spot_img
Latest Phone

Huawei Band 10, Smartband ala Smartwatch Ini Kecanggihannya!

Telko.id - Huawei Device Indonesia resmi meluncurkan Huawei Band...

Xiaomi Smart Display Max 100, Layar Pintar Ultra Besar Pertama di Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia meluncurkan Xiaomi Smart Display Max...

Garmin Connect, Bisa Rancang Rute Lebih Personal dan Menyenangkan

Telko.id - Dalam aplikasi Garmin Connect terdapat fitur khusus...

Oppo Campus Ambassador, Siapkan Talenta Muda di Bidang Teknologi dan Digital

Telko.id – Oppo Indonesia memperkenalkan program terbaru Oppo Campus...

Huawei Watch D2, Bisa Pantau Tekanan Darah 24 Jam

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan Huawei Watch D2 di...

ARTIKEL TERKAIT

Pekerja Wanita Lebih Berpotensi Tergusur Robot

Telko.id, Jakarta – Wanita dua kali lebih mungkin kehilangan pekerjaan karena robot daripada pria. Studi think tank London IPPR mengungkapkan, hampir dua pertiga (64 persen) pekerja wanita bidang industri di Inggris berisiko tinggi tergusur oleh robot.

Ada alasan kuat yang mengemuka. Menurut laporan New York Post, seperti dikutip Telko.id, Rabu (17/7/2019), wanita lebih mungkin bekerja dalam pekerjaan di bidang ritel dan administrasi . Dua pekerjaan itu sangat bisa digantikan oleh mesin.

{Baca juga: Rusia Mulai Gunakan Robot Sebagai Pembaca Berita}

Karenanya, IPPR menyimpulkan, satu dari 10 pekerja wanita berisiko tinggi keluar dari pekerjaan untuk digantikan oleh robot. Sebaliknya, hanya empat persen pekerja pria yang berada di zona bahaya. Angka itu jelas sangat berbanding terbalik.

Carys Roberts, kepala ekonom di IPPR serta penulis utama laporan, mengatakan bahwa pemerintah Inggris harus berbuat lebih banyak untuk memungkinkan perempuan mencari pekerjaan di bidang teknologi yang membutuhkan keterampilan tinggi.

“Pemerintah  serta perdana menteri baru  perlu terlibat sepenuhnya di ranah bisnis dan industri untuk mempercepat otomatisasi ekonomi Inggris. Dengan demikian, semua keuntungan bakal bisa diakomodasi,” kata Roberts dalam laporan IPPR.

Ia melanjutkan, perdana menteri baru harus memungkinkan perempuan bekerja untuk memimpin proses sehingga tidak dirugikan di tempat kerja. Ia juga perlu memastikan bahwa perempuan bisa mengakses pekerjaan baru yang baik pada masa depan.

{Baca juga: Para Pekerja di Jepang Tidak Takut Digantikan Robot}

Jika ternyata sebuah perusahaan gagal mencapai target 30 persen wanita menduduki kursi pimpinan pada 2020, maka undang-undang baru harus diperkenalkan untuk memaksa pembagian porsi 50:50 antara bos wanita dan pria pada 2025 mendatang. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU