spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...
Beranda blog Halaman 1231

Server xCloud Microsoft Sediakan 3.500 Game

Telko.id, Jakarta – Microsoft kabarnya sudah menguji server layanan xCloud. Microsoft mengklaim bahwa server itu mampu menyediakan layanan streaming untuk 3.500 game. Para developer pun tidak harus mengonfigurasi game buatannya.

Dilansir The Verge, pengembang game seperti Capcom dan Paradox tengah menguji game di layanan xCloud milik Microsoft. Layanan Microsoft berencana untuk melakukan uji coba publik dari Xbox xCloud pada akhir tahun ini.

“Kami telah mengembangkan dan mengustomisasi proyek xCloud ke data center Microsoft Azure yang tersebar di 13 bagian untuk menyediakan pusat pengembangan game di Amerika Utara, Asia, dan Eropa,” tutur Cloud Gaming Chief Microsoft, Kareen Choudry.

{Baca juga: Bos Xbox Sindir Google Stadia, Begini Katanya}

Microsoft Xbox xCloud akan diuji coba tidak hanya di Amerika Serikat.  Developer game diberi kesempatan untuk melakukan konfigurasi agar seluruh fitur atau mode gameplay game tetap bisa dimainkan dengan latensi rendah.

Semua judul game yang tersedia di Xbox One bakal bisa dimainkan di layanan Microsoft Xbox xCloud. Pengguna konsol generasi sebelumnya masih bisa memainkan game dari platform Xbox One menggunakan layanan tersebut.

Belum lama ini, Microsoft membawa game Minecraft ke Xbox Game Pass. Minecraft hadir ke langganan Xbox Game Pass pada 4 April 2019. Hal ini menambah daftar ratusan game kreasi Microsoft yang sudah ada di layanan bagi pengguna Xbox tersebut.

{Baca juga: 3 Game Gameloft Ini Dapat Dukungan Xbox Live}

Kehadiran game itu membantu Microsoft dalam misinya untuk menambah jumlah pelanggan di layanan mereka. Microsoft telah secara agresif mendorong agar para gamers untuk berlangganan di Xbox Game Pass. [BA/HBS]

Sumber: The Verge

WHO Sebut Kecanduan Game Masuk Kategori Gaming Disorder

Telko.id, Jakarta – WHO, Organisasi Kesehatan Dunia PBB, mengakui keberadaan penyakit bernama Gaming Disorder. Bahkan, Gaming Disorder masuk daftar gangguan kesehatan mental yang baru saja dirilis oleh WHO. Penyakit ini disebabkan kecanduan game.

Dilansir Polygon, badan kesehatan dunia itu mengambil keputusan tersebut setelah menggelar rapat tahunan 2019 di Geneva, Swiss. Adiksi atau kecanduan game via ponsel dan platform lain pun dinyatakan sebagai penyakit internasional.

Gangguan kesehatan semacam itu diberi kode ICD-11. Sebagai dampak dari hal tersebut, negara-negara anggota WHO dituntut merancang rencana kesehatan publik.

{Baca juga: 5 Risiko Berbahaya Kecanduan Bermain Game}

Disebutkan bahwa keputusan diambil dengan melihat penelitian bahwa gangguan kesehatan ini hanya memengaruhi orang yang aktif dalam permainan digital ataupun video game.

Badan kesehatan dunia itu meminta kepada masyarakat untuk mampu membagi dan menggunakan waktu secara bijak saat menggunakan gawai. Mereka mendefinisikan Gaming Disorder sebagai gangguan serius.

Gaming Disorder berpotensi mengakibatkan seseorang tidak dapat mengontrol waktu dan frekuensi bermain game. ICD-11 diperkirakan membawa dampak serius pada 1 Januari 2022 mendatang.

{Baca juga: Asosiasi Game Lobi WHO Batalkan “Penyakit Kecanduan Game”}

Sebelum WHO memutuskan gangguan kesehatan mental ini, Apple terlebih dahulu mengantisipasi dengan menghadirkan fitur Screen Time dan Parental Control. [BA/HBS]

Sumber: Polygon

Dear Huawei, Pendirimu Ternyata Seorang Apple Fanboy

0

Telko.id, Jakarta – CEO dan juga pendiri Huawei, Ren Zhengfei, membuat pengakuan mengejutkan. Ia secara blak-blakan mengklaim sebagai seorang Apple Fanboy, atau penggemar berat iPhone.

Ia bahkan mengaku membelikan iPhone untuk semua anggota keluarganya. Padahal seperti diketahui, iPhone adalah ponsel buatan Apple yang menjadi pesaing Huawei.

Seperti dikutip Telko.id dari Independent, Minggu (26/5/2019), Zhengfei menyebut bahwa iPhone mempunyai ekosistem yang baik. Karenanya, pendiri Huawei ini sama sekali tak ragu untuk membelikan semua anggota keluarganya iPhone manakal hijrah dari China.

“Saat kami berada di luar negeri, saya membeli iPhone. Menurut saya, kita jangan berpikir sempit. Sebagai pendiri Huawei, saya tak mengharamkan diri untuk memiliki ponsel merek lain. Saya tak harus selalu memakai produk Huawei,” terang Zhengfei.

{Baca juga: Dampak Embargo AS, Minat Pelanggan Huawei Menurun}

Ada makna khusus dari pengakuan Zhengfei membeli iPhone saat bersama keluarga bepergian ke luar negeri. Ia merespons pernyataan petinggi Huawei yang menuruti pemerintah China untuk memboikot perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Perselisihan antara Huawei dengan pemerintah AS memang semakin panas. Beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah larangan bagi perusahaan AS untuk menggunakan peralatan Huawei.  Google dkk pun sepakat memutus akses ke Huawei.

Huawei sempat buka suara terkait pencabutan dukungan Android di ponsel buatannya oleh Google. Perusahaan asal China tersebut menyatakan berkomitmen untuk memberi pembaruan keamanan dan layanan bagi perangkat yang sudah beredar di pasaran.

“Huawei hanya dapat menggunakan versi publik Android dan tidak akan bisa mendapatkan akses ke aplikasi dan layanan dari Google. Namun, Huawei akan terus menyediakan pembaruan keamanan dan layanan purnajual untuk semua produk,” ujar Huawei.

{Baca juga: Huawei Didepak dari Asosiasi Pengembang Kartu SD, Kenapa?}

Menyikapi boikot dari Google, Huawei menggaungkan rencana untuk membangun ekosistem perangkat lunak sendiri yang aman dan berkelanjutan. Tujuannya, mereka ingin memberi pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global. [SN/HBS]

Sumber: Independent

Barang di Lazada Ini Disangka Alat untuk Bunuh Diri

Telset.co.id, Jakarta – Menjadi pedagang online kadang tidak mudah dan kadang semakin sulit ketika harus berurusan dengan internet troll. Semakin sulit jika produk yang anda jual agak aneh atau unik, dan mengundang troll untuk berkomentar lebih banyak lagi.

Seorang penjual di Lazada memasang alat traksi serviks, atau sejenis alat ortopedi untuk meringankan sakit leher dan punggung. Ternyata, hanya sedikit orang yang tahu kegunaan atau fungsi alat ini.

Para trol memburu-buru halaman penjual barang ini dan mengajukan beragam pertanyaan konyol. Namun, si penjual dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan dari para troll dengan bijak.

{Baca juga: “Shoppertainment”, Konsep Belanja Menyenangkan ala Lazada}

Beberapa komentar menanyakan apakah alat tersebut dapat digunakan untuk bunuh diri. Pedagang online ini pun menjawab dengan penuh hati-hati, dan meminta para troll untuk lebih menghargai hidup.

Hingga saat ini, produk yang ditawarkan di Lazada ini telah mendapat 45 pertanyaan, dan semuanya dijawab oleh penjual. Beberapa pengguna memuji penjual karena sangat sabar, dan bahkan ada yang menawarinya pekerjaan sebagai customer service.

Berurusan dengan troll bisa jadi menyebalkan, tetapi pedagang online ini telah memberikan contoh yang bagus, terutama ketika berurusan dengan masalah sensitif seperti bunuh diri dan melukai diri sendiri.

{Baca juga: 3 Produk Terlaris yang Diincar Pengguna Lazada Indonesia, Apa Saja?}

Perangkat penarik leher mungkin sebenarnya bermanfaat bagi mereka yang biasa menatap layar untuk waktu yang lama di kantor. [BA/HBS]

Sumber: worldofbuzz

Ponsel Bisa Deteksi Penyakit Alzheimer 30 Tahun sebelum Gejala

0

Telko.id, Jakarta – Ponsel bakal bisa mendeteksi penyakit Alzheimer atau pikun sejak 30 tahun sebelum gejala muncul. Para ahli mengatakan, ponsel dan gadget lain seperti Fitbits juga bisa melakukan pemeriksaan serupa lima tahun sebelum gejala tampak.

Dennis Chan dari Universitas Cambridge, yang mengembangkan teknik untuk memeriksa 86 pasien lanjut usia, mengatakan bahwa para ilmuwan sedang melakukan penelitian. Harapannya, lima tahun ke depan, deteksi Alzheimer via ponsel bisa terealisasi.

Menurut Asosiasi Alzheimer, seperti dikutip Telko.id dari New York Post, Minggu (26/5/2019), lebih kurang 5,8 juta orang Amerika Serikat hidup dengan penyakit Alzheimer. Pada 2050, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 14 juta orang.

{Baca juga: Peneliti Kembangkan Teknologi AI untuk Deteksi Alzheimer}

Sejauh ini, belum ada obat untuk menyembuhkan Alzheimer. Namun demikian, beberapa obat bisa meredakan gejalanya. Chan menambahkan, teknologi dan aplikasi dapat dipakai untuk mendeteksi mereka yang berisiko tinggi terserang Alzheimer.

“Dokter dapat melakukan intervensi dini dengan menyarankan perubahan gaya hidup guna mengurangi kemungkinan pengembangan penyakit. Mereka baru akan menjalani pengobatan saat hasil analisa membuka kemungkinan untuk itu,” tukasnya.

Maret 2019 lalu, sekelompok peneliti IBM menggunakan mesin pembelajaran untuk menemukan cara mendeteksi penyakit Alzheimer. Penanda biologi yang dipakai adalah peptida bernama amiloid-beta yang bisa diketahui lewat sebuah tes darah.

{Baca juga: Aplikasi Ini Bisa Bantu Tuna Netra ‘Melihat’}

Dengan metode itu, para peneliti akan bisa memperhitungkan risiko seseorang terkena Alzheimer, jauh sebelum gejala muncul. Metode tersebut juga bisa digunakan untuk mengetahui secara lebih cepat ancaman Alzheimer dibanding pemindaian otak. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

NASA Mulai Simulasi Lalu-lintas Drone Pengantar Pizza

Telko.id, Jakarta – NASA mengembangkan sistem manajemen lalu lintas nasional untuk drone. NASA untuk pertama kali mengujinya di luar garis pandang operator. Beberapa drone pun tampak terbang di atas pusat kota Reno, Nevada, minggu ini.

Menurut New York Post, dikutip Telko.id, Minggu (26/5/2019), NASA melakukan serangkaian simulasi pengujian teknologi yang suatu hari nanti akan digunakan untuk mengelola ratusan ribu drone untuk mengantarkan paket, pizza, dan pasokan medis.

Direktur riset dan teknologi di Ames Research Center NASA, David Korsmeyer, mengatakan,  sejumlah drone lepas landas pada Selasa (21/5/2019) dari atap garasi parkir berlantai lima dan mendarat di atap lain di gedung yang berada di seberang jalan.

{Baca juga: Dua Pesawat NASA Hilang Misterius di Planet Mars}

Drone-drone tersebut melayang menyesuaikan kekuatan angin sebelum kembali ke titik lepas landas. Perangkat itu dilengkapi dengan GPS. Sejumlah drone terbang tidak lebih tinggi dari lampu jalan kota, tetapi tetap mampu menghindari tabrakan.

Drone yang diuji coba oleh NASA mempunyai sistem pelacakan yang terhubung ke komputer NASA. Karenanya, drone-drone tersebut tak bertabrakan meski terbang rendah dan saling berdekatan. Tes serupa telah dilakukan di daerah terpencil dan pedesaan.

“Ketika memulai proyek ini empat tahun lalu, banyak yang tidak mengira bahwa hari ini kami menerbangkan UAV dengan sistem drone canggih dari gedung-gedung tinggi,” kata Chris Walach, Direktur eksekutif Institut Sistem Otonomi Nevada.

Pelan tapi pasti, teknologi drone memang telah mengubah segalanya. Beberapa waktu lalu, peneliti dari University of Maryland mengklaim berhasil menggunakan drone untuk mengirim ginjal. Ginjal tersebut akan dipakai oleh perempuan berusia 44 tahun.

{Baca juga: Sebentar Lagi, Kirim Barang di Malaysia Pakai “Kurir Drone”}

Setelah ginjal tiba di rumah sakit, perempuan itu langsung menjalani operasi transplantasi. Operasi berlangsung di University of Maryland Medical Center. Peneliti mengklaim, pengiriman organ tubuh menggunakan drone adalah hal pertama di dunia. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

 

Hilangnya 3D Touch di iPhone 2019 Kian Nyata

0

Telko.id, Jakarta – Beberapa tahun lalu, Apple menghadirkan teknologi 3D Touch di iPhone sebagai perluasan dari Force Touch di jam tangan pintar Apple Watch. Teknologi tersebut pun terus ada di iPhone sampai keluaran 2018. Tapi fitur tersebut kemungkinan akan hilang di iPhone 2019.

Namun, seperti dilaporkan Ubergizmo, rumor bahwa teknologi 3D Touch tak akan lagi ada di iPhone 2019 semakin kuat. MacRumor mengklaim berhasil menukil catatan penelitian dari analis Barclays Curtis dan rekan.

Barclays Curtis dan rekan telah menggelar pertemuan dengan beberapa pemasok komponen untuk perangkat Apple. Hasilnya, dikutip Telko.id, Minggu (26/5/2019), iPhone keluaran 2019 berpotensi kehilangan fitur 3D Touch.

{Baca juga: iPhone 2019 Punya Mode Underwater, Buat Apa?}

Sebenarnya, di iPhone XR, Apple telah menghilangkan 3D Touch dan diganti dengan teknologi Haptic Touch. Haptic Touch merupakan campuran long-press dan 3D Touch. Cukup menekan lama suatu objek, fitur-fitur tertentu akan aktif.

April 2018 lalu, sudah muncul kabar bahwa iPhone 6,1 inci kemungkinan tidak bakal memiliki fitur 3D Touch. Apple dikabarkan akan menghilangkan fitur 3D Touch di iPhone 6,1 inci keluaran 2019 guna menghemat biaya produksi.

Hal itu dikemukakan oleh analis KGI Securities, Ming-Chi Kuo. Ia menyatakan, di iPhone 6,1 inci, Apple akan menggunakan teknologi Cover Glass Sensor (CGS). Fungsinya untuk memindahkan modul sentuh iPhone dari panel ke permukaan kaca.

{Baca juga: Tahun Ini, iPhone XR Terbaru Punya Dua Kamera Canggih}

Lantaran Apple berencana menggabungkan teknologi layar CGS ke iPhone 6,1 inci, fitur 3D Touch sangat mungkin untuk dihapus, bahkan di iPhone terbaru seri lain. Meski begitu, Kuo yakin iPhone 6,1 inci bisa mendongkrak penjualan Apple. [BA/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Best Buy “Bersihkan” Samsung Galaxy Fold dari Daftar Jual

0

Telko.id, Jakarta – masalah kerusakan Samsung Galaxy Fold masih berbuntut panjang. Setelah Samsung memutuskan untuk menarik kembali unit ulasan, kini e-commerce Best Buy memutuskan untuk menghapus ponsel layar lipat itu dari lapak jualan mereka.

Samsung memang sudah berjanji akan melakukan perbaikan untuk meningkatkan daya tahan ponsel lipatnya. Sayang, Samsung tidak menyatakan, kapan Galaxy Fold tuntas menjalani proses penyempurnaan.

Yang jelas, Samsung tidak akan menyelesaikannya dalam waktu dekat. Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang telanjur memesan Galaxy Fold?

{Baca juga: Waduh, Layar Samsung Galaxy Fold “Gampang Rusak”?}

Best Buy, e-commerce terkemuka di Amerika Serikat, menyatakan telah membatalkan semua pemesanan Galaxy Fold. “Kami mengutamakan para pelanggan. Kepuasan mereka sangatlah penting bagi kami,” demikian penjelasan Best Buy.

Meski demikian, dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Minggu (26/5/2019), Best Buy menyatakan akan menjual lagi Galaxy Fold ketika Samsung telah menetapkan tanggal rilisnya. Namun, Best Buy bakal terlebih dahulu memastikan kesiapannya.

Best Buy telah mengarahkan para pelanggan ke halaman pemesanan Galaxy Fold. Para pemesan bisa meninggalkan alamat email di halaman tersebut. Ke depan, mereka akan diberi tahu manakala Galaxy Fold sudah tersedia untuk dibeli.

Sampai kini, Samsung masih menimbang-nimbang, kapan akan meluncurkan secara resmi ponsel layar lipat Galaxy Fold seharga USD 2.000 ke pasar. CEO Samsung, Koh Dong-jin, berjanji segera memberi keputusan dalam waktu dekat.

“Kami telah meninjau cacat di Galaxy Fold. Kami akan menyampaikan kesimpulan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya. Koh juga memberi tahu bahwa kerusakan di Galaxy Fold ternyata disebabkan oleh zat yang masuk ke perangkat.

{Baca juga: Samsung Masih ‘Galau’ Soal Waktu Perilisan Galaxy Fold}

Ia menyampaikannya setelah Samsung menyatakan tidak bisa mengirim Galaxy Fold pada akhir Mei 2019 kepada para pemesan jika tidak ada konfirmasi. Padahal, Samsung berencana meluncurkannya di Amerika Serikat pada 26 April 2019.

Akan tetapi, beberapa hari sebelum tanggal peluncuran, beberapa media yang berkesempatan melakukan pengujian telah mengobral permasalahan di Galaxy Fold. Mau tak mau, Samsung menunda peluncuran ponsel tersebut. [SN/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Demi Foto Selfie, Perempuan Ini Jatuh dari Tebing

Telko.id, Jakarta – Seorang perempuan harus merenggang nyawa saat melakukan foto selfie di Pantai Oregon, Amerika Serikat. Perempuan yang bernama Michelle Casey (21) ini ingin mendapatkan pemandangan terbaik saat berfoto selfie, tapi justru jatuh dari tebing dan meninggal dunia.

Dilansir Telko.id dari Today pada minggu (26/05/2019) Michelle Casey adalah mahasiswi dari Oregon  State University jurusan Kinesiologi. Minggu pagi, Casey bersama pacarnya pergi ke garis Pantai Oregon, tepatnya di titik Gunung Neahkahnie.

Disana, Casey memanjat dinding penahan untuk mendapatkan pemandangan laut yang ia inginkan untuk melakukan selfie. Naas, karena tak hati-hati, Casey terjatuh dari ketinggian 100 kaki atau 30 meter, sebelum tersangkut di pohon.

{Baca juga: Turis Kebanyakan Selfie, Belanda “Ogah” Promosi Wisata}

Casey sebenarnya masih hidup ketika tim penyelamat datang 2 jam kemudian. Casey di terbangkan ke Rumah Sakit Portland, namun nyawanya tidak tertolong. Kematian Casey menambah serangkaian kecelakaan yang disebabkan oleh aktifitas foto selfie yang beresiko.

Sebelumnya pada bulan maret lalu, seekor Jaguar menganiaya perempuan yang melompati penghalang kebun binatang Arizona untuk mendapatkan gambar yang lebih dekat.

Lain Amerika, lain juga Rusia.  Remaja putri asal Rusia bernama Karina Baymukhambetova bernasib tragis. Maksud hati melakukan selfie alias swafoto, nyawanya justru melayang gara-gara tertabrak kereta api yang melintas. Ia dilaporkan melakukan selfie di rel kereta api.

Gadis 15 tahun itu telah diperingatkan oleh saudaranya agar tidak melakukan tindakan nekat. Namun, ia malah mengaku tidak takut terhadap apapun atau siapapun.

{Baca juga: Tragis! Gara-gara Selfie, Gadis Cantik Tewas Tertabrak Kereta}

Braaak! Tiba-tiba kereta api mengempaskan tubuh Karina. Masinis sebenarnya sudah tahu dari kejauhan ada orang di rel kereta api. Ia bahkan sempat membunyikan klakson berkali-kali sebagai peringatan.

Meurut informasi yang kami dapatkan, dilaporkan bahwa sudah ada sekitar 259 orang di seluruh dunia yang tewas saat mengambil foto selfie. Semoga kejadian ini bisa menjadi peringatan bagi Anda yang suka selfie. Sayangilah nyawa Anda, jangan berbuat konyol hanya demi sebuah foto. [NM/HBS]

Sumber: Today

Apple Kembangkan Alat Kesehatan Pendeteksi Asma

Telko.id, Jakarta Apple sangat tertarik untuk mengembangkan inovasi di bidang alat kesehatan. Perusahaan pimpinan Tim Cook tersebut berencana membuat inovasi Apple berupa alat kesehatan untuk mendeteksi penyakit asma.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Minggu (26/05/2019), Apple dikabarkan mengakuisisi perusahaan yang memproduksi alat pemantau asma pada anak-anak, yakni Tueo Health. Perusahaan tersebut membuat aplikasi smartphone dan beberapa sensor pernapasan, yang bisa untuk memantau asma seorang anak.

Tetapi Apple menolak berkomentar terkait isu akuisisi tersebut. Walaupun selama ini Apple mengaku memiliki rencana yang cukup besar untuk perangkat Apple Watch mereka. Seperti kita tahu bahwa Apple terus menambah daftar fitur kesehatan di perangkat jam pintar andalannya tersebut.

{Baca juga: Tim Cook: Apple Rajin Caplok Perusahaan Startup}

Misalnya Apple Watch memiliki fitur untuk memeriksa kadar glukosa yang cocok untuk penderita diabetes. Selain itu Apple juga mengembangkan fitur pendeteksi penyakit stroke. Apple bekerja sama dengan Johnson & Johnson dalam studi pengembangan Apple Watch untuk membantu mengurangi risiko stroke.

Apple Watch juga sering menyelamatkan penggunanya. Pada april lalu Apple Watch Series 4 menolong nenek 80 tahun. Apple Watch Series 4 memiliki fitur pendeteksi jatuh. Jam tangan pintar tersebut akan membunyikan alarm sebagai upaya untuk menarik perhatian orang lain.

Jika merasakan pengguna bergerak, Apple Watch Series 4 akan memberi opsi untuk mengabaikan peringatan atau menghubungi 911 menggunakan Digital Crown. Namun, jika tak ada gerakan selama satu menit, panggilan Emergency Services akan dilakukan secara otomatis. Hal itulah yang terjadi dalam kasus seorang nenek 80 tahun.

{Baca juga: Lagi, Apple Watch Series 4 Selamatkan Nyawa Nenek 80 Tahun}

Dilansir phoneArena, Selasa (16/04/2019), pesan Apple Watch Series 4 dikirimkan ke kontak darurat ketika sang nenek terjatuh di apartemennya di Haidhausen, Munich, Jerman. Kala wanita paruh baya itu terjatuh dan kehilangan kesadaran, otomatis jam pintar ini memanggil operator 911. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo