spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1103

Dituduh Langgar Privasi Pengguna, Ini Tanggapan FaceApp

Telko.id, Jakarta – Aplikasi FaceApp akhirnya buka suara terkait tuduhan telah langgar privasi pengguna. Aplikasi filter foto “wajah tua” ini membantah telah melakukan pelanggaran privasi penggunanya.

Pihak perusahaan mengatakan bahwa mereka hanya sementara saja menyimpan foto para pengguna aplikasi asal Rusia yang sedang naik daun itu. Seperti diketahui, aplikasi ini bisa memfilter foto penggunanya.

FaceApp mengakui jika menyimpan foto pengguna di cloud mereka. Tujuannya untuk memudahkan kinerja aplikasi serta memastikan bahwa pengguna tidak mengunggah berulang kali foto yang sama untuk melakukan pengeditan.

“Sebagian besar gambar dihapus dari server kami dalam waktu 48 jam sejak tanggal unggah,” tulis FaceApp dalam keterangan tertulisnya yang dilansir Telko.id dari Tech Crunch pada Jumat (19/07/2019).

{Baca juga: Mau jadi Tua ala FaceApp? Begini Caranya}

Perusahaan juga mengklaim tidak ada data pengguna yang diberikan ke pemerintah Rusia meskipun tim Research and Development (R&D) mereka berbasis di sana. “Kami tidak menjual atau membagikan data pengguna apa pun dengan pihak ketiga mana pun,” tambahnya.

FaceApp mengatakan jika pengguna bisa meminta FaceApp untuk menghapus data mereka dari server-nya. Caranya pengguna dapat mengirim permintaan melalui Pengaturan kemudian pilih fitur Dukungan lalu pilih fitur Laporkan bug dengan kata “privasi” di baris subjek.

Sebelumnya hasil penelitian mengungkap bahwa FaceApp tidak memasang kode yang kuat dalam lalu lintas jaringannya. Selain itu, aplikasi ini dikabarkan mengambil metadata tanpa izin dari foto pengguna.

{Baca juga: Heboh Filter Wajah Tua FaceApp, Amankah Privasi Data Pengguna?}

Dilansir Telko.id dari The Verge pada Kamis (18/07/2019), ketika pengguna iOS memakai aplikasi ini biasanya diawali dengan memilih foto tertentu yang ingin mereka filter.

Kemudian FaceApp mengunggah gambar tertentu ke servernya untuk menerapkan filter. Tindakan ini cenderung tidak biasa karena FaceApp tidak pernah mengunduh foto yang difilter. Secara teoritis, aplikasi ini sebenarnya bisa memproses foto-foto tersebut langsung dari aplikasi, namun tidak dilakukan. [NM/HBS]

Sumber: Tech Crunch

Apple Siapkan Emoji Baru dengan Tema Keberagaman

Telko.id, Jakarta – Akhir tahun 2019 ini, Apple akan menghadirkan emoji baru di perangkat berbasis iOS, iPadOS, macOS, maupun watchOS. Yang menarik, emoji anyar di perangkat Apple akan bertema keberagaman manusia.

Menurut laporan The Sun, emoji baru yang bakal dihadirkan Apple memungkinkan pengguna untuk memilih warna kulit untuk dua orang. Emoji baru di perangkat Apple juga menampilkan sarana pendukung disablitas.

{Baca juga: Yeay! Ginger Emoji Kini Tersedia Bagi Pengguna iPhone}

Seperti dikutip Telko.id, Jumat (19/7/2019), Apple akan menghadirkan emoji baru berupa alat pendengaran, lengan dan kaki mekanikal, kursi roda, serta anjing pemandu. Ada pula emoji berupa hewan-hewan lucu.

Nantinya, di perangkat Apple terdapat emoji orangutan, sigung, kukang, dan flamingo. Bahkan, ada emoji bawang merah, bawang putih, mentega, tiram, serta pakaian nasional Indiayang terpaket dalam Emoji versi 12.0.

November tahun lalu, Apple memperkenalkan ginger emoji bagi pengguna ponsel iPhone. Orang yang berambut merah pun tidak perlu lagi mengungkapkan emosi dengan wajah orang berambut pirang atau cokelat.

Pembaruan datang bersama dengan 70 emoji lain yang telah tersedia sebagai bagian dari pembaruan sistem operasi iOS 12.1. Ginger emoji sepertinya sudah bertahun-tahun ditunggu oleh para pengguna iPhone.

{Baca juga: Mantan Pegawai Apple Ini Ciptakan 500 Emoji}

Oktober 2018, Apple juga menghadirkan perbaikan emoji Bagel dalam rilis iOS 12.1 beta. Sebelumnya, emoji itu tampil biasa sehingga terlihat kurang menarik. Selanjutnya, emoji apa lagi yang akan dihadirkan Apple? [SN/HBS]

Sumber: The Sun

Ini Bocoran Terbaru iPhone 11 Max dengan 3 Kamera

0

Telko.id, Jakarta – Desain iPhone 11 kali pertama bocor pada Januari 2019, meskipun nirkonfirmasi dari Apple maupun pihak berkompeten. Jelang dua hari waktu peluncuran, muncul sampel atau dummy iPhone 11 Max.

Seperti dilaporkan Phone Arena, YouTuber bernama Lewis Hilsenteger dari Unbox Therapy menyampaikan secara akurat tentang bagian depan dan belakang iPhone premium generasi mendatang tersebut.

{Baca juga: Apple Peras Otak agar Desain iPhone 12 Tak Bocor}

Melihat panel belakang iPhone 11 Max, jelas sekali bahwa modul kamera baru memang punya kapasitas seperti yang diharapkan. Posisinya tepat di sepanjang tepi sudut kiri atas. Tiga sensornya diatur secara segitiga.

Dikutip Telko.id, Jumat (19/7/2019), smartphone ini akan menampilkan tiga kamera 12 megapiksel dengan karakteristik serupa. Kendati begitu, tiga kamera di iPhone 11 Max tetap ada beberapa perbedaan mendasar.

Satu sensor akan bertindak sebagai kamera utama dan mendukung stabilisasi gambar optik. Sementara sensor kedua tampaknya akan mewarisi lensa telefoto yang menawarkan kemampuan 2x pembesaran optik.

{Baca juga: iPhone 2020 Punya Sensor ToF 3D?}

Mengenai kamera ketiga, laporan menyebut sebagai lensa untuk stabilisasi gambar optik. Namun, kamera itu bakal menampilkan lensa super-wide-angle baru yang memungkinkan iPhone 11 Max untuk berani bersaing.

Keberadaannya membuat Apple percaya diri untuk mempertarungkan iPhone 11 Max dengan ponsel premium terbaru keluaran Samsung dan Huawei. Semua kamera disertai dengan flash quad-LED besar dan mikrofon kecil. [SN/HBS]

Sumber: PhoneArena

Aksesoris Aneh Ini Bisa Kecoh Sistem Pengenal Wajah

Telko.id, Jakarta – Banyak orang merasa tidak nyaman dengan penggunaan teknologi pengenal wajah atau Face Recognition. Privasi mereka di tempat umum merasa dilanggar lantaran terpantau oleh kamera keamanan.

Namun, perancang Ewa Nowak menemukan solusi untuk masalah itu. Ia mewujudkannya dalam bentuk perhiasan. Kok bisa? Ya, Nowak menciptakan perhiasan spesial yang tampak aneh ketika dipakai oleh siapapun.

{Baca juga: Polisi AS Pakai Sistem Pengenal Wajah Amazon}

Perhiasan tersebut mampu mengalahkan sistem pengenal wajah. Perhiasan itu terdiri atas dua lingkaran kuningan yang menempel di tulang pipi. Ada pula kuningan panjang yang lokasinya naik dari bawah ke dahi.

Sekilas, menurut laporan Ubergizmo seperti dikutip Telko.id, Jumat (19/7/2019), perhiasan spesial tersebut mirip kacamata atau pelindung wajah yang kerap dipakai oleh para pemain sepak bola ketika sedang bertanding.

Meski demikian, Nowak memberi catatan bahwa agar perhiasan bisa dipakai efektif, sebelumnya perlu dilakukan pengukuran dan pencocokan cetakan ke wajah si calon pemakai. Artinya, perhiasan itu tak dijual bebas.

Nowak belum berencana untuk memproduksinya secara massal. Ia memandang, perhiasan tersebut diciptakan lebih sebagai karya seni daripada produk. Berapa harga satuannya? Sayang sekali, Nowak tak membeberkannya.

{Baca juga: Sistem Pengenalan Wajah Gagal Lindungi Pria Ini saat Tidur}

Teknologi pengenal wajah memang marak diterapkan, khususnya di ponsel. Keberadaannya memang memudahkan, namun juga membuat privasi semakin berkurang. Sebagian orang pun merasa tak nyaman.

Untuk tetap memberi jarak dengan pengenal wajah, agen intelijen memberi bocoran. Menurutnya, teknologi pengenal wajah “dapat diakali” dengan memakai kacamata hitam ukuran besar yang dapat menyamarkan mata dan alis. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Sial! Naik Uber Rp 285 Ribu, Kena Tagihan Rp 28,5 Juta

Telko.id, Jakarta – Sebuah kesalahan terjadi di layanan transportasi daring Uber. Beberapa pelanggan mengaku telah ditagih 100 kali lebih banyak dari yang seharusnya dibayar untuk kompensasi perjalanan.

Seperti dilansir Ubergizmo, satu pengguna dikenai biaya USD 2.053 atau sekitar Rp 28,5 juta untuk perjalanan yang sebenarnya hanya berharga USD 20,53 atau sekira Rp 285 ribu. Para pengguna pun langsung protes ke Uber.

{Baca juga: 8 Kejadian Kocak Naik Ojek Online, Nomor 3 Asli Bikin Tepuk Jidat}

Dikutip Telko.id, Jumat (19/7/2019), masalah itu dilaporkan oleh pengguna di beberapa negara. Laporan pertama datang dari Washington DC dan San Diego. Kemudian, muncul laporan serupa dari pengguna di Paris, Perancis.

Kejadian yang sama dialami oleh para konsumen Uber Eats. Beberapa pengguna telah menerima peringatan dari bank mengenai tagihan substansial atau penangguhan yang telah ditempatkan di rekening kartu kredit.

Beruntung, pihak perusahaan transportasi online itu cepat mengatasinya. Mereka menyatakan telah mengatasi masalah tersebut sekaligus meminta maaf kepada para pelanggan.

“Tim kami telah memperbaikinya. Terima kasih atas kesabaran Anda,” katanya.

Uber akan memperbaiki tarif dan menagih pelanggan dalam jumlah yang tepat sehingga tidak perlu menghubungi bank untuk melakukan ralat. Pelanggan akan sementara melihat tagihan di laporan bank atau kartu kredit.

{Baca juga: Lagi Berduka, Pasangan Ini Malah Diperas Driver Ojol}

Belum lama ini, Uber dikabarkan sedang menyiapkan fitur baru bernama Dine-in alias makan di tempat. Layanan tersebut berbeda meski masih memungkinkan pelanggan untuk memesan makanan di restoran.

Nantinya, pengguna bisa memesan makanan di restoran favorit sebelum datang ke lokasi untuk menikmatinya langsung. Sayang, layanan Dine-in baru hadir untuk pengguna Uber di kota-kota tertentu di Amerika Serikat. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Apple Peras Otak agar Desain iPhone 12 Tak Bocor

0

Telko.id, Jakarta – Beberapa perusahaan sengaja membocorkan perangkat masa depannya guna kepentingan pemasaran. Namun, tidak demikian dengan Apple. Perusahaan asal Cupertino itu tak suka perangkat masa depannya, iPhone 12 bocor ke publik.

Dilansir Phone Arena, Apple menganggap kebocoran desain perangkat yang belum dirilis sebagai persoalan serius. Menurut laporan The Information, Apple mulai melakukan antisipasi guna meminimalisasi supaya kejadian serupa tak terjadi.

{Baca juga: iPhone 2020 Punya Sensor ToF 3D?}

Dikutip Telko.id, Jumat (19/7/2019), perusahaan membentuk Tim Keamanan Produk Baru atau NPS untuk memantau keamanan di pemasok global. Mereka bertugas menangkal kebocoran sesuatu yang telah dilakukan pengujian dengan cukup sukses.

Sayang, Apple tidak memberi konfirmasi mengenai kabar tersebut. Yang jelas, perusahaan sebenarnya sudah berupaya mengantisipasi kebocoran sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, insiden pada enam tahun lalu atau 2013 membuat mereka galau.

Beberapa bulan sebelum debut resmi, informasi detail tentang iPhone 5c bocor di internet. Ribuan cangkang untuk ponsel itu dicuri dari sebuah pabrik China oleh seorang karyawan. Apple pun mau tak mau menebus 19.000 cangkang curian tersebut.

Alih-alih mengalami perbaikan keamanan, etahun setelahnya Apple malah kembali menjadi korban pencurian. Pada 2014, ada 387 lampiran iPhone yang dicuri meski setahun berselang turun menjadi 57 lampiran dan menjadi hanya empat pada 2016.

{Baca juga: Tahun Depan, Mengetik di iPhone Cukup Lewat Pikiran}

Nah, tahun depan, Apple tak ingin masalah serupa menimpa iPhone 12. Sekarang, Apple tengah berupaya menerapkan keamanan ketat agar desain maupun segala hal terkait iPhone 12 yang bakal dirilis pada 2020 bocor di internet. Anda yakin? [SN/HBS]

Sumber: PhoneArena

Toshiba Memory Rebrand Jadi ‘Kioxia’, Apa Misinya?

Telko.id – Toshiba Memory Corporation baru saja mengumumkan secara resmi bahwa akan mengubah nama perusahaannya menjadi Kioxia Holdings Corporation. Nama perusahaan baru tersebut akan mulai efektif pada 1 Oktober 2019.

Hal ini merupakan kelanjutan dari pemisahan Toshiba Memory Corporation dari Toshiba Corporation pada April 2017 sebagai upaya untuk mengembangkan dan menjual memori dan solid-state drive (SSD). Pada Juni 2018, perusahaan sudah sepenuhnya independen.

Filosofinya, nama Kioxia (pengucapan: kee-ox-ee-uh) adalah kombinasi dari kata Jepang kioku yang berarti “memori” dan kata Yunani axia yang berarti “nilai” – yang membentuk dasar dari visi perusahaan.

Kioxia mengungkapkan misi perusahaan untuk “mengangkat dunia dengan‘ memori, “yang membentuk dasar dari visinya.

“Kata “memori” berarti lebih dari sekadar data yang direkam. Bagi kami, ini merupakan kumpulan emosi, pengalaman, dan ide yang komprehensif di luar pengumpulan informasi digital. Dalam kerja sama erat dengan para pemangku kepentingan, Kioxia akan mengeluarkan potensi penuh “memori” untuk memberikan nilai kepada orang-orang di seluruh dunia,” ungkap Yasuo Naruke, Presiden dan CEO Toshiba Memory Holdings Corporation dalam pernyataannya yang terpampang dalam website resminya.

Yasuo menambahkan bahwa seiring masyarakat digital dan inovasi teknologi terus maju, jumlah data yang dihasilkan, disimpan dan digunakan akan meningkat secara eksponensial, yang mengarah ke era memori baru. Di era baru ini, mereka terdorong dan berada dalam posisi yang baik untuk berhasil dalam jangka panjang dengan terus meningkatkan teknologi dan kemampuan produksi, dan memperkuat kemitraan dengan pelanggan kami dan anggota masyarakat digital lainnya.

Stacy J. Smith, Excecutive Chairman, Toshiba Memory Holdings Corporation menyatakan bahwa dengan memori Toshiba sebagai penemu memori NAND menjadi bekal untuk menghadapi tantangan baru di masa depan.

“Masyarakat global menjadi semakin kompleks, terhubung dan tanpa batas dalam menghadapi inovasi teknologi yang dramatis. Ada sejumlah besar data yang dihasilkan, dianalisis, dan disimpan. Duduk di jantung tren ini, kami akan membangun sejarah kami saat kami memulai perjalanan kami sebagai perusahaan baru yang independen. Perjalanan itu akan membawa kita menjadi perusahaan publik di masa depan,” ujar Stacy optimis.

Sebagai informasi, Toshiba Memory Corporation telah mendorong evolusi teknologi memori flash dari penemuan memori flash NAND pada tahun 1987 melalui pengenalan memori flash 3D terbaru, BiCS FLASH.

Hadirnya teknologi baru, 5G, IoT dan komputasi awan, akan tercipta peningkatan jumlah data aktif. Akan lebih banyak memori dan penyimpanan diperlukan daripada sebelumnya. Sebagai pelopor industri dan pemimpin global berkelanjutan dalam memori flash dan drive solid-state, Toshiba pun yakin memiliki posisi yang pas untuk bersama masyarakat digital untuk meluncurkan ke era memori yang baru. (Icha)

Masalah Privasi Pengguna, Senator AS Minta FaceApp Diperiksa

Telko.id, Jakarta – Aplikasi edit foto FaceApp menjadi sorotan karena privasi pengguna. Bahkan Senator Amerika Serikat meminta FBI dan FTC melakukan pemeriksaan terhadap aplikasi dari Rusia tersebut.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Jumat (19/07/2019), Senator Amerika Serikat, Chuck Schumer meminta kepada Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Federal Trade Commission (FTC) agar FaceApp diperiksa.

Pasalnya, aplikasi yang sedang digandrungi banyak orang tersebut diduga memiliki masalah privasi, karena menyimpan foto pengguna melalui cloud.

Tidak hanya itu, politikus Partai Demokrat itu juga menilai jika aplikasi filter foto itu dapat menimbulkan risiko keamanan dan privasi nasional untuk jutaan warga AS. Terlebih jika FaceApp berasal dari Rusia sehingga spekulasi jika data pengguna akan diberikan ke pihak ketiga pun semakin kuat.

{Baca juga: Mau jadi Tua ala FaceApp? Begini Caranya}

“Lokasinya di Rusia menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana dan kapan perusahaan memberikan akses ke data warga AS kepada pihak ketiga, termasuk berpotensi asing pemerintah,” kata Chuck.

Isu mengenai masalah privasi sedang menyerang FaceApp. Sebelumnya hasil penelitian mengungkap bahwa aplikasi ini tidak memasang kode yang kuat dalam lalu lintas jaringannya. Selain itu, aplikasi ini dikabarkan mengambil metadata tanpa izin dari foto pengguna.

Dilansir Telko.id dari The Verge pada Kamis (18/07/2019), ketika pengguna iOS memakai aplikasi ini biasanya diawali dengan memilih foto tertentu yang ingin mereka filter. Kemudian aplikasi ini akan mengunggah gambar tertentu ke servernya untuk menerapkan filter.

{Baca juga: Heboh Filter Wajah Tua FaceApp, Amankah Privasi Data Pengguna?}

Tindakan ini cenderung tidak biasa karena FaceApp tidak pernah mengunduh foto yang difilter. Secara teoritis, aplikasi ini sebenarnya bisa memproses foto-foto tersebut langsung dari aplikasi, namun tidak dilakukan.

CEO FaceApp, Yaroslav Goncharov mengatakan bahwa foto disimpan di server perusahaan untuk disimpan ke bandwith jika beberapa filter aplikasi diterapkan. Namun ini sifatnya sementara karena FaceApp akan menghapus data foto tersebut. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Trafik Naik Terus, XL pun Perluas Jaringan Data di Kalimantan

0

Telko.id – Trafik data XL Axiata di Kalimantan naik terus dari tahun ke tahun. Pad tahun terakhir ini saja, terjadi peningkatan sekitar 43%. Itu sebabnya, jaringan data dipulau tersebut akan diperluas.

Perluasan yang akan dilakukan mencakup wilayah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Selain itu, sebagai bagian dari rencana tersebut, XL Axiata juga akan membangun jaringan 4G melalui program Universal Service Obligation (USO) yang difokuskan di area-area pedalaman yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi.

“Selain aspek bisnis, visi kami dalam memperluas jaringan data ke berbagai wilayah Kalimantan adalah mendukung percepatan pembangunan. Kami ingin ikut berkontribusi dalam upaya pemerintah daerah memajukan wilayahnya. Infrastruktur jaringan data yang berkualitas, antara lain berupa tersedianya sambungan internet cepat, akan memungkinkan pelaksanaan digitalisasi di berbagai bidang yang pada akhirnya mendukung percepatan pembangunan di Kalimantan,” ungkap Bambang Parikesit, Group Head XL Axiata Jabodetabek dan Kalimantan Region.

Bambang Parikesit menambahkan, tahun 2019 ini XL Axiata akan melanjutkan kebijakan pembangunan jaringan data hingga menjangkau daerah-daerah terpencil di Kalimantan.

Dengan adanya perluasan ini, maka jaringan data berkualitas XL Axiata telah menjangkau sekitar 54 kota/kabupaten atau lebih dari 96% populasi Kepulauan Kalimantan dengan didukung oleh lebih dari 7.000 BTS termasuk lebih dari 5.400 BTS data (3G/4G).

Pembangunan infrastruktur jaringan ini juga didukung kabel serat optik antardaerah.

Saat ini jaringan data XL Axiata telah tersedia di 9 kota/kabupaten di Kalimantan Timur, dengan dukungan total lebih dari 2000 BTS. Khusus jaringan 4G LTE, sudah masuk ke 7 kota/kabupaten, dengan lebih dari 650 BTS.

Kota/kabupaten yang sudah terlayani jaringan Data XL Axiata, antara lain di Kalimantan Timur meliputi Balikpapan, Samarinda, Bontang, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Paser dan Penajam Paser Utara. Kalimantan Utara meliputi Tarakan, Bulungan, Malinau, dan Nunukan.

Kalimantan Barat ada di Pontianak, Singkawang, Bengkayang, Ketapang Kubu Raya, Landak, Mempawah, Sambas, Sanggau, Sekadau, dan Sintang. Kalimantan Tengah : Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Gunung Mas, Kapuas, Katingan, Kota Palangkaraya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Lamandau, Murung Raya, Pulang Pisau, Seruyan, dan Mukamara, Kalimantan Selatan:Balangan, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengan, Hulu Sungai Utara, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Tapin.

Backbone Fiber Optik

Untuk jaringan backbone fiber optik, di Kalimantan hingga saat ini sudah mencapai sekitar 2500 kilometer. Jaringan ini menjadi tumpuan bagi jaringan infrastruktur XL Axiata yang menjangkau seluruh provinsi di Kalimantan, serta menghubungkannya dengan pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi.

Hingga akhir tahun 2019 XL Axiata menargetkan penambahan jaringan fiber optik di Kalimantan sepanjang sekitar 1400 kilometer. Hal tersebut dilakukan agar pengguna layanan data di Kalimantan dapat lebih nyaman menikmati jaringan data yang stabil dan berkualitas

Selain itu, XL Axiata juga tetap memperhatikan kebutuhan telekomunikasi dasar bagi masyarakat di pelosok. Hal tersebut dibuktikan dengan mulai membangun jaringan USO di beberapa wilayah di Indonesia sejak tahun 2018.

Hal itu sudah membuahkan hasil. Terlihat peningkatan trafik pengguna layanan XL Axiata di daerah-daerah yang telah terjangkau oleh jaringan USO tersebut. Jaringan USO XL Axiata telah beroperasi di Kalimantan Barat, dengan total BTS 23 BTS yang terdapat di Ketapang 6 BTS, Bengkayang 4 BTS, Landak 2 BTS, Kayong Utara 1 BTS, Sambas 2 BTS dan di Sanggau 8 BTS, sedangkan di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak total 7 BTS terdapat di Tabalong.

Jumlah pelanggan di Kalimantan hingga akhir Juni 2019, tercatat sekitar 1.7 juta pelanggan, dengan lebih dari 75% merupakan pelanggan data aktif. Jumlah tersebut meningkat sekitar 14% dari periode yang sama tahun lalu.

Jumlah pelanggan data di Kalimantan ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan meluasnya jaringan 4G LTE XL Axiata, ditambah dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat yang berada di area perkotaan ataupun pedesaan untuk memanfaatkan layanan data guna mendukung aktifitas kesehariannya.

Hingga kuartal pertama 2019 jumlah pelanggan XL Axiata mencapai sekitar 55,1 juta pelanggan, dengan jumlah pelanggan data mencapai sekitar 86% dari total pelanggan. Jaringan infrastruktur jaringan yang mendukung berupa lebih dari 122 ribu BTS, termasuk lebih dari 85 ribu BTS data (3G & 4G), yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, serta jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 45 ribu km. Saat ini jangkauan layanan data 4G XL Axiata juga telah melayani sekitar 405 kota/kabupaten di Indonesia. (Icha)

Aplikasi FaceApp Sedang Trend, Bagaimana Keamanan Data Penggunanya?

0

Telko.id – Saat ini bertebaran di media sosial yang menampilkan wajah ketika sudah berumur. Penuh dengan kerutan dan berhias rambut putih. Ya, itulah aplikasi FaceApp yang memungkinkan mengubah foto wajah kita menjadi terlihat tua. Pertanyaanya, apakah dengan memanfaatkan aplikasi tersebut, data-data kita aman? Bisa jadi aman, bisa juga tidak.

Supaya aman, Yeo Siang Tiong, General Manager Kaspersky SEA berbagi langkah-langkah proaktif dan rekomendasi bagi para pengguna agar terhindar dari risiko keamanan yang berbahaya.

“Fenomena aplikasi yang menjadi viral bukan kali ini saja terjadi. Sudah sering kali muncul dan menarik perhatian para pengguna media sosial. Para pengguna menggunakan aplikasi ini karena momentum nya pas, sedang viral. Namun, terkadang hal itu membuat FOMO atau Fear of Missing Out sehingga dapat menghilangkan sensitifitas terhadap keamanan dasar – seperti waspada dalam memberikan izin aplikasi,” ungkap Yeo.

Berdasarkan Penelitian Kaspersky sebelumnya, ditemukan bahwa mayoritas (63%) konsumen tidak membaca perjanjian lisensi dan 43% hanya mencentang semua izin privasi ketika mereka menginstal aplikasi baru. Walaupun survei ini dilakukan tiga tahun lalu, Yeo yakin temuan tentang kebiasaan digital ini masih relevan dan tepat.

Pada dasarnya, tidak ada salahnya bergabung mengikuti fenomena online challenge atau sejenisnya atau memasang aplikasi baru. Bahayanya terletak ketika pengguna hanya memberikan aplikasi ini izin tanpa batas ke dalam kontak, foto, pesan pribadi, dan lainnya.

Hal inilah yang memungkinkan pembuat aplikasi, dan bahkan legal, untuk mengakses hal yang seharusnya tetap menjadi data rahasia Anda. Ketika data sensitif ini diretas atau disalahgunakan, aplikasi viral dapat mengubah sumber menjadi celah yang bisa dieksploitasi oleh peretas untuk menyebarkan virus berbahaya.

Ini adalah situasi yang selalu ingin kami hindari di Kaspersky. Kami menyarankan para pengguna online harus selalu berpikir secara aktif dan lebih berhati-hati dalam segala hal yang mereka lakukan di internet dan dengan perangkat mereka. Beberapa langkah dasar yang dapat kami tawarkan meliputi:

  • Hanya unduh aplikasi dari sumber tepercaya. Baca ulasan dan peringkat aplikasi juga
  • Pilih aplikasi yang ingin di instal pada perangkat Anda dengan bijak
  • Baca perjanjian lisensi dengan cermat
  • Perhatikan daftar izin yang diminta aplikasi Anda
  • Hindari mengklik “next” selama instalasi aplikasi
  • Untuk lapisan keamanan tambahan, pastikan untuk menginstal solusi keamanan di perangkat Anda ”

Aplikasi FaceApp Palsu Menginfeksi Korban Dengan Modul Adware

Kaspersky juga telah mengidentifikasi aplikasi palsu yang dirancang untuk menipu pengguna agar berpikir itu adalah versi bersertifikat FaceApp tetapi terus menginfeksi perangkat korban dengan modul adware yang disebut MobiDash.

Setelah aplikasi diunduh dari sumber tidak resmi dan diinstal, itu mensimulasikan kegagalan dan kemudian terhapus. Setelah itu, modul berbahaya dalam aplikasi memasuki perangkat pengguna secara diam-diam dan menampilkan iklan.

Menurut data Kaspersky, sekitar 500 pengguna unik telah menemui masalah dalam dua hari terakhir, dengan deteksi pertama muncul pada 7 Juli 2019. Ada hampir 800 modifikasi modul berbeda yang telah diidentifikasi.

“Orang-orang di belakang MobiDash sering menyembunyikan modul adware mereka dengan kedok aplikasi dan layanan populer. Ini berarti bahwa kegiatan FaceApp versi palsu dapat meningkat, terutama jika kita berbicara tentang ratusan target hanya dalam beberapa hari. Kami menyarankan segera pengguna untuk tidak mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi dan menginstal solusi keamanan pada perangkat mereka untuk menghindari kerusakan,” kata Igor Golovin, peneliti keamanan di Kaspersky.

So, jangan sampai lengah ya. Tetap waspada walaupun ingin tetap menjadi personal yang selalu mengikuti trend ke kinian. (Icha)