Telko.id – Telkomsel Enterprise menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Connecting the Future of Indonesia’s Logistics Ecosystem” di Jakarta pada 2 September 2026. Forum ini mempertemukan sekitar 35 pimpinan perusahaan logistik terkemuka nasional, BPI Danantara, dan Pos Indonesia untuk membahas tantangan operasional yang dihadapi industri.
FGD yang diselenggarakan bersama Supply Chain Indonesia (SCI) ini dirancang untuk mempertemukan kebutuhan industri, arah kebijakan, serta kapabilitas teknologi. Tujuannya jelas, mendorong ekosistem logistik yang lebih efisien, aman, terintegrasi, dan siap bertumbuh di tengah dinamika ekonomi digital yang semakin cepat.
VP Industrial and Resources Account Management Telkomsel, Nyoman Adiyasa, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat daya saing logistik nasional. “Transformasi digital harus terasa hasilnya bagi bisnis: keputusan lebih cepat, biaya lebih terkendali, operasi lebih aman, dan pelanggan lebih terlayani,” ujarnya. Telkomsel hadir untuk mendengarkan kebutuhan tiap usaha, menggabungkan konektivitas, data, kecerdasan buatan, internet-of-things, keamanan, dan ragam layanan digital yang relevan.
Tantangan Nyata Industri Logistik
Diskusi dalam FGD menyoroti sejumlah tantangan bisnis yang langsung memengaruhi daya saing usaha. Biaya operasional yang tinggi menjadi beban utama, ditambah pelacakan yang terfragmentasi dan koordinasi lapangan yang rumit. Rute multimoda serta kebutuhan menjaga ketahanan rantai pasok juga menjadi sorotan penting, terutama di tengah pertumbuhan perdagangan elektronik dan penataan BUMN logistik.
Telkomsel Enterprise membuka ruang kolaborasi agar kegiatan bisnis dapat memulai transformasi dari masalah yang paling mendesak. Pendekatan ini memungkinkan solusi yang dapat disesuaikan dan dikembangkan seiring kebutuhan bisnis, bukan sekadar menerapkan teknologi tanpa memahami konteks operasional.
Dalam technology showcase, Telkomsel Enterprise memperlihatkan beberapa contoh penerapan teknologi. IoT FleetSense untuk pengelolaan armada dan perilaku pengemudi, Push-to-Talk untuk koordinasi lapangan, CCTV AI untuk pengawasan dan respons insiden, serta SiteSense untuk penentuan lokasi bisnis optimal menjadi sorotan utama dalam sesi ini.
Baca Juga:
Portofolio Solusi dan Dampak Nyata
Kapabilitas yang dipamerkan merupakan bagian dari portofolio yang lebih luas. Telkomsel Enterprise menawarkan layanan mulai dari konektivitas tetap dan bergerak, jaringan privat, komputasi awan dan edge, keamanan siber, managed services, hingga analitik data dan kecerdasan buatan. Dengan pendekatan tersebut, pelaku logistik dapat memilih titik awal yang paling relevan dengan kebutuhan mereka.
Integrasi dari armada dan gudang hingga titik distribusi dan layanan menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang menyeluruh. Telkomsel Enterprise menekankan pentingnya membangun langkah transformasi yang bisa dijalankan secara bertahap dan terukur.
Digitalisasi yang tepat terbukti dapat mempercepat proses, mengurangi kesalahan, mengalihkan pekerjaan repetitif ke peran yang lebih produktif, dan mendukung operasi yang lebih berkelanjutan. Salah satu dampak nyata telah terlihat pada penerapan 5G Smart Warehouse bersama Huawei.
Integrasi konektivitas 5G, kendaraan berpemandu otomatis, simulasi digital twin, hingga CCTV berbasis kecerdasan buatan memberikan hasil yang signifikan. Kinerja pengambilan barang meningkat sebesar 25 persen, waktu persiapan dipangkas dari empat menjadi tiga jam, penggunaan material dioptimalkan hingga 80 persen, serta pemakaian kertas berkurang sebesar 40 persen.
FGD juga membahas arah penataan BUMN logistik oleh BPI Danantara serta pengalaman transformasi bisnis Pos Indonesia. Kedua institusi ini berbagi wawasan tentang bagaimana kebijakan dan praktik bisnis dapat berjalan seiring dengan adopsi teknologi digital.
Melalui kolaborasi ini, Telkomsel Enterprise dan SCI mendorong tindak lanjut yang menghubungkan kebutuhan nyata perusahaan dengan solusi dan mitra yang tepat. Harapannya, pelaku industri di seluruh Indonesia dapat mempercepat transformasi dan memperkuat rantai pasok nasional secara berkelanjutan.
Langkah Telkomsel Enterprise ini sejalan dengan upaya operator lain dalam mendorong digitalisasi korporasi di Indonesia. XLSmart dan Mitratel misalnya, juga tengah agresif menggarap pasar digitalisasi korporasi. Sementara itu, OneSmartServices memperluas layanan digital ke seluruh Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur digital juga terus berlanjut. Indosat, Arsari, dan Northstar membentuk FiberCo untuk memperkuat tulang punggung digital nasional. Semua inisiatif ini menunjukkan bahwa ekosistem digital Indonesia sedang bergerak maju secara paralel di berbagai sektor.


