Telko.id, Jakarta – Dewan Direktur Google setuju membayar USD 45 juta atau setara Rp 641 miliar kepada mantan eksekutif Google yang dituduh melakukan pelecehan seksual. Hal itu sesuai dengan dokumen yang dikeluarkan oleh pengadilan.
Menurut laporan New York Times, seperti dikutip Telko.id, Selasa (12/03/2019), pesangon Rp 641 miliar tersebut diberikan kepada Amit Singhal, eks Head of Search Unit Google. Ia telah mengundurkan diri dari perusahaan pada 2016 lalu.
Berdasarkan risalah yang ada di dokumen, tuduhan yang dimasukkan ke pengadilan pada Januari 2019 itu menyatakan bahwa Google telah menutup-nutupi pelecehan seksual yang dilakukan oleh para eksekutif perusahaan.
{Baca juga: Pedofil Manfaatkan TikTok untuk Buntuti Gadis Remaja?}
Tak hanya Singhal, raksasa pencarian ini juga memberi pesangon kepada Andy Rubin, pencipta sistem operasi Android sekaligus mantan eksekutif Google. Bentuknya berupa saham senilai USD 150 juta atau Rp 2,1 triliun.
Salah satu pendiri Google, Larry Page, meminta kepada Rubin untuk mengundurkan diri setelah muncul kabar soal pelecehan seksual yang dilakukan dirinya. Rubin kabarnya mendorong seorang karyawan wanita untuk melakukan oral seks di kamar hotel pada 2013.
Sama halnya Rubin, Singhal mengundurkan diri dari Google pada 2016 setelah dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap pekerja wanita yang bertugas di departemen lain. Seolah tak kapok, pada 2017 Singhal lagi-lagi terlibat kasus pelecehan seksual di Uber.
{Baca juga: Protes Kasus Andy Rubin, Karyawan Google Gelar Mogok Kerja}
Namun demikian, Rubin maupun Singhal kompak membantah tuduhan tersebut. Google bergeming, tetap meminta keduanya untuk mundur dari perusahaan.
“Beberapa tahun belakangan, kami telah membuat banyak perubahan di perusahaan. Kami mengambil kebijakan tegas terkait perilaku yang pantas bagi orang-orang yang mendapatkan posisi dengan kekuasaan,” kata Google. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – Jerman kemungkinan besar tetap mengizinkan Huawei untuk beroperasi. Jerman tampak tak terpengaruh oleh bujuk rayu Amerika Serikat (AS). Melihat sikap Jerman, pemerintah AS pun panas, kemudian melontarkan ancaman.
Menurut laporan CNN, Duta Besar AS untuk Jerman, Richard Grenell, telah mengirim surat. Isinya berupa pernyataan ancaman AS untuk menutup akses intelijen ke Jerman jika Huawei benar-benar diizinkan untuk membangun jaringan 5G.
“Kementerian Federal Urusan Ekonomi dan Energi sudah menerima sebuah surat. Kami akan membalas secepatnya,” ungkap juru bicara kedutaan Jerman di Washington, Matthias Wehler, seperti dikutip Telko.id, Selasa (12/3/2019).
AS memang sangat khawatir terhadap keberadaan Huawei. AS menuding Huawei menjadi sarana pemerintah China untuk melakukan aksi mata-mata. Kendati begitu, sampai sekarang, AS belum bisa membuktikan tuduhan yang dialamatkan ke Huawei.
{Baca juga:Amerika Serikat Serukan “Anti Huawei” ke Negara Sekutu}
Para analis dan eksekutif industri menyatakan, Huawei telah mengembangkan teknologi utama di jaringan 5G sehingga sulit digantikan oleh vendor lain. Jerman, pada 7 Maret 2019, siap menerima perusahaan manapun terkait proyek jaringan 5G.
Sebelumnya, Inggris pun mengeluarkan keputusan serupa. Namun, AS tetap mendesak negara-negara sekutu untuk menghindari Huawei. Kalau mereka tidak menurut, AS siap melakukan boikot, termasuk dalam hal kerja sama di bidang pertahanan.
Di lain sisi, pendiri Huawei, Ren Zhengfei, meyakini bahwa tekanan AS tidak akan menghancurkan perusahaannya.
{Baca juga:Amerika Tuduh Huawei Penipu dan Pencuri Teknologi}
“Tidak ada cara bagi AS untuk bisa menghancurkan kami. Dunia tidak bisa meninggalkan kami. Semua tahu kami lebih maju,” tegasnya. [SN/HBS]
Telko.id, Jakarta – Huawei dikabarkan sedang menyiapkan sistem operasi bikinan sendiri untuk perangkatnya di masa mendatang. Nantinya, sistem operasi Huawei akan menjadi pengganti sistem operasi Android dari Google.
CEO Huawei, Richard Yu dalam sebuah wawancara membenarkan bahwa mereka sedang membangun dan mengembangkan sistem operasi Huawei untuk mengganti Android. Namun ia menyebut, proyek itu merupakan bentuk antisipasi.
Dengan kata lain, jika suatu waktu tak lagi bisa menggunakan Android, Huawei sudah mempunyai sistem operasi sendiri. Namun demikian, saat ini Huawei merasa masih nyaman menggunakan ekosistem buatan Google dan Microsoft.
{Baca juga: Saat iOS ‘Berwajah’ Windows 95}
“Kami sudah menyiapkan sistem operasi sendiri. Jadi, kalau tak lagi bisa menggunakan Android, kami sudah siap. Proyek ini adalah rencana alternatif. Tapi, kami masih senang memakai ekosistem punya Google dan Microsoft,” ujar Yu.
Seperti dikutip Telko.id dari BGR, Selasa (12/03/2019), rencana alternatif Huawei itu mungkin bisa dipahami. Sebab, ada aksi pemboikotan secara berjemaah oleh sejumlah negara terkait penggunaan perangkat buatan Huawei.
Namun, Huawei kabarnya sedang menyiapkan gugatan hukum untuk pemerintah Amerika Serikat terkait tuduhan pembatasan akses pasar. Pengumuman Huawei mengajukan tuntutan dilakukan pada Kamis (07/03) waktu setempat.
{Baca juga: Segera Diluncurkan! Trio Huawei P30 Kantongi Sertifikat TKDN}
Seorang sumber menyebut bahwa gugatan itu diajukan di Distrik Timur Texas, wilayah yang sama dengan lokasi kantor pusat Huawei di Amerika Serikat. Langkah tersebut sebagai upaya perusahaan untuk mempertahankan bisnis.
Asal tahu saja, Huawei bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan platform alternatif pengganti Android. Samsung sebelumnya juga punya Tizen, yang bahkan sudah sempat dipakai di sejumlah perangkat di pasaran. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – Microsoft dan IDC Asia Pasifik melakukan studi tentang adopsi Artificial Intelligence (AI) di Asia Pasifik dan Indonesia. Studi ini menunjukan bahwa hanya 14% perusahaan di Indonesia, yang menerapkan AI dalam startegi bisnis dan organisasi mereka.
Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee telah melakukan survei terhadap 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia. Hasilnya terlepas dari potensi ekonomi Indonesia, nyatanya hanya 14% dari perusahaan yang benar-benar mengimplementasikan AI.
“Ada 14% organisasi yang adopting AI dalam core strategy mereka. Lalu ada 42% perusahaan yang mulai bereksperimen dengan AI sebagai bagian dari strategi organisasi,” ujar Haris di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta Selasa (12/03/2019).
Haris menambahkan bahwa masih ada perusahaan yang belum melakukan transformasi ke AI. Berdasarkan survei ada 30% perusahaan yang masih menunggu untuk mengadopsi AI, dan 14% perusahaan mengaku belum ada rencana untuk menggunakan AI.
{Baca juga: Microsoft Rilis Aplikasi AR untuk Android dan iOS}
“14% perusahaan belum memulai dan mempertimbangkan untuk menggunakan AI sebagai strategi bisnisnya,” tutur Haris.
Dalam pemaparannya, Haris juga menjelaskan terkait 3 tantangan adopsi AI di Indonesia. Tantangan yang pertama adalah kepemimpinan. Sekitar 30% responden kurang memiliki komitmen untuk investasi di bidang AI.
Tantangan kedua adalah kemampuan atau skills. Menurut Haris ada 23% responden yang kurang berkomitmen untuk belajar teknologi terbaru seperti AI. Sedangkan tantangan terakhir adalah culture atau budaya. Maksudnya masih ada pihak yang mempertahankan budaya lama perusahaan mereka.
“Ada 13% yang masih mempertahankan budaya organisasi sehingga itu menjadi tantangan tersendiri dalam adopsi AI,” tutur Haris.
Walaupun begitu Haris tetap optimis dengan adopsi AI di Indonesia. Pasalnya, pada tahun 2021, diprediksi Indonesia akan mengalahkan negara Asia Pasifik lainnya. Menurut penelitian tersebut, Indonesia akan memiliki nilai perbaikan inovasi sebesar 57% sedangkan negara kawasan Asia Tenggara hanya 42%.
“Sedangkan untuk produktivitas karyawan di tahun yang sama, Indonesia memiliki nilai sebesar 46% atau 10% lebih tinggi dari nilai negara kawasan asia pasifik yang hanya 36%,” tutup Haris.
{Baca juga: Makin Canggih, Microsoft Excel Bisa Olah Data dari Gambar}
Perlu diketahui bahwa survei ini dilakukan oleh 1605 pemimpin bisnis dan 1585 karywan berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari ribuan tersebut, ada 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia.
Adapun 15 negara kawasan Asia Pasifik terlibat dalam penelitian ini seperti Australia, China, Hongkong, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, New Zealand, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. [NM/HBS]
Telko.id, Jakarta – Realme 3 bisa dibilang menjadi salah satu smartphone menengah yang mampu menarik perhatian konsumen Tanah Air di tahun ini. Alasannya, meski disematkan berbagai fitur dan teknologi mumpuni di dalamnya, harga Realme 3 terbilang dapat dijangkau oleh masyarakat Indonesia.
Smartphone ini dibanderol dengan harga mulai dari Rp 1,9 jutaan untuk versi 3GB/32GB, Rp 2 jutaan untuk 3GB/64GB, dan Rp 2,3 jutaan untuk versi 4GB/64GB.
“Realme 3 punya performa maksimal dengan harga bersaing di kelasnya,” ucap Felix Christian, Product Manager Realme Indonesia di acara peluncuran Realme 3 di Jakarta, Selasa (12/03/2019).
{Baca juga: Realme Rilis Smartphone Mumpuni nan Kekinian, Realme 3}
Soal desain misalnya, Realme 3 punya desain yang terbilang kece dan bagus. Di sisi layar, smartphone ini punya layar dengan desain dewdrop berukuran 6,22 inci dengan resolusi HD+ (720 x 1520 piksel).
Dengan desain tersebut, layarnya punya aspek rasio terhadap body yang besar, tepatnya 19 : 9. Layar bergaya dewdrop sendiri mirip seperti desain waterdrop seperti Oppo F9, Oppo R17 Pro, dan lainnya. Bahkan, desainnya juga hampir sama dengan pendahulunya, Realme 2.
Selain itu, pada bagian body juga Realme mengadopsi desain 3D Gradient Unibody yang membuatnya terlihat premium, berbeda, dan juga nyaman digenggam. Ada dua warna, yakni Dynamic Black dan Radiant Blue.
2. Foto : Helmi / Telko.id
Dijelaskan Felix, Dynamic Black menggabungkan warna hitam dan ungu kebiru-biruan yang dipadu dengan partikel mutiara di bawahnya. Sementara Radiant Blue, memadukan warna halus dengan adanya kilauan silver.
“Bahkan di bagian kamera ada lingkaran berwarna kuning yang jadi ciri khas kamera Realme,” jelasnya.
Tak cuma desain, spesifikasi juga menjadik perhatian Realme pada smartphone barunya. Smartphone ini mengusung prosesor octa-core 2.0 GHz MediaTek Helio P60, RAM 3GB/4GB, ROM 32GB/64GB, baterai berkapasitas 4,230 mAh, dan sistem operasi ColorOS 6 berbasis Android 9 Pie.
Felix menyatakan, sistem operasi ini punya pengalaman mirip Android 9 Pie murni. Seperti kemampuan Google Assistant, adanya App Drawer yang bisa diakses dengan swipe ke atas, sampai sistem navigasinya.
Terdapat juga sejumlah fitur anyar, seperti Motor Riding Mode, yang dapat menonaktifkan notifikasi dan menolak panggilan telepon ketika pengguna sedang berkendara. Kemudian, AI Board yang dapat memberikan cars subscription kepada pengguna secara optimal.
Di sektor kameranya, Realme 3 memiliki kamera ganda di bagian belakangnya. Resolusinya masing-masing 13 MP aperture f/1.8 dan 2MP lensa depth. Kamera ini telah didukung oleh fitur berbasis Artificial Intelligence (AI), seperti AI Scenes Recognition yang dapat mengenali 13 skenario berbeda dan 100 kombinasi skenario foto secara otomatis.
Selain AI Scenes Recognition, ada fitur baru juga bernama Chroma Boost yang membuat foto lebih detail dan lebih hidup. Hadir pula fitur Nightscape yang membuat foto malam menjadi lebih baik dan minim noise.
“Nightscape jadi fitur pertama di smartphone dengan harga yang hampir sama,” klaim Felix.
Sementara kamera depannya, beresolusi 13MP aperture f/2.0 yang juga didukung fitur berbasis AI bernama AI Beauty 2.0 yang dapat menyesuaikan efek cantik untuk wajah pengguna secara otomatis.
Realme 3 akan tersedia secara resmi pada 20 Maret mendatang pukul 11.00 WIB di e-commerce Lazada. Sedangkan ketersediaan secara offline, Realme akan menjualnya pada 30 Maret mendatang untuk versi 3GB/64GB dan 4GB/64GB. (FHP)
Telko.id – Pada 2018 lalu, Realme telah merilis dua seri smartphone di Indonesia, yakni Realme 2 dan Realme 2Pro. Kedua smartphone ini berhasil menyita perhatian konsumen Indonesia yang menginginkan produk terjangkau dengan kualitas baik.
Di awal 2019, Realme kembali meluncurkan smartphone anyarnya, Realme 3, yang membawa tampilan desain berbeda, prosesor yang lebih baik dan dual kamera di belakang.
Dengan beberapa fitur unggulan tersebut, bisakah Realme 3 menjadi pilihan pengguna untuk smartphone dengan harga di bawah 2 jutaan rupiah?
{Baca juga: Realme C1 (2019) Diluncurkan, Apa Saja Peningkatannya?}
Nah, untuk mengetahui lebih dalam mengenai Realme 3, baik dari sisi desain dan performanya, berikut ini review lengkap Realme 3 yang telah disajikan tim Telko.id. Cekidot!
Desain
Foto : Helmi / Telko.id
Struktur bodi yang menyerupai sandwich dan tersusun oleh layar, frame, dan cover belakang, merupakan rancangan yang paling banyak diadopsi oleh sebuah smartphone. Terlepas dari fleksibilitasnya yang tinggi, tiga lapisan tersebut akan menghasilkan bentuk desain yang terlihat terpisah pada setiap komponennya.
Untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik dalam genggaman pengguna dan konsistensi visual yang nyaman dan enak dillihat, Realme 3 menggunakan konsep unibodi yang menghilangkan bingkai tengah. Hal ini membuat garis samping bodi yang nyaris tak terlihat, sehingga membuat keseluruhan bodi ponsel terlihat lebih halus, lebih ringan, dan lebih tipis.
Hasilnya, tidak ada lagi pemisah yang dihasilkan dari penggunaan bahan yang berbeda. Tentunya ponsel ini menawarkan rasa sentuhan halus dan sangat cocok di genggaman tangan untuk memberikan pengalaman lebih nyaman.
Untuk bagian belakangnya terbuat dari plastik tetapi hadir dengan gradasi premium. Kami telah mendapatkan varian gradien biru kalau diamati ada perubahan dalam kondisi pencahayaan yang cukup dan sedikit memutar produk ke berbagai arah untuk menunjukkan perubahan efek dari gradien biru berubah ke ungu yang berkilau.
Di bagian belakang, Realme 3 menempatkan dua kamera dan LED yang diatur secara vertikal di sudut kiri atas, sementara di sudut kiri bawah ada logo Realme. Smartphone ini juga dilengkapi dengan sensor sidik jari di bagian tengah. Kami sebenarnya lebih suka pemindai sidik jari ditempatkan di belakang, karena penempatan sensor nyaman untuk jari telunjuk ketika menyentuhnya. Terlebih lagi, Realme 3 juga membawa dukungan face unlock juga.
{Baca juga : Realme 2 Pro, Smartphone Menengah dengan “Sentuhan” Flagship}
Seperti kebanyakan smartphone pada umumnya, speakerhandset diletakkan di bagian bawah. Begitupub port pengisian daya dan jack earphone 3.5mm ada di bagian bawah perangkat.
Kami suka ponsel ini dilengkapi dengan jack earphone 3.5mm, karena memberi pilihan untuk menggunakan earphone Bluetooth atau headset kabel. Bagi mereka yang membenci saat baterai headphone Bluetooth habis, opsi kabel selalu jadi pilihan yang menyenangkan.
Layar
Foto : Helmi / Telko.id
Realme 3 hadir dengan HD Full screen 6,22 inci dengan Gorilla Glass 3, memiliki resolusi 720 x 1520 piksel. Layarnya memang tidak setajam atau sedetail smartphone flagship kelas atas, tetapi menawarkan warna dan sudut pandang yang bagus. Muncul dengan rasio aspek 19:9, ponsel ini menawarkan pengalaman nyaman melihat layar.
Dengan sedang ngehits-nya layar notch, sebagian besar smartphone kini mengadopsi desain notch seperti iPhone X, atau dengan model layar water drop (tetes air). Realme 3 mengadopsi layar tetes air yang seperti OPPO R17 Pro. Dibandingkan dengan notch besar, kami lebih suka layar ini, karena jauh lebih kompak. Sayangnya, tidak ada lampu LED notifikasi pada layar Realme 3.
{Baca juga : Realme C1 Dirilis di Indonesia, Harganya Rp 1 Jutaan}
Karena menggunakan layar water drop berukuran 6,22 inci dan bezel 2,05mm, Realme 3 menawarkan rasio screen-to-body sebesar 88,3% yang menghasilkan tampilan super lebar, dan tampilan yang jauh lebih efisien. Tampilan ini memberikan pengguna pengalaman visual terbaik saat melihat gambar dan menonton video.
Kinerja
Foto : Helmi / Telko.id
Realme 3 didukung oleh prosesor Helio P60 dengan pemrosesan 12nm dan dengan ARM Mali-G72 MP3 GPU pada 800MHz / 900MHz untuk menjamin kinerja yang lancar. Smartphone ini dilengkapi dengan RAM 4GB dan penyimpanan internal 64GB. Anda tidak akan merasakan kinerja yang lelet di Realme 3, berkat chipset ini. Performa apik Realme 3 dapat tergambar dala skor benchmark AnTuTu yang mencapai 132.851.
Seperti diketahui, Helio P60 mengadopsi struktur 8-inti dan dilengkapi dengan empat inti Cortex-A53 dan empat inti Cortex-A73, dengan kecepatan clock P60 hingga 2.0GHz. Realme 3 dilengkapi dengan ARM Mali-G72 MP3 GPU pada 800MHz / 900MHz untuk menjamin kinerja yang lancar.
Helio P60 juga dilengkapi dengan sistem CorePilot 4.0 yang berfungsi untuk manajemen penggunaan aplikasi dan memungkinkan adanya alokasi sumber daya perangkat yang lebih baik dan penggunaan yang lebih stabil.
Kamera
Foto : Helmi /Telko.id
Realme 3 dilengkapi dengan kamera belakang ganda AI 13MP + 2MP dengan aperture f / 1.8 dan kamera selfie 13MP dengan f / 2.0 di depan. Ada banyak mode kamera pada perangkat ini, tetapi kami masih tetap lebih suka menggunakan mode otomatis. Alasan utamanya adalah, foto-foto dalam mode otomatis terlihat tajam dan detail.
Dengan pengenalan objek, kamera Realme 3 melakukan pekerjaan yang cukup baik untuk menganalisis subjek dan menyesuaikan keseimbangan warna yang baik. Jika ingin mengubah gaya foto, Anda bisa menggunakan filter yang sudah ada fasilitasnya.
Gambar-gambar di bawah ini diambil di siang hari yang cerah. Seperti yang dapat Anda lihat, gambar tampak bagus dan menunjukkan detail yang sangat baik dan fokus pada jarak dekat. Bokeh latar belakang juga terlihat cukup bagus. Begitupun keseimbangan warnanya tak bisa dibilang jelek.
Jika Anda akan mengambil gambar pada hari yang cerah, Anda mungkin harus menyesuaikan kecerahan di jendela bidik untuk menghindari cahaya berlebih. Tetapi secara umum, mode otomatis cukup baik pada sebagian besar kesempatan yang kami ambil.
Realme 3 memiliki dua mode khusus baru, yakni mode Chroma Boost dan mode Nightscape. Chroma Boost adalah versi lanjutan dari mode HDR yang membuat foto lebih berwarna. Jika Anda berpikir warna foto yang diambil oleh mode normal atau mode HDR lebih gelap dari seharusnya, Anda dapat memilih Chroma Boost untuk mengambil foto. Lihatlah perbandingannya, gambar menjadi lebih cerah daripada gambar lainnya secara keseluruhan.
NightscapeChroma Boost
Namun, gambar yang diambil oleh Chroma Boost tidak sedetail gambar yang diambil oleh mode HDR. Kami juga mengambil gambar dengan mode Chroma Boost + HDR untuk dibandingkan, dan itu ternyata menjadi gambar terbaik. Karena gambar tidak diekspos berlebihan, detailnya lebih baik daripada mode lainnya.
Chroma Boost + HDR
Sedangkan mode Nightscape memiliki konfigurasi meningkatkan hasil foto pada kondisi cahaya yang kurang. Dengan bantuan AI, sinergi multi-frame dan algoritma anti-shake, mode Nightscape akan secara signifikan meningkatkan kualitas gambar dikondisi kurang cahaya.
Di bawah ini kami juga mencoba mengambil foto dengan menggunakan zoom 1x, 2x dan 4x. Berfokus pada empat foto yang secara keseluruhan, kinerjanya tidak buruk, namun foto sedikit kabur.
1X2X4X
Kamera Depan
Realme 3 memiliki kamera selfie 13MP dengan aperture f / 2.0. Yang kami sayangkan, tidak ada flash khusus untuk kondisi cahaya minim. Meski begitu, selfie terlihat bagus, tajam dan detail. Kamera menghadap ke depan luar biasa, gambar berikut diambil secara terpisah pada mode automatis, mode Beauty dan mode potret.
Dibandingkan dengan foto pertama, lingkaran hitam dan noda kulit dihilangkan di foto kedua. Seperti namanya, mode Beauty benar-benar membuat kulit wajah kami menjadi halus.
Interface dan OS
Foto : Helmi / Telko.id
Realme 3 berjalan pada versi ColorOS 6.0 di atas Android 9 Pie, yang berbeda dari model Realme 2 yang menjalankan ColorOS berdasarkan Android Oreo. Antarmuka misalnya, buka halaman aplikasi dengan semua aplikasi hanya dengan menggesekkan layar dari garis abu-abu dengan panah putih mengarah ke atas maka mempermudah Anda mencari aplikasi yang diinginkan.
{Baca juga : Hadang Realme, Xiaomi Jadikan Redmi Merek Independen}
Lalu ada layer transparan yang diatur di sisi kanan tepi layar, yang menawarkan Anda untuk memilih cepat Aplikasi. Ini interface yang user freindly bagi kami. Kenapa? Misalnya, ketika kami bepergian dan kami memegang pegangan dengan tangan kiri, kami dapat menggunakan fitur ini dengan mudah untuk memilih aplikasi yang ingin digunakan. Menggeser layar ke bawah ada Notification Center dan pusat pengaturan sederhana. Ponsel ini jelas mudah digunakan, bahkan dengan satu tangan.
Baterai
Realme 3 dilengkapi dengan baterai besar 4230 mAh, dan membutuhkan waktu sekitar 3 jam 2 menit untuk mengisi daya dari 4% hingga penuh. Sebenarnya, kami pikir waktu pengisian akan terlalu lama, tetapi konsumsi daya yang rendah dan kapasitas baterai yang besar membantu kami dengan baik.
Daya tahan baterai pada ponsel ini cukup baik – tidak ada masalah untuk penggunaan sehari-hari. Anda dapat dengan mudah melanjutkan penggunaan karena hasil hitung yang kami lakukan Screen on time bisa mencapai hampir 11 jam. Ini jelas merupakan nilai tambah, karena kami benci membawa power bank.
Kesimpulan
Realme 3 dibanderol dengan harga Rp 2,399,000 juta dengan RAM 4GB dan ROM 64GB. Untuk harga tersebut, ponsel ini menawarkan banyak nilai lebih. Secara pribadi, Realme 3 telah menawarkan lebih dari yang kami harapkan. Kami suka desain, bodinya yang ringan, performa keseluruhan yang hebat, dan kameranya. Kami juga suka fakta bahwa memegang handset di satu tangan sudah cukup nyaman.
Kameranya juga tidak buruk, terutama mengingat harganya. Foto siang hari tajam dan penuh warna. Juga, Nightscape, bila digunakan dengan tepat, membuat perbedaan besar dalam fotografi waktu malam.
Tapi kami berharap pengisian baterainya bisa lebih cepat. Tetapi setidaknya baterai yang besar tidak akan membuat kami sering mencari pengisi daya! Selain itu, kami lebih suka jika layarnya memiliki tampilan FHD ketimbang HD. Semoga kedua kelemahan dari Realme 3 ini dapat ditingkatkan pada generasi berikutnya. (MS)
Telko.id, Jakarta – Realme resmi membawa smartphone terbarunya di Indonesia yang ditujukan bagi kaum muda, Realme 3. Smartphone ini mengusung desain kece dan spesifikasi mumpuni, meski kenyataannya masuk ke segmen kelas menengah.
Realme 3 mengadopsi desain kekinian karena dilapisi oleh warna gradasi dengan teknik pewarnaan khusus. Diklaim, mereka menghasilkan warna gradasi menggunakan 8 alat penyemprot cat yang dikendalikan untuk melakukan 3 kali proses penyemprotan.
Selain itu, smartphone ini memiliki layarnya dengan desain dewdrop berukuran 6,22 inci dengan resolusi HD+ (720 x 1520 piksel). Desain dewdrop sendiri mirip seperti desain waterdrop seperti Oppo F9, Oppo R17 Pro, dan lainnya.
“Realme 3 memiliki desain warna gradasi yang berbeda. Desainnya pakai konsep 3D Gradient yang bagus,” kata Felix Christian, Product Manager Realme Indonesia di acara peluncuran Realme 3 di Jakarta, Selasa (12/03/2019).
Realme menyematkan dapur pacu cukup berperforma pada Realme 3. Smartphone ini ditenagai oleh prosesor octa-core 2.0 GHz MediaTek Helio P60, RAM 3GB/4GB, ROM 32GB/64GB, dan baterai berkapasitas 4,230 mAh.
Spesifikasi tersebut dinilai mampu menopang seluruh proses yang berjalan di atas sistem operasi ColorOS 6 berbasis Android 9 Pie. Sistem operasi itu punya pengalaman khas sistem operasi Android Pie murni.
“Dengan Helio P60 daya baterai jadi lebih hemat dan efisien,” jelasnya.
Di sektor kameranya, Realme 3 memiliki kamera ganda di bagian belakangnya. Resolusinya masing-masing 13 MP aperture f/1.8 dan 2MP lensa depth. Kamera ini telah didukung oleh fitur berbasis Artificial Intelligence (AI), seperti AI Scenes Recognition yang dapat mengenali 13 skenario berbeda dan 100 kombinasi skenario foto secara otomatis.
{Baca juga: Realme C1 (2019) Diluncurkan, Apa Saja Peningkatannya?}
Sementara kamera depannya, beresolusi 13MP aperture f/2.0 yang juga didukung fitur berbasis AI bernama AI Beauty 2.0 yang dapat menyesuaikan efek cantik kepada wajah pengguna secara otomatis.
“Ada beberapa fitur di kamera Realme 3, yaitu Chroma Boost dan Nightscape” ujar Felix.(FHP)
Telko.id, Jakarta – Menkominfo Rudiantara merayu para pengusaha dari negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, khususnya Singapura, untuk segera berinvestasi di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi digital.
Hal ini dikemukakan Rudiantara dalam ajang Regional Investment Forum (RIF) 2019 di ICE, BSD, Tanggerang Senin (11/03/2019) kemarin. Ia menganjurkan mereka untuk segera berinvestasi supaya, tidak kehilangan peluang dan kereta.
“Silakan, jadilah tamu kami. Segera berinvestasi di Indonesia. Jika tidak, Anda akan kehilangan peluang. Maybe it is the last train for investment,” kata Rudiantara di hadapan para pengusaha.
Bukan tanpa alasan, menurut Menkominfo, saat ini Indonesia memiliki potensi besar terutama dalam bidang ekonomi digital. Bahkan ia menyampaikan optimistismenya akan tercapainya market size Indonesia lebih dari USD $ 150 miliar atau Rp 2134 triliun pada tahun 2025.
{Baca juga: Rudiantara: Pemerintah Siap Dukung Kandidat Unicorn ke-5}
“Hasil riset Google dan Temasek menyatakan Indonesia memiliki market size ekonomi digital mencapai USD 27 miliar dan berpotensi menjadi USD 100 miliar pada tahun 2025. Sekarang saja sudah mencapai USD 70 miliar, saya optimistis akan bisa tercapai USD 100 miliar pada tahun 2020,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, perusahaan seperti Google pun sudah melakukan investasi di Indonesia. Saat ini Google banyak berinvestasi di Go-Jek, tetapi masih terbuka peluang investasi bagi pengusaha Singapura di bidang turisme atau pariwisata.
“Tahun lalu berdasarkan data Persatuan Hotel Republik Indonesia, ada sekitar USD 100 juta yang berputar di area turisme. sekitar USD 6 juta sampai USD 7 juta ada di hotel berbintang. Belum lagi hotel melati yang menyewanya pun melalui aplikasi digital,” paparnya.
{Baca juga: Investasi Asing di Unicorn, Rudiantara: Yang Untung Masyarakat}
Kominfo sendiri tengah berupaya menyediakan akses internet cepat yang merata ke seluruh kabupaten di seluruh Indonesia melalui jaringan Palapa Ring.
“Palapa Ring dibangun untuk menyatukan kabupaten dan kota dengan jaringan backbone internet cepat. Integrasi semua pada pertengahan tahun ini. Kemudian kita juga membangun talenta digital untuk memperkuat ekosistem,” ungkap Rudiantara.
Terakhir Rudiantara mengajak investor dari negara ASEAN untuk cepat membangun ASEAN. Ia mengingatkan pendiri ASEAN yang menginginkan negara-negara di kawasan ini saling melengkapi agar bisa membuat ekonomi regional meningkat.
{Baca juga: Rudiantara: Forward Pesan WhatsApp Dibatasi untuk Redam Hoaks}
“Jika bukan kita yang mengembangkan, nanti pasti akan ada negara luar yang akan masuk. Oleh karena itu kita harus terbuka dan complymentary one another,” ajak sang menteri yang kerap disapa Chief RA itu. [NM/HBS]
Telko.id – Hasil riset Google dan Temasek menyatakan Indonesia memiliki market size ekonomi digital mencapai USD 27 miliar dan berpotensi menjadi USD 100 miliar pada tahun 2025. Saat ini, ekonomi digital Indonesia sudah mencapai USD 70 miliar. Tahun 2020, pemerintah optimistis akan bisa tercapai USD 100 miliar.
Untuk itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak pengusaha dari Singapura dan negara tetangga yang hadir dalam ajang Regional Investment Forum (RIF) 2019 untuk segera berinvestasi di Indonesia.
“Silakan, jadilah tamu kami. Segera berinvestasi di Indonesia. Jika tidak anda akan kehilangan peluang. Maybe it is the last train for investment,” ungkap Rudiantara dalam pertemuan Misi Bisnis Ekonomi Digital KBRI Singapura dalam ajang RIF 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Senin (11/03/2019).
Bukan tanpa alasan, menurut Rudiantara saat ini Indonesia memiliki potensi besar terutama dalam bidang ekonomi digital. Bahkan ia menyampaikan optimistismenya akan tercapainya marketsize ekonomi digital Indonesia lebih dari USD 150 miliar pada tahun 2025.
Menurut Rudiantara, Google banyak berinvestasi di GOJEK, dan masih terbuka lagi peluang investasi di area turisme atau pariwisata.
“Tahun lalu berdasarkan data Persatuan Hotel Republik Indonesia, ada sekitar USD 100 juta yang berputar di area turisme. sekitar USD 6 sampai 7 juta ada di hotel berbintang. Belum lagi hotel melati yang menyewanya pun melalui aplikasi digital,” paparnya mengupas potensi ekonomi digital di sektor pariwisata.
Menteri Kominfo juga menunjukkan harapan pemerintah berkaitan dengan pengembangan financial technology (fintech). Menurutnya saat ini fintech masih bergerak di produk dan pasar yang eksisting.
“Pemerintah menginginkan perkembangan keuangan inklusif bagaimana fintech bisa menjangkau orang yang belum memiliki rekening bank. Pemerintah mempromosikan adanya layanan ke unbank people,” jelasnya.
Meski demikian, Menteri Kominfo menyatakan pemerintah telah melakukan persiapan untuk mengatasi beberapa masalah dalam pengembangan fintech di Indonesia.
“Dominan peer to peer lending dan ada risiko Ads provlem yang harus diperhatikan pemerintah. OJK dan Bank Indonesia pun harus memfasilitasi dengan sistem rating kredit,” jelasnya.
Sementara Kementerian Kominfo sendiri menurut Rudiantara, berupaya menyediakan akses internet yang merata ke seluruh kabupaten di seluruh Indonesia melalui jaringan Palapa Ring. “Kami juga sedang mengupayakan akses subsidi transaksi dan data cost kepada fintech. Itu fasilitasi dalam pembangunan fintech di Indonesia,” jelas Rudiantara.
Menurut Rudiantara, pengembangan fintech di Indonesia tidak terlalu banyak diregulasi. “Kami tidak sekadar berpikir ou of the box, bahkan sekarang no box. Bagaimana bisa mendorong bisnis yang tidak feasible di luar Jawa. Peer to peer lending saja nilainya lebih dari Rp23 triliun,” paparnya.
Membangun dan memfasilitasi ekonomi digital di Indonesia menurut Rudiantara tidak mudah. Ia tidak berupaya membandingkan dengan Singapura, pasalnya Indoensia adalah negara kepulauan.
“Palapa Ring dibangun untuk menyatukan kabupaten dan kota dengan jaringan backbone internet cepat. Integrasi semua pada pertengahan tahun ini. Kemudian kita juga membangun talenta digital untuk memperkuat ekosistem,” ungkap Rudiantara mempromosikan kesiapan Indonesia.
Menurutnya perusahaan teknologi saat ini tidak perlu bingung mencari atau memperkerjakan talenta digital dari luar negeri. “Indonesia anak mudanya bagus. Pemerintah pun menyiapkan agar mereka menguasai artificial intelegence, big data analytic, robotic, cloud computing dan keterampilan digital melalui Digital Talent Scholarship,” jelas Rudiantara.
Lebih dari 40 universitas dan perusahaan IT global terkemuka ikut mendukung Digital Talent Scholarship. Talenta digital yang dididik itu akan mendapatkan sertfikasi dari perusahaan IT global. Bahkan Rudiantara menyatakan telah mengakomodasi sekolah coding Paris 42 yang tidak mensyaratkan gelar akademisi.
“Kami melakukan studi tiru. Dengan Paris 42, siapapun bisa ikut, asalkan lulus tes. Kami membawanya ke Jakarta, ke Indonesia agar bisa memperkuat keterampilan anak muda Indonesia,” jelasnya.
Menteri Rudiantara mengajak investor dari negara ASEAN untuk cepat membangun ASEAN. Ia mengingatkan pendiri ASEAN yang menginginkan negara-negara ASEAN saling melengkapi agar bisa membuat ekonomi regional meningkat.
“Jika bukan kita yang mengembangkan, nanti pasti akan ada negara luar yang akan masuk. Oleh karena itu kita harus terbuka dan complymentary one another,” ajaknya.
RIF 2019 ini digelar oleh BKPM sebagai upaya mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020. Ajang promosi investasi tahunan itu mempertemukan pelaku ekonomi digital dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, serta pelaku usaha dan investor dari dalam maupun luar negeri.
Tahun ini acara yang bertema “Indonesia’s Digital Drive: Utilizing Digital Technology in Developing Regional and Tourism Investment Opportunities”. Melalui tema itu, pemerintah akan mengungkap strategi dalam mendukung pengembangan ekonomi digital dan pariwisata di Indonesia.
Dalam diskusi di Misi Bisnis Ekonomi Digital KBRI Singapura itu, Menteri Kominfo menyaksikan penandatanganan tiga MoU, yaotu MoU Penyediaan Pelatihan IT antara PT Rising Innovation Ventures dan Glexindo, Wecode Coding School antara SG Fintech Pte. Ltd dengan Rising Innovation Ventures dan Co-working Space antara SG Fintech Pte. Ltd dengan Wecode Techno Preneur Hub.
Selain MoU Kerjasama Startup dengan pemerintah dan pelaku usaha juga digelar startup pitching di hadapan investor potensial, One-on-One Meeting dengan Investor Potensial, One-on-One Meeting dengan Pemerintah Daerah, dan Pameran untuk 10 Startup terpilih. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Channel YouTube dengan subscriber terbanyak, PewDiePie sempat turun takhta selama beberapa saat. Penyebabnya, jumlah subscriber PewDiePie berhasil dilewati oleh jumlah subscriber T-Series.
Hal itu diketahui dari siaran video buatan FlareTV yang menghitung jumlah pengikut dua channel tersebut secara real-time.
Subscriber T-Series sempat mencapai angka 88.903.882. Jumlah itu mengalahkan catatan PewDiePie yang mengoleksi 88.903.354. Pengguna Twitter dengan akun @loudmouthjulia jadi sosok yang mengabadikan momen kekalahan PewDiePie.
{Baca juga: Duh! Penggemar PewDiePie Hack Situs Wall Street Journal}
Namun, dikutip Telko.id dari CNET, Selasa (12/03/2019), PewDiePie tak butuh waktu lama untuk kembali merebut posisi puncak. Kini, ia memiliki subscriber lebih dari 88,972 juta, meninggalkan T-Series yang baru memiliki lebih dari 88,939 juta.
Ternyata, bukan kali ini saja youtubers bernama Felix Kjellberg itu sempat kehilangan takhta. T-Series pernah pula menyerobot posisi PewDiePie di tempat teratas akun paling banyak pengikut di YouTube. Kejadian itu berlangsung pada 22 Februari 2019 dan 9 Maret 2019 lalu.
{Baca juga: Giliran SPBU di Indonesia yang Diretas Penggemar PewDiePie}
PewDiePie sendiri telah memegang rekor sebagai channel YouTube dengan subscriber terbanyak sejak enam tahun lalu atau Desember 2013 silam. Saat itu, jumlah pengikut PewDiePie mencapai angka lebih kurang 18 juta.
Persaingan antara PewDiePie dan T-Series mulai memanas pada 2017. T-Series menorehkan 63 miliar view dari 100 ribu video yang disajikan di YouTube. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi di YouTube, jauh melampaui PewDiePie yang hanya punya 20 miliar view. (FHP)