spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1531

Huawei Siapkan 10 Skenario Cloud Untuk Percepatan Transformasi Digital

0

Telko.id – Cloud adalah masa depan ICT. Cloud ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai skenario dan tentunya diharapkan dapat mengefisiensikan bisnis perusahaan yang ujungnya adalah memberikan nilai tambah bagi konsumen. Dalam event Huawei Analyst Summit 2017 mengatakan bahwa tahun ini akan mempromosikan 10 skenario yang spesifik tentang solusi layanan cloud. Yang akan dilakukan dengan bekerjasama dengan para mitra industrinya.

Skenario yang disediakan oleh Huawei ini meliputi HPC CLoud, SAP CLoud, IoT Cloud dan skenario umum lainnya. Dengan demikian, perusahaan dapat memilih dari 10 skenario tersebut yang sesuai dan lebih efisien untuk melakukan transformasi digital.

Yang baru saja diperkenalkan pada event HAS 2017 ini adalah ServiceStage. Solusi public cloud pertama. Sebuah platform terbuka untuk para pengembang Cloud Native app yang mampu mengintegrasikan pengembangan workflow framework, app dan sumber shcedulling framework, seperti untuk micro-service operation dan governance framework.

Di sisi lain, Huawei juga menjadi public cloud miliknya terpercaya dan terbuka yang didedikasikan untuk menciptakan nilai tambah pada bisnis yang dilakukan para konsumennya demi pelayanan yang lebih maksimal pada pelanggannya. Hal ini akan sangat dijaga agar para klien nya juga percaya dan mau memanfaatkan teknologi berbasis cloud ini.

“Terlebih, Huawei juga menyakini bahwa dengan adanya teknologi cloud ini maka akan merangsang transformasi digital akan lebih cepat lagi,” kata Zheng Yelai, President, Cloud BU and IT Product Line, Huawei.

Untuk mendukung bisnis cloud tersebut, sejak Maret 2017 ini Huawei membentuk bisnis unit khusus untuk Cloud dan IT. Sampai saat ini, sudah ada beberapa penawaran untuk menangani konsumen dibeberapa negara. Seperti China, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, dan beberapa Negara di Asia Pasific. Termasuk juga beberapa perusahaan besar seperti Volkswagen, Philips, dan CERN.

Tidak ketinggalan, Huawei juga bekerjasama dengan beberapa operator seperti Deutsche Telekom, China Mobile, Telefónica untuk membuat public cloud services. Semua itu bekerja menggunakan Huawei Cloud Platform.

“Layanan cloud ini menjadi bagian penting dalam infrastruktur untuk mendukung transformasi digital pada era Cloud 2.0 ini,” kata Zheng Yelai. (Icha – Shenzhen)

Digital Transformation Sebuah Keniscayaan

Telko.id – Salah satu yang diangkat dalam Huawei Analist Summit 2017 (11/4) adalah digital transformation yang dianggap sudah sangat perlu dilakukan oleh perusahan menuju digital.

“Digital transformation ini akan mengakselerasi dan mendorong modernisasi industri. Seperti industri finansial, transportasi, manufaktur dan pemerintahan. Semua itu tentu akan mengubah cara kita hidup dan bekerja,” kata Willian Xu, Executive Director of the Board, Chief Strategy Marketing Officer, Huawei.

William juga menambahkan bahwa “Estimasi kami, trafik data yang akan terbentuk secara global setiap tahun akan meningkat dan akan mencapai 180 ZB (Zetabytes) pada tahun 2025 atau sekitar 150 kali dibandingkan dengan tahun 2010”.

Pasalnya, digitalisasi industry akan memberikan benefit yang sangat besar. Termasuk peluang bisnis baru dan efisiensi yang akan dihasilkan oleh jutaan perusahaan. Proses ini juga tentu akan mempengaruhi dari bisnis Huawei dengan banyaknya permintaan pada digital infrastrukturnya. Mulai dari device, pipe atau jaringan dan cloud. Hal ini menunjukan betapa besarnya peluang di ICT industri ini.

Berdasarkan proyeksi dari Global Connectivity Index, pada tahun 2017 ini ICT akan menjadi ‘bahan bakar’ bagi pertumbuhan ekonomi dan cloud menjadi pendorong utamanya. Setidaknya setiap US$1 investasi di ICT infrastruktur akan menghasilkan pertumbuhan GDP baru sebesar US$3.

Itu sebabnya, perusahaan yang menggunakan ICT, tidak saja untuk mendukung system bisnisnya tetapi juga system produksi utama dan setiap system pembuat keputusan akan secara signifikan meningkatkan efisiensi dan inovasinya.

Namun, peningkatannya pada tahun 2025 akan jauh lebih besar lagi. “setidaknya pada 2025, setiap US$1 investasi di ICT infrastruktur akan menghasilkan US$5 ekstra GDP.

Dalam analisisnya GCI menunjukan ketika penetrasi fixed broadband mampu memperoleh value 10% dan 35% maka adopsi cloud juga akan melonjak secara signifikan. Lalu, ketika sebuah negara, level cloudification meningkat 3%, maka investasi di biga data analytic dan Internet of thing akan take off.

“Berdasarkan data tersebut maka kami merekomendasikan untuk perusahaan yang secepatnya melakukan investasi di cloud sebaik di broadband maka perusahaan tersebut juga akan memiliki pondasi yang kuat untuk pengembangan digitalnya,” kata William.

Untuk membantu industri menuju digital, Huawei pun harus mendigitalisasi juga proses penjualan dibisnis utamanya. Terlebih, layanan cloud akan menjadi pondasi untuk transformasi digital bagi operator telekomunikasi dan semua industri lainnya.

“Jadi, untuk merespon trend yang ada, Huawei sudah membentu Cloud Business Unit. Bahkan, kami akan melakukan investasi yang cukup besar untuk membangun ekosistem cloud,” kata William Xu.

Untuk menghadapinya, secara internal Huawei juga akan meningkatkan efisiensi dan kapasitas untuk inovasi dengan menjadi perusaaan digital. Setidaknya, perlu waktu 3 – 5 tahun untuk mengeksplorasi lebih jauh dari transformasi digital dan mengetahui aplikatif dari semua itu yang terbaik.

Secara eksternal, Huawei juga akan mendigitalisasi hubungan dengan partner dan mensosialisasikan Real-time, On-demand, All-Online, DIY dan pengalaman Sosial pada setiap proses penjualan pada lima group kunci yakni klien, konsumen, partner, supplier dan karyawan. (Icha – Shenzhen)

HAS 2017: Go Digital Go CLoud

Telko.id – Huawei Global Analyst Summit 2017 baru saja dibuka di Shenzhen (11/4) dan akan berlangsung selama 2 hari. Acara ini dihadiri oleh 500 peserta dari kalangan analis dan media.

Dalam presentasinya Eric Xu, Deputy Chairman of the Board, Rotating CEO, Huawei menyebutkan bahwa ke depan ada tiga peluang bagi bisnis jaringan. Yang pertama adalah video, home application dan vertical bisnis atau bisnis diluar operator telko.

Untuk video sendiri, Eric menyebutkan pangsa pasar nya sangat besar sekali. Termasuk entertainment video, video communications, dan video surveillance. “Kami perkirakan pasar video ini akan mencapai We US$700 billion pada tahun 2020 dan akan mencapai US$1 trillion by 2025,” kata Eric.

Sedangkan untuk home application, saat ini saja sudah mencapai 2 miliar households di dunia. Sayangnya, 1.1 miliar masih belum terkoneksi dengan broadband. Sekitar 300 juta hanya memiliki koneksi yang lambat bahkan kurang dari 10 Mbit/s. Dan diperkirakan 1.4 miliar household akan menjadi target pasar baru.

Peluang bisnis lainnya adalah vertical industries. Di mana, akan banyak sekali perusahaan di semua lini industry akan melakukan digital transformasi dan menjadikan perusahaannya berbasis digital.

“Setidaknya, kami memproyeksikan pada 2025 akan ada potensi pasar yang mencapai 15 triliun dolar,” kata Eric optimis.

Eric menambahkan bahwa “Di sisi lain, ada tantangan yang harus dihadapi para perusahaan. Di mana, aka nada perubahan bisnis model dan teknologi baru yang diterapkan. Tak heran banyak operator yang menghadapi berbagai problem selama menjalankan bisnisnya”.

Misalnya, profit dari layanan yang sudah ada menurun, pengembangan dari layanan baru terlalu lambat, kesulitan akuisisi dari site resourses dan effisiensi O&M yang rendah.

Itu sebabnya, Huawei komitmen untuk menjadi partner bagi para operator dan pihak lain untuk mengawalnya selama proses digital trasnformasi dan bisnisnya menjadi sukses.

“Pertama, kami akan meningkatkan kemampuan jaringan yang sudah ada dan memaksimalkan network value nya. Kedua, ke depan kami akan mengembangkan video menjadi basic service dan membuat cloud service untuk membantu vertical industry untuk go dgital,” kata Eric.

Eric juga menegaskan bahwa “Mulai 2017 ini, Huawei akan fokus pada layanan public cloud. Kami akan investasi yang cukup besar untuk membangun open public cloud platform yang terpercaya yang akan menjadi pondasi untuk keluarga Huawei Cloud. Yang termasuk di dalamnya adalah public cloud yang akan kami bangun bersama dengan operator, public cloud yang dapat dioperasikan sendiri.” (Icha – Shenzhen)

Lintasarta Kembali Adakan Appcelerate 2017 Bareng LPIK-ITB

0

Telko.id – Setelah sukses dengan ajang Lintasarta Appcelerate 2016, pada tahun ini Lintasarta kembali bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK-ITB) untuk mengadakan Appcelerate 2017.

Appcelerate merupakan realisasi Program Corporate Social Responsibility Lintasarta dalam bentuk kompetisi rencana bisnis yang berfokus pada inovasi produk berbasis aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri; perbankan, keuangan, migas, perkebunan, manufaktur, kesehatan, logistik, transportasi, kelautan, dan pariwisata.

Kerjasama Lintasarta dan LPIK-ITB diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilaksanakan di Ruang Rapim B, Gedung Rektorat ITB Bandung. Penandatanganan. PKS ini mengawali rangkaian kegiatan Appcelerate 2017 yang akan dimulai pada April – Desember 2017.

Rangkaian kegiatan Appcelerate meliputi beberapa tahapan seleksi dimana meliputi kegiatan inkubasi bisnis, mentoring yang meliputi kegiatan mentoring yang melibatkan pihak Lintasarta dan ITB.

Dalam masa inkubasi, tim yang terpilih juga akan mendapatkan dana bantuan pengembangan produk. Di akhir masa inkubasi, kesepuluh tim akan kembali mempresentasikan produk akhir yang telah dikembangkan, tiga tim terbaik akan memenangkan dana dengan total ratusan juta rupiah, yang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnis lebih lanjut.

“Lintasarta Appcelerate bertujuan untuk mengembangkan minat dan menyediakan sarana aktualisasi bagi para mahasiswa menjadi enterpreneur digital,” kata Arya Damar President Director Lintasarta.

Arya juga menambahkan bahwa “Kerja sama dengan LPiK ITB juga bertujuan mendukung program pemerintah yang sedang gencar mendorong agar lembaga pendidikan mampu menghasilkan 1000 startup yang mampu memanfaatkan ekonomi digital dalam mengembangkan usahanya.

Event ini pun diharapkan mampu membantu terciptanya digital ekonomi atau e-commerce yang akan membuka lapangan kerja seiring dengan aktivitas digital ekonomi yang berbasis internet yang diharapkan terus meningkat setiap tahun.

“Invensi dan inovasi dalam bidang ICT sangat penting bagi pengembangan industri ekonomi digital Indonesia saat ini dan di masa depan. Kerjasama ITB dengan Lintasarta melalui Appcelerate diharapkan mendorong percepatan munculnya entrepreneur dan start up dalam bidang ekonomi digital, sesuai dengan visi ITB sebagai entrepreneur university,” kata Bambang Riyanto Trilaksono, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB.

Pada Appcelerate 2016 yang lalu, Kazee, BIOPS dan Winaafi keluar sebagai pemenang. Kazee merupakan produk yang berfokus untuk membantu perusahaan untuk mendengarkan dan memahami pelanggan melalui analisis percakapan pelanggan di media sosial. BIOPS merupakan aplikasi precision farming yang menawarkan monitoring dan controlling untuk para petani greenhouse.

Sedangkan Winaafi adalah aplikasi sembako mart yang menawarkan kemudahan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mengintegrasikan antara toko kelontong lokal dengan konsumen di sekelilingnya. (Icha)

Rangkul Komunitas, Doku dan iGlobal Arsiteki Aplikasi Bertajuk Salam Al Azhar

0

Telko.id – Sebuah aplikasi bernama “Salam Al Azhar” diperkenalkan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar hari ini, Jumat (7/4/2017). Ditenagai oleh penyedia solusi pembayaran elektronik Doku, aplikasi ini tak hanya memungkinkan penggunanya dapat dengan mudah mengakses beragam aplikasi pendidikan, tetapi juga melakukan pembayaran dan banyak lagi.

“Aplikasi Salam Al Azhar adalah bentuk komitmen Doku untuk terus memperluas ekosistem “cashless society”, tak terkecuali untuk sektor pendidikan. Dengan aplikasi ini, diharapkan bisa mengembangkan potensi yang ada, baik bagi siswa, orangtua maupun masyarakat luas,” kata Irfan Burhan, VP Merchant Business Doku dalam acara perkenalan yang dilangsungkan di aula Masjid Agung Al Azhar.

Salam Al Azhar sendiri, yang merupakan co-branding dari platform sistem pendidikan modern (LEKAR Apps), seperti diungkapkan Ketua Umum YPI Al Azhar, H. Muhammad Suhadi, merupakan sebuah “rumah besar komunitas” berbasis teknologi digital terkini yang hadir berkat Joint Operation antara Doku, PT. Indoglobal Nusa (iGlobal) dan Persyarikatan Al Azhar.

“Ini adalah sebuah terobosan terbaru yang hadir untuk merangkul seluruh komunitas keluarga besar Al Azhar dimanapun mereka berada, untuk dapat bergabung, bersilaturahmi dan saling memberikan manfaat bagi sesama dan masyarakat luas,” katanya.

Salam Al Azhar telah beroperasi secara resmi sejak 14 November 2016 dengan aktivitas awal untuk mendukung aktivitas PMB (Pendaftaran Murid Baru) dan beragam pembayaran uang pangkal, uang sekolah dan donasi bagi para murid Sekolah Islam Sekolah Al Azhar secara online, baik dari smartphone, komputer/laptop ataupun aplikasi mobile berbasis Android dan Apple.

Salam Al Azhar powered by Doku didesain sebagai sebuah layanan komunitas yang tak hanya mudah untuk diakses, tetapi juga lengkap. Melalui aplikasi ini pengguna tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas tetapi juga mendapat informasi.

Untuk itu, lanjut Irfan, sejumlah fitur unggulan pun dibenamkan Doku di aplikasi ini termasuk layanan pendaftaran sekolah, laporan kegiatan sekolah, layanan Informasi nilai, konseling pendidikan, pembayaran uang formulir, SPP bulanan, hingga pembayaran ZISWAF (zakat Infaq, sedekah dan wakaf).

Itu belum termasuk beragam layanan pendukung gaya hidup, kuliner, travel, leisure, Investasi, belanja, jaringan bioskop hingga layanan keuangan seperti e-wallet, pendanaan, pembayaran, pembelian, tarik tunai, transfer, cash reward, e-voucher dan sebagainya.

“Layanan Salam Al Azhar juga dilengkapi dengan sistem pembayaran berbasis QR code yang akan memudahkan gaya hidup penggunanya,” pungkasnya.

Indosat dan 5 Partner nya Bangun Sistem Jaringan Kabel Bawah Laut Baru

0

Telko.id – AARNet, Google, Indosat Ooredoo, Singtel, SubPartners, dan Telstra hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan Alcatel Submarine Networks (ASN) untuk membangun sistem jaringan kabel bawah laut internasional baru yang akan menghubungkan Singapura, Indonesia dan Australia.

Setelah pembangunan selesai, sistem kabel INDIGO (sebelumnya dikenal sebagai APX West & Central) ini akan memperkuat hubungan komunikasi antara Australia dan negara-negara di Asia Tenggara yang sedang berkembang pesat, dapat mengurangi latency dan meningkatkan keandalan. Dengan menggunakan teknologi optik terpadu mutakhir, setiap dua pasang kabel serat optik dapat memiliki kapasitas minimal 18 Terabit per detik, dengan kemungkinan peningkatan kapasitas di kemudian hari.

Sistem ini akan menggunakan rancangan dua pasang serat optik ‘open cable’ dengan teknologi pembagian spektrum. Anggota konsorsium akan memiliki spektrum tersendiri yang memberikan kemampuan secara independen untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi ini dan melakukan peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan di kemudian hari.

Sistem kabel laut INDIGO membentang sepanjang kurang lebih 9000 km yang menghubungkan Singapura dan Perth, sampai ke Sydney. Dalam sistem ini terdapat tambahan dua pasang kabel serat optik yang menghubungkan Singapura dan Jakarta melalui sebuah unit percabangan (branching unit). Sistem kabel laut ini akan mendarat di fasilitas stasiun kabel laut yang saat ini telah ada di Singapura, Australia dan Indonesia.

David Burns, Managing Director, Global Services and International, Telstra Group, mengatakan: “Pertumbuhan konsumsi data internet yang mencapai 70% tahun lalu di Asia membuat investasi di jaringan internasional menjadi hal yang penting untuk menjawab kebutuhan konsumen dan bisnis yang saling terhubung. Hal ini akan menjadi infrastruktur teknologi penting yang menghubungkan Asia Tenggara dan Australia, dan merupakan kelanjutan dari berbagai peningkatan jaringan yang baru-baru ini dilakukan Telstra untuk memenuhi permintaan data dan konektivitas yang lebih baik dari konsumen kami di Asia Pasifik.”

“Kerja sama strategis ini adalah pencapaian yang besar bagi dunia riset dan edukasi Australia,” ungkap Chris Hancock, CEO, AARNet. “Hal ini akan menyediakan infrastruktur penting bagi kerja sama riset dan edukasi transnasional yang semakin tumbuh antara Australia dan partner kami di Asia.”

“Kami berkomitmen untuk menyediakan akses digital dan telekomunikasi yang baik bagi Indonesia. Konsorsium INDIGO adalah kerja sama penting dan strategis bagi Indosat Ooredoo yang akan menyediakan layanan digital bagi masyarakat Indonesia. Bersama-sama, kami akan menyediakan koneksi data dan akses internet kelas dunia yang sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia,” kata Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat Ooredoo.

Alex juga menambahkan bahwa Ketersediaan infrastruktur jaringan berkecepatan tinggi, baik dari dan menuju Indonesia, sangat penting bagi konsumen bisnis dan personal di Indonesia agar dapat terhubung dengan konten global. Itu sebabnya, Indosat percaya bahwa kerja sama yang baik dengan konsorsium ini akan menghasilkan alternatif yang dapat diandalkan oleh lalu lintas data yang terus berkembang.

“Pembangunan INDIGO sesuai dengan peningkatan permintaan jaringan pita lebar berkecepatan tinggi antara Asia dan Australia. Sistem kabel ini melengkapi jaringan global kami yang menghubungkan Asia, Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Timur Tengah. INDIGO akan menyediakan jalur data super cepat bagi Singtel dan anak perusahaan kami, Optus, untuk mendukung perkembangan ekonomi digital di wilayah-wilayah tersebut,” kata Ooi Seng Keat, Vice President, Carrier Services, Group Enterprise, Singtel.

“Penyediaan jaringan yang aman, dapat diandalkan dan berkecepatan tinggi antara Singapura dan Sydney menjadi fokus utama SubPartners semenjak didirikan,” ungkap Bevan Slattery, CEO SubPartners.

Bevan menambahkan bahwa SubPartners juga merasa senang dapat menjadi bagian dari sistem kabel INDIGO, dan akhirnya bisa merealisasikan proyek infrastruktur yang sangat penting ini, sehingga kami dapat menyediakan sebuah jalur internasional bagi Australia menuju Asia Tenggara.

ASN akan membangun sistem komunikasi kabel laut ini, yang diharapkan selesai pada pertengahan 2019. (Icha)

NexSat Combo Layana Baru Perpaduan TV Berlangganan dan Internet

0

Telko.id – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah memacu lahirnya berbagai layanan hiburan inovatif dengan segala keunggulannya. Fenomena ini mempengaruhi tuntutan masyarakat dan pasar untuk mendapatkan layanan hiburan yang lebih luas, berkualitas, kaya akan manfaat, simpel, dan harga terjangkau. Menjawab kebutuhan ini, Nexmedia sebagai penyedia TV berlangganan praktis tanpa parabola bersama dengan Indosat Ooredoo Business sepakat untuk melakukan kerjasama strategis melalui program “NexSat Combo” yang memadukan layanan TV berlangganan berkualitas dan internet berkecepatan tinggi kepada pelanggan.

Kemitraan strategis ini ditandatangani oleh Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo dan Junus Koswara, Presiden Direktur Nexmedia, yang juga dihadiri oleh pejabat senior lainnya dari Nexmedia dan Indosat Ooredoo Business di SCTV Tower Senayan, Jakarta Pusat.

Hanya dengan harga mulai dari Rp 190 ribuan per bulan, pelanggan Nexmedia akan dapat menikmati tayangan channel kelas dunia seperti BeIN Sports 1, FOX, AXN, Star World dan masih banyak lagi; dan juga akan mendapatkan paket data dari Indosat Ooredoo business sebesar 20GB di jaringan 4G Plus, 6GB di jaringan 3G/4G, 5000 menit telpon ke sesama pelanggan Indosat Ooredoo, 30 menit telpon ke semua operator, dan 5000 SMS. Jika pelanggan ingin memiliki Mifi modem untuk koneksi internetnya, pelanggan hanya perlu membayar mulai Rp 240 ribuan per bulan untuk mendapatkan paket di atas plus Mifi Huawei E5577.

“Sinergi Indosat Ooredoo Business bersama Nexmedia ini menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses internet cepat melalui jaringan 4G Plus serta layanan hiburan yang berkualitas serta mendidik melalui televisi berlangganan. Inisiatif ini juga sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, kami ingin membawa manfaat digital semaksimal mungkin bagi bisnis dan masyarakat di Indonesia,” demikian disampaikan Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo.

“Sebuah kebanggaan bagi kami dapat berkerjasama dengan salah satu penyedia layanan telekomunikasi terkemuka di Indonesia yaitu Indosat Ooredoo Business. NexSat Combo kami hadirkan tidak hanya untuk menjawab tuntutan pasar dalam menghadirkan media hiburan yang lebih lengkap, namun juga sebagai wujud komitmen kami dalam melayani para pelanggan setia kami” tambah Andy Jobs selaku Direktur Marketing, Sales dan Produk Nexmedia.

Diharapkan kerjasama antara kedua perusahaan ini dapat memberikan manfaat lebih bagi pelanggan Nexmedia untuk dapat mengakses internet berkecepatan tinggi di jaringan Indosat Ooredoo yang sudah tersebar di Indonesia sebagai persembahan Indosat Ooredoo Business sambil menikmati tayangan channel kelas dunia dari Nexmedia dengan biaya terjangkau. (Icha)

Indosat ‘Cetak’ Investor Pasar Modal Muda

0

Telko.id – Saat ini investor pasar modal di Indonesia masih berada di angka 564.952 single investor identification (SID). Masih sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 240 juta atau kurang dari 1%. Melihat kondisi ini, Indosat ingin ikut berpartisipasi. Caranya dengan membuat kompetisi Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016, Targetnya adalah untuk mencetak pemain saham yang andal.

ISTC 2016 ini merupakan ajang kompetisi yang kedua yang direspon cukup baik oleh masyarakat. Setidaknya, terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu yang pesertanya berjumlah 8000 orang, tahun ini bisa mencapai 10 ribu peserta.

“Melihat antusias peserta, kami percaya bahwa program ISTC ini merupakan salah satu program yang dapat mewujudkan Indonesia sebagai salah satu Negara ekonomi terbesar di Asia,” kata Alexander Rusli, CEO Indosat Ooredoo.

Direktur pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan juga optimis dengan kondisi bursa saham Indonesia yang semakin atraktif dalam beberapa tahun terakhir akan merangsang minat masyarakat untuk menjadi investor di BEI.

Dalam kompetisinya, para peserta ISTC 2016 ditantang menggunakan aplikasi mobile untuk melakukan simulasi secara virtual namun dengan penggunaan data yang real time dari BEI. Adapun aplikasinya sendiri merupakan hasil kerjasama Indosat Ooredoo dengan BEI dan Trimegah Securities.

Setelah melalui sejumlah tahapan, dipilih masing tiga pemenang dari dua kategori yang dilombakan, yakni pelajar dan umum. Dari kategori pelajar, mahasiswa asal Universitas Brawijaya Malang bernama Firdaus Sahrul Anggara menjadi juara satu, dikuti juara dua dan tiga yang masing-masing berasal dari Universitas Andalas Padang dan Universitas Brawijaya lagi.

Sedangkan di kategori umum juaranya dipegang oleh Dwi Winarno asal Depok, disusul dua orang lainnya yang berasal dari Sleman, Yogyakarta dan Jakarta. “Kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal itu merupakan salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia,” kata Alexander Rusli. (Icha)

Ini Persiapan Telkomsel Sambut Era 5G

0

Telko.id – Era 5G memang secara dunia masih 3 tahun lagi yakni tahun 2020. Sampai saat ini, standarisasi 5G yang disepakati pun masih belum ditetapkan oleh ITU atau International Telecommunications Union. Namun, sudah banyak pihak yang bersiap untuk menghadapi era 5G itu yang diyakini akan memberikan peluang bisnis yang luar biasa.

Telkomsel sebagai operator terbesar di Indonesia pun tidak tinggal diam. Bersama partner nya Huawei melakukan uji coba pertama di Indonesia teknologi 3rd Generation Partnership Project (3GPP) Massive Internet of Things (IoT) dan teknologi Frequency Division Duplexing (FDD) Massive Multiple-Input and Multiple-Output (MIMO). Uji coba ini merupakan salah satu upaya Telkomsel untuk mengakselerasi terbentuknya ekosistem IoT, sekaligus menandai dimulainya persiapan menuju penerapan teknologi 5G di Indonesia.

Standarisasi teknologi 5G didesain untuk melayani tiga karakteristik ekstrem layanan seluler, yaitu Enhanced Mobile Broadband (eMBB), Massive Machine Type Communications (mMTC), dan Ultra-reliable and Low Latency Communications (uRLLC).

Uji coba Massive IoT kali ini menggunakan teknologi radio akses Narrowband IoT (NB-IoT) yang sepenuhnya memenuhi standar 3GPP dan dilakukan pada frekuensi 900 MHz dengan metode stand alone sehingga jangkauannya lebih dalam atau lebih luas. Teknologi radio akses NB-IoT, yang merupakan salah satu jenis teknologi jaringan Low Power Wide Area (LPWA), memungkinkan perangkat beroperasi hingga 10 tahun tanpa pengisian daya ulang baterai sehingga sangat menghemat biaya. Teknologi ini juga mampu menghasilkan kapasitas koneksi yang masif untuk solusi dan aplikasi berbasis IoT mMTC yang beragam, antara lain Smart Water Meter, Smart Parking, Bike Sharing, Smart Electricity Meter, Smart Agriculture, dan Fleet Management.

Sementara itu, FDD Massive MIMO merupakan teknologi antena yang telah dirancang untuk menghasilkan kapasitas sistem yang lima kali lebih besar dibandingkan teknologi Long Term Evolution (LTE) 2×2 MIMO pada umumnya. Teknologi ini merupakan salah satu kunci dalam implementasi teknologi 5G untuk meningkatkan kapasitas dan pengalaman pengguna dalam layanan eMBB.

“Kami terus meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan untuk menghadapi tren IoT yang sedang berkembang secara global. Hal ini sejalan dengan visi kami untuk melakukan transformasi digital dan senantiasa menjadi yang terdepan dalam menerapkan perkembangan teknologi seluler terkini yang akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia di masa depan. Telkomsel menjadi operator pertama di Indonesia yang menerapkan NB-IoT dan FDD Massive MIMO sebagai tahapan menuju diimplementasikannya teknologi 5G,” kata Sukardi Silalahi Direktur Network Telkomsel.

Demo yang dilakukan Telkomsel dan Huawei dalam uji coba ini adalah solusi Smart Water Meter dan Smart Parking. Pada demo Smart Water Meter, meteran air mengirimkan data dan diterima oleh platform IoT yang kemudian meneruskannya ke aplikasi mobile secara real time, di mana aplikasi tersebut menampilkan hasil pengukurannya.

Sementara pada demo Smart Parking, ketika sensor mendeteksi keberadaan mobil di atas spot parkir, maka status spot parkirnya “terisi”, yang juga terlihat di aplikasi mobile. Solusi Smart Parking berbasis jaringan seluler dengan menggunakan teknologi LPWA sangat cocok diaplikasikan ke fasilitas parkir outdoor, di mana sensor parkir mampu beroperasi dengan menggunakan baterai dalam jangka waktu yang lama.

Dalam dunia IoT, jaringan seluler dengan cakupan yang luas dibutuhkan untuk mendukung miliaran mesin yang dioperasikan secara remote untuk merekam dan menerjemahkan data yang kemudian digunakan untuk berbagai industri. “Uji coba ini menunjukkan bagaimana teknologi seluler dapat mendukung akselerasi perkembangan ekosistem IoT di masa mendatang untuk mendukung produktivitas bisnis dan kualitas hidup, sekaligus mempercepat proses terwujudnya Smart City di berbagai kota di Indonesia yang penerapannya akan mentransformasi berbagai aspek kehidupan masyarakat,” jelas Sukardi.

Deputy CEO Huawei Indonesia Sun Xi Wei mengatakan, “Uji coba Massive IoT yang didukung teknologi LPWA NB-IoT termutakhir dari Huawei ini merupakan sebuah terobosan besar yang akan memberikan banyak manfaat untuk memberdayakan IoT yang lebih efisien pada konektivitas mobile di Indonesia. Kemitraan teknologi ini didasarkan pada hubungan strategis dan teknis dalam mengatasi kompleksitas juga mempersingkat waktu ke pasar-aplikasi IoT. Sebagai penyedia solusi ICT terkemuka, Huawei bangga untuk berpartisipasi dalam keberhasilan demo NB-IOT Smart Water Meter dan Smart Parking bersama Telkomsel untuk pertama kalinya di Indonesia.”

Xi Wei melanjutkan, “Kita hidup di era informasi yang sangat cepat dan terus berubah, di mana permintaan akan akses layanan data semakin meningkat dan menimbulkan kendala pada jaringan seluler dikarenakan keterbatasan kapasitas sistem. Teknologi Massive MIMO akan membantu operator seperti Telkomsel untuk meningkatkan efisiensi kapasitas sistem hingga lima kali lipat. Selama ini Huawei telah banyak berinvestasi dalam pengembangan teknologi Massive MIMO sebagai kunci penting dalam teknologi 4.5G maupun 5G dan akan terus memimpin perkembangan ini.”

Khusus untuk IoT, saat ini Telkomsel sedang mencari klien. “Kami sedang menjajaki dengan PDAM, PLN, Pertamina dan perusahaan lain untuk memanfaatkan IoT ini. Selain itu kami juga melakukan penjajakan ke pemerintah daerah dan juga partner existing lainnya,” kata Ivan C Permana, Vice President Next Generation Network Telkomsel.

Ivan juga menambahkan bahwa setidaknya komersialisasi dari IoT ini akan dimulai pada awal tahun depan. Tahun ini baru masuk dalam tahapan pilot project untuk show off ke existing M2M partner agar bisa upgrade ke IoT.

Itu sebabnya, Ivan masih memprediksikan pendapatan dari IoT belum besar di tahun ini. Masih berada di bawah 1% dari total revenue perusahaan. Baru 5 tahun ke depan akan ada kenaikan tetapi itupun tidak besar hanya sekitar 3 -5% saja.

Hal ini disebabkan karena IoT ini memang tidak menghasilkan trafik data yang besar untuk setiap device nya tetapi jumlah device yang akan banyak. Itu sebabnya, Telkomsel pun harus bersiap dengan serbuan device dengan berbagai sensor yang akan muncul saat era 5G. (Icha)

XL Perkuat Ekosistem Data Dengan Bangun 4.5G Xperience Zone

0

Telko.id – Tidak dapat dipungkiri, masih ada masyarakat yang belum terlalu paham dengan dunia digital. Padahal, fenomena ini akan terus semakin kuat ke depan nya. XL sebagai salah satu penyedia layanan data berusaha untuk ikut membangun ekosistem dengan 4.5G Xperience Zone.

Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi ke pelanggan tentang teknologi dan layanan lanjutan dari 4G LTE, sekaligus membentuk ekosistem pendukungnya termasuk dari sisi handset dan device yang mendukung teknologi ini.

“Di sejumlah negara, pasar 4.5G sudah terbentuk dengan pesat seiring dengan pesatnya pertumbuhan kebutuhan layanan data pita lebar kecepatan tinggi. Kami pun yakin, tidak lama lagi kebutuhan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan internet dengan kualitas yang lebih baik lagi akan terus meningkat,” kata Rashad Javier Sanchez, Sr. Advisor XL Center & Postpaid XL Axiata.

Dengan alasan itu juga XL berinisiatif untuk terus memperkuat ekosistem layanan Data melalui 4.5G Xperience Zone ini, sebagai bagian dari kesiapan untuk menyongsong kebutuhan pelanggan di masa mendatang.

Rashad menambahkan, saat ini sudah terlihat indikasi yang menunjukkan masyarakat Indonesia akan segera membutuhkan 4.5G. Hal ini di tandai dengan pesatnya pertumbuhan pemakaian data khususnya 4G dan semakin meningkatnya jumlah pengguna smartphone di XL menjadi 63% di tahun 2016, naik dari 42% di tahun sebelumnya. Selain itu, konsumsi Data per pelanggan juga meningkat pesat didorong tumbuhnya layanan video streaming.”

4.5G Xperience Zone yang disediakan oleh XL Axiata bertempat di gerai XPLOR dan XL Center yang berada di sejumlah kota di berbagai daerah di Indonesia. Di tempat-tempat tersebut telah dilengkapi dengan 4.5G Ready BTS sehingga masyarakat bisa datang untuk mengetahui dan merasakan pengalaman berada di jaringan 4.5G.

Sebanyak 2000 BTS 4.5G Ready ini dilengkapi dengan beberapa teknologi teknologi pendukung 4.5G yaitu 4×4 MIMO, Modulasi 256 QAM, dan Carrier Aggregation (CA). Setidaknya, sampai akhir tahun XL akan menambah 500 sampai 1000 BTS 4.5G ready disesuaikan dengan potensi pasar.

Menggunakan sarana 4.5G Xperience Zone tersebut, XL Axiata juga menyediakan layanan edukasi tentang 4.5G kepada masyarakat luas. Terdapat pajangan (display) beberapa gawai yang sudah mulai mendukung beberapa teknologi 4.5G ini. Masyarakat juga bisa mencoba layanan 4.5G bila smartphone-nya sudah mendukung salah satu atau beberapa teknologi 4.5G ini atau bisa juga mengaksesnya melalui sinyal WiFi yang dipancarkan dari Terminal 4.5G Xperience Zone

XL 4.5G Xperience Zone pada tahap awal tersedia di 20 lokasi yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Antara lain ada wilayah Jabotabek sebanyak 8 lokasi, juga di Bandung, Cirebon, Yogyakarta, dan Surabaya. Lalu di luar Jawa ada di Denpasar, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Manado, dan Banjarmasin. Pengembangannya lebih lanjut akan mengikuti perluasan layanan 4G ke kota-kota besar lainnya.

Rashad juga menjelaskan ada tiga hal yang akan dilakukan XL Axiata untuk mengakomodasi kebutuhan terhadap kecepatan dan kapasitas layanan Data pita lebar yang akan terus meningkat dalam waktu dekat ini.

Pertama, membangun ekosistem 4.5G di Indonesia, antara lain dengan mengundang penyedia device, baik pabrikan ataupun principal, untuk bisa melakukan testing devices yang akan di luncurkan di Indonesia. Tentunya, tes ini perlu dilakukan di XL 4.5G Xperience Zone untuk memastikan dukungan layanan teknologi pendukung 4.5G di perangkat yang di uji. Saat ini sudah mulai dilakukan testing devices dari beberapa principal dan pabrikan seperti dari Erafone, Netgear, Huawei, dan Askey.

Kedua, mengenalkan arah perkembangan teknologi 4G ke masyarakat, baik pelanggan XL maupan masyarakat pada umumnya. Pengenalan ini antara lain meliputi pengetahuan mengenai teknologi 4.5G, selain juga memberikan pengalaman langsung kecanggihan teknologi mendatang di XL 4.5G Xperience Zone.

Dengan mengenal lebih lanjut, maka masyarakat akan mengetahui apa manfaat yang bisa didapatkan dari teknologi terbaru ini dan penyesuaian yang perlu di lakukan dalam pemilihan perangkat yang mendukung layanan 4.5G.

Ketiga, dengan kesiapan pengetahuan masyarakat tentang 4.5G dan ekosistem pendukungnya, XL Axiata juga mendukung visi pemerintah untuk menggelar layanan 4.5G di Asian Games 2018. Seperti sudah diketahui, Menkominfo beberapa waktu yang lalu menyatakan harapannya agar layanan 4,5G sudah bisa dioperasikan secara maksimal untuk mendukung hajatan olahraga terbesar di Asia tersebut, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Jakarta dan Palembang telah ditetapkan menjadi lokasi penyelenggaraan cabang-cabang olahraga Asian Games.
XL Axiata juga terus memperkuat infrastruktur pendukung layanan 4,5G.

Tahun 2017 ini, managemen XL Axiata juga telah menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar sekitar Rp 7 triliun. Alokasi belanja modal tersebut sesuai dengan fokus XL Axiata di tahun 2017 ini, yaitu memperluas dan meningkatkan jaringan 4G. Pada tahun ini XL Axiata akan membangun sekitar 17 ribu BTS 4G di berbagai daerah.

Pada skala kota, XL Axiata mentargetkan akan mengembangkan terus layanan 4G ke lebih dari 330 kota di berbagai daerah, termasuk di luar Jawa. Saat ini, cakupan layanan 4G dari XL Axiata telah mencapai sekitar 53% populasi Indonesia. (Icha)