spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1363

Konsumen Bosan, Alasan Utama Samsung Bikin Galaxy Fold

0

Telko.id, Jakarta – Bosan, merupakan alasan utama Samsung mengembangkan smartphone lipat, Samsung Galaxy Fold. Director of Product Services and Commercial Strategy Samsung UK, Kate Beaumont menilai, konsumen sudah merasa bosan dengan desain dan form factor dari smartphone sekarang ini yang kurang berinovasi.

“Saya pikir semua orang telah menjadi sedikit bosan pada kurangnya inovasi di sekitar bentuk smartphone, tetapi Anda tidak ingin membuat  form factor demi hal itu,” katanya, seperti dikutip dari The Verge, Rabu (27/02/2019).

Memang, ketika Samsung meluncurkan Samsung Galaxy Fold di ajang Galaxy Unpacked 2019 beberapa waktu lalu, Justin Denison selaku Senior Vice President of Product Marketing mengatakan bahwa smartphone tersebut adalah sebuah breakthrough atau terobosan baru.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

Sebab, smartphone ini punya dua layar dan memadukan konsep desain tablet dan smartphone menjadi satu kesatuan.

“Galaxy Fold tidak seperti device yang ada sebelumnya. Kita membuat sebuah breakthrough,” ucap Justin saat itu.

Kate juga mengungkapkan, bukan sebuah kebetulan ketika mereka merilis Galaxy Fold di saat mulai diadopsinya teknologi 5G. Lewat perpaduan keduanya, semua jenis pengalaman yang membutuhkan teknologi jaringan cepat, seperti Augmented Reality (AR) dapat dirasakan langsung oleh pengguna di dalam perangkatnya.

“Ketika kita beralih ke 5G, saya tidak berpikir itu kebetulan ketika kita punya timming yang pas untuk membuka semua jenis pengalaman AR, apakah itu hologram pada smartphone lipat Anda atau siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ucap Kate.

“Saya pikir saat ini semua orang mengatakan, ‘ok, saya bisa melihat bagaimana Anda akan dapat menggunakannya’,” jelasnya.

{Baca juga: Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat}

Sekadar informasi, Samsung Galaxy Fold memang tersedia dalam dua versi, yakni versi 4G LTE dan 5G. Smartphone tersebut akan dijual resmi pada 26 April mendatang, dengan harga mulai dari Rp 27,7 jutaan.

Smartphone ini punya layar utama berjenis AMOLED fleksibel dengan ukuran 7,3 inci dan beresolusi 1536 x 2152 piksel. Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.

Untuk dapur pacunya, Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh. Di sektor kamera, Galaxy Fold punya enam kamera.

Tiga kamera utama yang bisa diakses pada mode smartphone atau tablet dengan resolusi 12 MP lensa wide-angle, 12 MP lensa telephoto, dan 16 MP lensa ultra-wide. Lalu, ada dua kamera di bagian dalam atau pada mode tablet dengan resolusi 10 MP dan 8 MP lensa RGB depth, dan satu kamera depan 10 MP pada mode smartphone. (FHP)

Qualcomm Perkenalkan Artificial Intelligence Engine Generasi 4

0

Telko.id – Tuntutan terhadap Artificial Intelligence (AI) setiap waktu nya semakin tinggi. Itu sebabnya, Qualcomm terus menerus meningkatkan kemampuan Artificial Intelligence Engine nya agar dapat lebih mencerdaskan smartphone kelas premium.

Produk tersebut, baru saja diperkenalkan pada Mobile World Congress di Barcelona minggu ini. Menurut Qualcomm, produk baru nya mampu mendukung peningkatan pengalaman pengguna ketika sedang memaksimalkan smartphone kelas premiumnya yang menggunakan Qualcomm Snapdragon 855 Mobile Platform. Baik AI untuk suara, kamera maupun AR.

AI Engine generasi 4 ini pun diyakini bakan menodrong inovasi pada OEM (original equipment manufacturer), independent software vendor (ISV) dan perusahaan cloud computing sehingga mampu menghasilkan pengembangan dan penyebaran fitur-fitur unggul yang mendukung perangkat AI yang mulus dan menarik di perangkat Android. Tujuannya ya untuk menyenangkan para konsumen smartphone pada tahun 2019 ini.

Manufaktur smartphone, termasuk LG, OPPO, Samsung, Sony, dan Xiaomi, baru-baru ini sudah meluncurkan ponsel flagship mereka yang berbasis Snapdragon 855, yang semuanya mengambil keuntungan dari Qualcomm AI Engine untuk mengembangkan fitur AI di masing- masing perangkat.

Seperti yang dilakukan oleh LG pada kamera di LG G8 dan V50 yang mengintegrasikan Google Lens, kemudian menggunakan Google NN API dan Qualcomm Hexagon Vector Processor di Qualcomm AI Engine untuk mengenali dan mendapatkan konteks dari teks di pratinjau kamera hampir empat kali lebih cepat dari pada CPU.

Fitur AI tambahan yang disediakan adalah fitur kamera tunggal dan dual kamera bokeh, otentikasi wajah 3D, deteksi pemandangan, resolusi super, dan peningkatan fotografi komputasional yang banyak sekali yang akan mendukung hasil pemotretan foto dan video menjadi lebih berkualitas tinggi, pemrosesan efek secara real-time yang lebih mudah dan lebih alami bagi konsumen.

“Jumlah OEM seluler dan kolaborator ekosistem yang memanfaatkan generasi ke-4 dari Qualcomm AI Engine milik Qualcomm Technologies di Snapdragon 855 membuktikan validnya strategi produk AI kami yang beragam,” kata Gary Brotman, Senior Director of Product Management, Qualcomm Technologies, Inc.

Gary menambahkan, dengan menyediakan on-device AI yang telah dioptimalkan dan menawarkan rangkaian perangkat lunak yang luas dan neural network frameworks, Snapdragon 855 akan menjadi platform seluler pilihan bagi pengembang yang ingin mendorong batas kinerja AI pada perangkat dan memberikan fitur AI baru yang inovatif dan aplikasi untuk ponsel flagship mereka tahun ini. (Icha)

 

 

Samsung “Beri Kode” Kalau Galaxy Fold Unggul dari Huawei Mate X

0

Telko.id, Jakarta – Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X merupakan dua smartphone lipat dengan konsep desain yang berbeda. Meski sama-sama mengadopsi teknologi layar fleksibel yang bisa dilipat, kedua smartphone ini memiliki “cara lipatan” yang berbeda.

Perlu diketahui, Samsung Galaxy Fold mengandalkan layar berukuran 7,3 inci berjenis AMOLED dengan resolusi 1536 x 2152 piksel. Sedangkan Huawei Mate X, punya layar AMOLED berukuran 8 inci dengan resolusi 2480 x 2200 piksel.

Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.

{Baca juga: Samsung Galaxy Fold vs Huawei Mate X: “El Clásico” Smartphone Lipat}

Sementara Mate X, didesain agar layarnya dapat dilipat ke luar. Ketika dilipat, layar bagian depan berukuran 6,6 inci dan aspek rasio 19,5 : 9 akan aktif, sementara layar yang berada di bagian belakang dengan ukuran 6,38 inci dan aspek rasio 25 : 9 akan mati.

Diungkapkan Director of Product Services and Commercial Strategy Samsung UK, Kate Beaumont, desain Galaxy Fold jauh lebih baik daripada smartphone dengan lipatan layar keluar, seperti Huawei Mate X. Sebab, desain lipatan ke dalam merupakan cara terbaik untuk melindungi layar fleksibel itu sendiri.

“Kami mempertimbangkan banyak pilihan. Kami merasa memiliki layar di bagian dalam adalah cara terbaik untuk melindungi layar itu,” katanya, seperti dikutip Telko.id dari The Verge, Rabu (27/02/2019).

Ia mengatakan, pihaknya memiliki teknologi untuk mengembangkan perangkat lipat dengan lipatan yang sangat kecil. Selain itu, Kate juga menyatakan bahwa perangkat dengan desain layar lipatan ke luar tidak membutuhkan penelitian dan pengembangan yang cukup banyak.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

“Karena tentu saja jika Anda memiiki lipatan di luar, tidak perlu penelitian dan pengembangan yang cukup banyak untuk membuat perangkat lipat,” ucap Kate.

Meski demikian, belum diketahui pasti manakah yang lebih “tahan banting” antara Samsung Galaxy Fold dan Huawei Mate X. Sebab, baik Samsung atau Huawei masih membatasi akses terhadap perangkat premiumnya tersebut sampai benar-benar dirilis secara resmi nanti.

Sekadar informasi, Samsung memastikan akan menjual Galaxy Fold pada 26 April mendatang dengan harga USD 1.980 atau Rp 27,7 jutaan. Sementara Huawei bakal merilis Mate X pada pertengahan tahun 2019 ini di harga USD 2600 atau Rp 36,4 jutaan. (FHP)

Terlalu Premium, Samsung Galaxy Fold Dijual untuk Pelanggan Khusus

0

Telko.id, Jakarta – Samsung memastikan bahwa smartphone lipatnya, Samsung Galaxy Fold akan diperlakukan dengan cara yang spesial dan berbeda ketika dijual secara resmi. Hal ini diungkapkan oleh Director of Product Services and Commercial Strategy Samsung UK, Kate Beaumont.

Menurutnya, Samsung tidak akan mengejar pasar besar untuk Galaxy Fold. Sebaliknya, mereka hanya ingin menargetkan pelanggan khusus untuk perangkat premiumnya tersebut.

“Ini adalah perangkat super premium, dan kami ingin memastikan ia (Galaxy Fold) memiliki layanan dan pengalaman seperti dijaga oleh petugas, sehingga tidak akan dipajang di semua toko,” katanya, seperti dikutip dari GSMArena, Rabu (27/02/2019).

{Baca juga: Harga Samsung Galaxy Fold Nyaris Rp 30 Juta!}

Kate juga ingin memastikan, siapapun yang akan membeli smartphone lipat tersebut akan mendapatkan pengalaman yang sangat pribadi. Selain itu, konsumen juga berhak memiliki layanan aftercare yang intensif dari Samsung.

“Anda tidak akan melihatnya di sembarang tempat, karena kami ingin memastikan bahwa itu akan menjadi pengalaman pribadi. Akan ada aftercare yang cukup intensif yang menyertainya juga,” jelasnya.

Itu berarti, proses pembelian Galaxy Fold akan cukup berbeda daripada pembelian smartphone flagship lain seperti trio Samsung Galaxy S10. Sayang, Samsung sampai sekarang belum memberikan kejelasan soal proses pembelian dari smartphone premiumnya ini.

Samsung Galaxy Fold sendiri merupakan sebuah kejutan Samsung untuk mengawali acara Galaxy Unpacked 2019. Smartphone ini punya layar utama berjenis AMOLED fleksibel dengan ukuran 7,3 inci dan beresolusi 1536 x 2152 piksel.

{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}

Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif. Untuk dapur pacunya, Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh.

Di sektor kamera, Galaxy Fold punya enam kamera. Tiga kamera utama yang bisa diakses pada mode smartphone atau tablet dengan resolusi 12 MP lensa wide-angle, 12 MP lensa telephoto, dan 16 MP lensa ultra-wide.

Lalu, ada dua kamera di bagian dalam atau pada mode tablet dengan resolusi 10 MP dan 8 MP lensa RGB depth, dan satu kamera depan 10 MP pada mode smartphone. Samsung Galaxy Fold akan tersedia dalam dua versi, yakni 5G dan 4G LTE. Smartphone ini akan dijual mulai dari USD 1.980 atau setara Rp 27,7 jutaan pada 26 April mendatang. (FHP)

Nokia 210, Feature Phone Murah Bisa Internetan

0

Telko.id, Jakarta – Setelah meluncurkan Nokia 9 PureView, HMD Global juga meramaikan Mobile World Congress (MWC 2019) dengan meluncurkan ponsel baru lainnya, Nokia 210. Feature phone Nokia ini dibanderol dengan harga murah, yakni $ 35 atau sekitar Rp 489 ribu.

Dilansir Telko.id dari India Today pada Selasa (26/02/2019), Nokia 210 disebut-sebut sebagai Feature phone yang sudah terkoneksi internet dengan harga paling terjangkau.

Nokia 210 mendukung akses internet dan dilengkapi dengan App Store sendiri. Secara spesifikasi Nokia 210 juga dilengkapi dengan Opera Mini yang sudah dimuat sebelumnya dan mendukung penggunaan kartu SIM ganda.

Tampaknya Nokia 210 tidak mendukung jaringan 4G, karena HMD tidak menyebutkan hal itu selama peluncurannya di ajang MWC 2019. Memori penyimpanan Nokia 210 tampaknya sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Mereka melengkapi Nokia 210 dengan RAM 4 Megabyte (MB) dan penyimpanan internal 16MP. Kemudian Nokia 210 memiliki layar QVGA 2,4 inci dan keypad alfanumerik tradisional.

{Baca juga: Smartphone Menengah jadi Fokus Utama, Nokia: Biar Gak Mahal}

Ponsel ini memiliki daya baterai sebesar 1020mAh dan mendukung FM. Selain itu, Nokia 210 hadir dengan game Classic Snakes yang sudah banyak ditemukan di seri ponsel Nokia sebelumnya.

Nokia telah mempertahankan posisi yang kuat di banyak pasar, terutama India. HMD telah menjadi pemimpin pasar dalam segmen telepon fitur selama dua kuartal terakhir, dan perusahaan akan berupaya mempertahankan posisinya di segmen ini dengan bantuan Nokia 210.

Nokia 210 akan tersedia di pasar tertentu mulai minggu depan. Perusahaan ini kemungkinan akan meluncurkan Nokia 210 di India, yang merupakan salah satu pasar ponsel terbesar di dunia. Namun sampai sekarang, tidak ada kepastian tanggal kapan Nokia 210 akan dirilis di India.

Di MWC 2019 HMD Global resmi mengumumkan smartphone anyarnya yakni Nokia 9 PureView di ajang tahunan tersebut. Smartphone ini cukup bikin penasaran dan sudah lama dinanti, karena diklaim memiliki kemampuan fotografi yang luar biasa dengan mengusung 5 kamera.

{Baca juga: Nokia 9 PureView, Ponsel 5 Kamera Pertama di Dunia}

Dari sisi desain, Nokia 9 PureView nampak masih tetap setia dengan gaya yang telah dibangun HMD selama beberapa tahun terakhir. Bentuk persegi panjang dengan penampilan yang sederhana dan elegan, lis aluminium dan kaca di bagian belakang, melengkung ke arah tepi untuk pegangan yang lebih nyaman.

Sementara pada bagian layarnya, smartphone ini memiliki layar 5,99 inci dengan rasio aspek 18: 9. Resolusi ini ditandai sebagai QHD+, yang berarti 1440 x 2880 dan merupakan panel OLED untuk warna hitam pekat dan warna cerah. [NM/HBS]

Sumber: India Today

Samsung Galaxy S10 Punya Fitur Dompet Cryptocurrency

0

Telko.id, Jakarta – Samsung menyertakan fitur dompet cryptocurrency atau mata uang digital di smartphone andalan terbarunya, Samsung Galaxy S10. Dompet ini memungkinkan pengguna menyimpan bitcoin, Ethereum, dan cryptocurrency terkait kosmetik kecantikan yang disebut Cosmo Coin. Ini adalah dompet penyimpanan yang tidak terhubung ke internet.

Dilansir Telko.id dari The Verge, Galaxy S10 juga mendukung Decentralized Applications (Dapps) atau aplikasi ini tidak dimiliki oleh siapapun, tidak dapat dimatikan, dan sistem tidak dapat down.

Saat ini aplikasi Dapps Samsung yang tersedia disebut Cosmee.  Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna mendapatkan token Cosmo dengan syarat harus meninggalkan ulasan kecantikan di aplikasi tersebut.

Cosmochain selaku startup blockchain asal Korea Selatan  yang mengembangkan Cosmee mengatakan bahwa imbalan tersebut berguna untuk merekam semua ulasan dengan terkait kecantikan.

Tidak hanya Cosmee, Samsung juga mengumumkan dukungan untuk cryptocurrency yang disebut Enjin Coin, mata uang digital berbasis Ethereum untuk para gamer yang didirikan di Korea Selatan. Samsung mengatakan akan mendukung pembayaran tanpa kontak menggunakan cryptocurrency.

{Baca juga: Samsung Galaxy S10 vs iPhone XS: Adu Kuat Flagship “Zaman Now”}

Samsung adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang telah meluncurkan ponsel dengan blockchain, dan partisipasinya dalam tren dapat mempengaruhi pemain lain di pasar. Tahun lalu, Sirin Labs meluncurkan telepon Finney dengan dompet untuk menyimpan cryptocurrency, yang harganya $ 1.000. atau Rp 13,9 juta.

Lalu ada HTC Exodus, smartphone yang telah tersedia untuk preorder sejak Oktober lalu dan hanya dapat dibeli dengan cryptocurrency. Di smartphone tersebut ada dompet untuk menyimpan token digital juga yang dipartisi dari bagian ponsel lainnya untuk keamanan yang lebih baik.

{Baca : Trio Samsung Galaxy S10 Resmi Diperkenalkan}

Secara teknis, dimungkinkan untuk mengubah ponsel Android apa pun menjadi dompet yang menyimpan mata uang digital. Caranya cukup instal aplikasi Android untuk browser web Opera. Sayangnya dompet seperti itu hanya mendukung  mata uang digital jenis Ether sedangkan untuk mata uang lain rencananya akan ditambahkan. [NM/HBS]

Sumber: The Verge

Tahun Ini BlackBerry Tidak Luncurkan Ponsel Baru

0

Telko.id, Jakarta – Biasanya, pabrikan smartphone meluncurkan seri ponsel baru setiap tahun. Samsung sudah meluncurkan Galaxy S terbaru, sementara Apple merilis iPhone baru pada September nanti. Namun hal itu tidak terjadi dengan BlackBerry.

BlackBerry Mobile, yang kini ada di bawah tanggung jawab perusahaan elektronik China TCL, tampaknya tidak bisa meluncurkan satupun ponsel baru di tahun 2019.

General Manager BlackBerry Mobile, Francois Mahieu berkata, varian terbaru dari lini BlackBerry Key tidak akan dirilis sampai setidaknya enam bulan mendatang.

Itu berarti, BlackBerry Key2 baru akan tersedia di pasar selama 14 bulan ke depan, waktu yang cukup lama bagi sebuah seri ponsel baru. Sebagai gantinya, TCL merilis Key2 baru dengan sedikit perubahan.

Kali ini, mereka memperkenalkan Key2 dalam warna merah. Selain perubahan warna, Key2 juga memiliki memori internal yang lebih besar.

“Kami tidak ingin meluncurkan ponsel BlackBerry baru tanpa pikir panjang,” kata Mahieu.

Kemungkinan, apa yang dilakukan BlackBerry tidak akan ditiru oleh perusahaan smartphone lain. Berbeda dengan para pesaingnya, BlackBerry menargetkan pasar niche, yakni orang-orang yang ingin mendapatkan ponsel dengan keyboard fisik.

Namun, langkah BlackBerry ini menunjukkan bahwa pasar ponsel memang tengah menciut. Konsumen tidak lagi membeli ponsel baru sesering dulu.

Mahieu bersikeras bahwa pangsa pasar BlackBerry masih tumbuh, tapi dia juga mengaku bahwa pasar smartphone memang sangat kompetititf.

Mahieu juga menyebutkan, sama seperti pengguna ponsel merek lain, pengguna BlackBerry juga menggunakan ponselnya dalam jangka waktu lebih lama. Karena itu, mereka tidak merasa harus meluncurkan produk baru setiap tahun.

“Jika kami ingin tetap bertahan dengan segmen pasar dan target merek kami, kami harus menemukan pendorong bagi konsumen untuk memperbarui ponselnya,” kata Mahieu. “Apa yang akan membuat Anda mengganti ponsel?” sambungnya.

Salah satu hal yang bisa mendorong seseorang untuk mengganti smartphone miliknya adalah 5G. Namun, Mahieu berkata bahwa BlackBerry tidak akan meluncurkan ponsel 5G pada tahun ini. Ada kemungkinan, BlackBerry baru akan merilis ponsel 5G tahun depan. [BA/HBS]

Sumber: Cnet

Advan Siap Masuk Ke Pasar IoT Pada Semester Satu 2019

0

Telko.id – Internet of Things mulai menjadi trend saat ini. Semakin banyak perusahaan maupun smart city yang membutuhkan. Di Indonesia sendiri IoT ini diperkirakan akan menjadi pasar yang besar. Tak pelak, Advan pun tergiur untuk masuk ke bisnis ini.

Berdasarkan informasi dari IoT Forum Indonesia, pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi mencapai Rp 444 triliun pada 2022, dengan lebih dari 400 juta perangkat sensor terpasang.

Secara rinci, angka ini terdiri dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform sebesar Rp 156,8 triliun, perangkat IoT sebesar Rp56 triliun, serta network dan gateway sebesar Rp 39,1 triliun.

Berdasarkan itu juga, Advan melihat bahwa peluang untuk masuk ke pasar IoT ini akan menjanjikan. Bahkan, saat ini vendor smartphone lokal yang sempat berada di posisi ketiga besar tahun lalu itu sudah menggodok secara bisnis untuk masuk ke IoT.

“Kira-kira tahun ini kita akan masuk ke bisnis IoT. Tapi masih dalam penggodokan,” ujar Andy Gusena, Managing Director dan Pendiri Endee Communication yang juga menjadi konsultan marketing nya Advan.

Andy melanjutkan bahwa saat ini masih melihat-melihat juga produk IoT apa yang berkembang di Cina. Pasalnya, produksi produk-produk IoT di Cina juga sudah mulai berkembang pesat. Tapi mungkin tidak semua nya cocok atau pas dipasarkan di Indonesia.

“Kami juga masih mempertimbangkan, apakah akan menggunakan brand yang sama, Advan, atau menggunakan brand lain. Jangan sampai, bisnis baru ini mengganggu bisnis yang sudah ada atau bahkan menarik ke bawah,” ujar Andy.  (Icha)

 

 

 

 

Oppo Terinspirasi Oleh OnePlus Untuk Masuk Pasar Amerika

Telko.id – Adanya ‘perseteruan’ Huawei dengan Amerika terkait keamanan nasional ternyata tidak meluruhkan keinginan pada produsen smartphone asal Tiongkok untuk berupaya masuk ke Amerika Serikat. Salah satu yang berniat dan sudah menyampaikan keinginannya tersebut adalah Oppo.

Hal ini disampaikan oleh Alan Wu, Head of Overseas Business Oppo sesaat sebelum acara MWC 2019, di Barcelona dimulai. Wu tidak spesifik mengenai waktu, tetapi dia mengatakan dia ingin menunggu sampai Oppo berhasil di Eropa. Padahal, pasar Eropa sendiri tidak mudah untuk dikuasai.

“Pasar Eropa jelas sulit untuk ditembus, jadi Anda harus bersabar,” kata Wu, seperti dikutip dari CNET.

Bahkan Wu juga mencatat bahwa Huawei saja membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk membangun dan menjadi sukses di negara tersebut.

Oppo adalah perusahaan China terbaru yang membuat niatnya untuk pasar AS diketahui, mengikuti OnePlus, serta sesama produsen smartphone lainnya asal Tiongkok yakni TCL dan ZTE.

Sayang, niatan Oppo ini disampaikan pada kondisi yang kurang baik. Di mana antara Cina dan AS sedang tidak harmonis terkait tarif dan pernyataan keras AS tentang masalah keamanan atas Huawei. Lalu, ZTE sendiri sedang berusaha untuk bangkit kembali setelah menyelesaikan perselisihan dengan Departemen Perdagangan AS yang mengakibatkan sanksi yang menghancurkan.

Keyakinan Oppo untuk masuk ke pasar Amerika ini berkat OnePlus yang sudah lebih dahulu bisa menapakan kaki. Semua berawal tahun lalu ketika OnePlus memperoleh kesepakatan dengan T-Mobile, operator di Amerika untuk menyediakan smartphone terjangkau tapi canggih. Yang akhirnya membuat OnePlus bisa sukses di negara bagian AS. Dan perusahaan ini baru saja dinobatkan sebagai vendor smartphone premium paling populer kelima di AS oleh IDC.

Lalu, keyakinan tersebut bertambah karena Oppo, OnePlus dan Vivo ini sama-sama dimiliki oleh konglomerat Cina bernama BKK Electronics. Walau demikian, Wu menekankan bahwa Oppo dan OnePlus dijalankan secara independen, termasuk juga menentukan beragam fitur yang akan dibenamkan dalam produk.

“Mereka bisa sangat besar, atau mereka bisa sangat kecil dan cantik, tetapi mereka harus memiliki fitur yang ditentukan sendiri,” kata Wu tentang dinamika antara Oppo, OnePlus dan Vivo.

Tetapi tidak dipungkiri oleh Wu bahwa para pemimpin ketiga merek tersebut memiliki hubungan yang erat satu dengan yang lain.

Itu sebabnya, Oppo berharap OnePlus dan pembuat ponsel Cina lainnya akan membuka jalan ke pasar Amerika.

Jadi, ketika Oppo benar-benar ingin invasi ke pasar Amerika, harus bisa menemukan identitasnya sendiri. OnePlus misalnya, dikenal sebagai Flagship killer yang menyediakan fitur yang biasa ditemukan pada handset mahal, dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun, Wu sendiri lebih ‘mengagumi’ strategi yang digunakan oleh pemimpin global, Samsung dan mengambil inspirasinya dari raksasa teknologi Korea tersebut ketika menyediakan smartphone dengan desain dan warna pada produk-produknya.

Ketimbang Huawei, yang memiliki tujuan agresif untuk menggantikan Samsung. Wu mengatakan dia lebih fokus pada produk daripada papan peringkat.

“Kami tidak pernah berpikir tentang ukuran pasar atau pangsa pasar atau bahkan keuntungan,” kata Wu. Prioritasnya lebih pada menciptakan ‘produk yang menarik’ bagi konsumen.

Sebagai informasi, menurut Counterpoint Research, selama kuartal terakhir tahun 2018, Oppo memiliki 8% pasar global, menempati posisi keempat di seluruh dunia. Di Tiongkok, Oppo meraih 21% pasar samrtphone pada kuartal keempat. Itu menempatkannya di posisi kedua, tepat di belakang vendor nomor satu Huawei dengan 23%. (RIZ/Icha)

 

Advan Luncurkan Ponsel Android Go Harga Rp 800 Ribuan

0

Telko.id, Jakarta – Hari ini Advan secara resmi meluncurkan ponsel seri terbarunya Advan S6 Plus. Menjalankan system operasi Android Go, masyarakat dapat memperolehnya dengan harga Rp 800 ribuan.

General Manager Salesman Advan, Ellen Angerani mengatakan, ini akan menjadi produk “Hero” kami. Disaat vendor mengeluarkan ponsel diatas Rp 1 jutaan. Tapi banyak juga masyarakat yang masih membutuhkan produk dibawah Rp 1 jutaan.

“Saat ini market share ponsel di bawah Rp 1 juta menipis, tapi untuk di area pedesaan hingga di Jakarta sendiri masih ada pasarnya,” ujar Ellen di Paradigma Cikini Kafe & Restoran Jakarta , Selasa (26/2/2019).

{Baca juga : Diberitakan Pailit, Begini Tanggapan Advan}

Lebih lanjut Ellen mengungkapkan, Advan S6 Plus hadir dengan Android Go, dengan menyertakan RAM 1GB dan memori internal 8GB. Meski begitu, Advan mengklaim memori tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Pasalnya sebagai ponsel Android Go, toko aplikasi Advan langsung menyarankan aplikasi-aplikasi versi lite. Misalnya Facebook Lite, Twitter Lite, hingga YouTube Go.

“Tidak hanya itu yang diunggulkan Advan dalam produk yang akan diluncurkannya ini. Ponsel ini juga memiliki layar 5,5 inci yang cukup lega. Oleh sebab itu, dengan pede Advan menyebut smatphone ini sebagai “Raja Smartphone di Bawah Rp 1 Juta”,” ungkap Ellen.

{Baca juga : Advan Luncurkan S50 4G, Gratis YouTube Setahun}

Rencananya Advan S6 Plus akan dijual secara flash sale ekslusif di Tokopedia pada 27 Maret 2019. Pada penawaran flash sale ini, Advan menawarkan harga Rp 799 ribu untuk Advan S6 Plus dengan bundling paket TAU Lite 6.

Dalam bundling tersebut, konsumen akan mendapatkan paket data total 6GB, ditambah 2GB untuk aplikasi VideoMax dan GamesMax, serta 100 menit telepon, serta 500 SMS ke sesama Telkomsel.

Sementara untuk penjualan offline dilakukan usai flash sale digelar, yakni awal Maret 2019. (MS)