spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1520

Rangkul Komunitas, Doku dan iGlobal Arsiteki Aplikasi Bertajuk Salam Al Azhar

0

Telko.id – Sebuah aplikasi bernama “Salam Al Azhar” diperkenalkan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar hari ini, Jumat (7/4/2017). Ditenagai oleh penyedia solusi pembayaran elektronik Doku, aplikasi ini tak hanya memungkinkan penggunanya dapat dengan mudah mengakses beragam aplikasi pendidikan, tetapi juga melakukan pembayaran dan banyak lagi.

“Aplikasi Salam Al Azhar adalah bentuk komitmen Doku untuk terus memperluas ekosistem “cashless society”, tak terkecuali untuk sektor pendidikan. Dengan aplikasi ini, diharapkan bisa mengembangkan potensi yang ada, baik bagi siswa, orangtua maupun masyarakat luas,” kata Irfan Burhan, VP Merchant Business Doku dalam acara perkenalan yang dilangsungkan di aula Masjid Agung Al Azhar.

Salam Al Azhar sendiri, yang merupakan co-branding dari platform sistem pendidikan modern (LEKAR Apps), seperti diungkapkan Ketua Umum YPI Al Azhar, H. Muhammad Suhadi, merupakan sebuah “rumah besar komunitas” berbasis teknologi digital terkini yang hadir berkat Joint Operation antara Doku, PT. Indoglobal Nusa (iGlobal) dan Persyarikatan Al Azhar.

“Ini adalah sebuah terobosan terbaru yang hadir untuk merangkul seluruh komunitas keluarga besar Al Azhar dimanapun mereka berada, untuk dapat bergabung, bersilaturahmi dan saling memberikan manfaat bagi sesama dan masyarakat luas,” katanya.

Salam Al Azhar telah beroperasi secara resmi sejak 14 November 2016 dengan aktivitas awal untuk mendukung aktivitas PMB (Pendaftaran Murid Baru) dan beragam pembayaran uang pangkal, uang sekolah dan donasi bagi para murid Sekolah Islam Sekolah Al Azhar secara online, baik dari smartphone, komputer/laptop ataupun aplikasi mobile berbasis Android dan Apple.

Salam Al Azhar powered by Doku didesain sebagai sebuah layanan komunitas yang tak hanya mudah untuk diakses, tetapi juga lengkap. Melalui aplikasi ini pengguna tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas tetapi juga mendapat informasi.

Untuk itu, lanjut Irfan, sejumlah fitur unggulan pun dibenamkan Doku di aplikasi ini termasuk layanan pendaftaran sekolah, laporan kegiatan sekolah, layanan Informasi nilai, konseling pendidikan, pembayaran uang formulir, SPP bulanan, hingga pembayaran ZISWAF (zakat Infaq, sedekah dan wakaf).

Itu belum termasuk beragam layanan pendukung gaya hidup, kuliner, travel, leisure, Investasi, belanja, jaringan bioskop hingga layanan keuangan seperti e-wallet, pendanaan, pembayaran, pembelian, tarik tunai, transfer, cash reward, e-voucher dan sebagainya.

“Layanan Salam Al Azhar juga dilengkapi dengan sistem pembayaran berbasis QR code yang akan memudahkan gaya hidup penggunanya,” pungkasnya.

Indosat dan 5 Partner nya Bangun Sistem Jaringan Kabel Bawah Laut Baru

0

Telko.id – AARNet, Google, Indosat Ooredoo, Singtel, SubPartners, dan Telstra hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan Alcatel Submarine Networks (ASN) untuk membangun sistem jaringan kabel bawah laut internasional baru yang akan menghubungkan Singapura, Indonesia dan Australia.

Setelah pembangunan selesai, sistem kabel INDIGO (sebelumnya dikenal sebagai APX West & Central) ini akan memperkuat hubungan komunikasi antara Australia dan negara-negara di Asia Tenggara yang sedang berkembang pesat, dapat mengurangi latency dan meningkatkan keandalan. Dengan menggunakan teknologi optik terpadu mutakhir, setiap dua pasang kabel serat optik dapat memiliki kapasitas minimal 18 Terabit per detik, dengan kemungkinan peningkatan kapasitas di kemudian hari.

Sistem ini akan menggunakan rancangan dua pasang serat optik ‘open cable’ dengan teknologi pembagian spektrum. Anggota konsorsium akan memiliki spektrum tersendiri yang memberikan kemampuan secara independen untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi ini dan melakukan peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan di kemudian hari.

Sistem kabel laut INDIGO membentang sepanjang kurang lebih 9000 km yang menghubungkan Singapura dan Perth, sampai ke Sydney. Dalam sistem ini terdapat tambahan dua pasang kabel serat optik yang menghubungkan Singapura dan Jakarta melalui sebuah unit percabangan (branching unit). Sistem kabel laut ini akan mendarat di fasilitas stasiun kabel laut yang saat ini telah ada di Singapura, Australia dan Indonesia.

David Burns, Managing Director, Global Services and International, Telstra Group, mengatakan: “Pertumbuhan konsumsi data internet yang mencapai 70% tahun lalu di Asia membuat investasi di jaringan internasional menjadi hal yang penting untuk menjawab kebutuhan konsumen dan bisnis yang saling terhubung. Hal ini akan menjadi infrastruktur teknologi penting yang menghubungkan Asia Tenggara dan Australia, dan merupakan kelanjutan dari berbagai peningkatan jaringan yang baru-baru ini dilakukan Telstra untuk memenuhi permintaan data dan konektivitas yang lebih baik dari konsumen kami di Asia Pasifik.”

“Kerja sama strategis ini adalah pencapaian yang besar bagi dunia riset dan edukasi Australia,” ungkap Chris Hancock, CEO, AARNet. “Hal ini akan menyediakan infrastruktur penting bagi kerja sama riset dan edukasi transnasional yang semakin tumbuh antara Australia dan partner kami di Asia.”

“Kami berkomitmen untuk menyediakan akses digital dan telekomunikasi yang baik bagi Indonesia. Konsorsium INDIGO adalah kerja sama penting dan strategis bagi Indosat Ooredoo yang akan menyediakan layanan digital bagi masyarakat Indonesia. Bersama-sama, kami akan menyediakan koneksi data dan akses internet kelas dunia yang sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia,” kata Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat Ooredoo.

Alex juga menambahkan bahwa Ketersediaan infrastruktur jaringan berkecepatan tinggi, baik dari dan menuju Indonesia, sangat penting bagi konsumen bisnis dan personal di Indonesia agar dapat terhubung dengan konten global. Itu sebabnya, Indosat percaya bahwa kerja sama yang baik dengan konsorsium ini akan menghasilkan alternatif yang dapat diandalkan oleh lalu lintas data yang terus berkembang.

“Pembangunan INDIGO sesuai dengan peningkatan permintaan jaringan pita lebar berkecepatan tinggi antara Asia dan Australia. Sistem kabel ini melengkapi jaringan global kami yang menghubungkan Asia, Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Timur Tengah. INDIGO akan menyediakan jalur data super cepat bagi Singtel dan anak perusahaan kami, Optus, untuk mendukung perkembangan ekonomi digital di wilayah-wilayah tersebut,” kata Ooi Seng Keat, Vice President, Carrier Services, Group Enterprise, Singtel.

“Penyediaan jaringan yang aman, dapat diandalkan dan berkecepatan tinggi antara Singapura dan Sydney menjadi fokus utama SubPartners semenjak didirikan,” ungkap Bevan Slattery, CEO SubPartners.

Bevan menambahkan bahwa SubPartners juga merasa senang dapat menjadi bagian dari sistem kabel INDIGO, dan akhirnya bisa merealisasikan proyek infrastruktur yang sangat penting ini, sehingga kami dapat menyediakan sebuah jalur internasional bagi Australia menuju Asia Tenggara.

ASN akan membangun sistem komunikasi kabel laut ini, yang diharapkan selesai pada pertengahan 2019. (Icha)

NexSat Combo Layana Baru Perpaduan TV Berlangganan dan Internet

0

Telko.id – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah memacu lahirnya berbagai layanan hiburan inovatif dengan segala keunggulannya. Fenomena ini mempengaruhi tuntutan masyarakat dan pasar untuk mendapatkan layanan hiburan yang lebih luas, berkualitas, kaya akan manfaat, simpel, dan harga terjangkau. Menjawab kebutuhan ini, Nexmedia sebagai penyedia TV berlangganan praktis tanpa parabola bersama dengan Indosat Ooredoo Business sepakat untuk melakukan kerjasama strategis melalui program “NexSat Combo” yang memadukan layanan TV berlangganan berkualitas dan internet berkecepatan tinggi kepada pelanggan.

Kemitraan strategis ini ditandatangani oleh Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo dan Junus Koswara, Presiden Direktur Nexmedia, yang juga dihadiri oleh pejabat senior lainnya dari Nexmedia dan Indosat Ooredoo Business di SCTV Tower Senayan, Jakarta Pusat.

Hanya dengan harga mulai dari Rp 190 ribuan per bulan, pelanggan Nexmedia akan dapat menikmati tayangan channel kelas dunia seperti BeIN Sports 1, FOX, AXN, Star World dan masih banyak lagi; dan juga akan mendapatkan paket data dari Indosat Ooredoo business sebesar 20GB di jaringan 4G Plus, 6GB di jaringan 3G/4G, 5000 menit telpon ke sesama pelanggan Indosat Ooredoo, 30 menit telpon ke semua operator, dan 5000 SMS. Jika pelanggan ingin memiliki Mifi modem untuk koneksi internetnya, pelanggan hanya perlu membayar mulai Rp 240 ribuan per bulan untuk mendapatkan paket di atas plus Mifi Huawei E5577.

“Sinergi Indosat Ooredoo Business bersama Nexmedia ini menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses internet cepat melalui jaringan 4G Plus serta layanan hiburan yang berkualitas serta mendidik melalui televisi berlangganan. Inisiatif ini juga sejalan dengan visi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, kami ingin membawa manfaat digital semaksimal mungkin bagi bisnis dan masyarakat di Indonesia,” demikian disampaikan Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo.

“Sebuah kebanggaan bagi kami dapat berkerjasama dengan salah satu penyedia layanan telekomunikasi terkemuka di Indonesia yaitu Indosat Ooredoo Business. NexSat Combo kami hadirkan tidak hanya untuk menjawab tuntutan pasar dalam menghadirkan media hiburan yang lebih lengkap, namun juga sebagai wujud komitmen kami dalam melayani para pelanggan setia kami” tambah Andy Jobs selaku Direktur Marketing, Sales dan Produk Nexmedia.

Diharapkan kerjasama antara kedua perusahaan ini dapat memberikan manfaat lebih bagi pelanggan Nexmedia untuk dapat mengakses internet berkecepatan tinggi di jaringan Indosat Ooredoo yang sudah tersebar di Indonesia sebagai persembahan Indosat Ooredoo Business sambil menikmati tayangan channel kelas dunia dari Nexmedia dengan biaya terjangkau. (Icha)

Indosat ‘Cetak’ Investor Pasar Modal Muda

0

Telko.id – Saat ini investor pasar modal di Indonesia masih berada di angka 564.952 single investor identification (SID). Masih sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 240 juta atau kurang dari 1%. Melihat kondisi ini, Indosat ingin ikut berpartisipasi. Caranya dengan membuat kompetisi Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016, Targetnya adalah untuk mencetak pemain saham yang andal.

ISTC 2016 ini merupakan ajang kompetisi yang kedua yang direspon cukup baik oleh masyarakat. Setidaknya, terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu yang pesertanya berjumlah 8000 orang, tahun ini bisa mencapai 10 ribu peserta.

“Melihat antusias peserta, kami percaya bahwa program ISTC ini merupakan salah satu program yang dapat mewujudkan Indonesia sebagai salah satu Negara ekonomi terbesar di Asia,” kata Alexander Rusli, CEO Indosat Ooredoo.

Direktur pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan juga optimis dengan kondisi bursa saham Indonesia yang semakin atraktif dalam beberapa tahun terakhir akan merangsang minat masyarakat untuk menjadi investor di BEI.

Dalam kompetisinya, para peserta ISTC 2016 ditantang menggunakan aplikasi mobile untuk melakukan simulasi secara virtual namun dengan penggunaan data yang real time dari BEI. Adapun aplikasinya sendiri merupakan hasil kerjasama Indosat Ooredoo dengan BEI dan Trimegah Securities.

Setelah melalui sejumlah tahapan, dipilih masing tiga pemenang dari dua kategori yang dilombakan, yakni pelajar dan umum. Dari kategori pelajar, mahasiswa asal Universitas Brawijaya Malang bernama Firdaus Sahrul Anggara menjadi juara satu, dikuti juara dua dan tiga yang masing-masing berasal dari Universitas Andalas Padang dan Universitas Brawijaya lagi.

Sedangkan di kategori umum juaranya dipegang oleh Dwi Winarno asal Depok, disusul dua orang lainnya yang berasal dari Sleman, Yogyakarta dan Jakarta. “Kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal itu merupakan salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia,” kata Alexander Rusli. (Icha)

Ini Persiapan Telkomsel Sambut Era 5G

0

Telko.id – Era 5G memang secara dunia masih 3 tahun lagi yakni tahun 2020. Sampai saat ini, standarisasi 5G yang disepakati pun masih belum ditetapkan oleh ITU atau International Telecommunications Union. Namun, sudah banyak pihak yang bersiap untuk menghadapi era 5G itu yang diyakini akan memberikan peluang bisnis yang luar biasa.

Telkomsel sebagai operator terbesar di Indonesia pun tidak tinggal diam. Bersama partner nya Huawei melakukan uji coba pertama di Indonesia teknologi 3rd Generation Partnership Project (3GPP) Massive Internet of Things (IoT) dan teknologi Frequency Division Duplexing (FDD) Massive Multiple-Input and Multiple-Output (MIMO). Uji coba ini merupakan salah satu upaya Telkomsel untuk mengakselerasi terbentuknya ekosistem IoT, sekaligus menandai dimulainya persiapan menuju penerapan teknologi 5G di Indonesia.

Standarisasi teknologi 5G didesain untuk melayani tiga karakteristik ekstrem layanan seluler, yaitu Enhanced Mobile Broadband (eMBB), Massive Machine Type Communications (mMTC), dan Ultra-reliable and Low Latency Communications (uRLLC).

Uji coba Massive IoT kali ini menggunakan teknologi radio akses Narrowband IoT (NB-IoT) yang sepenuhnya memenuhi standar 3GPP dan dilakukan pada frekuensi 900 MHz dengan metode stand alone sehingga jangkauannya lebih dalam atau lebih luas. Teknologi radio akses NB-IoT, yang merupakan salah satu jenis teknologi jaringan Low Power Wide Area (LPWA), memungkinkan perangkat beroperasi hingga 10 tahun tanpa pengisian daya ulang baterai sehingga sangat menghemat biaya. Teknologi ini juga mampu menghasilkan kapasitas koneksi yang masif untuk solusi dan aplikasi berbasis IoT mMTC yang beragam, antara lain Smart Water Meter, Smart Parking, Bike Sharing, Smart Electricity Meter, Smart Agriculture, dan Fleet Management.

Sementara itu, FDD Massive MIMO merupakan teknologi antena yang telah dirancang untuk menghasilkan kapasitas sistem yang lima kali lebih besar dibandingkan teknologi Long Term Evolution (LTE) 2×2 MIMO pada umumnya. Teknologi ini merupakan salah satu kunci dalam implementasi teknologi 5G untuk meningkatkan kapasitas dan pengalaman pengguna dalam layanan eMBB.

“Kami terus meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan untuk menghadapi tren IoT yang sedang berkembang secara global. Hal ini sejalan dengan visi kami untuk melakukan transformasi digital dan senantiasa menjadi yang terdepan dalam menerapkan perkembangan teknologi seluler terkini yang akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia di masa depan. Telkomsel menjadi operator pertama di Indonesia yang menerapkan NB-IoT dan FDD Massive MIMO sebagai tahapan menuju diimplementasikannya teknologi 5G,” kata Sukardi Silalahi Direktur Network Telkomsel.

Demo yang dilakukan Telkomsel dan Huawei dalam uji coba ini adalah solusi Smart Water Meter dan Smart Parking. Pada demo Smart Water Meter, meteran air mengirimkan data dan diterima oleh platform IoT yang kemudian meneruskannya ke aplikasi mobile secara real time, di mana aplikasi tersebut menampilkan hasil pengukurannya.

Sementara pada demo Smart Parking, ketika sensor mendeteksi keberadaan mobil di atas spot parkir, maka status spot parkirnya “terisi”, yang juga terlihat di aplikasi mobile. Solusi Smart Parking berbasis jaringan seluler dengan menggunakan teknologi LPWA sangat cocok diaplikasikan ke fasilitas parkir outdoor, di mana sensor parkir mampu beroperasi dengan menggunakan baterai dalam jangka waktu yang lama.

Dalam dunia IoT, jaringan seluler dengan cakupan yang luas dibutuhkan untuk mendukung miliaran mesin yang dioperasikan secara remote untuk merekam dan menerjemahkan data yang kemudian digunakan untuk berbagai industri. “Uji coba ini menunjukkan bagaimana teknologi seluler dapat mendukung akselerasi perkembangan ekosistem IoT di masa mendatang untuk mendukung produktivitas bisnis dan kualitas hidup, sekaligus mempercepat proses terwujudnya Smart City di berbagai kota di Indonesia yang penerapannya akan mentransformasi berbagai aspek kehidupan masyarakat,” jelas Sukardi.

Deputy CEO Huawei Indonesia Sun Xi Wei mengatakan, “Uji coba Massive IoT yang didukung teknologi LPWA NB-IoT termutakhir dari Huawei ini merupakan sebuah terobosan besar yang akan memberikan banyak manfaat untuk memberdayakan IoT yang lebih efisien pada konektivitas mobile di Indonesia. Kemitraan teknologi ini didasarkan pada hubungan strategis dan teknis dalam mengatasi kompleksitas juga mempersingkat waktu ke pasar-aplikasi IoT. Sebagai penyedia solusi ICT terkemuka, Huawei bangga untuk berpartisipasi dalam keberhasilan demo NB-IOT Smart Water Meter dan Smart Parking bersama Telkomsel untuk pertama kalinya di Indonesia.”

Xi Wei melanjutkan, “Kita hidup di era informasi yang sangat cepat dan terus berubah, di mana permintaan akan akses layanan data semakin meningkat dan menimbulkan kendala pada jaringan seluler dikarenakan keterbatasan kapasitas sistem. Teknologi Massive MIMO akan membantu operator seperti Telkomsel untuk meningkatkan efisiensi kapasitas sistem hingga lima kali lipat. Selama ini Huawei telah banyak berinvestasi dalam pengembangan teknologi Massive MIMO sebagai kunci penting dalam teknologi 4.5G maupun 5G dan akan terus memimpin perkembangan ini.”

Khusus untuk IoT, saat ini Telkomsel sedang mencari klien. “Kami sedang menjajaki dengan PDAM, PLN, Pertamina dan perusahaan lain untuk memanfaatkan IoT ini. Selain itu kami juga melakukan penjajakan ke pemerintah daerah dan juga partner existing lainnya,” kata Ivan C Permana, Vice President Next Generation Network Telkomsel.

Ivan juga menambahkan bahwa setidaknya komersialisasi dari IoT ini akan dimulai pada awal tahun depan. Tahun ini baru masuk dalam tahapan pilot project untuk show off ke existing M2M partner agar bisa upgrade ke IoT.

Itu sebabnya, Ivan masih memprediksikan pendapatan dari IoT belum besar di tahun ini. Masih berada di bawah 1% dari total revenue perusahaan. Baru 5 tahun ke depan akan ada kenaikan tetapi itupun tidak besar hanya sekitar 3 -5% saja.

Hal ini disebabkan karena IoT ini memang tidak menghasilkan trafik data yang besar untuk setiap device nya tetapi jumlah device yang akan banyak. Itu sebabnya, Telkomsel pun harus bersiap dengan serbuan device dengan berbagai sensor yang akan muncul saat era 5G. (Icha)

XL Perkuat Ekosistem Data Dengan Bangun 4.5G Xperience Zone

0

Telko.id – Tidak dapat dipungkiri, masih ada masyarakat yang belum terlalu paham dengan dunia digital. Padahal, fenomena ini akan terus semakin kuat ke depan nya. XL sebagai salah satu penyedia layanan data berusaha untuk ikut membangun ekosistem dengan 4.5G Xperience Zone.

Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi ke pelanggan tentang teknologi dan layanan lanjutan dari 4G LTE, sekaligus membentuk ekosistem pendukungnya termasuk dari sisi handset dan device yang mendukung teknologi ini.

“Di sejumlah negara, pasar 4.5G sudah terbentuk dengan pesat seiring dengan pesatnya pertumbuhan kebutuhan layanan data pita lebar kecepatan tinggi. Kami pun yakin, tidak lama lagi kebutuhan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan internet dengan kualitas yang lebih baik lagi akan terus meningkat,” kata Rashad Javier Sanchez, Sr. Advisor XL Center & Postpaid XL Axiata.

Dengan alasan itu juga XL berinisiatif untuk terus memperkuat ekosistem layanan Data melalui 4.5G Xperience Zone ini, sebagai bagian dari kesiapan untuk menyongsong kebutuhan pelanggan di masa mendatang.

Rashad menambahkan, saat ini sudah terlihat indikasi yang menunjukkan masyarakat Indonesia akan segera membutuhkan 4.5G. Hal ini di tandai dengan pesatnya pertumbuhan pemakaian data khususnya 4G dan semakin meningkatnya jumlah pengguna smartphone di XL menjadi 63% di tahun 2016, naik dari 42% di tahun sebelumnya. Selain itu, konsumsi Data per pelanggan juga meningkat pesat didorong tumbuhnya layanan video streaming.”

4.5G Xperience Zone yang disediakan oleh XL Axiata bertempat di gerai XPLOR dan XL Center yang berada di sejumlah kota di berbagai daerah di Indonesia. Di tempat-tempat tersebut telah dilengkapi dengan 4.5G Ready BTS sehingga masyarakat bisa datang untuk mengetahui dan merasakan pengalaman berada di jaringan 4.5G.

Sebanyak 2000 BTS 4.5G Ready ini dilengkapi dengan beberapa teknologi teknologi pendukung 4.5G yaitu 4×4 MIMO, Modulasi 256 QAM, dan Carrier Aggregation (CA). Setidaknya, sampai akhir tahun XL akan menambah 500 sampai 1000 BTS 4.5G ready disesuaikan dengan potensi pasar.

Menggunakan sarana 4.5G Xperience Zone tersebut, XL Axiata juga menyediakan layanan edukasi tentang 4.5G kepada masyarakat luas. Terdapat pajangan (display) beberapa gawai yang sudah mulai mendukung beberapa teknologi 4.5G ini. Masyarakat juga bisa mencoba layanan 4.5G bila smartphone-nya sudah mendukung salah satu atau beberapa teknologi 4.5G ini atau bisa juga mengaksesnya melalui sinyal WiFi yang dipancarkan dari Terminal 4.5G Xperience Zone

XL 4.5G Xperience Zone pada tahap awal tersedia di 20 lokasi yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Antara lain ada wilayah Jabotabek sebanyak 8 lokasi, juga di Bandung, Cirebon, Yogyakarta, dan Surabaya. Lalu di luar Jawa ada di Denpasar, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Manado, dan Banjarmasin. Pengembangannya lebih lanjut akan mengikuti perluasan layanan 4G ke kota-kota besar lainnya.

Rashad juga menjelaskan ada tiga hal yang akan dilakukan XL Axiata untuk mengakomodasi kebutuhan terhadap kecepatan dan kapasitas layanan Data pita lebar yang akan terus meningkat dalam waktu dekat ini.

Pertama, membangun ekosistem 4.5G di Indonesia, antara lain dengan mengundang penyedia device, baik pabrikan ataupun principal, untuk bisa melakukan testing devices yang akan di luncurkan di Indonesia. Tentunya, tes ini perlu dilakukan di XL 4.5G Xperience Zone untuk memastikan dukungan layanan teknologi pendukung 4.5G di perangkat yang di uji. Saat ini sudah mulai dilakukan testing devices dari beberapa principal dan pabrikan seperti dari Erafone, Netgear, Huawei, dan Askey.

Kedua, mengenalkan arah perkembangan teknologi 4G ke masyarakat, baik pelanggan XL maupan masyarakat pada umumnya. Pengenalan ini antara lain meliputi pengetahuan mengenai teknologi 4.5G, selain juga memberikan pengalaman langsung kecanggihan teknologi mendatang di XL 4.5G Xperience Zone.

Dengan mengenal lebih lanjut, maka masyarakat akan mengetahui apa manfaat yang bisa didapatkan dari teknologi terbaru ini dan penyesuaian yang perlu di lakukan dalam pemilihan perangkat yang mendukung layanan 4.5G.

Ketiga, dengan kesiapan pengetahuan masyarakat tentang 4.5G dan ekosistem pendukungnya, XL Axiata juga mendukung visi pemerintah untuk menggelar layanan 4.5G di Asian Games 2018. Seperti sudah diketahui, Menkominfo beberapa waktu yang lalu menyatakan harapannya agar layanan 4,5G sudah bisa dioperasikan secara maksimal untuk mendukung hajatan olahraga terbesar di Asia tersebut, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Jakarta dan Palembang telah ditetapkan menjadi lokasi penyelenggaraan cabang-cabang olahraga Asian Games.
XL Axiata juga terus memperkuat infrastruktur pendukung layanan 4,5G.

Tahun 2017 ini, managemen XL Axiata juga telah menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar sekitar Rp 7 triliun. Alokasi belanja modal tersebut sesuai dengan fokus XL Axiata di tahun 2017 ini, yaitu memperluas dan meningkatkan jaringan 4G. Pada tahun ini XL Axiata akan membangun sekitar 17 ribu BTS 4G di berbagai daerah.

Pada skala kota, XL Axiata mentargetkan akan mengembangkan terus layanan 4G ke lebih dari 330 kota di berbagai daerah, termasuk di luar Jawa. Saat ini, cakupan layanan 4G dari XL Axiata telah mencapai sekitar 53% populasi Indonesia. (Icha)

Data Center Lintasarta Peroleh Sertifikasi Tier 3 Katagori TCCF

0

Telko.id – Lintasarta yang merupakan bagian dari Indosat Ooredoo Group kembali membuktikan sebagai pemimpin untuk pasar layanan Data Center di Indonesia dengan jajaran fasilitas berstandar internasional. Hal ini setelah fasilitas Lintasarta Disaster Recovery Center (DRC) 3 yang berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta mendapatkan sertifikasi Tier III untuk kategori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute.

“Sertifikasi dari Uptime menunjukan kualitas tinggi fasilitas layanan DRC dari Lintasarta. “Sertifikasi TCCF dari Uptime didapatkan melalui audit ketika DRC dalam kondisi aktif atau berjalan dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Uptime dan berlaku secara global,” kata Arya N Soemali, IT Services Director Lintasarta.

Sertifikasi ini melengkapi fasilitas Data Center Lintasarta lainnya seperti Lintasarta Technopark Data Center yang juga telah tersertifikasi Data Center Tier III untuk kategori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute. Sertifikasi ini melengkapi sertifikat Data Center Tier III kategori Tier Certification of Design Documents (TCDD) yang telah didapat sebelumnya.

Lintasarta telah memiliki Data Center dan DRC yang memiliki standar kelas dunia, melalui keberadaan Lintasarta Technopark Data Center dan Lintasarta DRC 3. Data Center Lintasarta juga telah masuk dalam jajaran 4 besar dalam kategori Data Center Technical Breakthrough pada ajang penghargaan Datacloud Asia Awards pada akhir Februari 2017 lalu di Singapura. Pada kategori tersebut, Lintasarta bersandingan dengan perusahaan penyedia layanan Data Center besar lainnya di tingkat global khususnya Asia yaitu Telin Singapore, Digital Realty, dan Kingsland Data Center.

Menurut Arya, Keunggulan DRC 3 yang memiliki kapasitas luas total 6.000 m2 dipasok oleh dua sumber listrik dari dua provider berbeda yaitu PLN dan Perum Jasa Tirta II untuk meningkatkan availabilitas layanan. Lintasarta akan memberikan solusi total penyimpanan data yang handal dengan menyediakan layanan colocation, network, dan managed service dengan model bisnis sewa. Solusi ini membuat pelaku industri dapat mengikuti trend perusahaan global dimana harus fokus kepada bisnis utama dan beralih dari capital expenditure (capex) menjadi operational expenditure (opex).

Kelebihan DRC 3 lainnya adalah fasilitas working area yang luas dan nyaman baik untuk kebutuhan Disaster Recovery Procedure (DRP) maupun aktivitas IT pelanggan. DRC 3 juga didukung dengan sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi standar internasional dari Uptime Institute seperti Accredited Tier Designer di bagian design/build, Accredited Tier Specialist di bagian operations.

Tim data center Lintasarta juga memperoleh sertifikat standar Telecommunications Industry Association (TIA) dan American National Standards Institute (ANSI). Sertifikasi itu di antaranya Certified Data Centre Expert (CDCE), Certified Data Centre Specialist (CDCS), dan Certified Data Centre Professional (CDCP) di bagian design/build. Sertifikat Certified Data Centre Facility Operation Manager (CDFOM) dan Certified Data Centre Migration Specialist (CDMS) juga dimiliki oleh SDM di bidang operasi ditambah Certified TIA942 Design Consultant (CTDC) yang dimiliki karyawan di bidang compliance.

DRC 3 juga telah didukung dengan bisnis proses yang sudah tersertifikasi standar global sehingga menjamin keamanan serta kenyamanan pelanggan. Sertifikasi yang sudah dimiliki diantaranya IS0 9001:2008 tentang sistem manajemen mutu, ISO 27001:2013 tentang sistem manajemen keamanan informasi, ISO 14001:2013 tentang sistem manajemen lingkungan, ISO 20000-1:2011 tentang manajemen layanan teknologi informasi dari British Standards Institution (BSI) dan sertifikasi OHSAS 18001:2007 tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja dari Bureau Veritas, serta sertifikasi PCI-DSS yang merupakan standar information security bagi industri payment card dari Thuv Rheinland.

Melalui jajaran layanan Data Center dan DRC standar internasional ini, Lintasarta memastikan komitmen dalam mendukung peraturan pemerintah melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 38/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Pada peraturan tersebut pihak perbankan diantaranya wajib memiliki rencana pemulihan bencana (BCP) dan penempatan Data Center serta Disaster Recovery Center (DRC) di wilayah Indonesia maksimal pada 15 Oktober 2017. (Icha)

Transformasi Digital Jadi Hal Wajib Bagi Pelaku Bisnis. Kenapa?

0

Telko.id – Perubahan perilaku konsumen dalam menggunakan teknologi digital telah mengubah pula tuntutan mereka terkait kepuasannya akan kualitas produk dan layanan. Transformasi digital saat ini menjadi prioritas bagi para pelaku bisnis di Indonesia sebagai salah satu cara penting menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama dalam memastikan kepuasan pelanggannya.

Sebagai perusahaan penyedia layanan end-to-end Managed Solution, telkomtelstra percaya bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia harus bisa mengimplementasi transformasi digital dengan mengadopsi berbagai solusi bisnis berbasis teknologi yang tepat untuk peningkatan efisiensi, produktivitas perusahaan serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Dalam rangka mendukung program Pemerintah untuk memberdayakan perusahaan di Indonesia menghadapi teknologi berbasis digital saat ini, telkomtelstra yang berkolaborasi dengan IDC, perusahaan analis ternama di Indonesia, berinisiatif untuk menggagas program Digital Transformation yang bertajuk “Digital Transformation Journey: Redefining the Future of Your Enterprise” yang resmi diluncurkan pada tanggal 30 Maret 2017.

Hal ini berdasarkan hasil riset IDC tahun 2016 yang menunjukkan bahwa implementasi IT di sebagian besar perusahaan Indonesia masih belum menerapkan transformasi digital kedalam strategi bisnis mereka, sedangkan pemanfaatan teknologi secara optimal akan sangat krusial dalam mendukung strategi bisnis untuk menghasilkan inovasi di masa depan.

Program Digital Transformation yang diselenggarakan oleh telkomtelstra dan IDC terdiri dari lima rangkaian sesi workshop dengan topik pembahasan terdiri dari lima tahapan antara lain: Organizing for Digital Transformation (Emerging Structures and Approaches), Digital Transformation (Executive Mandate for Investment), New KPIs for Companies Across 5 Dimensions of Digital Transformation, Executing CIOs Role in Digital Transformation, dan Addressing Critical Issues in Digital Transformation.

Dengan mengikuti serangkaian workshop ini, perusahaan dapat mengidentifikasi Digital Maturity Level yang dapat memberikan wawasan serta rekomendasi atas implementasi IT strategy dalam perusahaan terkait.

“Transformasi digital merupakan proses yang harus dijalankan oleh pelaku bisnis, karena adanya kebutuhan dan tuntutan pasar sehingga transformasi digital menjadi strategi bisnis sebuah perusahaan,” kata Erik Meijer, Presiden Direktur telkomtelstra.

Erik menambahkan bahwa “Dengan adanya disrupsi digital di berbagai lini industri, transformasi bisnis menjadi suatu keharusan bagi perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Untuk itu, telkomtelstra mendorong setiap organisasi untuk beradaptasi secara cepat dalam menerapkan transformasi digital yang efektif dan efisien di era berbasis teknologi.

Kebutuhan transformasi digital semakin menyasar ke semua jenis perusahaan dari semua sektor industri, mulai dari UKM hingga perusahaan multinasional. Perusahaan modern saat ini mulai mengaplikasikan teknologi guna membangun model bisnis baru, berorientasi proses, hingga menggunakan perangkat lunak serta sistem yang menciptakan keterhubungan di segala aspek dalam perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini memanfaatkan koneksi serta pendekatan baru untuk strategi bisnis, model operasi bisnis, mengoptimasi proses internal, meningkatkan pengalaman pelanggan, serta mendorong kualitas kinerja karyawannya.

”Digitalisasi telah menjadi faktor esensial untuk mendukung pertumbuhan bisnis saat ini. Perusahaan riset dan konsultansi IDC memprediksi 60% pemimpin perusahaan (CEO) di kawasan Asia Pasifik akan menempatkan transformasi digital sebagai strategi utama perusahaan pada 2017,” kata Sudev Bangah, Country Manager IDC.

Sudev menambahkan bahwa “Di antara negara-negara Asia Pasifik, inisiatif transformasi digital di Indonesia masih dianggap tertinggal dari yang lain (riset IDC 2016). Meskipun banyak perusahaan Indonesia memiliki niat untuk mengubah digital, masih perlu adanya peningkatan kemampuan dalam menerapkan strategi teknologi yang tepat agar tetap kompetitif di era ekonomi terbuka dan globalisasi.

Keberhasilan implementasi transformasi digital dapat dilihat dari adanya pengalaman konsumen yang lebih baik dan inovatif, yang secara langsung akan meningkatkan keuntungan dan citra perusahaan, efisiensi biaya, menjaga kelangsungan bisnis perusahaan, membuat keputusan dengan cepat, serta meningkatkan kepuasan konsumen.

Tidak hanya itu, parameter keberhasilan yang dapat diraih oleh setiap korporasi dari efektivitas penerapan transformasi digital meliputi peningkatan kinerja, daya saing, memperluas market share, dan turut menciptakan ekosistem yang kondusif bagi industri.

“Melalui program Digital Transformation Journey, telkomtelstra mendorong akselerasi transformasi digital perusahaan di Indonesia. Akselerasi ini dibutuhkan seiring dengan masih rendahnya adopsi perusahaan menggunakan layanan berbasis teknologi dalam inovasi dan efisiensi proses bisnisnya,”ungkap Agus F. Abdillah, Chief Product & Synergy Officer telkomtelstra.“

“Telkomtelstra memberikan end-to-end layanan Manage Network Service (MNS), Managed Cloud Services (MCS) terutama solusi hybrid cloud, dan Managed Security Services (MSS). Layanan ini sebenarnya dibutuhkan, namun masih terdapat kesenjangan antara perceived values dan total cost ownership yang harus dikeluarkan oleh perusahaan,”kata Agus F. Abdillah.

Selain itu, belum semua memahami pentingnya partnership dalam transformasi digital, dan adanya isu keamanan data jika layanan IT perusahaan dioperasikan dan dikelola oleh partner pihak ketiga. Oleh sebab itu, penyelenggaraan program Digital Transformation ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang konsisten dan berkelanjutan terkait transformasi digital, yang diharapkan dapat membantu para pelaku bisnis mengakselerasi inovasi dan mengoptimalkan efektifitas serta efisiensi operasi bisnisnya. (Icha)

iGRACIAS Aplikasi Khusus Mahasiswa Telkom University dari Telkomsel

1

Telko.id – Telkomsel bekerja sama dengan Telkom University menghadirkan iGRACIAS Mobile yaitu layanan digital berbasis aplikasi yang akan mempermudah akademisi Telkom University dalam menjalankan aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari di lingkungan kampus.

“Telkomsel yakin, kehadiran aplikasi iGRACIAS Mobile ini dapat mendorong penetrasi layanan gaya hidup digital secara menyeluruh di lingkungan kampus. Kami berharap, Telkom University yang mayoritas penjurusannya mendalami bidang teknologi, akan memanfaatkan layanan aplikasi iGRACIASMobile ini sebagai sarana untuk mempermudah dan digitalisasi aktivitas belajar mengajar di lingkungan kampus,” kata Mas’ud Khamid, Direktur Sales Telkomsel.

Melalui aplikasi iGRACIAS Mobile ini, mahasiswa dapat memanfaatkan sejumlah keunggulan fitur yang ada di dalamnya, seperti mengatur jadwal konsultasi dengan Pembimbing atau Dosen, mendapatkan informasi akademik terbaru, mengatur jadwal kuliah serta melihat letak ruang kuliah. Aplikasi iGRACIAS Mobile ini dapat dinikmati para akademisi Telkom University menggunakan perangkat smartphone dengan mendownload langsung di Google Play Store dan App Store.

“Pemanfaatan layanan informasi kampus berbasis aplikasi ini diharapkan akan memperkuat sinergi Telkomsel dan Telkom University sebagai kesatuan Telkom Group. Layanan aplikasi ini juga akan memperluas pemanfaatannya untuk perguruan tinggi lainnya di seluruh Indonesia, yang mana fitur-fiturnya juga akan dikembangkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan informasi aktivitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut” tambah Mas’ud

Pada kesempatan yang sama di acara penyerahan aplikasi iGRACIAS Mobile oleh Telkomsel kepada pihak Telkom University, diselenggarakan juga kegiatan Kuliah Umum yang dihadiri sekitar 1000 mahasiswa dari berbagai jurusan, dengan menghadirkan pembicara Direktur Human Capital Management Telkomsel, Priyantono Rudito, yang mengangkat tema “Unlocking Your Best Potential From Within To Achieve True Success”.

Penguatan ekosistem gaya hidup digital di lingkungan kampus Telkom University juga didorong Telkomsel melalui pemanfaatan layanan digital money menggunakan layanan TCASH untuk transaksi pembauaran di lingkungan kantin kampus Telkom University. Telkomsel juga menjamin pengalaman digital di lingkungan kampus Telkom University akan semakin terjaga melalui dukungan jaringan broadband terdepan dengan kehadiran 10 BTS 4G LTE Telkomsel yang menjangkau seluruh kawasan kampus Telkom University dan sekitarnya.

“Telkomsel mendukung upaya Telkom University untuk menjadi salah satu kampus percontohan yang mampumengkolaborasikan pemanfaatan layanan teknologi berbasis aplikasi dengan program pendidikan sebagai wujud keseriusan menguatkan konsep ekosistem Smart City di kota Bandung“ tutup Mas’ud. (Icha)

Menkominfo Bakal Serukan Isu Pemerataan Digital di Pertemuan G20

0

Telko.id – Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, akan bertolak ke Dusseldorf, Jerman untuk menghadiri pertemuan G20 Digital Ministers Meetings pada tanggal 6 sampai 8 April mendatang. Pada pertemuan ini, Delegasi Indonesia akan berupaya memasukkan kearifan pola digitalisasi di Indonesia dalam tiga bidang utama, yaitu ekonomi berbagi (shared economy), digitalisasi angkatan kerja (workforce digitalisation), dan keuangan inklusif (financial inclusion) dengan tujuan untuk mampu memberikan ekosistem yang sesuai (common ecosystem) dalam proses digitalisasi.

Sebelumnya delegasi Indonesia telah menyiapkan proposition paper yang naskahnya disusun bersama –sama dengan seluruh pelaku ekosistem ekonomi digital nasional. Pola digitalisasi ini diharapkan dapat menjadi Annexe dari deklarasi dan dapat menjadi dokumen yang berkelanjutan dengan masukan-masukan dari pola digitalisasi di negara-negara lainnya.

Pada naskah tersebut, pada intinya Indonesia menyerukan agar G20 memfokuskan pada inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pendapatan melalui adaptasi dan implementasi yang cepat atas model bisnis dan kerangka kerja digital ekonomi sebagai enabler untuk ekonomi berbagi (shared economy), digitalisasi angkatan kerja (workforce digitalisation), dan inklusi finansial (financial inclusion).

Dalam naskah, Indonesia juga berbagi pengalaman dalam hal keberhasilan menyelenggarakan program-program inkubasi dan pengembangan beragam model bisnis ekonomi digital yang terbukti praktis, efektif, dan scalable untuk mengurangi ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan, melalui pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

Saat ini negara-negara, baik yang sedang berkembang maupun yang telah maju, menghadapi permasalahan besarnya ketimpangan distribusi kekayaan.Hal ini terpancar dari GINI ratio negara-negara anggota G20, termasuk Indonesia.Hal yang memburuk dari distribusi kekayaan adalah angka pengangguran yang naik dan miskinnya kesempatan.

G 20 Country Proportion in % IMF Classification
Germany 30.13 Advanced
Japan 32.11 Advanced
UK 32.57 Advanced
France 33.1 Advanced
Canada 33.68 Advanced
Australia 34.94 Advanced
India 35.15 Emerging
Italy 35.16 Advanced
Indonesia 39.47 Emerging
Turkey 40.18 Emerging
USA 41.06 Advanced
Russia 41.59 Emerging
China 42.16 Emerging
Argentina 42.67 Emerging
Mexico 48.21 Emerging
Brazil 51.48 Emerging
South Africa 63.38 Emerging
Saudi Arabia Not available Emerging
South Korea Not available Advanced

Sebagaimana diindikasikan oleh study OECD, ketimpangan tersebut muncul karena distribusi kekayaan yang tidak tepat, yang merupakan isu bersama dari negara-negara G20[3],
Indonesia melihat bahwa digitalisasi berbagai kegiatan masyarakat menuju Ekonomi Digital merupakan kesempatan yang besar dan memiliki kekuatan untuk memberikan pengaruh kepada pemanfaatan peluang secara cepat dan massif kepada masyarakat luas sehingga bisa menjadi alat atau senjata yang ampuh untuk mengurangi ketimpangan distribusi kekayaan melalui pemanfaatan kesempatan yang nyata di lapangan.

Indonesia memandang bahwa ekonomi berbagi (shared economy), digitalisasi angkatan kerja (workforce digitalisation), dan keuangan inklusif (financial inclusion) merupakan tiga bidang yang paling utama dari proses digitalisasi tersebut. Untuk ketiga bidang tersebut, Indonesia juga memberikan gambaran bagaimana memfokuskan langkah-langkah ke depan dan bagaimana menerapkan kepemimpinan untuk mempercepat dan mendorong pengembangan model bisnis digital (development of innovative digital business model) sehingga dapat mencapainya.

Melalui apa yang sering disebut sebagai sharing economy busines model, digitalisasi bisnis di Indonesia telah menghasilkan semakin banyak orang berkesempatan menjadi bagian dari kemajuan yang dahulunya tidak memiliki kesempatan atau akses. Keberadaan layanan belanja daring, misalnya, membuat berkembangnya sektor-sektor baru yang dulunya stagnan karena kurangnya penggalakan informasi atau exposure.

Digitalisasi UMKM yang telah berlangsung dalam beberapa tahun ini terbukti memberi manfaat dari sisi peningkatan pendapatan, contohnya adalah toko daring seperti Tokopedia dan Bukalapak .

Workforce digitalization telah memberikan kesempatan bagi siapa saja, termasuk perorangan, untuk memulai kesempatan usaha atau memiliki usaha sendiri.Hal ini salah satunya ditunjang berkat keberhasilan dari layanan transportasi yang memanfaatkan sistem menajemen pemesanan daring seperti Go-Jek, misalnya. Penggalakan UMKM secara lebih luas untuk masuk ke digital juga dilakukan dalam kerja sama antara PT. Pos Indonesia dan Nurbaya Initiatives. PT. Pos Indonesia yang memiliki kekuatan kanal distribusi di seluruh Indonesia mendorong dirinya menjadi agen perubahan untuk mendorong UMKM go digital atau online.

Keuangan Inklusif di Indonesia telah mulai bergulir melalui produk-produk perbankan seperti tabungan tanpa memerlukan buku tabungan, namun dengan mamanfaatkan nomor ponsel GSM dan didukung jasa agen untuk meningkatkan jangkauan bank ke masyarakat di pelosok. Inovasi pada bidang financial technology oleh Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN) ini juga dilakukan untuk masyarakat melek digital (digital savvy) yang menginginkan kemudahan dan kecepatan, sebuah revolusi di bidang perbankan dengan proses digitalisasi.
Indonesia merupakan negara satu-satunya dalam Task Force on Digital Economy yang mendorong suatu ide berbasis aksi yang akan menentukan arah fokus upaya digitalisasi G20.

Proses penyusunan deklarasi sendiri sudah dimulai melalui serangkaian perundingan sejak Desember 2016. Terdapat 5 sesi pembahasan di tingkat senior officer yang berlangsung sangat alot dalam menentukan arah dan poin-poin deklarasi. (Icha)