Telko.id – Salah satu satelit milik Starlink mengalami gangguan, hal ini membuat Starlink harus mengatur ulang konstelasi satelitnya dengan menurunkan ketinggian orbit satelit-satelitnya sekitar 70 kilometer, dari 550 kilometer menjadi 480 kilometer sepanjang tahun 2026.
Hal ini disampaikan oleh Michael Nicolls, Wakil Presiden Starlink Engineering di SpaceX, melansir dari laman Indianexpress, Selasa, (6/1/2026).
Perusahaan itu ingin meningkatkan keselamatan di luar angkasa dengan menurunkan ketinggian orbit satelit-satelitnya, setelah terjadi sebuah gangguan pada salah satu satelitnya.
Insiden tersebut menyebabkan terbentuknya sejumlah kecil puing-puing dan terputusnya komunikasi dengan satelit tersebut pada ketinggian 418 kilometer. Kejadian ini merupakan kecelakaan kinetik yang jarang terjadi bagi perusahaan internet satelit tersebut.
Baca juga:
- Pengalaman Pengguna Broadband Indonesia: IndiHome Unggul, Starlink Diserbu
- BlueBird 6 Tantang Starlink, Internet Satelit Langsung ke HP
“Menurunkan satelit akan membuat orbit Starlink menjadi lebih rapat dan akan meningkatkan keselamatan di luar angkasa dengan beberapa cara,” kata Nicolls dalam unggahannya di platform media sosial X.
Penurunan ini ditujukan untuk mengurangi risiko terjadinya tabrakan, dengan menempatkan satelit di wilayah yang tidak terlalu padat dan memungkinkan satelit keluar dari orbit lebih cepat jika terjadi insiden/gangguan.
“Jumlah puing-puing dan konstelasi satelit yang direncanakan jauh lebih sedikit di bawah ketinggian 500 kilometer, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya tabrakan secara keseluruhan,”
Nicolls juga menyinggung terkait ‘solar minimum’ yang akan terjadi pada tahun 2030-an sebagai salah satu alasan memindahkan orbit Starlink. Solar minimum adalah periode dengan aktivitas matahari paling rendah dalam siklus 11 tahun.
“Seiring dengan mendekatnya solar minimum, kepadatan atmosfer menurun yang artinya waktu peluruhan balistik pada ketinggian tertentu akan meningkat, menurunkan orbit akan berarti pengurangan >80% dalam waktu peluruhan balistik selama solar minimum, atau 4+ tahun berkurang menjadi beberapa bulan.” Sambungnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wahana antariksa di orbit bumi meningkat tajam seiring dengan perusahaan dan negara-negara yang berlomba dalam meluncurkan puluhan ribu satelit untuk jaringan internet dan berbagai macam layanan berbasis luar angkasa lainnya, seperti komunikasi dan pencitraan bumi. SpaceX, yang lama dikenal sebagai perusahaan peluncuran roket, kini menjadi operator satelit terbesar di dunia melalui Starlink. Jaringan ini terdiri dari hampir 10.000 satelit yang memancarkan layanan internet broadband kepada konsumen, pemerintah, dan pelanggan perusahaan.


