Tag: asia

  • Konsumen Asia Tak Tertarik Trio iPhone 2019?

    Konsumen Asia Tak Tertarik Trio iPhone 2019?

    Telko.id, Jakarta Apple memperkenalkan trio iPhone 11 dengan harga lebih murah dan prosesor lebih cepat.  Namun, ketiganya tidak memiliki teknologi 5G. Hal tersebut jelas membuat konsumen di Asia kecewa.

    Kenapa? Di Asia, perangkat berharga jauh lebih murah ketimbang trio iPhone 2019 dengan teknologi 5G sudah banyak berseliweran. Apalagi, fitur-fitur yang ditawarkan tak kalah ciamik ketimbang tiga ponsel baru Apple.

    Dikutip Telko.id dari Reuters, Jumat (13/9/2019), iPhone 11 dilego ke pasaran dengan harga lebih murah USD 50 atau sekira Rp 700 ribu ketimbang iPhone XR. Namun, pengguna di Asia tampaknya tetap tak tertarik.

    {Baca juga: Sebagian Pengguna “Jijik” Lihat Trio iPhone 2019, Kenapa?}

    Menurunkan harga iPhone 11 mungkin merupakan upaya Apple untuk menarik pembeli di China. Sebab, di negara itu, iPhone kalah saing dengan produk Huawei. Apalagi, Amerika Serikat perang dagang dengan China.

    “iPhone baru sama sekali tidak mengejutkan. Perubahan nyata yang ada hanyalah keberadaan kamera tambahan di iPhone model premium, ”kata Park Sung-soon, seorang analis di Cape Investment & Securities.

    Ia melanjutkan, untuk mendapatkan iPhone berteknologi 5G, pengguna harus menunggu sampai satu tahun. Artinya, kenapa tidak membeli ponsel Huawei saja? Atau, ada Vivo dan Samsung yang punya teknologi serupa.

    Sebuah meme di media sosial menampilkan CEO Apple, Tim Cook, membual tentang fitur-fitur baru iPhone. Di lain sisi, ada CEO bisnis konsumen Richard Yu yang pamer bahwa fitur tersebut sudah lama terdapat di Huawei.

    Seperti dikutip Telko.id dari CNET, preorder untuk ketiga iPhone baru dilayani mulai Jumat (13/9/2019) waktu setempat. Ketiganya baru akan hadir di toko-toko di beberapa negara pada 20 September mendatang.

    {Baca juga: Kapan iPhone 11 Masuk Indonesia? Erajaya: Hanya Apple yang Tahu}

    Sebelumnya, diketahui bahwa harga untuk iPhone 11, dari versi standar, Pro hingga Pro Max dibanderol mulai USD 699 atau Rp 9,7 jutaan, USD 999 atau Rp 13,9 jutaan, dan USD 1.099 atau Rp 15,3 jutaan. Dirilisnya harga smartphone baru ini secara tidak langsung membuat para pendahulunya mengalami penurunan harga.

    iPhone XR sekarang berharga USD 600 atau sekitar Rp 8,4 juta untuk model 64GB. Nah, jikalau pengguna memiliki iPhone lama untuk dijual, Apple akan membeli dengan harga USD 200 atau lebih kurang Rp 2,8 juta. Bagaimana dengan iPhone 8?

    Untuk iPhone 8, pegguna bisa membeli lebih murah, seharga USD 450 atau sekitar Rp 6,3 juta. Jika menginginkan iPhone XR atau iPhone 8 untuk model 128GB, calon pembeli hanya perlu membayar tambahan sebesar USD 50 atau sekira Rp 700 ribu. [SN/IF]

  • Google Pay Tambah Dukungan 25 Bank, Termasuk Indonesia?

    Google Pay Tambah Dukungan 25 Bank, Termasuk Indonesia?

    Telko.id, Jakarta – Google Pay hadir sebagai cara mudah untuk membayar atau berbelanja menggunakan dompet digital di smartphone. Namun, tidak semua bank di seluruh dunia menandatangani kemitraan dengan Google untuk layanan ini.

    Beruntung, Google terus menjajaki kerja sama dengan bank-bank baru untuk memperluas layanan Google Pay. Terbaru, raksasa pencarian ini sukses menambahkan dukungan baru untuk 25 bank di Eropa, Asia, dan Selandia Baru bagi layanan pembayaran digitalnya.

    Dikutip Telko.id dari GSMArena, Kamis (01/08/2019), satu bank di Selandia Baru yang bekerja sama adalah ASB Bank. Di Eropa, Google juga bermitra dengan bank asal Prancis, Finlandia, dll.

    {Baca juga: Google Cari Relawan untuk Pixel 4, Bayarannya Rp 70 Ribu}

    Bagaimana dengan Asia? Laporan menyebut, Google Pay bisa dipakai bertransaksi di Singapura berkat kerja sama dengan Citibank Singapore Limited. Layanan ini juga bermitra dengan dua bank asal Jepang.

    Sekadar informasi, fungsi layanan pembayaran Google itu mirip seperti aplikasi Apple Pay maupun Samsung Pay. Selain sebagai sarana pembayaran, pengguna juga bisa memakainya untuk menyimpan tiket pesawat, tiket konser, dan sebagainya.

    Yang menarik, layanan tersebut juga memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran dengan cara urunan bersama teman-teman. Cukup klik menu transaksi, pengguna bisa membagi tagihan kepada teman lainnya.

    {Baca juga: WhatsApp Web, Cara Pakai dan Trik Memaksimalkannya}

    Google Pay sendiri adalah layanan pembayaran terpadu persembahan Google, hasil perpaduan antara Android Pay dan Google Wallet. Bagi pengguna yang sudah telanjur menggunakan Android Pay tidak perlu khawatir.

    Sebab, aplikasi itu akan otomatis berubah menjadi Google Pay. Kalau belum ada perubahan, pengguna juga bisa melakukan pembaruan secara manual melalui Google Play Store. (SN/FHP)

    Sumber: GSMArena

  • Robot Bebek Ini Siap Bantu Petani Basmi Gulma

    Robot Bebek Ini Siap Bantu Petani Basmi Gulma

    Telko.id, Jakarta – Gulma adalah kutukan bagi setiap tukang kebun maupun petani. Di Asia, para petani memilih menggunakan bebek ketimbang pestisida untuk menyingkirkan gulma. Tapi di era modern, petani bisa memakai robot bebek untuk membasmi gulma.

    Ya, bebek memang efektif untuk membantu menyingkirkan hama tanaman. Bebek akan merobek gulma, mengudap serangga. Bahkan, kotoran mereka akan membantu menyuburkan ladang atau sawah petani.

    Namun, seperti dilansir Ubergizmo, seorang insinyur yang bekerja di produsen mobil Jepang Nissan telah memutuskan untuk membantu persoalan para tukang kebun dan petani terkait serangan hama.

    {Baca juga: Bikin Gemas, Konsep Robot Ini Mirip Baymax di Big Hero 6}

    Dikutip Telko.id, Senin (24/6/2019), ia menciptakan robot bebek yang akan membuat seluruh proses pembasmian gulma lebih efisien. Bagaimana bisa begitu? Sang insinyur coba membeberkannya.

    Menurutnya, robot bebek bisa digunakan untuk berpatroli secara rutin di ladang. Ia mempunyai sikat karet di bagian bawah kaki. Sikat itu berguna untuk membantu mengoksigenasi air dengan mengaduknya.

    Proses tersebut ia klaim akan mencegah gulma. Sayang, belum terkonfirmasi apakah robot itu bakal dibuat secara massif. Jika ternyata tidak, orang-orang bisa menduplikasi dengan meniru cara kerjanya.

    {Baca juga: Strono, Robot AI yang Jago Membuat Pizza}

    Robot bebek diyakini membuat proses pembasmian gulma lebih efisien. Robot tidak akan merasa lelah. Kehadirannya bisa memecahkan beberapa masalah di Jepang, yang mengalami penurunan jumlah pekerja. [SN/HBS]

    Sumber: Ubergizmo

  • Foto-foto Ini Jadi Bukti Bahwa Nasi Adalah Segalanya

    Foto-foto Ini Jadi Bukti Bahwa Nasi Adalah Segalanya

    Telko.id, Jakarta – Jika mengacu pada Wikipedia, nasi bisa diartikan sebagai beras (atau kadang-kadang serealia lain) yang telah direbus (dan ditanak). Ini dimakan oleh sebagian besar penduduk Asia sebagai sumber karbohidrat utama dalam menu sehari-hari dan biasanya dihidangkan bersama lauk sebagai pelengkap, baik itu rasa ataupun gizi.

    Di Indonesia, nasi sebagai makanan pokok boleh dibilang menempati posisi yang teramat penting dalam kehidupan seseorang. Saking pentingnya, adakalanya orang tak akan merasa sudah makan, jika belum bersentuhan dengan nasi. Pun, meski ia sebenarnya sudah makan ini itu. Singkat kata, kalau belum makan nasi, ya belum makan.

    Dalam satu dan lain kesempatan misalnya, tak jarang bahkan ada orang yang tetap memilih menyantap nasi, meski sebenarnya menu yang ada di hadapannya harusnya sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut.

    {Baca juga: 7 Bukti Kalau Kreatif Itu Dimulai Sejak Zaman “Baheula”}

    Sekali lagi, terlepas dari ini kebiasaan ataupun bukan, yang pasti tak sedikit orang di luar sana yang kerap menganggap nasi segalanya, sampai-sampai makanpun terasa tak lengkap kalau tak ada nasi. Nggak percaya? Berikut beberapa potretnya.

    Steak ditambah nasi…. kurang kenyang apalagi coba?

    Bakso kurang nendang, tambah nasi bang!

    Mie instan plus nasi, ini baru lengkap

    Burger dan nasi? Hmmm…. bisalah. Nggak ada yang lebih bikin kenyang dari ini

  • Waduh, Oracle Lakukan Diskriminasi Terhadap Karyawannya?

    Waduh, Oracle Lakukan Diskriminasi Terhadap Karyawannya?

    Telko.id, Jakarta – Oracle dikabarkan melakukan diskriminasi secara sistematis terhadap karyawan wanita dan kaum minoritas. Akibatnya, para karyawan Oracle tersebut kehilangan total gaji hingga lebih dari USD 400 juta atau Rp 5,7 triliun.

    Hal itu terkuak berdasarkan dokumen pengadilan dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat. Dalam dokumen tersebut, dikutip Telko.id dari CNET, Kamis (24/01/2019), raksasa teknologi yang berbasis di California, Amerika Serikat itu telah menurunkan gaji pekerja wanita dan kaum minoritas.

    Tak cukup, perusahaan tersebut kabarnya juga membiarkan mereka memulai karier di level yang paling rendah.

    {Baca juga: Facebook Dinilai Diskriminatif pada Pekerja Kulit Hitam}

    Selain itu, Oracle pun dituduh membuat para pekerja wanita dan kaum minoritas bekerja di posisi dengan gaji yang tak sesuai standar.

    “Oracle menekan gaji awal para pekerja wanita dan non-kulit putih. Oracle juga memberi posisi dengan tingkat lebih rendah serta menekan gaji mereka selama bekerja,” demikian tertulis di dokumen Departemen Tenaga Kerja AS.

    Dokumen tersebut pun menuduh bahwa perusahaan ini memiliki preferensi kepada pekerja Asia yang baru lulus kuliah. Informasi menyebut, 90 persen dari 500 karyawan barunya selama 2013 sampai 2016 adalah orang-orang dari Asia.

    {Baca juga: Duh! Karyawan DJI Ramai-ramai Korupsi Uang Perusahaan}

    Perbedaan gaji adalah satu masalah yang dihadapi oleh banyak perusahaan teknologi. Silicon Valley bahkan sering mendapat pertanyaan tentang cara memperlakukan pekerja wanita dan kaum minoritas, termasuk dalam hal promosi.

    Sekadar informasi, Oracle adalah pengembang sistem manajemen basis data, perangkat lunak untuk mengembangkan basis data, dan lain-lain. Perusahaan ini didirikan pada 1977 di AS, dengan jumlah karyawannya saat ini mencapai puluhan ribu orang. (SN/FHP)