spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1714

UU Baru Bisa Paksa Apple dan Google Sediakan Akses Backdoor

0

Telko.id -BlackBerry sepertinya tidak akan menjadi satu-satunya perusahaan yang dibuat pusing oleh ulah pemerintah (dalam hal ini Pakistan) yang menginginkan akses backdoor ke informasi pelanggan dan perangkatnya. Dua perusahaan teknoloi asal AS, yakni Apple dan Google, yang sejauh ini telah berhasil memerangi pemerintah dalam hal menolak akses backdoor pun tampaknya harus menuai nasib serupa. Sebuah RUU baru yang sedang diusulkan di New York kemungkinan akan memaksa mereka mengubah pendirian.

Penolakan yang dilakukan Apple dan Google ini sendiri juga sebenarnya bukan tanpa sebab. Ini bukan tentang masalah mereka kooperatif atau tidak dengan pemerintah, melainkan lebih kepada bagaimana akses backdoor pemerintah juga berpotensi menjadi cara bagi orang-orang jahat untuk masuk.

Dilaporkan Ubergizmo, Kamis (14/1), RUU ini pada dasarnya, jika diberlakukan, akan membuat semua perusahaan teknologi wajib memberikan akses backdoor ke perangkat kepada lembaga penegak hukum, serta kemampuan untuk mendekripsi informasi yang mereka cari.

Rancangan undang-undang ini berbunyi bahwa “setiap smartphone yang diproduksi pada atau setelah tanggal 1 Januari 2016, dan dijual atau disewakan di New York, harus bisa didekripsi dan dibuka oleh produsen atau penyedia sistem operasi.” Jika perusahaan atau pembuat ponsel tidak menuruti, maka mereka bisa didenda sampai USD2.500 per perangkat yang melanggar.

Hmm… PR besar tentunya bagi perusahaan sekelas Apple, yang menjual ponsel dalam jumlah jutaan.

Sebelumnya, proposal serupa telah banyak dibuat di negara-negara seperti Inggris dan China. Sementara pemerintah Belanda, justru memilih rute sebaliknya, yakni menginginkan enkripsi yang lebih kuat.

Saat ini undang-undang tersebut baru sebatas rancangan dan belum diberlakukan, sehingga selalu ada kemungkinan bahwa hal ini mungkin saja tidak akan pernah terjadi.

Brazil Terus Alami Penurunan Jumlah Pelanggan Ponsel

0

Telko. id – Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Brazil tak bisa dipungkiri lagi telah sejak bertahun-tahun lalu menjadi negara dengan potensi pasar yang sangat besar, khususnya di sektor telekomunikasi. Pada akhir tahun 2008 saja, jumlah pengguna ponsel di negara tersebut telah menembus angka 150 juta, meningkat 24,52 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2007. Sementara pada akhir Juni 2009, jumlah pengguna mencapai hampir 160 juta. Nah, bagaimana dengan sekarang?

Menurut angka yang diterbitkan oleh Badan telekomunikasi Nasional (Anatel), Brazil mengakhiri November 2015 lalu dengan 269.59 juta pengguna selular aktif dan tingkat penetrasi 131,5 persen. Ini merupakan penurunan 1,53 persen dari bulan Oktober dan 3,87 persen dibanding bulan November 2014.

Dilansir dari Telecompaper, Kamis (14/), ini adalah bulan keenam berturut-turut negara tersebut mengalami penurunan dalam jumlah pengguna ponsel. Alasannya adalah, banyak operator telah memperketat kebijakan kredit mereka dan memutus pengguna tidak aktif atau mereka yang tidak membayar.

Dari total pelanggan, 196.61 juta adalah pelanggan prabayar (72,93%) dan 72.98 juta adalah pasca bayar (27,07%). Vivo (Telefonica Brasil), dalam hal ini tetap bertahan sebagai pemimpin pasar dengan 79.49 juta pelanggan atau 29,49 persen dari total (dibandingkan dengan 29% pada bulan Oktober). Di posisi kedua, TIM Brasil unjuk gigi dengan 69.3 juta dan 25,7 persen pangsa pasar (26,26%). Diikuti oleh Claro (kelompok America Movil) yang memiliki jumlah pelanggan 67.37 juta dan 24,99 persen pangsa (25,2%), Oi dengan jumlah pelanggan 49.2 juta dan 18,25 persen pangsa, serta Nextel yang memiliki 2,5 juta pelanggan dan 0,93 persen pangsa pasar (0,9%).

Dalam hal teknologi akses, 2G/GSM turun dari 77,0 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 76.26 juta pada bulan November; 3G juga turun dari 159.4 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 156.4 juta pada bulan November; sedangkan 4G/LTE tumbuh dari 20.45 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 22.58 juta pada bulan November.

Ericsson ‘Pede’ Hadapi Network Sharing di Indonesia

0

Telko.id – Network sharing kian menjadi pembahasan yang hangat saja di industri telekomunikasi, tak terkecuali di Indonesia. Lalu, apa dampaknya jika sistem ini benar-benar diterapkan di tanah air? Akankah berimbas pada turunnya permintaan terhadap infrastruktur teknologi oleh para operator? Lalu bagaimana nasib penyedia infrastruktur?

Tentu saja, hal ini bukannya tidak mungkin akan mengancam kestabilan dari perusahaan yang bermain di sektor itu. Betapa tidak, pasalnya jika kesepakatan mengenai network sharing benar-benar tercapai, para operator kemungkinan besar tidak akan lagi membutuhkan BTS sendiri-sendiri, karena mereka akan berbagi BTS. Pun demikian terkait spektrum yang dimiliki. Hal ini secara tidak langsung akan mengurangi permintaan untuk infrastruktur kepada vendor.

Ditemui di gedung Kominfo, Kamis (14/1), Thomas Jull, selaku Presiden Direktur Ericsson Indonesia mengungkapkan, diberlakukannya network sharing tentu saja mempunyai efek besar terhadap perusahaannya. Pasalnya, mereka dalam hal ini adalah bertidak sebagai penyedia infrastruktur atau penjual perangkat. Hal ini diakui Jull akan mengurangi jumlah penjualan, namun tidak berarti bisnis akan mati. Menurutnya, ini bukan masalah utama, karena yang terpenting adalah pertumbuhan ekonomi.

“Dengan penetrasi mobile broadband sebanyak 10% di suatu negara, berdampak pada satu 1% pertumbuhan GDP dan peningkatan kecepatan broadband sampai 2 kali lipat, berdampak pada kenaikan 2 sampai 3 kali lipat GDP,” katanya.

“Tentu saja kami akan menjual lebih sedikit alat inrtastruktur, namun akan menyumbang lebih pada peningkatan dan utilisasi ekonomi,” ujar Thomas.

Dengan pengalaman Ericsson pada network sharing di luar negeri, seperti di India, Amerika, dan Inggris, mereka bisa dikatakan telah memiliki modal yang cukup untuk memaksimalkan peluang ini.

Apalagi, penerapan network sharing juga tidak tergantung pada kondisi geografis, yang artinya tidak akan ada banyak kendala selama regulasinya bisa mempertemukan beberapa pihak yang terkait.

Thomas pun menyebut, peningkatan ekonomi nantinya akan memberikan peluang baru bagi operator untuk menambah jumlah infrastruktur mereka. Hal ini tentunya akan menambah jumlah pemasukan dari setiap penyedia infrastruktur.

“Dengan pengalaman kami di luar negeri dan teknologi yang kami miliki, kami siap untuk berkompetisi,” ucap Thomas percaya diri.

Ia juga menambahkan, berbagai infrastruktur sharing sejatinya juga sudah diterapkan di Indonesia, seperti berbagi tower dan sebagainya, hanya saja belum se-aktif network sharing. [ak/if]

Network Sharing, akankah Menghasilkan Efisiensi?

0

Telko.id – Para pemangku kepentingan di industrri Telekomunikasi Indonesia hari ini (14/1) berkumpul di gedung Kementrian Komunikasi dan Informatika guna membahas mengenai ‘Percepatan Pitalebar Indonesia yang Efisien Melalui Kebijakan Network Sharing.’

Sekedar informasi, dari 10 negara yang populasi penduduknya paling banyak di dunia, baru Brazil dan Rusia yang melakukan aktive network sharing.

Dalam sambutannya, Menkominfo Rudiantara mengungkapkan perlu adanya efisiensi untuk industri telekomunikasi di Indonesia dan salah satunya dengan Network Sharing.

“Yang terpenting adalah bagaimana membuat industri ini semakin efisien, ketersediaan pasar dan dan efisien dari segi industri harus bisa jalan bareng,” ucap Rudiantara.

Ia juga menyebutkan, tantangan saat ini adalah bagaimana mengimplementasi broadband di Indonesia, dan bagaimana membuat industri Telekomunikasi ini jadi lebih efisien.

Sejatinya, network sharing pasti akan menurunkan biaya operasi dari para operator, namun hal ini tentunya juga akan berdampak pada penurunan jumlah pemasukan dari setiap vendor infrastruktur serta para subcon di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Chief RA mengungkapkan, mungkin untuk satu dan dua tahun setelah implementasi ini, para vendor jaringan akan merasakan dampak negatifnya, namun setelah itu mereka dapat mencapai revenue yang cukup tinggi.

“Semua masyarakat yang waras akan mendukung efisiensi karena tujuannya akan mendukung market,” tambahnya.

Ke depannya, Rudiantara tetap mengharapkan adanya konsolidasi dari para operator agar tercipta skala ekonomi dan terciptanya efisiensi.

Mengenai skema implementasi, ada setidaknya dua pilihan untuk melakukan network sharing, yaitu Moran dan Mcon.

Untuk Moran, para operator akan melakukan sharing di sektor RAN (Radio Acces Network) mereka. Sementara untuk Mcon, yang di-sharing adalah spektrum frekuensi yang mereka miliki.

Dari kedua cara tersebut, secara teoritis Mcon akan lebih menguntungkan dan memberikan efisiensi yang lebih besar ketimbang Moran.

Menurut Deni Setiawan, Kasubdit Alokasi Spektrum Kominfo, “Mcon dapat memberikan penghematan dari capex opex yang signifikan dengan 5.2 triliun capex dan 1.4 triliun bagi para operator.”

Deni menambahkan, “Mcon juga seharusnya bisa dimanfaatkan untuk daerah rural dan USO, bukan hanya untuk percepatan infrastruktur 4G.”

Deni berharap, Pemerintah dapat memfasilitasi percepatan pembangunan seperti galian lobang agar dapat membantu operator.

Namun, hadirnya network sharing juga dapat merugikan para pelanggan seluler. Hal tersebut tergambar dari paparan Telkomsel yang menyebutkan akan terjadi kontrol yang semakin kurang, karena semakin banyak layanan yang dishare dan apabila kualitas layanan turun karena semakin banyak disharing, SLI ke pelannggan akan semakin sulit dikontrol.

Mengenai hal ini, Chief RA meguraikan bahwa dirinya tidak akan mau menandatangani nota kesepahaman mengenai network sharing, jika memang dirasa tidak menguntungkan bagi masyarakat.

Kita tunggu saja, apakah solusi ini akan menghasilkan efisiensi, atau justru menurunkan layanan kepada rakyat.

Kerjasama, China Unicom & China Telecom Siap Goyang China Mobile

0

Telko.id – Banyak cara ditempuh operator kecil untuk menandingi kedigdayaan operator penguasa, salah satunya adalah dengan menjalin kerjasama dengan sesama operator kecil. China Unicom dan China Telecom misalnya, keduanya memutuskan untuk membentuk kerjasama strategis yang akan mencakup pembagian peralatan jaringan. Hal ini harusnya membantu mereka dalam bersaing dengan China Mobile, khususnya di sektor 4G yang saat ini tengah berkembang pesat.

Dua operator telah berjanji untuk bekerjasama dalam mempercepat penyebaran infrastruktur bersama dalam upaya untuk meningkatkan cakupan mobile dan kinerja yang lebih cepat. Mereka juga akan bekerjasama untuk mengembalikan satu layanan lain yang sempat dihentikan lantaran bencana alam dan keadaan darurat utama.

Dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari Totaltele, Kamis (14/1), China Unicom dan China Telecom mengatakan bahwa mereka juga akan “mempromosikan reformasi struktural di sisi penawaran,” lebih spesifiknya handset dan peralatan jaringan, dalam rangka “menurunkan biaya sementara tetap meningkatkan efisiensi operasional.”

Dengan meningkatkan kualitas di sisi penawaran, kedua perusahaan telekomunikasi ini berharap untuk menyediakan jaringan dan jasa yang lebih baik kepada pelanggannya.

Selain itu, China Unicom dan China Telecom telah sepakat untuk meningkatkan interkoneksi antara jaringan masing-masing untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, dan juga akan bekerjasama dengan operator asing dalam rangka meningkatkan kualitas layanan roaming internasional.

china market

Baik China Unicom maupun China Mobile telah berjuang untuk menutup kesenjangan 4G yang besar dengan China Mobile. Pada bulan November, China Mobile mengklaim telah melayani sekitar 287 juta pelanggan 4G dan memiliki lebih dari 825 juta pelanggan mobile.

Bandingkan dengan China Unicom yang memiliki 287 juta pelanggan seluler, dimana 180 juta di antaranya menggunakan layanan 3G atau 4G, dan China Telecom yang memiliki basis pelanggan ponsel sebanyak 197 juta termasuk 141 juta pengguna 3G atau 4G.

Terkait kerjasama kedua operator ini, analis Financial Times mencatat bahwa kesepakatan yang diumumkan hari ini bisa mengakibatkan penghematan belanja modal antara 30% dan 40% untuk mitra baru dan mengurangi pengeluaran operasional mereka hingga 50%.

Pengumuman ini juga menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan merger penuh antara China Unicom dan China Telecom berikut pergolakan industri baru-baru ini. Demikian dilaporkan Lightreading.

Sulitnya Menggaet Pelanggan 4G

0

Telko.id – Adanya layanan 4G di Indonesia mungkin tidak seperti yang dibayangkan. Bahwa, masyarakat akan berbondong-bondong mengganti atau menambah kartu baru agar dapat menikmati layanan 4G. Apalagi, bagi masyarakat yang tidak ingin mengganti nomor nya harus datang ke pusat layanan operator yang dipakainya. Rupanya ini menjadi barrier tersendiri. Selain itu, harga smartphone berbasis 4G pun masih sulit dijangkau oleh kalangan menengah yang jumlahnya cukup tinggi.

Tak pelak, operator pun harus membuat program untuk mendorong agar ekosistem layana 4G ini terbentuk. Seperti yang dilakukan oleh operator nomor satu di Indonesia yang menggelar TelkomselFest agar masyarakat dapat merasakan pengalaman berselancar dengan internet cepat melalui layanan 4G LTE.

Program TelkomselFest ini digelar di beberapa kota seperti Jakarta (13-17 Januari 2016), setelah sebelumnya diadakan di Yogyakarta (14-18 Januari 2016), Makassar & Medan (23-27 Desember 2015). Festival digital ini akan disemarakkan dengan berbagai layanan dan produk digital terkini Telkomsel yang akan memberikan pengalaman digital terbaik bagi para pelanggan melalui mobile broadband yang cepat dan stabil dari Telkomsel.

Executive Vice President Area Jabotabek Jabar Telkomsel, Venusiana Papasi, mengatakan, “TelkomselFest akhirnya digelar di kota Jakarta untuk lebih memperkenalkan layanan digital terbaru Telkomsel kepada masyarakat setempat, sehingga pengalaman pelanggan, khususnya yang berada di kota besar seperti Jakarta, dalam menikmati berbagai layanan digital lifestyle di kesehariannya menjadi lebih maksimal.”

“Selain itu, dengan berbagai pilihan aplikasi dan layanan digital berkualitas, serta didukung dengan tersedianya jaringan dan device 4G LTE, maka ekosistem digital di kota ini pun diharapkan semakin matang dan akan membantu mengakselerasi masyarakat digital Indonesia.”, lanjut Venusiana.

Pada festival ini, pelanggan dapat menukarkan simcard mereka dengan uSIM 4G, dan langsung merasakan digital experience dari sejumlah layanan digital Telkomsel seperti LangitMusik, TCASH, dan Moovigo. Pelanggan dapat melakukan registrasi dan cash in TCASH, dimana pelanggan bisa mendapatkan diskon khusus dibanyak merchant lainnya. Tersedia juga penawaran menarik untuk pembelian device dan produk seputar layanan 4G seperti paket kuota internet 8GB hanya Rp. 99 ribu.

Tidak hanya ini, akan ada juga talkshow atau coaching clinic yang akan diisi dengan pembicara dari Blanja.com, Matahari Mall, Zalora, Microsoft, dan lain-lain. Pelanggan dapat menukarkan Poin Telkomsel nya untuk mendapatkan promo lelang smartphone dan banyak benefit lainnya, khususnya redeem poin untuk diskon dari sejumlah e-commerce ternama. Keseruan acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari Raisa dan Grup Band Mocca.

Saat ini secara nasional, layanan digital Telkomsel tumbuh sebesar 39% pada semester III 2015 jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga diiringi dengan peningkatan penggunaan layanan data yang naik dengan sangat signifikan yaitu lebih dari 119% dibandingkan tahun 2014. (Icha)

 

 

Smartfren Gandeng Lenovo untuk Push Penjualan 4G

0

Telko.id – Kerja sendiri memang berat. Hal itulah yang dilakukan oleh Smartfren ketika masih melayani pelanggannya dengan Andromaxnya. Bayangkan saja, beli handset sendiri dengan subsidi lalu jualan juga sendiri. Kini dengan melakukan strategi Open Market Hadset, Smartfren paling tidak ada temannya untuk ‘berjuang’ di pasar menjajakan produk dan layanannya.

“Dengan semakin banyaknya perangkat 4G LTE yang tersedia, diharapkan pula akan semakin mempercepat penetrasi pengguna layanan 4G di Indonesia. Terlebih kini Smartfren telah bekerjasama dengan beberapa vendor smartphone terkemuka di dunia, seperti Lenovo,” kata Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys.

Andromax sendiri masih belum ada rencana untuk dimatikan karena menurut Sukaca Purwokardjono, Head Division Device Planning & Management Smartfren, masih banyak pelanggan yang membutuhkan smartphone yang terjangkau tetapi dengan spesifikasi yang bagus. Segmen itulah yang disasar oleh Andromax.

Sedangkan untuk open market handset, terutama yang merupakan brand global, juga memiliki pengguna yang loyal. Jadi, kalau mau menikmati layanan 4G dapat menggunakan layanan dari 4G LTE dari Smartfren.

Tak heran, yang diajak kerjasama bundling oleh Smartfen juga tidak sembarang merek. Setelah Hisense yang memiliki keterikatan ‘batin’ yang kuat dengan Smartfren karena sudah lama berkejasama, mulai dari awal program Andromax hingga program OMH yang diluncurkan ketika pertama kali Smartfren mulai melayani 4G. Kemudian di susul oleh Samsung dan terakhir adalah dengan Lenovo.

Lenovo ini, kini merek nya cukup dikenal bagi masyarakat terutama yang ingin menikmati layanan 4G. Pasalnya, smartphone Lenovo yang sudah mampu bekerja di jaringan 4G cukup banyak. Kali ini, yang dibuatkan program bundling dengan Smartfren adalah seri A6010. “Seri ini adalah salah satu yang cukup laris dipasar dan sudah merupakan produksi dalam negeri karena bekerjasama dengan PT TDK,” ujar Adrie R. Suhadi, Country Lead for Smartphone, Lenovo Indonesia.

Pelanggan Smartfren yang sudah menggunakan layanan 4G hingga diakhir 2015 lalu sudah mencapai 1 juta. Baik yang menikmati melalui smartfren maupun melalui MiFi. Untuk di tahun 2016, Smartfren akan mengejar penambahan pelanggan hingga diakhir tahun dapat mencapai 5 juta pelanggan yang menggunakan 4G.

Cara lain untuk mencapai target itu adalah melakukan menggali terus potensi untuk kerjasama dengan Global bran, lalu meningkatkan layanan dan Smartfren juga akan improve layanan post paid yang ada. Selain itu juga akan terus digalakkan, program retention bagi para pelanggannya yang masih menggunakan layanan CDMA nya untuk menikmati layanan 4G. Caranya dengan memberikan offering handset 4G yang disesuaikan dengan lama pemakaian dan ARPU (Average Rate Per Usages).

Di sisi lain, ternyata konsumen yang ingin menggunakan layanan 4G enggan untuk harus mengganti kartu ke pusat layanan operator. Ketika Smartfren memberikan pilihan, membeli handset dan langsung dapat digunakan, hal ini menjadi alternative yang menarik bagi konsumen. (Icha)

Ingin Jadi Raja Digital, Indosat Belum Mau Kembangkan Konten Digital

0

Telko.id – Salah satu operator seluler terbesar di Indonesia yakni Indosat Ooredoo kembali menegaskan niat mereka untuk merajai industri digital Telco di Indonesia.

Hal tersebut tergambar pada statemen CMO mereka pada peluncuran paket internet freedom mereka pada Rabu (13/1).

Chief marketing officer Indosat Ooredoo, Andreas Gregori, menyebutkan, “Kami akan menjadi juara di Indonesia untuk segi digital Telco, sebagai informasi, pada Desember tahun lalu, ada sekitar 27 kota telah dialiri oleh jaringan 4G kami dan akan menjangkau 14 kota lagi di tahun ini dengan total mengcover lebih dari 40 juta pelanggan Indonesia dan bertambah 5 juta di setiap tahunnya,” tukas Andreas.

Namun, ketika disinggung mengenai konten digital mereka, pihak Indosat Ooredoo mengaku belum akan mengembangkan bisnis tersebut di tahun ini. Sungguh unik memang, ketika para pesaing mereka sudah mulai menggalakan konten digital di tahun ini.

Adalah Syarif Mahfoedz selaku Division Head Data Services – Product Indosat Ooredoo yang berkata demikian. Ia menyebut, di tahun ini mereka lebih cenderung berkonsentrasi pada ekosistem internet mereka.

“Saat ini kami lebih terfokus pada basic service kami dengan memperbanyak coverage dan menambah kapasitas internet sebesar 5 juta user setiap tahunnya, menggelar 4G di 14 kota lagi, edukasi 4G, serta tarif dan penggunaan data,” ucapnya.

Jika dilihat dari total pendapatan mereka di tahun kemarin, memang sumbangan terbesar mereka berasal dari penggunaan data serta voice untuk 2G. Namun, jika berkaca pada statemen CEO mereka Alexander Rusli beberapa waktu lalu, memang Indosat Ooredoo berniat untuk menjadi Raja Digital di Indonesia.

Berbicara mengenai kehadiran Netflix, Syarif mengungkapkan Indosat akan bekrjasama dan mematuhi peraturan pemerintah. Namun, Ia menyebut bahwasanya semakin banyak penggunaan data mereka tentunya akan semakin baik.

Mengenai kerjasama dengan pihak Netflix, Ia mengaku pihaknya belum melakukan kerjasama apapun dengan raksasa Streaming asal Negeri Paman Sam itu, namun Ia tetap menekankan akan selalu mendukung Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Kominfo sebagai pihak regulasi.

Dekati Tanggal ‘Kadaluarsa’, Lithuania Mulai Gelar Penjualan Spektrum

0

Telko.id – Lithuania telah memulai proses pengalokasian spektrum di band 900 MHz dan 1800 MHz yang saat ini berada di tangan tiga operator mobile utama, yakni Bite, Omnitel milik TeliaSonera dan Tele2. Ketiganya memegang lisensi frekuensi 900 MHz dan 1800 yang akan berakhir pada akhir Oktober tahun depan.

Dengan demikian, regulator komunikasi negara yang bersangkutan, atau lebih dikenal sebagai RRT, telah resmi meluncurkan kompetisi untuk lisensi spektrum itu selama 15 tahun, dari 1 November 2017 hingga 31 Oktober 2032.

Baik Bite, Omnitel maupun Tele2 telah mengindikasikan bahwa mereka akan mengambil bagian dalam kontes ini dan telah mengumpulkan dokumen yang diperlukan.

RRT, seperti dilaporkan Totaltele, Rabu (13/1), mengatakan telah membagi spektrum yang tersedia dalam tiga lot, masing-masing dengan harga mulai dari €10 juta atau sekitar Rp 150 miliar.

Kenaikan harga tawaran minimum adalah €100.000 dan peserta akan dapat menawar sampai ambang €80 juta. Berdasarkan pernyataan regulator, sulit untuk memastikan apakah penawaran untuk setiap blok akan diizinkan di atas €80 juta.

FCC Ingin Membagi Spektrum WiFi dengan Mobil Pintar

0

Telko.id – Pembahasan mengenai network sharing tampaknya telah menjadi rahasia umum dewasa ini. Entah itu yang ditujukan untuk LTE ataupun yang lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, di sebuah acara bertajuk “The Road to Gigabit Wi-Fi,” komisaris FCC berbicara tentang perlunya untuk membagi spektrum 5.9GHz WiFi dengan mobil pintar untuk memungkinkan ekspansi masa depan.

Pada tahun 1999, FCC mengalokasikan 75 MHz dari spektrum 5.9GHz untuk sistem yang disebut DSRC (Dedicated Short-range Communication), yang akan digunakan oleh ‘solusi transportasi cerdas’ di masa depan.

17 tahun kemudian, sementara beberapa sistem DSRC telah dilaksanakan di negara-negara seperti Singapura, standar ini tampak hanya sedikit diadopsi. Sementara itu, spektrum Wi-Fi pada 2.4GHz dan 5GHz telah mulai padat, dan regulator mulai melihat ke ruang berikutnya – yang saat ini disediakan untuk mobil.

Dalam pidatonya, anggota dewan komisaris FCC, Jessica Rosenworcel dan Michael O’Rielly, fokus untuk secara efektif membagi kecilnya spektrum yang digunakan dengan industri mobil di masa depan, sehingga kecepatan dan kemampuan Wi-Fi dapat dengan mudah ditingkatkan.

“Kita perlu Gigabit Wi-Fi dan lebih banyak perangkat telah disertifikasi untuk menggunakan band 2,4 GHz dari band lainnya yang ada,” ungkap Rosenworced.

Rosenworcel juga mengatakan bahwa ketika DSRC masih baru, mobil tanpa pengemudi adalah barang dari fiksi ilmiah. Tapi kendaraan otonom dan semi-otonom kini tidak hanya dipamerkan di Consumer Electronics Show – mereka sedang diuji di jalan raya.

Melanjutkan, ia berpendapat bahwa “[…] berbagai teknologi baru yang datang ke pasar yang mendukung fitur seperti rem otomatis dan peringatan perubahan jalur yang menggunakan radar dan teknologi spektrum lainnya tidak tergantung pada DSRC.”

Akibatnya, FCC dan industri otomotif telah mencapai kesepakatan untuk menguji berbagi spektrum DSRC, sehingga sistem keamanan mobil dan WiFi rumah Anda bisa berbagi ruang yang sama di masa depan.

Menurut Rosenworcel, band 5.9GHz adalah “tempat yang ideal” untuk mengeksplorasi ekspansi WiFi, yang akan membantu memberikan kecepatan jaringan di atas 1 gigabit per detik.

Perusahaan otomotif prihatin bahwa berbagi spektrum dengan Wi-Fi bisa menyebabkan gangguan, itu sebabnya pengujian dijadwalkan akan dimulai pada tahun-tahun mendatang.

DSCR sendiri, seperti ditambahka O’Rielly, selain kurang dimanfaatkan juga tidak cukup mengesankan, sehingga masuk akal jika kita belum akan melihat penyebaran pertamanya di luar area pengujian sampai 2017, ketika Cadillac membekali CTC-nya dengan DSRC. Sedangkan industri lainnya tidak diharapkan untuk mengikuti “setidaknya dua tahun lagi.”

Jika FCC berhasil memisahkan dan membagi spektrum 5.9GHz, ini adalah proposisi yang menjanjikan untuk WiFi rumah – sekarang Anda akan bisa mendapatkan kecepatan yang hanya mampu dikirimkan melalui kabel jaringan. Demikian diwartakan The Next Web, Rabu (13/1).