Tag: Kecanduan Game

  • Kecanduan Game PUBG, Remaja di India Kena Stroke  

    Kecanduan Game PUBG, Remaja di India Kena Stroke  

    Telko.id, Jakarta  – Gara-gara lupa waktu bermain game, seorang remaja di Hyderabad, India, mengalami musibah. Ya, karena keasyikan bermain PUBG dan lupa kontrol, si bocah tiba-tiba mengalami stroke.

    Video game bisa membuat pemain menjadi ketagihan. Kalau tak ingin mengalaminya, penting bagi kita untuk meluangkan waktu istirahat di sela bermain game.

    {Baca juga: PUBG Mobile Lite Mulai Rilis di Banyak Negara}

    Kalau tak ngantuk, Anda bisa rehat dengan cara berjalan di sekitar rumah, melakukan beberapa tugas, dan sebagainya. Apalagi, jika Anda bukanlah seroang pemain game profesional.

    Seperti yang terjadi di India ini. Karena lupa waktu bermain game, seorang remaja di Hyderabad, India, mengalami musibah. Keasyikan bermain PUBG dan lupa kontrol, ia tiba-tiba mengalami stroke.

    Dilansir Ubergizmo, para dokter mengatakan remaja tersebut terkena serangan darah tinggi gara-gara terlalu banyak bermain video game. Ia mengalami trombosis, yang merupakan gumpalan darah otak.

    Remaja itu tiba-tiba merasa tangan dan kakinya mati rasa. Trombosis biasanya lebih umum terjadi kepada orangtua. Namun, anak muda bisa terkena serangan serupa kalau lupa kontrol.

    Gaya hidup remaja yang tidak sehat, malas bergerak dan melakukan hal-hal monoton, dan sering melewatkan makan mengakibatkan penurunan berat badan akut, kekurangan nutrisi, dan dehidrasi.

    {Baca juga: Main PUBG di Tempat Umum, 4 Gamers Diciduk Polisi India}

    Menurut sang ibu, putranya bermain PUBG dari pukul 21.00 sampai pukul 03.00 atau 04.00. Ia baru berhenti bermain  ketika harus bekerja sebagai buruh paruh waktu pengiriman koran.

    Ia juga seorang siswa di tahun kedua program Sarjana. Untungnya, cerita ini memiliki akhir yang bahagia di mana korban dikatakan telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit. [BA/HBS]

    Sumber: Ubergizmo

  • Bukan Game, tapi Medsos yang Bikin Remaja Depresi

    Bukan Game, tapi Medsos yang Bikin Remaja Depresi

    Telko.id, Jakarta – Penelitian lembaga kesehatan CHU Sainte-justine di Quebec, Kanada, mengkaji penyebab peningkatkan depresi di kalangan remaja. Hasilnya pun mengubah stigma banyak orang. Penyebab utama depresi ternyata bukanlah game, melainkan media sosial (medsos).

    Menurut peneliti, media sosial adalah pemicu peningkatan depresi di kalangan remaja. Menurut riset, seperti dilansir SlashGear, remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial dan menonton televisi lebih mudah depresi.

    {Baca juga: Survei: Pengguna ‘Medsos’ Belum Merasa Kecanduan}

    Riset melibatkan sekitar 3.800 pelajar di Montreal. Dalam sebuah kelas, mereka diminta menjawab pertanyaan mengenai berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, mengakses media sosial, dan bermain game.

    Meeka juga diminta menjawab pertanyaan mengenai tingkat depresi yang dialami. Apakah mereka merasa kesepian atau sedih. Hasilnya, diperloeh kesimpulan bahwa satu jam kegiatan akses media sosial sangat berpengaruh terhadap tingkat depresi remaja.

    “Sebaliknya, hasil serupa tidak ditemukan ketika remaja bermain game. Remaja justru mengalami kepercayaan diri rendah saat bermedia sosial dan memicu depresi yang terus menumpuk,” tulis hasil riset dalam jurnal kesehatan JAMA Pediatrics.

    {Baca juga: Resmi! ‘Kecanduan Game’ Masuk Daftar Penyakit Baru WHO}

    Dalam jurnal kesehatan JAMA Pediatrics, yang memprihatinkan, pengguna dengan kondisi depresi biasanya terpengaruh oleh berapa lama waktu yang dihabiskan untukmengakses media sosial serta informasi apa yang mereka konsumsi.

    Penelitian dilakukan karena muncul fenomena remaja yang melakukan bunuh diri di luar negeri. Sekadar informasi, tingkat bunuh diri di kalangan remaja pada tahun ini merupakan yang paling tinggi sejak tahun 2000. [BA/HBS]

    Sumber: Slashgear

  • Awas Kecanduan! 9 Juta Orang Habiskan 6 Jam Sehari Main Candy Crush

    Awas Kecanduan! 9 Juta Orang Habiskan 6 Jam Sehari Main Candy Crush

    Telko.id, Jakarta – Jika Anda merasa sudah menghabiskan sebagian besar waktu Anda untuk bermain game Candy Crush, maka Anda tidak sendirian. Karena sebenarnya ada sekitar 9 juta orang di dunia ini yang “senasib” dengan Anda sudah kecanduan game tersebut.

    Hasil survey yang dilakukan perusahaan pengembang game, King mengungkap, bahwa ada lebih dari 9 juta orang di seluruh dunia memainkan game Candy Crush selama tiga hingga enam jam sehari.

    Namun King bersikeras bahwa permainan ini tidak membuat ketagihan. Hal itu dikatakan pengembang game Candy Crush itu pada saat menjawab pertanyaan dari komite Inggris yang sedang menyelidiki teknologi imersif dan adiktif, beberapa waktu lalu.

    {Baca juga: 11 Oktober, Candy Crush Debut di Android dan iOS}

    Wakil Presiden Senior di King, Alex Dale, mengatakan bahwa dari 270 juta pemain di seluruh dunia, 3,4 persen (9,2 juta) bermain selama tiga jam atau lebih dalam sehari. Sementara 0,16 persen (432.000) bermain selama enam jam atau lebih.

    Dia menambahkan bahwa banyak dari pemain ini berasal dari demografi yang memiliki “banyak waktu dengan tangan mereka”, alias menganggur. Termasuk di antaranya orang-orang yang sudah pensiun di usia 60-an, 70-an dan 80-an.

    Sejak itu, King mengeluarkan klarifikasi, dan mengklaim bahwa angka 270 juta mengacu pada pengguna aktif bulanan daripada pengguna aktif harian. Perusahaan tidak mengungkapkan berapa jumlah pengguna aktif harian.

    Pasar utama untuk game Candy Crush Saga adalah wanita berusia 35 dan lebih. Pemain game ini rata-rata bermain selama 38 menit sehari, menurut Dale.

    {Baca juga: Game Candy Crush Diangkat ke Layar Kaca}

    King juga menyebutkan tentang berapa jumlah uang yang dihabiskan orang untuk pembelian dalam aplikasi game yang bisa bikin orang ketagihan itu.

    Tahun lalu, satu pemain dilaporkan telah menghabiskan $ 2.600 atau sekitat Rp 36,7 juta dalam satu hari untuk membeli mata uang emas batangan yang dapat digunakan untuk mempercepat kemajuan pemain melalui permainan.

    Namun, Dale mengatakan ini bukan bukti kecanduan, karena pemain telah mengambil keuntungan dari “penjualan” emas batangan dan kemudian menggunakannya selama tujuh bulan.

    “Di antara 270 juta pemain, kami mendapat kontak antara dua dan tiga orang dalam sebulan yang khawatir telah menghabiskan terlalu banyak uang atau waktu untuk permainan,” kata Dale.

    “Itu adalah jumlah yang sangat, sangat kecil yang menghabiskan atau bermain di tingkat tinggi. Ketika kami berbicara dengan mereka, mereka mengatakan bahwa mereka senang dengan apa yang mereka lakukan,” terangnya.

    Eksekutif King mengakui keseriusan keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini untuk mengakui kecanduan video game sebagai penyakit. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa American Psychiatric Association tidak setuju dengan WHO.

    {Baca juga: Begini Cara Main PUBG Mobile di PC Pakai Tencent Gaming Buddy}

    “Kita perlu memahami di mana sains berada di daerah ini. Kami bukan psikiater. Kami senang, bagaimanapun, tunduk pada kerahasiaan komersial normal dan privasi data, untuk bekerja dengan para ahli di bidang ini jika mereka ingin mendiskusikannya dengan kami,” terrangnya.

    Pembuat game telah menghadapi peningkatan pengawasan tentang bagaimana mereka merawat para pemain yang mungkin menjadi kecanduan pada karya-karya mereka. Electronic Arts (EA) dan pencipta Fortnite Epic Games, juga sudah menjawab pertanyaan dari komite.

    Pekan lalu, pembuat game royale battle royale, Fortnite, menyarankan Pangeran Harry keliru mengatakan bahwa platform itu membuat ketagihan, dan bersumpah akan mengembalikan uang kepada orangtua yang anak-anaknya membayar tagihan besar dalam game.

    Pakar industri dan badan perdagangan juga memberikan wawasan mereka tentang penyelidikan Digital, Budaya, Media dan Komite Olahraga, yang menawarkan reaksi beragam terhadap kecanduan video game.

    {Baca juga: Cara Download Call of Duty Mobile di Smartphone Android}

    Kepala Eksekutif Asosiasi Hiburan Interaktif Inggris (UKIE), Dr Jo Twist, mengatakan badan perdagangan mengangao keputusan WHO tidak didasarkan pada bukti kuat yang cukup.

    “Kami sadar bahwa orang bermain berlebihan, dan apa yang ingin kami lakukan sebagai industri adalah membantu orang menemukan keseimbangan,” katanya. [BA/HBS]

    Sumber: Mirror

  • WHO Sebut Kecanduan Game Masuk Kategori Gaming Disorder

    WHO Sebut Kecanduan Game Masuk Kategori Gaming Disorder

    Telko.id, Jakarta – WHO, Organisasi Kesehatan Dunia PBB, mengakui keberadaan penyakit bernama Gaming Disorder. Bahkan, Gaming Disorder masuk daftar gangguan kesehatan mental yang baru saja dirilis oleh WHO. Penyakit ini disebabkan kecanduan game.

    Dilansir Polygon, badan kesehatan dunia itu mengambil keputusan tersebut setelah menggelar rapat tahunan 2019 di Geneva, Swiss. Adiksi atau kecanduan game via ponsel dan platform lain pun dinyatakan sebagai penyakit internasional.

    Gangguan kesehatan semacam itu diberi kode ICD-11. Sebagai dampak dari hal tersebut, negara-negara anggota WHO dituntut merancang rencana kesehatan publik.

    {Baca juga: 5 Risiko Berbahaya Kecanduan Bermain Game}

    Disebutkan bahwa keputusan diambil dengan melihat penelitian bahwa gangguan kesehatan ini hanya memengaruhi orang yang aktif dalam permainan digital ataupun video game.

    Badan kesehatan dunia itu meminta kepada masyarakat untuk mampu membagi dan menggunakan waktu secara bijak saat menggunakan gawai. Mereka mendefinisikan Gaming Disorder sebagai gangguan serius.

    Gaming Disorder berpotensi mengakibatkan seseorang tidak dapat mengontrol waktu dan frekuensi bermain game. ICD-11 diperkirakan membawa dampak serius pada 1 Januari 2022 mendatang.

    {Baca juga: Asosiasi Game Lobi WHO Batalkan “Penyakit Kecanduan Game”}

    Sebelum WHO memutuskan gangguan kesehatan mental ini, Apple terlebih dahulu mengantisipasi dengan menghadirkan fitur Screen Time dan Parental Control. [BA/HBS]

    Sumber: Polygon

  • Industri Game di Korea Selatan Terancam Gara-gara WHO?

    Industri Game di Korea Selatan Terancam Gara-gara WHO?

    Telko.id, Jakarta – Korea Selatan tak terima dengan pernyataan WHO, bahwa kecanduan game bisa memicu gangguan jiwa. Sebab, pemerintah Korea Selatan menilai pernyataan WHO itu bisa mengancam masa depan industri game domestik.

    Alhasil, pemerintah pun meminta WHO untuk menarik pernyataan tersebut. Mengutip dari Asia One, Jumat (03/05/2019), pemerintah Korea Selatan mengirimkan surat kepada WHO untuk mengkaji penelitian terkait dampak adiksi bermain game.

    Kalau tidak, bisnis game di Negeri Gingseng itu bakal kehilangan pemasukan USD 9,45 miliar atau Rp 134 triliun.

    {Baca juga: Catat! Ini Pedoman WHO Soal Pemakaian Gadget untuk Anak-anak}

    Bukan hanya mengirimkan surat ke WHO, pemerintah juga bekerja sama dengan Konkuk University untuk melakukan riset soal kecanduan game. Hasilnya, menurut mereka, remaja jadi kecanduan game gara-gara stres dan tertekan oleh kebijakan orang tua.

    Bisnis game di Korea Selatan memang cukup menggiurkan. Pada 2016 misalnya, angkanya mencapai 10,9 triliun won atau Rp 133,2 triliun. Jumlah itu akan melonjak naik menjadi 13,7 triliun won atau Rp 167,4 triliun pada tahun ini.

    {Baca juga: Asosiasi Game Lobi WHO Batalkan “Penyakit Kecanduan Game”}

    Selama ini, Korea Selatan merupakan pasar terbesar kelima di dunia untuk industri game setelah Amerika Serikat, China, Jepang, dan Inggris. Lebih dari 60 persen dari total 50 juta penduduk di sana sangat menyukai bermain game. (BA/FHP)

    Sumber : Asia One

  • Lagi Resepsi, Pengantin Prianya Malah Asyik Main PUBG 

    Lagi Resepsi, Pengantin Prianya Malah Asyik Main PUBG 

    Telko.id, Jakarta – Game multipemain online PUBG telah menjadi “candu” bagi banyak orang di seluruh dunia. Saking kecanduannya pada game tersebut, membuat para pemainnya kadang melakukan hal yang diluar nalar. Video berikut ini adalah salah satu buktinya.

    Video yang telah dibagikan secara online ini menunjukkan seorang pengantin pria yang malah sibuk bermain PUBG selama resepsi pernikahan tengah berlangsung. Ketika mempelai pria asyik main game, mempelai wanita duduk di sebelahnya dan tidak sedikit pun merasa terhibur.

    Sang mempelai pria terus fokus bermain PUBG via ponsel, bahkan tak menghiraukan hadiah dari para tamu undangan yang datang memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

    {Baca juga: Kacau! Istri Gugat Cerai Suami Karena Dilarang Main PUBG}

    Video menarik itu awalnya diunggah di platform berbagi video TikTok dan telah menyebar ke berbagai media sosial. Di Facebook, video tersebut sudah dilihat lebih dari 400 kali. Tidak jelas kapan dan di mana video itu diambil.

    Meskipun tidak jelas apakah video tersebut hanya rekaan atau memang benar-benar terjadi, netizen tetap saja merasa geli.

    “Dia adalah pemain pro. Jangan ganggu dia,” komentar seorang netizen di aplikasi Facebook, dilansir NDTV.

    Game yang kini telah memiliki lebih dari 30 juta pemain ini memang kerap mengundang kontroversial, karena dituding berpengaruh buruk bagi para pemainnya. Di beberapa negara bahkan telah mengeluarkan aturan untuk memblokir game PUBG mobile.

    Yang paling ekstrim, game yang banyak menampilkan unsur kekerasan ini disebut-sebut telah membuat pemainnya menjadi seorang pembunuh, atau minimal kecanduan. Meski anggapan itu telah dibantah oleh sejumlah ahli, namun tak dapat dipungkiri game PUBG telah membius banyak orang di seluruh dunia karena menggemari game tembak-tembakan tersebut.

    {Baca juga: Pemain Game PUBG Bisa Berubah Jadi Pembunuh, Benarkah?}

    Meski menjadi sorotan, namun hal itu tidak membuat game ini ditinggalkan. Bahkan, baru-baru ini Tencent Games selaku pemilik lisensi PUBG Mobile baru saja merilis update untuk game PUBG Mobile (ver 0.12.0) yang berisi beberapa mode gameplay baru yang semakin seru.

    Tencent Games rupanya menyadari penggemar PUBG Mobile sangat menyukai mode crossover dengan game Residen Evil 2 milik Capcom di akhir tahun 2018. Salah satu yang paling disukai adalah mode melawan zombie. Event ini tidak permanen alias sementara.

    Kini PUBG Mobile mendapatkan mode gameplay serupa yang disebut masih hasil kolaborasi dengan Residen Evil 2 lewat update Darkest Night. Dalam mode tersebut, pemain bisa memilih bermain single atau squad untuk bertahan hidup dari serangan zombie hingga matahari kembali terbit.

    {Baca juga: Update PUBG Mobile Ada Perang Melawan Zombie}

    Di mode Darkest Night pemain juga harus menghindari gas beracun yang tersebar di seluruh arena permainan. Di sini pemain atau tim hanya akan bertarung melawan zombie saja. Mode ini digarap oleh Tencent Games sendiri.

    Sumber: ndtv.com 

  • Tencent Ubah Batasan Usia untuk Gamer, Jadi Berapa? 

    Tencent Ubah Batasan Usia untuk Gamer, Jadi Berapa? 

    Telko.id, Jakarta Tencent bersama pemerintah China tak berhenti  memerangi adiksi atau kecanduan game kepada generasi muda. Salah satunya dengan mengubah aturan tentang batasan usia untuk gamer.

    Meski sudah berupaya memerangi adiksi, namun upaya Tencent tak sepenuhnya berhasil. Beberapa fitur tetap berhasil ditembus oleh para gamer.

    Kini, Tencent dikabarkan menambah batasan usia untuk pemain, dari sebelumnya batasan usia minimal untuk memainkan game adalah 13 tahun, menjadi 16 tahun.

    Informasi ini beradar di media sosial China, Weibo. Disebutkan bahwa pemain dengan usia 16 tahun sampai 18 tahun bisa memainkan game selama dua jam saja per hari. Fitur ini juga akan dilengkapi dengan digital lock.

    {Baca juga: Begini Cara Main PUBG Mobile di PC Pakai Tencent Gaming Buddy}

    Menurut laporan Pocket Gamer, fitur tersebut secara otomatis akan mengunci game setelah melebihi durasi dua jam. Pemain yang mencoba mengaksesnya kembali akan diberikan informasi kapan mereka bisa mengakses lagi.

    Sementara untuk usia di bawah 16 tahun akan membutuhkan verifikasi usia yang lebih ketat. Perusahaan tidak menjelaskan proses verifikasinya. Namun, di China, sejak beberapa tahun dikabarkan proses login game akan membutuhkan identitas asli yang terhubung ke database pemerintah.

    Bahkan, teknologi tercanggih tahun lalu adalah menyediakan dukungan teknologi pemindai wajah saat pemain login ke dalam game Tencent. Jadi, Tencent akan melakukan verifikasi wajah dengan data identitas yang didaftarkan.

    {Baca juga: Gandeng Tencent, Marvelous Rilis “Story of Season” Versi Mobile}

    Hal ini diakibatkan banyak pemain di bawah usia 16 tahun yang menggunakan identitas orang lain. Sejak 2017, Tencent memang dikejar pemerintah China untuk mengatasi adiksi game yang sudah semakin memburuk. [BA/HBS]

    Sumber: Pocket Gamer

  • Upaya Nepal Blokir PUBG Mobile Terancam Batal?

    Upaya Nepal Blokir PUBG Mobile Terancam Batal?

    Telko.id, Jakarta – Otoritas telekomunikasi Nepal tengah berupaya untuk blokir PUBG Mobile. Mereka meminta seluruh penyedia jaringan internet untuk memblokir trafik yang berasal dari server game PUBG Mobile.

    Namun tampaknya, usaha pemblokiran itu terancam batal. Pasalnya, Mahkamah Agung Nepal telah memberikan penetapan sementara untuk lembaga pemerintahan tersebut untuk tidak memblokir game ber-genre battle royale itu.

    Diungkapkan hakim Ishwar Prasad Khatiwada, PUBG Mobile tak lebih dari sebuah game yang menjadi sarana hiburan.

    {Baca juga: Khawatir Anak Jadi Kecanduan Game, Nepal Blokir PUBG

    Lebih lanjut, Mahkamah Agung Nepal juga menilai pemblokiran terhadap PUBG Mobile merupakan tindakan tidak rasional. Sebab, menurut laporan Money Control seperti dilansir Telko.id pada Selasa (23/04/2019), kebebasan berekspresi telah diatur dalam undang-undang negara tersebut.

    Maka dari itu, sebuah tindakan pemblokiran harus benar-benar adil dan dilandasi alasan yang jelas. Mahkamah Agung Nepal menganggap keputusan otoritas telekomunikasi Nepal untuk blokir PUBG Mobile yang disetujui oleh Pengadilan Negeri Kathmandu, tak masuk akal.

    Pihaknya pun menunggu balasan dari lembaga pemerintahan tersebut terkait penetapan sementara itu. Pemblokiran PUBG Mobile di Nepal memang masih mengundang reaksi beragam dari masyarakat.

    Sejumlah orang tua mengaku lega saat pemblokiran diberlakukan. Lain hal, anak muda di sana memprotes kebijakan tersebut.

    {Baca juga: Gamers di India Cuma Bisa Main PUBG Enam Jam per Hari}

    Bukan cuma itu komentar miring yang dilayangkan ke pemerintah. Ada sejumlah pihak yang menantang untuk memblokir platform berbasis internet lainnya seperti Facebook dan Twitter serta sejumlah game lain. (BA/FHP)

    Sumber: Money Control

  • Khawatir Anak Jadi Kecanduan Game, Nepal Blokir PUBG

    Khawatir Anak Jadi Kecanduan Game, Nepal Blokir PUBG

    Telko.id, Jakarta Nepal mengeluarkan kebijakan baru terkait game PlayerUnknows’s Battleground (PUBG). Negara tersebut melakukan pemblokiran karena khawatir jika anak-anak mereka kecanduan game pertempuran yang lagi digandrungi itu.

    Dilansir Telko.id dari Engadget pada Jumat (12/04/2019), sebelumnya pemerintah federal Nepal, melakukan investigasi terkait game PUBG.

    Hasilnya, pihak Nepal Telecommunications Authority (NTA) memerintahkan pihak penyedia layanan internet (ISP), vendor ponsel, dan penyedia layanan jaringan untuk memblokir PUBG.

    Memang selama ini di Nepal belum ada kasus terkait game tersebut. Namun wakil Direktur NTA mengatakan bahwa kebijakan tersebut keluar karena khawatir jika anak-anak Nepal menjadi kecanduan, dan melupakan kegiatan belajar mereka.

    {Baca juga: Gamers di India Cuma Bisa Main PUBG Enam Jam per Hari}

    Sebelumnya pemblokiran PUBG bukan hal pertama. Pemerintah India akhirnya mengeluarkan pernyataan tegas terkait fenomena dampak kecanduan game Bahkan, pihak pemerintah negara tersebut sudah merilis daftar game yang dianggap membahayakan anak-anak, termasuk game-game populer seperti PUBG, Fortnite, dan Pokemon.

    Komisi Perlindungan Anak di Delhi mengaku sudah mengirim catatan berisi daftar gameberbahaya bagi anak-anak, khususnya kalangan pelajar, kepada pihak sekolah di negara bagian. Satu diantaranya adalah gamePUBG.

    Catatan itu dirilis setelah Perdana Menteri India, Narendra Modi, memberi tanggapan terkait adiksi game bagi anak. Ia menyebut  bahwa teknologi harus diawasi, tetapi tidak boleh dijauhkan dari anak-anak karena memicu inovasi.

    Seperti dikutip Telko.id dari India Today, Jumat (8/2/2019), Komisi Perlindungan Anak di Delhi telah memblokir beberapa game, termasuk Pokemon. Selain itu, ada pula PUBG, Fortnite, GTA, God of Warm Hitman, serta Plague Inc.

    {Baca juga: Di Kota Ini, Main PUBG Bisa Ditangkap Polisi}

    “Game tersebut terdapat unsur misoginis, kebencian, dan balas dendam yang berdampak negatif terhadap otak dan pola pikir anak,” tulis pihak Komisi Perlindungan Anak di Delhi dalam pernyataaan resmi kepada publik. [NM/HBS]

    Sumber: Engadget

  • Kacau! Mahasiswa Ini Tulis Cara Bermain PUBG di Lembar Ujian

    Kacau! Mahasiswa Ini Tulis Cara Bermain PUBG di Lembar Ujian

    Telko.id, Jakarta – Perilaku para penggemar game PUBG memang aneh-aneh. Seperti seorang anak laki-laki di India gagal dalam ujian pra-universitas tahun pertamanya. Saat ujian, dia malah hanya menulis tentang cara bermain PUBG di lembar jawaban ujian.

    Pemuda yang diketahui bernama Varun itu mengakui dirinya kecanduan game, terutama PlayerUnknown’s Battlegrounds.

    “Saya rajin belajar, tetapi tertarik pada PUBG karena menghibur, dan segera kecanduan. Kadang-kadang saya bahkan tidur di kelas untuk bermain game dan duduk di taman terdekat,” ujarnya, seperti dilansir India Times.

    Ia mengatakan bahwa orangtuanya telah mengambil ponselnya, namun bayangan gambar-gambar dari game itu terus melekat dalam pikirannya. “Saya menyadari betapa berbahayanya sebuah game,” tambahnya.

    Pihak yang mengevaluasi makalah mengatakan bahwa biasanya siswa yang tidak tahu jawaban menulis lagu film atau dialog film terkenal. Namun, bocah ini telah menulis segala sesuatu tentang game PUBG, mulai dari langkah untuk mengunduhnya hingga cara memainkannya.

    {Baca juga: Takut Ketagihan, Bocah 11 Tahun Minta PUBG Diblokir}

    “Dia tampaknya memiliki penguasaan yang baik atas permainan. Saya membawa masalah ini ke pemberitahuan kepala sekolah, dan kami memanggil orangtuanya dan memberi tahu mereka tentang kecanduan game putra mereka,” terangnya.

    Namun Varun bisa bernafas lega, karena dia masih memiliki kesempatan untuk ikut dalam ujian susulan yang dijadwalkan akan diadakan pada bulan Juni mendatang.

    Game PUBG memang tengah menjadi sorotan, karena dianggap berdampak negatif bagi penggemarnya, yang beresiko kecanduan game tersebut.

    Sebelumnya dikabarkan 16 orang ditangkap gara-gara main PUBG. Pekan lalu, pemerintah Gujarat, India menerapkan larangan pada game yang tengah “mewabah” di seluruh dunia itu.

    Lebih dari 10 pelajar ditangkap di kotak Ahmedabad karena bermain game shooter itu, dan 16 orang lagi ditangkap di kota Rajkot dalam sepekan terakhir.

    “Tim kami menangkap anak-anak muda ini dengan tangan merah (tertangkap basah). Mereka ditahan setelah mereka ditemukan bermain game PUBG,” kata Police Onspector Rohit Raval.

    Permainan itu dilarang pada 6 Maret oleh komisaris polisi Gujarat, Manoj Agrawal. Permainan itu, menurut pihak berwenang setempat, terlalu membuat ketagihan, terutama bagi siswa.

    Fatwa Haram PUBG

    Sementara di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia kabarnya akan mengkaji game PUBG. Mereka akan mempertimbangkan untuk mengeluarkan fatwa haram game PUBG, karena game tersebut dinilai telah menimbulkan mudarat atau dampak buruk.

    menurut Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Zainut Tauhid Sa’adi pihaknya tidak mengabaikan fenomena PUBG. MUI bisa mempertimbangkan untuk segera melakukan pembahasan karena game ini sudah menimbulkan mudarat.

    {Baca juga: Dianggap Bawa Mudarat, MUI Bakal Haramkan PUBG?}

    “Karena game PUBG ini sudah menjadi fenomena masyarakat, bahkan akibat dari game tersebut sudah menimbulkan mudarat, maka MUI akan segera menugaskan komisi penelitian dan pengkajian bersama-sama dengan komisi fatwa untuk melakukan pengkajian terhadap masalah tersebut,” kata Zainut.

    Menanggapi rencana MUI yang ingin mengeluarkan fatwa haram bagi PUBG, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan terbuka kemungkinan untuk blokir game PUBG ,jika ada pihak yang mengajukan permintaan tersebut.

    Menurut Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan bahwa pihaknya bisa saja memblokir PUBG jika game tersebut berdampak buruk bagi masyarakat.

    Ia mengungkapkan bahwa Kominfo biasanya akan melakukan pengkajian atas sebuah laporan misalnya dari MUI ataupun pihak lainnya.

    {Baca juga: Kominfo Pertimbangkan untuk Blokir Game PUBG}

    “MUI lembaga independen. Kalau memang (PUBG) dirasakan merusak, dikaji dulu, dan silahkan diajukan ke Kominfo. Kami siap menindaklanjuti permintaan pemblokirannya,” kata Semuel kepada wartawan, Kamis (22/03/2019). [NM/HBS]

    Sumber: India Times