spot_img
Latest Phone

Huawei Band 10, Smartband ala Smartwatch Ini Kecanggihannya!

Telko.id - Huawei Device Indonesia resmi meluncurkan Huawei Band...

Xiaomi Smart Display Max 100, Layar Pintar Ultra Besar Pertama di Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia meluncurkan Xiaomi Smart Display Max...

Garmin Connect, Bisa Rancang Rute Lebih Personal dan Menyenangkan

Telko.id - Dalam aplikasi Garmin Connect terdapat fitur khusus...

Oppo Campus Ambassador, Siapkan Talenta Muda di Bidang Teknologi dan Digital

Telko.id – Oppo Indonesia memperkenalkan program terbaru Oppo Campus...

Huawei Watch D2, Bisa Pantau Tekanan Darah 24 Jam

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan Huawei Watch D2 di...

ARTIKEL TERKAIT

FBI dkk Sowan ke Kantor Facebook, Bahas Apa?

Telko.id, Jakarta – Perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), termasuk Facebook, Google, Microsoft dan Twitter, bertemu agen intelijen AS pada Rabu (04/09) waktu setempat. Mereka membahas strategi keamanan jelang pemilu AS di November 2020.

Tim keamanan perusahaan-perusahaan teknologi AS bertemu secara tertutup dengan perwakilan dari FBI, Kantor Direktur Intelijen Nasional, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri di markas Facebook di Menlo Park, California.

“Tujuannya adalah untuk membangun diskusi dan memperkuat kolaborasi strategis mengenai keamanan pemilihan negara bagian, federal, dan presiden AS 2020,” jelas Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan keamana siber Facebook.

{Baca juga: Komunikasi via Hologram Jadi “Killer App” untuk Pemilu 2024}

“Secara khusus, para peserta berbicara tentang bagaimana industri dan pemerintah dapat meningkatkan cara berbagi informasi dan mengoordinasikan respons untuk mendeteksi serta mencegah ancaman secara lebih baik,” tambahnya.

Seperti dikutip Teslet.id dari New York Post, Jumat (06/09/2019), semua perusahaan media sosial berada di bawah tekanan untuk meningkatkan sistem keamanan setelah badan intelijen AS mengendus praktik operasi pengaruh siber Rusia.

Operasi siber Rusia pernah berulah, membantu Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS pada pemilihan 2016 silam. Rusia telah berulang kali membantah tuduhan itu. Namun, sederet bukti meyakinkan keterlibatan Rusia dalam praktik tersebut.

{Baca juga: Duh! 419 Juta Data Pengguna Facebook Beredar Bebas di Internet}

“Apa yang kami lakukan merupakan bentuk upaya bersama dalam menanggapi ancaman. Kami berkomitmen untuk melakukan tugas demi menghindar dari campur tangan asing,” kata juru bicara Twitter kepada Reuters dalam sebuah pernyataan.

“Google telah berinvestasi dalam sistem yang kuat untuk mendeteksi upaya phishing dan peretasan, mengidentifikasi gangguan asing di platform, dan melindungi kampanye dari serangan digital. Tetapi, teknologi hanyalah bagian dari solusi,” kata Google. (SN/FHP)

Sumner: New York Post

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU