. Sayang, ia belum bersedia mengungkap harganya.

Belum lama ini, Mozilla merilis Firefox terbaru yang diklaim mampu bekerja lebih cepat ketimbang seri sebelumnya, seperti Firefox Quantum. Sekadar informasi, kecepatan Firefox memang meningkat ketika Mozilla meluncurkan versi Quantum pada tahun lalu.

{Baca juga: Firefox Terbaru Jauh Lebih Cepat Ketimbang Quantum}

Namun, Firefox versi baru dijamin jauh lebih cepat ketimbang Firefox Quantum. Untuk membuat Firefox bekerja lebih cepat, Mozilla memprioritaskan daftar “to-do” manajemen kinerja. Fungsinya untuk menunda area tertentu agar halaman muncul lebih cepat.

Di Firefox teranyar, skrip untuk hal-hal yang dibutuhkan pengguna akan diprioritaskan. Dengan cara kerja seperti itu, Firefox terbaru akan menghasilkan peningkatan kecepatan antara 40 persen sampai 80 persen serta bisa mendeteksi saat memori PC Anda hampir habis. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

Desktop Mahal Apple Hadir September 2019, Minat?

0

Telko.id, Jakarta – Situs resmi Apple menginformasikan bahwa Mac Pro 2019 akan rilis pada September 2019 mendatang. Untuk mengeceknya, tinggal klik tombol “Notify Me” di halaman utama situs Apple.

Dikutip Telko.id dari The Verge, Selasa (11/06/2019), belum terkonfirmasi seberapa akurat informasi tersebut. Sebab, ketika dicek di situs resmi Apple, Mac Pro terbaru masih diberi keterangan “Launch Fall” atau hadir di musim gugur tahun ini.

Soal harga, perangkat tersebut bakal dilego oleh Apple ke pasaran senilai USD 5.999 atau sekira 85,5 juta. Namun, ada perkiraan bahwa harga versi lengkap dari Mac Pro dihargai hampir USD 35.000 atau lebih kurang Rp 489 juta.

{Baca juga: Apple Rilis Mac Pro 2019, Harganya Rp 85 Juta}

Jangan kaget. Apple memang sudah biasa mengeluarkan produk dengan harga di atas rata-rata, bahkan harganya sudah viral di media sosial. Para peserta yang hadir di acara Apple WWDC 2019 pun dibuat geleng-geleng kepala mengetahui banderolnya.

Para pengamat menyebut bahwa harga hampir USD 1.000 atau Rp 14,2 jutaan hanya untuk dudukan monitor sudah kelewatan.

{Baca juga: Stand Monitor Dijual Rp 14 Juta, Fans Apple ‘Ngamuk’}

Pada WWDC, Vice President Apple untuk rekayasa perangkat keras, John Ternus, memperlihatkan Mac Pro terbaru kepada publik, Minggu (9/6/2019) lalu. Ia sekaligus mengungkapkan harganya yang mencapai Rp 85,5 juta.

Perangkat ini memiliki kerangka stainless steel dengan pegangan tangan dan roda di bagian bawah untuk kemudahan mobilitas. Komputer tersebut juga ditunjang dua port Thunderbolt 3, dua port USB, dan audio jack 3,5 mm. (SN/FHP)

Sumber: The Verge

Spek Galaxy Note 10 Bocor, Layar dan Baterainya Besar!

0

Telko.id, Jakarta – Bocoran soal phablet premium Samsung, yaitu Samsung Galaxy Note 10 kembali muncul ke permukaan. Terbaru, suksesor Galaxy Note 9 itu dipastikan akan memiliki dua model berbeda, dan keduanya ditopang oleh baterai berkapasitas besar.

Dilaporkan 91Mobiles, seperti dikutip Telko.id pada Selasa (11/06/2019), sumber terpercaya mengungkapkan kalau Samsung akan membagi Note 10 menjadi dua model, yaitu standar dan Pro.

Keduanya mempunyai nomor model berbeda. SM-N975 untuk Note 10 standar, dan SM-N976 untuk Note 10 Pro.

Hal ini sejalan dengan bocoran sebelumnya yang mengatakan kalau phablet ini juga akan memiliki model dengan teknologi 4G dan 5G. Sumber tersebut juga mengungkapkan sedikit bocoran spesifikasi dari dua model Samsung Galaxy Note 10.

Untuk model standar, Samsung menyematkan layar Dynamic AMOLED berukuran 6,4 inci, ROM minimum 128GB, dan baterai berkapasitas 4,170 mAh.

Sementara model Pro, memiliki layar 6,8 inci, yang menjadikannya sebagai smarrphone dengan layar terbesar bagi Samsung saat ini. Smartphone itu juga dibekali ROM 256GB hingga 1TB, dan baterai 4,170 mAh.

Sebelumnya dilaporkan, seorang sumber anonim yang akrab dengan rencana Note 10 mengatakan kalau smartphone itu akan dibanderol Rp 1,4 juta sampai Rp 2,8 juta lebih mahal daripada Galaxy Note 9 yang rilis tahun lalu.

Itu artinya, kemungkinan harga Galaxy Note 10 akan mencapai USD 1.100 atau Rp 15,6 jutaan hingga USD 1.200 atau Rp 17 jutaan untuk versi paling rendahnya.

Apabila dibandingkan dengan iPhone XS Max paling rendah dengan ROM 64GB, harganya lebih mahal, karena jagoan Apple itu dihargai USD 1.099 atau Rp 15,6 jutaan. Tapi, kalau dibandingkan dengan versi tertinggi dengan ROM 512GB, Note 10 terasa “murah”, karena iPhone XS Max dibanderol USD 1.449 atau Rp 20,6 jutaan. (FHP)

Sumber: 91Mobiles

Ancaman ‘Serangan Balik’ China Bikin AS Ciut, Embargo Huawei Dicabut?

Telko.id, Jakarta – Meski awalnya terlihat garang menekan China lewat Huawei, namun Amerika Serikat (AS) mulai mengendurkan ancaman saat melihat China mulai ancang-ancang melakukan serangan balasan. Buktinya, Presiden Donald Trump akhirnya bersedia mencabut embargo Huawei, dengan beberapa syarat.

Pernyataan sikap pemerintah AS yang mulai melunak itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Steve Mnuchin. Tapi kelonggaran yang diberikan itu tetap ada syaratnya, yakni melihat progress dalam perjanjian dagang dengan pemerintah China.

“Apa yang dikatakan presiden adalah tentang ada tidaknya progres dalam perdagangan yang membuat dia bersedia melakukan hal-hal tertentu pada Huawei, jika ia mendapat jaminan kenyamanan tertentu dari China. Karena ini soal isu keamanan nasional,” kata Mnuchin, dikutip Telko.id dari Reuters, Senin (10/6/2019).

{Baca juga: Google Rayu Pemerintah AS Izinkan Huawei Tetap Pakai Android}

Namun, kata Mnuchin, jika AS dan China tidak mencapai kata sepakat dalam perjanjian dagang, pemerintah AS akan tetap menerapkan kebijakan tarif untuk memangkas defisit dagang mereka.

Sikap pemerintah AS yang disampaikan Mnuchin ini terkesan plin-plan. Namun tanda-tanda AS mulai melunak sebenarnya sudah terlihat beberapa minggu lalu, saat Donald Trump mengisyaratkan akan membuka negosiasi, terkait embargo bisnis Huawei sebagai bagian dari deal dengan China.

Ini artinya, jika ada kesepakatan antara kedua negara raksasa ekonomi dunia itu, maka kemungkinan sanksi embargo Huawei akan dicabut.

Dugaan ini diperkuat dengan surat yang dilayangkan Acting Director Office of Management and Budget AS, Russell Vought kepada Wakil Presiden Mike Pence dan sembilan anggota kongres untuk menunda pelarangan produk buatan Huawei.

Seperti diketahui, kebijakan pelarangan ini merupakan salah satu bagian dari National Defense Authorization Act yang ditetapkan Trump pada akhir tahun lalu. Dalam kebijakan itu ada perintah yang melarang badan pemerintah dan kontraktor AS memakai perangkat buatan Huawei dan ZTE, dengan alasan keamanan nasional.

{Baca juga: Terkait Embargo Huawei, China Bakal Serang Balik AS}

Vought mengatakan dalam suratnya, bahwa pelarangan untuk memakai komponen Huawei lebih baik dilakukan dalam empat tahun ke depan, bukan dua tahun seperti yang dibuat dalam ketentuan awal. Penundaan itu dimaksudkan agar adanya tambahan waktu yang memungkinkan untuk mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dan mencari solusinya.

Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China memang kian panas, sebagai akibat dari dicekalnya Huawei. Mendapat tekanan dari AS dan para sekutunya, tidak membuat China gentar. Sebaliknya, embargo Huawei ini justru bakal semakin memanas, setelah China mengungkap rencananya untuk “menyerang balik”.

Seperti dilaporkan The Verge, Sabtu, (1/6), pemerintah Negeri Tirai Bambu itu konon siap mengambil langkah serangan balik untuk menanggapi larangan Amerika untuk melakukan bisnis dengan Huawei.

Bloomberg bahkan melaporkan bahwa China telah menyiapkan rencana untuk membatasi ekspor mineral tanah jarang ke AS, sambil menyiapkan daftar hitam “entitas yang tidak dapat diandalkan” untuk perusahaan asing yang tidak menguntungkan.

Pembatasan ekspor mineral tanah jarang ini tampaknya menjadi upaya China untuk menyerang balik. Kepemimpinan di Beijing menandakan bahwa mereka siap dan bersedia untuk mengerahkan langkah yang berat ini, meskipun, menurut Bloomberg, itu hanya akan semakin memanaskan hubungan dagang kedua negara.

Sebagai informasi, neodymium adalah salah satu dari mineral tanah jarang yang paling dikenal, karena banyak digunakan dalam pembuatan magnet. Menurut para ekonom dan pengamat perdagangan internasional bahwa perusahaan-perusahaan AS tidak memiliki sumber alternatif yang baik untuk itu di luar China.

Huawei sendiri tak tinggal diam mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Bukannya ciut, Huawei malah merapat ke Rusia. Perusahaan teknologi asal China itu baru saja menandatangani perjanjian kerjasama pengembangan jaringan 5G di negara yang menjadi musuh bebuyutan AS tersebut.

Raksasa teknologi China itu telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan telekomunikasi Rusia MTS untuk mengembangkan jaringan nirkabel generasi kelima di negara itu.

{Baca juga: Diboikot Amerika Serikat, Huawei Merapat ke Rusia}

MTS adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Rusia, memegang 31 persen pangsa pasar dan memiliki 78,3 juta pelanggan. Tak hanya menguasai pasar Rusia, MTS juga beroperasi di Ukraina, Armenia dan Belarus.

Perusahaan itu mengatakan bahwa dengan adanya perjanjian kerjasama itu, mereka akan mengizinkan Huawei mengembangkan jaringan 5G di Rusia. Kedua perusahaan akan melakukan uji coba jaringan seluler generasi kelima itu pada 2019-2020. [HBS]

‘Serangan Balik’ China Bikin AS Ciut, Embargo Huawei Dicabut?

Telko.id, Jakarta – Meski awalnya terlihat garang menekan China lewat Huawei, namun Amerika Serikat (AS) mulai mengendurkan ancaman saat melihat China mulai ancang-ancang melakukan serangan balasan. Buktinya, Presiden Donald Trump akhirnya bersedia mencabut embargo Huawei, dengan beberapa syarat.

Pernyataan sikap pemerintah AS yang mulai melunak itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Steve Mnuchin. Tapi kelonggaran yang diberikan itu tetap ada syaratnya, yakni melihat progress dalam perjanjian dagang dengan pemerintah China.

“Apa yang dikatakan presiden adalah tentang ada tidaknya progres dalam perdagangan yang membuat dia bersedia melakukan hal-hal tertentu pada Huawei, jika ia mendapat jaminan kenyamanan tertentu dari China. Karena ini soal isu keamanan nasional,” kata Mnuchin, dikutip Telko.id dari Reuters, Senin (10/6/2019).

{Baca juga: Google Rayu Pemerintah AS Izinkan Huawei Tetap Pakai Android}

Namun, kata Mnuchin, jika AS dan China tidak mencapai kata sepakat dalam perjanjian dagang, pemerintah AS akan tetap menerapkan kebijakan tarif untuk memangkas defisit dagang mereka.

Sikap pemerintah AS yang disampaikan Mnuchin ini terkesan plin-plan. Namun tanda-tanda AS mulai melunak sebenarnya sudah terlihat beberapa minggu lalu, saat Donald Trump mengisyaratkan akan membuka negosiasi, terkait embargo bisnis Huawei sebagai bagian dari deal dengan China.

Ini artinya, jika ada kesepakatan antara kedua negara raksasa ekonomi dunia itu, maka kemungkinan sanksi embargo Huawei akan dicabut.

Dugaan ini diperkuat dengan surat yang dilayangkan Acting Director Office of Management and Budget AS, Russell Vought kepada Wakil Presiden Mike Pence dan sembilan anggota kongres untuk menunda pelarangan produk buatan Huawei.

Seperti diketahui, kebijakan pelarangan ini merupakan salah satu bagian dari National Defense Authorization Act yang ditetapkan Trump pada akhir tahun lalu. Dalam kebijakan itu ada perintah yang melarang badan pemerintah dan kontraktor AS memakai perangkat buatan Huawei dan ZTE, dengan alasan keamanan nasional.

{Baca juga: Terkait Embargo Huawei, China Bakal Serang Balik AS}

Vought mengatakan dalam suratnya, bahwa pelarangan untuk memakai komponen Huawei lebih baik dilakukan dalam empat tahun ke depan, bukan dua tahun seperti yang dibuat dalam ketentuan awal. Penundaan itu dimaksudkan agar adanya tambahan waktu yang memungkinkan untuk mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dan mencari solusinya.

Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China memang kian panas, sebagai akibat dari dicekalnya Huawei. Mendapat tekanan dari AS dan para sekutunya, tidak membuat China gentar. Sebaliknya, embargo Huawei ini justru bakal semakin memanas, setelah China mengungkap rencananya untuk “menyerang balik”.

Seperti dilaporkan The Verge, Sabtu, (1/6), pemerintah Negeri Tirai Bambu itu konon siap mengambil langkah serangan balik untuk menanggapi larangan Amerika untuk melakukan bisnis dengan Huawei.

Bloomberg bahkan melaporkan bahwa China telah menyiapkan rencana untuk membatasi ekspor mineral tanah jarang ke AS, sambil menyiapkan daftar hitam “entitas yang tidak dapat diandalkan” untuk perusahaan asing yang tidak menguntungkan.

Pembatasan ekspor mineral tanah jarang ini tampaknya menjadi upaya China untuk menyerang balik. Kepemimpinan di Beijing menandakan bahwa mereka siap dan bersedia untuk mengerahkan langkah yang berat ini, meskipun, menurut Bloomberg, itu hanya akan semakin memanaskan hubungan dagang kedua negara.

Sebagai informasi, neodymium adalah salah satu dari mineral tanah jarang yang paling dikenal, karena banyak digunakan dalam pembuatan magnet. Menurut para ekonom dan pengamat perdagangan internasional bahwa perusahaan-perusahaan AS tidak memiliki sumber alternatif yang baik untuk itu di luar China.

Huawei sendiri tak tinggal diam mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Bukannya ciut, Huawei malah merapat ke Rusia. Perusahaan teknologi asal China itu baru saja menandatangani perjanjian kerjasama pengembangan jaringan 5G di negara yang menjadi musuh bebuyutan AS tersebut.

Raksasa teknologi China itu telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan telekomunikasi Rusia MTS untuk mengembangkan jaringan nirkabel generasi kelima di negara itu.

{Baca juga: Diboikot Amerika Serikat, Huawei Merapat ke Rusia}

MTS adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Rusia, memegang 31 persen pangsa pasar dan memiliki 78,3 juta pelanggan. Tak hanya menguasai pasar Rusia, MTS juga beroperasi di Ukraina, Armenia dan Belarus.

Perusahaan itu mengatakan bahwa dengan adanya perjanjian kerjasama itu, mereka akan mengizinkan Huawei mengembangkan jaringan 5G di Rusia. Kedua perusahaan akan melakukan uji coba jaringan seluler generasi kelima itu pada 2019-2020. [HBS]

Hapus Aplikasi Lebih Mudah di iOS 13, Begini Caranya

Telko.id, Jakarta – Apple bakal memudahkan pengguna dalam hapus aplikasi di perangkat lewat sistem operasi terbaru iOS 13. Pengguna cukup menghapus aplikasi melalui daftar update atau pembaruan.

Daftar update adalah bagian dari App Store. Dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Senin (10/6/2019), pengguna akan menemukan daftar aplikasi yang terinstal di iPhone yang menunggu untuk diperbarui.

Lantas, bagaimana caranya? Cukup menggeser ke kiri aplikasi dalam daftar. Setelahnya, ada pilihan bagi pengguna untuk menghapus. Pengguna harus konfirmasi jika ingin menghapus aplikasi yang tak diinginkan.

{Baca juga: iOS 13 Punya Fitur untuk Tolak Panggilan Misterius}

Sekadar informasi, Apple menggadang iOS 13 bisa rilis pada akhir 2019 mendatang bersamaan iPhone baru. Beberapa waktu lalu, Apple telah pamer keunggulan sistem operasi terbarunya itu di panggung WWDC 2019.

Selain kemudahan bagi pengguna iPhone untuk menghapus aplikasi tak diinginkan, Apple kabarnya juga segera menghadirkan fitur baru yang mampu menangani panggilan tak dikenal alias spam.

Dengan iOS 13, Apple akan memberi pengguna opsi untuk secara otomatis memblokir panggilan dari nomor tidak dikenal dan mengirimkannya ke voicemail. Selanjutnya, pengguna tidak perlu melakukan apa pun.

{Baca juga: Dengan iOS 13, Pengguna Bisa Mainkan PS4 via iPhone}

Seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Sabtu (8/6/2019), fitur itu sebenarnya akan mampu menggali kontak dan email Anda untuk mencari nomor yang menelepon. Tujuannya untuk mengidentifikasi. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Tak Mau Terjebak Macet? Coba Pakai Uber Copter

Telko.id, Jakarta – Mulai bulan depan, Uber akan menawari pengguna naik helikopter dengan layanan dari bandar udara JFK dan Lower Manhattan, Amerika Serikat. Layanan baru itu bernama Uber Copter. Pengguna bisa mengaksesnya via aplikasi Uber.

Seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Senin (10/6/2019), penerbangan menggunakan Uber Copter dari Lower Manhattan ke JFK cuma delapan menit. Biayanya USD 200 hingga USD 225 atau Rp 2,8 juta hingga Rp 3,2 juta per orang.

Pengguna bisa memesan helikopter sampai lima hari ke depan. Uber mengklaim, layanan Uber Copter bisa menghemat waktu perjalanan dari Lower Manhattan ke JFK sekira 30 menit, termasuk menuju helipad menggunakan mobil Uber.

{Baca juga: Uber Coba Bisnis Skuter di San Francisco}

Asal tahu saja, biasanya warga butuh waktu satu jam untuk melakukan perjalanan dari Lower Manhattan ke JFK. Bahkan, jika jalanan macet, waktu yang diperlukan mencapai dua jam. Kehadiran Uber Copter pun sangat membantu.

Sayang, layanan Uber Copter tidak tersedia untuk semua orang. Pengguna yang ingin memesannya harus menjadi anggota Platinum atau Diamond Uber Rewards. Setiap penerbangan menampung lima penumpang serta kargo 18 kilogram.

Sebelumnya, Uber menghadirkan fitur baru yang cukup menarik bagi para pelanggan. Fitur tersebut memungkinkan para pelanggan untuk memilih pengemudi atau driver favorit. Artinya, pemilihan pengemudi bisa tak secara acak.

{Baca juga: 8 Kejadian Kocak Naik Ojek Online, Nomor 3 Asli Bikin Tepuk Jidat}

Keberadaan fitur baru itu diketahui oleh peneliti aplikasi Jane Manchun Wong. Ia memastikan bahwa fitur tersebut akan hadir di Uber pada masa depan. Sejauh ini, belum ada layanan tranportasi daring lain yang memiliki fitur serupa. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Hati-hati! Malware RTF Incar Aplikasi Microsoft via Email

Telko.id, Jakarta – Microsoft memperingatkan para pengguna untuk mewaspadai serangan malware RTF yang mendompleng di email tak dikenal. Malware tersebut menyaru dalam bentuk dokumen dan memanfaatkan aplikasi milik Microsoft.

Dilansir ZDNet, malware yang menyelinap di email tak dikenal menyerang dalam bentuk dokumen Rich Text Format alias RTF. Dokumen itu menggunakan aplikasi di Microsoft Office maupun Wordpad, lalu membuka segel keamanan perangkat.

Menurut Microsoft, dikutip Telko.id, Senin (10/6/2019), ditemukan celah keamanan bernama CVE-2017-11882 di Microsoft Office maupun Wordpad yang memungkinkan file dokumen berisi malware dibuka secara mudah dan menjalankan perintah serangan.

{Baca juga: Awas! Malware Ini Disebar via Messenger dan Skype}

Saat dibuka, dokumen berformat RTF tersebut padahal hanya berisi susunan huruf dan angka yang tidak bisa dibaca. Microsoft menyatakan bahwa malware di dalam dokumen mengoperasikan beragam program atau script yang menyerang aplikasi.

Kumpulan script yang berjalan secara diam-diam nakal membuat perangkat diserang. Malware mengunduh komponen data untuk melancarkan serangan. Sialnya, serangan malware tersebut bisa sampai mengambil alih secara penuh kontrol atas perangkat.

Beruntung, serangan itu belum meluas. Laporan yang masuk menunjukkan bahwa malware yang bersembunyi di email itu baru bergerilya di kawasan Eropa. Malware hadir dalam bentuk dokumen RTF dan secara fasih menyambangi pengguna lewat beragam bahasa.

{Baca juga: Hati-hati! Malware Ini Menyamar jadi Aplikasi VPN Palsu}

Sampai sekarang, Microsoft belum berhasil mendeteksi oknum penyebar malware tersebut. Serangan serupa pernah terjadi pada 2017 lalu. Saat itu, Microsoft langsung memperbaiki celah keamanan di aplikasi Microsoft Office dan Wordpad. [SN/HBS]

Sumber: ZDNet

Ngeri! Asteroid Raksasa akan Tabrak Bumi, Apa Dampaknya?

Telko.id, Jakarta – European Space Agency (ESA) memberi informasi penting terkait ancaman asteroid raksasa terhadap Bumi. ESA menyatakan, asteroid 2006 QV89 berukuran lebih kurang 50 meter berpeluang akan tabrak Bumi pada 9 September 2019 pagi.

Menurut laporan Live Science, seperti dikutip Telko.id, Senin (10/6/2019), peluang asteroid 2006 QV89 menabrak Bumi berkisar 1:7.000. Selama ini, asteroid berbentuk bongkahan batu tersebut memang masuk daftar 10 benda angkasa paling berbahaya.

Sayang, dampak hantaman asteroid terhadap Bumi belum diungkapkan secara detail oleh ESA. Yang jelas, asteroid 2006 QV89 berukuran raksasa, dua kali lebih besar ketimbang asteroid yang mengakibatkan kaca jendela di Rusia pecah pada 2013 silam.

{Baca juga: JAXA Berhasil Daratkan Dua Rover di Asteroid}

Berdasarkan pengalaman, kemungkinan asteroid ini untuk menabrak Bumi memang cenderung kecil. Namun, ESA maupun NASA tetap melakukan antisipasi guna meminimalisasi potensi terburuk. ESA bahkan melakukan simulasi dampak hantaman asteroid.

ESA menjelaskan bahwa asteroid 2006 QV89 diperkirakan melewati Bumi dengan jarak jutaan mil pada akhir 2019. Kendati begitu, Bumi harus menghadapi ancaman lain berupa potensi benturan dengan asteroid 2009JF1 berukuran sekitar 16 meter.

Dua tahun lalu, NASA melaporkan bahwa ada asteriod raksasa yang mendekati Bumi. NASA melihat asteroid tersebut melintas di Bumi pada 1 September 2017. Asteroid itu bernama Florence, melintas sekitar 72 juta kilometer dari Bumi meski minim terjadi benturan.

{Baca juga: Wah, Sebuah Asteroid Raksasa Dekati Bumi, Amankah?}

Florence adalah asteroid terbesar yang melintas di dekat Bumi. Asteroid itu berukuran sebesar restoran. Florence melintas di seperdelapan jarak dari Bumi ke Bulan. Namun, kemudian tak ada kabar, apakah Florence akhirnya benar-benar mendekati Bumi. [SN/HBS]

Sumber: Live Science