spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1296

Tragis! Bayi Jatuh dari Eskalator Terekam CCTV, Netizen Ngamuk!

Telko.id, Jakarta – Sebuah peristiwa tragis saat bayi jatuh dari atas eskalator di pusat perbelanjaan, di Dongguan, China, Sabtu (30/3/2019) lalu, terekam CCTV. Melihat video kejadian itu, netizen pun ikut berkomentar pedas.

Seorang ibu sedang menggendong bayi laki-lakinya saat turun dari eskalator, tiba-tiba bayinya terlepas dari genggamannya dan jatuh dari lantai tiga.

Bayi berusia tiga bulan ini tewas dalam kondisi yang mengerikan. Menurut China Press, saat itu, ia ditemani putra sulungnya, yang berdiri di sebelah kanannya pada saat kejadian.

Dalam rekaman video kecelakaan, tampak ibu dua anak ini baru menginjakan kaki di eskalator sekitar tiga detik dan mengambil dua langkah ke depan. Pada saat itulah, dia kehilangan keseimbangan dan miring ke kiri, menyebabkan bayinya jatuh ke samping kiri.

{Baca juga: Viral di Medsos, Foto Bayi “Perkasa” Memotong Kayu}

Setelah itu, ibu dan anak itu bergegas ke lantai dasar, tetapi saat mereka tiba, nafas bayinya sudah berhenti dan dia benar-benar tidak bergerak. Ibu dan anak itu terlihat menangis di tempat kejadian.

Pihak berwenang saat ini masih dalam proses penyelidikan. Namun, polisi mengatakan bahwa kasus ini tampaknya hanya murni kecelakaan, dan tidak dilakukan dengan niat buruk.

Sementara itu, netizen yang telah melihat rekaman tersebut berpandangan lain tentang kejadian tragis itu. Komentar pedas pun tak terhindarkan. Menurut mereka, sang ibu sebenarnya berdiri dalam kondisi yang sangat stabil.

“Apakah ada yang akan dengan sengaja menggendong bayi mereka yang berumur tiga bulan dengan cara ini?,” tulis seorang netizen yang kesal dengan cara sang ibu menggendong bayinya.

Namun, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi, tidak menghilangkan fakta bahwa seorang bayi tewas akibat peristiwa yang mengerikan akibat keteledoran orangtuanya.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi orangtua lain agar lebih berhati-hati ketika membawa anak-anak mereka di tempat umum, khususnya di tempat yang rawan seperti eskalator gedung atau mall.

{Baca juga: Tak Sadar “Ditonton”, Reporter TV Ini Histeris Lihat Idolanya}

Anda dapat menonton rekaman videonya di bawah ini (Peringatan: video berisi konten yang mungkin mengganggu bagi sebagian orang, disarankan untuk menonton sendiri).

Sumber: Worldofbuzz

 

Gearbox Software Pamer Cuplikan Game Borderlands 3

Telko.id, Jakarta – Ada kabar gembira bagi para gamers. Gearbox Software, studio pengembang seri franchise Borderlands, mengonfirmasi keberadaan Borderland 3.

Di acara PAX East, mereka merilis video cuplikan untuk Borderlands 3 yang memberikan sedikit gambaran dari game tersebut.

Video trailer tersebut diawali dengan penampakan topeng musuh ikonik game ini yaitu Psycho. Kemudian, video menampilkan sebuah bangunan dengan tulisan Children of the Vault.

Di bagian ini, Anda akan mendapatkan gambaran jelas bahwa ada dua karakter antagonis utama.

Kedua antagonis itu adalah Calypso Twin bersama pasukan Psycho. Dua karakter tersebut tampaknya menjadi fokus dalam video trailer ini dan masih memiliki hubungan dengan kelompok Children of the Vault. Fokus video kemudian beralih ke karakter Vault Hunter yang bisa dimainkan di game Borderlands.

{Baca juga: Cara Download Call of Duty Mobile di Smartphone Android}

Menurut Mashable, Borderlands 3 masih mengakar kuat ke narasi seri Borderlands sebelumnya. Ditampilkan, karakter Lilith yang merupakan karakter kelas Siren dari Borderlands pertama. Selain itu, Anda juga akan melihat Maya dengan kelas karakter yang sama dari Borderlands 2.

Selain dua karakter perempuan tersebut, ada satu karakter lain yang diperlihatkan bisa menampilkan kekuatan dengan efek visual enam tangan. Selama sisa video cuplikan, Anda akan lebih banyak melihat aksi dari keempat Vault Hunter.

Seperti seri sebelumnya, kemungkinan Borderlands 3 masih akan menyediakan fitur co-op multiplayer dengan beragam jenis kelas karakter, seperti Berserker, Hunter, dan Soldier. Namun, masih belum diketahui apakah Gearbox Software akan memperkenalkan kelas baru untuk Borderlands 3.

Dalam video, para Vault Hunter diperlihatkan tengah mengendarai beragam jenis kendaraan tempur ala film Mad Max. Kendaraan seperti ini telah ada sejak seri pertama Borderlands.

Meskipun begitu, ada beberapa kendaraan baru yang belum pernah ada di seri Borderlands, seperti robot atau battle mech.

Musuh berupa monster dalam beragam bentuk juga masih jadi elemen dari Borderlands 3. Di dalam video, diperlihatkan bahwa Vault Hunter akan harus menghadapi monster dengan ukuran yang lebih besar lagi dibandingkan seri-seri sebelumnya.

{Baca juga: 5 Fakta Game Apex Legends, Si Pesaing PUBG dan Fortnite}

Beberapa poin yang ditekankan secara jelas dalam video trailer adalah arena permainan. Borderlands 3 tidak hanya menyajikan kota di tengah gurun ala film Mad Max.

Kali ini, ditampilkan beberapa jenis arena permainan termasuk sebuah kota modern. Hal ini mungkin menegaskan bahwa arena permainan Borderlands 3 jauh lebih luas lagi. [BA/HBS]

Sumber: Mashable

Ikuti Malaysia, Singapura Juga Bikin Regulasi Anti-Hoaks

Telko.id, Jakarta – Tak mau kalah dari Malaysia, Singapura berencana membuat regulasi anti-hoaks. Regulasi itu memungkinkan pemerintah untuk menghapus konten yang melanggar ketentuan.

Menurut Engadget, Regulasi Perlindungan dari Manipulasi dan Kebohongan Online adalah satu dari sekitar 20 rekomendasi yang diajukan komite parlemen yang bertugas mengurangi misinformasi.

Dalam kasus-kasus tertentu, situs yang membuat berita palsu akan diminta untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya atau memberi peringatan terkait keberadaan konten hoaks.

Berdasarkan laporan Reuters Institute dan Oxford University, situs berita online dan media sosial adalah sumber utama bagi masyarakat Singapura untuk membaca informasi soal berbagai hal.

{Baca juga: Facebook Punya Standar Penilaian soal Laporan Hoaks}

Seperti dikutip Telko.id, Selasa (2/4/2019), tiga per empat dari total populasi 5,6 juta orang di Singapura mengakses berita via ponsel. Karenanya, mereka sangat rentan terpapar berita palsu.

Menteri Transportasi, Komunikasi, dan Informasi Singapura, Janil Puthucheary, mengklaim bahwa kesalahan informasi merupakan ancaman nasional. Mengantisipasinya pun masih cukup sulit.

“Kebanyakan orang masih merasa terlalu percaya diri bisa membedakan, mana berita asli dan mana berita palsu,” kata Perdana Menteri Lee saat perayaan ulang tahun berita Channel NewsAsia.

{Baca juga: Ngeri! OpenAI Elon Musk Bisa Bikin Berita Hoaks}

Singapura memang dikenal sebagai pusat berbagai teknologi. Namun, keputusan pemerintah setempat untuk mengatur internet membuat masyarakat sulit untuk mengungkapkan pendapat.

Saat ini, Singapura telah memiliki berbagai persyaratan yang memaksa media digital, televisi, maupun cetak untuk mengajukan lisensi operasi dari badan pemerintahan terkait. [SN/HBS]

Sumber: Engadget

Google Rilis Laporan Keamanan Android 2018, Hasilnya?

Telko.id, Jakarta Google merilis laporan keamanan dan privasi tahunan kelima di Android. Hasilnya ada peningkatan dalam unduhan aplikasi yang berpotensi berbahaya atau Potentially Harmful Application (PHA) di tahun 2018 kemarin.

Dilansir Telko.id dari Engadget pada Selasa (02/04/2019), presentase PHA yang diunduh dari Google Play meningkat dari 0,02 persen pada tahun 2017 menjadi 0,04 persen di tahun 2018.

Namun peningkatan tersebut bukan tanpa alasan. Google menilai jika peningkatan terjadi karena penipuan dalam bentuk perintah klik atau “Click Fraud”, masuk dalam ketegori PHA.

“Jika kami menghapus angka untuk penipuan klik dari statistik ini, data menunjukkan bahwa PHA di Google Play menurun sebesar 31 persen dari tahun ke tahun,” kata laporan itu.

{Baca juga: Google akan Hilangkan Password di Smartphone Android}

Tidak mudah untuk mengamankan lebih dari dua miliar perangkat Android di seluruh dunia. Google sejak tahun 2017, merilis Google Play Protect yang digerakkan Artificial Intelligence (AI), yang dapat memindai lebih dari 50 miliar aplikasi setiap hari, dan Google Play Protect mencegah 1,6 miliar upaya instalasi PHA dari luar Google Play.

Pada tahun lalu, Google terus membangun kemampuan pembelajaran mesin Google Play Protect. Hasilnya terjadi penurunan jumlah perangkat terjangkit PHA dari 0,56 persen di tahun 2017 menjadi 0,45 persen di tahun 2018.

{Baca juga: Google Hapus 200 Aplikasi Terinfeksi Malware di Play Store}

Namun, terlepas dari upaya terbaik Google untuk melindungi perangkat Android, malware kembali muncul di Google Play hanya dengan menggunakan penerbit dan nama aplikasi baru, dan penipuan iklan besar-besaran mencuri jutaan dolar.

Awal bulan ini, para peneliti Check Point memberi tahu Google tentang adware yang dijuluki “SimBad.” Google menghapus 210 aplikasi yang terinfeksi, tetapi tidak terlambat sebelum adware diunduh  150 juta kali. Dengan meningkatnya klik penipuan tampaknya menjadi tantangan besar Google berikutnya.

Sumber: Engadget

Lewat Video, PewDiePie Akui Kalah dari T-Series

Telko.id, Jakarta – Felix “PewDiePie” Kjellberg mengakhiri perang jumlah pengikut alias subscriber dengan kanal Bollywood asal India, T-Series. Ia mengakui bahwa T-Series kini menjadi kanal YouTube dengan jumlah pengikut terbanyak.

PewDiePie membuat pengakuan tersebut lewat sebuah video musik berjudul “Congratulations”. Isinya soal pengakuan dan tuduhan terkait pesaingnya sebagai YouTuber. Video tersebut dibuat beberapa bulan setelah heboh soal rivalitas keduanya.

Seperti dikutip Telko.id dari The Verge, Selasa (2/4/2019), youtuber asal Swedia tersebut menyatakan bahwa pertarungannya dengan T-Series sebagai YouTuber dianggap sebagai perebutan nyawa di YouTube.

{Baca juga : Turun Takhta, PewDiePie kalah dari Youtuber India }

Banyak pihak menilai, perebutan posisi kanal di YouTube menjadi jawaban atas pertanyaan apakah kreator individual bisa bersaing dengan perusahaan seperti T-Series. Sayang, para pendukung PewDiePie justru membuat komentar rasis.

Mereka menyudutkan segala hal tentang India. Seperti diketahui, kanal Youtube asal India tersebut adalah perusahaan rekaman yang fokus kepada musik Bollywood. Beberapa pernyataan PewDiePie pun turut memancing komentar miring untuk kanal youtube tersebut.

Dalam video tersebut, pria yang juga aktif sebagai komentator game ini menuduh eksekutif T-Series,  termasuk sang Chairman dan pendiri Bhushan Kumar, telah melakukan berbagai kesalahan. Ia menuding Kumar sekarang tengah diselidiki atas tuduhan penggelapan pajak.

{ Baca Juga : Hacker Retas Printer di Seluruh Dunia Untuk bantu PewDiePie }

Ia juga mengatakan bahwa T-Series mengirimkan surat kepadanya setelah merilis musik ejekan. PewDiePie memang pernah membuat musik yang meledek mereka. Via surat itu, T-Series meminta youtuber tersebut untuk berhenti menghina.

Selain meledek T-Series, dalam video “Congratulations”, PewDiePie menunjukkan pula rasa terima kasihnya kepada para fans karena telah memberi dukungan luar biasa. Ia menyampaikan betapa para fans sangat berharga baginya. Nah… buat Anda yang penasaran seperti apa videonya, tonton video lengkapnya disini.

Tinder Rekrut Eks Bos Lasso, Mau Bikin Pesaing TikTok?

Telko.id, Jakarta – Aplikasi kencan, Tinder ingin menarik pengguna milenial atau kalangan remaja. Untuk itu, mereka merekrut Ravi Mehta, eks bos Lasso di Facebook untuk mengisi posisi baru sebagai Chief Product Officer. Mau bikin pesaing TikTok?

Dilansir Telko.id dari The Verge pada Selasa (02/04/2019), perekrutan Mehta sendiri bukan tanpa alasan, karena dia bukan orang baru di industri teknologi.

Sebelumnya, Mehta bekerja di Facebook sebagai direktur produk yang menyasar pengguna muda, dan mengembangkan Lasso milik Facebook, aplikasi berbasis video pendek yang jadi pesaing TikTok.

Dalam siaran pers-nya, Tinder mengumumkan kehadiran anggota baru di kantornya, dan mengatakan Mehta telah mempelopori Generasi Z menghabiskan waktu secara online dan mengidentifikasi peluang produk utama untuk remaja.

{Baca juga: Tinder Bantu Mahasiswa Cari Jodoh di Kampus}

Gen Z, atau pengguna berusia antara 18 hingga 22 tahun adalah fokus Tinder. Tahun 2018, mereka merilis Tinder U, yang membidik pengguna dari kalangan mahasiswa.

Karena dikhususkan untuk mahasiswa, maka aplikasi kencan paling populer ini memberikan sejumlah persyaratan khsusu, seperti pengguna harus login menggunakan alamat email dengan domain .edu ketika sedang berada di lingkungan kampus.

Tahun ini Tinder juga mengembangkan mode ‘Istirahat Musim Semi’ yang memungkinkan pengguna Tindur U memilih tempat liburan via aplikasi tersebut. Dengan Mehta di pucuk pimpinan produk, kita mungkin akan melihat lebih banyak produk untuk rangkaian Tinder U dan juga Tinder.

{Baca juga: Fitur Top Picks Resmi Hadir untuk Tinder Gold}

Selain mengumumkan kehadiran Ravi Mehta dan Tinder U, aplikasi kencan itu juga mengumumkan fitur baru Places di Tinder. Fitur ini memungkinkan pengguna berteman dengan orang-orang yang mungkin telah mereka lihat di tempat umum. Namun, fitur itu hanya dalam versi beta, dan belum diluncurkan secara luas.

Tinder sendiri terus berinovasi mengembangkan produknya dengan menghadirkan fitur-fitur baru. Sebelumnya mereka dikabarkan sedang menguji coba fitur My Move yang dikhususkan bagi pengguna perempuan.

Fitur tersebut bertujuan untuk memberi pengawasan dan perlindungan perempuan, sebelum mereka mengizinkan pengguna pria untuk memulai pembicaraan.

{Baca juga: Tinder Uji Coba Fitur Khusus Perempuan, Seperti Apa?}

Uji coba pertama fitur My Move akan dilakukan di India. Rencananya, setelah uji coba berjalan dengan sukses, My Move akan diterapkan secara global, meski hingga kini Tinder masih belum memberikan bocorannya. [NM/HBS]

Sumber: The Verge

Tragis! Bocah 15 Tahun Bunuh Diri Karena Dilarang Main Game Online

Telko.id, Jakarta – Gara-gara dilarang bermain game online oleh ayahnya, seorang bocah asal Taiwan nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tragedi ini terjadi pada 23 Maret lalu ketika seorang bocah berusia 15 tahun bertengkar dengan ayahnya.

Bocah bernama Cheng ini dilarang oleh ayahnya untuk bermain game online League of Legends, karena ia harus serius menghadapi ujian yang diselenggarakan pada 26 Maret.

Sang ayah memarahi putranya pada pukul 21.30, ketika ia merasa kesal melihat sang anak sedang asyik bermain game. Ia memerintahkan anaknya untuk berhenti bermain game, namun sang anak tidak mengindahkannya.

{Baca juga: Malaysia Tidak Haramkan Game PUBG}

Karena kesal, ia lantas mematikan komputer dan langsung meninggalkan kamar putranya. Hal ini rupanya membuat Cheng sangat kesal.

Setelah beberapa saat, Cheng melompat dari gedung lantai tiga melalui jendela kamarnya. Akibatnya, dia mengalami trauma di kepala yang parah akibat benturan.

Bocah itu baru ditemukan sekitar pukul 22.30 ketika kakeknya sedang dalam perjalanan pulang. Cheng ditemukan tergeletak di lantai dan mengalami pendarahan dari kepalanya.

Pihak berwenang segera dipanggil dan bocah itu dengan cepat dilarikan ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Cheng dinyatakan meninggal secara tragis sekitar pukul 03.00 pagi.

{Baca juga: Duh! Kecanduan Game PUBG, Pelajar Tewas Gantung Diri}

Dilaporkan, Cheng sehari-hari adalah anak yang ceria, perhatian, dan optimis. Dia adalah seorang bintang di kelas, karena berprestasi di sekolah dan sangat disukai oleh teman-teman sekelasnya.

Cheng tinggal bersama ayah dan saudara perempuannya setelah orang tuanya bercerai tiga tahun lalu. Kemungkinan, Cheng mengalami tekanan berat mendekati ujian masuk sekolah menengah dengan standar nilai yang tinggi.

Bocah malang ini mulai menghabiskan banyak waktu bermain video game untuk menghilangkan stres. Namun, dampaknya ia menjadi lebih emosional dan sering membantah orangtuanya.

Sebelumnya, pada hari itu, dia baru saja pergi makan siang bersama teman-temannya. Keluarganya sengaja memesan pizza untuk merayakan ulangtahunnya malam itu.

Guru-guru dan teman-teman sekelasnya pergi ke rumah duka sehari kemudian, untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Cheng. Tampak pada hari itu, kepala sekolahnya juga membawa ijazah Cheng.

{Baca juga: Tak Dibelikan Ponsel untuk Main PUBG, Bocah Ini Gantung Diri}

Pihak berwenang telah menemukan pesan bunuh diri dari Cheng yang mengatakan bahwa ia memiliki pikiran untuk bunuh diri dan ia ingin menjadi burung yang riang dan terbang bebas. Cheng juga meninggalkan pesan bunuh diri kepada sahabatnya Wu, yang telah menjadi teman sekelasnya selama 9 tahun.

Dia meninggalkan amplop berisi sisa uang sakunya, dan berpesan agar diserahkan kepada sahabatnya, Wu.

“Tolong berikan uang ini kepada Wu untuk membalas persahabatan selama 9 tahun terakhir. Terima kasih telah menghabiskan banyak waktu bersama saya selama 9 tahun ini, terima kasih banyak, ”tulis catatan tersebut. (BA/FHP)

Arkeolog Temukan “Gerai McDonalds” Zaman Romawi

Telko.id, Jakarta – Para arkeolog menemukan gerai atau restoran cepat saji di bekas wilayah Pompeii. Gerai makanan ala “McDonalds” berusia 2.000 tahun tersebut digunakan oleh orang Romawi pada masanya. Kondisinya masih terpelihara baik.

“Penemuan itu diketahui di bagian Regio V Pompeii,” ujar arkeolog seperti dikutip Telko.id dari The Guardian, Senin (1/4/2019).

Menurut informasi, orang Romawi biasa menyebut gerai makanan cepat saji ala McDonalds dan KFC di era sekarang itu dengan nama Termopolium.

Perkakas makanan cepat saji ditemukan di situs di bekas wilayah Pompeii. Para arkeolog sangat yakin bahwa di gerai tersebut diperkirakan tersedia fasilitas lengkap untuk memasak bagi penduduk miskin dan tak memiliki rumah.

{Baca juga: Google Earth Temukan Situs Kuno Berumur 9.000 Tahun}

Di sana terdapat pula bar makanan ringan dengan menu seperti ikan asin, roti kasar, anggur pedas, dan keju panggang. Para arkeolog juga yakin bahwa di gerai cepat saji itu tersedia berbagai minuman dan ramuan khas zaman Romawi.

Di wilayah yang sekarang tidak dibuka untuk umum tersebut kabarnya akan dilakukan penggalian secara terus-menerus. Bahkan, konon, proses penggalian di situs arkeologi Pompeii berlangsung sejak 59 tahun silam atau 1960.

Wilayah Pompeii, yang kini berada di dekat kota Napoli atau di wilayah Campania, Italia, hancur setelah gunung berapi Vesuvius meletus pada 79 Masehi. Saat kejadian itu berlangsung, banyak penduduk menjadi korban erupsi.

{Baca juga: Ngeri! Letusan Gunung Vesuvius Mendidihkan Darah dan Otak

Penelitian beberapa waktu lalu menunjukkan, letusan gunung berapi Vesuvius menciptakan hawa panas nanekstrem yang mengakibatkan tengkorak para korban meledak, darahnya mendidih, dan otot, daging, serta tulang menjadi abu. [SN/HBS]

Sumber: The Guardian

 

Arkeolog Temukan “Gerai McDonalds” Ada Sejak Zaman Romawi

Telko.id, Jakarta – Para arkeolog menemukan gerai atau restoran cepat saji di bekas wilayah Pompeii. Gerai makanan ala “McDonalds” berusia 2.000 tahun tersebut digunakan oleh orang Romawi pada masanya. Kondisinya masih terpelihara baik.

“Penemuan itu diketahui di bagian Regio V Pompeii,” ujar arkeolog seperti dikutip Telko.id dari The Guardian, Senin (1/4/2019).

Menurut informasi, orang Romawi biasa menyebut gerai makanan cepat saji ala McDonalds dan KFC di era sekarang itu dengan nama Termopolium.

Perkakas makanan cepat saji ditemukan di situs di bekas wilayah Pompeii. Para arkeolog sangat yakin bahwa di gerai tersebut diperkirakan tersedia fasilitas lengkap untuk memasak bagi penduduk miskin dan tak memiliki rumah.

{Baca juga: Google Earth Temukan Situs Kuno Berumur 9.000 Tahun}

Di sana terdapat pula bar makanan ringan dengan menu seperti ikan asin, roti kasar, anggur pedas, dan keju panggang. Para arkeolog juga yakin bahwa di gerai cepat saji itu tersedia berbagai minuman dan ramuan khas zaman Romawi.

Di wilayah yang sekarang tidak dibuka untuk umum tersebut kabarnya akan dilakukan penggalian secara terus-menerus. Bahkan, konon, proses penggalian di situs arkeologi Pompeii berlangsung sejak 59 tahun silam atau 1960.

Wilayah Pompeii, yang kini berada di dekat kota Napoli atau di wilayah Campania, Italia, hancur setelah gunung berapi Vesuvius meletus pada 79 Masehi. Saat kejadian itu berlangsung, banyak penduduk menjadi korban erupsi.

{Baca juga: Ngeri! Letusan Gunung Vesuvius Mendidihkan Darah dan Otak

Penelitian beberapa waktu lalu menunjukkan, letusan gunung berapi Vesuvius menciptakan hawa panas nanekstrem yang mengakibatkan tengkorak para korban meledak, darahnya mendidih, dan otot, daging, serta tulang menjadi abu. [SN/HBS]

Sumber: The Guardian

 

Rayakan April Mop, Karyawan Google Ciptakan 3 Inovasi Lucu

Telko.id, Jakarta – Tanggal 1 April selalu diperingati sebagai April Mop. Biasanya orang-orang akan membubuat prank atau lelucon tipuan yang seolah-olah benar-benar terjadi. Hal yang sama juga dilakukan oleh pelaku industri teknologi, salah satunya Google.

April Mop 2019 ini, karyawan Google dari berbagai divisi menciptakan inovasi unik dan lucu untuk memeriahkan suasana April Mop.

Dilansir Telko.id dari VentureBeat pada Senin (01/04/2019), berikut ini 3 inovasi yang dilakukan oleh Googler, julukan untuk para karyawan Google. yuk disimak!

Google Board Berbentuk Sendok 

Google Jepang menang tak pernah habis menciptakan inovasi. Tahun ini mereka turut merayakan April Mop dengan cara yang unik. Googler dari negeri sakura membuat perangkat Google Board (GBoard) yang berbentuk sendok.

Sendok yang dibuat memiliki warna biru dan perak. Namun walaupun berbentuk sendok, perangkat ini tetap menjalankan fungsinya sebagai perangkat untuk menulis. Cara mengetiknya pun unik. Pengetikan dilakukan dengan cara menekuk sendok tersebut dengan sistem alfabet.

{Baca juga : April Mop “Haram” untuk Karyawan Microsoft}

Semakin ditekan maka Anda akan mendekati huruf Z begitu pun sebaliknya. Penggunaan Gboard ini tampaknya benar-benar mengandalkan intuisi dan Gboard bisa dihubungkan baik melalui Smartphone ataupun Personal Computer (PC).

Google Tulip 

Googler Belanda menambahkan inovasi baru di perangkat Google Home. Bersama Wageningen University and Research, mereka membangun teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memetakan sinyal tulip atau tulipish ke bahasa manusia. Mereka membutuhkan waktu 2 tahun untuk melakukan pengembangkan sebelum akhirnya diperkenalkan di awal tahun ini.

{Baca juga: Seru! Begini Cara Main Game Snake di Google Maps}

Caranya berkomunikasi dengan Bunga Tulip cukup mudah. Ketika Anda, mengatakan “Hai Google, Bicara dengan Tulip Saya” maka Bunga Tulip akan berbicara mengenai apa yang dibutuhkan.  Namun ketika manusia bisa mengerti bahasa bunga Tulip, hasilnya justru lucu.

Pasalnya Bunga Tulip cenderung cerewet bahkan mampu memberikan saran untuk Anda. Seperti Apa? Jika penasaran, Anda bisa mengujungi negara Belanda yang selalu menghasilkan 12,5 miliar bunga dalam setahun.

 

Game Ular di Google Maps 

Baru-baru ini, raksasa pencarian itu menghadirkan game Snake di Google Maps dengan nama Snake on Google Maps. Tujuannya, agar seluruh pengguna smartphone Android ataupun iOS dapat memainkan game ini langsung di Google Maps.

Jadi, mereka bisa mengenang masa lalu saat game ini sedang populer, sambil mencari alamat atau tujuan perjalanan. Selain itu, hadirnya game Snake di Google Maps juga merupakan “lelucon” Google untuk merayakan tradisi April Mop.

{Baca juga: April Mop, Google Maps Bikin Game “Where’s Waldo?”}

Anda dapat memainkan Snake di Google Maps di berbagai lokasi di seluruh dunia, termasuk Kairo, London, San Francisco, São Paulo, Sydney, dan Tokyo serta akan tayang langsung di aplikasi selama sekitar satu minggu kedepan.