Telko.id, Jakarta – Salah satu senjata buatan Rusia yang paling legendaris adalah Avtomat Kalashnikova 1947 atau lebih dikenal dengan sebutan AK-47. Kini Rusia nampaknya ingin mengembangkan senjatanya itu dengan kemampuan yang lebih canggih dalam wujud “gun drone”.
Hal itu diketahui setelah pabrik senjata asal Rusia, Almaz-Antey mengajukan desain paten berupa drone yang bersenjatakan senapan AK-47.
Dilansir Telko.id dari The Sun pada Kamis (28/03/2019) paten tersebut telah diajukan sejak Februari 2018 lalu, dan konsepnya telah bocor di media sosial.
Dari gambar konsep paten yang beredar si media sosial, nampak drone tersebut sebenarnya lebih mirip AK-47 dengan tambahan sayap.
Drone memiliki 2 sayap dan 1 ekor yang tampaknya berfungsi sebagai pengatur atau stabilitator agar mudah dikendalikan arah terbangnya. Drone juga memiliki dua bola di dekat sayap yang tampaknya untuk mendukung sistem baling-baling. Sedangkan di bagian tengah, terdapat jaring logam untuk melindungi AK-47.
{Baca juga: China Ciptakan Drone Tenaga Surya, Bisa Gantikan Tugas Satelit}
Perlu diketahui bahwa senapan AK-47 merupakan salah satu senapan serbu yang paling mematikan. Pasalnya, senjata tersebut mampu menembakan 600 butir peluru dalam 1 menit dengan jangakuan target hingga 300 meter,
Jadi bisa dibayangkan, bagaimana ketika senjata tersebut diubah dalam bentuk drone. Betapa mematikannya drone bersenjata AK-47 milik Almaz-Antey saat berada di medan pertempuran.

Tentu saja drone membutuhkan pilot yang terampil, karena sang pilot tidak hanya menerbangkan tapi juga mengarahkan senjata supaya tepat sasaran.
Mungkin salah satu kelemahannya adalah, “gun drone” ini tidak memiliki cara untuk pengisian peluru secara otomatis. Sehingga jika sudah habis 30 peluru dimuntahkan, maka drone harus kembali ke pangkalan untuk mengisi amunisi.
Rusia sendiri memang semakin inovatif untuk mengembangkan peralatan perang mereka. Sebelumnya pemerintah Rusia diketahui menciptakan kacamata canggih malam atau night vision goggles (NVG) untuk pilot helikopter serang dan transportasi militer.

{Baca juga: Rusia Ciptakan Kacamata Canggih Pilot Helikopter Perang}
Kacamata tipe GEO-ONV1 tersebut dipasang di helm pilot helikopter Mi-8/17/24 dan Ka-52 di Suriah. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, ilmuwan berhasil meningkatkan karakteristik konverter elektro-optik dan membuat perangkat generasi ketiga yang terbukti lebih unggul ketimbang milik Amerika Serikat. [NM/HBS]
Sumber: The Sun


MacMillan menjabat sebagai chairman, presiden, dan CEO Hologic sejak Desember 2013. Hologic sendiri merupakan produsen alat kesehatan dan diagnostik yang berbasis di Marlborough, Massachusetts. Tahun 2018 kemarin, lulusan Harvard Business School ini mendapat gaji sebesar U$42.04 juta atau setara Rp 598 miliar.
Richard B. “Rich” Handler adalah seorang pebisnis AS yang saat ini menjabat sebagai presiden dan CEO Jefferies Group, sebuah perusahaan investasi dan perbankan yang berbasis di New York, AS. Tahun 2018 lalu, alumni Stanford University ini mendapat gaji US$44.67 juta atau sekitar Rp 635 miliar.
Robert A. “Bob” Iger menjabat sebagai pimpinan tertinggi di The Walt Disney Company sejak tahun 2000. Iger terlibat dalam pengambilan alih Pixar pada tahun 2006 setelah periode ketegangan dengan studio animasi tersebut. Tahun 2018 lalu, Iger mendapatkan gaji sebesar US$65.65 juta atau sekitar Rp 934 miliar.
David M. Zaslav adalah presiden sekaligus CEO Discovery Inc., Ia menduduki posisi ini sejak Januari 2007, dengan raihan salah satunya mengakuisisi Scripps Networks Interactive. Tahun 2018 lalu, mantan eksekutif NBC Universal ini mengantongi gaji US$129 juta atau sekitar Rp 1,8 Triliun.