spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1373

Butuh Uang? Awas Terjebak Pinjaman Online Ilegal

0

Telko.id – Saat ini pinjaman online marak ditawarkan. Tapi, awas, tidak semua fintech itu legal. Satgas Waspada Investasi dibawah OJK saja, diawal tahun ini sudah menghentikan kembali 231 layanan Pinjam meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi atau fintech peer-to-peer lending ilegal, sehingga total fintech peer-to-peer lending yang telah dihentikan adalah 635 entitas sampai saat ini.

Yang terdaftar? Ternyata tidak banyak. Fintech peer-to-peer lending yang terdaftar di OJK berjumlah 99 perusahaan.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing meminta masyarakat untuk tidak melakukan pinjaman terhadap Fintech Peer-To-Peer Lending tanpa terdaftar atau izin OJK tersebut, agar tidak dirugikan ulah Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal tersebut.

Tongam mengatakan saat ini banyak entitas Fintech Peer-To-Peer Lending yang melakukan kegiatan melalui aplikasi yang terdapat di appstore atau playstore bahkan juga di sosial media yang tidak terdaftar dan tidak berizin dari OJK sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 sehingga berpotensi merugikan masyarakat.

Maklum saja, untuk membuat aplikasi Peer-to-peer lending ini sekarang sudah semakin mudah. Kemudian, permintaan masyarakat terhadap pinjaman online ini juga ternyata sangat besar. Persyaratan untuk meminjam juga mudah. Alhasil, trend pinjaman online ini pun tumbuh pesat.

Bahkan, menurut Tongam, pengembang platform ini bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, seperti China, Rusia dan Korea Selatan. Kondisi ini membuat otoritas kesulitan memantau server yang berada di luar negeri.

Dengan berbagai kemudahan itu, platfom ilegal ini menjebak masyarakat dengan bunga dan denda tinggi. Jika tidak terpenuhi, mereka tidak segan melakukan penagihan yang tidak beretika, seperti pemaksaan, teror, mengakses data pribadi dan pelecehan seksual.

Untuk itu, OJK secara regular selalu mengumumkan Fintech Peer-To-Peer Lending yang illegal, agar masyarakat tidak terjebak dan dirugikan.

Secara rutin, pemerintah juga sudah mengajukan pemblokiran website dan aplikasi kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Lalu, mendorong penegakan hukum dari Polri terhadap Laporan Polisi yang saat ini sudah masuk tahap penyidikan. Selain itu, pemerintah dalam hal ini Satgas Waspada Investasi meminta Bank Indonesia melarang fintech payment system untuk bekerja sama dengan fintech fintech peer-to-peer lending ilegal.

Secara aktif, Satgas Waspada Investasi juga menyampaikan imbauan kepada perbankan untuk menolak pembukaan rekening tanpa rekomendasi OJK dan melakukan konfirmasi untuk rekening existing yang diduga digunakan untuk kegiatan fintech peer-to-peer lending ilegal.

Pemerintah juga mendorong Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) lebih berperan lagi untuk untuk penanganan fintech fintech peer-to-peer lending ilegal. Dan sudah tentu, pemerintah juga akan melakukan edukasi kepada masyarakat secara berkelanjutan. (Icha)

 

Asus Rilis Laptop Mainstream Rasa Gaming, VivoBook Pro F570

0

Telko.id, Jakarta – Tahun ini, Asus rupanya sedikit mengubah image salah satu seri laptop mainstream-nya, VivoBook menjadi lebih terlihat stylish dan juga powerful. Lewat produk terbarunya, Asus VivoBook Pro F570brand asal Taiwan ini menggabungkan pengalaman dan performa ala laptop gaming dan desain khas laptop mainstream.

“VivoBook Pro merupakan perpaduan dari notebook consumer dengan laptop gaming Asus. Laptop ini terlihat eye-catching,” kata Jonas Chen, Notebook Country Product Manager Asus Indonesia, di acara launching Asus VivoBook F570 di Jakarta, Kamis (14/02/2019).

Menurutnya, VivoBook Pro F750 didesain dengan layar besar berukuran 15,6 inci beresolusi Full HD dengan body yang tipis dan ringan, karena bobotnya hanya sekitar 1,9 kg.

{Baca juga: Pakai GeForce RTX, Segini Harga Trio Laptop Gaming Asus}

Tak hanya itu, brand ini juga memberikan sentuhan desain ala laptop gaming Asus ROG atau TUF. Sebab,  laptop tersebut dikemas dengan perpaduan warna antara hitam dan biru dengan pola yang unik di bagian belakang body-nya.

Foto: Muhammad Faisal/Telko.id

Selain desain, sisi performa juga sudah powerful dengan memadukan CPU dari AMD Ryzen dengan GPU dari Nvidia GTX. Diklaim Jonas, VivoBook Pro F570 merupakan laptop pertama yang ditopang oleh perpaduan antara AMD dengan Nvidia.

Ada dua model yang dibawa Asus. Kedua model ini, dibedakan dari jenis prosesor, GPU, dan juga konfigurasi dari memori penyimpanannya.

Foto: Muhammad Faisal/Telko.id

Model paling standar, diperkuat oleh prosesor AMD Ryzen 5 2500U (4C/8T, 6MP cacheup to 3,6 GHz), RAM 8 GB DDR4, ROM SATA 1 TB HDD, GPU AMD Radeon Vega 8 dan Nvidia GTX 1050 4GB GDDR5 VRAM, dan sistem operasi Windows 10 Home 64-bit.

{Baca juga: Asus Masih Kuasai Pasar Laptop Indonesia}

Sedangkan model tertinggi,  punya prosesor AMD Ryzen 7 2700U (4C/8T, 6MP cacheup to 3,6 GHz), ROM SATA 1 TB HDD + SATA 3 256 GB SSD, dan GPU AMD Radeon RX Vega 10 dan Nvidia GTX 1050 4GB GDDR5 VRAM.

Foto: Muhammad Faisal/Telko.id

“AMD ingin membuat masyarakat merasakan bagaimana teknologi AMD. Intel sudah dengan Radeon, kenapa tidak jika Ryzen dengan Nvidia?,” ucap Armawati Chen, Consumer BDM AMD Indonesia.

Di Indonesia, Asus VivoBook Pro F570 dibanderol dengan harga mulai dari Rp 11,7 jutaan untuk model Ryzen 5 dan Nvidia GTX 1050. Sementara untuk harga VivoBook Pro F570 dengan Ryzen 7 dan Nvidia GTX 1050, mencapai Rp 13,9 jutaan. Keduanya bisa didapatkan konsumen melalui e-commerce JD.ID. (FHP)

Advan Siap Luncurkan Advan S6 Plus, Harga Rp 800 ribuan

0

Telko.id, Jakarta – Sebuah perangkat baru siap diluncurkan Advan dalam waktu dekat. Dipanggil Adavan s6 Plus, smartphone anyar ini akan dibanderol dengan harga yang sangat murah, yaitu sekitar Rp 800 ribuan.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Tim Telko.id pada Kamis (14/02/2019), Mohammad Ilham Pratama selaku Public Relations Manager Advan mengatakan bahwa smartphone memiliki layar berukuran 5,5 inci, dengan rasio 18:9 dan dilengkapi dengan pendeteksi wajah atau Face ID.

“Sudah di bawah Rp 1 juta, smartphone ini malah fullview display 5,5 inci dan punya Face ID. Tak salah jika Advan menyandang Raja Smartphone di Bawah Rp 1 juta,” tulis Ilham.

Ihlam menambahkan jika Advan s6 Plus dibekali RAM 1 GB dan ROM 8 GB. Ponsel pintar ini akan menjalankan sistem operasi Android GO. Nantinya beragam aplikasi akan berjalan lebih ringan dan mudah.

“Advan dikenal sebagai produsen yang sangat mengerti akan kebutuhan konsumen. Bagi merek dagang dari PT Bangga Teknologi Indonesia (BTI), teknologi harus dimiliki dan dinikmati semua orang dan harganya terjangkau,” tambah Ilham.

Advan s6 Plus sendiri nantinya akan dirilis pada akhir Februari 2019. Advan sendiri memang dikenal dengan smartphone murahnya.  Tahun lalu, perusahaan juga meluncurkan Advan S50 4G, yang didukung akses internet Unlimited, Gratis YouTube Setahun.

{Baca juga: Advan Luncurkan S50 4G, Gratis YouTube Setahun}

S50 4G adalah smartphone pertama Advan yang menjalankan sistem operasi Android GO. Sistem operasi ini memungkinkan perangkat berspesifikasi ringan dengan keterbatasan jaringan. Dengan harga Rp 777 ribu, pelanggan mendapatkan smartphone Advan s50 4G dengan benefit paket Unlimited dari IM3 Ooredoo. [NM/IF]

Telah Dibuka Konsultasi Publik RPM Tentang Pengaturan Tarif Operator

0

Telko.id – Pemerintah akhirnya menyelesaikan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Kominfo tentang Tata Cara Penetapan Tarif Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi yang saat ini memasuki tahap konsultasi publik.

RPM dimaksud menyederhanakan dan mengganti Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9/PER/M.KOMINFO/04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan melalui Jaringan Bergerak Seluler dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 15/PER/M.KOMINFO/04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan melalui Jaringan Tetap sekaligus untuk mengatur seluruh tata cara penetapan tarif jasa telekomunikasi lainnya.

Ferdinandus Setu, Plt Kepala Biro Humas Kominfo dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa harapannya, RPM ini dapat mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui persaingan usaha yang sehat dan menjaga keberlangsungan layanan telekomunikasi serta untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pengguna telekomunikasi terhadap penerapan tarif layanan jasa telekomunikasi.

Secara subtansi, perubahan pengaturan pada RPM ini dibandingkan pengaturan sebelumnya adalah sebagai berikut:

  1. Penggabungan dan penyederhanaan pengaturan tarif penyelenggaraan jasa telekomunikasi yang sebelumnya diatur dalam PM Kominfo No. 9/PER/M.KOMINFO/04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan melalui Jaringan Bergerak Seluler dan PM Kominfo No. 15/PER/M.KOMINFO/04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan melalui Jaringan Tetap, serta penambahan pengaturan untuk penyelenggara jasa telekomunikasi lainnya yang belum diatur.
  2. Penyesuaian dan penambahan pada bagian ketentuan umum terkait definisi istilah.
  3. Penambahan ketentuan mengenai skema pembayaran yang sebelumnya tidak diatur sebagai dasar hukum bagi model bisnis yang sudah berjalan.
  4. Formula yang berlaku umum untuk seluruh penyelenggara jasa telekomunikasi, termasuk tarif layanan akses internet.
  5. Penambahan ketentuan pembatasan tarif untuk daerah (area layanan) yang hanya dilayani oleh satu penyelenggara dalam hal diperlukan dalam rangka melindungi pengguna layanan telekomunikasi dan menjaga keberlangsungan layanan telekomunikasi.
  6. Penambahan ketentuan pada bundling layanan dengan kartu perdana.
  7. Penambahan ketentuan tentang promosi (etika dalam beriklan) dan sosialisasi tarif agar masyarakat pengguna layanan dapat menerima informasi yang jelas dan lengkap tentang pilihan layanan jasa telekomunikasi yang ada.
  8. Penambahan mekanisme pengawasan dan pengendalian oleh Pemerintah melalui Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)dalam penerapan penetapan tarif jasa telekomunikasi.

Penyusunan RPM ini, menurut Fernando, telah melalui proses pembahasan yang melibatkan para pemangku kepentingan (penyelenggara telekomunikasi, asosiasi penyelenggara, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)), juga telah melalui proses harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM dan Biro Hukum serta telah dikoordinasikan dengan Kedeputian VII Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur Kementerian Polhukam. (Icha)

Kartu Perdana XL Go Izi, Pas Buat Internetan Di Dalam dan Luar Negeri

0

Telko.id – Akses internet sudah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat Indonesia. Namun, kalau pakai smartphone, pasti kurang maksimal. Itu sebabnya, banyak yang menggunakan modem mifi. Untuk itu, XL Axiata meluncurkan kartu perdana XL Go Izi yang bisa digunakan pada semua jenis modem yang mendukung jaringan XL.

Asyik nya lagi,  kartu ini memungkinkan isi pulsa otomatis menjadi kuota data sehingga sangat fleksibel untuk memanfaatkannya. Tidak hanya itu, pelanggan juga bisa menggunakannya dalam perjalanan ke berbagai negara dengan paket yang efisien.

Paket Kuota Kartu Perdana XL Go Izi ini bisa diperoleh hanya Rp 5 ribu / 1GB dengan isi ulang mulai dari Rp 50 ribu mendapatkan kuota 10GB. Kartu Perdana XL Go Izi ini hanya dijual sebagai kartu perdana saja dan berbeda dengan bundling XL Go Izi sebelumnya yang merupakan satu paket dengan perangkat MiFi. Kartu Perdana ini sudah tersedia sejak 1 Februari 2019.

Direktur Komersial XL Axiata, Allan Bonke mengatakan, “Kami terus mencari cara agar bisa menghadirkan kemudahan bagi pelanggan dalam mengakses internet cepat di mana pun dan kapan pun, termasuk saat di luar negeri. Kartu Perdana XL Go Izi ini kami hadirkan sebagai jawaban atas kebutuhan sebagian masyarakat Indonesia yang selama ini terbiasa mengakses internet cepat menggunakan modem atau mifi. Kami tawarkan paket yang sangat menarik yang bisa dipakai di modem mifi jenis apa pun.”

Kelebih lain dari Kartu Perdana XL Go Izi ini adalah kuota datanya berlaku selamanya atau tak ada batas waktu. Pelanggan hanya memastikan kartunya tetap aktif. Dengan begitu, pelanggan tidak perlu khawatir kuota datanya hangus. Untuk menambah kuota, yang perlu dilakukan pelanggan hanya isi pulsa.

Selain itu, kartu perdana ini juga menawarkan beberapa kemudahan untuk pelanggan dengan harga yang sama seperti harga kartu perdana regular. Pelanggan bisa memperoleh produk ini di Toko Pulsa, Outlet Handphone, XL Center/Xplor, Toko Online dan Toko Komputer.

Kartu perdana ini juga bisa digunakan di 58 negara. Termasuk di negara-negara yang banyak dikunjungi warga negara Indonesia, baik di Asia & Australia, Eropa, Afrika, juga Amerika.

Dari daftar 58 negara tersebut, yang berada di Asia dan Australia, pelanggan bisa menggunakannya antara lain di Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Australia, Selandia Baru serta tentunya negara-negara Asia Tenggara. Eropa antara lain di Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Italia, Spanyol, Turki, Swedia, Denmark, hingga Rusia.

Di Afrika, layanan XL Go Izi bisa dipergunakan antara lain di Ghana, Afrika Selatan, Congo, dan Tanzania. Selain itu juga bisa digunakan di Amerika Serikat.

Untuk bisa memanfaatkannya selama di luar negeri, pelanggan Kartu Perdana XL Go Izi cukup menukarkan kuota XL Go Izi di aplikasi MyXL. Aplikasi MyXL bisa pelanggan dapatkan dengan mendownload di PlayStore/AppStore. Rincian kuota untuk XL Pass Izi adalah 50GB untuk XL Pass Izi 3 hari dan 70GB untuk XL Pass Izi 7 hari.

Untuk pelanggan yang sebelumnya telah menggunakan paket XL Go Izi lama dengan benefit XL Pass Lite gratis di 10 negara, tidak perlu menukarkan kuotanya untuk bisa menggunakan roaming data di negara tersebut tetapi agar bisa digunakan di negara lainnya maka pelanggan perlu menukarkan kuota XL Go Izi menjadi XL Pass dan tidak perlu mengganti kartunya.

XL Pass Lite sendiri merupakan layanan aktivasi roaming XL Go Izi, tidak dijual sebagai paket XL Pass tetapi didapatkan gratis khusus untuk XL Go Izi bundling MiFi (bukan kartu perdana).

Dengan XL Pass Izi, kuota XL Go Izi dapat digunakan tanpa repot mengganti kartu SIM atau mencari spot wifi, cukup tukarkan kuota Izi menjadi XL PASS sesaat sebelum terbang ke negara tujuan.

Pelanggan juga harus memastikan kuota cukup ketika melakukan penukaran kuota menjadi XL Pass Izi. XL Pass Izi hanya berlaku untuk kartu perdana bundling MiFi XL Go Izi dan Kartu Perdana XL Go Izi. (Icha)

 

Glossy dengan Tiga Kamera, Begini Tampang Xiaomi Mi 9

0

Telko.id, Jakarta – Bos Xiaomi, Lei Jun memastikan bahwa smartphone flagship terbaru mereka, Xiaomi Mi 9 akan hadir tak lama lagi. Sebab, baru-baru ini dia mengunggah teaser yang mengungkapkan tanggal peluncuran Mi 9, yakni 20 Februari mendatang.

Dalam teaser yang dibagikan Lei Jun, diperlihatkan juga desain bagian belakang smartphone yang tampak memiliki body berlapis kaca yang glossy alias mengkilap.

Selain itu, terlihat juga adanya tiga kamera utama dan LED FLash yang ditempatkan secara vertikal di sisi kiri body belakang.

{Baca juga: Bos Xiaomi Gak Sengaja Bocorkan Desain Xiaomi Mi 9}

Dilansir Telko.id dari phoneArena, Kamis (14/02/2019), beberapa saat setelah teaser tersebut terungkap ke permukaan, muncul kembali bocoran Mi 9 lainnya yang jauh lebih jelas.

Bocoran ini menampilkan foto hands-on Xiaomi Mi 9. Terlihat, smartphone itu benar-benar memiliki body dengan kesan premium karena dilapisi kaca di bagian belakang dengan finishing warna yang glossy dan mewah.

{Baca juga: Setelah Xiaomi Mi 9, Giliran Black Shark 2 Nongol di Weibo}

Smartphone ini juga mengusung desain fullscreen dengan bezel yang tipis dan adanya notch atau poni berbentuk waterdrop di bagian atasnya. Sayang, karena desainnya tersebut, Mi 9 mungkin tidak akan membawa teknologi 3D Face Scanning yang sebelumnya diperkenalkan pada seri Mi 8 Pro.

Di bagian kiri smartphone, sedikit terlihat adanya tombol baru yang disematkan Xiaomi. Bukan tombol Power apalagi Volume, melainkan tombol Xiao AI. Perlu diketahui, Xiao AI merupakan asisten virtual buatan Xiaomi, mirip seperti Bixby dari Samsung ataupun Siri dari Apple.

Secara spesifikasi, Mi 9 dipastikan akan ditenagai oleh prosesor Snapdragon 855, RAM 6 GB, dan ROM 128 GB. Smartphone ini diperkirakan akan dibanderol dengan harga mulai dari USD 436 atau Rp 6,1 jutaan. (FHP)

Samsung Pamer Galaxy S10 di Singapura, Ini Penampakannya

0

Telko.id, Jakarta – Samsung memastikan kehadiran smartphone flagship terbarunya, Galaxy S10 pada 20 Februari mendatang, tepatnya di acara bertajuk “Galaxy Unpacked 2019“. Acara itu diselenggarakan di San Francisco, Amerika Serikat.

Kurang lebih seminggu lagi smartphone ini diperkenalkan, Samsung langsung memamerkan teaser soal Galaxy S10, sekaligus beberapa kejutan lain melalui papan iklan yang tersebar di beberapa negara.

Dilansir Telko.id dari GSMArena, Kamis (14/02/2019), Samsung memasang iklan dengan tulisan “The Future Unfolds” di 5 lokasi ikonik.

{Baca juga: Lebih Canggih! 5 Smartphone Lipat yang akan Dirilis Tahun Ini}

Lokasi-lokasi tersebut seperti, Times Square di New York, Amerika Serikat, Piazza del Duomo di Milan, Italia, Callao Square di Madrid, Spanyol, Hydroproject Building di Moscow, Rusia, dan The Heeren di Singapura.

Dalam iklannya juga, Samsung menampilkan kata-kata “The future of smartphone innovation”, yang seolah menegaskan bahwa mereka benar-benar siap untuk merilis jajaran smartphone flagship seperti Galaxy S10, Galaxy S10 X dengan teknologi 5G, dan smartphone lipat Galaxy F.

Sebelumnya, Samsung juga sempat memasang papan iklan berukuran sama besarnya di kawasan Palace de la Concorde di Paris, Perancis. Iklan itu juga mengungkapkan teaser soal jajaran smartphone flagship Samsung yang bakal segera diluncurkan.

{Baca juga: Bocor! Begini Penampakan Samsung Galaxy S10+}

Samsung sendiri memang telah memastikan bahwa smartphone lipatnya, Galaxy F akan diluncurkan bareng dengan Samsung Galaxy S10, tepatnya pada 20 Februari 2019. Meski demikian, tidak ada informasi lain yang menjelaskan tentang rencana penjualan perdana smartphone lipat Samsung itu, pun demikian dengan spesifikasinya. (FHP)

Drone DJI Punya Sistem Penerbangan yang Lebih Aman

0

Telko.id, Jakarta – Produsen drone, DJI, kini telah meningkatkan teknologi agar mencegah pesawat mereka terbang dekat dengan bandara. Pembaruan ini dilakukan, setelah beberapa waktu lalu, terjadi gangguan sistem penerbangan di bandara Gatwick, Inggris, akibat drone.

Sistem geo-fencing yang diklaim lebih canggih ini akan menciptakan 3D zona larangan terbang di sekitar jalur penerbangan landasan pacu dan fasilitas sensitif lainnya.

Sistem ini meningkatkan struktur lingkaran sederhana yang sebelumnya digunakan untuk memblokir area tersebut.

Sistem baru ini akan diterapkan di 12 negara Eropa yang dicakup oleh sistem geo-fencing asli DJI dan 19 negara yang sebelumnya tidak memiliki perlindungan.

Perusahaan mengklaim, sistem ini jauh lebih baik dalam pencegahan risiko keselamatan yang ditimbulkan di dekat bandara, serta memberi lebih banyak fleksibilitas untuk menerbangkan drone di dekat area larangan.

{Baca juga: Rangkul Microsoft, DJI Siap Kembangkan Drone Pintar}

Pembatasan penerbangan sementara juga akan dimasukkan dalam perombakan sistem, dan dapat diaktifkan selama peristiwa besar atau bencana alam.

“DJI ingin memastikan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama karena industri drone Eropa berinovasi cara-cara baru untuk menggunakan drone dengan cara yang menarik dan produktif,” kata Kepala kebijakan DJI, Christian Struwe.

Dia mengatakan, perusahaan akan memperkenalkan fitur keselamatan canggih ini di lebih banyak negara, sehingga dapat membantu masyarakat umum dan operator drone.

“Manajemen wilayah udara di Eropa harus mengakomodasi operasi di masa depan, seperti penerbangan otomatis dan penerbangan di luar garis pandang operator, tanpa memaksakan beban baru pada pilot drone amatir dan profesional yang telah menyelesaikan jutaan penerbangan yang aman dan bermanfaat,” imbuhnya.

Perubahan sistem ini akan bertahap mulai akhir bulan ini. Pelanggan harus memperbarui aplikasi kontrol penerbangan dan perangkat lunak pesawat untuk menerima pembaruan ini.

{Baca juga: Singapura Uji Coba 5G untuk Drone dan Mobil Otonom}

Zona larangan terbang untuk bandara pertama kali dibuat oleh DJI pada 2013, dengan geo-fencing diperkenalkan pada 2016. Sejak itu, ditambahkan zona larangan terbang untuk penjara dan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Sistem ini menggunakan GPS dan sinyal satelit navigasi lainnya untuk mencegah drone terbang di dekat lokasi-lokasi sensitif ini atau pada saat peristiwa-peristiwa penting. Teknologi baru ini dikembangkan oleh perusahaan Inggris, Altitude Angel. [BA/HBS]

Sumber: BBC

 

 

 

Rudiantara: Kominfo Kini Lebih Menjadi Fasilitator dan Akselerator

0

Telko.id – Kondisi industri telekomunikasi sepanjang tahun 2018 kurang menggembirakan. Pasalnya, menurut Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah industri telekomunikasi Indonesia hanya mengalami pertumbuhan minus 6,4 persen pada 2018.

Dua tahun silam, industri telekomunikasi masih mampu mengantongi pendapatan mencapai sekitar Rp 158 triliun. Namun di 2018 nilainya turun menjadi Rp 148 triliun alias minus 6,4 persen.

Lalu, bagaimana pendapat Rudiantara, Menteri Komunikasi Informatika agar tahun ini pertumbuhan industri telekomunikasi semakin baik? Kemudian, bagaimana Kominfo menyikapi berbagai issue yang berkembang akhir-akhir ini?

Ikuti, wawancara khusus Telko.id dengan Rudaintara, Menteri Komunikasi dan Informatika yang dilakukan beberapa waktu lalu di kantor nya di kawasan Medan Merdeka Barat.

Bagaimana pendapat bapak terkait kondisi industri telekomunikasi pada 2018 lalu yang kurang menggembirakan dengan pertumbuhan minus 6,4 persen?

Iya, growth nya industri sekitar -7%. Tapi itu masih berada diatas pertumbuhan nasional.

Bukan negative, kalau negative itukan, tahun sebelumnya 7%, sekarang menjadi minus berapa persen.

Jadi, sebenarnya, industri masih mengalami pertumbuhan atau peningkatan, hanya saja, peningkatannya tidak secepat tahun lalu.

Yang perlu dilihat, dari mana tahun-tahun sebelumnya terjadi percepatan pertumbuhan? Ya, pertama dari data, dari jumlah pelanggan, dari penjualan SIMCARD. Lalu, tahun 2018, ada fenomena yang tidak terjadi pada tahun sebelumnya, yakni registrasi prabayar. Jadi, terjadi pembersihan dari sisi pendapatan.

Jika dulu dibukukan, setiap penjualan simcard, kemudian menjadi pendapatan, walaupun dibawahnya, dikompensasi sebagai biaya, sejak adanya registrasi tidak serta merta lagi.

Demikian juga pada tahun 2019, tidak akan lagi. Namun, seharusnya, tahun ini secara top line nya akan menjadi lebih bagus. Dan, kalau kita lihat pendapatan itu dari mana? Dari jualan simcard, jadi pendapatan yang sangat real itu adalah fungsi jumlah pelanggan dikali harga jual. Ini yang terus saya ingatkan pada teman-teman operator, bahwa kompetisi diharga jual harus ada. Tapi, kompetisinya juga harus rasional.

Sempat beberapa saat ini, industri telekomunikasi memasuki area irrational compettion, dari sisi harga, karena orientasinya adalah jumlah pelanggan. Itukan sama hal nya dengan kita punya pelanggan, tetapi tidak menghasilkan. Bahkan yang ada jor-joran paket. Bukan harga nya harus dinaikan, tetapi harus ada rasionalitas dalam berkompetisi. Karena yang harus dijaga adalah sustainability dari industri.

Kenapa? Kalau industrinya untung dalam arti suistainable, bukan untung semena-mena, berarti mereka memiliki kemampuan untuk memelihara jaringannya. Jadi, jika bisa memelihara jaringannya, maka diharapkan layanannya terjaga. Lebih dari itu, diharapkan juga bisa membangun jaringan yang baru.

Ini harus kita lihat dari Capital Expenditure nya. Berapa besar tahun 2018 CAPEX nya dibandingkan dengan 2017. Capex tahun 2018 itu, capex nya lebih keci dibandingkan dengan 2017.

Tapi, saya sudah bicara, dengan operator, rencananya pada tahun 2019 ini akan genjot CAPEX lagi. Karena tanpa investasi, niscaya tidak aka nada penambahan coverage yang baru. Pemeliharaan kan harus tetap jalan. Jadi, harapannya, 2019 ini akan lebih baik dari 2018.

Apakah perlu untuk mengatur tarif dasar agar industry telekomunikasi menjadi lebih baik?

Saya tidak akan pernah mengeluarkan peraturan atau kebijakan tarif dasar seperti tarif dasar penerbangan. Karena apa? Di penerbangan harus ada tarif minumim, karena berkenaan dengan keselamatan atau safety. Ban itu, tidak boleh dipakai lebih dari jumlah take off dengan jumlah landing.

Sedangkan di telekomunikasi tidak ada. Industri telekomunikasi saat ini belum masuk dalam tahap rugi sebenarnya. Tapi jangan sampai nanti nya rugi. Karena kalau rugi, yang rugi adalah masyarakat.

Tapi, jangan juga kita sampai jor-joran hanya untuk mendapatkan jumlah pelanggan, akibatnya EBITDA nya negative terus atau pertumbuhan EBITDA nya tidak bagus –karena perusahaan yang bagus itu dilihat dari EBITDAnya bukan profitablitas, karena kalau profitablitas ada interest yang dibayar dan pendapatan lain-lain. Kalau begitu, nanti jual asset masuk dalam profitabilitas. Padahal hanya sewaktu-waktu saja jual asset.

Sustaionability ini dilihatnya dari kualitas dari EBITDA Margin, maupun EBITDA absolutnya.

Jadi faktor apa yang bisa mengangkat industri telekomunikasi di tahun ini?

Yang pertama rasionalitas kompetisi. Kedua, adalah cara belanja yang efisien. CAPEX, Network Sharing,

Network sharing, tidak perlu harus menunggu aturan. Saya juga tahu dilapangan ada yang melakukan network sharing. Tidak sesuai aturan, tapi kalau menguntungkan bagi operator yang bersangkutan dan menguntungkan bagi masyarakat. Ya tidak ada masalah.

Tujuan adanya aturan itu kan agar tidak terjadi asimetric bargaining power. Ijin, misalkan, kapan kita keluarkan ijin, apakah kita harus mengeluarkan ijin? Belum tentu.

Ijin dari Undang-undang telekomunikasi merupakan produk dari rezim lama. Kalau ditelaah lebih lanjut, isinya itu lebih banyak mengatur tentang tata acara perijinan. Sekarang sudah tidak jaman lagi.

Ijin itu, bagi saya filosifinya adalah apabila diperkirakan akan terjadi asimetric bargaining power antara produsen dengan konsumen. Itu baru perlu ijin. Kenapa? Pemerintah atau negara hadir. Contoh di seluler, coba kenapa harus ada ijin karena pasti akan terjadi asimetric bargaining power antara produsen, operator, dengan masyarakat pengguna. Makanya perlu ijin. Ijin itu untuk melindungi pengguna, agar tidak di abusse. Kalau tidak ijin, maka yang terjadi adalah melakukan pembangunan dan dijual suka-suka.

Itu sebabnya, pemerintah membuat aturan, buat ijin, agar ada yang namanya service level kepada masyarakat. Jika yang terjadi simetric, antara produsen dan konsumen ya happy happu saja. Contoh, interkoneksi. Apa semua operator menggunakan tarif menit untuk interkoneksi? Ada juga kok yang bulk, gelondongan.  Dan itu simetric yang satu tidak merasa tertekan dengan yang lain.

Kita, di Kominfo menghindari pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah. Kalau sama-sama happy ya sudah.  Jadi, interkoneksi diatur, hanya saja diaturnya tidak heavy handled regulation, tapi lite touch regulation. Memproteksi dari bargaining power, supaya tidak di abuse posisinya. Karena merasa paling besar lalu meng-abuse suka-suka. Itu tidak boleh terjadi, makanya keluar regulasi, keluar ijin.

Apakah dengan konsolidasi nya akan mempercantik industri telekomunikasi? Mengingat para operator sekarang ini menunggu aturan dari pemerintah, teutama tentang frekuensi?

Begini, masalah konsolidadi sudah saya bilang sejak 2015. Dan, masalah konsolidasi ini bukan masalah manager matters. Konsolidasi, merger, akuisisi, sejauh mengubah pemegang saham, bukan urusannya managemen, urusan nya pemegang saham. Pemegang saham yang harus ditanya.

Saya sendiri sudah melakukan komunikasi dengan pemegang saham. Dengan managemen, tidak seintensif dengan pemegang saham. Saya malah punya group WA sendiri dengan pemegang saham.

Hasil dari komunikasi intensif dengan para pemegang saham apa?

Konsolidasi tidak bisa dihindarkan. Sekarang tinggal siapa yang memulai, bagaimana memulainya, dengan aspek komersial seperti apa. Itu saja. Dan, para pemegang saham sudah mengerti.

Yang jadi pertanyaan adalah masalah frekuensi. Bagaimana menurut Bapak?

Balik lagi, ini bukan masalah managemen matters, its owner matters.

Saya sudah menyampaikan pada owner, tapi kalau owner tidak menyampaikan pada manajemen, bukan urusan saya.

Jadi, ke pemegang saham, saya sudah kasih gambaran arah regulasinya akan seperti apa. Sekarang BRTI sedang menyiapkan regulasinya.

Lalu, kalau merger, frekuensi nya akan ikut?

Begini, fair treatment harus diberikan pada semua nya. Baik yang mau melakukan konsolidasi, maupun yang tidak melakukan konsolidasi. Ini contoh, kalau ada dua operator bergabung, lalu, ternyata frekuensinya banyak sekali, kita akan hitung, berapa banyak sebenarnya kebutuhan frekuensinya.

Jangan sampai nanti misalkan, operator kekurangan frekuensinya. Nah, kalau operator punya frekuensi banyak sekali, tapi pelanggannya sedikit, tentu juga menjadi beban. Fairness ini yang akan kita buat aturan nya.

Tapi, saya juga sudah menyampaikan semua rumusannya kepada semua pemegang saham. Lalu, mereka tidak menyampaikn pada managamennya ya bukan urusan saya lagi.

Sebenarnya, merger ini sudah mulai terjadi lho. XL dengan AXIS, lalu Telkom mengambil Felxi dan Indosat dengan Satelindo. Undang-undang mengenai PT memungkinkan untuk melakukan itu. Yang kita buat ini hanya peraturan teknis saja.

Jadi sebenarnya, sekarang juga sudah bisa pada merger. Hanya saja, sekarang akan dibuatkan dengan skema yang lebih rapih. Bukan case by case, tetapi kita atur supaya lebih rapih.

Kalau saya bicara dengan pemegang saham, masalah frekuensi tidak pernah dibicarakan lagi.

Padahal, operator yang punya frekuensi tapi pelanggannya sedikit, dia beban. Beban mebayar BHP.

Lalu, operator banyak yang khawatir akan seperti AXIS, karena frekuensi nya diambil. Saya jamin tidak.

Jadi mulailah bicara para pemegang saham itu. Ada juga sebenarnya yang sudah. Saya pun ikut memfasilitasi. Ini diperlukan karena masalah ego lah, masalah macam-macam lainnya bercampur baur. Strateginya macam-macam.

Saya punya group WA yang isinya adalah principle share holders. Jadi dilevel itu. Saya intensif melakukan komunikasi dengan mereka.

Saya berharap tahun ini bisa terjadi konsolidasinya. Semakin cepat, semakin bagus. Dan, menurut saya, yang paling ideal adalah dua, maksimal tiga dari lima. Kalau yang BWA bentar lagi juga sudah tidak ada.

Pemerintah, melihat nya adalah bagaimana industry ini sustainable. Ini yang penting.

Skema yang akan dibuat lebih rapih itu seperti apa ya Pak?

Konsep nya, bakal ada semacam assurance tidak akan kekurangan maupun kelebihan frekuensi. Artinya begini, nanti akan dihitung kebutuhan frekuensi dari masing-masing operator, jika ada kelebihan, maka akan disimpan dulu oleh pemerintah.

Nanti, jika sudah naik pelanggannya pada periode tertentu maka akan diberikan lagi frekuensinya, tanpa tender tapi harga sesuai pada saat diberikan frekuensi tersebut. Jangan khawatir, yang disimpan tidak bayar.  Jadi lebih fair.

Yang perlu diingat, folosofinya frekuensi itu bukan asset. Itu adalah hak pakai. Jadi jangan dianggap sebagai aset.

Memang seolah-olah, value bagi operator yang memiliki frekuensi banyak memang menjadi tinggi. Tapi jangan lupa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan menjaring pelanggan, frekuensi ini pun akan menjadi beban.

Kalau mau fair, buka laporan keuangan operator, lalu banding kan dengan BHP nya. Mana yang efisien mana yang enggak.

Bagi pemerintah yang penting adadalah industri yang sustainable. Kalau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) apakah ini penting juga?

PNBP memang penting juga. Namun, PNBP yang besar itu membuat industri itu sustainable atau tidak? Karena sustainability ini yang lebih penting.

PNBP suatu kebanggan iya, tapi kalau industrinya mampus? Apakah jadi kebanggan?

Contoh, universal service obligation atau USO. USO itu kan dipungut dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi sebesar 1,25 persen. Kita paling dapat, Rp2,9 Triliun, sebut saja Rp.3 Triliun. Ada pertumbuhan 7-8% setiap tahun nya. Tapi kebutuhan nya pemerintah, untuk membangun USO, BAKTI, Internet akses, termasuk satelit, apakah cukup dengan 1,25%? Tidak cukup.

Lalu, apakah kita lalu menaikan USO menjadi 2.5% atau 3%? Kan tidak. Karena kita tidak berpikir untuk membebani industri.  Itu urusannya pemerintah untuk menyediakan dana tersebut.

Kita menghasilkan Rp20 Triliun PNBP. Tapi yang dipakai USO cuma Rp.3 Triliun. Masa sih tidak boleh dialokasikan dari dana itu?  Memang, tidak boleh suka-suka. Harus berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan atau ada aturannya. Jadi bukan kalau kita kurang lalu membebani industri. Itu pikiran jadul, pikiran sekarang kreatif.

Tahun ini juga akan diberlakukan tentang registrasi EMEI. Bukan kah, nanti menjadi beban baru bagi industri sehingga sulit untuk tumbuh lebih baik?

Registrasi EMEI tidak boleh menjadi beban industry. Ini sudah kita sampaikan pada Kementerian Perindustrian. Karena, nanti yang manage data EMEI nya adalah Kementerian Perindustrian.  Kami mau nya tidak menjadi beban industry.

EMEI ini juga nanti nya diharapkan dapat mengurangi keberadaan black market. Kita nunggu data base dari perindustrian. Lalu, nanti juga perlu ada nya masa transisi. Kalau pun nanti beli diluar negeri, nanti akan disiapkan untuk cara mendaftarkannya. Pendaftarannya juga nanti akan melalui online.

Sekarang, banyak vendor yang sudah menggunakan elecktroik simcard. Bagaimana tanggapan Bapak?

Tidak ada aturannya tentang eSIM ini, tapi tidak perlu ada aturan nya dulu juga kalau mau jalan. Saya melihatnya begini.

Berangkat nya itu dari ijin. Ijin itu untuk apa? Ijin itu agar tidak terjadi asimetric bargaining power antara produsen dan konsumen. Kemudian antara produsen dan konsumen nya tidak berbeda, lalu, apakah eSIM kemudian perlu ijin lagi?

Yang kita jaga adalah jangan sampai ada simcard, tapi tidak ada orang nya. Itu yang kita jaga.

eSIM atau virtual simcard ini bagus untuk operator yang jumlah pelanggan nya tidak terlalu banyak. Dengan adanya eSIM atau virtual simcard ini seperti menambah jumlah pelanggan. Seperti punya distributor baru dengan model cara yang baru. Dan untung, jaringannya ada yang pakai.

Produsen smartphone local yang mengeluh karena pasar turun, sedangkan ada keharusan masalah TKDN, membuat kesulitan produsen. Karena operasional pabrik harus terus jalan dan cukup besar biaya nya? Bagaimana tanggapan Bapak?

Tidak semua nya mengalami hal seperti itu. Terbukti ada produsen yang bisa ekspor. Seperti Satnusa yang ekspor ke Amerika beberapa waktu lalu. Fokus maclun desain dari orang, lalu, dia yang merakit dan semuanya. Lalu dikirim keluar lagi. Itu tumbuh.

Terkait dengan revolusi Industri 4.0. Bagaimana keterlibatan Kominfo?

Kominfo ada keterkaitan dengan Industri 4.0. Terutama dari konteks sumber daya manusia.

Yang kita ketinggalan itu karena teknologi begitu cepat perkembangannya. Teknologi apa saja masuk. IoT, cloud computing, robot dan lain-lain. Untuk itu kominfo mengambil inisiatif. Dari tahun lalu malah.

Semua berawal ketika big tech company seperti Microsoft, Cisco dan lainnya kesulitan cari orang. Susah nya level apa? Level teknisi! Kalau enginerging sebenarnya make sense. Ternyata kesulitannya bukan di engineering, malah di level teknisi.  Kalau diambil dari luar, maka harga produk akan menjadi mahal, karena biaya akan dimasukan dalam harga jual.

Lalu, saya bilang, kalian kan punya academi yang bagus. Kaya Google, Cisco dan lainnya. Silabus nya saja bawa ke Indonesia. Nanti kita cek, bisa diterapkan tidak di Indonesia. Kalau bisa diterapkan bagaimana adjustment dan lain-lainnya, nanti dipikirkan. Sekalian juga nanti bawa trainer nya.

Lalu kominfo bagaimana? Kominfo menyediakan capital 10 juta dolar. Untuk modal. Tempat nya di mana? Diperguruan tinggi. Itu sebabnya, kita bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk kelas-kelasnya.  Untuk pengajarnya, pakai dosen-dosen muda yang ditraining dulu.

Modulnya yang dipakai adalah modul yang berkaitan dengan industri revolusi 4.0.

Tahun lalu ada 5 perguruan negeri yakni ITB, UI, UGM, ITS dan Unpad. Tahun 2019 akan focus di 20 perguruan tinggi.

Siapa yang boleh ikut? Boleh lulusan SMK, D3 atau S1, yang penting umur nya tidak boleh lebih dari 29 tahun. Mereka diajarkan di kelas selama dua bulan. Pada akhir masa pelatihan akan diberikan sertifikasi. Akan ada dua sertifikasi. Pertama sertifikasi untuk pelatihan ini dan sertifikasi SKKNI, sertifikasi yang berlaku juga di negara Asean. Jadi bisa diterima kerja juga di negara Asean.

Tahun lalu sudah diberikan pelatihan pada 1000 tenaga kerja. Yang daftar sampai 46 ribu orang. Yang ikut test sampai akhir sebanyak 21 ribu. Yang diterima 1000 orang. Jadi di Indonesia ini banyak yang mau.

Kita juga buat ekosistem yang lengkap. Ada platform karir. Career. Platform perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga-tenaga IT, Tenaga teknisi. Create digital talent.

Tahun ini target nya ada 20 ribu yang ikut. Itu untuk SDM nya.

Untuk Industri revolusi 4.0 nya, kita sudah bicara dengan Menteri Perindustrian, karena revolusi industry 4.0 itu berangkatnya dari industri yang akan memanfaatkan teknologi-teknologi terkini. Untuk itu kita tidak bisa gebyar uyah di mana-mana. Perlu ada nya kawasan ekonomi khusus.

Nanti, dalam kawasan ekonomi khusus ini ada teknologi yang berkaitan dengan Revolusi 4.0. Nanti dari sisi teknologi seluler pun bisa 5G. Contoh, misalkan, kelompok manufaktur dari berbagai macam dari Tiongkok. Ya, nanti dicarikan lahan khusus untuk membangun kawasan ekonomi khusus itu. Teknologi nya dari Tiongkok. Kalau dari Korea, ya mungkin teknologinya dari Samsung misalnya.

Jadi, tidak bisa melakukan pendekatan seperti sekarang.

Di Davos, saya ketemu dengan CEO nya Ericsson, CEO nya Nokia, dan beberapa menteri negara lain, semuanya sepakat, 5G ini belum ada model bisnisnya untuk retail market atau consumer. Yang ada memang untuk enterprise atau bisnis.  Karena akan mahal.

Nanti akan dilihat juga balancing frekuensi nya. Frekuensi ini akan jadi pendapatan pemerintah, atau untuk membuat sustainability industri. Kalau pemerintah berpikir untuk mengeruk sebanyak-banyak nya, BHP frekuensi 3.5 GHz untuk 5G, dari mana operator bisa hidup. Kecepatannya 100 kali dari sekarang yang membutuhkan belum tentu banyak.

Apa pendapat Bapak tentang Undang-undang ITE yang didalamnya ada pasal yang perlu direvisi karena dianggap sebagai pasal karet?

Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau RUU ITE Pasal 27 ayat 3 itu, yang dianggap sebagai pasal karet itu, yang mengusulkan, mengambil inisiatif untuk di revisi pada tahun 2016 itu adalah pemerintah. Dulu, tuntutan hukum maksimal 6 tahunnya dan termasuk hukum pidana itu. Jadi bisa ditangkap dulu baru ditanya.

Sekarang, tidak bisa karena tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik dalam ITE merupakan delik aduan, bukan lagi masuk dalam delik umum.

Yang pertama harus ada aduan yang merasa di rugikan. Kedua, tidak bisa langsung ditangkap lalu ditanyakan. Hukuman kurungannya juga lebih rendah, 4 tahun.  Dan denda dari Rp 1 miliar direvisi menjadi Rp 750 juta.

Lalu ada yang minta direvisi? Silahkan saja.

Touch kominfo terhadap masalah yang ada sekarang ini berbeda. Apa yang mendasari perubahan tersebut?

Perubahan peran kominfo yang dulu nya adalah regulator sekarang sudah mengarah pada fasilitator sampai ke akselerator.

Sekarang untuk regulasi, kecuali yang strategis, sudah BRTI yang ngurus. Kominfo lebih pada memfasilitasi. Contoh, yang masih konvensional di Telko adalah konsoslidasi, Tapi kalau yang lain, palapa ring, satelit, yang lainnya sudah dalam fase akselerasi. Kemudian yang sudah masuk tahap akselerasi adalah menambah jumlah Unicorn, menfasilitasi, mengakselerasi dari unicorn menjadi decacorn.

Sudah kesana pola pikirnya. Untuk regulasi pun sudah bukan hard touch regulation, tapi lite touch regulation.

Interkoneksi, saya yakin tidak lagi mengurusi interkoneksi, lah sekarang sudah data.

Yang diurusin interkoneksi nanti yang dibicarakan adalah service level, di mana operator harus menjaga, menyalurkan, memastikan, layanan itu dengan kualitas yang terbaik.

Lalu, tentang masa jabatan bapak akan berakhir. Apa yang akan bapak lakukan pada akhir masa jabatan ini?

Sekarang tinggal delapan bulan 18 hari lagi. Yang akan dilakukan adalah akselerasi –percepatan- untuk industri.  (Icha)

 

Extramarks Dukung Program Pemerintah Lewat RNPK

0

Telko.id, Jakarta – Extramarks Education Indonesia ikut berpartisipasi dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK), yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) tahun 2019 ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan di daerah. Disamping itu, pertemuan ini juga bertujuan untuk berbagi informasi terkait permasalahan dan praktik baik serta solusi terkait pendidikan dan kebudayaan.

Diungkapkan Country Manager Extramarks Education Indonesia, Fernando Uffie, keikutsertaan Extramarks di RNPK ini merupakan sebuah bentuk dukungan perusahaan terhadap program-program prioritas Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Nawa Cita, khususnya poin kelima mengenai peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas Pendidikan.

“Kami merasa bangga Pustekom memilih kami untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini,” katanya.

Ia menambahkan, Extramarks percaya bahwa di era digital seperti sekarang ini, teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. “Dan itu bukan saja terkait proses belajar, tetapi juga metodelogi serta personalisasi program pembelajaran,” lanjutnya.

Dalam acara ini, Extramarks berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pendidikan berbasis teknologi yang akan sangat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Dipanggil Solusi Belajar Digital 360° (derajat), solusi ini tak hanya bisa dimanfaatkan oleh siswa, tetapi juga guru, sekolah dan orang tua murid.

Materi pembelajaran pun dirancang untuk tak hanya menyesuaikan dengan karakter siswa, tetapi juga membuat siswa lebih mudah mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana saja, dengan perangkat apapun termasuk smartphone, komputer, atau tablet PC secara online,

Selain itu, konten-konten pembelajaran yang terdapat dalam Extramarks Learning Solution juga sudah berbasiskan teknologi digital dan menyesuaikan dengan karakter para siswa yakni V.A.K atau visual, audio, dan kinesthetic. Itu sebabnya, setiap elemen dalam konten pembelajaran tersebut dilengkapi dengan teks, gambar ataupun video.